Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 1 . Pengetahuan Pasien Tentang Diabetes Melitus Tipe 2 Di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Putri Agustina1. Devi Darliana2. Riski Amalia3 Program Studi Sarjana Keperawatan. Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala Bagian Keilmuwan Keperawatan Medikal Bedah. Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala Email: devi. darliana@usk. ABSTRAK Latar Belakang: Pengetahuan pasien tentang diabetes melitus dapat meningkatkan kewaspadaan pasien terhadap bahaya yang dihadapi sehingga pasien berupaya untuk hidup sehat. Pengetahuan juga dapat membantu dalam mengubah perilaku sehat dan meningkatkan kepatuhan pasien tentang program pengelolaan penyakit. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan pasien tentang diabetes melitus tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Metode: Populasi dari artikel ilmiah ini adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2. Sampel penelitian berjumlah 336 pasien yang dilakukan dengan teknik purposive sampling. Artikel ilmiah ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional study. Kuesioner yang digunakan yaitu Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-. yang sudah diuji validitas dan reliabilitas menggunakan Cronbach alpha sebesar 0,723. Pengumpulan data menggunakan angket. Analisa data menggunakan analisa univariat. Hasil: Hasil artikel ilmiah ini menunjukkan 207 orang . ,8%) pasien memiliki pengetahuan sedang. Kesimpulan: Hal ini berkaitan dengan tingkat pendidikan responden pada kategori menengah sehingga pasien memiliki pengetahuan sedang dimana keterpaparan informasi khususnya tentang manajemen diabetes masih terbatas. Kata Kunci : diabetes melitus tipe 2. Copyright @2025. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 1 . Patient Knowledge About Type 2 Diabetes Mellitus In Endocrine Polyclinic of Zainoel Abidin Hospital Banda Aceh Putri Agustina1. Devi Darliana2. Riski Amalia3 Undergraduate Nursing Study Program. Keperawatan. Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala Medical Surgical Nursing Science Division. Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala Email: devi. darliana@usk. ABSTRACT Background: PatientsAo knowledge of diabetes mellitus plays a vital role in raising awareness about the associated health risks, thereby encouraging individuals to adopt healthier lifestyles. Such knowledge also contributes to promoting behavioral change and enhancing adherence to disease management programs. This study aimed to assess patientsAo knowledge of type 2 diabetes mellitus at the Endocrine Outpatient Clinic of dr. Zainoel Abidin General Hospital. Banda Aceh. Methods: The study population comprised all patients diagnosed with type 2 diabetes mellitus, with a sample of 336 patients selected through purposive sampling. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional study design. Data collection utilized the Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-. , which had been previously tested for validity and reliability, yielding a CronbachAos alpha of 0. Results: Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate analysis. The results showed that 207 patients . 8%) had a moderate level of knowledge. Conclusions: This finding is associated with the respondentsAo intermediate educational background, which limited their exposure to information, particularly regarding diabetes management. Keywords : type 2 diabetes mellitus. Copyright @2025. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 1 . Introduction (Pendahulua. Penyakit tidak menular (PTM) pada individu dewasa cenderung meningkat seiring bertambahnya usia dan perubahan kondisi Individu berusia di atas 30 tahun lebih mudah terkena penyakit tidak menular PTM, terutama penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes atau gangguan pernapasan. Diabetes melitus juga merupakan penyakit kronis progresif yang berkembang secara bertahap pada kondisi di mana tubuh mengalami gangguan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan optimal untuk mengontrol kadar gula darah. Tiga dampak akut utama dari diabetes melitus yang disebabkan oleh fluktuasi kadar flukosa pada rentan waktu singkat adalah hipoglikemia, diabetik ketoasidosis (DKA) hiperglikemik (Marlinda & Zurriyan, 2. International Diabetes Federation (IDF). Sebanyak 1,9% populasi diberbagai belahan dunia terkena diabetes, menjadikannya sebagai faktor kematian keenam tertinggi di dunia. Pada tahun 2021, tercatat 