J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian Volume 5. Number 2. Oktober 2022 Pages: 1-13BI O D I V ER S I T AS B I O D I V ER S I T AS ISSN: 1412-033X DOI: 10. PARAMETER KUALITATIF MUTAN TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L. SETELAH IRADIASI SINAR GAMMA Siti Nurchasanah1*. Agung Prasetyo Fitrianto1. Slamet Rohadi Suparto1. Purwanto Purwanto1. Eka Oktaviani1 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Jawa Tengah. Indonesia E-Mail: sansan. unsoed@gmail. Diterima : 14 Juni 2022 Disetujui : 15 Agustus 2022 ABSTRACT Potato (Solanum tuberosum L. ), from the Solanoceae family, is a type of horticultural commodity that produces tubers. The need for potatoes increases every year in line with the increasing population and the development of industries that require raw materials for potatoes. Potatoes are widely cultivated in the highlands above 800 m above sea level, such as Dieng. Kerinci. Pengalengan, and Curup, which have a temperature of 17AC to 20AC, so that can produce maximum. However, in the highlands, environmental threats such as drought and landslides began to emerge, prompting researchers to develop potato plants in the medium plains. The development of potato varieties for medium plains continues to be carried out, one of which is by mutation induction. Mutation induction can be done by treating certain mutagens to plant parts such as reproductive organs. Gamma ray irradiation is a mutation that is often used to induce genetic changes in inherited somatic cells, resulting in increased viability and the production of new mutants. This study aims to determine the effect of gamma ray radiation on various qualitative variables of 3 . varieties of potato Gamma ray radiation treatment gave different effects to control plants on leaf shape, frequency of deviated leaves, growth habits, tuber shape, and disease resistance. Mutants that gave superiority in terms of disease resistance were the D1-A11. D2-A11. D2-A4. D1-G1. D1-G2. D3-G11. D3-G12, and D3-G12 D2-M11. Key words: qualitative, potato, gamma irradiation, medium land ABSTRAK Kentang (Solanum tuberosum L. ) merupakan jenis komoditi hortikultura yang menghasilkan umbi dari keluarga Solanaceae. Kebutuhan kentang terus meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku kentang. Kentang banyak dibudidayakan di dataran tinggi di atas 800 m dpl, seperti Dieng. Kerinci. Pengalengan, dan Curup yang memiliki suhu 17AC sampai dengan 20AC sehingga tanaman kentang dapat berproduksi maksimal. Namun, di dataran tinggi mulai muncul ancaman lingkungan seperti kekeringan dan tanah longsor, sehingga mendorong para peneliti untuk mengembangkan tanaman kentang di dataran medium. Pengembangan varietas tanaman kentang untuk dataran medium terus dilakukan, salah satunya dengan induksi mutasi. Induksi mutasi dapat dilakukan dengan perlakuan bahan mutagen tertentu terhadap bagian tanaman seperti organ reproduksi. Iradiasi sinar gamma merupakan mutasi yang sering digunakan untuk menginduksi perubahan genetik di dalam sel somatik yang diturunkan, sehingga terjadi peningkatan viabilitas dan menghasilkan mutan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh radiasi sinar gamma terhadap berbagai variabel kualitatif 3 . varietas tanaman kentang. Perlakuan radiasi sinar gamma memberikan pengaruh yang berbeda dengan tanaman kontrol pada variabel bentuk daun, frekuensi daun menyimpang, kebiasaan tumbuh, bentuk umbi, dan sifat ketahanan terhadap penyakit. Mutan yang memberikan keunggulan dalam segi ketahanan terhadap penyakit adalah mutan D1-A11. D2- A11. D2-A4. D1-G1. D1-G2. D3-G11. D3-G12, dan D2-M11. Kata kunci : kualitatif, kentang, iradiasi gamma, dataran medium J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian Volume 5. Number 2. Oktober 2022 Pages: 1-13BI O D I V ER S I T AS B I O D I V ER S I T AS PENDAHULUAN Kentang (Solanum merupakan jenis komoditi hortikultura yang menghasilkan umbi dari keluarga Solanaceae. Kebutuhan kentang terus meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku kentang. Kentang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai kontribusi besar terhadap produksi hortikultura secara keseluruhan dan tingkat inflasi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2021, nilai impor kentang bahkan mencapai US$ 137,49 juta, naik sebesar 19. 98% atau sebesar US$ 22,89 juta. Sedangkan untuk nilai ekspor, bahkan mengalami penurunan dari tahun 2020 sebesar 26,53% menjadi US$ 8,11 juta (BPS, 2. Umbi kentang termasuk jenis bahan pangan yang mengandung banyak karbohidrat karbohidrat alternatif selain beras, jagung dan Menurut CIP . , tanaman kentang termasuk kedalam kelompok pangan terpenting ketiga di dunia setelah beras dan gandum. Kentang banyak dibudidayakan di dataran tinggi di atas 800 m dpl, seperti Dieng. Kerinci. Pengalengan, dan Curup yang memiliki suhu 17 AC sampai dengan 20 AC sehingga tanaman kentang dapat berproduksi maksimal (Stark dan Love, 2. Namun, di dataran tinggi mulai muncul ancaman lingkungan seperti kekeringan dan tanah longsor, sehingga mendorong para peneliti untuk mengembangkan tanaman kentang di dataran medium (Ezetta, 2. Pengembangan varietas tanaman kentang untuk dataran medium terus dilakukan, salah satunya dengan mutasi. Mutasi adalah perubahan genetik, baik perubahan pada gen tunggal, sejumlah gen maupun susunan kromosom. Mutasi dapat terjadi pada setiap bagian tanaman terutama yang selnya masih aktif membelah (Micke dan Donini, 1. Mutasi dapat terjadi secara spontan di alam atau melalui induksi dan bersifat terwariskan sebagai sumber keragaman tanaman (Koorneef, 1. Alternatif pemuliaan tanaman kentang dapat dilakukan dengan induksi mutasi. Induksi mutasi dapat dilakukan dengan perlakuan bahan mutagen tertentu terhadap bagian tanaman seperti organ reproduksi (Soeranto, 2. Mutagen yang sering digunakan dalam pemuliaan tanaman yaitu mutagen kimia dan mutagen fisik (Koorneef, 1. Penggunaan mutagen fisik pada tanaman sangat dianjurkan dibandingkan dengan mutagen kimia karena frekuensi mutasinya tinggi . an Harten, 1. Mutagen fisik yang telah banyak digunakan secara ISSN: 1412-033X DOI: 10. luas adalah sinar-X dan sinar gamma (Micke dan Donini, 1. Menurut Ahloowalia et al. 89% dari 1. 