UPACARA MAPAG PANGANTEN ADAT SUNDA DALAM KONTEKS PARIWISATA Riyana Rosilawati Prodi Tari. Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia. Jl. Buah Batu no. 212 Bandung riyanarosilawati67@gmail. ABSTRAK Karesmen Mapag Panganten merupakan bagian dalam upacara perkawinan adat Sunda, merupakan garapan Wahyu Wibisana pada Karesmen Mapag Panganten sampai saat ini masih bertahan, karena sajiannya berhubungan dengan upacara pernikahan. Tujuan penelitian ini adalah ingin memaparkan keberadaan sajian Karesmen Mapag Panganten Adat Sunda dalam konteks pariwisata. Metode yang digunakan kualitatif dengan pendekatan deskriftif analisis. Hasil yang diperoleh dari sajian Karesmen Mapag Panganten bahwa pertunjukan ini mempunyai peran penting, yaitu dalam sajiannya baik yang berpola tradisi maupun yang mendapat sentuhan modern, keduanya merupakan lambing Ausomeah hade ka semahAy . amah kepada tam. , yang merupakan perilaku keramah-tamahan masyarakat Sunda sebagai wujud memuliakan tamu kahormatan. Dengan koreografi, tata rias, tata busana dan musik yang disesuaikan dengan konsep dan tema pernikahan, sehingga sajian tersebut menjadi penting sebagai daya tarik Realita lainnya sajian tersebut selalu hadir bukan pada faktor seninya saja, tetapi dipengaruhi juga oleh faktor non seni, yaitu adanya permintaan pasar dan tuntutan masyarakat yang menginginkan adanya Karesmen Mapag Panganten sebagai ajang prestise. Kedudukan Karesmen Mapag Panganten saat ini lebih cenderung mempunyai tujuan ekonomis, yaitu sebagai penopang kehidupan yang tentu saja menjadikan adanya alih nilai menjadi nilai jual atau nilai industri. Kata kunci: Daya Tarik. Karesmen Mapag Panganten. Pariwisata. PENDAHULUAN Seni pertunjukan dan Pariwisata merupakan dua kegiatan yang saling memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Seni pertunjukan dalam konteks industri pariwisata telah menjadi atraksi atau daya tarik wisata yang sangat penting dan menarik, khususnya apabila dikaitkan dengan kegiatan wisata budaya. Seni pertunjukan yang didalamnya antara lain mencakup seni tari, seni musik maupun seni pentas lainnya baik tradisional maupun modern, di berbagai daerah tujuan wisata di Indonesia telah berkembang dan banyak dikemas untuk konsumsi wisatawan, yang digelar di gedung-gedung pertunjukan atau teater bahkan di area terbuka di halaman suatu lingkungan pedesaan yang khas. Dari sudut pandang kesenian, maka berkembangnya industri pariwisata secara nyata telah mendorong tumbuhnya kreativitas pelaku seni untuk mengembangkan karya ciptanya sehingga mampu menarik minat pengunjung ataupun wisatawan. Dalam hal seni pertunjukan, maka kreativitas tersebut harus mampu diwujudkan dalam koreografi yang menarik, atraktif, dan mampu menyajikan pesan serta cerita yang utuh bagi wisatawan dalam rentang waktu kunjungannya yang terbatas. Di antara begitu banyak seni pertunjukan yang ada di Jawa Barat, salah satunya pertunjukan prosesi upacara Mapag Panganten adat Sunda. Sekitar tahun 1920-an tradisi upacara perkawinan adat Sunda masih terdapat di Pendopo Kabupaten. Tata cara dan pelaksanaan upacara perkawinan tersebut umumnya mengikuti adat Setelah menyelesaikan beberapa tahapan upacara ini, pada tahap selanjutnya yang paling puncak yaitu sebelum pelaksanaan akad nikah, disajikan lebih dulu upacara penyambutan calon pengantin pria yang diadakan dalam bentuk arak-arakan. Wahyu Wibisana membenarkan, semenjak tahun 1920-an penyambutan pengantin telah ada di Kadaleman dengan diiringi pertunjukan karawitan dan tari baksa. Dalam perkembangan selanjutnya upacara perkawinan adat Sunda dilaksanakan di luar pendopo kabupaten, dan sejak saat itulah