Open Community Service Journal 5 . : 23-31 2026 Contents lists available at openscie. E-ISSN: 2828-1195 Open Community Service Journal DOI: 10. 33292/ocsj. Journal homepage: https://opencomserv. Peningkatan Pemahaman Merdeka Belajar Melalui Sosialisasi Dan Kemitraan Kampus Mengajar di SMA Negeri 10 Kota Ambon Alfonsina Marthina Tapotubun1*. Natelda R. Timisela2. Juliaeta Adriana. Mamesah1. Hellen Nanlohy1. Irma Kesaulya1. Prulley Anette Uneputty1. Mirtha Yuni Sari Risakotta3. Revency Vania Rugebregt4. Johan Riry2. Jusak Labetubun2 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Pattimura. Ambon. Indonesia Fakultas Pertanian. Universitas Pattimura. Ambon. Indonesia Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Pattimura. Ambon. Indonesia Fakultas Hukum. Universitas Pattimura. Ambon. Indonesia *Correspondence: E-mail: am. tapotubun@gmail. INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Disubmit 10 Desember 2025 Diperbaiki 10 Februari 2026 Diterima 14 Februari 2026 Diterbitkan 1 Maret 2026 Latar Belakang: Kebijakan Merdeka BelajarAeKampus Merdeka (MBKM) merupakan upaya strategis pemerintah dalam merespons tantangan pembelajaran di era Society 5. Salah satu implementasi kebijakan tersebut adalah program Kampus Mengajar yang mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman tentang kebijakan MBKM melalui sosialisasi dan penjajakan kemitraan program Kampus Mengajar kepada siswa SMA Negeri 10 Kota Ambon. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Oktober 2023 menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif melalui pemaparan materi, diskusi interaktif, dan sesi tanya jawab. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas XII SMA Negeri 10 Kota Ambon. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konseptual peserta mengenai kebijakan MBKM serta peran strategis program Kampus Mengajar. Selain itu, terbangun kesadaran awal mengenai pentingnya kemitraan sekolahAeperguruan tinggi dalam mendukung pembelajaran yang adaptif. Kegiatan ini memberikan kontribusi praktis bagi sekolah mitra dalam memahami arah kebijakan pendidikan nasional serta menjadi langkah awal penguatan kemitraan Kata Kunci: Kemitraan sekolah-Universitas. MBKM. Society 5. Untuk mengutip artikel ini: Tapotubun. Timisela. Mamesah. Nanlohy. Kesaulya. Uneputty, . Risakotta. Rugebregt. Riry. Labetubun. Peningkatan Pemahaman Merdeka Belajar Melalui Sosialisasi Dan Kemitraan Kampus Mengajar di SMA Negeri 10 Kota Ambon. Open Community Service Journal, 5. , 23Ae31. Artikel ini berada di bawah lisensi: A Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. License. Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Copyright A2026 by author/s Pendahuluan Perkembangan pendidikan global pada dekade terakhir menunjukkan pergeseran paradigma pembelajaran menuju penguatan kompetensi abad ke-21 yang menekankan pada berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta literasi digital. Paradigma ini sejalan dengan konsep Society 0 yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi dengan dukungan teknologi digital untuk menciptakan pembelajaran yang adaptif dan berorientasi masa depan. Dalam konteks pendidikan. Society 5. 0 menuntut satuan pendidikan untuk tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan karakter, kemandirian belajar, dan kesiapan peserta didik menghadapi perubahan sosial dan teknologi yang cepat (Defrizal et al. , 2022. Thahery, 2. Transformasi pendidikan tinggi di Indonesia memasuki fase baru melalui kebijakan Merdeka BelajarAe Kampus Merdeka (MBKM) yang diatur antara lain dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (Kusumawardani et al. , 2. Kebijakan ini memberikan hak kepada mahasiswa untuk belajar di luar program studi dan di luar perguruan tinggi hingga tiga semester, dengan tujuan menghasilkan lulusan yang adaptif, kreatif, inovatif, dan memiliki daya saing tinggi di era society 5. 