PROBLEM FISIKALISME NONREDUKTIF DAN SOLUSI HILOMORFISME THOMISTIK Abstrak: Dalam lsafat pikiran. Fisikalisme Nonreduktif sebagai se- buah posisi loso s mempunyai beberapa problem akibat komitmen ontologisnya terhadap sikalisme. Hilomor sme Thomistik memberikan jalan keluar dari problem yang muncul dari perspektif Fisikalisme Nonreduktif dengan mengacu pada dua prinsip meta sik, yakni materi prima dan forma substansial. Yang pertama menunjukkan pentingnya materi bagi sebuah sistem material atau organisme, sedangkan yang kedua menunjukkan pentingnya eksistensi causa formal dan nal selain causa e sien. Dengan konsep forma substansial. Hilomor sme Thomistik memberikan solusi atas masalah-masalah dalam perspektif Fisikalisme Nonreduktif. Kata-kata Kunci: sikalisme, materialisme, reduksionisme ontologis, forma substansial, causa formal, causa nal, hilomor sme. Abstract: In philosophy of mind. Non-reductive Physicalism as a philosophical view has some problems because of its ontological commitment to physicalism. Thomistic Hylomorphism solves the problems by claiming that there are two metaphysical principles: prime matter and substantial form. The rst shows the importance of matter for a material system or an organism, and the second denotes the importance of the existence of formal and nal causes in addition to ef cient cause. With its concept of substantial form. Thomistic Hylomorphism solves the problems of Non-reductive Physicalism. Keywords: Causal closure principle, causal overdetermination, physicalism, materialism, ontological reductionism, substantial form, formal, nal cause, hylomorphism. Rohaniwan di Pusat Pastoral Mahasiswa Katolik DIY. Keuskupan Agung Semarang. S3 Graduate Theological Union. Berkeley. USA. Email: effendisun@gmail. Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. PENDAHULUAN Dalam lsafat pikiran,1 sikalisme nonreduktif (FNR) adalah sebuah posisi loso s untuk memahami relasi antara tubuh dan pikiran. Pada dasarnya, kata sikalisme dipakai untuk menggantikan kata material- isme demi menunjukkan kebaruan yang ditawarkan dalam memahami Materialisme terkesan usang karena sika kontemporer telah menunjukkan atau paling tidak, telah menawarkan bahwa realitas tak dapat dijelaskan dengan menggunakan materi semata. Pun, kata sikalisme terkait erat dengan sika kontemporer di mana cabang ilmu alam ini menawarkan pemahaman bahwa Aubahan-bahanAy fundamental dalam dunia sub-atomik seperti AuquarkAy tidaklah bersifat material seperti materi yang ditangkap oleh pancaindra dan dipahami oleh pikiran manusia dalam keseharian. Secara singkat, terminologi sikalisme dipakai untuk menggantikan terminologi materialisme karena tidak semua yang kal selalu bersifat material. Walaupun demikian, terminologi materialisme sendiri tidaklah serta-merta dapat dihilangkan karena materialisme sendiri adalah sebuah konsep yang bermakna luas dan luwes, serta mencakup hal-hal yang ditawarkan oleh sikalisme. 2 Oleh karena itu, walaupun keduanya tidak bisa dianggap identik sepenuhnya, sikalisme bisa disandingkan secara erat dengan materialisme dan dapat dipakai bergantian untuk merujuk posisi loso s tertentu. Di tulisan ini, kata sikalisme dipakai untuk menunjukkan kebaruan istilah yang bisa mewakili gambaran realitas yang ditawarkan oleh sika kontemporer. Fisikalisme, dalam terang sains kontemporer, dapat dide nisikan secara luas sebagai sebuah klaim ontologis yang mendaku bahwa apapun Filsafat Pikiran berasal dari AuPhilosophy of MindAy dalam bahasa Inggris. Digunakan kata AupikiranAy untuk mewakili kata AumindAy karena kata AupikiranAy, merujuk pada denisi yang diberikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima, mempunyai nuansa yang beragam dan luas. Pikiran, dapat berarti hasil berpikir, akal, ingatan, angan-angan, gagasan, niat, maksud. Kata-kata padanan ini menunjukkan banyaknya aspek dan kapasitas kesadaran manusia seperti akal-budi atau intelektualitas, ingatan, imajinasi dan intensionalitas. sesuatu yang mendekati de nisi kata AumindAy yang berarti kapasitas kesadaran manusia dalam berpikir dan merasa yang membuat manusia memiliki pengalaman subyektif akan dirinya dan dunia. Bdk. Daniel Stoljar. Physicalism (New York: Routledge, 2. , p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 yang ada berasal dari bahan-bahan sik fundamental yang membentuk realitas material. Dengan kata lain, sikalisme adalah sebuah jenis monisme yang melihat bahwa hanya ada satu bahan dasar realitas, yakni Auyang Ay Di dalam sikalisme, terkait dengan lsafat pikiran, ada banyak macam posisi yang dapat dikategorikan dalam 3 jenis posisi: eliminativisme, sikalisme reduktif dan sikalisme nonreduktif (FNR). Eliminativisme mendaku secara radikal bahwa semua pemahaman tentang proses mental dan pengalaman psikologis yang diketahui dalam keseharian adalah salah total, tidak pernah ada dan tidak mempunyai peran nyata dalam proses sebab-akibat yang terjadi dalam pengalaman objektif manusia. Fisikalisme reduktif mendaku bahwa semua kondisi dan proses mental serta pengalaman psikologis dapat direduksi dalam penjelasan komponen-komponen sik yang menyusun tubuh atau otak Klaim FNR berlawanan dari dakuan eliminativisme dan sikalisme reduktif dalam pemahaman bahwa walau semuanya berasal dari sik atau material, sebagaimana yang didaku kedua jenis lisme lainnya, sistem atau entitas yang berada di level hierarki lebih tinggi mempunyai aturan atau penyebab yang berbeda dan tidak ditemukan dalam komponen-komponen penyusun yang berada di level lebih bawah dari sistem atau entitas tersebut. Posisi FNR yang hendak dibahas di dalam tulisan ini. FNR diminati oleh banyak pemikir kristiani3 karena FNR memberikan jalan keluar bagi gejala kecagunan . 4 yang menghadirkan adanya sebuah fenomena causa atas-bawah . op-down causatio. atau causa keseluruhan-bagian . hole-part causatio. 5 sekaligus menekankan aspek Misalnya: Nancey Murphy. Warren S. Brown, dll. dalam buku Whatever Happened to the Soul? Scienti c and Theological Portraits of Human Nature, ed. Nancey Murphy. Warren S. Brown, dan H. Newton Maloney (Minneapolis: Fortress Press, 1. Dipilih kata dasar cagun yang berarti muncul atau timbul untuk mewakili kata dasar emerge dalam bahasa Inggris. Dalam teori kecagunan, causa atas-bawah dan causa keseluruhan-bagian perlu dibedakan karena keduanya menunjukkan jenis kecagunan yang berbeda. Menurut Philip Clayton, causa keseluruhan-bagian merujuk pada kecagunan lemah . eak emergenc. sedangkan causa atas-bawah merujuk pada kecagunan kuat . trong emergenc. Kecagunan kuat menunjukkan kehadiran sebuah entitas ontologis yang baru yang tidak bisa disamakan dengan komponen-komponen penyusun entitas yang baru tersebut. Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. material manusia. Kedua jenis penyebab ini menunjukkan bahwa sebuah sistem secara keseluruhan tidak bisa dilihat semata-mata adalah bentuk lain dari komponen-komponen penyusunnya dan hanya mempunyai causa bawah-atas . ottom-up causatio. yang berasal dari komponen-komponen penyusunnya. Sebuah sistem, atau dalam gejala kecagunan kuat . trong emergenc. disebut entitas ontologis baru, memberikan sebuah sebab yang tidak berasal dari atau ditemukan di komponen-komponen dasar penyusun sistem tersebut, melainkan sebuah aturan atau penyebab baru yang berasal dari keseluruhan sistem atau dari sistem dengan hierarki yang lebih tinggi. Dakuan FNR dapat mengakomodasi kedua jenis penyebab baru dalam fenomena kecaguan dan ini dapat dilihat dari banyak gejala di alam seperti molekul air (H 2O) yang menunjukkan sifat baru, misalnya sifat basah, yang tidak dimiliki oleh kedua atom penyusunnya. Tulisan ini hendak membahas problem FNR dalam klaimnya tentang relasi pikiran dan otak . ind and brai. Problem-problem itu pada akhirnya dapat dikurangi intensitasnya bila kita berpaling pada meta sika hilomor sme ala Thomas Aquinas. Untuk tujuan ini, tulisan ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama akan menerangkan secara singkat klaim FNR dan bagaimana FNR hendak memberikan solusi bagi problem pikiran dan otak. Bagian kedua akan mengulas problem FNR yang berpangkal dari komitmennya terhadap sikalisme dan reduksionisme ontologis. Bagian ketiga akan menunjukkan bahwa hilomor sme ala Thomas Aquinas dapat memberikan solusi atas problem FNR tanpa membuang kekuatan FNR. Misalnya, air adalah entitas ontologis yang baru, hasil dari ikatan dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Sifat basah yang dimiliki oleh air tak dimiliki oleh hidrogen maupun oksigen. Di lain pihak, kecagunan lemah tidak mensyaratkan hadirnya sebuah entitas ontologis baru dan hanya melihat bahwa sistem baru yang muncul membatasi komponen-komponennya berdasarkan relasi antar komponen-komponen itu sendiri. Dengan demikian causa keseluruhan-bagian sering dipahami sebagai batasan-batasan . dalam kon gurasi sebuah sistem atas komponen-komponen penyusunnya. Lih. Philip Clayton. Mind and Emergence: From Quantum to Consciousness (Oxford and New York: Oxford University Press, 2. , pp. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 FNR DAN DAKUANNYA FNR adalah posisi loso s yang melihat semua peristiwa mental merupakan peristiwa sik walaupun sifat dan kualitas mental tak dapat direduksi ke sifat dan kualitas sik. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, tesis sikalisme adalah sebuah tesis monisme yang melihat bahwa semua fenomena berasal dari yang bersifat sik. FNR, sebagaimana versi sikalisme yang lain, mendasarkan posisinya pada klaim bahwa semua fenomena mental berasal dari yang bersifat sik, dan dalam hal ini, otak. Namun, untuk lebih jelasnya. FNR menolak klaim reduktif yang mengatakan bahwa semua peristiwa psikologis dapat digambarkan dan dijelaskan oleh semua peristiwa sik di otak belaka. FNR mendaku kehadiran causa keseluruhan-bagian dan atau causa atas-bawah sebagai bukti bahwa gejala psikologis atau peristiwa mental, walaupun dihasilkan oleh otak yang sifatnya material, adalah sesuatu yang berbeda dari gejala sik, atau paling tidak, bukan hal yang identik dengan gejala sik yang terjadi di otak semata. Untuk memperjelas. FNR memilih posisi tengah yang menolak kutub ekstrem yang disebut sikalisme reduktif dan dualisme substansi. Yang terakhir, secara umum, adalah posisi yang mendaku bahwa ada dua entitas atau substansi ontologis yang berbeda namun terhubung erat dalam diri manusia, yakni tubuh yang material dan jiwa yang imaterial. FNR menolak dualisme substansi karena dalam perspektif loso snya, hanya yang sikal yang riil secara ontologis. Lebih lanjut, dualisme substansi yang berakar pada pemahaman Descartes mempunyai masalah besar dalam menjelaskan bagaimana pikiran yang imaterial bisa berinteraksi dengan tubuh atau otak yang material. Pikiran yang bukan perluasan dan tidak bersifat spasio-temporal tidak dapat dipikirkan untuk memungkinkan terjadinya kontak dengan tubuh yang merupakan perluasan dan bersifat spasio-temporal dalam hukum mekanis ala Descartes. Problem ini tak dimiliki oleh sikalisme yang menekankan prioritas tubuh material terhadap pikiran karena yang terakhir merupakan produk dari yang sik atau material. Jaegwon Kim. Essays in the Metaphysics of Mind (Oxford and New York: Oxford University Press, 2. , p. Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. FNR tentunya menikmati hasil penemuan-penemuan sainti k seperti halnya sikalisme jenis lain mengingat biologi dan neurosains menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada tubuh material, terlebih otak, mempengaruhi aktivitas pikiran manusia. Tak heran bila posisi ini didukung oleh banyak pernyataan neurolog. Sebagai contoh, neurolog terkenal Michael Gazzaniga, menyatakan bahwa . tak tidak beroperasi dalam sebuah cara yang holistik. Berlawanan dengan itu, kesadaran yang tak terbagi . tau yang utuh dan sat. sebenarnya diproduksi oleh ribuan unit-unit yang secara relatif mempunyai otonomi, atau, secara lebih sederhana, oleh ribuan modul. Modul-modul itu adalah jaringan-jaringan syaraf-syaraf yang terspesialisasi dan terlokalisasi untuk melayani sebuah fungsi khusus. Menekankan pentingnya otak dan syaraf-syaraf sebagai komponen material penghasil kesadaran diri yang utuh, tak terbagi, tidak membuat Gazzaniga jatuh dalam sikalisme reduksionis karena baginya gejala mental seperti sistem kepercayaan, ide dan pikiran dapat mempengaruhi otak yang material. Ia mendaku. AuIde-ide sungguh memiliki pengaruhpengaruh bahkan terhadap otak yang dibatasi secara Tak ada keraguan dalam menyatakan: kondisi-kondisi mental dapat mempengaruhi tindakan sik dalam cara . tau caus. atas-bawah. Ay8 Gazzaniga percaya bahwa pikiran dihasilkan oleh otak material namun pikiran mempunyai causa atas-bawah yang mempengaruhi otak dan tubuh material manusia. Dengan demikian Gazzaniga membuka peluang melihat adanya kebebasan kehendak . ree wil. yang melepaskan seorang manusia dari determinasi biologisnya. Michael S. Gazzaniga. The Consciousness Instinct: Unveiling How the Brain Makes the Mind (New York: Farrar. Straus and Giroux, 2. , p. Gazzaniga dikenal sebagai peneliti teori dua belahan otak, kiri dan kanan, yang mempunyai fungsi berbeda dalam membangun pengalaman subyektif manusia. Perlu dicatat bahwa Gazzaniga tak mendaku posisi loso snya adalah FNR, namun dari penjelasannya terhadap relasi otak dan pikiran, ia menunjukkan posisi pemikirannya sebagai seseorang yang simpatik, jika bukan sebagai pendukung FNR. Michael S. Gazzaniga. The Consciousness Instinct, p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 Sejalan dengan pendapat Gazzaniga ini juga, lsuf Nancey Murphy dan psikolog Warren S. Brown menegaskan bahwa causa atas-bawah sungguh terjadi dalam biologi manusia walaupun kondisi-kondisi mental, bagi mereka, adalah kondisi-kondisi yang dihasilkan dan yang muncul sebagai tambahan atau supervinien . dari yang sikal. Dengan kata lain, kondisi-kondisi mental, secara ontologis, dihasilkan dan bergantung pada yang sikal atau material, dan di sini. Murphy dan Brown mengambil posisi reduksionisme ontologis dengan yang sebagai komponen fundamental sedangkan fenomena mental adalah fenomena yang muncul dan bergantung pada yang material. 