muncul beberapa model upacara prosesi mapag panganten. Begitu pula media tari muncul dari upacara mapag panganten diawali oleh R. Rahmat Sukma Saputra mantan Kepala Urusan Kebudayaan Jawa Barat, yang juga seorang penari tayub pada tahun 1960-an. Beliau telah menciptakan bentuk prosesi Mapag Panganten, yaitu ketika calon pria datang ke calon pengantin perempuan disambut dengan gending gamelan degung kemudian lengser, penari gulang-gulang, penari payung, dan terakhir penari Semua pelakunya adalah laki-laki (Wawancara. Moch. AAoim Salim 10 juni 2005, dalam Riyana. Seiring berjalannya waktu upacara penyambutan pengantin mengalami perkembangan, lewat kreasi Wahyu Wibisana terjadi perubahan adanya sentuhan gending Karesmen dalam garapanya. Dengan demikian penamaan upacara penyambutan pengantin dikenal dengan nama Karesmen Mapag Panganten. Kata AuKaresmenAy dalam Kamus Bahasa Sunda (LBBS, 1980:. adalah sandiwara ku tembang dipirig ku gamelan . andiwara yang dinyanyikan dan diringi oleh gamela. Karesmen kreasi seniman, awalnya digarap oleh Wahyu Wibisana pada tahun 1964. Bentuk pertunjukan ini selalu disajikan pada saat penyambutan tamu agung atau penyambutan pengantin, kemudian personal penari ditambah dengan hadirnya penari putri sebagai Mamayang. Beberapa lama kemudian gagasan ini menyebar ke masyarakat sehingga dianggap sebagai upacara khusus yang disajikan sebagai media untuk menyambut pengantin. Wahyu Wibisana mempunyai konsep filosofis yang sesuai dengan makna dari penyambutan tersebut, yang diambil dari naskah Parahiangan, yang bunyinya Aosateka ka sisimpangan ka Galuh deng ka Galunggung di susung tuluy di sojaan cai pikeun sibanyo,Ao artinya Aowaktu mereka datang ke jalan persimpangan ke Galuh dan ke Galunggung mereka disambut dengan air untuk mencuci tangan atau kaki kemudian dipersilahkan masuk ke dalam rumahAo. Pernyataan ini merupakan salah satu dasar pondasi penciptaan upacara penyambutan. Upacara tersebut meskipun sebuah rekaan tetapi tetap memiliki landasannya (Wawancara dengan Wahyu Wibisana, tahun 2010, dalam Riyana, 2012: . Karesmen Mapag Panganten merupakan kelanjutan dari upacara-upacara adat yang sudah ada, yang kemudian para kreator mengemas yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Demikian pula, pernyataan Edi Sedyawati bahwa seni pertunjukan di Indonesia berangkat dari suatu keadaan dimana ia tumbuh dalam lingkungan-lingkungan etnik yang berbeda satu sama lain. Dalam lingkungan-lingkungan ini, adat atau kesepakatan bersama yang turun-temurun mengenai perilaku, mempunyai wewenang sangat besar dalam menentukan rebah bangkitnya kesenian, seni pertunjukan pada pertunjukannya. Peristiwa keadatan merupakan landasan eksistensi yang utama bagi pergelaran-pergelaran atau pelaksanaan-pelaksanaan seni pertunjukan itu sendiri (Sedyawati, 1980: . Penyajian Karesmen Mapag Panganten Adat Sunda dalam sajiannya ada yang berbentuk pola tradisi, tetapi ada juga yang sudah dikembangkan dengan sentuhan pola modern. Di kedua bentuk tersebut pada dasarnya sama ingin menyajikan sebuah sajian yang mengundang daya tarik dan menyajikan sebuah garapan sebagai simbol untuk memuliakan tamu yang hadir dalam pertunjukan tersebut. Aspek lain diselenggarakannya Karesmen Mapag Panganten, disebabkan aspek permintaan masyarakat . ang punya haja. menghendaki adanya sajian tersebut. Dalam upaya melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda khususnya upacara adat penyambutan pengantin. Dinas Budaya. Pariwisata. Kepemudaan dan Olahraga (Disbuparpor. Kota Cimahi kembali gelar Pasanggiri Upacara Adat Sunda Mapag Panganten se-Jawa Barat. Sebanyak 26 Peserta dari perwakilan Kabupaten