Hubungan Frekuensi Makan dan Aktivitas Fisik dengan Persen Lemak Tubuh Pedagang Pasar Liluwo Susanly Ainun Handoko1*. Sitti Rahmatia Bau2. Nanda Labado3 Program Sarjana Terapan Promosi Kesehatan. Universitas Bina Taruna Gorontalo. Kota Gorontalo. Indonesia1,2,3 Received : 23/08/2025 Revised : 15/09/2025 Accepted : 20/10/2025 Published : 31/12/2025 Corresponding Author: Author Name*: Susanly Ainun Handoko Email*: handokosusanly@gmail. DOI: A 2025 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Phone*: 082152718243 Abstrak: Persentase lemak tubuh merupakan indikator penting status gizi yang berkaitan dengan risiko penyakit metabolik dan dipengaruhi oleh faktor gaya hidup seperti frekuensi makan dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan frekuensi makan dan aktivitas fisik dengan persentase lemak tubuh pada pedagang Pasar Liluwo. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Persentase lemak tubuh diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), sedangkan frekuensi makan dan aktivitas fisik dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan secara bivariat untuk menilai hubungan antarvariabel dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi makan dan persentase lemak tubuh . =0,. , yang menandakan bahwa variasi frekuensi makan berhubungan dengan perbedaan persentase lemak tubuh responden. Sebaliknya, aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan persentase lemak tubuh . =0,. Dapat disimpulkan bahwa frekuensi makan berperan dalam variasi persentase lemak tubuh pada pedagang Pasar Liluwo, sedangkan aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna, sehingga pengaturan pola makan, khususnya frekuensi makan, perlu mendapat perhatian dalam upaya pengendalian lemak tubuh pada kelompok pekerja informal. Kata Kunci: Persentase Lemak Tubuh. Frekuensi Makan. Aktivitas Fisik. Status Gizi. Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Pendahuluan Obesitas adalah masalah kesehatan yang berkontribusi secara global dengan 2,6 juta kematian di dunia setiap tahun. Prevalensi obesitas meningkat di berbagai negara termasuk asia Tenggara dan Asia Selatan (Agustina et al. , 2. Pada umumnya obesitas maupun obesitas sentral akan meningkat karena faktor usia, dengan rentang usia 4-059 tahun (Septoyanti & Seniwati, 2. Berdasakan hasil Riset Kesehatan Dasar . , prevalensi obesitas penduduk Indonesia > 18 tahun Obesitas sendiri sudah berada pada level yang bisa dikatakan darurat yaitu lanjutan dari gizi lebih yang telah semakin parah karena dalam 30 tahun terakhir gizi lebih atau overweight telah mengalami peningkatan (Alman et al. , 2. ___________ How to Cite: Handoko. Bau. , & Labado. Hubungan frekuensi makan dan aktivitas fisik dengan persen lemak tubuh pedagang Pasar Liluwo. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (J-SiKomKe. , 1. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Sekitar 13,5% orang dewasa di Indonesia mengalami kelebihan berat badan dan obesitas, sedangkan di anak usia 5Ae12 tahun angka kelebihan berat badan dan obesitas juga tinggi. Obesitas di Indonesia terjadi akibat ketidakseimbangan energi masuk dan keluar Ai termasuk pola makan tinggi lemak dan kurang aktivitas fisik (Kemenkes RI, 2. Lemak tubuh yang berlebihan dikaitkan dengan risiko tinggi penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung koroner. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik tinggi umumnya berhubungan dengan penurunan persentase lemak tubuh karena meningkatnya pengeluaran energi total dan adaptasi metabolik yang lebih efisien (Lewa & Amani, 2. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi komposisi tubuh yaitu Tingkat aktivitas fisik. Aktivitas fisik merupakan setiap pergerakan anggota tubuh yang dihasilkan dari otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi. Hal ini sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik dan mental, agar tubuh tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Dalam rutinitas setiap hari, aktivitas dapat dikelompokkan ke dalam pekerjaan, olahraga, kegiatan dalam rumah tangga ataupun kegiatan lainnya. Berdasarkan data RISKESDAS tahun 2018, proporsi penduduk Indonesia yang melakukan aktivitas fisik adalah 33,3% (Daly et al. Selain itu, frekuensi makan juga dipelajari secara luas sebagai salah satu perilaku nutrisi yang berpotensi memengaruhi komposisi tubuh. Frekuensi makan dapat mempengaruhi parameter dari komposisi tubuh termasuk massa Frekuensi makan yang dapat mempengaruhi persentase lemak tubuh dapat dipengaruhi oleh energi dan gaya hidup (Blazey et al. , 2. Berdasarkan data awal yang telah diambil sebelumnya pada pedagang Pasar Liluwo, didaptkan terdapat 6 pedagang . %) berkategori obesitas 10 pedagang . %) berkategori preobes atau berat badan berlebih dan 4 pedagang . %) berkategori Metode Desain penelitian yang digunakan adalah desain kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional, dimana peneliti akan mencari hubungan antara frekuensi makan dan aktivitas fisik dengan persen lemak tubuh pada pedagang. Variabel frekuensi makan dan aktivitas fisik dengan persen lemak tubuh pedagang akan dinilai dan diukur pada saat yang bersamaan. Metode pengambilan sampel menggunakan total sampling, dimana responden adalah seluruh pedagang pasar liluwo dengan jumlah 71 responden. Adapun untuk waktu penelitian dilakukan selama sebulan. Variabel dalam Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. penelitian ini adalah frekuensi makan dan akivitas fisik sebagai variabel independen dan variabel dependen adalah persen lemak tubuh. Hasil Penelitian Hasil Analisis Univariat Distribusi responden berdasarkan kelompok umur Berdasarkan hasil peneltian yang telah dilakukan, diperoleh distribusi responden berdasarkan kelompok umur pada tabel 1 berikut ini: Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Di Pasar Liluwo Kelompok Umur Frekuensi (Tahu. >65 Total Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 1 diperoleh distribusi responden berdasarkan kelompok umur di Pasar Liluwo menunjukan bahwa kelompok umur tertinggi berada di umur 36-45 tahun sebanyak 23 responden . 4%), kedua tertinggi berada di kelompok 46-55 tahun sebanyak 22 responden . 0%) sedangkan kelompok umur terendah berada di kategori > 65 tahun dengan umur 70 tahun sebanyak 1 responden . 4%). Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin Berdasarkan hasil peneltian yang telah dilakukan, diperoleh distribusi responden berdasarkan jenis kelamin pada tabel 2 berikut ini: Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Pasar Liluwo Frekuensi Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan Tabel 2 diperoleh distribusi responden berdasarkan jenis kelamin menunjukan bahwa perempuan lebih tinggi jumlahnya yaitu sebesar 37 Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. 1%) dan sisanya berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 34 responden . 9%). Distribusi responden berdasarkan IMT Berdasarkan hasil peneltian yang telah dilakukan, diperoleh distribusi responden berdasarkan IMT pada tabel 3 berikut ini: Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan IMT Di Pasar Liluwo Frekuensi IMT Normal Gemuk tingkat ringan Gemuk tingkat berat Total Sumber: Data Primer, 2025. Berdasarkan tabel 3 distribusi responden berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) menunjukan bahwa kategori IMT tertinggi yaitu gemuk tingkat berat dengan sebanyak 29 responden . 8%), sedangkan normal dan gemuk tingkat ringan memilik frekuensi yang sama yaitu sebanyak 21 responden . 