9 Namun. Murphy dan Brown melihat bahwa pikiran manusia mempunyai causa atas-bawah yang lain dari causa bawah-atas milik komponen-komponen otak atau tubuh manusia. Mereka melihatnya dalam bentuk kebebasan kehendak manusia yang melampaui determinasi biologis, dalam hal ini otak dan sistem syaraf-syaraf dalam tubuh manusia. Dalam kata-kata mereka sendiri. Determinisme/indeterminisme di level biologis tidak relevanAkarena causa atas-bawah . ewujud dala. pilihan-pilihan di antara atau batasan pada proses-proses dalam level . yang lebih rendahA Kehendak bebas . dipahami sebagai kapasitas holistik dari organisme manusia dewasa . re ektif yang bertindak dalam konteks sosial tertentu. Di sini, dapat dikatakan bahwa walaupun kondisi-kondisi mental manusia adalah hasil dari otak dan mekanisme-mekanismenya, adanya causa atas-bawah ditunjukkan dengan adanya kehendak bebas yang tidak ditentukan oleh komponen-komponen biologis dari sistem yang disebut manusia walau pilihan-pilihan yang tersedia merupakan hasil dari proses-proses biologis. Jadi. FNR tidak menolak adanya causa bawah-atas yang hadir dan berasal dari komponen-komponen sebuah sistem, namun Nancey Murphy dan Warren S. Brown. Did My Neurons Make Me Do It: Philosophical and Neurobiological Perspectives on Moral Responsibility and Free Will (New York: Oxford University Press, 2. , p. 10 Nancey Murphy dan Warren S. Brown. Did My Neurons, p. Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. FNR juga menunjukkan hadirnya causa atas-bawah dalam sistem kompleks. Sampai di sini, untuk memperjelas tesis FNR, maka ditunjukkan apa saja klaim FNR secara umum. Semua fenomena berasal dari dan bergantung pada yang sik . esis Tak perlu entitas tambahan seperti jiwa atau pikiran sebagai entitas fundamental di samping yang material atau yang Kondisi-kondisi mental atau pikiran dihasilkan oleh dan bergantung pada komponen-komponen material di level sistem yang lebih rendah . , dalam hal ini pikiran dihasilkan oleh otak dan syaraf-syarafnya. Adanya causa bawah-atas pada sebuah sistem material sebagai gejala kecagunan. Dalam konteks manusia sebagai sistem organisme, pikiran, sebagai gejala kecagunan, mempunyai kemampuan mempengaruhi tubuh atau otak dan sebaliknya otak dan komponen-komponennya mempengaruhi pikiran secara niscaya. Dengan klaim-klaim ini. FNR berada dalam posisi reduksionisme ontologis karena mengasalkan dan mendasarkan segala sesuatunya pada yang sik walau menunjukkan adanya sebuah penyebab baru dalam sistem material secara keseluruhan yang dinamakan causa atas-bawah dan atau causa keseluruhan-bagian. Jadi, walaupun pikiran berasal dari dan bergantung kepada otak . , pikiran tak dapat direduksi ke otak. Sikap anti reduksionime ini memberikan harapan untuk menggambarkan manusia tidak hanya secara biologis dan komponen-komponen material tubuhnya semata. Manusia mempunyai kemampuan yang menunjukkan keunikannya karena mempunyai causa atas-bawah yang disebut pikiran dan juga kehendak bebas. Manusia, walau terbentuk dari yang sik, mempunyai kekhasan yang tak dimiliki oleh komponen-komponen di level yang lebih rendah, misalnya syaraf-syaraf dan organ-organ tubuh lainnya. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 PROBLEM FNR Sayangnya FNR dengan komitmen loso snya terhadap me meninggalkan problem yang tidak kecil. Adalah Jaegwon Kim, lsuf yang memberikan kritik jitu atas FNR yang tidak mudah dibantah oleh pendukung FNR. Menurut Kim. FNR, dengan komitmennya terhadap sikalisme bersamaan dengan klaimnya akan eksistensi penyebab atasbawah, mempunyai kesulitan untuk mempertahankan keduanya. Bagi Kim. FNR mempunyai masalah besar dengan yang disebut asas AuTertutupnya Penjelasan/Sebab-Akibat Dalam Domain FisikAy (Causal/Explanatory Closure of the Physical Domai. Dalam kata-kata Kim sendiri, [Tertutupnya Penjelasan/Penyebab Dalam Domain Fisi. Jika sebuah fenomena sik mempunyai sebuah penyebab, penyebab itu adalah penyebab sik. Jika sebuah fenomena sik mempunyai sebuah penjelasan, penjelasan itu adalah penjelasan sik. Bagi Kim, walau klaim ini dapat diperdebatkan, klaim ini merupakan sebuah keniscayaan dalam melakukan aktivitas sainti k bagi sebagian besar saintis. Untuk menolak klaim ini, dibutuhkan penolakan terhadap teori-teori sika yang menunjukkan bahwa segala sesuatunya berada dalam ranah sik/material yang dikenali di alam semesta. Lebih lanjut, untuk menolak klaim ini, diperlukan upaya menunjukkan bahwa penyebab-penyebab dalam teori-teori sika dapat berasal dari sesuatu yang Namun, teori-teori sika tidak menunjukkan adanya penyebab imaterial seperti pikiran dalam ranah sik/material. Maka, menurut Kim, klaim FNR mengenai adanya penyebab atas-bawah, dalam hal ini mental ke otak atau tubuh, melawan klaim Autertutupnya penjelasan/penyebab dalam domain sikAy sebagaimana yang ditunjukkan dalam teori-teori sika. Lebih lanjut perlu ditekankan bahwa tentunya klaim Kim ini dapat 12 namun, apa yang dikatakan oleh Kim tidak berhenti di 11 Jaegwon Kim. AuBeing Realistic about Emergence,Ay in The Re-Emergence of Emergence: the Emergentist Hypothesis from Science to Religion, edited by Philip Clayton and Paul Davies (New York: Oxford University Press, 2. , p. 12 Sebagai contoh, sikawan Henry Stapp mendaku bahwa mengacu pada mekanika quantum . uantum mechanic. , realitas tidak dibangun berlandaskan materi sebagaimana yang dikenal oleh sika klasik atau sika ala Newton, melainkan dibentuk oleh sebu- Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. keyakinan ini semata melainkan berkaitan dengan keyakinan ontologis sikalisme, termasuk FNR, tentang yang sik sebagai satu-satunya bahan fundamental pembentuk realitas. Problem kedua yang membuat tesis FNR dipertanyakan adalah problem AuKemubaziran Determinan Sebab-AkibatAy . ausal overdeterminatio. Kemubaziran determinan sebab-akibat masih berkaitan dengan klaim tertutupnya penjelasan/penyebab dalam domain sik. Jika P berasal dan direalisasikan di dan oleh F, maka P* berasal dari F*. Namun, dalam skema FNR, walau P berasal dan direalisasikan di dan oleh F. P* juga merupakan akibat dari sebab P. Lebih lanjut, skema FNR memungkinkan F* juga merupakan akibat dari P. Gambar di bawah ini menjelaskan apa yang telah dijelaskan mengenai skema FNR: Diagram 1. Skema sebab-akibat dalam pandangan FNR. Dari skema ini, terlihat bahwa proses sik (F), dalam hal ini proses di otak, menghasilkan pikiran dan pada akhirnya, menurut FNR, pikiran akan mempunyai kemampuan menjadi causa atas-bawah terhadap proses di otak tahap selanjutnya maupun pikiran tahap selanjutnya. Di sini, timbulnya problem bagi FNR adalah bahwa dengan komitmennya terhadap reduksionisme ontologis. FNR menunjukkan bahwa hanya yang sik yang mempunyai status ontologis sebagai yang riil dan yang tempat di mana pikiran direalisasikan. Bila hanya F1 yang mempuah peristiwa psiko sik di mana pikiran berperan bersama-sama alam . membentuk realitas. Keyakinan ini berlawanan dengan klaim sikalisme dan membuka peluang sebuah model dualisme atau panpsikisme. Henry Stapp. Mindful Universe: Quantum Mechanics and the Participating Observer, 2nd ed. (New York: Springer, 2. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 nyai status ontologis sebagai yang riil pada mulanya, dan P1 adalah hasil dari perealisasian proses-proses pada F1. P1 adalah sebuah kondisi yang muncul dari aktivitas F1. Namun FNR tidak berhenti di situ, melainkan berusaha menjelaskan bahwa P1 walau ada dan berasal dari eksistensi yang sik, atau lebih mudahnya disebut supervin . 13 dari yang sik. P1 mempunyai penyebab atas-bawah yang mempengaruhi yang sik yakni F2. Dari gambar di atas, kita tahu bahwa baik F2 mempunyai penyebab F1 dan P1. Demikian pula P2 mempunyai penyebab F2 dan P1. Pada poin inilah FNR mempunyai problem AuKemubaziran Determinan Sebab-AkibatAy karena dari setiap fenomena Fn dan Pn setelah F1 dan P1 mempunyai dua determinan Fn-1 dan Pn-1. Bila merujuk pada asas AuTertutupnya Penjelasan/Sebab-Akibat Dalam Domain Fisik,Ay skema ini menunjukkan adanya sebuah penyebab yang non- sik atau imaterial, sebagai penyebab tambahan yang pada akhirnya terjebak dengan apa yang dimaksud sebagai asas AuKemubaziran Determinan Sebab-Akibat. Ay Secara singkat, kritik bagi FNR adalah bahwa bila secara ontologis hanya yang sik lah yang riil, maka tak diperlukan lagi sebuah penyebab non- sik seperti pikiran dengan causa atas-bawah. Ini yang disebut Kim sebagai asas AuEksklusiAy . xclusion principl. yakni sebuah efek hanya mempunyai satu penyebab riil secara ontologis sedangkan yang lain adalah kemubaziran . Dengan kata lain. Kim mendaku bahwa setiap kualitas atau sifat sik mempunyai penyebab sik, dan tidak ada yang lain atau yang non- sik. Kim percaya bahwa peristiwa sebab-akibat hendaknya dipahami sebagai kecukupan nomologis . omological suf cienc. dan causa generatif dan produktif . eneration and production causatio. Kecukupan nomologis mendaku bahwa Fn menyebabkan Pn bila setiap Pn muncul dari Fn . tau F sebagai dasar kemunculan P) dan setiap kondisi tertentu Fn akan menghasilkan kondisi tertentu Pn. 14 Dengan kata lain, jika setiap Pn dire13 Supervin (Superven. dalam lsafat merujuk pada sebuah sifat atau kualitas yang muncul dari eksistensi yang lain. Dalam lsafat pikiran, kata supervin merujuk pada pemahaman bahwa pikiran sebagai sebuah sifat atau kualitas yang muncul dari dan berlandaskan pada eksistensi otak atau tubuh. 14 Jaegwon Kim. Mind in a Physical World: An Essay on the Mind-Body Problem and Mental Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. alisasikan oleh Fn atau setiap Fn merealisasikan Pn, maka Pn supervin di Fn. Ini pada akhirnya berimplikasi pada apa yang disebut pikiran sebagai gejala e fenomenalis, yakni sebuah efek sekunder atau produk sampingan dari sebuah proses dan produk sampingan ini tak bersifat kausatif dalam proses sebab-akibat sebuah sistem. Dalam hal ini, pikiran adalah e fenomenalis dari otak atau tubuh material. Lebih lanjut, bagi Kim, pendukung causa atas-bawah dari pikiran atau causa mental perlu menunjukkan adanya rantai sebab-akibat secara berkesinambungan dari pikiran. Dengan kata lain, causa generatif dan produktif dari pikiran seharusnya dibuktikan dengan adanya aliran energi atau transfer momentum secara terus-menerus dari konektivitas sebab-akibat yang riil dalam sebuah sistem sik. 15 Causa mental memang diperlukan dalam menunjukkan sifat agensi dari manusia sebagai sistem organisme, namun, bila pendukung FNR tak dapat menunjukkan adanya kesinambungan rantai sebab-akibat dari causa mental dalam aspek sik manusia . ontoh, otak atau tubu. , maka causa mental tak dapat dikatakan memenuhi pemahaman causa generatif dan produktif. Di sini FNR mempunyai kesulitan yang tidak kecil untuk menjelaskan causa mental karena komitmennya dengan reduksionisme ontologis yang, dalam hal ini, mendaku bahwa setiap gejala mental dalam gejala kecagunan selalu dihasilkan dan direalisasikan oleh realitas ontologis yang disebut sik. Reduksionisme ontologis di sini berarti bahwa tidak ada gejala P . yang tidak bergantung pada F . walau F tidak identik dengan P. Dengan demikian, paling mungkin, dalam perspektif sikalisme, gejala mental dilihat sebagai sebuah fenomena epistemologis semata, bukan ontologis. FNR, lebih lanjut, mempunyai problem yang sama dengan teori kecagunan mengenai asal-usul eksistensi causa atas-bawah. Walau pendu- Causation (Cambridge. MA: MIT Press, 2. , pp. 15 Jaegwon Kim. AuCausation and Mental Causation,Ay in Contemporary Debates in Philosophy of Mind, edited by Brian P. McLaughlin & Jonathan D. Cohen (Oxford: Blackwell, 2. , p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 kung FNR tidak selalu merupakan pendukung teori kecagunan, komitmen terhadap causa atas-bawah membuatnya harus menjawab apa yang merupakan kritik terhadap teori kecagunan. Atas dasar apa sebuah causa atas-bawah muncul walau sifat . atau kualitas di komponen-komponen sebuah sistem tak memiliki sifat atau kualitas sebuah sistem secara keseluruhan? Tidak diragukan bahwa sebuah sistem kompleks menghasilkan sebuah sifat atau kualitas baru yang tidak dimiliki oleh komponen-komponen penyusun sistem, namun atas dasar apa komponen-komponen itu membentuk sebuah sistem secara keseluruhan dengan sebuah sifat yang baru? Bagaimana interaksi antar komponen-komponen sebuah sistem membuat sistem tersebut memiliki sebuah sifat atau kualitas yang baru tanpa jatuh pada sebuah agregat komponen-komponen semata?17 Bukankah sifat atau kualitas baru dari sebuah sistem tak ditemukan dalam sifat atau kualitas komponen-komponen penyusun sistem tersebut? FNR tampaknya menderita kritik yang sama dengan teori kecagunan yang sejauh ini tak menjawab secara memuaskan bagaimana sifat-sifat sebuah sistem secara keseluruhan berbeda dengan sifat-sifat dan kualitas-kualitas dari komponen-komponen penyusunnya. 18 Tak ada teori kecagunan, dan dengan demikian FNR pula, yang menjelaskan secara memuaskan tentang mekanisme munculnya sifat-sifat atau kualitas-kualitas baru dari sebuah sistem secara keseluruhan yang tak didapatkan dari komponen-komponen penyusunnya. 