585 varietas yang dilepas sejak tahun 1985 adalah dikembangkan dengan induksi mutasi secara langsung, 64% di antaranya adalah dikembangkan dengan menggunakan sinar gamma sedangkan penggunaan sinar-X hanya 22%. Iradiasi sinar gamma merupakan mutasi yang sering digunakan untuk menginduksi perubahan genetik di dalam sel somatik yang diturunkan (Ismachin, 1. , sehingga terjadi peningkatan viabilitas dan menghasilkan mutan baru (Wattimena, 1. Iradiasi dapat menginduksi perubahan struktur kromosom yaitu terjadi pematahan kromosom, yang pada dosis rendah dapat menyebabkan terjadinya delesi, dan pada dosis tinggi dapat menimbulkan duplikasi, inversi dan translokasi (Ismachin, 1988. Wattimena, 1. Penelitian pendahulu telah dilakukan oleh Suharjo, et al pada tahun 2010 di daerah Bengkulu terhadap tanaman kentang varietas Granola dan Atlantik dengan dosis iradiasi 0, 30, 60 gray (G. pada ketinggian medium yaitu 600 m dpl. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada dosis tinggi . terjadi penundaan munculnya tanaman, penurunan persen tanaman hidup, dan penurunan tinggi tanaman. Namun, pada penelitian tersebut menghasilkan kombinasi perlakuan mutasi sinar gamma pada dosis penyinaran . memberikan hasil terbaik dibandingkan dengan dosis perlakuan lainnya seperti dosis . dan dosis pembanding . Berdasarkan pemaparan di atas, maka perlu dikaji keragaan tanaman kentang varietas lain dengan dosis iradiasi yang berbeda. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang keragaman tanaman kentang setelah ditanam di dataran medium dengan ketinggian kurang dari 600 m dpl. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh radiasi sinar gamma terhadap berbagai variabel kualitatif tanaman kentang. BAHAN DAN METODE Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan sejak bulan November 2014 sampai dengan bulan Maret 2015. Persiapan dan pengukuran materi penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Sedangkan pemberian radiasi sinar gamma dilaksanakan di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (Pati. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Penanaman J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words kentang dilaksanakan di Lahan Percobaan Desa Karang Tengah Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas dengan ketinggian tempat 388 m dpl . eter di atas permukaan lau. Alat dan Bahan Bahan-bahan penelitian berupa umbi kentang keturunan G2 . iperoleh dari penangkar benih Pangalengan. Bandung. Banjarnegar. meliputi varietas Granola. Atlantik. MZ yang telah diradiasi dengan sinar gamma dosis 15, 25 dan 35 Gy, pupuk organik . otoran kambin. , dolomit . , pupuk kimia (NPK mutiara. ZA. SP-36. KCl. KN0 3 Mera. , pupuk daun (Gandasil D), bakterisida (Agrept dan Daconi. , fungisida (Klorotalonil. Dithane M-45, dan Furada. , serta insektisida (Curacron dan Rampag. Alat-alat yang digunakan meliputi Iradiator Panorama Serbaguna (IRPASENA) dengan sumber radiasi Co60 yang ada di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Alatalat lain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: cangkul, sabit, polibag, hygrometer, termometer. GPS. Buku Munsell Plant Tissue Chart, label, penggaris, alat tulis, kamera digital, timbangan analitik, timbangan electronic kitchen scale, sprayer tipe gendong, ajir, tali rafia, kardus, kain berwarna merah, kardus, dan oven. Rancangan Percobaan Penelitian ini merupakan penelitian lapang yang disusun menggunakan rancangan Augmented dengan rancangan dasar RAK (Rancangan Acak Kelompo. dan terdiri dari 6 blok. Benih berasal dari 3 varietas yaitu Granola. Atlantik, dan MZ dan digunakan sebagai varietas pembanding yang ditanam secara acak dalam satu baris tunggal sepanjang 6 m yang terdiri dari 24 individu. Faktor yang dicoba adalah non faktorial dengan dosis radiasi (D): tanpa radiasi (D. , dosis 15 Gy (D. , dosis 25 Gy (D. , dan dosis 35 Gy (D. Masingmasing dosis perlakuan dalam satu varietas terdiri dari 12 individu sedangkan dosis kontrol terdiri dari 12 individu yang diulang sebanyak 6 kali. Persiapan Tanam Tanah yang dicangkul dan digemburkan dimasukkan ke dalam polibag bersamaan dengan pupuk kotoran kambing dan pupuk tambahan lain seperti dolomit. KCL. SP36, dan ZA dengan takaran masing-masing per polibag yang tertera pada Aulampiran kebutuhan pupukAy. Jarak tanam yang digunakan dalam penanaman kentang pada penelitian ini adalah 80 cm x 30 cm antar polibag dan disusun memanjang dalam blok. Setiap blok terdiri dari 24 individu tanaman yang terdiri dari dosis kontrol, dosis 15 Gy, dosis 25 Gy, dan dosis 35 Gy dari ketiga varietas yang digunakan. Penanaman dan Pemeliharaan Penanaman dilakukan pada lubang tanam yang sudah dilubangi dengan kedalaman kurang lebih 10 cm. Bibit kentang ditanam di dalam lubang tanam dengan mata tunas menghadap ke atas, kemudian ditutup kembali dengan tanah setebal 5 Bibit kentang ditanam secara tunggal . atu polibag satu benih kentan. , dan penanaman dilakukan sesuai denah rancangan yang telah dibuat Pemeliharaan dilakukan dengan pengairan, penyiangan, pemberian ajir, pemberian pestisida, dan pembumbunan. Pengairan dilakukan secara rutin tergantung kebutuhan tanaman dan kondisi tanah. Penyiangan dilakukan satu minggu sekali atau tergantung pertumbuhan gulma. Pemberian ajir dilakukan setelah tanaman mencapai tinggi lebih kurang 15 cm, bertujuan untuk menjaga tanaman kentang agar tidak roboh. Pemberian pestisida dilakukan seminggu sekali atau seminggu dua kali, tergantung kondisi hujan. Jika hujan sering terjadi maka penyemprotan dapat mencapai tiga atau empat kali dalam seminggu. Pembumbunan dilakukan setelah tanaman berumur 30 hari, bertujuan untuk memperbaiki perakaran tanaman sehingga dapat merangsang pembentukan akar baru dan melindungi serta membantu pembesaran umbi. Variabel Pengamatan Pengamatan variabel kualitatif meliputi warna daun, susunan daun, frekuensi daun menyimpang, bentuk