VOCAT : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. No. Tahun 2024. Hal. 106 - 116 Website: https://ejournal. id/index. php/vocat KATEKESE DIGITAL: CARA GEREJA MENGHADAPI TANTANGAN KOMUNIKASI IMAN DI ERA DIGITAL Marianus Rago Kristeno1*. Emmeria Tarihoran2 STP-IPI Malang Email : marianragokrist@gmail. com1, emmeriayohana@gmail. Abstrak : Abad XXI merupakan abad di mana kemajuan teknologi semakin berkembang. Kemajuan teknologi telah merambah ke dalam hampir semua ranah kehidupan manusia. Dengan kemajuan teknologi, muncullah media-media komunikasi sosial yang terintegrasi dalam sebuah gawai yang praktis dan banyak membantu dalam berbagai pekerjaan manusia. Gereja memandang hal ini sebagai suatu peluang untuk menyampaikan ajaran iman dan berkatekese. Katekese digital menjadi bentuk katekese dengan memanfaatkan media-media digital, seperti tiktok. Instagram, youtube, twitter, dan lain-lain, yang membantu Gereja untuk menyediakan layanan rohani yang menarik, relevan, kreatif, dan inovatif. Melalui media-media digital tersebut. Gereja menyebarkan Injil dan memberi pengajaran kepada umat. Artikel ini ditulis dengan menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengumpulkan berbagai tulisan, seperti buku, artikel, jurnal, makalah, dan lainlain yang relevan dengan masalah yang dibahas dalam artikel ini. Katekese digital menjadi cara Gereja untuk memberi pengajaran iman kepada umat dan mewartakan ajaran Kristus kepada banyak orang. Melalui katekese digital, umat dapat mengkomunikasikan imannya tanpa terbatas ruang dan waktu. Katekese digital menjadi wadah kerja sama antara kaum klerus dan kaum awam, di mana kaum klerus sebagai pengajar dan penjaga ajaran serta tradisi iman yang benar, sementara kaum awam, khususnya kaum muda, menjadi pewarta melalui konten-konten yang diposting di media-media digital. Kata kunci: Era Digital. Gereja. Katekese Digital. Tantangan komunikasi Iman. Abstract : The XXI century is a century where technological advances are increasingly developing. Technological advances have penetrated almost all areas of human life. With advances in technology, social communication media have emerged that are integrated in practical devices and help a lot in various human jobs. The Church views this as an opportunity to convey teachings of the faith and catechesis. Digital catechesis is a form of catechesis that utilizes digital media, such as TikTok. Instagram. YouTube. Twitter, etc. , which helps the Church to provide interesting, relevant, creative and innovative spiritual services. Through these digital media, the Church spreads the Gospel and provides teachings to the people. This article was written using a literature review method by collecting various writings, such as books, articles, journals, papers, etc. that are relevant to the problem discussed in this article. Digital catechesis is the Church's way of teaching the faith to the people and proclaiming Christ's teachings to many people. Through digital catechesis, people can communicate their faith without being limited by space and time. Digital catechesis is a forum for collaboration between the clergy and the laity, where the clergy act as teachers and guardians of the true teachings and traditions of the faith, while the laity, especially young people, become evangelizers through content posted on digital media. Key words: Digital Era. Church. Digital Catechesis. Challenges of Faith Communication. PENDAHULUAN Abad XXI merupakan abad yang diwarnai dengan beragam kemajuan. Kemajuankemajuan yang ada merambah banyak bidang khususnya terjadi di bidang teknologi. Dunia terus berevolusi. Masyarakat dunia sudah beralih dari penggunaan teknologi-teknologi tradisional ke teknologi modern. Peralihan tersebut tidak terlepas dari kemampuan manusia di bidang ilmu pengetahuan yang turut mengalami perkembangan sehingga terciptalah beragam bentuk kemajuan teknologi, seperti telepon, komputer, laptop, dan gawai atau gadget, serta internet, dan media sosial (Nugroho and Firmanto, 2. Kemajuan teknologi telah merasuk ke dalam