371 juta individu di berbagai negara mengalami penyakit ini. Menurut kemenkes tahun 2018, tingkat kejadian diabetes melitus di tingkat nasional mencapai 8,5%, setara dengan sekitar 20,4 juta warga Indonesia (Bagus et al. , 2. Menurut informasi yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh terdapat 790 kasus pasien diabetes melitus pada bulan Juni 2024 (Dinas Kesehatan, 2. Diabetes melitus tipe 2 dapat menimbulkan banyaknya komplikasi yang akan mengakibatkan tingginya angka biaya pengobatan pada pasien dengan penyakit diabetes melitus ini. Secara keseluruhan, diabetes secara serius akan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung, stroke, kerusakan ginjal, kerusakan saraf yang menyebabkan penurunan taraf hidup penderita (Spears et al. Salah satu upaya dalam menekan angka kejadian diabetes melitus ini yaitu dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Pengetahuan yang baik tentang diabetes dapat memfasilitasi adaptasi perilaku sehat dan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap rencana pengelolaan diabetes. Hal ini dapat membantu dalam menuntaskan tidak hanya penyakit itu sendiri namun juga komplikasi serta konsekuensi medis dan sosial ekonomi (Nabila et al. , 2. Pengetahuan yang baik idealnya akan memfasilitasi pasien untuk berperilaku dengan gaya hidup yang lebih baik. Pengetahuan pasien tentang diabetes melitus dapat meningkatkan kewaspadaan pasien terhadap bahaya yang akan dihadapi sehingga pasien akan berupaya untuk hidup sehat. Pengetahuan juga dapat meningkatkan kesadaran diri pasien akan komplikasi yang dapat terjadi sehingga ada upaya pasien untuk melakukan aktivitas fisik, pengetahuan edukasi, pengobatan, mencegah diabetes melitus tidak bertambah parah. Pengetahuan diabetes melitus yang memadai dianggap sebagai komponen utama manajemen diabetes. Dalam penelitian Al-Sahouri . menunjukkan bahwa masyarakat memiliki Terdapat dua kesalahpahaman yang diungkapkan oleh pasien yaitu obat-obatan dan keberlangsungan kondisi tersebut. Pengetahuan pasien juga mempengaruhi tingkat kepatuhan asien terhadap bagaimana rencana pengelolaan penyakit diabetes ini (Al-Sahouri et al. , 2. Tujuan pembuatan artikel ilmiah ini untuk melihat Augambaran pengetahuan pasien diabetes melitus tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin Banda AcehAy. Methods (Metod. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif eksploratif menggunakan pendekatan cross-sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 yang menjalani perawatan di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin dalam periode Juli 2023 hingga Juli 2024, dengan total populasi sebanyak 2. 100 pasien. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu nonprobability sampling menggunakan teknik purposive sampling dengan melibatkan sampel secara langsung dengan menggunakan kriteriakriteria tertentu. Besaran jumlah sampel dalam penelitian ini ditetapkan menggunakan rumus Slovin yang berjumlah 336 responden. Penelitian dilakukan di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Adapun kriteria inklusi dari penelitian ini adalah: pasien diabetes melitus tipe 2 yang berada di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dan bersedia menjadi Kuesioner kuesioner baku yaitu Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ) yang yang telah ter Copyright @2025. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 1 . standarisasi untuk mengukur tingkat pengetahuan pasien mengenai penyakit diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan kuesioner terjemahan yang telah tervalidasi, yaitu Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ), dengan nilai CronbachAos alpha sebesar 0,723. Dengan demikian, kuesioner ini dianggap reliable . dalam mengukur tingkat pengetahuan pasien. Results (Hasi. Hasil penelitian terkait pengetahuan pasien diabetes melitus tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin. Data demografi responden pada tabel 1. menunjukkan bahwa ratarata usia responden adalah 61,7 tahun. Berdasarkan kesesuaian jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan sebanyak 216 responden . ,3%). Pendidikan responden didominasi dengan SMA/Sederajat responden . ,3%). Pekerjaan responden mayoritas tidak bekerja sebanyak 138 responden . ,1%). rata-rata jumlah penderita lama DM adalah 11,1 Berdasarkan terapi DM mayoritas responden menggunakan obat dan suntik insulin sebanyak 116 responden . ,6%). Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Data Demografi Responden Data Demografi Usia . 