Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM KETERKAITAN EFIKASI DIRI DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS Halimatus Zubaidah1. Henry Sudiyanto2. Fitria Wahyu Aryanti3 Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto Program Magister Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto ABSTRACT Patients undergoing hemodialysis cause a lack of control over daily and social life activities, loss of independence, early retirement, and financial pressures. This causes the patient's quality of life to decrease because patients not only face health problems related to chronic kidney disease but also related to lifelong therapy. Selfefficacy is very important for patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis, namely to maintain their survival. The method of this study was correlational using the simple random sampling technique and the number of samples was 78 chronic kidney disease patients in the hemodialysis room at Lavalette Hospital. The analysis technique uses the sperman rho test. The test results using the sperman rho test obtained a value of p <0. 05, namely p = 0. 005, which means that there is a relationship between self-efficacy and quality of life in patients with chronic kidney disease (CKD) at Lavalette Hospital Malang. Keywords: Self efficacy. Quality of life. Hemodialysis, and chronic kidney disease PENDAHULUAN Anak Pasien penyakit ginjal kronis (PGK) yang menjalani hemodialisis mengalami gangguan kualitas hidup seperti perubahan secara fisik dan psikologis, perubahan psikologis yang terjadi pada pasien penyakit ginjal kronis seperti keletihan, gangguan tidur, nafsu makan menurun, bengkak pada kaki, kram, dan gangguan berkemih (Archentari, 2. Pasien hemodialisis dengan kualitas hidup yang rendah akan meningkat mortalitasnya dibandingkan dengan populasi normal. Pasien yang menjalani terapi hemodialisis mengalami beberapa masalah yang dapat mengakibatkan menurunnya kualitas hidup pasien (Indanah et al. , 2. Menurut Mittal dalam Mailani . , mengatakan kualitas hidup pasien sebelum menderita penyakit yang menjalani hemodialisis semakin menurun karena pasien tidak menghadapi masalah kesehatannya saja tetapi masalah terapi juga yang dialaminya selama hidupnya, akibatnya kualitas hidup pasien lebih rendah dibandingkan dengan pasien gagal ginjal kongesti, kanker dan lain-lain. Pasien yang menjalani terapi hemodilisis dalam jangka panjang harus dihadapkan dengan masalah medik, social, dan ekonomi, sehingga mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan di Asia, prevalensi kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis yaitu di Taiwan pada 405 pasien menunjukkan 37,9% memiliki kualitas hidup rendah (Bai. Chang. Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM Chiou, & Lee, 2. Kualitas hidup pasien hemodialisi di Saudi pada 168 pasien menunjukkan kualitas hidup 55% rendah sedangkan 45% memiliki kualitas hidup Kualitas hidup pasien hemodialisis di Indonesia pada 120 pasien memiliki kualitas hidup rendah 37,5% (Nainggolan. Lubis, & Silaban, 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakan pada tanggal 27 Oktoberber 2022 di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Lavalette Malang didapatkan data hasil observasi dengan pemberian kuesioner dari 8 orang responden yang menjalani hemodialisis, 3 orang kesulitan dalam mengatur diet dan cairannya, 4 orang responden dapat mengatur dan mandiri terhadap diet dan cairannya, sementara 1 orang responden belum terbiasa dengan pengaturan diet dan cairannya. Selain itu, diantara 8 orang responden 7 orang responden yakin dapat menemukan dukungan ketika merasa tertekan, sementara 1 orang responden lainnya tidak menemukan dukungan sehingga merasa frustasi berurusan dengan penyakit ginjal yangn dialaminya serta mengalami masalah fisik seperti gatal-gatal, mual-mual, sesak nafas, oedema, dan mudah lelah. Menurut Kamaludin dan Rahayu dalam Khabibi . , tujuan dilakukan hemodialisis yaitu untuk mengganti fungsi ginjal yang sudah rusak, agar pasien bisa memperpanjang kelangsungan hidupnya dan meningkatkan kualitas hidup Pasien yang menjalani hemodialisis menyebabkan kurangnya kontrol atas aktivitas kehidupan sehari-hari dan sosial, kehilangan kebebasan, pensiun dini, dan tekanan keuangan. Hal itu menyebabkan kualitas hidup pasien menurun karena pasien tidak hanya menghadapi masalah kesehatan yang terkait dengan penyakit ginjal kronik tetapi juga terkait dengan terapi yang berlangsung seumur hidup (Mailani, 2. Kualitas hidup dijadikan sebagai aspek untuk menggambarkan kondisi kesehatan dapat dinilai berdasarkan kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Dalam kondisi sehat kualitas hidup manusia akan