(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. 16, No. 2, Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10.36086/jpp.v16i1.489 GANGGUAN KESEHATAN KULIT PADA PEMULUNG DAN FAKTOR PENENTUNYA DI TPA SUKAWINATAN KOTA PALEMBANG SKIN HEALTH DISORDERS ON SCAVENGERS AND THEIR CAUSATIVE FACTORS AT SUKAWINATAN LANDFILL OF PALEMBANG CITY Info artikel Diterima: 25 November 2021 Direvisi: 10 Desember 2021 Disetujui: 22 Desember 2021 Pitri Noviadi 1, Tiur Yolanda Siregar2, Wanda Shalila May Pratiwi3, Listrianah4 1,2,3) Prodi Diploma Tiga Sanitasi Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang 4) Prodi Diploma Tiga Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang Email korespondensi penulis: listrianah@poltekkespalembang.ac.id ABSTRAK Latar Belakang: penyakit kulit merupakan penyakit menular yang dapat dialami oleh pemulung karena risiko dari lingkungan kerjanya dan dapat dicegah dengan membiasakan perilaku penggunaan alat pelindung diri (APD) yang baik. Sanitasi lingkungan dan personal hygiene yang baik juga dapat mencegah timbulnya penyakit kulit. Metode: penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan mei 2021. Populasi studi penelitian ini adalah pemulung di tpa sukawinatan kota palembang. Sampel dengan jumlah 60 pemulung. Analisis data menggunakan chi-squared test dan Regresi Logistik Berganda. Hasil: 60 pemulung pada penelitian, sebanyak 40 (66,7%) pemulung mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan pengetahuan (p-value = 0,027) penggunaan apd (p-value= 0,014) dan personal hygiene dengan gangguan kesehatan kulit (p-value = 0,012). Tidak ada hubungan sanitasi lingkungan dengan gangguan kesehatan kulit (p-value = 0,595). Variabel yang menentukan keluhan gangguan kulit pada pemulung adalah penggunaan APD, dengan Odds Ratio (OR) 6,284 yang artinya pemulung yang menggunakan APD kurang baik akan meningkatkan Risiko sebesar 6,28 kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan kulit dibandingkan pemulung yang menggunakan APD dengan baik setelah dikontrol variabel personal higiene. Kesimpulan: ada hubungan pengetahuan, penggunaan apd, dan personal hygiene dengan gangguan kesehatan kulit pada pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang tahun 2021. Dan tidak ada hubungan antara sanitasi lingkungan dengan gangguan kesehatan kulit pada pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang tahun 2021. Variabel yang menentukan keluhan gangguan kulit pada pemulung adalah penggunaan APD Kata kunci: Gangguan kesehatan kulit, pengetahuan, penggunaan apd, sanitasi lingkungan, personal hygiene, pemulung ABSTRACT Background: skin disease is one of the infectious diseases that can be experienced by scavengers because of the risks from the work environment. One of the ways to prevent skin diseases is by getting used to the behavior of using good personal protective equipment (ppe). In addition, clean environmental sanitation and good personal hygiene can also prevent the onset of skin diseases. Methods: this study uses quantitative methods which is used analytic with a cross sectional approach. Data collection techniques through observation and interviews. This research was conducted in may 2021. The population of this research study were scavengers at the sukawinatan tpa, palembang city. The sample is 60 scavengers. Data analysis using chi-squared test. Result: of the 60 scavengers in the study, 40 (66.7) scavengers experienced complaints of skin health problems. The results showed that there was a relationship between knowledge and skin health disorders (p-value = 0.027). There was a relationship between the use of ppe with skin health disorders (p-value = 0.014). There was no meaningful relationship between environmental health with skin health disorders (0,595). There was a relationship between personal hygiene with skin health disorders (p-value = 0.012). The variable determines the complaints of skin disorders in scavengers is the utilise of ppe (OR : 6.284), which means that scavengers who use PPE less well will increase 6.28 times higher for experiencing skin disorders than scavengers who use PPE properly after being controlled by personal hygiene variable |111 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. 