0 (Jufriadi et al. , 2022. Ulum et al. , 2. Dalam kerangka tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terjun langsung ke dunia kerja, lembaga riset, komunitas, dan satuan pendidikan. Salah satu bentuk kegiatan pembelajaran (Bentuk Kegiatan Pembelajaran/BKP) yang dikembangkan adalah program Kampus Mengajar, yang bertujuan memberikan kontribusi nyata mahasiswa dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar dan menengah sekaligus mengembangkan kompetensi mahasiswa melalui pengalaman belajar kontekstual. Berbagai hasil pengabdian dan kajian terbaru menunjukkan bahwa program Kampus Mengajar berkontribusi positif terhadap penguatan literasi, numerasi, inovasi pembelajaran, serta peningkatan kapasitas guru dan siswa di sekolah mitra (Nurhaida et al. , 2023. Suhartini et al. , 2022. Thahery, 2023. Ulum et al. , 2023. Kasymir et al. , 2. Dalam perspektif pendidikan menengah, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan kelompok strategis yang berada pada fase transisi menuju pendidikan tinggi dan dunia kerja. Pemahaman yang memadai mengenai kebijakan MBKM dan peluang pembelajaran seperti Kampus Mengajar menjadi penting agar siswa memiliki orientasi yang jelas mengenai jalur pendidikan dan pengembangan kompetensi di masa depan. Sejumlah kegiatan pengabdian kepada masyarakat melaporkan bahwa sosialisasi kebijakan pendidikan tinggi kepada siswa mampu meningkatkan motivasi melanjutkan studi, memperkuat kesiapan transisi pendidikan, serta memperluas wawasan siswa terhadap perubahan paradigma pembelajaran (Nurhaida et al. , 2023. Rizky et al. , 2021. Siregar & Vientiany, 2024. Khatimah et al. , 2024 ). SMA Negeri 10 Kota Ambon memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sekolah mitra dalam program Kampus Mengajar. Namun, pemahaman siswa dan sebagian guru mengenai kebijakan MBKM serta relevansinya dengan pembelajaran di era Society 5. 0 masih terbatas. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan akan kegiatan sosialisasi dan pendampingan awal yang sistematis sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman warga sekolah SMA Negeri 10 Kota Ambon mengenai kebijakan Merdeka BelajarAeKampus Merdeka melalui sosialisasi dan penguatan kemitraan program Kampus Mengajar. Artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi sekolah mitra dalam memahami arah baru pembelajaran di era Society 5. 0 serta memperkaya praktik pengabdian kepada masyarakat berbasis kebijakan pendidikan Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi edukatif dan penjajakan kemitraan antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan menengah. Pendekatan yang digunakan adalah partisipatif-edukatif, yaitu melibatkan secara aktif siswa sekolah mitra dalam proses penyampaian materi, diskusi, dan refleksi bersama terkait kebijakan Merdeka BelajarAeKampus Merdeka (MBKM), khususnya program Kampus Mengajar. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 10 Kota Ambon. Provinsi Maluku, pada bulan Oktober 2023. Pelaksanaan kegiatan dijadwalkan setelah jam pembelajaran reguler untuk memastikan tidak terganggunya proses belajar mengajar intrakurikuler. 1 Lokasi dan Sasaran Kegiatan Kegiatan pengabdian dilaksanakan di SMA Negeri 10 Kota Ambon. Provinsi Maluku. Khalayak sasaran kegiatan yaitu siswa kelas XII yang sedang mempersiapkan diri melanjutkan studi ke perguruan 2 Pendekatan dan tahapan kegiatan Kegiatan menggunakan pendekatan sosialisasi partisipatoris yang melibatkan interaksi dua arah antara Tim dan peserta. Tahapan pelaksanaan meliputi: Tahap Persiapan Tahap persiapan meliputi: - Koordinasi awal dengan pihak sekolah untuk menyepakati waktu, tempat, dan teknis pelaksanaan - Penyusunan materi sosialisasi yang mencakup konsep Merdeka BelajarAeKampus Merdeka, program Kampus Mengajar, serta relevansinya dengan pembelajaran di era Society 5. - Penyiapan media pendukung kegiatan seperti bahan presentasi dan lembar diskusi. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan dilakukan melalui kegiatan: - Pemaparan materi kebijakan MBKM dengan penekanan pada Kampus Mengajar oleh tim Dilanjutkan dengan testimoni oleh mahasiswa alumni MBKM/Duta Kampus. - Diskusi interaktif dengan siswa untuk menggali pemahaman, tanggapan, serta pertanyaan terkait peluang dan tantangan implementasi kebijakan tersebut. - Sesi tanya jawab dan refleksi, yang bertujuan memperkuat pemahaman peserta terhadap arah pembelajaran dan pengembangan kompetensi di masa depan. Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka dengan pendekatan komunikatif agar materi dapat dipahami secara kontekstual oleh peserta. Tahap Evaluasi dan Refleksi Evaluasi kegiatan dilakukan secara kualitatif-deskriptif, berdasarkan: - Partisipasi aktif peserta selama kegiatan. - Respons dan antusiasme siswa dalam sesi diskusi dan tanya jawab. - Umpan balik lisan dari siswa terkait pemahaman mereka terhadap materi yang disampaikan. Evaluasi ini bertujuan untuk menilai ketercapaian tujuan pengabdian, yaitu peningkatan pemahaman dan kesadaran peserta terhadap kebijakan MBKM dan program Kampus Mengajar. Teknik Pengumpulan Data Data dalam kegiatan PKM ini dikumpulkan melalui: Observasi langsung, terhadap keterlibatan dan respons peserta selama kegiatan berlangsung. Diskusi dan tanya jawab, sebagai sumber data kualitatif mengenai tingkat pemahaman dan persepsi peserta. Dokumentasi kegiatan, berupa foto dan catatan pelaksanaan, sebagai bukti pelaksanaan 4 Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif, dengan cara merangkum temuan lapangan. Temuan yang dianalisis terkait perubahan pemahaman peserta mengenai MBKM dan Kampus Mengajar. respons peserta terhadap peluang kemitraan sekolah dan perguruan tinggi. potensi tindak lanjut kegiatan pengabdian di sekolah mitra. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil 1 Profil mitra dan kebutuhan sosialisasi SMA Negeri 10 Kota Ambon merupakan sekolah menengah atas negeri yang berlokasi di Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, dengan SK Pendirian Nomor: 29/O/1999. SMAN 10 memiliki sarana pendukung pembelajaran yang memadai berupa ruang kelas, laboratorium, sarana olah raga dan seni. Sekolah ini memiliki 526 siswa dan 44 guru dari berbagai bidang ilmu. SMAN 10 terakreditasi A dan dilengkapi dengan jaringan internet yang memungkinkan penerapan pembelajaran berbasis teknologi dan pemanfaatan sumber-sumber belajar digital. Berdasarkan hasil komunikasi awal diketahui bahwa pemahaman guru dan siswa mengenai kebijakan MBKM, khususnya program Kampus Mengajar, masih terbatas. Sebahagian besar siswa hanya mengenal istilah Aukampus merdekaAy secara umum, tanpa memahami dampaknya terhadap proses belajar di perguruan tinggi, termasuk istilah Kampus Mengajar. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan informasi antara kebijakan tingkat nasional dan pemahaman di level satuan pendidikan Sosialisasi yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian ini menjadi langkah awal untuk menjembatani kesenjangan tersebut sehingga siswa SMA tingkat akhir sebagai calon mahasiswa memiliki gambaran yang lebih dini dan realistis tentang sistem pembelajaran di perguruan tinggi. 2 Pelaksanaan sosialisasi kebijakan MBKM dan Program Kampus Mengajar Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di SMA Negeri 10 Kota Ambon sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan pada bagian metode. Kegiatan diikuti oleh siswa sebagai peserta utama, dengan fokus pada sosialisasi kebijakan Merdeka BelajarAeKampus Merdeka (MBKM) dan pengenalan program Kampus Mengajar. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara tatap muka di ruang pertemuan sekolah dengan melibatkan siswa kelas XII dan guru. Kegiatan berlangsung dengan metode pemaparan materi, diskusi interaktif, dan sesi tanya jawab. Materi yang disampaikan meliputi konsep dasar MBKM, tujuan dan ruang lingkup program Kampus Mengajar, serta relevansinya dengan pembelajaran dan pengembangan kompetensi siswa di era Society 5. MBKM memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di luar kampus melalui berbagai program, termasuk Kampus Mengajar, magang, penelitian, dan wirausaha (Defrizal et , 2022. Jufriadi et al. , 2022. Thahery, 2. Penjelasan disertai contoh konkret pengalaman mahasiswa alumni MBKM dan Duta Kampus, terutama dalam pengembangan wawasan dan soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan pemecahan masalah melalui program-program Gambar 1. Suasana sosialisasi MBKM di SMA Negeri 10 Ambon. Penjelasan mengenai program Kampus Mengajar