umbi, warna kulit umbi, warna daging umbi, berbunga atau tidak, warna mahkota bunga, kebiasaan tumbuh, dan tingkat ketahanan. Warna daun Warna daun diamati pada umur . dengan menggunakan Munsell Plant Tissue Chart. Susunan daun Susunan daun dihitung pada saat tanaman umur 60 hari dengan parameter pengukuran susunan daun dari yang memiliki susunan daun tipe tertutup, sedang, atau terbuka berdasarkan buku keunikan, keseragaman, dan kestabilan kentang. Frekuensi daun menyimpang Frekuensi daun menyimpang dihitung pada saat tanaman kentang telah berumur 60 hari pada saat pertumbuhan sempurna dengan tipe frekuensi daun menyimpang tipe jarang, sedang, dan tinggi berdasarkan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan Bentuk umbi J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words Bentuk umbi diamati setelah panen dengan bantuan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan Warna kulit umbi Warna kulit umbi diamati setelah panen dengan bantuan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan Warna daging umbi Warna daging umbi diamati setelah panen dengan bantuan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan kentang. Berbunga atau tidak Pengukuran variabel berbunga atau tidak dilakukan pada saat tanaman berumur 50 - 60 hst. Warna mahkota bunga Warna mahkota bunga diamati saat tanaman berumur 50 - 60 hst, dengan bantuan dari buku keunikan, keseragaman, dan kestabilan kentang. Kebiasaan tumbuh Kebiasaan tumbuh diukur pada saat tanaman telah mencapai pertumbuhan sempurna yaitu 60 hst dengan parameter kebiasaan tumbuh tanaman kentang tipe tegak, agak tegak, dan menyebar berdasarkan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan Tingkat Ketahanan Pengamatan tingkat ketahanan tanaman terhadap penyakit layu bakteri dan Phytopthora infestans dilakukan mulai awal muncul tunas hingga tanaman panen. Pengamatan dilakukan per tanaman, apabila pada masa hidup tanaman kentang tidak terlihat gejala terserang patogen penyebab penyakit layu bakteri dan Phytopthora infestans tanaman tersebut disebut tahan, namun apabila pada masa hidup tanaman kentang tersebut terlihat gejala serangan patogen penyebab penyakit layu bakteri dan Phytopthora infestans maka tanaman itu disebut rentan. Pengamatan ketahanan tanaman terhadap patogen dilakukan berdasarkan kondisi empiris. HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah mutan yang berhasil tumbuh dari varietas Atlantik, varietas Granola, varietas Tedjo MZ pada dosis 15Gy secara berurutan adalah 11, 11. Jumlah mutan yang berhasil tumbuh dari varietas Atlantik, varietas Granola, varietas Tedjo MZ pada dosis 25 Gy secara berurutan adalah 10, 9. Kemudian, jumlah mutan yang berhasil tumbuh dari varietas Atlantik, varietas Granola, varietas Tedjo MZ pada dosis 35Gy secara berurutan adalah 1, 8, dan 4. Pengamatan variabel kualitatif dilakukan berdasarkan pedoman dari buku panduan pengujian individual kentang berdasarkan kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan (PVT, 2. Pengamatan warna daun dilakukan dengan menggunakan Buku Munsell Color Charts for Plant Tissues. Tabel 1. Penampilan variabel bentuk umbi (BU), warna kulit umbi (WKU), warna daging umbi (WDU), berbunga atau tidak (BT), dan warna mahkota bunga (WMB) pada mutan hasil radiasi sinar gamma pada dosis 15 Gy Var. Cek Atlantik Granola Tedjo Bundar Oval WKU Kuning . Kuning . Variabel WDU Putih . Kuning . Bunga Tdk WMB Tdk ada Putih Bundar Kuning . Kuning . Tdk Tdk ada Bunga Bunga Bunga Bunga Bunga Bunga Bunga Bunga Tdk Bunga Bunga Putih Putih Putih Putih Putih Putih Putih Putih Tdk ada Putih Putih Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada D1-A1 D1-A2 D1-A3 D1-A4 D1-A5 D1-A7 D1-A8 D1-A9 D1-A10 D1-A11 D1-A12 Bundar Bundar Bundar Oval Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar D1-G1 D1-G2 D1-G3 D1-G4 D1-G5 D1-G6 D1-G8 D1-G9 D1-G10 D1-G11 D1-G12 Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar Bundar D1-M1 D1-M2 D1-M3 D1-M4 D1-M5 D1-M6 Bundar Bundar Oval panjang Bundar Oval panjang Varietas Atlantik Kuning . Putih . Kuning . Putih . Kuning . Putih . Kuning . Putih . Kuning . Putih . Kuning . Putih . Kuning . Putih . Kuning . Putih . Kuning . Putih . Kuning . Putih . Kuning . Putih . Varietas Granola Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Varietas Tedjo MZ Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Kuning . Tabel 2. Penampilan variabel warna daun (WD), susunan daun (SD), frekuensi daun menyimpang (FDM), kebiasaan tumbuh (KT), dan tingkat ketahanan pada mutan hasil radiasi sinar gamma pada dosis 15 Gy Variabel Var. Cek FDM Atlantik 4/6 GY Tertutup Jarang Menyebar Granola 4/6 GY Sedang Jarang Tegak Tedjo 4/4 GY Sedang Jarang Tegak D1-A1 4/6 GY Varietas Atlantik Sedang Jarang Menyebar D1-A2 4/6 GY Tertutup Tinggi Agak D1-A3 3/4 GY Tertutup Jarang Menyebar D1-A4 4/6 GY Sedang Jarang D1-A5 D1-A7 D1-A8 4/4 GY 4/6 GY 4/6 GY Tertutup Tertutup Tertutup Jarang Jarang Jarang Agak Menyebar Menyebar Menyebar Tingkat Ketahanan Rentan Tahan Rentan Tahan Terserang Terserang Tahan Tahan Tahan Tahan J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words D1-A9 4/6 GY Tertutup Tinggi Menyebar D1-A10 4/6 GY Sedang Jarang Agak D1-A11 3/4 GY Sedang Jarang Menyebar D1-A12 D1-G1 D1-G2 D1-G3 4/6 GY Tertutup Jarang 4/4 GY 4/4 GY 4/4 GY Varietas Granola Sedang Tinggi Sedang Jarang Sedang Jarang D1-G4 4/4 GY Sedang Jarang D1-G5 4/6 GY Sedang Jarang D1-G6 4/6 GY Sedang Jarang Menyebar Tegak Tegak Tegak Agak Agak Agak D1-G7 D1-G8 4/4 GY Sedang Jarang D1-G9 4/4 GY Sedang Jarang D1-G10 4/6 GY Sedang Jarang D1-G11 4/6 GY Sedang Jarang Tegak Agak Agak Tegak D1-G12 4/4 GY Sedang Jarang Tegak D1-M1 4/6 GY Sedang Jarang D1-M2 4/6 GY Terbuka Jarang Agak Tegak D1-M3 D1-M4 4/4 GY Sedang Jarang D1-M5 4/6 GY Sedang Jarang D1-M6 4/6 GY Variabel Sedang Jarang Tegak Agak Tegak FDM Atlantik 4/6 GY Tertutup Jarang Menyebar Granola 4/6 GY Sedang Jarang Tegak Tedjo 4/4 GY Sedang Jarang Tegak D1-A1 4/6 GY Varietas Atlantik Sedang Jarang D1-A2 4/6 GY Tertutup Tinggi Agak D1-A3 3/4 GY Tertutup Jarang Menyebar D1-A4 