16, No. 2, Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10.36086/jpp.v16i1.489 Conclusion: there is a relationship between knowledge, use of ppe, and personal hygiene with skin health disorders in scavengers at the sukawinatan landfill, palembang city in 2021.The variable which determines the complaints of skin disorders in scavengers is the utilise of ppe. Keywords : Skin health disorders, knowledge, use of ppe, environmental health, personal hygiene, scavengers PENDAHULUAN Proses akhir dari rangkaian penanganan sampah yang biasa dijumpai di Indonesia adalah dilaksanakan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Pada umumnya pemrosesan akhir sampah yang dilaksanakan di TPA adalah berupa proses landfilling (pengurugan), dan sebagian besar dilaksanakan dengan opendumping yang mengakibatkan permasalahan lingkungan.1 Salah satu permasalahan lingkungan di TPA adalah timbulnya masalah kesehatan masyarakat berupa berkembangnya berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Penyakit yang erat kaitannya dengan sampah sangat luas, dan dapat berupa penyakit menular, tidak menular, dapat juga berupa akibat kebakaran, keracunan, dan lain-lain. Penyebabnya dapat berupa bakteri, jamur, cacing dan zat kimia. Penyakit yang banyak terjadi diakibatkan oleh sampah adalah gangguan pada kulit. Bakteri, virus dan jamur yang menginfeksi kulit sangat umum terjadi dan dapat merusak kulit. Penyakit kulit yang disebabkan oleh sampah ini rentan diderita oleh pekerja yang pekerjaannya berhubungan dengan sampah, salah satunya adalah pemulung yang bekerja di TPA dan dapat dikategorikan menjadi penyakit akibat kerja.3 Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018 menunjukan bahwa distribusi pasien rawat jalan di rumah sakit Indonesia dengan golongan sebab penyakit kulit adalah terdapat sebanyak 115.000 jumlah kunjungan dengan 64.557 kasus baru. Hal ini menunjukan bahwa penyakit kulit semakin berkembang dan dominan terjadi di Indonesia terutama pada pekerja.4 Penyakit kulit di Kota Palembang merupakan salah satu penyakit yang terdaftar dalam 10 penyakit terbanyak tahun 2017 dan 2018. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Palembang, didapatkan bahwa penyakit dermatitis dan ekstrim menempati urutan ke-6 pada tahun 2017 dengan jumlah kasus sebanyak 31.808, dan menempati urutan ke-4 pada tahun 2018 sebanyak 73.600 kasus dalam daftar 10 penyakit terbanyak di kota Palembang tahun 2017 dan 2018.5 Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya penyakit kulit diantaranya faktor manusia, umur pekerja, lama bekerja, masa kerja, personal hygiene dan penggunaan alat pelindung diri (APD).6 Dampak yang timbul akibat terjadinya gangguan kulit pada pemulung sampah adalah menurunnya produktifitas dalam bekerja, kurangnya kenyamanan ketika bekerja dan waktu bekerja kurang optimal, sehingga menyebabkan tingkat penghasilan menurun.7 Personal hygiene merupakan kebersihan diri yang di lakukan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan diri sendiri baik secara fisik maupun mental. Kebersihan diri merupakan langkah awal dalam mewujudkan kesehatan diri karena tubuh yang bersih meminimalkan risiko seseorang terjangkit suatu penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri yang buruk.12 Banyak gangguan kesehatan yang akan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharannya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, serta gangguan pada fisik pada kuku.13 Penelitian yang dilakukan di TPA Bantar Gebang didapatkan hasil bahwa variabel personal hygiene dan karakteristik individu berupa masa kerja memiliki hubungan dengan kejadian gangguan kulit pada pemulung.15 Penggunaan APD pada pemulung seperti pemakaian sepatu boot saat bekerja dan menggunakan sarung tangan agar dapat melindungi dirinya dari penyakit.8 Masalah Kesehatan yang diakibatkan karena tidak menggunakan APD sangat beragam, dari masalah pada pernafasan, terjadinya kecelakaan kerja akibat menginjak benda runcing, dan yang paling banyak adalah keluhan penyakit kulit atau gatal. 