menjadi bagian yang paling relevan bagi pihak sekolah, karena secara langsung berkaitan dengan peningkatan mutu pembelajaran di SMA Negeri 10 Kota Ambon. Program ini memberikan kesempatan kepada sekolah untuk menerima mahasiswa sebagai mitra guru dalam membantu proses pembelajaran, penguatan literasi dan numerasi, serta pengembangan program ekstrakurikuler (Kusumawardani et al. , 2024. Vhalery et al. , 2022. Haumahu et al. , 2023. Kesaulya et al. , 2024. Pada kesempatan ini dihadirkan pula mahasiswa alumni MBKM dan Duta Kampus Merdeka menyampaikan pengalaman dan manfaat mengikuti program MBKM. Pengalaman tersebut menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi siswa melalui testimoni alumni MBKM dan Duta Kampus Merdeka yang memanfaatkan program MBKM untuk mengembangkan diri sekaligus memberikan kontribusi bagi sekolah dan masyarakat. Gambar 2. Keseriusan siswa mendengar testimoni mahasiswa Duta Kampus Merdeka 3 Respons dan Partisipasi Peserta Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan respons yang positif. Hal ini terlihat dari keterlibatan siswa dalam sesi diskusi, munculnya pertanyaan terkait peluang pendidikan tinggi, serta minat terhadap peran sekolah dalam mendukung program Kampus Mengajar. Beberapa isu utama yang menjadi perhatian peserta antara lain: pendanaan program MBKM, pengangguran sarjana dan relevansinya dengan MBKM, dan bimbingan MBKM di perguruan tinggi. Hal ini memperlihatkan bahwa peserta tidak hanya membutuhkan informasi deskriptif mengenai MBKM, tetapi juga penjelasan tentang manfaat dan implikasi kebijakan tersebut. Respons tersebut menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi mampu menarik perhatian peserta dan menciptakan ruang dialog yang konstruktif antara tim pengabdian dan warga sekolah. Gambar 3. Suasana saat siswa mengajukan pertanyaan. 4 Pemahaman Peserta terhadap MBKM dan Kampus Mengajar Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan cara pandang peserta terhadap kebijakan MBKM dan program Kampus Mengajar. Siswa mulai memahami bahwa Kampus Mengajar tidak hanya berfokus pada mahasiswa sebagai pelaksana, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi sekolah sebagai mitra Pemahaman ini tercermin dari kemampuan peserta dalam menjelaskan kembali tujuan program Kampus Mengajar serta mengaitkannya dengan penguatan literasi, numerasi, dan kesiapan menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya. 5 Penjajakan Kemitraan Melalui kegiatan pengabdian ini, terbangun komunikasi awal antara perguruan tinggi dan SMA Negeri 10 Kota Ambon terkait kemungkinan pengembangan kemitraan dalam program Kampus Mengajar. Meskipun belum diwujudkan dalam bentuk kerja sama formal, kegiatan ini menghasilkan kesepahaman awal mengenai peran masing-masing pihak dalam mendukung pembelajaran yang adaptif dan kontekstual. Bagi sekolah, kemitraan ini membuka peluang untuk mendapatkan dukungan sumber daya manusia dari perguruan tinggi dalam bentuk penempatan mahasiswa, pendampingan pembelajaran, dan penguatan kapasitas guru. Bagi perguruan tinggi, kehadiran mitra sekolah yang berkomitmen mempermudah implementasi MBKM Mandiri dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar dalam konteks nyata. Hal ini menjadi dasar bagi pelaksanaan program Kampus Mengajar dan kemungkinan kolaborasi lain, seperti praktik lapangan kependidikan, pelatihan guru, atau kegiatan pengabdian bersama (Tapotubun et al. , 2. 2 Pembahasan 1 Sosialisasi MBKM sebagai Strategi Penguatan Literasi Kebijakan Pendidikan Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sosialisasi MBKM merupakan strategi yang relevan dalam meningkatkan literasi kebijakan pendidikan bagi siswa SMA. Temuan ini sejalan dengan laporan pengabdian sebelumnya yang menyatakan bahwa pemahaman kebijakan pendidikan tinggi pada tingkat sekolah menengah masih perlu diperkuat melalui pendekatan edukatif dan komunikatif (Rahmawati & Lestari, 2. Dalam konteks PKM, peningkatan literasi kebijakan tidak menjadi ukuran kuantitatif, melainkan dipahami sebagai proses peningkatan kesadaran dan pemahaman konseptual peserta terhadap arah kebijakan pendidikan nasional. 