hampir semua ranah kehidupan manusia, mulai dari pendidikan, pemerintahan, informasi dan komunikasi, sampai pada ranah agama (Sitanggang and Defhany, 2. Gereja pun memberi perhatian terhadap kemajuan teknologi tersebut (Nugroho and Firmanto, 2. Hal ini disebabkan oleh imbas yang dirasakan Gereja sebagai pengaruh dari perkembangan tersebut. Pemerintahan, dunia kedokteran, pendidikan, serta perusahaan-perusahaan di bidang ekonomi dan bisnis telah beradaptasi dengan mengintegrasikan media-media digital ke dalam sistem kerja yang memungkinkan pengaksesan informasi dan hal-hal lain yang memudahkan Pasca Konsili Vatikan II. Gereja telah memandang dunia secara lebih positif, termasuk media komunikasi dan teknologi (Wisanggeni. Mulyatno and Antony, 2. Melalui dokumen Konsili Vatikan II, khususnya dekret Inter Mirifica. Gereja menyadari akan pentingnya penggunaan media-media komunikasi sosial sebagai sarana evangelisasi dan Bahkan dalam EN art. 45 diungkapkan bahwa Gereja akan merasa bersalah jika tidak menggunakan sarana-sarana yang ada, khususnya media-media digital sebagai sarana untuk meyebarluaskan Injil. Kemajuan teknologi yang terjadi di era digital membuat Gereja harus beradaptasi. Gereja tidak bisa menutup mata terhadap perubahan zaman khususnya pada kemajuan Budaya masyarakat saat ini telah mengalami transformasi kepada penggunaan teknologi-teknologi digital. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan gawai yang telah merebak ke dalam hampir setiap kalangan, tidak terkecuali Gereja (Tarihoran, 2. Gereja turut menggunakan teknologi komunikasi sosial dan media elektronik sebagai media katekese yang baru di era digital (Sitanggang and Defhany, 2. Penelitian yang dilakukan oleh (Jehaut and Maugahoaku, 2. mengungkapkan bahwa tantangan Gereja di era digital saat ini adalah soal bagaimana Gereja memberi pelayanan rohani untuk menjawab kebutuhan umat. Masyarakat Katolik zaman sekarang, sama seperti masyarakat pada umumnya, cenderung sulit lepas dari penggunaan gawai. Gawai seakan-akan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap manusia. Bentuk gawai yang minimalis dan praktis serta menyediakan beragam fitur menarik dan memuat hampir semua hal yang membantu manusia turut mempengaruhi budaya penggunaan gawai. Seseorang akan merasa AumatiAy jika tidak menggunakan gawai dalam kurun waktu tertentu (Toron, 2. Kemudahan-kemudahan yang disediakan melalui penggunaan gawai terebut seakan-akan AumemanjakanAy manusia. Kecenderungan manusia yang tidak lepas dari penggunaan gawai tersebut menimbulkan satu masalah yang menyangkut dengan pertumbuhan rohani dan Terlepas dari segala bentuk tantangan yang dialaminya. Gereja melihat peluang pengembangan iman umat, termasuk katekese dan evangelisasi, melalui media-media digital (Sainyakit. Batlayeri and Masriat, 2. Sejak pandemi covid-19. Gereja terus menerus berupaya untuk memelihara iman umat melaui perantaraan media-media komunikasi digital. Sebut saja misa online sebagai salah satu upaya Gereja untuk meneguhkan iman umat yang hampir putus harapan akibat lockdown besar-besaran. Tak bisa dipungkiri bahwa media-media digital seperti internet, media sosial, dan website berperan penting bagi Gereja selama era pandemi Covid-19. Melalui media-media tersebut Gereja menghadirkan misa online, katekese virtual, rekoleksi via aplikasi zoom, dan lain-lain (Dessindi, 2. Bahkan tak sedikit content creator yang menggunakan media sosialnya sebagai ajang berkatekese (Taek and X, 2. Berdasarkan situasi yang telah dijelaskan sebelumnya, muncullah suatu pertanyaan yang perlu dijawab, yaitu bagaimana Gereja memanfaatkan media-media digital yang ada untuk berkatekese? Penulis akan berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan menyajikan pembahasan tentang penggunaan media-media komunikasi, seperti internet dan media sosial sebagai wadah dan media berkatekese bagi Gereja di era digital beserta segala tantangan dan peluang yang akan dihadapi oleh Gereja. Melalui artikel ini, pembaca diharapkan memiliki kesadaran akan pentingnya penggunaan media-media digital untuk menyebarluaskan Injil di tengah dunia. METODE Dalam penulisan artikel ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan mendeskripsikan tentang katekese digital sebagai salah satu cara Gereja untuk memberi pengajaran iman kepada umat melalui media-media digital. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka adalah metode penulisan yang menggunakan berbagai media tulisan, baik cetak maupun non cetak yang sesuai dengan masalah yang dibahas dalam artikel ini sebagai bahan penulisan (Pradana et al. , 2. Penulis mengumpulkan berbagai tulisan, baik dari jurnal ilmiah, dokumen Gereja, maupun sumbersumber lain yang relevan sebagai bahan penulisan. Data-data yang telah diperoleh tersebut, kemudian dikaji untuk dapat ditarik kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Katekese di Era Digital Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak tahun 2019 sampai tahun 2022 membawa perubahan besar terhadap dunia. Situasi tersebut menciptakan tantangan yang bukan saja bersangkutan dengan kesehatan tubuh, melainkan juga berkaitan dengan perubahan situasi yang hampir seluruhnya menggunakan sistem berbasis digital (Nugraha, 2. Perubahan itu termasuk pada perubahan tingkah laku, budaya, dan kebiasaan masyarakat. Bahkan. Gereja turut AudipaksaAy untuk menggunakan media-media digital untuk membantu memenuhi kebutuhan rohani umat, seperti misa online. Bina Iman Anak online, pembinaan katekumen online, mistagogi online, serta pendalaman iman online. Kemajuan teknologi yang telah terintegrasi ke dalam berbagai bidang turut mempengaruhi pengambilan keputusan dan efisiensi suatu pekerjaan (Chakim and Bimantara, 2. Dengan kemajuan teknologi, manusia dimudahkan dalam melaksanakan tugas-tugas dan pekerjaannya. Manusia semakin dekat dan lekat dengan teknologi, khususnya dalam penggunaan gawai dan media sosial. Munculnya budaya baru di era digital mendorong Gereja untuk turut membaharui gaya Gaya hidup masyarakat yang serba digital sangat nyata terjadi, bahkan dapat dilihat dari cara hidup dan berinteraksi masyarakat (Lewar and X, 2. Gereja menyadari bahwa melalui kemajuan teknologi khususnya media-media digital, lapangan katekese semakin menjadi luas dan menjangkau lebih banyak orang. Melalui media-media digital. Gereja menemukan gaya katekese yang relevan dan mampu menjangkau lebih banyak orang. Gaya katekese tersebut dikenal dengan katekese digital. Katekese digital ini memungkinkan penyampaian pengajaran iman melalui beragam platform digital dan media sosial, seperti internet, website, blog, youtube, instagram, facebook, dan tiktok (Praseno, 2. Pewartaan melalui media-media digital telah diterapkan oleh Gereja. Pewartaan dengan media tersebut membawa pengaruh pada kehidupan umat, khususnya kehidupan rohani dan iman umat. Peristiwa-peristiwa iman, berita-berita, dan lain-lain yang dapat diakses dengan mudah melalui platform media digital dapat membawa umat pada nilai-nilai rohani dan cinta kasih yang meneguhkan serta mampu membangun semangat yang baru dalam memberi kesaksian iman di tengah masyarakat dunia (Toron, 2. Katekese digital yang tidak terbatas pada ruang dan waktu membantu umat untuk dapat memperkaya pengalaman iman di mana pun dan kapan pun (Praseno, 2. Melalui peranan setiap umat. Gereja menyalurkan pengajaran iman dengan memanfaatkan media-media digital yang ada. Paus Benediktus XVI percaya bahwa kemajuan teknologi dan perkembangan media-media digital membuka suatu peluang baru bagi Gereja untuk kebaikan manusia (Synchez-Camacho, 2. Kemajuan teknologi membuka babak baru pengembangan katekese dalam Gereja. Katekese tersebut, kini tidak terbatas lagi hanya diberikan oleh kaum hierarki. Kaum awam pun berperan aktif untuk menyampaikan katekese dan sharing pengalaman iman melalui media-media digital. Tidak dapat dipungkiri bahwa kaum awam, khususnya kaum muda mengambil peran yang besar dalam katekese digital. Dengan imamat umum dan AukeduniaannyaAy, kaum muda menggunakan media-media digital dengan leluasa berkat penguasaan teknologinya yang memadai (Rohid and Firmanto, 