9 Beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan APD dengan gangguan kesehatan kulit. 4,14 Kota Palembang memiliki 2 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yaitu TPA Sukawinatan dan TPA Karya Jaya. Tapi pada saat ini, TPA Karya Jaya tidak beroperasi dikarenakan akses jalan yang tidak memadai sehingga TPA Sukawinatan dijadikan satusatunya tempat pembuangan akhir untuk wilayah Palembang (Muthoharoh, 2018). TPA |112 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. 16, No. 2, Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10.36086/jpp.v16i1.489 yang terletak di Kecamatan Sukarami ini telah berdiri dari tahun 1994. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Tahun 2021, setiap hari sekitar 1.200 ton sampah diangkut dari penjuru Palembang. Dari jumlah itu, sekitar 800 ton sampah dibuang ke TPA Sukawinatan yang berkapasitas 25 hektare.2 Berdasarkan survei lapangan di TPA Sukawinatan Kota Palembang, pemulung banyak yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu boots, sarung tangan, dan masker dan masih banyak pemulung yang memiliki personal hygiene yang tidak sehat dan sanitasi lingkungan yang buruk. Hasil wawancara awal mengenai keluhan penyakit dari 10 orang pemulung 8 di antaranya mengeluhkan gatalgatal pada kulitnya yang berarti mereka telah terpapar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang menentukan kejadian gangguan kesehatan kulit pada Pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang Tahun 2021. METODE menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Data sekunder didapatkan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Palembang dan Dinas Kesehatan Kota Palembang yang berupa laporan data penyakit terbanyak tahun 2017 dan 2018. Data dianalisis secara bivariat dengan menggunakan rumus Chi square test dan multivariat dengan menggunakan Regresi Logistik Berganda. Penelitian ini telah mendapat persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang dengan No. 683/KEPK/Adm2/II/2021. Jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah pemulung yang ada di TPA Sukawinatan Kota Palembang yang berjumlah 60 orang. Variabel independen dalam penelitian ini adalah karakteristik pemulung, Pengetahuan, Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), Sanitasi Lingkungan, dan Personal Hygiene. Sedangkan variabel dependennya adalah Gangguan Kesehatan Kulit. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data HASIL Analisis Univariat Dari hasil penelitian didapatkan data mengenai distribusi karakteristik pada pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang Tahun 2021, seperti pada tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik pada Pemulung di TPA Sukawinatan kota Palembang Tahun 2021 Variabel A. Umur Produktif (15 - 64 Tahun) Tidak Produktif ( > 64Tahun) B. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan C. Sanitasi Lingkungan Kurang Baik Baik D. Personal Hygiene Kurang Baik Baik E. Pengetahuan Responden Kurang Baik Baik n (60) (%) 58 2 96,7 3,3 40 20 66,7 33,3 50 10 83,3 16,7 35 25 58.3 41.7 15 45 25 75 |113 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. 16, No. 2, Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10.36086/jpp.v16i1.489 F. Penggunaan APD Tidak Baik Baik G. Gangguan Kesehatan Kulit Mengalami Gangguan Kulit Tidak Mengalami Gangguan Kulit Berdasarkan tabel.1 diatas dijelaskan bahwa dari 60 responden. Proporsi umur responden yang paling banyak adalah pada umur produktif (96,7%) dibandingkan dengan responden yang memiliki umur tidak produktif (3,3%). Selain itu, diketahui juga proporsi responden yang berjenis kelamin laki-laki lebih besar (66,7%) dibandingkan dengan responden yang berjenis kelamin perempuan (33,3%). Kemudian untuk variabel 60 orang responden, Analisis Bivariat Dari hasil penelitian, didapatkan data mengenai analisis bivariat gangguan kesehatan 48 12 80 20 40 20 66.7 33.3 proporsi responden yang mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit lebih besar (66,7%) dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit (33,3%). Selanjutnya 60 orang responden, proporsi