4/6 GY Sedang Jarang D1-A5 D1-A7 D1-A8 4/4 GY 4/6 GY 4/6 GY Tertutup Tertutup Tertutup Jarang Jarang Jarang Terserang Terserang Tahan Terserang Tahan Tahan Tahan Tahan Tahan Tahan Terserang Tahan D1-G8 4/4 GY Sedang Jarang D1-G9 4/4 GY Sedang Jarang D1-G10 4/6 GY Sedang Jarang D1-G11 4/6 GY Sedang Jarang Tegak Agak Agak Tegak D1-G12 4/4 GY Sedang Jarang Tegak D1-M1 4/6 GY Sedang Jarang D1-M2 4/6 GY Terbuka Jarang Aagak Tegak D1-M3 D1-M4 4/4 GY Sedang Jarang D1-M5 4/6 GY Sedang Jarang D1-M6 4/6 GY Variabel Sedang Jarang Tegak Agak Tegak FDM Var. Cek Tahan Tahan Atlantik 4/6 GY Tertutup Jarang Menyebar Tahan Terserang Granola 4/6 GY Sedang Jarang Tegak Tedjo 4/4 GY Sedang Jarang Tegak Tahan D1-A1 4/6 GY Varietas Atlantik Sedang Jarang D1-A9 4/6 GY Tertutup Menyebar Agak Menyebar Menyebar Menyebar Tinggi Menyebar D1-A10 4/6 GY Sedang Jarang Agak D1-A11 3/4 GY Sedang Jarang Menyebar D1-A12 D1-G1 D1-G2 D1-G3 4/6 GY Tertutup Jarang 4/4 GY 4/4 GY 4/4 GY Varietas Granola Sedang Tinggi Sedang Jarang Sedang Jarang D1-G4 4/4 GY Sedang Jarang D1-G5 4/6 GY Sedang Jarang D1-G6 4/6 GY Sedang Jarang D1-G7 Menyebar Tegak Tegak Tegak Agak Agak Agak Menyebar Tahan Terserang Tahan D1-A2 4/6 GY Tertutup Tinggi Agak D1-A3 3/4 GY Tertutup Jarang Menyebar Tahan D1-A4 4/6 GY Sedang Jarang Tahan D1-A5 D1-A7 D1-A8 4/4 GY 4/6 GY 4/6 GY Tertutup Tertutup Tertutup Jarang Jarang Jarang Agak Menyebar Menyebar Menyebar D1-A9 4/6 GY Tertutup Tinggi Menyebar D1-A10 4/6 GY Sedang Jarang Aagak D1-A11 3/4 GY Sedang Jarang Menyebar Jarang Menyebar Tingkat Ketahanan Rentan Tahan Rentan D1-A12 4/6 GY Tertutup Tahan Terserang Terserang D1-G1 D1-G2 D1-G3 4/4 GY 4/4 GY 4/4 GY Varietas Granola Sedang Tinggi Sedang Jarang Sedang Jarang D1-G4 4/4 GY Sedang Jarang Tahan D1-G5 4/6 GY Sedang Jarang D1-G6 4/6 GY Sedang Jarang D1-G7 D1-G8 4/4 GY Sedang Jarang D1-G9 4/4 GY Sedang Jarang D1-G10 4/6 GY Sedang Jarang D1-G11 4/6 GY Sedang Jarang Tegak Agak Agak Tegak D1-G12 4/4 GY Sedang Jarang Tegak D1-M1 4/6 GY Sedang Jarang D1-M2 4/6 GY Terbuka Jarang Agak Tegak D1-M3 D1-M4 4/4 GY Sedang Jarang D1-M5 4/6 GY Sedang Jarang Tegak Agak Tahan Tahan Tahan Terserang Terserang Tahan Terserang Tahan Tahan Tahan Tahan Tahan Tahan Terserang Tahan Tahan Tahan Terserang Varietas Tedjo MZ Varietas Tedjo MZ Var. Cek Tahan Tegak Tegak Tegak Agak Agak Agak Tahan Tahan Terserang Tahan Tahan Tahan Tingkat Ketahanan Rentan Tahan Rentan Tahan Terserang Terserang Tahan Tahan Tahan Tahan Terserang Terserang Tahan Terserang Tahan Tahan Tahan Tahan Tahan Tahan Terserang Tahan Tahan Tahan Tahan Terserang Varietas Tedjo MZ Tahan Tahan Terserang Tahan Tahan J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words D1-M6 4/6 GY Sedang Jarang Tegak Tahan Keterangan: GY=Green Yellow. Tabel 3. Penampilan variabel bentuk umbi (BU), warna kulit umbi (WKU), warna daging umbi (WDU), berbunga atau tidak (BT), dan warna mahkota bunga (WMB) pada mutan hasil radiasi sinar gamma pada dosis 25 Gy Var. Cek Variabel Atlantik Bundar Granola Oval Tedjo Bundar D2-A1 Bundar D2-A3 Bundar D2-A4 Bundar D2-A5 Bundar D2-A6 Bundar D2-A8 Bundar D2-A9 Bundar D2-A10 Bundar D2-A11 Bundar D2-A12 Bundar D2-G1 Bundar D2-G2 Bundar D2-G3 D2-G4 Oval Bundar D2-G5 Bundar D2-G6 Bundar D2-G7 Oval D2-G8 Oval D2-G10 Oval D2-M1 Bundar D2-M3 Oval D2-M4 Bundar D2-M5 Oval D2-M11 Bundar D2-M12 Bundar WKU WDU Kuning Putih Kuning Kuning . Kuning Kuning . Varietas Atlantik Kuning Putih Kuning Putih Kuning Putih Kuning Putih Kuning Putih Kuning Putih Kuning Putih Kuning Putih Kuning Putih Kuning Putih Varietas Granola Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Varietas Tedjo MZ Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . WMB Bunga Putih Tdk Tdk ada Tdk Tdk ada Tdk Tdk ada Tdk Tdk ada Bunga Putih Tedjo 4/4 GY Sedang D2-A1 4/6 GY Varietas Atlantik Tertutu Jarang D2-A3 4/6 GY Sedang Jarang D2-A4 4/6 GY Sedang Jarang D2-A5 4/6 GY D2-A6 4/6 GY D2-A8 4/4 GY D2-A9 4/6 GY D2-A10 4/6 GY D2-A11 4/6 GY D2-A12 4/6 GY D2-G1 4/6 GY Jarang Jarang Menye Menye Tahan Tahan Tahan Varietas Granola Sedang Jarang Terbuk Jarang Tegak Tahan Tegak Tahan Sedang Sedang Jarang Jarang Tegak Tegak Jarang Tegak Jarang Tegak Tahan Tahan Terseran g layu Terseran g layu Tahan Tahan Terseran g layu Tdk ada D2-G5 4/4 GY Tdk Tdk ada Tdk Tdk ada D2-G6 4/4 GY Bunga Putih D2-G7 D2-G8 4/6 GY 4/4 GY Sedang Sedang Jarang Jarang Tegak Tegak Bunga Putih D2-G10 4/4 GY Sedang Jarang Tegak 4/4 GY Varietas Tedjo MZ Terbuk Jarang Tegak Tahan Jarang Tegak Tahan Jarang Tegak Tahan Jarang Tegak Tahan Jarang Tegak Tahan Jarang Tegak Terseran g layu Tdk Tdk ada Tdk Tdk ada Tdk Tdk Tdk ada Tdk ada Tdk Tdk ada Tdk Tdk ada Tdk Tdk ada Tdk Tdk ada Tdk Tdk ada D2-M1 D2-M3 4/4 GY D2-M4 4/4 GY D2-M5 4/4 GY D2-M11 4/6 GY D2-M12 4/4 GY Bundar Tdk Tdk ada Granola Oval Tdk Tdk ada Tedjo Bundar Tabel 4. Penampilan variabel warna daun (WD), susunan daun (SD), frekuensi daun menyimpang (FDM), kebiasaan tumbuh (KT), dan tingkat ketahanan pada mutan hasil radiasi sinar gamma pada dosis 25 Gy D3-A3 Bundar D3-G1 Bundar D3-G3 Bundar D3-G5 Bundar D3-G6 Bundar D3-G7 Bundar D3-G8 Bundar Variabel FDM Jarang Menye Jarang Tegak Terbuk Terbuk Terbuk Terbuk Sedang Terbuk Terbuk Tabel 5. Penampilan variabel bentuk umbi (BU), warna kulit umbi (WKU), warna daging umbi (WDU), berbunga atau tidak (BT), dan warna mahkota bunga (WMB) pada mutan hasil radiasi sinar gamma pada dosis 35 Gy Atlantik Tingkat Ketahanan Rentan Tahan Keterangan: GY=Green Yellow. Tdk ada Sedang Tertutu Tegak Tdk Tdk 4/6 GY Jarang Tahan Terseran g layu 4/4 GY 4/4 GY Variabel Granola Tertutu Tahan D2-G3 D2-G4 Var. Cek Tertutu Tertutu Jarang Terseran g layu Putih Tdk ada Menye Tahan Bunga Tdk 4/6 GY Tertutu Jarang Menye Tegak Tahan 4/4 GY Tdk ada Atlantik Sedang Jarang Agak Tahan D2-G2 Tdk Tertutu Jarang Agak Tegak Agak Rentan Putih Tdk ada Tertutu Tegak Bunga Tdk Var. Cek Jarang WKU Kuning WDU Putih Kuning Kuning . Kuning Kuning . Varietas Atlantik Kuning Putih Varietas Granola Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning WMB Bunga Putih Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words . D3-G11 Bundar D3-G12 Bundar D3-M1 Bundar D3-M5 Bundar D3-M7 Bundar D3-M8 Bundar Kuning . Kuning Kuning . Varietas Tedjo MZ Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Kuning . Kuning Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tdk Tabel 6. Penampilan variabel warna daun (WD), susunan daun (SD), frekuensi daun menyimpang (FDM), kebiasaan tumbuh (KT), dan tingkat ketahanan pada mutan hasil radiasi sinar gamma pada dosis 35 Gy Variabel Var. Cek Atlantik Granola Tedjo Tingkat Ketahanan Rentan layu bakteri FDM Tertutup Jarang Menyebar Sedang Jarang Tegak Tahan Sedang Jarang Tegak Rentan layu bakteri Varietas Atlantik D3-A3 Tertutup Tinggi Agak tegak Tahan Varietas Granola D3-G1 D3-G3 D3-G5 D3-G6 D3-G7 D3-G8 D3-G11 D3-G12 Sedang Jarang Tegak Tahan Sedang Jarang Tegak Tahan Sedang Jarang Tegak Tahan Sedang Jarang Tegak Tahan Sedang Jarang Tegak Terserang layu bakteri Tertutup Jarang Tegak Tahan Sedang Jarang Tegak Tahan Sedang Jarang Agak tegak Tahan Varietas Tedjo MZ D3-M1 D3-M5 Sedang Jarang Agak tegak Tahan Sedang Jarang Agak tegak Tahan Keterangan: GY=Green Yelow Warna Daun Berdasarkan Munsell Plant Tissue Chart, warna daun sesuai dengan Tabel 2, 4, dan 6 adalah 3/4 Gy, 4/4 Gy, dan 4/6 Gy. Pada dosis 15 Gy, ada 2 . mutan varietas Atlantik dengan warna daun 3/4 Gy, 1 . mutan dengan warna 4/4 Gy, dan 8 . mutan dengan warna 4/6 Gy ada 8 mutan. P a d a d o s i s 25 Gy, ada 1 . mutan dengan warna daun 4/4 Gy, dan 9 . mutan dengan warna daun 4/6 Gy. Sedangkan dosis 35 Gy, ada 1 . mutan yang memiliki warna daun 4/6 Gy. Pada dosis 15 Gy, ada 7 . mutan varietas Granola dengan warna daun 4/4 Gy, dan 4 . mutan dengan warna daun 4/6 Gy. Pada dosis 25 Gy, ada 7 . mutan dengan warna daun 4/4 Gy dan 2 . mutan dengan warna daun 4/6 Gy. Sedangkan pada dosis 35 Gy, ada 8 . mutan dengan warna daun 4/4 Gy. Pada dosis 15 Gy, ada 1 . mutan varietas Tedjo MZ dengan warna daun 4/4 Gy dan 4 . mutan dengan warna daun 4/6 Gy. Pada dosis 25 Gy, ada 5 . mutan dengan warna daun 4/4 Gy dan 1 . mutan dengan warna daun 4/6 Gy. Sedangkan pada dosis 35 Gy, ada 2 . mutan dengan warna daun 4/6 Gy. Warna daun kentang hasil radiasi mengalami perbedaan dengan kontrol pada dosis 25 dan 35 Gy pada varietas Atlantik dan Granola dengan nilai pada varietas Atlantik yaitu 4/6 Gy dan nilai pada varietas Granola yaitu 4/4 Gy. Sedangkan pada varietas Tedjo MZ terjadi perbedaan hanya pada dosis 15 Gy. Hal tersebut sesuai dengan laporan Melina . yang menyatakan bahwa semakin tinggi dosis radiasi sinar gamma yang diberikan, maka semakin mengubah warna dan bentuk daun dari kedua spesies philodendron. Berdasarkan Buku Panduan Pengujian Individu oleh Pusat PVT . , untuk variabel daun yang diamati adalah intensitas warna hijau daun yang digolongkan menjadi tiga, yaitu terang, sedang, dan gelap. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata pada warna daun. Namun, warna daun yang teramati dari keseluruhan tanaman sebagian besar termasuk kategori hijau sedang. Susunan Daun Berdasarkan Tabel 2, 4 dan 6, ada tiga bentuk susunan daun tanaman kentang yang diteliti, yaitu tertutup, sedang, dan terbuka. Pada dosis 15 Gy, ada 4 . mutan varietas Atlantik dengan susunan daun sedang dan 7 . mutan dengan susunan daun tertutup. Pada dosis 25 Gy, ada 3 . mutan dengan susunan daun sedang dan 7 . mutan dengan susunan daun tertutup. Sedangkan pada dosis 35 Gy, ada 7 . mutan dengan susunan daun sedang dan 1 . mutan dengan susunan daun Pada dosis 15 Gy, ada 11 . mutan varietas Granola dengan susunan daun sedang. Pada dosis 25 Gy, ada 6 . mutan dengan susunan daun sedang dan 3 . mutan dengan susunan daun terbuka. Sedangkan pada dosis 35 Gy, ada 7 . mutan dengan susunan daun sedang dan 1 . mutan dengan susunan daun tertutup. Pada dosis 15 Gy, ada 4 . mutan varietas Tedjo MZ dengan susunan daun sedang dan 1 . dengan susunan daun terbuka. Pada dosis 25 Gy, ada 1 . mutan dengan susunan daun sedang dan 5 . mutan dengan susunan daun terbuka. Sedangkan dosis 35 Gy, ada 2 . mutan dengan susunan daun sedang. Susunan daun, baik terbuka, sedang, maupun tertutup merupakan bagian dari karakter morfologi yang merupakan manifestasi dari serangkaian proses yang terjadi. Radiasi sinar gamma merupakan salah satu stimulus dari faktor J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words eksternal yang dapat mempengaruhi mekanisme ekspresi gen pada aras molekul. Menurut Wi et al. , sinar gamma termasuk ke dalam sinar radiasi yang terionisasi dan mampu berinteraksi dengan atom-atom molekul-molekul menghasilkan radikal bebas dalam sel. Radikalradikal bebas tersebut dapat merusak atau memodifikasi komponen-komponen penting dalam sel tanaman. Iradiasi sinar gamma telah dilaporkan memiliki pengaruh secara berbeda terhadap morfologi, anatomi, biokimia, dan fisiologi dari tanaman tertentu, tergantung pada level radiasi yang Lebih lanjut. Wi et al. menuliskan bahwa pengaruh tersebut termasuk perubahan dalam struktur dan metabolisme seluler, misalnya pelebaran membrane tilakoid, perubahan level antioksidan, dan akumulasi senyawa-senyawa Perubahan aktivitas biokimia dan fisiologis sebagai dampak dari berubahnya mekanisme ekspresi genetik dalam sel memiliki peran dalam berubahnya struktur morfologi tanaman yang mendapatkan paparan sinar gamma, salah satunya adalah susunan daun pada tanaman. Laporan Choi & Kim . menuliskan bahwa setiap tanaman tertentu membutuhkan jangkauan dosis radiasi sinar gamma yang spesifik untuk memungkinkan terjadinya perubahan sifat morfologi tanaman. Setiap susunan daun berbeda yang dihasilkan di setiap dosis radiasi sinar gamma terhadap varietas kentang yang digunakan dapat mempengaruhi proses fisiologis tanaman. Akses sinar matahari pada susunan daun yang terbuka dapat lebih mudah dibandingkan dengan susunan daun yang tertutup. Hal ini dapat mempengaruhi efisiensi proses fisiologis yang terjadi di dalam sel. Gambar 1. Susunan daun tanaman kentang . Varietas atlantik. VarietasGranola. Varietas Tedjo MZ Frekuensi Daun Menyimpang Frekuensi daun menyimpang merupakan pengamatan yang melihat bentuk fisik dari daun kentang yang memiliki bentuk berbeda dengan daun Menurut buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan kentang untuk variabel frekuensi daun menyimpang dibagi dalam 3 bagian yaitu, jarang, sedang, dan Berdasarkan Tabel 2, 4 dan 6 menunjukkan bahwa terjadi pengaruh frekuensi daun menyimpang pada beberapa dosis yang dicoba, hanya saja masih dalam tingkat jarang dan hanya beberapa pada tingkat tinggi. Frekuensi daun menyimpang varietas Atlantik dosis 15 Gy taraf jarang ada 9 mutan dan taraf tinggi ada 2 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki taraf jarang ada 10 mutan. Sedangkan pada dosis 35 Gy yang memiliki taraf tinggi ada 1 Varietas Granola dosis 15 Gy yang memiliki taraf jarang ada 10 mutan dan taraf tinggi ada 1 Pada dosis 25 Gy yang memiliki taraf jarang ada 9 mutan. Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki taraf jarang ada 8 mutan. Varietas Tedjo MZ dosis 15 Gy yang memiliki taraf jarang ada 5 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki taraf jarang ada 6 mutan. Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki taraf jarang ada 2 mutan. Hal ini sesuai dengan penelitian Devy . bahwa pada perlakuan iradiasi menghasilkan daun berbentuk keriting dan tunas berbentuk roset sedangkan pada perlakuan tanpa iradiasi, daun dan tunas berbentuk normal. Kondisi ini diduga karena adanya perubahan keseimbangan hormon sitokinin endogen akibat iradiasi sinar . J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words . Gambar 2. Daun kentang normal . Daun kentang menyimpang. Berbunga atau Tidak Berdasarkan data hasil penelitian pada Tabel 23, 25 dan 27 menunjukkan bahwa terdapat dua macam hasil pembungaan, yaitu berbunga dan tidak. Varietas Atlantik dosis 15 Gy yang mengalami pembungaan ada 10 mutan dan 1 mutan tidak Pada dosis 25 Gy yang mengalami pembungaan ada 5 mutan dan 5 mutan tidak Sedangkan pada dosis 35 Gy ada 1 mutan yang tidak berbunga. Varietas Granola dosis 15 Gy terdapat 11 mutan yang tidak berbunga. Pada dosis 25 Gy ada 9 mutan yang tidak berbunga. Sedangkan dosis 35 Gy ada 8 mutan yang tidak berbunga. Varietas Tedjo MZ dosis 15 Gy ada 6 mutan yang tidak berbunga. Pada dosis 25 Gy ada 6 mutan yang tidak berbunga. Sedangkan dosis 35 Gy ada 4 mutan yang tidak berbunga. Proses pembungaan merupakan proses morfologi dan biologi yang dikendalikan secara akurat dan kompleks pada tanaman, karena terdiri dari berbagai pengaturan spasial dari sejumlah gen yang spesifik ada pada organ tertentu selama siklus hidup tanaman tingkat tinggi (Taiz et al. , 2. Mytyys et al. menuliskan bahwa gen-gen yang mengendalikan pembungaan dapat dipengaruhi oleh sinyal dari lingkungan maupun sinyal endogen. Iradiasi sinar gamma merupakan salah satu jenis faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi mekanisme pembentukan bunga pada tanaman. Tahapan proses pembungaan melibatkan transisi jaringan meristem vegetatif menghasilkan organ daun dan batang, kemudian menjadi meristem bunga, sehingga dihasilkan bunga (Blyzquez et al. , 2. Lebih lanjut Blyzquez et al. menyebutkan bahwa ada 4 . jalur genetis yang mengendalikan waktu pembungaan pada tanaman model Arabidopsis. Dua jalur yang utama yang menjadi perantara terhadap respon lingkungan adalah jalur hari panjang . ong-da. dan Dua jalur lainnya yang tidak tergantung dengan faktor lingkungan adalah jalur otonom . ang menginduksi pembungaan di segala kondis. dan jalur asam giberelin (Giberelin Aci. , yang dibutuhkan untuk pembungaan pada kondisi hari pendek . hort-da. tanpa adanya induksi berupa stimulus dari luar. Mytyys et al. menambahkan bahwa kelompok-kelompok gen pengendali pembungaan pada tanaman Ambrosia artemisiifolia L. (Asteracea. dapat dibedakan berdasarkan 2 . fase, yaitu fase inisiasi meristem bunga dan fase pembentukan arsitektur bunga. Untuk fase inisiasi meristem bunga, ada gen-gen yang mengendalikan ekspresi protein faktor transkripsi maupun protein enzim yang terlibat dalam jalur fotoperiodik, vernalisasi, jalur GA, dan gen-gen yang berperan dalam perkembangan bunga. Sedangkan pada fase berbunga, ada gen-gen yang dinamakan sebagai gen ABC (E). Iradiasi sinar gamma yang diberikan dapat mengubah pola ekspresi gen yang ada pada tanaman, sehingga mengganggu proses pembentukan bunga pada fase Pengubahan pola ekspresi gen akibat iradiasi sinar gamma yang merupakan salah satu faktor lingkungan dapat berupa represi atau penghambatan terhadap aktivitas ekspresi gen tertentu, sehingga mempengaruhi eksistensi bunga pada tanaman. Warna Mahkota Bunga Berdasarkan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan kentang warna mahkota bunga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu putih, violet merah, dan violet biru. Data Tabel 1, 3 dan 5 yang diperoleh dari hasil penelitian untuk warna mahkota bunga pada varietas Atlantik yang mengalami pembungaan yaitu berwarna putih. Untuk varietas lain yang mengalami mutasi iradiasi sinar gamma, tidak memunculkan warna mahkota bunga. Warna putih mahkota bunga pada varietas Atlantik yang mengalami iradiasi sinar gamma dapat disebabkan karena adanya mutasi yang terjadi pada gen-gen yang terlibat dalam ekspresi gen proteinprotein pengendali jalur metabolisme pigmenpigmen warna. Menurut Zhao et al. , mutasi warna merupakan hal yang umum terjadi pada tanaman dan merupakan fenomena yang mudah diidentifikasi pada tanaman tingkat tinggi. Nishihara et al. melaporkan bahwa penyebab munculnya warna putih pada bunga tanaman Torenia fournieri Lind. kultivar Crown White adalah elemen retrotransposable baru (TORE. yang disisipkan ke dalam daerah hulu ujung 5Ao dari gen F3H, yang secara langsung bertanggung jawab untuk munculnya fenotip bunga yang berwarna putih. MCodziEska . menambahkan bahwa bunga berwarna putih merupakan penyerap sinar UV, dan J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words bunga tersebut memantulkan cahaya dengan kekuatan yang setara dengan semua warna pada panjang gelombang yang lain, sehingga dapat menstimulus reseptor-reseptor sel dari semua jenis. Warna Kulit