2. Kaum muda sudah banyak yang menggunakan media-media sosialnya sebagai sarana untuk Inovasi yang dilakukan kaum muda dan semangatnya dalam berkatekese melalui media-media digital harus diakui sangat membantu Gereja dalam mewartakan Injil kepada semakin banyak orang. Kreativitas orang muda dalam menyampaikan katekese melalui media digital membuat penyampaian katekese menjadi lebih berwarna dan hidup. Kehadiran media-media digital cukup dirasakan manfaatnya. Melalui media-media digital, penyampaian katekese klasik dengan metode ceramah dapat dimodifikasi menjadi katekese yang hidup, menarik, dan lebih memiliki daya konsumsi yang lebih besar. Ini seperti menghadirkan suatu produk dengan isi yang sama, namun dengan kemasan yang berbeda. Media-media sosial yang ada saat ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah berkatekese (Wisanggeni. Mulyatno and Antony, 2. Generasi milenial adalah kelompok yang berperan cukup besar dalam menggunakan media-media digital sebagai sarana berkatekese. Kekreatifan generasi milenial tidak lepas dari kemampuan dan penguasaan teknologi yang mereka miliki. Dengan kemampuan yang dimilikinya, generasi milenilal mampu mengemas suatu bentuk katekese yang hidup, menarik, fleksibel, dan menyentuh dengan membangun ruang virtual yang memungkinkan interaksi jarak jauh yang dapat dinikmati semua orang dari semua kalangan (Firmanto and Adon, 2. Katekese digital tidak terbatas pula pada pemanfaatan media-media sosial sebagai tempat mempublikasi bahan katekese. Katekese digital juga memungkinkan pemanfaatan fitur-fitur dalam internet untuk membuat suatu katekese menjadi lebih menarik, seperti pemanfaatan aplikasi pengeditan video, aplikasi pembuat animasi, dan lain-lain. Aplikasi-aplikasi tersebut sangat membantu untuk membuat penyampaian pengajaran iman semakin menarik, apalagi diambil dari keseharian umat yang relevan dan kontekstual. Meskipun demikian, katekese yang dilakukan kaum muda melalui media-media digital juga rentan terkontaminasi ajaran-ajaran yang bersifat tafsir pribadi dan berpotensi membawa pada ajaran yang tidak tepat. Di sinilah Gereja berperan. Dalam katekese digital. Gereja melalui kaum klerus menjadi penjaga ajaran-ajaran yang benar dan tepat. Kaum muda hendaknya menggunakan sarana-sarana yang ada untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya guna melengkapi katekese yang disampaikannya. Gereja menjadi pengajar melalui magisteriumnya. Gereja juga menjalankan fungsi pengawasan melalui para uskup, imam, kaum biarawan/i, atau para katekis agar katekese yang diwartakan melalui media-media digital tersebut mengandung unsur kebenaran yang tidak disalahartikan dan yang akhirnya malah membawa umat pada kesesatan. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang tertulis dalam Kan. 823 - A 1, yang mengungkapkan bahwa para gembala Gereja memiliki kewajiban untuk menjaga iman dan tradisi Gereja sehingga tulisan-tulisan, karya, serta hal-hal yang berkaitan dengan pengajaran katekese diserahkan kepada mereka untuk diperiksa dan dinilai. Katekese digital yang dipengaruhi kemajuan teknologi semakin hari semakin Hal ini sejalan dengan tuntutan Gereja yang harus mampu menyediakan pengajaran iman atau katekese yang menarik dan mempunyai daya ubah. Tujuan utama katekese digital ini adalah agar pesan pertobatan dan pewartaan Injil sampai kepada umat dan Pada akhirnya, katekese digital membawa umat pada iman yang berkembang dan dinyatakan dalam tindakan sehari-hari (Mendrofa. Obe and Hulu, 2. Namun, perlu diperhatikan bahwa katekese digital haruslah mengandung kebenaran iman dan ajaran kristiani. Kriteria pewartaan Injil dijelaskan dalam Pedoman Untuk Katekese Art. Intinya adalah sebuah katekese harus mengandung kebenaran iman yang memperhatikan kriteria trinitaris dan kristologis, kriteria sejarah keselamatan, kriteria keunggulan rahmat dan keindahan, kriteria ekklesialitas, serta kriteria kesatuan dan integritas iman. Pewartaan melalui media-media digital tersebut harus bermuara pada Kristus dan ajarannya. Peran kaum awam menjadi sangat nyata