responden yang mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit lebih besar (66,7%) dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit (33,3%). kulit pada pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang Tahun 2021, seperti pada tabel 2 berikut ini: Tabel 2. Hubungan beberapa variabel independen terhadap Gangguan Kesehatan Kulit Pemulung di TPA Sukawinatan kota Palembang Tahun 2021 Variabel Pengetahuan Kurang Baik Baik Penggunaan APD Tidak Baik Baik Sanitasi Lingkungan Tidak Sehat Sehat Personal Hygiene Buruk Baik Gangguan Kesehatan Kulit Mengalami Tidak Mengalami n % N % n (60) p-value OR 14 26 93,3 57,8 1 19 6,7 42,2 15 45 0,027 10,231 36 4 75,0 33,3 12 8 25,0 66,7 48 12 0.014 6.000 38 2 67,9 50 18 2 32,1 50 56 4 0.595 6.641 29 11 80,6 45,8 7 13 19,4 54,2 36 24 0.012 4.896 Berdasarkan tabel 2 di atas, diketahui bahwa proporsi responden yang mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit dengan pengetahuan kurang baik lebih besar (93,3%) dibandingkan dengan responden yang mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit dengan pengetahuan baik (57,8%). Setelah dilakukan uji statistik Chi-square didapatkan Pvalue= 0,027 < α 0,05 sehingga H0 ditolak sehingga terdapat hubungan bermakna (significant) antara pengetahuan dengan gangguan kesehatan kulit pada pemulung. Dan nilai OR= 10,231 yang artinya pemulung yang memiliki pengetahuan kurang baik mempunyai kecenderungan mengalami gangguan kesehatan kulit akibat bekerja sebesar 10,231 kali dibandingkan dengan pemulung yang memiliki pengetahuan baik. Untuk proporsi responden yang mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit dengan penggunaan APD tidak baik lebih besar (75%) dibandingkan dengan penggunaan APD baik (33,3%) dengan nilai P-value= 0,014 < α 0,05 sehingga H0 ditolak sehingga terdapat hubungan bermakna (significant) antara penggunaan APD dengan gangguan kesehatan kulit pada pemulung dengan nilai OR= 6,000 yang artinya pemulung yang bekerja dengan kategori |114 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. 16, No. 2, Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10.36086/jpp.v16i1.489 penggunaan APD tidak baik mempunyai kecenderungan mengalami gangguan kesehatan kulit akibat bekerja sebesar 6,000 kali dibandingkan dengan pemulung yang bekerja dengan kategori penggunaan APD baik. Untuk proporsi responden yang mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit dengan kondisi sanitasi lingkungan tidak sehat lebih besar (67,9%) dibandingkan dengan kondisi sanitasi sehat (50%) dengan nilai P-value= 0,595 > α 0,05 sehingga H0 diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan tidak ada hubungan bermakna (significant) antara sanitasi lingkungan dengan gangguan kesehatan kulit pada pemulung. Untuk proporsi responden yang mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit dengan personal hygiene yang buruk lebih besar (80,6%) dibandingkan dengan penggunaan personal hygiene baik (45,8%) dengan P-value= 0,012 < α 0,05 sehingga H0 ditolak sehingga terdapat hubungan bermakna (significant) antara personal hygiene dengan gangguan kesehatan kulit pada pemulung dengan nilai OR= 4,896 yang artinya pemulung yang personal hygiene buruk berpeluang 5 kali mengalami gangguan kesehatan kulit akibat bekerja dibandingkan dengan pemulung yang personal hygienenya baik. Analisis Multivariat Hasil analisis multivariat beberapa variabel yang menentukan gangguan kesehatan kulit pada pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang Tahun 2021, seperti pada tabel 3 berikut ini: Tabel 3. Model Akhir Variabel yang menentukan Gangguan Kesehatan Kulit Pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang Tahun 2021 Variabel Pengetahuan Responden Penggunaan APD Personal Hygiene p-value OR (Exp B) 0.155 0.038 0.028 5.574 6.284 5.329 Berdasarkan tabel 3 analisis multivariat didapatkan variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian Gangguan Kesehatan Kulit adalah variabel penggunaan APD dan Personal Hygiene. Hasil analisis didapatkan Odds Ratio (OR) dari variabel penggunaan APD adalah 6,284 yang artinya Responden penelitian yang menggunakan APD kurang baik akan meningkatkan Risiko sebesar 6,3 kali lebih tinggi dibandingkan Responden yang menggunakan APD dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan proporsi pemulung yang mengalami keluhan gangguan kesehatan kulit adalah sebesar 66,7% dan pemulung yang tidak mengalami keluhan gangguan sebesar 33,3%. Hasil penelitian tidak berbeda jauh dengan penelitian yang telah dilakukan di TPA Namo Bintang, yaitu sebanyak 34 orang pemulung (61,5%) mengalami gangguan kulit dan pada permukaan kulit tubuh responden muncul bintik-bintik merah, gatal-gatal dan muncul bula-bula pada kulit. 