Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 495-502 Pendekatan Partisipatif dalam Kegiatan Edukasi PHBS sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Siswa Sekolah Dasar di Desa Tegalgirang Participatory Approach in PHBS Education Activities as an Effort to Improve the Health of Elementary School Students in Tegalgirang Village Hilmiana1. Gracia Johanna Lumbanraja2. Almira Sophia Mareva3. Muhammad Rafi Izzaddin1. Valentina Febri Dahlianingsih2. Septyo Azhar4. Yasmine Ulayya Dhiya Iskandar5. Reyhan Halimudrikah Islam1. Devi Alviani1* 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia 2 Fakultas Kedokteran. Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia 3 Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia 4 Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia 5 Fakultas Farmasi. Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia *Email Korespondensi: devi22006@mail. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan cuci tangan pakai sabun (CTPS), keterampilan menyikat gigi yang benar, serta penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada siswa sekolah dasar di Desa Tegalgirang. Kecamatan Bangodua. Kabupaten Indramayu. Provinsi Jawa Barat. Kegiatan dilaksanakan pada 22 Januari 2026 di SD Negeri 1 Tegalgirang dan 24 Januari 2026 di SD Negeri 2 Tegalgirang dengan melibatkan 357 siswa kelas 1Ae6. Metode yang digunakan adalah intervensi edukatif promotifAepreventif berbasis partisipatif melalui kombinasi edukasi interaktif, demonstrasi, praktik langsung, dan peer teaching. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pretestAeposttest berbasis observasi dengan instrumen checklist keterampilan yang diisi oleh mahasiswa KKN dan tim pengabdian. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan keterampilan yang Pada intervensi CTPS . = 337 siswa hadi. , proporsi siswa yang mampu meningkat dari 35,0% pada pretest menjadi 84,6% pada posttest. Sementara itu, pada intervensi menyikat gigi di SD Negeri 2 Tegalgirang . = 168 siswa hadi. , keterampilan siswa meningkat dari 34,5% menjadi 82,7%. Perbedaan capaian juga terlihat antar jenjang kelas, di mana siswa kelas 3Ae6 menunjukkan hasil lebih tinggi dibanding kelas 1Ae2. Meskipun demikian, masih terdapat sekitar 15Ae17% siswa yang belum mampu mempraktikkan keterampilan secara optimal. Kata kunci: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Anak Sekolah Dasar. Edukasi Kesehatan. Cuci Tangan. Menyikat Gigi Abstract This community service activity aimed to improve handwashing with soap (CTPS) skills, proper toothbrushing techniques, and to strengthen Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) among elementary school students in Tegalgirang Village. Bangodua District. Indramayu Regency. West Java Province. The program was conducted on January 22, 2026, at SD Negeri 1 Tegalgirang and on January 24, 2026, at SD Negeri 2 Tegalgirang, involving 357 students from grades 1Ae6. The method employed was a participatory promotiveAepreventive educational intervention, implemented through a combination of interactive education, demonstrations, hands-on practice, and peer teaching. Evaluation was carried out using an observational pretestAeposttest design with a skills checklist instrument completed by KKN students and the community service team. The results indicated a significant improvement in studentsAo skills. In the handwashing with soap (CTPS) intervention . = 337 students presen. , the proportion of students classified as competent increased 0% in the pretest to 84. 6% in the posttest. Similarly, in the toothbrushing intervention conducted at SD Negeri 2 Tegalgirang . = 168 students presen. , studentsAo skills improved from 34. 5% to 82. Differences in outcomes were also observed across grade levels, with students in grades 3Ae6 demonstrating higher performance compared to those in grades 1Ae2. Nevertheless, approximately 15Ae17% of students were still unable to perform the skills optimally. Keywords: Clean and Healthy Living Behavior (PHBS). Elementary School Students. Health Education. Handwashing. Toothbrushing Hilmiana. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 495-502 Pesan Utama: A Edukasi partisipatif melalui lagu, poster, dan demonstrasi efektif meningkatkan keterampilan cuci tangan dan A sikat gigi siswa. Praktik langsung meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menerapkan PHBS. Penyediaan sabun dan poster membantu pembiasaan sehari-hari di sekolah. Program edukasi interaktif sederhana efektif meningkatkan perilaku kesehatan siswa sekolah dasar. Copyright . 2026 Authors. Received: 19 February 2026 Accepted: 28 April 2026 This work is licensed under a Creative Commons Attribution- DOI: https://doi. org/10. 56303/jppmi. NonCommercial-ShareAlike 4. International License GRAPHICAL ABSTRACT PENDAHULUAN Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan komponen penting dalam upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya pada anak usia sekolah dasar yang sedang berada pada fase pembentukan kebiasaan jangka panjang (Putri et al. , 2. Namun demikian, implementasi PHBS pada anak sekolah dasar masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait praktik kebersihan diri seperti mencuci tangan pakai sabun (CTPS) dan menyikat gigi secara benar, seperti yang terlihat pada hasil observasi awal dan wawancara di SD Negeri 1 dan 2 Desa Tegalgirang. Hasil observasi awal dan wawancara di SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Desa Tegalgirang pada tahun 2025, ditemukan bahwa sekitar 65% siswa belum melakukan CTPS pada waktu penting . ebelum makan dan setelah dari toile. , serta sekitar 58% siswa belum memahami teknik menyikat gigi yang benar. Selain itu, fasilitas pendukung masih terbatas, di mana hanya terdapat 1Ae2 titik wastafel tanpa ketersediaan sabun secara konsisten. Hilmiana. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 495-502 serta belum tersedia media edukasi kesehatan yang memadai di lingkungan sekolah. Temuan ini juga diperkuat oleh pernyataan guru kelas yang menyebutkan bahwa edukasi PHBS selama ini masih bersifat insidental dan belum terintegrasi dalam kegiatan rutin sekolah. Permasalahan tersebut sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa rendahnya praktik kebersihan diri pada anak sekolah dasar berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit Karies gigi, misalnya, masih menjadi masalah kesehatan utama pada anak akibat akumulasi plak dan kebiasaan menyikat gigi yang tidak tepat (Setyaningsih et al. , 2. Selain itu, praktik CTPS yang tidak sesuai prosedur terbukti meningkatkan risiko penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang merupakan penyebab utama absensi siswa di sekolah (Maulani et al. , 2. Pihak sekolah sebagai mitra pengabdian mengakui bahwa permasalahan tersebut menjadi perhatian bersama dan menyatakan kebutuhan akan program edukasi yang lebih interaktif dan aplikatif. Guru dan kepala sekolah juga menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif, serta integrasi program dalam aktivitas sekolah sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang dirancang tidak hanya berdasarkan pengamatan peneliti, tetapi juga merupakan kebutuhan nyata dari mitra. Upaya edukasi kesehatan yang selama ini dilakukan cenderung menggunakan metode ceramah satu arah, sehingga kurang efektif dalam membentuk perubahan perilaku. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis demonstrasi dan praktik langsung memiliki efektivitas yang lebih tinggi dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam menerapkan perilaku sehat (Kuspranoto et al. , 2025. Taufiq et al. , 2. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini menawarkan solusi berupa edukasi PHBS berbasis partisipatif melalui metode demonstrasi dan praktik langsung, yang difokuskan pada pembiasaan CTPS dan teknik menyikat gigi yang benar. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menerapkan PHBS secara mandiri di lingkungan sekolah. Adapun luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah: . meningkatnya kemampuan siswa dalam mempraktikkan CTPS dan menyikat gigi dengan benar, . tersedianya media edukasi PHBS di sekolah, serta . terbentuknya kebiasaan hidup bersih melalui kegiatan rutin sekolah. Kegiatan ini dikatakan berhasil apabila minimal 80% siswa mampu mempraktikkan CTPS dan menyikat gigi dengan benar setelah intervensi. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan desain intervensi edukatif promotifAepreventif berbasis partisipatif dengan pendekatan demonstrasiAepraktik dan peer teaching. Pendekatan ini dipilih karena terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan perilaku kesehatan pada anak usia sekolah dibandingkan metode ceramah satu arah, terutama melalui keterlibatan aktif, pengalaman langsung, dan interaksi sosial (Kuspranoto et al. , 2025. Taufiq et al. , 2. Sasaran kegiatan adalah seluruh siswa kelas 1Ae6 di dua sekolah, yaitu SD Negeri 1 Tegalgirang dan SD Negeri 2 Tegalgirang Kecamatan Bangodua. Kabupaten Indramayu. Provinsi Jawa Barat, dengan total 357 siswa. Distribusi peserta terdiri dari 178 siswa di SD Negeri 1 Tegalgirang yang menerima intervensi cuci tangan pakai sabun (CTPS), serta 179 siswa di SD Negeri 2 Tegalgirang yang menerima intervensi CTPS dan edukasi menyikat Seluruh siswa mengikuti kegiatan sesuai pembagian jadwal berdasarkan jenjang kelas. Tahap persiapan diawali dengan observasi awal . untuk mengidentifikasi kondisi PHBS siswa. Observasi dilakukan oleh tim pengabdian bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) menggunakan lembar observasi terstruktur . Indikator yang diamati meliputi kebiasaan CTPS pada waktu penting . ebelum makan dan setelah dari toile. , ketersediaan sarana . ir mengalir, sabun, dan wastafe. , kebiasaan menyikat gigi, serta ketepatan teknik menyikat gigi. Setiap indikator dinilai dalam kategori AuyaAy atau AutidakAy dan dicatat dalam Hilmiana. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 495-502 format checklist untuk memudahkan analisis deskriptif. Selain itu, dilakukan koordinasi dengan pihak sekolah, termasuk kepala sekolah dan guru kelas, untuk menyepakati jadwal pelaksanaan, teknis kegiatan, serta integrasi program ke dalam aktivitas rutin sekolah. Pelaksanaan intervensi dilakukan pada 22 Januari 2026 di SD Negeri 1 Tegalgirang dan 24 Januari 2026 di SD Negeri 2 Tegalgirang. Kegiatan dilaksanakan melalui kombinasi metode edukasi interaktif . iskusi dan tanya jawa. , demonstrasi oleh fasilitator, praktik langsung oleh siswa, serta peer teaching di mana siswa diminta memperagakan kembali materi kepada teman sebaya. Penggunaan metode lagu dalam edukasi CTPS bertujuan meningkatkan retensi memori siswa terhadap enam langkah cuci tangan, sementara media poster digunakan untuk memperkuat pemahaman visual. Demonstrasi dan praktik langsung difokuskan pada pengembangan keterampilan psikomotorik, sedangkan peer teaching bertujuan meningkatkan partisipasi aktif dan interaksi sosial antar siswa. Pendekatan multimodal ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam proses pembentukan pengetahuan (Bruner, 2. Dalam pelaksanaan kegiatan, setiap kelas didampingi oleh dua mahasiswa KKN yang berperan sebagai fasilitator edukasi, pendamping praktik siswa, observer dalam pengisian lembar evaluasi, serta pencatat dokumentasi kegiatan. Tim dosen bertindak sebagai koordinator kegiatan, pengawas pelaksanaan, dan penanggung jawab evaluasi. Gambar 1. Poster Edukasi Enam Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun dan Poster Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan desain pretestAeposttest sederhana berbasis observasi. Instrumen yang digunakan berupa lembar checklist keterampilan dengan indikator kemampuan siswa dalam menyebutkan dan mempraktikkan enam langkah CTPS secara berurutan, serta kemampuan mempraktikkan Hilmiana. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 495-502 teknik menyikat gigi yang benar meliputi arah gerakan, durasi, dan cakupan area. Setiap indikator diberi skor 1 . dan 0 . idak bena. Siswa dikategorikan AuterampilAy apabila mampu memenuhi minimal 80% indikator dengan benar. Secara program, kegiatan dinyatakan berhasil apabila minimal 80% siswa mampu mempraktikkan CTPS dengan benar, serta minimal 80% siswa di SD Negeri 2 Tegalgirang mampu mempraktikkan teknik menyikat gigi dengan benar. Untuk menjaga konsistensi penilaian, evaluasi dilakukan oleh mahasiswa KKN dan tim pengabdian menggunakan panduan observasi yang sama. Data hasil observasi dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung frekuensi dan persentase siswa yang mampu dan belum mampu sebelum dan sesudah intervensi. Hasil analisis kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi deskriptif untuk memberikan gambaran perubahan keterampilan siswa setelah pelaksanaan kegiatan HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menunjukkan peningkatan keterampilan CTPS yang signifikan. Sebelum intervensi, sebagian besar siswa belum mampu mempraktikkan enam langkah secara benar. Setelah intervensi, 84,6% siswa mampu melakukan CTPS dengan urutan dan teknik yang tepat, melampaui target keberhasilan (Ou80%). Setelah intervensi, 82,7% siswa mampu mempraktikkan teknik menyikat gigi dengan benar, menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kondisi awal. Tabel 1. Hasil PretestAePosttest Keterampilan CTPS dan Menyikat Gigi Kategori Keterampilan CTPS . = . Keterampilan Menyikat Gigi . = 168 siswa hadi. Pretest Posttest i (%) Pretest Posttest i (%) Mampu 285 . ,6%) 49,6% 58 . ,5%) 139 . ,7%) 48,2% (Ou80% . ,0%) Belum 52 . ,4%) -49,6% 110 . ,5%) 29 . ,3%) -48,2% . ,0%) Kelas 1 - 2 Kelas 3 - 6 Tabel 2. Perbandingan Hasil Posttest antara kelas 1-2 dengan kelas 3-6 Kelompok CTPS (%) Sikat Gigi (%) Siswa kelas 3Ae6 menunjukkan capaian lebih tinggi dibanding kelas 1Ae2, terutama dalam aspek keterampilan menyikat gigi. Setelah intervensi, 82,7% siswa mampu mempraktikkan teknik menyikat gigi dengan benar, menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kondisi awal (Tabel . Selama kegiatan, ditemukan beberapa A Siswa . ,4%) masih belum mampu melakukan CTPS secara urut, terutama pada langkah menggosok sela jari dan ibu jari. 29 siswa . 3%) ditemukan belum mampu melakukan sikat gigi dengan baik, hal ini disebabkan oleh kurangnya ketelitian siswa dalam menggosok gigi graham. Antrean praktik menyebabkan sebagian siswa hanya mendapat kesempatan praktik terbatas (A1Ae2 kal. Pada awal kegiatan, ketersediaan sabun tidak merata, sehingga perlu distribusi tambahan oleh tim. Siswa kelas rendah . elas 1Ae. mengalami kesulitan mengikuti instruksi kompleks. Peningkatan Keterampilan CTPS Hasil menunjukkan bahwa keterampilan CTPS meningkat dari 35,0% menjadi 84,6%, yang berarti terjadi peningkatan sebesar 49,6%. Temuan ini mengindikasikan bahwa intervensi edukasi yang diberikan mampu Hilmiana. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 495-502 mengubah keterampilan siswa secara signifikan dalam waktu singkat. Peningkatan ini memperkuat temuan sebelumnya bahwa edukasi berbasis praktik langsung efektif dalam meningkatkan perilaku kebersihan pada anak sekolah dasar (Amelia, 2022. Hubaybah et al. , 2025. Siregar et al. , 2. Namun demikian, masih terdapat 15,4% siswa yang belum mampu melakukan CTPS dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak terjadi secara merata. Kesulitan terutama ditemukan pada siswa kelas rendah yang belum mampu mengingat urutan langkah secara sistematis. Kondisi ini sejalan dengan Cahyani . yang menyatakan bahwa tingkat pemahaman anak sangat dipengaruhi oleh usia dan kemampuan kognitif. Gambar 2 Praktik Cuci Tangan dengan Sabun dan Air Mengalir Peningkatan Keterampilan Menyikat Gigi Hasil menunjukkan bahwa keterampilan menyikat gigi meningkat dari 34,5% menjadi 82,7%. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan edukasi yang digunakan efektif dalam meningkatkan keterampilan perawatan diri siswa. Hasil ini sejalan dengan penelitian Setyaningsih et al. yang menyatakan bahwa edukasi kesehatan gigi berbasis praktik dapat meningkatkan keterampilan menyikat gigi secara signifikan pada anak sekolah dasar. Meskipun demikian, capaian pada kelas 1Ae2 . ,4%) lebih rendah dibandingkan kelas 3Ae6 . ,2%). Hal ini menunjukkan bahwa faktor usia dan kemampuan motorik memengaruhi keberhasilan intervensi. Anak usia lebih muda cenderung membutuhkan pengulangan dan pendampingan yang lebih intensif. Peningkatan keterampilan yang cukup tinggi pada kedua intervensi menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif yang digunakan efektif. Hal ini terlihat dari peningkatan signifikan baik pada CTPS maupun menyikat Temuan ini mendukung penelitian Mulyani et al. dan Nuryana et al. yang menyatakan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar dapat meningkatkan retensi dan pemahaman (Mulyani et al. , 2023. Nuryana et al. , 2. Selain itu, penggunaan peer teaching terbukti membantu siswa memahami materi melalui interaksi sosial, sesuai dengan teori pembelajaran sosial (Bandura, 1. Namun, efektivitas metode ini juga dipengaruhi oleh kondisi teknis. Antrean panjang saat praktik menyebabkan tidak semua siswa memperoleh kesempatan latihan optimal. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mungkin membatasi capaian maksimal. Hasil menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya dipengaruhi oleh metode edukasi, tetapi juga oleh faktor lingkungan. Komitmen sekolah dalam menyediakan sabun dan menempatkan poster merupakan langkah positif dalam mendukung keberlanjutan program. Temuan ini sejalan dengan Chandra et al. menyatakan bahwa keberhasilan PHBS sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan dukungan lingkungan. Tanpa dukungan tersebut, perubahan perilaku cenderung tidak bertahan lama. Namun, keberlanjutan program masih menghadapi tantangan karena belum adanya sistem monitoring rutin. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi jangka pendek perlu diikuti dengan strategi pendampingan jangka panjang. Hilmiana. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 495-502 Pengabdian kepada masyarakat ini memberikan beberapa rekomendasi tindak lanjut, antara lain: Sekolah menyatakan komitmen menyediakan sabun melalui dana operasional sekolah . asil koordinasi dengan kepala sekola. Poster edukasi ditempatkan di depan kelas dan area wastafel. Guru kelas menyatakan akan mengintegrasikan CTPS dalam rutinitas sebelum makan. Mekanisme monitoring jangka panjang yang terstruktur. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) berbasis partisipatif di SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Tegalgirang berhasil mencapai tujuan utama, yaitu meningkatkan keterampilan siswa dalam mencuci tangan pakai sabun (CTPS) dan menyikat gigi dengan benar. Keberhasilan ini dibuktikan secara kuantitatif melalui peningkatan capaian keterampilan CTPS dari 35,0% pada pretest menjadi 84,6% pada posttest . eningkatan 49,6%), serta peningkatan keterampilan menyikat gigi dari 34,5% menjadi 82,7% . eningkatan 48,2%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa indikator keberhasilan program (Ou80% siswa terampi. telah tercapai. Meskipun demikian, masih terdapat 15,4% siswa yang belum mampu melakukan CTPS dengan benar dan 17,3% siswa yang belum terampil menyikat gigi, terutama pada kelompok kelas rendah. Kegiatan ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain tidak seluruh siswa dapat mengikuti kegiatan . ,6% tidak hadi. , evaluasi yang masih bersifat jangka pendek tanpa pengukuran retensi perilaku, serta keterbatasan waktu praktik yang menyebabkan tidak semua siswa memperoleh kesempatan latihan yang Selain itu, perbedaan kemampuan berdasarkan jenjang kelas juga memengaruhi capaian hasil, di mana siswa kelas rendah menunjukkan tingkat keterampilan yang lebih rendah dibandingkan kelas tinggi. Temuan ini memberikan rekomendasi agar program PHBS di sekolah dilanjutkan secara berkelanjutan melalui integrasi dalam kegiatan rutin sekolah, seperti pembiasaan CTPS sebelum makan dan pengawasan praktik menyikat gigi. Dukungan fasilitas, terutama ketersediaan sabun secara konsisten, perlu dijamin oleh pihak sekolah. Selain itu, diperlukan monitoring berkala oleh guru serta penguatan edukasi melalui media visual yang tetap terpasang di lingkungan sekolah. Untuk pengembangan selanjutnya, kegiatan pengabdian disarankan menggunakan desain evaluasi jangka panjang guna mengukur keberlanjutan perubahan perilaku siswa. PENDANAAN Pengabdian kepada masyarakat ini tidak menerima pendanaan eksternal. KONFLIK KEPENTINGAN Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. DAFTAR PUSTAKA