61,7A8,3 (M A SD) Jenis Kelamin Laki Ae Laki Perempuan Pendidikan SD/Sederajat SMP/Sederajat SMA/Sederajat Perguruan Tinggi Pekerjaan Tidak Bekerja PNS/TNI/POLRI Petani/Nelayan/Buruh 28 Wiraswasta Pensiunan Lama Menderita DM 11,1A6,5 . (M A SD) Terapi DM Obat Oral Suntik Insulin Obat dan Suntik 116 Data Demografi Obat Tradisional Tidak Ada Hasil penelitian terkait pengetahuan pasien diabetes melitus tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh pada tabel 2. menunjukkan bahwa pengetahuan responden terhadap penyakit diabetes melitus tipe 2 terdapat pada kategori sedang yaitu sejumlah 207 responden . ,8%). Pengetahuan pasien diabetes melitus tipe 2 dibagi menjadi 3 kategori yaitu tinggi, sedang, dan Hasil pengkategorian dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh . Tingkat Frekuensi Persentase Pengetahuan (%) Tinggi Sedang Rendah Total Discussion (Pembahasa. Pengetahuan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 1. menunjukkan bahwa rata-rata usia pasien adalah 61 Rata-rata usia pasien di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Divianty et al. , yang menyebutkan bahwa rata-rata usia pasien diabetes melitus adalah Ou 60 tahun. Pada kelompok usia lanjut (Ou 60 tahu. , diabetes melitus sering berkembang secara perlahan, sehingga tanda dan gejala awal sering kali tidak terdeteksi. Akibatnya, penyakit ini baru terdiagnosis pada usia yang lebih tua. Selain itu, proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi fisiologis tubuh, yang dapat memperburuk kondisi metabolik pasien. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien diabetes melitus adalah perempuan, dengan jumlah 216 pasien . ,3%). Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Komariah & Rahayu . , yang menyatakan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami diabetes melitus. Secara fisiologis, perempuan lebih rentan mengalami peningkatan indeks pada massa tubuh. Copyright @2025. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 1 . yang merupakan faktor utama risiko diabetes Selain itu, pada penelitian Vadila et al. juga menunjukkan bahwa pola makan yang tidak sehat, seperti sering mengonsumsi makanan yang berlemak dan tinggi glukosa, menjadi salah satu penyebab tingginya prevalensi diabetes melitus pada perempuan. Perempuan juga cenderung memiliki kadar LDL dan trigliserida yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yang berkontribusi terhadap risiko penyakit ini. Selain itu, antara lakilaki dan perempuan juga terdapat perbedaan dalam semua aktivitas fisik dan gaya hidup sehari-sehari. Hasil penelitian menunjukkan jenjang pendidikan pasien adalah SMA/Menengah Atas 142 orang . ,3%). Menurut Anggreini, . ditingkat jenjang pendidikan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya DM tipe 2, karena pendidikan yang tinggi dan pengetahuan yang luas cenderung membuat seseorang memiliki pemahaman yang mendalam tentang kesehatan. Hal ini akan meningkatkan kesadaran untuk menjaga dan memelihara kesehatannya. Masyarakat yang memiliki tingkat jenjang pendidikan yang rendah cenderung kurang peduli terhadap upaya pentingnya kesehatan dan pemeliharaan kesehatan. Penelitian ini didukung oleh penelitian Wulan et al. bahwa pendidikan responden mayoritas dengan pendidikan sekolah menengah atas sebanyak 42 responden hal ini dikarenakan pendidikan akan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan masyarakat dan kecenderungan menerima informasi, teknologi dan ide yang baru tentang kesehatan yang lebih baik. Mayoritas pasien DM adalah tidak bekerja sebanyak 138 orang . Pekerjaan merupakan bentuk aktifitas fisik yang dilakukan seseorang sehingga akan mengurangi risiko diabetes. Penelitian Darwin Karim, . bahwa orang yang kurang bekerja mempunyai kecenderungan 1,39 kali untuk mengalami kejadian diabetes melitus dibanding orang yang bekerja lebih keras. ini didukung juga oleh penelitian Supardi et al. yang menyatakan bahwa seseorang yang tidak bekerja akan membuat jadwal makan dan tidur menjadi tidak teratur sehingga menjadi faktor dalam meningkatnya penyakit diabetes melitus, serta akan lebih berisiko menderita diabetes melitus. Berbeda dengan seseorang yang bekerja di kantoran atau mempunyai aktifitas pekerjaan yang dibatasi oleh waktu sehingga jadwal makan dan aktifitas fisik akan terjaga dan menjamin kesehatannya. Rata-rata pasien yang sudah menderita diabetes melitus adalah 11,1 tahun. Lama menderita merupakan durasi waktu antara penegakkan diagnosis diabetes melitus sampai dengan waktu Hal ini dipengaruhi oleh