14. Demikian juga di TPA sampah Suwung Denpasar yang menunjukkan bahwa pemulung yang ada gejala penyakit kulit lebih banyak yaitu 38 orang (54,3%) daripada pemulung tidak ada mengalami gejala penyakit kulit yaitu 32 orang (45,7%).7 Pada variabel pengetahuan,terdapat hubungan bermakna (significant) dengan gangguan kesehatan kulit pada pemulung. Pemulung yang memiliki pengetahuan kurang baik mempunyai kecenderungan mengalami gangguan kesehatan kulit akibat bekerja sebesar 10,231 kali dibandingkan dengan pemulung yang memiliki pengetahuan baik. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di TPA Sampah Suwung Denpasar Tahun 2018, yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan penyakit kulit pada pemulung.7 Berdasarkan pengamatan langsung pada pemulung, terlihat bahwa tingkat PEMBAHASAN |115 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. 16, No. 2, Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10.36086/jpp.v16i1.489 pengetahuan mereka tentang penggunaan APD masih kurang. Walaupun sudah tergolong cukup baik, namun tetap harus diberikan penyuluhan kepada pemulung dengan harapan agar perilaku mereka dapat menjadi lebih baik. Penggunaan APD mempunyai hubungan yang bermakna dengan gangguan kesehatan kulit dan risiko untuk mengalami gangguan kulit adalah 6 kali pada pemulung tidak baik menggunakan APD dibandingkan dengan pemulung yang menggunakan APD dengan baik. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Timbunan Sampah Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2017, yang menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara penggunaan APD dengan keluhan gangguan kulit pada pemulung. 14 Perlindungan tubuh atau permukaan kulit berupa baju kerja, sarung tangan dan sepatu kerja dapat digunakan untuk mencegah kerusakan kulit akibat reaksi alergi atau zat kimia yang korosif, mencegah penyebaran zat kimia melalui kulit dan penyebaran panas atau dingin atau sinar radiasi. Alat pelindung diri harus digunakan dengan lengkap agar perlindungannya maksimal.4 Berdasarkan pengamatan peneliti pada TPA Sukawinatan, masih ditemukan pemulung yang tidak selalu menggunakan alat pelindung diri dengan lengkap. Ada beberapa dari mereka yang hanya menggunakan baju lengan pendek, jarang menggunakan masker (penutup mulut dan hidung), sehingga pada saat mereka bekerja di siang hari, kulit terasa panas dan terbakar. Sedangkan mayoritas pemulung menyatakan bahwa rasa gatal yang mereka alami sering terjadi pada saat berkeringat. Sarana APD yang lengkap dapat mendukung pembentukan perilaku yang baik dalam menjalankan prosedur kewaspadaan universal, dalam penelitian ini adalah penggunaan APD. Berdasarkan hasil wawancara pada pemulung, APD harus di beli sendiri sehingga memberatkan bagi para pemulung. Namun, diharapkan bagi pemulung agar tetap menggunakan APD dengan lengkap, minimal penutup mulut dan hidung serta sarung tangan yang terbuat dari kain apabila tidak memungkinkan menggunakan sarung tangan karet. Pada variabel sanitasi lingkungan, didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sanitasi lingkungan dengan keluhan gangguan kesehatan kulit pada pemulung di TPA Sukawinatan. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tabaringan Makasar yang menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara sanitasi lingkungan dengan keluhan penyakit kulit.16 Perbedaan ini dimungkinkan karena cara pengukuran 1 (satu) kondisi sanitasi lingkungan tempat mereka bekerja adalah dengan menanyakan persepsi banyak pemulung di TPA Sukawinatan terhadap sanitasi lingkungan. Jadi persepsi mereka bisa berbedabeda dan tidak menggambarkan kondisi nyata dari kondisi lingkungan yang ada. Pemulung yang personal hygienenya kurang baik lebih banyak mengalami keluhan gangguan kulit dibandingkan dengan pemulung yang personal hygienenya baik. Dan berdasarkan hasil analisis bivariat juga menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan keluhan gangguan kesehatan kulit pada pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang. Beberapa hasil penelitian menunjukan hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan kejadian penyakit kulit.15,16 Variabel yang menentukan gangguan kesehatan kulit pada pemulung adalah penggunaan APD dan personal higiene. Berdasarkan hasil analisis multivariat ini, menunjukkan bahwa gangguan kesehatan kulit pada pemulung TPA Sukawinatan ini ditentukan oleh perilaku pemulung dalam menggunakan APD dan Personal hygiene pemulung. Selanjutnya berdasarkan hasil Odds Ratio (OR), didapatkan OR yang tertinggi yaitu variabel penggunaan APD yaitu 6,284. Hal ini dapat dimaknai bahwa pemulung yang kurang baik dalam menggunakan APD akan meningkatkan Risiko sebesar 6,3 kali lebih besar untuk menyebabkan gangguan kesehatan kulit dibandingkan dengan pemulung yang baik dalam menggunakan APD. Berdasarkan pengamatan penulis di TPA Sukawinatan, perilaku pemulung dalam menggunakan APD masih sangat kurang dan tidak disiplin, kadang dipakai dan kadang-kadang di lepas atau dicopot. Belum ada kesadaran dari dalam diri pemulung untuk disiplin menggunakan APD. Demikian juga kemampuan pemulung untuk menjaga kebersihan diri (personal hygiene) masih rendah sehingga sangat rentan untuk timbulnya gangguan kesehatan kulit. Untuk memelihara kebersihan kulit, kebiasaan-kebiasaan yang sehat harus selalu diperhatikan sepeti mandi secara teratur setiap harinya, menjaga kebersihan pakaian, mandi menggunakan air yang bersih dan sabun, menggunakan barang|116 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. 16, No. 2, Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10.36086/jpp.v16i1.489 barang keperluan sehari-hari sendiri, makan makanan yang bergizi terutama banyak buah dan sayur dan menjaga kebersihan lingkungan.7 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan, penggunaan APD, dan personal hygiene dengan gangguan kesehatan kulit pada pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang. Dan tidak ada hubungan sanitasi lingkungan dengan gangguan kesehatan kulit pada pemulung di TPA Sukawinatan Kota Palembang. Variabel yang menentukan gangguan kesehatan kulit pada pemulung adalah penggunaan APD dan personal higiene. Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah agar pihak Dinas Kebersihan dan LIngkungan Hidup kota Palembang lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan kepada para pemulung dalam pencegahan gangguan kulit dengan menerapkan prinsif-prinsif K3 dan diharapkan pemulung dapat meningkatkan kesadaran dalam menggunakan alat pelindung diri yang lengkap, dan tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar agar terhindar dari gangguan kesehatan kulit. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Palembang dan Kepala UPTD TPA Sukawinatan Kota Palembang yang telah memberikan izin dan memberi kemudahan selama proses pelaksanaan penelitian serta bapak/ibu pemulung atas semua partisipasinya dalam pelaksanaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA 1. Ferusgel, A., Nasution, R. M., dan ButarButar, M. 2018. Keluhan Gangguan Kulit pada Pemulung Wanita Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun. Jurnal Aisyah: Jurnal Ilmu Kesehatan 3(2): 145152. https://aisyah.journalpress.id/index.php/jika/ article/view/Fer-Nas-But Diakses pada 20 Februari 2021. 2. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Palembang. 2021. Profil TPA Sukawinatan. 28 Mei 2021. Palembang. 3. Wijayanti, D. F. 2015. Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Penggunaan Alat Pelindung Diri Terhadap Keluhan Gangguan Kulit Pada Petugas Sampah TPA Batu Layang Pontianak. Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura 3(1). https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jfk/articl e/view/16436 Diakses pada 21 Februari 2021. 4. Andriani, R., Hudayah, N., dan Hasmina, H. 2020. Hubungan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan Keluhan Penyakit Kulit pada Pekerja Daur Ulang Sampah Plastik Kamboja di Kecamatan Wolio Kota Baubau. Jurnal Kesehatan Global 3(2): 69-75. 5. 6. 7. 8. http://ejournal.helvetia.ac.id/index.php/jkg/a rticle/view/4648 Diakses pada 15 Februari 2021. Dinas Kesehatan Kota Palembang. 2018. Profil Kesehatan Tahun 2018. 2 Mei 2019. Palembang. Hakim, L. 2019. Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Kulit Pada Pemulung Sampah Di TPA Desa Helvetia Medan Tahun 2019. Doctoral Dissertation. Institut Kesehatan Helvetia. Medan. http://repository.helvetia.ac.id/2452/ Diakses pada 20 Februari 2021. Angriyasa, I. K. 2018. Hubungan Pengetahuan Personal Hygiene Dengan Gejala Penyakit Kulit Pada Pemulung Di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Suwung Tahun 2018 Studi Dilaksanakan Di Tpa Sampah Suwung Kecamatan Denpasar Selatan. Doctoral Dissertation. Jurusan Kesehatan Lingkungan. Denpasar. http://repository.poltekkesdenpasar.ac.id/212/ Diakses pada 15 Februari 2021. Dewi, S. R., dan Nurzalmariah, W. O. S. 2017. Hubungan personal hygiene, pengetahuan dan pemakaian sarung tangan dengan kejadian penyakit dermatitis kontak pada pemulung sampah Ditpa Puuwatu Kota |117 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. 16, No. 2, Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10.36086/jpp.v16i1.489 Kendari tahun 2016. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat 2(6): 250-731. https://media.neliti.com/media/publications/ 184961-ID-hubungan-personal-hygienepengetahuan-da.pdf Diakses pada 19 Februari 2021. 9. Aprilia, S. 2021. Hubungan Pengetahuan Tentang Alat Pelindung Diri Terhadap Keluhan Gangguan Kulit Pada Petugas Sampah Di Tpa Sukawinatan Kota Palembang. Doctoral Dissertation. Universitas Muhammadiyah Palembang. http://repository.umpalembang.ac.id/id/eprint/14351/ Diakses pada 27 Maret 2021. 10. Amir, S. A. (2012). Gambaran Hygiene Perorangan, Sanitasi Lingkungan Sekolah, dan Infeksi Kecacingan pada Murid SD Inpers Cambaya Sungguminasa Gowa (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar). http://repositori.uinalauddin.ac.id/1992/1/SITI%20AMIRAWA TI%20AMIR.pdf. Diakses pada 23 Februari 2021. 11. Ardi, M., Amir, F., dan Rauf, B. A. (2020). Sanitasi Lingkungan Rumah Tangga yang Berwawasan Lingkungan. In Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat. http://103.76.50.195/semnaslpm/article/vie w/16300. Diakses pada 15 Februari 2021. 12. Haswita, dan Reni. (2017). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Tim. 13. Indrani, P.E.M. (2019). Asuhan Keperawatan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Personal Hygiene pada Klien Atritis Reumotoid di UPTD PSLU Tresna Werdha Lampung Tahun 2019. Doctoral dissertation Poltekkes Tanjungkarang. Lampung. http://repository.poltekkestjk.ac.id/389/. Diakses pada 27 Mei 2021. 14. Yanti, T. S. 2019. Hubungan Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) Dan Lama Bekerja Dengan Keluhan Gangguan Kulit Pada Pemulung Di Timbunan Sampah Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2017. Karya Tulis Ilmiah. Jurusan Kesehatan Lingkungan. Medan. http://repo.poltekkesmedan.ac.id/jspui/handle/123456789/1231 Diakses pada 17 Februari 2021. 15. Faridawati, Y. (2013). Hubungan Antara Personal Hygiene dan Karakteristik Individu Dengan Keluhan Gangguan Kulit Pada Pemulung (Laskar Mandiri) di Kelurahan Sumur Batu Kecamatan Batar Gebang Tahun 2013. Sripsi. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/ 123456789/24271. Diakses pada 16 Februari 2021. 16. Fattah, N. (2018). Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Penyakit Kulit pada Pasien di Puskesmas Tabaringan Makassar. UMI Medical Journal, 3(1), 36-46. http://www.jurnal.fk.umi.ac.id/index.php/u mimedicaljournal/article/view/33. Diakses pada 19 Februari 2021 |118 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. 16, No. 2, Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10.36086/jpp.v16i1.489 |119