dan Kota di Jawa Barat menyemarakkan kegiatan yang digelar kedua kali pada 20-21 Juli 2018 di gedung Technopark Kota Cimahi. Menurut Hani . ahasiswi S2 ISBI Bandun. sebagai salah seorang peserta pasanggiri, dan mendapat juara 1 adalah Himalaya Entertaiment dari Karawang, dengan menggunakan konsep mengambil dari cerita Pantun kisah kasih Dewi Asri dan Mundinglaya, mengatakan bahwa kegiatan tersebut sangat bagus untuk diadakan secara regular, agar kreatifitas para seniman terus terasah, selain itu industri pariwisata memerankan peranan penting . Desember 2. Ero Kusnadi Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kota Cimahi mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan kalender event Disbudparpora sekaligus merayakan hari jadi Kota Cimahi yang ke 17 tahun. Dari kegiatan ini diharapkan dapat tingkatkan kreatifitas dan produktifitas seniman Jawa Barat khususnya seniman Kota Cimahi. AuDengan judul besar Kreasi Upacara Adat Sunda, kami berharap kegiatan ini mampu menampilkan hal baru dari ragam bentuk upacara adat mapag . enjemputan Penganti. kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Seni warisan nenek moyang kita ini, dikreasikan sedemikian rupa sehingga terlahir karya kekinian. Ero menambahkan, kegiatan ini menjadi salah satu destinasi pariwasata di Kota Cimahi. Selama dua hari diharapkan pengunjung datang bukan semata menikmati keragaman seni upacara penjemputan pengantin. Efek sampingnya perekonomian kota tumbuh, yakni mereka yang datang belanja dan menginap di hotel sekitar Cimahi. Upacara Karesmen Mapag Panganten adat Sunda tidak punya kebakuan seperti halnya di Jawa Tengah. Budaya ini terbuka lebar untuk dikreasikan dan dikemas sedemikan rupa, demikian kata Pitri Kurniati Seniman tari asal Cimahi yang sekarang sedang menempuh pedidikan S2 UPI. Ia bangga dapat terlibat dalam kegiatan ini, karena selain sebagai ajang menyalurkan ekspresi Jawa Barat. ttps://seni. id/2018/07/22/upacara-sambut-pengantin sunda-identitas-budaya-yang-sudah-mulai-memudar/) Mengkaji sajian Karesmen Mapag Panganten Adat Sunda perlu diadakan karena mempunyai daya tarik tersendiri dan mendukung kepariwisataan di Jawa Barat, maka fokus permasalahan ditujukan pada keberadaan sajian Karesmen Mapag Panganten Adat Sunda dalam konteks pariwisata. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin memaparkan keberadaan sajian dalam Karesmen Mapag Panganten Adat Sunda dalam konteks pariwisata. METODOLOGI Metode penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, sebagai langkah awal pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan observasi lapangan. Hal ini menitikberatkan pada pengamatan yang didukung dengan Data kualitatif untuk penelitian seni pertunjukan juga didapat dari sumber-sumber tertulis, sumber lisan, peninggalan sejarah serta sumber-sumber rekaman (Moleong: . Untuk mendapatkan data kualitatif ditetapkan narasumber berdasarkan pertimbangan, dipilihnya wilayah Kota Cimahi sebagai lokasi adalah karena sebagai penyelenggara pasanggiri Upacara Karesmen Mapag Panganten adat Sunda. Tradisi Karesmen Mapag Panganten dalam perkawinan adat Sunda di kota Bandung merupakan peraturan yang sudah mentradisi yang telah berlaku dengan kebiasaan yang sudah umum dalam suatu daerah. Terkait dengan permasalahan yang diungkap tentang perubahan yang ada bukan saja faktor seninya itu sendiri, tetapi perubahan yang terjadi dalam perkembangan seni tari ternyata dipengaruhi juga oleh faktor non seni. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Alvin Toffler, dalam bukunya yang berjudul The cultural Consumers menjelaskan, bahwa cultural explosion atau ledakan budaya atau dengan istilah yang paling mutakhir boom semaraknya perkembangan seni, tidak lain karena perkembangan ekonomi (Masunah dan Narawati, 2003:. Berbicara industri pariwisata, dalam hal ini seni wisata perlu mengemas seni wisata, karena apabila melakukan kesalahan akan berakibat fatal. Ada sebuah pemikiran mengenai seni wisata oleh Soedarsono . bahwa seni wisata mempunyai lima ciri, yaitu: . tiruan dari aslinya, . lebih singkat dari aslinya, . penuh variasi, . ditanggalkan nilai magis dan sakralnya, dan . murah Mengacu Soedarsono, dapat menentukan bentuk atau format dalam mengemas seni pertunjukan tradisional menjadi seni wisata. Merujuk pernyataan tersebut jelas bahwa seni wisata termasuk Karesmen Mapag Panganten bukan lagi merupakan bagian kontekstual dari kehidupan masyarakat sebagai konsumennya bisa menikmati dan membelinya kapan saja mereka mau. Selain faktor perubahan ekonomi, perubahan sosial pun terjadi dalam seni HASIL DAN PEMBAHASAN Keberadaan Karesmen Mapag Panganten Sunda mempunyai posisi utama, karena kehadirannya menurut Suhendi Afriayanto dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, juga salah seorang juri dari kegiatan pasanggiri, menyatakan pendapatnya senada dengan Edward Bennet Taylor memandang fungsi kebudayaan itu sebagai citra identitas suatu masyarakat, boleh jadi refleksinya dapat diamati dalam kehidupan nyata satu kaum lengkap dengan atribut budayanya. Sajian Karesmen Mapag Panganten dalam upacara pernikahan adat Sunda, terkait juga dengan unsur filosofis yang sangat bermanfaat bagi kehidupan, yaitu dirancang dan mengacu pada konsep masyarakat Sunda dengan ungkapan Auhade tata hade titiAy sebagai lambang Ausomeah hade ka semahAy . amah kepada tam. , yang merupakan perilaku keramah-tamahan masyarakat Sunda terhadap tamu yang datang, hal ini dilakukan sebagai wujud memuliakan tamu (Suhaenah dkk, 2008:. Pernyataan tersebut sejalan dengan moto yang diadakan dalam pasanggiri yang disesuaikan dengan konteks pariwisata yaitu someah hade ka semah . amah terhadap tam. juga menjadi ciri yang melekat, yang dikenal oleh suku lainnya sebagai hal yang diyakini baik dalam konteks hubungan antar manusia. Ramah terhadap tamu nyaris melembaga dalam perhelatan khusus yang melibatkan dua atau lebih keluarga besar dalam satu pertemuan dalam wujud penyambutan tamu yang selanjutnya ditandai sebagai adat istiadat. Upacara penyambutan tamu yang dilakukan di tanah Sunda merupakan kekayaan budaya yang sangat bernilai. Belakangan upacara adat penyambutan yang telah mentradisi tersebut nyaris memudar karena berbagai alasan bahkan di beberapa prosesi telah tergantikan oleh bentuk lain yang jauh dari tatanan kultural Sunda. Adalah Kota Cimahi melalui Dinas Kebudayaan. Pariwisata dan Olahraga telah mengambil inisiatif sudah dua tahun berjalan untuk merevitalisasi upacara penyambutan yang mengalami masa transisi tersebut dalam suatu kegiatan bertajuk AoPasanggiri Kreasi Upacara Adat Mapag PangantynAo. AuInisiatif ini sungguh suatu hal yang positif guna memberi ruang apresiasi bagi para penggiat seni tersebut agar terhindar dari kevakuman yang berujung kepunahan dan sekaligus upaya penyelamatan yang cukup masifAy. Suhendi menegaskan, karena arahnya inovasi maka lahir invensi-invensi yang tidak terbatas pada satu aspek, sebut saja bentuk dan struktur upacara, tatanan musik, tatanan gerak dari keberagaman sub etnik, tatanan rias busana, sampai pada dukungan artistik yang cukup apik secara Hal lainnya keberadaan pertunjukan Karesmen Mapag Panganten masih dilaksanakan, karena selalu dihadirkan bukan pada faktor seninya saja, melainkan dipengaruhi juga oleh faktor non seni. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang menuntut masyarakat menginginkan adanya pertunjukan tersebut. Hal lainnya Karesmen Mapag Panganten selalu dihadirkan, karena sebagai ajang prestise. Terkait dengan pernyataan di atas, begitupun dalam kehidupan seni tari yang dahulu mempunyai fungsi ganda selain sebagai hiburan, juga pertunjukan dan masih berpegang dengan tatanan seni yang semestinya, kini lebih mengarah dan banyak diperlukan sebagai pengisi kebutuhan estetik atau sekedar santapan rohani yang lebih menitikberatkan pada segi hiburannya. Kedudukan seni baik di desa maupun di kota lebih cenderung mempunyai tujuan ekonomis, yaitu sebagai penopang kehidupan yang tentu saja menjadikan adanya alih nilai menjadi nilai jual atau nilai industri. Sejalan dengan adanya pernyataan perubahan di atas, maka pertunjukan tari dalam upacara Karesmen Mapag Panganten pun saat ini telah mengalami perubahan yaitu adanya pengkemasan, jika dilihat sajiannya, contohnya sajian pertunjukan tarinya sudah ada pengemasan contohnya durasi diperpendek. Fenomena di atas merupakan permasalahan, tetapi memang kenyataannya demikian. Kesenian saat ini sudah mengalami perubahan alih fungsi pertunjukan, sebagai akibat adanya pengaruh industrialisasi, khususnya seni tari di Jawa Barat . egitu pun dengan sajian Karesmen Mapag Pangante. Di sini terlihat berkembangnya berbagai penyajian bentuk seni baru, yaitu yang dikemas khusus untuk dijual. Melihat pariwisata budaya sebagai sesuatu yang bersifat sistemik misalnya, harus disepakati terlebih dahulu apa yang kita pahami tentang konsep pariwisata dan budaya. Hal ini untuk menghindari kesalahpahaman dalam mengoperasionalisasikan konsep pariwisata budaya selanjutnya. Pariwisata budaya adalah perpaduan dua unsur, sebagai industri maupun sebagai sistem yang berkelanjutan. Caranya adalah dengan mengatur di satu sisi penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya budaya secara berkelanjutan. Hal ini berkaitan dengan konsep pariwisata Indonesia dan Wonderful Indonesia. KESIMPULAN Pertunjukan karesmen mapag panganten sebagai satu unsur kesenian memiliki peran yang sangat menonjol dalam konteks kegiatan kepariwisataan, bahkan sebenarnya telah menunjukkan posisinya sekaligus sebagai komponen daya tarik wisata. Era industri kepariwisataan secara tidak langsung membawa situasi dan kondisi yang positif bagi seni pertunjukan tradisional, serta memberi peluang bagi senimannya untuk berkreasi sebagai perwujudan partisipasinya. Salah satu potensi daya tarik budaya, adalah karesmen mapag panganten yang masih berlangsung di Dari nilai yang terkandung di dalamnya, pada hakikatnya pemanfaatan kesenian tradisional dapat dikelompokan menjadi kelompok pemanfaatan yang mengacu pada nilai sejarah dan ilmu pengetahuan, serta pemanfaatan yang mengacu pada nilai ekonomi. Berdasarkan temuan di lapangan bahwa karesmen mapag panganten memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri dalam konteks pariwisata, yang pada akhirnya dalam sisi ekonomi memiliki nilai jual. Pemerintah dan masyarakat . haruslah sinergi, agar kepariwisataan yang telah dipupuk menjelma menjadi sebuah kegiatan yang sarat dengan nilai-nilai ekonomis. Akibatnya, pada saat pariwisata memanfaatkan sumber daya kebudayaan, seperti pasanggiri Karesmen Mapag Panganten memiliki nilai jual untuk pariwisata dengan mengoptimalkan objek daya tarik wisata budaya Jawa Barat. Gambar 1. Himalaya Entertaiment mendapat Juara 1 dalam Pasanggiri Karesmen Mapag Ke 2 di Kota Cimahi (Dokumentasi: Hani, 2. Gambar 2. Sajian peserta pasanggiri Karesmen Mapag Panganten dari Himalaya Entertaiment (Dokumentasi: Hani, 2. DAFTAR PUSTAKA