19 Apabila causa atasbawah hasil dari sebuah sifat atau kualitas baru yang dimiliki sebuah sistem secara keseluruhan, maka mekanisme kecagunan dari sifat tersebut merupakan sebuah penjelasan yang perlu dan penting mengingat FNR 16 Sebagai contoh, teori kecagunan kuat memostulatkan adanya realitas ontologis baru yang muncul dari komponen-komponen penyusun sebuah sistem material. Dalam hal ini pikiran dapat disebut sebagai realitas ontologis baru yang muncul dari materi . Dalam hal ini, teori kecagunan kuat tidak sejalan dengan FNR. 17 Bdk. James D. Madden. Mind. Matter, and Nature: A Thomistic Proposal for Philosophy of Mind (Washington D. : The Catholic University of America, 2. , p. 18 Lih. William Jaworski. AuPowers. Structures and MindsAy in Powers and Capacities in Philosophy: The New Aristotelianism, edited by Ruth Groff dan John Greco (New York and London: Routledge, 2. , p. 19 Lih. William Jaworski. Philosophy of Mind: A Comprehensive Introduction (Malden. MA: Wiley-Blackwell, 2. , pp. Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. bergerak dalam perspektif reduksionisme ontologis dengan kerangka sikalisme. Sampai di sini, ada tiga hal yang membuat posisi FNR tidak memuaskan sebagai sebuah posisi loso s dalam problem pikiran dan otak. Yang pertama. FNR mempunyai problem dengan apa yang dinamakan sebagai asas AuTertutupnya Penjelasan/Sebab-Akibat Dalam Domain Fisik. Ay Kaidah ini, lebih lanjut, membawa problem kepada FNR karena FNR mau tak mau mempunyai komitmen terhadap asas AuKemubaziran Determinan Sebab-Akibat. Ay Kedua asas ini tentunya berkaitan dengan komitmen FNR akan reduksionisme ontologis dengan yang sik sebagai bahan dasar pembuat realitas, dan dalam hal ini, otak material sebagai yang menghasilkan pikiran atau, dengan kata-kata lain, pikiran supervin atas otak material. Yang ketiga. FNR, sama seperti teori kecagunan, mempunyai problem dengan penjelasan akan hadirnya sebuah sistem secara keseluruhan yang mempunyai sifat atau kualitas baru yang tidak dimiliki oleh komponen-komponen penyusunnya. Sifat dan kualitas baru itu adalah sumber dari hadirnya causa atas-bawah, dan bila FNR berkomitmen pada sikalisme, maka FNR perlu menjelaskan mekanisme munculnya pikiran dari otak sebagai sistem secara keseluruhan. Sejauh ini. FNR tak mempunyai penjelasan memadai mengenai keberatan terakhir ini. Dengan demikian, ketiga problem ini perlu diatasi bila kita hendak melampaui FNR tanpa harus mengabaikan apa yang menjadi keunggulan FNR, terutama kemampuannya menunjukkan bahwa pikiran dan otak sedemikian eratnya terhubung sehingga apa yang terjadi pada dan di otak akan mempengaruhi pikiran. Dengan komitmen ini, kita berpaling pada hilomor sme Thomistik yang tentunya diharapkan mempunyai kemampuan menerangkan keterkaitan otak dan pikiran baik causa bawah-atas dari komponen-komponen pembentuk otak maupun causa atas-bawah dari sistem secara keseluruhan tanpa mewarisi problem-problem FNR. Dengan demikian, hilomor sme Thomistik dapat dijadikan kandidat untuk menerangkan problem pikiran dan otak secara lebih baik daripada FNR. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 SOLUSI HILOMORFISME THOMISTIK Pertama-tama, hilomor sme . ari kata hyle, materi atau kayu dan morphe, bentu. adalah sebuah perspektif meta sika. Dengan demikian ia bukanlah sebuah jenis materialisme atau sikalisme walaupun ia juga menekankan pentingnya yang material. Meta sika, menurut Aristoteles, adalah sebuah ilmu yang mempelajari AuadaAy sebagai AuadaAy dan harus dibedakan dari ilmu-ilmu spesial seperti sika dan biologi yang mempelajari AuadaAy dari aspek tertentunya semata (Lih. Meta IV, . Meta sika adalah ilmu yang mempelajari prinsip pertama dan penyebab tertinggi dari sebuah benda atau organisme. Meta sika juga adalah ilmu yang mempelajari esensi dari sebuah benda atau organisme yang membuat ia adalah ia sebagaimana adanya, dan bukan yang lainnya. Dari sini, perlu diperhatikan bahwa meta sika tidak terpaku pada pengamatan empiris walaupun pengamatan empiris adalah bagian dari proses investigasinya. Hilomor sme Thomistik (HT) adalah suatu perspektif meta sik yang melihat komponen fundamental di dunia material merupakan dua prinsip meta sik, yakni materi prima sebagai prinsip potensi dan forma substansial sebagai prinsip aktualisasi. Keduanya, berdiri sendiri, bukanlah apa yang dapat diindrai dan dalam dunia material tak pernah ditemukan. Namun keduanya merupakan dua prinsip yang dapat diketahui melalui investigasi yang dimulai dari pengalaman indrawi dan dilanjutkan dalam penyelidikan rasional. Dalam dunia material, setiap substansi material dari makhluk hidup hingga ke atom sebuah elemen 20 selalu mempunyai dua prinsip meta sik tersebut. Materi prima dan forma substansial tak pernah ditemukan sendirian dalam sebuah benda material 20 Fisika kontemporer memberikan jalan bagi pemahaman yang lebih rumit mengenai status partikel sub-atomik lebih dari apa yang secara elegan dapat diberikan oleh hilomor sme. Namun dalam kehidupan sehari-hari, hilomor sme menunjukkan kesahihannya sebagai sebuah perspektif loso s dalam memahami realitas benda-benda Pun, sika kontemporer mengalami kesulitan menjelaskan secara gamblang apa yang dimaksud dengan materi. Walaupun materi adalah salah satu konsep sentral dalam sika, pemahamannya masih terus diselimuti awan ketidakpastian karena setiap pende nisiannya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Untuk referensi mengenai konsep materi, lihat Jim Baggot. Mass: The Quest to Understand Matter from Greek Atoms to Quantum Fields (Oxford: University of Oxford, 2. , p. Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. ataupun organisme. Dengan kata lain, dalam sebuah benda material atau organisme, di level yang paling fundamental, terdapat dua prinsip metasik pembentuk substansi material: materi prima dan forma substansial. Organisme yang disebut manusia pun dapat dijelaskan dengan kedua prinsip meta sik ini, yakni bahwa seorang manusia merupakan substansi yang merupakan hasil dari materi prima dan forma substansial manusia. Dapat dikatakan bahwa forma substansial manusia adalah prinsip meta sik yang menentukan sebuah substansi material tertentu sebagai manusia dan bukan yang lainnya. Lebih lanjut, materi prima yang bersatu dengan forma substansial manusia memberikan unsur material atau kebertubuhan manusia. Perlu dicatat, dalam hilomor sme, tubuh material-empiris adalah hasil dari persatuan materi prima dan forma substansial. HT melihat bahwa materi prima dan forma substansial adalah sebuah kesatuan dan hendaknya tidak dilihat sebagai persatuan dua entitas yang berbeda jenis. Pertama, persatuan keduanya tidak dilihat sebagai sebuah kombinasi dan agregat sebuah entitas material dan sebuah entitas non-material. HT dengan demikian tidak berada di kubu dualisme substansi karena materi prima dan forma susbtansial bukanlah dua entitas yang berbeda melainkan dua prinsip meta sik yang berbeda. Posisi ini memberi keuntungan bagi HT untuk tidak terjebak dalam kesulitan dualisme substansi ketika menjelaskan bagaimana tubuh dan jiwa berinteraksi. Dalam perspektif HT, materi prima dan forma substansial bukan dua entitas terpisah melainkan prinsip yang membentuk sebuah substansi material yang mempunyai aspek material dari materi prima dan aspek imaterial dari forma substansial. Dalam bahasa yang berbeda. HT menunjukkan