Umbi Berdasarkan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan kentang menunjukkan bahwa warna kulit umbi digolongkan menjadi 5 bagian, yaitu kuning, merah, biru, sebagian merah, dan sebagian biru. Data penelitian pada Tabel 1, 3 dan 5 untuk warna kulit umbi baik kontrol maupun perlakuan dari seluruh varietas memiliki warna yang sama yaitu Tidak ada perubahan warna antara umbi pada varietas kentang yang normal maupun yang mendapatkan iradiasi sinar gamma. Pembentukan umbi, yang modifikasi batang pada tanaman kentang, akan terjadi setelah fase vegetatif. Fase pembentukan umbi meliputi inisiasi, pembesaran, dilanjutkan dengan pemasakan umbi (Gutomo, 2. Apabila tidak terjadi perubahan warna umbi pada mutan dibandingkan dengan varietas yang normal, maka hal ini dapat disebabkan karena sinar iradiasi yang diberikan tidak mempengaruhi jalur metabolisme pigmen warna kulit umbi setelah fase vegetatif. Warna kuning berhubungan dengan adanya senyawa karotenoid, khususnya xantofil, yang mengandung oksigen tambahan dalam struktur molekulnya (MCodziEska, 2. Warna Daging Umbi Berdasarkan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan kentang warna daging umbi dibagi menjadi 5 bagian yaitu putih, krem, kuning muda, kuning, kuning tua. Data pada Tabel 1, 3, dan 5 untuk warna daging umbi hasil penelitian terdiri dari dua yaitu putih dan kuning. Varietas Atlantik dosis 15 Gy yang memiliki warna putih ada 10 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki warna putih ada 10 Sedangkan pada dosis 35 Gy yang memiliki warna putih ada 1 mutan. Varietas Granola dosis 15 Gy yang memiliki warna kuning ada 11 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki warna kuning ada 9 Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki warna kuning ada 8 mutan. Varietas Tedjo MZ dosis 15 Gy yang memiliki warna kuning ada 5 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki warna kuning ada 6 Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki warna kuning ada 4 mutan. Sehingga hasil varietas Granola adalah berwarna kuning, varietas Atlantik adalah putih, dan varietas Tedjo MZ adalah kuning. Sehingga hasil mutasi tidak menunjukkan perbedaan dengan kontrol. Menurut Sugiarto . , pengamatan warna daging umbi menunjukkan bahwa hampir tidak ada keragaman yang dihasilkan dari kultivar kentang hasil mutasi. Hal ini dapat disebabkan karena tidak ada gangguan metabolisme pada sintesis pigmen warna tersebut, sebagai manifestasi dari tidak adanya perubahan ekspresi gen yang signifikan pada mutan yang dihasilkan. Bentuk Umbi Berdasarkan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan kentang bentuk umbi tanaman kentang dibagi menjadi 6 bagian yaitu bundar, oval pendek, oval, oval panjang, panjang, sangat panjang. Data dari Tabel 23, 25 dan 27 bentuk umbi yang teramati yaitu bundar, oval, oval panjang. Varietas Atlantik dosis 15 Gy yang memiliki bentuk bundar ada 10 mutan dan bentuk oval ada 1 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki bentuk bundar ada 10 mutan. Sedangkan pada dosis 35 Gy yang memiliki bentuk bundar ada 1 mutan. Varietas Granola dosis 15 Gy yang memiliki bentuk bundar ada 11 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki bentuk bundar ada 5 mutan, bentuk oval panjang ada 1 mutan, dan bentuk oval ada 1 mutan. Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki bentuk bundar ada 8 mutan. Varietas Tedjo MZ dosis 15 Gy yang memiliki bentuk bundar ada 3 mutan dan bentuk oval panjang ada 2 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki bentuk bundar ada 4 mutan dan bentuk oval ada 2 mutan. Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki bentuk bundar ada 4 Varietas Atlantik dan Tedjo MZ baik perlakuan maupun kontrol memiliki bentuk yang sama yaitu bundar. Sedangkan pada hasil radiasi sinar gamma varietas Granola menunjukkan bentuk bundar, dan berbeda dengan bentuk umbi kontrol yaitu oval. Menurut Samadi . , bentuk umbi kentang ada yang bulat, oval agak bulat . ulat lonjon. , dan bulat panjang. Kentang varietas Granola memiliki bentuk umbi bulat lonjong, varietas Atlantik memiliki bentuk bulat, sedangkan pada varietas Tedjo MZ memiliki bentuk bulat (PVTPP, 2. Menurut Maluszinski et al. , radiasi sinar gamma dapat berpengaruh terhadap perubahan fisiologis regeneran. Perubahan fisiologis dan genetik dapat diekspresikan dengan adanya perubahan penampilan fenotipik regeneran yang sangat bervariasi. Selain itu, faktor tanah juga mempengaruhi bentuk umbi, dikarenakan tanah di lokasi penelitian memiliki tekstur liat sehingga umbi tidak dapat berkembang dengan baik. J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words . ) Gambar 3. Penampilan bentuk umbi varietas Atlantik . Penampilan bentuk umbi varietas Granola . Penampilan bentuk umbi varietas Tedjo MZ. Keterangan: D0 (Dosis kontro. D1 (Dosis 15 G. D2 (Dosis 25 G. D3 (Dosis 35 G. Kebiasaan Tumbuh Berdasarkan buku panduan pengujian individual kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan kentang kebiasaan tumbuh pada tanaman kentang dibagi menjadi 3 bagian yaitu tegak, agak tegak, dan menyebar, yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini: Gambar 4. Kebiasaan tumbuh (Sumber: PVT . ) Data Tabel 2, 4, dan 6 menunjukkan bahwa kebiasaan tumbuh tanaman kentang yang telah teramati terbagi menjadi 3 yaitu menyebar, agak tegak dan tegak. Kebiasaan tumbuh varietas Atlantik dosis 15 Gy yang memiliki bentuk menyebar ada 8 mutan, bentuk agak tegak ada 3 Pada dosis 25 Gy yang memiliki bentuk menyebar ada 3 mutan, bentuk tegak ada 3 mutan, dan bentuk agak tegak ada 3 mutan. Sedangkan pada dosis 35 Gy yang memiliki bentuk agak tegak ada 1 Kebiasaan tumbuh varietas Granola dosis 15 Gy yang memiliki bentuk tegak ada 6 mutan dan agak tegak ada 5 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki bentuk tegak ada 9 mutan. Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki bentuk tegak ada 7 mutan dan bentuk agak tegak ada 1 mutan. Kebiasaan tumbuh varietas Tedjo MZ dosis 15 Gy yang memiliki bentuk tegak ada 3 mutan dan bentuk agak tegak ada 2 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki bentuk tegak ada 6 mutan. Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki bentuk agak tegak ada 2 Kebiasaan tumbuh pada mutan yang mengalami perubahan dibandingkan dengan tanaman normal dapat mempengaruhi level fotosintesis dari mutan yang dihasilkan. Keragaman dihasilkan pada mutan terkait kebiasaan tumbuh ini dapat menjadi salah satu kriteria dalam program seleksi pada pemuliaan tanaman. Biasanya, preferensi pemulia mengarah ke kebiasaan tumbuh tanaman yang tegak, karena lebih tahan terhadap faktor lingkungan dan lebih efisien dalam menerima radiasi sinar matahari yang akan terlibat dalam reaksi fotosintesis. Tingkat Ketahanan Pengamatan tingkat ketahanan tanaman terhadap penyakit layu bakteri dan Phytopthora infestans dilakukan mulai awal muncul tunas hingga tanaman panen. Pengamatan dilakukan per tanaman, apabila pada masa hidup tanaman kentang tidak terlihat gejala terserang patogen penyebab penyakit layu bakteri dan Phytopthora infestans tanaman tersebut disebut tahan, namun apabila pada masa hidup tanaman kentang tersebut terlihat gejala serangan patogen penyebab penyakit layu bakteri dan Phytopthora infestans maka tanaman itu disebut Berdasarkan data Tabel 2, 4, dan 6, bahwa perlakuan radiasi sinar gamma 15, 25, dan 35 Gy cenderung berpengaruh terhadap ketahanan tanaman terutama penyakit Phytophtora infestans dan layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanaceae jika dibandingkan dengan kontrol. Hal tersebut diduga karena radiasi sinar gamma mampu menginduksi tingkat ketahanan terhadap penyakit sehingga beberapa mutan mempunyai tingkat dibandingkan dengan kontrol. Menurut Soedjono . , tanaman mutan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap serangan patogen dan J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-13. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words Ditunjukkan pada Tabel 1, 3, dan 5, rerata dosis kontrol yang lebih banyak terserang penyakit dibandingkan mutan. Data hasil penelitian pada varietas Atlantik dosis 15 Gy yang memiliki tingkat ketahanan ada 6 mutan dan terserang layu bakteri ada 5 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki tingkat ketahanan ada 8 mutan dan terserang layu bakteri ada 2 mutan. Sedangkan pada dosis 35 Gy yang memiliki tingkat ketahanan ada 1 mutan. Varietas Granola dosis 15 Gy yang memiliki tingkat ketahanan ada 10 mutan dan terserang layu bakteri ada 2 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki tingkat ketahanan ada 6 mutan dan terserang layu bakteri ada 3 mutan. Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki tingkat ketahanan ada 7 mutan dan terserang layu bakteri ada 1 mutan. Varietas Tedjo MZ dosis 15 Gy yang memiliki tingkat ketahanan ada 5 mutan dan terserang layu bakteri ada 1 mutan. Pada dosis 25 Gy yang memiliki tingkat ketahanan ada 5 mutan dan terserang layu bakteri ada 1 mutan. Sedangkan dosis 35 Gy yang memiliki tingkat ketahanan ada 2 mutan. Mutan-mutan yang tahan terhadap penyakit Phytopthora infestans dan layu bakteri yakni pada varietas Atlantik dosis 15 Gy (Tabel . ada 6 mutan yaitu D1- A1. D1-A4. D1-A5. D1-A7. D1-A8 dan D1-A11, pada dosis 25 Gy (Tabel . ada 8 mutan yaitu D2-A1. D2-A3. D2-A4. D2-A6. D2-A8. D2A10. D2-A11, dan D2-A12, sedangkan pada dosis 35 Gy (Tabel . ada 1 mutan yaitu D3-A3. Tingkat ketahanan pada varietas Granola dosis 15 Gy (Tabel . ada 10 mutan yaitu D1- G1. D1-G2. D1-G3. D1-G4. D1-G5. D1-G6. D1-G8. D1-G9. D1-G10, dan D1-G11, pada dosis 25 Gy (Tabel . ada 6 mutan yaitu D2-G1. D2-G2. D2-G3. D2- G4. D2G7, dan D2-G8, sedangkan pada dosis 35 Gy (Tabel . ada 7 mutan yaitu D3-G1. D3-G3. D3-G5. D3-G6. D3-G8. D3-G11, dan D3-G12. Tingkat ketahanan pada vaerietas TEDJO MZ dosis 15 Gy (Tabel . ada 5 mutan yaitu D1-M1. D1-M2. D1M4. D1-M5, dan D1-M6, pada dosis 25 Gy (Tabel . ada 5 mutan yaitu D2-M1. D2-M3. D2-M4. D2M5, dan D2-M11, sedangkan pada dosis 35 Gy (Tabel . ada 1 mutan yaitu D3-M5. Pada varietas Atlantik yang memiliki kecenderungan tingkat ketahanan adalah dosis 25 Gy dengan jumlah 8 mutan tanaman tahan, lebih banyak jika dibandingkan dengan dosis kontrol, 15 Gy, dan 25 Gy. Varietas Granola yang memiliki tingkat ketahanan adalah dosis 15 Gy dengan jumlah 10 mutan tanaman tahan, lebih banyak jika dibandingkan dengan dosis kontrol, 25 Gy, dan 35 Gy. Varietas Tedjo MZ yang memiliki tingkat ketahanan adalah dosis 15 Gy dan 25 Gy, karena menghasilkan jumlah mutan tahan yang sama yaitu 5 Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa mutan tertinggi untuk tingkat ketahanan terhadap penyakit Phytoptora infestans dan layu bakteri pada varietas Atlantik adalah dosis 25 Gy, varietas Granola adalah dosis 15 Gy, dan varietas Tedjo MZ adalah dosis 15 Gy dan 25 Gy. Berdasarkan literatur Suryowinoto . yang menyatakan bahwa penggunaan energi seperti sinar gamma pada tanaman akan memberikan pengaruh yang baik di bidang pertanian, dengan perlakuan dosis radiasi sinar gamma dan dosis yang tepat diperoleh tanaman yang mempunyai sifat-sifat seperti hasil tinggi, umur pendek, tahan terhadap Namun menurut Mugiono . menyatakan bahwa mutasi tidak dapat diamati pada generasi M1, kecuali yang termutasi adalah gamet Tanaman yang diberi perlakuan radiasi umumnya baru dapat memunculkan efek mutasi pada generasi selanjutnya (M. , sedangkan tanaman hasil penelitian masih merupakan generasi pertama (M. Menurut penelitian dari Soedjono . menyatakan bahwa seringkali penampakan akibat mutasi baru muncul setelah generasi selanjutnya (M. KESIMPULAN Perlakuan radiasi sinar gamma memberikan pengaruh yang berbeda dengan tanaman kontrol pada variabel bentuk daun, frekuensi daun menyimpang, kebiasaan tumbuh, bentuk umbi, dan sifat ketahanan terhadap penyakit. Mutan yang memberikan keunggulan dalam segi ketahanan terhadap penyakit adalah mutan D1-A11. D2- A11. D2-A4. D1-G1. D1-G2. D3-G11. D3-G12, dan D2M11. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih diucapkan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman atas dukungan biaya penelitian. DAFTAR PUSTAKA