dalam katekese digital. Melalui kehidupan kesehariannya, umat mewartakan Kristus yang hadir di tengah-tengah dunia. Melalui Dekrit Apostolicam Actuositatem art. 3, dijelaskan bahwa setiap orang beriman mengemban tugas yang mulia untuk mewartakan Kristus sehingga warta keselamatan tersebar luas. Melalui pewartaan yang disampaikan dalam konten-konten di media sosial maupun media-media digital lainnya, pesan Injil menjangkau lebih banyak orang. Komunikasi Iman dan Tantangan di Era Digital Era digital bukan saja membawa kemajuan di bidang digitalisasi pekerjaan, tetapi juga membawa kebiasaan baru. Terjadi pergeseran kebiasaan dan gaya dalam penyampaian ajaran Katolik kepada umat. Tak bisa dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 yang sempat terjadi beberapa tahun belakangan turut berperan dalam membentuk kebiasaan baru ini, di antaranya misa online, komuni batin, pendalaman iman online, webinar, dan kegiatan Bina Iman via Zoom (Nugroho and Firmanto, 2. Pada zaman sekarang yang menjadi tantangan adalah bagaimana suatu lembaga keagamaan dapat menghadirkan perjumpaan dengan Tuhan lewat media-media komunikasi digital (Nugraha, 2. Dengan kemudahan pengaksesan informasi dan kepraktisan dalam melakukan pekerjaan, orang ditantang untuk lebih waspada dalam memilah nilai-nilai yang hadir dalam teknologi dan media-media digital agar terhindar dari nilai-nilai narsistik dan pewartaan pada diri sendiri (Angga and Firmanto, 2. Ruang virtual yang tercipta dalam media-media digital menjadi ruang perjumpaan manusia dengan Allah (Nugraha. PKKI X yang membahas tentang katekese di era digital menyoroti bahwa internet juga menjadi pintu yang memungkinkan terbukanya relasi dengan orang-orang yang mungkin belum pernah dijumpai secara fisik (KWI, 2. Konten-konten di media sosial mampu menciptakan kesan rohani bagi siapa saja yang mengkonsumsinya. Perjumpaan-perjumpaan yang dilakukan melalui aplikasi-aplikasi pertemuan online sungguh-sungguh menghilangkan keterbatasan waktu dan tempat yang terjadi di antara manusia. Meskipun demikian, sinyal internet masih menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan dalam pertemuan katekese digital Bagi Gereja, internet dipandang sebagai suatu anugerah yang seharusnya digunakan sebagai media pewartaan dan untuk menambah kemuliaan nama Tuhan di dunia (Goo, 2. Sebagai suatu anugerah, maka Gereja menggunakan internet dan media-medianya untuk menyebarluaskan kabar sukacita Injil. Internet bukan hanya sebagai sarana mengakses beragam hiburan, pemudah pekerjaan, dan tempat terjadinya kejahatan-kejahatan cyber, melainkan menjadi sarana mengkomunikasikan iman. Kemudahan akses terhadap informasi yang disediakan internet menjadi AusenjataAy Gereja untuk mengatasi krisis iman umat. Umat dapat mengakses tulisan-tulisan rohani, renungan, informasi-informasi keagamaan yang dapat digunakan untuk meneguhkan serta memperkaya pengetahuan imannya (Sriastuti and Sinar. Komunikasi iman menjadi hal yang penting di tengah gempuran kemajuan media-media Dalam dokumen AuGereja dan InternetAy art. 5, dikatakan bahwa komunikasi yang dilakukan dari dan dalam Gereja adalah juga komunikasi dari dan dalam Yesus Kristus sendiri (KWI, 2. Gereja menyadari bahwa selain membawa peluang, kehadiran media-media digital turut membawa tantangan. Manusia, dengan segala kecerdasan dan kehendak bebasnya mampu memutarbalikkan suatu fakta yang bertentangan dan bahkan melawan kehendak Allah yang berakibat pada kebinasaan (IM art. Tantangan yang paling nyata dalam usaha Gereja untuk menyediakan layanan rohani melalui media-media digital adalah penyediaan layanan rohani yang benar-benar menjawab kebutuhan umat (Jehaut and Maugahoaku, 2. Tantangan yang dialami Gereja berkaitan pula dalam bentuk kesesatan. Kesesatan ini didasari minimnya informasi dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembuat suatu konten katekse atau dapat pula berasal dari asumsi pribadi pembuat yang membuat suatu bentuk katekse berdasarkan penafsiran pribadi. Para pembuat bahan katekese digital didominasi oleh kaum muda yang