bahwa tubuh memiliki aktivitas karena forma substansial sebagai prinsip aktualisasi dari materi prima yang merupakan prinsip Bagi HT, kontak antara tubuh material dan forma substansial adalah bukan kontak dalam hal kuantitas dan persambungan antara dua entitas yang berbeda sebagaimana pengertian yang menyangkut causa material dan e sien, melainkan kontak daya yang dimiliki forma substansial dalam bentuk causa formal dan nal (SCG II, . DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 Kedua, dalam HT, forma substansial disebut jiwa dalam menjelaskan organisme karena merupakan prinsip kehidupan. Keyakinan ini juga menunjukkan bahwa organisme sebagai sebuah substansi material bukanlah kombinasi dari materi dan forma . dalam pemahaman artefak seperti sebuah patung besi atau sebuah tumpukan batu (Bdk. Meta VII, 2, 1. Yang dimaksud di sini adalah bahwa substansi bukanlah artefak karena dalam substansi seperti organisme, ada sebuah sifat atau kualitas baru yang datang dari forma substansial. Sebagai contoh, sebuah patung perunggu mempunyai bentuk yang berbeda dari medali perunggu namun keduanya tetap mempunyai sifat dan kualitas yang sama yakni sifat atau kualitas yang dimiliki perunggu. Baik patung perunggu dan medali perunggu mempunyai bentuk yang berbeda namun bentuk atau struktur yang berbeda ini bukanlah sebuah forma substansial melainkan forma aksidental sehingga baik patung perunggu maupun medali perunggu tak dapat disebut sebagai dua substansi yang berbeda melainkan dua artefak yang berbeda. Forma aksidental bukanlah forma substansial yang membawa esensi sebuah benda. Forma aksidental adalah forma yang seringkali muncul dari forma substansial dan atau datang dari agen di luar substansi material tersebut. Dalam kasus patung atau medali tersebut, agen luar . membuat perunggu menjadi patung dan medali. Baik patung maupun medali masih tetap mempunyai sifat atau kualitas perunggu sebagai substansi material. Ini berbeda dalam kasus organisme karena walau tersusun dari triliunan sel, sebuah organisme tidak semata memiliki sifat atau kualitas yang dimiliki oleh sel-sel tersebut melainkan juga memiliki sifat dan kualitas sebagai sebuah organisme tertentu. sifat dan kualitas sebuah organisme sebagai sebuah sistem secara keseluruhan tentunya tak dimiliki oleh sel-selnya. Di sini perlu dibedakan antara artefak dan substansi, dengan pemahaman bahwa substansi, dalam pandangan HT, memiliki sebuah forma substansial yang merupakan sumber datangnya forma-forma aksidental. Di lain pihak, forma aksidental adalah sifat atau kualitas yang hadir bagi sebuah subtansi untuk menjadi subtansi itu namun merupakan turunan dari forma substansial yang dimiliki substansi tersebut. Dengan kata lain, forma substansial bukanlah sifat atau kualitas tertentu dari substansi melainkan Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. dari mana sifat atau kualitas substansi itu berasal. Diagram di bawah ini diharapkan memudahkan pemahaman konsep meta sik HT. Diagram 2. Bagan meta sika HT untuk organisme manusia. Lebih lanjut. HT menggunakan istilah unum simpliciter (Inggris: one absolutel. untuk menunjukkan relasi antara tubuh . ateri prim. 21 dan jiwa . orma substansia. Unum simpliciter menunjukkan kesatuan tubuh dan jiwa dalam arti tiga hal. Pertama, kesatuan tubuh dan jiwa tidak berarti kesatuan dalam arti rakitan dua entitas yang berbeda. Unum simpliciter tak ditemukan dalam artefak atau perkakas buatan manusia seperti mesin. Kedua, unum simpliciter juga bukan merupakan kombinasi dari dua fungsi yang berbeda atau dua organisasi yang berbeda dari dua entitas yang berbeda. Ketiga, unum simpliciter tidak berarti gabungan sebab dan 21 Kata AutubuhAy sendiri tidak dapat diidentikkan dengan materi prima karena tubuh dalam pemahaman lsafat kontemporer selalu merujuk pada tubuh empiris yang dalam pemahaman HT adalah substansi material di mana materi prima telah bersatu dengan substansial atau jiwa. Namun untuk menjembatani pemahaman antara meta sika HT dengan lsafat pikiran kontemporer, dipakai kata tubuh untuk menggantikan materi prima dengan catatan bahwa kata AutubuhAy dipakai hanya untuk menunjuk aspek material dari manusia. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 akibat dalam pemahaman causa material dan e sien sebagaimana yang dipahami dalam sika Newton (Lih. SCG II, 57, 1. Menjadi unum simpliciter berarti memiliki causa formal dan nal. Causa formal berasal dari forma substansial dengan memberikan bentuk, struktur, organisasi ataupun kualitas-kualitas tertentu yang dimiliki sebuah substansi. Causa nal memberikan gerak menuju sebuah akhir atau nalitas dalam hal perkembangan organisme. Finalitas itu adalah AukesempurnaanAy yang menjadi akhir yang dituju dari proses perkembangan. Dengan menekankan unum simpliciter. HT dapat menjawab apa yang menjadi kritik terhadap FNR. Hal pertama yang penting untuk ditekankan bahwa HT tidak bermaksud menjawab masalah pikiran dan otak sebagaimana lsafat kontemporer mewacanakannya. HT melihat manusia dalam keseluruhannya, dan konsep forma substansial sebagai jiwa memegang peranan penting dalam menentukan siapa manusia. Dengan kata lain, fokus HT adalah melihat dan menjelaskan manusia sebagai suatu kesatuan tubuh . ateri prim. dan jiwa . orma substansia. , dan bukan dalam pengertian pikiran dan otak semata. Tetapi konsep jiwa sendiri sering dicurigai sebagai bentuk religiusitas ketuhanan yang menyusup dalam wacana lsafat sehingga konsep jiwa mendapatkan stigma sebagai konsep usang di wacana lsafat pikiran yang ramai diisi oleh pendukung materialisme dan sikalisme. Tentunya HT bisa dipakai untuk menjelaskan problem pikiran dan otak, namun HT menjelaskannya dalam semangat yang berbeda. pikiran dan otak adalah bagian dari sistem yang lebih besar, tubuh dan jiwa sehingga pikiran dan otak adalah bagian dari konsep kesatuan tubuh dan jiwa yang ditawarkan HT. Hal kedua, yang lebih penting untuk tulisan ini, adalah bahwa sebagai solusi dari problem FNR. HT tidak memiliki problem dengan asas AuTertutupnya Penjelasan/Sebab-Akibat Dalam Domain FisikAy yang membuat FNR melanggar asas AuKemubaziran Determinan Sebab-Akibat. Ay Bagi HT, kontak jiwa dengan tubuh mewujud dalam daya jiwa dalam bentuk causa formal dan nal. Tidak ada pelanggaran asas AuTertutupnya Penjelasan/ Sebab-Akibat Dalam Domain FisikAy yang membawa pada asas AuKemubaziran Determinan Sebab-AkibatAy bila kontak tubuh dan jiwa adalah Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. kontak dalam pemahaman causa formal dan nal dan bukannya dalam pemahaman causa e sien. Pemahaman causa e sien membutuhkan agen lain atau sesuatu yang lain sebagai penyebab, dan dalam kasus FNR, otak menyebabkan aktivitas yang menghasilkan pikiran . ausa bawah-ata. dan pikiran juga menghasilkan efek di otak . ausa atas-bawa. Namun, seperti yang sudah diterangkan sebelumnya, posisi FNR sebagai reduksionisme ontologis tidak memungkinkan pikiran sebagai agen di luar otak karena pikiran supervin pada otak, berlandaskan pada otak dan tergantung pada eksistensi dan aktivitas otak. Dengan komitmennya pada sikalisme dan causa atas-bawah pikiran. FNR tidak menyajikan apa yang mungkin di luar causa material dan e sien. HT memberikan solusi bahwa ada causa non-material dan non-e sien dengan menyajikan eksistensi causa formal dan nal. Seperti yang telah disinggung secara singkat sebelumnya, causa formal dan nal merupakan konsekuensi adanya forma substansial yang dimiliki substansi material sebagai sistem secara keseluruhan. 