6%). Distribusi responden berdasarkan aktivitas fisik Berdasarkan hasil peneltian yang telah dilakukan, diperoleh distribusi responden berdasarkan Frekuensi Makan pada tabel 4 berikut ini: Tabel 4 Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Makan Di Pasar Liluwo Frekuensi Frekuensi Makan Kurang Cukup Lebih Total Sumber: Data Primer, 2025. Berdasarkan tabel 4 distribusi responden berdasarkan frekuensi makan di Pasar Liluwo menunjukan bahwa yang memiliki frekuensi makan lebih sebanyak 38 responden . 5%), sedangkan jumlah terendah yaitu Frekuensi Makan yang kurang sebanyak 2 responden . 8%). Distribusi responden berdasarkan aktivitas fisik Berdasarkan hasil peneltian yang telah dilakukan, diperoleh distribusi responden berdasarkan aktivitas fisik pada tabel 5 berikut ini: Tabel 5 Distribusi Responden Berdasarkan Aktivitas Fisik Di Pasar Liluwo Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Frekuensi Aktivitas Fisik Ringan Sedang Berat Total Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 5 distribusi responden berdasarkan aktivitas fisik menunjukan bahwa jumlah tertinggi yaitu responden yang beraktivitas fisik ringan sebanyak 36 responden . 7%), sedangkan jumlah terendah yaitu aktivitas fisik berat sebanyak 10 responden . 1%). Analisis Bivariat Hubungan Frekuensi Makan dengan persen lemak tubuh pedagang Pasar Liluwo Berdasarkan hasil peneltian yang telah dilakukan, diperoleh hasil analisis antara Frekuensi Makan dengan persen lemak tubuh pada tabel 6 berikut ini: Tabel 6 Hasil Analisis Hubungan Antara Frekuensi Makan dengan Persen Lemak Tubuh Pedagang Pasar Liluwo Persen Lemak Tubuh val valu Total Frekuensi Healthy Overfat Obese Makan Kurang Cukup Lebih Jumlah Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 4. 8 dapat dilihat bahwa responden paling banyak yaitu pada asupan enerrgi kategori lebih dengan jumlah 38 responden dengan persen lemak tubuh kategori healthy sebanyak 4 responden . 5%), kategori overfat 18 responden . 4%) dan obese 16 responden . 1%). Untuk responden paling sedikit yaitu pada Frekuensi Makan yang kurang dengan kategori healthy sebanyak 2 responden . %). Untuk nila r = 0. 75 dan nilap p < 0. Hubungan antara aktivitas fisik dengan persen lemak tubuh pedagang Pasar Liluwo Berdasarkan hasil peneltian yang telah dilakukan, diperoleh hasil analisis antara aktivitas fisik dengan persen lemak tubuh pada tabel 7 berikut ini: Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Tabel 7 Hasil Analisis Hubungan Antara Aktivitas Fisik dengan Persen Lemak Tubuh Pedagang Pasar Liluwo Persen Lemak Tubuh val valu Total Aktivitas Healthy Overfat Obese Fisik Ringan Sedang Berat Jumlah Sumber: Data Primer, 2025. Berdasarkan tabel 7 dapat dilihat bahwa responden terbanyak ada pada aktivitas ringan sejumlah 36 responden dengan persen lemak tubuh kategori healthy sejumlah 18 responden . 0%), overfat 9 responden . 0%) dan obese 9 responden . %). Untuk responden paling sedikit termasuk dalam aktivitas fisik berat sejumlah 10 responden dengan persen lemak tubuh kategori healthy 2 responden . 5%), overfat 3 responden . 0%) dan obese 5 responden . 0%). Berdasarkan hasil uji diperoleh nilai r = 0. 10 dan nilai p > 0. 05, sehingga kedua variabel ini tidak ada hubungan yang signifikan. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa frekuensi makan berhubungan signifikan dengan persentase lemak tubuh pada pedagang Pasar Liluwo. Secara spesifik, semakin sering responden makan dalam sehari, semakin rendah persentase lemak tubuh yang diamati setelah dikontrol oleh variabel lain . < 0,. Temuan ini konsisten dengan prinsip dasar keseimbangan energi dalam ilmu nutrisi yang menyatakan bahwa pola makan memengaruhi total energi masuk, metabolisme, dan cara tubuh menyimpan maupun memobilisasi lemak. Buku teks nutrisi modern menjelaskan bahwa cara distribusi asupan makanan sepanjang hari . eal patter. dapat memengaruhi proses fisiologis seperti termogenesis paska-makan, laju metabolisme, dan regulasi lapar-kenyang melalui hormon seperti ghrelin dan leptin (Smolin. , & Grosvenor, 2. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Frekuensi makan yang lebih tinggi dengan porsi kecil dapat membantu menstabilkan gula darah, meningkatkan rasa kenyang, serta mencegah konsumsi kalori berlebih pada satu waktu makan besar. Hal ini secara teori dapat menyebabkan penurunan akumulasi lemak tubuh karena tubuh memiliki kesempatan metabolik yang lebih baik untuk menggunakan energi daripada menyimpannya sebagai lemak (Susantini, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi, dkk . bahwa frekuensi makan merupakan faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian obesitas pada siswa SMA di Kabupaten Gorontalo dengan hasil nilai p value = 0. dengan mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak maka akan terjadi keseimbangan antara lemak dan energi yang menyebabkan seseorang mengalami obesitas. Namun dalam penelitian ini juga meskipun frekuensi makan sering terdapat juga responden yang tidak mengalami obesitas, hal tersebut dikarenakan aktivitas fisik yang tinggi dan teratur, sehingga meskipun frekuensi makan berlebih akan normal kembali karena makanan yang masuk akan berubah menjadi energi dan energi akan dibuang kembali melalui aktivitas fisik yang Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti, tidak terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan persen lemak tubuh. Hal ini bisa dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan pedagang bersifat monoton. Mesikupun bekerja seharian dengan jumlah jam kerja >18 jam namun pedagang lebih banyak duduk dan melakukan aktivitas berat hanya dalam waktu singkat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Shintya dan Patwa . bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistic antara aktivitas fisik dengan lemak tubuh pada anak SMA dengan nilai p = 0. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Purwo Adi W dan Tetra S. A . bahwa terdapat hubungan antara frekuensi kebiasaan sarapan dengan persen lemak tubuh pada remaja SMA Muhammadiyah. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara frekuensi makan terhadap persen lemak tubuh. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugroho dan Hikmah . diperoleh hasil yaitu diket ahui bahwa responden yang memiliki frekuensi makan lebih dari3 kali sehari lebih banyak memiliki status gizi obesitas, sedangkan responden yang memiliki frekuensi makan kurang dari atau sama dengan 3 kali sehari lebih banyak memiliki status gizi normal. Penelitian lain menunjukan hasil yang sama yang dilakukan oleh Pratiwi, dkk (Pratiwi et al. , 2. bahwa tidak ada hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan persen lemak tubuh dan kebugaran. Simpulan Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi makan dengan persen lemak tubuh pedagang. Hal ini karena semakin banyak makanan yang dikonsumsi maka asupan energi harian pun semakin banyak. Berbeda dengan frekuensi makan, tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan persen lemak tubuh. Rekomendasi Berdasarkan Kesimpulan tersebut, direkomendasikan agar upaya pengendalian persentase lemak tubuh pada pedagang Pasar Liluwo lebih difokuskan pada pengaturan pola makan, khususnya frekuensi makan yang terstruktur dan sesuai dengan kebutuhan energi harian. Edukasi gizi mengenai jadwal makan yang teratur, pemilihan jenis makanan yang seimbang, serta pengendalian porsi perlu dilakukan melalui penyuluhan atau program promotif di lingkungan pasar. Selain itu, meskipun aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dalam penelitian ini, tetap diperlukan dorongan untuk mempertahankan aktivitas fisik yang memadai sebagai bagian dari gaya hidup sehat secara menyeluruh. Penelitian lanjutan dengan mempertimbangkan variabel lain seperti asupan kalori total, kualitas diet, dan durasi aktivitas fisik juga disarankan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi persentase lemak tubuh pada kelompok pekerja Referensi