2 Relevansi Program Kampus Mengajar bagi Sekolah di Era Society 5. Program Kampus Mengajar memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan pembelajaran di era Society 5. 0, yang menuntut kolaborasi, literasi digital, dan pembelajaran kontekstual. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa mulai memahami posisi Kampus Mengajar sebagai jembatan antara pendidikan tinggi dan pendidikan menengah dalam menghadapi tantangan masa depan. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa kemitraan sekolahAeperguruan tinggi dapat memperkuat kesiapan satuan pendidikan dalam menghadapi perubahan paradigma pembelajaran (Wibowo & Nugroho, 2. 3 Partisipasi Peserta sebagai Indikator Keberhasilan PKM Partisipasi aktif siswa selama kegiatan menjadi indikator penting keberhasilan kegiatan PKM ini. Diskusi dan tanya jawab yang berlangsung menunjukkan adanya ruang refleksi kritis peserta terhadap masa depan pendidikan mereka. Temuan ini mendukung hasil pengabdian lain yang menyatakan bahwa pendekatan partisipatif-edukatif efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman peserta (Siregar et al. , 2. 4 Implikasi terhadap Pengembangan Kemitraan Berkelanjutan Meskipun kemitraan formal belum ditetapkan, hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dapat menjadi langkah awal dalam membangun hubungan kolaboratif antara sekolah dan perguruan tinggi. Dalam konteks PKM, capaian ini dipahami sebagai luaran proses yang bernilai strategis dan dapat ditindaklanjuti melalui kegiatan pengabdian lanjutan atau kerja sama institusional sesuai ketentuan yang berlaku (Tapotubun et al. , 2. Secara teoritis, kemitraan sekolah dan universitas yang terencana dan berkelanjutan sejalan dengan prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat saling menguatkan. Implementasi program Kampus Mengajar melalui kemitraan ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan menengah di Maluku sekaligus memperkaya pengalaman belajar mahasiswa (Timisela et al. , 2. Kesimpulan Kegiatan sosialisasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka, khususnya melalui pengenalan program Kampus Mengajar dengan pendekatan partisipatif-edukatif, memungkinkan peserta memperoleh informasi yang lebih terstruktur mengenai konsep MBKM serta relevansinya dengan pengembangan pembelajaran dan kompetensi peserta didik di era Society 5. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sosialisasi tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian informasi, tetapi juga membuka ruang diskusi dan refleksi antara tim pengabdian dan warga sekolah. Diskusi yang berlangsung selama kegiatan mencerminkan adanya kesadaran awal siswa terhadap pentingnya kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi dalam mendukung proses pembelajaran dan kesiapan siswa menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya. Meskipun kegiatan pengabdian ini belum menghasilkan kemitraan formal yang ditandai dengan perjanjian kerja sama, pelaksanaan sosialisasi telah membangun komunikasi dan kesepahaman awal antara perguruan tinggi dan SMA Negeri 10 Kota Ambon. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat dipandang sebagai langkah awal yang bersifat pengenalan dan penjajakan dalam pengembangan kemitraan sekolahAeperguruan tinggi melalui program Kampus Mengajar. Kegiatan pengabdian lanjutan dengan pendampingan yang lebih berkelanjutan diperlukan agar pemahaman yang telah dibangun dapat diperkuat dan ditindaklanjuti sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan sekolah mitra. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Universitas Pattimura yang telah memberikan dukungan dan penugasan dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi MBKM. Penghargaan juga disampaikan kepada Kepala Sekolah, guru, dan seluruh civitas SMA Negeri 10 Kota Ambon atas kerja sama dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Terima kasih khusus diberikan kepada mahasiswa alumni MBKM yang telah berbagi pengalaman sebagai Duta Kampus Merdeka, serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu namun telah berkontribusi dalam keberhasilan kegiatan pengabdian ini. Daftar Pustaka