22 HT melihat bahwa causa formal dan nal tidak seperti causa e sien yang membutuhkan agen dari luar untuk menjadi penyebab. Di sini kita perlu mengingat kembali persoalan substansi material dan artefak dalam meta sika HT. Artefak merupakan hasil dari causa material dan e sien di mana eksistensinya membutuhkan agen luar. Substansi material, walau juga membutuhkan agen luar untuk eksistensinya, dan dengan demikian membutuhkan causa material dan e sien, menunjukkan adanya causa formal dan nal sebagai implikasi dari adanya forma substansial. Dalam cara causa formal dan nal inilah dapat dikatakan bahwa jiwa dan tubuh, atau dalam bahasa yang lebih kontemporer, pikiran dan otak, berinteraksi sebagai sebab-akibat. Satu hal yang perlu dicatat. HT tidak pernah memostulatkan adanya causa atas-bawah melainkan memostulatkan adanya causa formal dan nal yang secara sederhana dapat disandingkan dengan causa atas-bawah yang bernuansa causa material dan e sien dalam pemahaman lsafat pikiran kontemporer. Dengan demikian, causa atas-bawah dalam pemahaman lsafat pi22 Lih. Eleonore Stump. AuEmergence. Causal Powers, and Aristotelianism in Metaphysics,Ay in Powers and Capacities in Philosophy: The New Aristotelianism, edited by Ruth Groff and John Greco (London: Routledge, 2. , p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 kiran kontemporer diperkaya nuansanya oleh HT dengan pemahaman adanya causa formal dan nal. Kesatuan tubuh dan jiwa dalam perspektif HT juga hendaknya menunjukkan bahwa HT mampu mengakomodasi apa yang dikatakan oleh sikalisme dalam pemahaman tertentu. Apa yang terjadi pada tubuh, atau otak, akan mempengaruhi jiwa sekaligus pikiran. Ini tentunya sesuatu yang masuk akal mengingat bahwa jiwa . orma substansia. membutuhkan tubuh . ateri prim. untuk mengaktualisasikan potensi sebagaimana yang telah dijelaskan mengenai bangunan dasar perspektif meta sika HT. HT dengan mudah menerima klaim FNR bahwa apa yang terjadi di tubuh material atau otak akan mempengaruhi pikiran karena forma substansial memerlukan tubuh . untuk menjadikan sesuatu aktual. Dengan kata lain, kesatuan tubuh dan jiwa dalam HT menunjukkan bahwa jiwa sebagai prinsip aktivitas tak dapat bekerja dengan baik tanpa adanya materi . yang membuat jiwa dapat mengaktualkan potensi dalam bentuk aktivitas atau gerak dari substansi material sebagai sistem secara keseluruhan. Sebagai tambahan. HT mampu menunjukkan setidaknya dalam sistem meta sikanya bahwa penjelasan adanya teleologi intrinsik pada makhluk hidup. Forma substansial yang memberikan causa formal dan nal membuat materi bergerak dan beraktivitas menuju pada suatu AuakhirAy yakni organisme dewasa dengan segala macam sifat atau kualitasnya. Causa formal dan nal menunjukkan adanya causa imanen yang pada akhirnya juga menunjukkan bahwa aktivitas organisme datang dari dalam dirinya tanpa perlu adanya agen dari luar sebagai sumber gerak atau aktivitas. Causa imanen adalah sebab yang berasal dari diri sebuah agen, tetap berada di agen tersebut, dan berakhir pada agen tersebut. Biasanya proses-proses causa imanen hadir untuk AukesempurnaanAy substansi tersebut. Causa imanen diperlawankan dengan causa transien karena yang terakhir adalah penyebab yang berawal dari sebuah agen dan bera- Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. khir di luar agen tersebut. 23 Hanya organisme yang memiliki kedua causa jenis tersebut. Non-organisme hanya memiliki causa transien dan tidak memiliki causa imanen. Causa imanen dalam tubuh manusia dapat dilihat dari struktur dan pola proses-proses serta organisasi dalam tubuh manusia. Dengan demikian, struktur, pola dan organisasi di tubuh organisme, termasuk di otak, adalah buah dari causa formal dan nal yang mengalir dari eksistensi jiwa. Perlu ditekankan bahwa, adalah daya jiwa yang memberikan struktur, pola dan organisasi di tubuh organisme sehingga lain jenis jiwa lain pula dayanya dan pada akhirnya, lain pula struktur, pola dan organisasi yang ditemukan di tubuh berbagai macam organisme. Daya jiwa bersifat causal walau daya jiwa bukan esensi jiwa, dan daya jiwa hendaknya dilihat sebagai sesuatu yang mengalir dari jiwa sebagai penyebab langsung yang AubersentuhanAy dengan tubuh (ST I, 77, . Dengan logika ini, tidak mengherankan bila di alam kita menemukan bermacam-macam organisme dengan bermacam-macam sifat dan kualitas biologis. Bagi HT, sebuah substansi material disebut organisme karena ia mempunyai jiwa yang merupakan prinsip kehidupan yang pada akhirnya juga merupakan prinsip identitas dan aktivitas bagi tubuh. Prinsip kehidupan ini menghasilkan causa imanen dalam bentuk causa formal dan nal selain causa e sien. Di sini hendak ditekankan bahwa HT menunjukkan bahwa forma substansial atau jiwa tidak membuat rantai sebab-akibat berdasarkan pemahaman causa material dan e sien semata. Dengan demikian, problem pelanggaran asas AuTertutupnya Penjelasan/Sebab-Akibat Dalam Domain FisikAy yang membawa pada asas AuKemubaziran Determinan Sebab-AkibatAy dapat dihindari. Posisi HT ini berbeda dengan posisi pendukung teori kecagunan maupun FNR yang mendaku bahwa komponen-komponen pada level yang lebih bawah memunculkan sebuah sifat atau kualitas baru yang mempunyai kemampuan causa atas-bawah yang seringkali di23 Lih. Edward Feser. AuAquinas on the Human Soul,Ay in The Blackwell Companion to Substance Dualism, edited by Jonathan J. Loose. Angus J. Menuge, and J. Moreland (Hoboken. NJ: Wiley Blackwell, 2. , p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 pahami dalam kerangka berpikir causa e sien. HT mengambil posisi yang berbeda dengan menegaskan bahwa jiwa sebagai sebuah causa formal bukan hanya untuk tubuh secara keseluruhan semata melainkan pula untuk setiap komponen penyusun tubuh. 24 HT memberi prioritas organisme secara keseluruhan dibandingkan dengan komponen-komponen penyusun Yang lebih riil adalah organisme secara keseluruhan sedangkan komponen-komponen penyusun hadir dalam upaya menyokong eksistensi organisme secara keseluruhan. Dengan demikian HT membantah klaim FNR yang memprioritaskan komponen-komponen sik lebih dari sistem secara keseluruhan dengan komitmen sikalismenya. Lebih lanjut, tidak seperti teori kecagunan dan FNR yang memostulatkan level atas sebagai hasil dari proses-proses yang berada di level lebih bawah. HT memostulatkan bahwa fenomena di level atas yang memberikan struktur atau pola atau organisasi bagi level bawah. Dengan kata lain, struktur, pola atau organisasi level atas tidak dihasilkan oleh proses-proses di level bawah. 