cenderung lebih aktif dalam menggunakan media-media digital dan bahkan tidak sedikit yang menyampaikan opininya di media-media sosialnya. Salah satu tokoh dari kalangan orang muda Katolik yang berani menggunakan media-media digital sebagai sarana pewartaan adalah Beato Carlo Acutis. Ia adalah salah satu orang muda yang terkenal dengan website-nya yang berisi tentang dokumentasi mukjizat Ekaristi yang terjadi di seluruh dunia dan ia menjadi salah satu orang kudus di era modern ini. Beato Carlo Acutis menjadi bukti bahwa melalui media-media digital, kaum muda dapat membagikan pengalaman imannya dan menjadikan media digital sebagai sarana pewartaan yang menjangkau banyak orang tanpa terbatas ruang dan Namun demikian, kaum muda perlu untuk terus menimba pengetahuan iman agar katekese yang dimuatnya dalam media-media digital tidak disalahartikan dan menimbulkan kesesatan bagi umat yang mengkonsumsinya. Tantangan lain yang harus dihadapi Gereja adalah berkaitan dengan para pengguna media digital atau yang biasa disebut sebagai viewers. Di era digital ini, terdapat beberapa kasus yang berkaitan dengan netizen yang memberi respons terhadap suatu postingan. Respons tersebut dapat berupa respons positif dalam bentuk dukungan, kritik, dan saran yang membangun tanpa menjatuhkan kreator konten katekese, maupun respons negatif dalam bentuk cyber bullying, ujaran kebencian, dan lain-lain yang mampu membuat kreator konten katekese digital menjadi minder, depresi, stres, dan bahkan membawa pada tindakan yang membahayakan dirinya sendiri, seperti bunuh diri (Menin et al. , 2. Hal ini perlu diwaspadai oleh Gereja, mengingat bahwa pelaku katekese digital didominasi oleh kaum awam, khususnya kaum muda yang rentan dipengaruhi oleh reaksi yang diterimanya atas hasil karyanya. Selain berkaitan dengan reaksi konsumen konten katekese di media sosial, terdapat juga risiko lain yang harus dihadapi Gereja dalam penggunaan media-media digital sebagai sarana katekese, seperti plagiasi dan modifikasi, serta ketakutan akan kontaminasi hal-hal yang bersifat profan. Meskipun harus menghadapi berbagai tantangan. Gereja mampu menghadapi dan mengatasi tantangan-tantangan tersebut berkat penyertaan Tuhan dan terang Roh Kudus. Sebab, bagi Gereja yang menjadi utama adalah tugasnya untuk mewartakan Kristus (Sukendar et al. Gereja sangat berusaha untuk terus menerus melaksanakan tugas pewartaannya sambil menunggu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Gereja melaksanakan tugasnya itu dengan menggunakan media-media digital yang lebih efektif dan efisien (Firmanto and Adon, 2. Melalui media-media digital. Gereja berusaha untuk menjangkau banyak orang yang belum tersentuh pewartaan iman. Media-media yang hadir dan marak digunakan oleh manusia menjadi tanah subur bagi Gereja untuk menaburkan benih Sabda Allah, sesuai dengan amanat yang diberikan oleh Yesus sebelum Ia naik ke surga. Pewartaan paling konkret adalah pewartaan yang disampaikan melalui kesaksian hidup. Umat beriman boleh saja mewartakan ajaran Kristus dengan cara berkhotbah atau bahkan memberi kesaksian. Namun, perlu diingat bahwa ajaran Kristus dan pengalaman iman tersebut lebih nyata dan hidup dalam bentuk perilaku sehari-hari. Pewartaan iman yang didasarkan pada pengalaman konkret lebih memiliki daya ubah dan menggugah iman umat ketimbang pewartaan yang hanya bersifat teoritis (Firmanto and Adon, 2. Melalui media-media komunikasi sosial, umat dapat membagikan pengalaman imannya yang didasarkan pada refleksi atas pengalaman pribadinya. Media-media digital menjadi sarana yang tepat di mana setiap orang lebih bebas untuk membagikan pengalaman imannya. Melalui media-media digital, komunitaskomunitas virtual turut terbentuk. Melalui komunitas-komunitas inilah diharapkan komunikasi iman dapat terjalin (KWI, 2. Meskipun media-media digital menjadi sarana yang baik dalam berkatekese dan melakukan komunikasi iman, terdapat pula kelemahan-kelemahan dan tantangan yang perlu diperhatikan. Sebagaimana sarana komunikasi iman dan katekese yang lain, media-media digital dan internet memiliki kelemahan. Media-media digital, seperti internet, website, dan media sosial tergantung pada jaringan internet dan sinyal. Ketersediaan koneksi jaringan dan sinyal menjadi penentu kelancaran penggunaan media-media digital. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat Gereja untuk mewartakan Kabar Sukacita Kristus sampai ke seluruh dunia. Seperti yang tertulis dalam Surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus. AuTetapi jawab Tuhan kepadaku: AuCukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Ay Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Ay . Kor 12: . Gereja menyadari bahwa dalam kelemahan tersebut, kuasa Kristus bekerja dengan lebih nyata. Cara Gereja Menghadapi Tantangan Zaman Sebagaimana GS art. 1 yang menyerukan tentang ke-senasib-an Gereja dengan dunia dan solidaritasnya. Gereja pun menyadari bahwa apa yang terjadi di dunia berpengaruh pula pada kehidupan Gereja. Gereja tidak dapat menghindar dari apa yang terjadi di dunia sebab Gereja adalah bagian dari dunia, hal itu termasuk dampak kemajuan teknologi yang juga telah mempengaruhi kehidupan Gereja. Kemajuan teknologi yang terjadi dipandang Gereja sebagai suatu penemuan yang mengagumkan dan merupakan juga bagian dari rencana Allah (KWI. Bagi Gereja, kemajuan teknologi menjadi lahan yang subur bagi pewartaan Injil Kristus. Melalui media-media digital. Gereja diharapkan mampu membawa Injil ke dalam ruang-ruang virtual atau dunia maya sehingga mampu menjangkau lebih banyak orang (Selatang et al. Situasi dunia seperti Pandemi Covid-19 yang sempat melanda turut memberi andil dalam penggunaan media-media digital oleh Gereja. Gereja AudipaksaAy untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru dan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Hal ini pun menuntut Gereja untuk menggunakan sarana-sarana yang ada demi meneguhkan umat yang kesulitan untuk berkumpul dan menguatkan imannya. Lewat misa online, katekese virtual, rekoleksi online, pendalaman iman online, dan lain-lain. Gereja meneguhkan iman umat yang hampir putus asa (Firmanto and Adon, 2. Era digital menyediakan peluang bagi Gereja untuk berketekse melalui dunia maya (Tarihoran, 2. Keberadaan media-media internet dan media sosial memberikan pengaruh positif bagi Gereja untuk memperluas ladang pengajaran iman. Selain dunia nyata. Gereja dapat memberikan katekese secara virtual. Aplikasi-aplikasi yang terintegrasi dengan gawai seperti tiktok, instagram, twitter, youtube, dan lain-lain menjadi wadah bagi Gereja untuk mengkreasikan bentuk-bentuk katekese yang menarik, meneguhkan, dan menyentuh lebih banyak umat manusia (Praseno, 2. Melalui media-media tersebut. Gereja berkatekese dan berevangelisasi dengan menyampaikan pengajaran-pengajaran iman serta membagikan pengalaman-pengalaman iman. Tujuan dari penggunaan media-media digital tersebut sebagai media katekese digital adalah untuk membantu Gereja meneguhkan dan memelihara iman umat. Dalam Dekret Inter Mirifica. Gereja menyadari bahwa kemajuan-kemajuan yang terjadi di dunia mempengaruhi kehidupan Gereja, khususnya dalam hal penggunaan media-media komunikasi sosial. Gereja memandang bahwa kemajuan teknologi merupakan juga sarana untuk mengembangkan Kerajaan Allah di dunia. Keberadaan media-media sosial dan internet dapat membantu setiap manusia untuk lebih mengenal Allah, menyiarkan Kerajaan Allah, serta memantapkan hati . IM art. Untuk melaksanakan tugas pewartaan Gereja tersebut, baik kaum klerus maupun kaum awam harus dapat bekerja sama. Lebih lanjut dijelaskan dalam IM 3 bahwa para gembala Gereja bertugas dan wajib memberikan pengajaran dan bimbingan kepada umat agar umat dapat menggunakan media-media komunikasi sosial sebagai sarana pengajaran dan penyebaran warta keselamatan. Di sini menjadi jelas tentang posisi kaum klerus dan kaum awam dalam menggunakan media-media digital: Kaum klerus sebagai penjaga ajaran iman yang benar dan kaum awam menggunakan sarana komunikasi sosial sebagai medianya untuk menyebarkan ajaran iman Katolik dan tentu saja mewartakan