rata-rata penderita diabetes melitus di Poliklinik Endokrin RSUDZA yang berusia 61 tahun. Hal ini serupa dengan penelitian Paris et al. , . bahwa rata rata penelitian dengan status lama menderita diabetes Ou 3 tahun berada pada usia lansia awal dengan rentan usia 46-55 tahun dan lansia akhir dengan usia 56-65 tahun dikarenakan pasien terlambat melakukan pemeriksaan kesehatan, memeriksa kesehatan setelah merasakan beberapa gejala, sehingga kondisi diabetes melitus dapat terjadi dalam waktu yang lama. Sejalan dengan penelitian Qusyairi et al. bahwa sebanyak 98,7% responden menderita diabetes melitus selama Ou 10 tahun. Hal ini dikarenakan semakin rentan usia pasien dan lama menderita diabetes melitus Ou 10 tahun maka resiko komplikasi penyakit tersebut juga akan meningkat dan memperburuk kondisi tubuh. Berdasarkan terapi diabetes melitus mayoritas pasien menggunakan obat dan suntik insulin sebanyak 116 orang . ,6%). Hal ini sejalan dengan penelitian Amalia, . Pengetahuan tatalaksana terapi pasien DM tipe 2 sangat perlu dilakukan penatalaksanaan dalam 4 pilar yaitu edukasi, perencanaan makan, aktifitas fisik, terapi farmakologis seperti obat dan suntik insulin. Sejalan dengan penelitian Ningrum et al. Tingginya penatalaksanaan farmakologis diabetes melitus dengan teratur mempengaruhi pengetahuan atau kebiasaan pasien dalam mengendalikan kadar gula darah, hal ini karena pengetahuan dapat menjadikan seseorang memiliki kesadaran sehingga akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang Hasil penelitian pada tabel 2. bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh pasien secara keseluruhan dalam kategori sedang yaitu sebesar 207 responden . ,8%). Hal ini dikarenakan mayoritas pasien dengan tingkat pendidikan SMA/sederajat, dan sudah menderita diabetes melitus Ou 11 tahun, dimana mereka sudah mengetahui mengenai penyakit diabetes melitus dan mendengar penyuluhan yang diberikan oleh petugas kesehatan, sehingga sebagian besar pasien apabila terdapat tanda dan gejala hipoglikemia atau pemeriksaan lebih cepat sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Pengetahuan menjadi hal yang sangat penting dalam masyarakat untuk mencegah terjadinya seseorang menderita diabetes melitus (Dafriani, 2. Penelitian ini juga serupa dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Laili et al. , 2. bahwa tingkat pengetahuan pasien dalam kategori sedang 65 responden . ,3%). Hal ini dikarenakan Copyright @2025. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 1 . penderita diabetes memiliki tingkat pendidikan menengah atas karena masyarakat menerima informasi terkait diabetes melitus dari sekitar Tingkat pendidikan dasarnya akan mempengaruhi pengetahuan dan penyerapan informasi mengenai diabetes melitus tipe 2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan juga oleh Fachruddin et al. , . bahwa pasien memiliki tingkat pengetahuan yang cukup penyuluhan, sehingga mereka sudah mengetahui seputar penyakit diabetes melitus. Pengetahuan yang baik akan membuat pasien mengetahui dan menyadari adanya masalah kesehatan yang dideritanya, sehingga pasien akan berupaya melakukan berbagai hal untuk Selain itu, pengetahuan juga akan menimbulkan kesadaran bagi pasien untuk merubah kebiasaan yang dapat memperberat penyakitnya dan senantiasa berperilaku yang dapat meningkatkan Conclusion (Simpula. Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah di lakukan kepada 336 responden di Poliklinik Endokrin RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dapat di simpulkan bahwa tingkat pengetahuan pasien tentang diabetes melitus tipe 2 terdapat pada katagori sedang yaitu sebesar 60,8%. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan bagi pelayanan kesehatan rumah sakit untuk meningkatkan dan mengembangkan program promosi kesehatan, khususnya bagi pasien yang baru didiagnosis dengan diabetes melitus. Edukasi yang lebih intensif mengenai pengelolaan diabetes melitus akan membantu pasien dalam mengendalikan kondisi mereka secara lebih efektif serta mencegah terjadinya komplikasi di kemudian hari. Disarankan bagi perawat untuk dapat meningkatkan pemahaman pasien mengenai pengetahuan umum tentang diabetes melitus untuk meningkatkan dan mempertahankan tingkat pelayanan kesehatan yang baik terhadap pasien. Direkomendasikan meningkatkan pengetahuan mengenai diabetes melitus tipe 2 melalui keterlibatan pihak rumah sakit dalam menyelenggarakan promosi kesehatan tentang diabetes melitus tipe 2 untuk mengoptimalkan kualitas pelayanan. References (Referens.