25 Bagi HT, jiwa manusialah yang memberikan struktur, pola atau organisasi pada level bawah atau komponen-komponen sebuah sistem utuh yang dinamakan manusia. Demikian pula dalam hal problem pikiran dan otak. HT akan memberikan solusi bahwa adalah jiwa manusia yang membuat otak terstruktur, terpola atau terorganisasi sedemikian rupa sehingga pikiran dapat muncul, dalam arti bahwa daya jiwa membuat otak bekerja sesuai apa yang menjadi esensi manusia. Tentu HT mempunyai pandangan lain mengenai jiwa manusia yang membedakannya dari jiwa tumbuhan atau hewan lainnya. Dalam pandangan HT, pikiran-pikiran dalam level tertentu selalu terkait dengan otak, namun tak semua daya jiwa dalam HT dapat disandingkan dengan struktur, pola atau organisasi material tubuh manusia. HT juga mendaku ada sebuah kapasitas jiwa manusia yang tidak tergantung pada tubuhnya atau melampaui tubuhnya, yakni kapasitas intelektual-rasional, sehingga 24 Robert C. Koons. AuAgainst Emergent Individualism,Ay dalam The Blackwell Companion to Substance Dualism, edited by Jonathan J. Loose. Angus J. Menuge, and J. Moreland (Hoboken. NJ: Wiley Blackwell, 2. , p. 25 Bdk. William Jaworski. AuPower. Structure, and Mind,Ay p. Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. memungkinkan pemahaman akan eksistensi jiwa yang berlanjut setelah kematian tubuh (ST I, 75, . Kapasitas jiwa manusia ini tak dimiliki oleh tumbuhan maupun hewan lainnya. Namun hal ini tidak akan dibahas lebih lanjut di sini mengingat tujuan tulisan ini adalah menunjukkan kelemahan FNR dan memberikan solusi sesuai yang ditawarkan HT. KESIMPULAN Dengan demikian, di sini telah ditunjukkan bahwa HT tidak memiliki problem-problem yang dialami oleh FNR. Bahkan HT memberikan solusi dari problem yang dimiliki FNR sebagai berikut: Untuk masalah pelanggaran asas AuTertutupnya Penjelasan/SebabAkibat Dalam Domain FisikAy yang membawa pada masalah kaidah AuKemubaziran Determinan Sebab-Akibat,Ay HT memberikan solusi untuk tidak melihat kontak antara tubuh dan jiwa atau otak dan pikiran sebagai kontak dalam pemahaman causa e sien melainkan kontak dalam pemahaman causa formal dan nal yang mengalir dari forma substansial. Bagi masalah ketidakmampuan FNR dan juga teori kecagunan menjelaskan mekanisme munculnya level atas dari level bawah. HT menawarkan perspektif forma substansial atau jiwa yang merupakan prinsip identitas dan aktivitas. Forma substansial dengan causa formal dan nalnya menunjukkan bahwa level bawah terstruktur, terpola atau terorganisasi berdasarkan kapasitas atau daya jiwa. Ini menunjukkan bahwa causa atas-bawah hadir di organisme, pertama-tama dalam bentuk causa formal dan nal, bukan causa e sien. Dengan model kesatuan tubuh dan jiwa, unum simpliciter. HT menunjukkan bahwa yang material atau sik terhubung erat dengan yang imaterial, dalam hal ini forma substansial atau jiwa. Dari forma substansial ini, mengalir daya jiwa yang membuat tubuh material bergerak, beraktivitas dan memperoleh identitas sebagai sebuah substansi material tertentu bukan hanya karena gerak dari causa material dan e sien semata melainkan juga dengan causa formal dan nal. Dengan demikian. HT DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 1-26 mengakomodasi apa yang menjadi kekuatan FNR sekaligus memberikan solusi bagi masalah-masalah yang ditinggalkan oleh FNR akibat komitmennya pada sikalisme. DAFTAR RUJUKAN Aquinas. Thomas. Commentary on the Metaphysics. Terj. John P. Rowan, html-edited by Joseph Kenny. Chicago: 1961. https://dhspriory. org/thomas/english/Metaphysics. Diakses pada 10 April ________. The Summa Theologica (ST). Terj. Fathers of the English Dominican Province. Benziger Bros. edition, 1947. https://dhspriory. thomas/english/summa/index. Diakses pada 10 April 2019. ________. Summa Contra Gentiles (SCG): Book II. Terj. James F. Anderson, edited by Joseph Kenny. New York: Hanover House, 1955-57. Aristotle. Metaphysics. Terj. oleh W. Ross. NuVision Publications. LLC. Baggot. Jim. Mass: The Quest to Understand Matter from Greek Atoms to Quantum Fields. Oxford: University of Oxford, 2017. Clayton. Philip. Mind and Emergence: From Quantum to Consciousness. Oxford and New York: Oxford University Press, 2004. Feser. Edward. AuAquinas on the Human Soul. Ay In The Blackwell Companion to Substance Dualism, edited by Jonathan J. Loose. Angus J. Menuge, and J. Moreland. Hoboken. NJ: Wiley Blackwell, 2018. Gazzaniga. Michael S. The Consciousness Instinct: Unveiling How the Brain Makes the Mind. New York: Farrar. Straus and Giroux, 2018. Jaworski. William. Philosophy of Mind: A Comprehensive Introduction. Malden. MA: Wiley-Blackwell, 2011. _______________. AuPower. Structure, and Mind. Ay In Powers and Capacities in Philosophy: The New Aristotelianism, edited by Ruth Groff and John Greco. New York: Routledge, 2013, pp. ------. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, edisi kelima. https:// Diakses 5 April 2019. Kim. Jaegwon. AuBeing Realistic about Emergence. Ay In The Re-Emergence of Emergence: the Emergentist Hypothesis from Science to Religion, edited by Philip Clayton and Paul Davies. New York: Oxford University Press, 2006. Problem Fisikalisme Nonreduktif (EAendi Kusuma Sunu. ____________. AuCausation and Mental Causation. Ay In Contemporary Debates in Philosophy of Mind, edited by Brian P. McLaughlin and Jonathan D. Cohen. Oxford: Blackwell, 2007, pp. 227Ae242. ____________. Essays in the Metaphysics of Mind (Oxford and New York: Oxford University Press, 2010. ____________. Mind in a Physical World: An Essay on the Mind-Body Problem and Mental Causation. Cambridge. MA: MIT Press, 2000. Koons. Robert C. AuAgainst Emergent Individualism. Ay In The Blackwell Companion to Substance Dualism, edited by Jonathan J. Loose. Angus Menuge, and J. Moreland. Hoboken. NJ: Wiley Blackwell, 2018, pp. Madden. James D. Mind. Matter & Nature: A Thomistic Proposal for the Philosophy of Mind. Washington D. : The Catholic University of America, 2013. Murphy. Nancey dan Warren S. Brown, eds. Did My Neurons Make Me Do It? Philosophical and Neurobiological Perspectives on Moral Responsibility and Free Will. New York: Oxford University Press, 2007. Murphy. Nancey. Warren S. Brown dan H. Newton Maloney, eds. Whatever Happened to the Soul? Scienti c and Theological Portraits of Human Nature. Minneapolis: Fortress Press, 1998. Stoljar. Daniel. Physicalism. New York: Routledge, 2010. Stapp. Henry. Mindful Universe: Quantum Mechanics and the Participating Observer, 2nd ed. New York: Springer, 2011. Stump. Eleonore. AuEmergence. Causal Powers, and Aristotelianism in Metaphysics. Ay In Powers and Capacities in Philosophy: The New Aristotelianism, edited by Ruth Groff and John Greco. New York: Routledge, 2013, pp.