Kristus sendiri. Dalam EN art. 5 ditegaskan bahwa tugas pewartaan Injil merupakan suatu panggilan dan rahmat yang khas bagi Gereja. Hal ini mendorong Gereja untuk senantiasa berevolusi agar warta keselamatan Allah sampai kepada seluruh umat manusia sebagaimana yang telah diamanatkan Yesus. Ruang virtual yang tercipta dari berbagai kemajuan teknologi, khususnya di bidang media-media digital memungkinkan Gereja untuk berkatekese tanpa terbatas ruang dan waktu (Firmanto and Adon, 2. Gereja melihat tanda-tanda zaman dan memanfaatkan media-media digital. Melalui media-media tersebut. Gereja menyediakan ruang perjumpaan iman antara sesama umat, antara umat dengan Allah, dan antara semua orang dengan Allah. Dengan perjumpaan tersebut, terjalinlah sebuah hubungan batin yang memampukan manusia untuk melihat karya dan kasih Allah di dalam kehidupannya. Dalam PUK art. 75 diungkapkan tujuan katekese untuk menempatkan seseorang bukan hanya pada perjumpaan, tetapi pada persekutuan yang intim dengan Kristus. Pada akhirnya, perjumpaan dan persekutuan itu mengarahkan manusia pada perilaku pertobatan dalam hidupnya. Lalu, apa strategi Gereja untuk menghadapi situasi dunia saat ini yang sedang berada dalam era digital? Gereja menggunakan media-media tersebut menjadi suatu sarana berkatekese. Media-media yang ada saat ini sangat membantu Gereja untuk mengolah suatu bahan katekese yang menarik dan lebih hidup. Kaum muda, yang adalah masa depan Gereja, menjadi ujung tombak dalam penggunaan media-media digital tersebut. Gereja berperan bukan saja menjadi pelaku katekse, melainkan juga berperan sebagai pembina yang mendampingi dan membina kaum muda untuk dapat berketekese di dunia maya (Jimmy. Rahawarin and Nugroho, 2. Sebagai pembina. Gereja menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk dapat menyalurkan bakat-bakat kaum muda untuk berkatekese dan menggunakan media-media digital sebagai sarana yang membuat katekese klasik menjadi lebih Sebagai pendamping. Gereja bertugas untuk menyediakan informasi tentang ajaran iman dan tradisi Kristen yang benar sehingga katekese digital yang diberikan kaum muda dapat terhindar dari kesesatan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil yang telah diperoleh sebelumnya, penulis mengambil kesimpulan bahwa era digital membawa kemajuan teknologi yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk komunikasi, pendidikan, kesehatan, informasi, dan agama. Gereja memandang teknologi sebagai anugerah dan memanfaatkannya untuk pewartaan iman melalui media digital, menciptakan katekese digital. Katekese digital memungkinkan pengajaran iman tanpa batasan ruang dan waktu, dengan kaum muda sebagai agen utama. Meskipun menghadapi tantangan dan risiko. Gereja terus beradaptasi untuk menggunakan teknologi secara efektif dalam menjalankan Gereja perlu terus mengembangkan cara-cara baru untuk menyampaikan ajaran iman melalui media digital agar tetap relevan di masa depan. Pemahaman mengenai penggunaan media-media digital sebagai wadah berkatekese perlu untuk selalu digaungkan sebab zaman akan terus berubah dan perkembangan teknologi akan terus bergerak maju. Gereja harus pandai membaca tanda-tanda zaman sehingga Gereja pun tetap mampu menjalankan misinya di tengah dunia dengan menggunakan sarana-sarana yang ada. Saran yang dapat penulis berikan adalah agar Gereja selalu terus mengembangkan diri dengan memanfaatkan media dan sarana-sarana yang ada untuk membantunya dalam mengembangkan Gereja dan tugas pewartaan yang telah dipercayakan Kristus. Tradisi yang telah dipelihara Gereja dapat terus dikembangkan dengan tetap memperhatikan ajaran dan tradisi Gereja yang benar berdasarkan Kitab Suci. Tradisi suci, dan Magisterium Gereja. Bagi umat, katekis, biarawan/i, dan kaum klerus hendaknya bekerja sama dalam menyediakan konten-konten yang berisi ajaran iman dalam platform digital yang ada. Katekese Digital yang digalakkan Gereja hendaknya menjadi ajang kerja sama dan sarana perjumpaan antara umat dengan Allah sehingga Kerajaan Allah sungguh dapat diadakan di tengah DAFTAR PUSTAKA