selalu terjaga dimana keempat aspek tersebut dapat dijalankan dengan baik (Larasati, 2. Kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis buruk, dari analisis menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa adalah faktor sosial demografi seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, dan efikasi diri. Faktor lainnya depresi, beratnya / stage penyakit ginjal, lamanya menjalani hemodialisis, tidak patuh terhadap pengobatan, indeks massa tubuh yang tinggi, dukungan sosial, adekuasi hemodialisis, dan interdialytic weight gain (IDWC), urine output, interdialytic dan nilai hemoglobin (Afandi & Kurniyawan. Mailani, 2. Akibatnya kualitas hidup pasien lebih rendah dibandingkan dengan pasien gagal ginjal kongesti, kanker dan lain- lain. Kualitas hidup seseorang dapat diprediksi dengan self efficacy pasien itu sendiri (Kusumastuti. Pada penelitian tentang efikasi diri dan kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronis menyatakan bahwa ada hubungan antara efikasi diri dengan kualitas hidup pada pasien penyakit ginjal kronis (Rini, 2. Kualitas hidup yang tinggi membuat individu menghadapi tuntutan yang menimbulkan stress dengan percaya diri, termotivasi, dan menganggap hal tersebut positif dan begitu juga sebaliknya. Sebaliknya, pada pasien dengan kualitas hidup rendah akan menimbulkan masalah fisik pada pasien penyakit ginjal kronis yang Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM menjalani hemodialisis adalah nyeri otot, sesak nafas, pusing, mual-mual, oedema, dan kram. Sedangkan beberapa pasien juga bermasalah dengan psikologisnya seperti merasa cemas dan depresi dengan kondisi yang dialaminya. Dengan demikian kondisi yang dialami oleh pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis menimbulkan berbagai masalah bagi pasien yang berujung kepada pentingnya efikasi diri dalam melakukan manajemen diri guna meningkatkan kualitas hidup Upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronis yang sedang melakukan hemodialisis adalah efikasi diri, sebab efikasi diri sangat penting bagi penderita penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis yaitu untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya (Hasanah dkk, 2. Efikasi diri merupakan keyakinan seseorang atas kemampuan diri dalam mencapai tujuan dan mengatasi hambatan untuk mencapai suatu hal dalam situasi tertentu. Efikasi tinggi yang dimiliki oleh individu juga mampu memberikan motivasi secara kognitif untuk bertindak lebih baik dalam tujuan yang hendak dicapai oleh individu tersebut. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengangkat penelitian dengan judul AuKeterkaitan Efikasi Diri Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Gagal Ginjal Kronis?Ay METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimen menggunakan metode rancangan penelitian cross sectional. Dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui Keterkaitan Efikasi Diri dengan Kualitas Hidup pada Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) yang Menajalani Hemodialisa di Rumah Sakit Lavalette. Populasi dalam penelitian ini yakni seluruh pasien dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani HD di ruang hemodialisa RS Lavalette berjumlah 350 responden. Adapun sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan rumus Slovin, seluruh pasien dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani HD di ruang hemodialisa RS Lavalette berjumlah 78 responden. Teknik sampling menggunakan Simple random sampling. Pemberian kuesioner menggunakan Efikasi diri menggunakan kuesioner general perceived self efficacy Kualitas hidup menggunakan KDQOL Ae SF. Waktu penelitian ini dilakukan pada tanggal 10-12 Januari 2023 dan Lokasi penelitian ini adalah di Ruang Hemodialisa RS Lavalete Malang. HASIL PENELITIAN Karakteristik responden berdasarkan efikasi diri Pasien Tabel 1 Distribusi Frekuensi Efikasi Diri Responden di Ruang Hemodialisis Rumah Sakit Lavalette Malang Efikasi diri Kurang Sedang Tinggi Total Frekuensi Prosentase Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM Berdasarkan Tabel 1 di dapatkan hampir seluruhnya responden di Ruang Hemodialisis Rumah Sakit Lavalette Malang mempunyai nilai efikasi diri tinggi sebanyak 66 responden . ,6%). Karakteristik responden berdasarkan Kualitas hidup Tabel 2. Distribusi Kualitas Hidup Responden di Ruang Hemodialisis Rumah Sakit Lavalette Malang Kualitas hidup Sangat Buruk Buruk Sedang Baik Sangat baik Total Frekuensi Prosentase Berdasarkan Tabel 2 di dapatkan hampir seluruhnya pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis mempunyai kualitas hidup baik sebanyak 62 responden . ,5%). Hubungan efikasi diri dengan kualitas hidup pada pasien hemodialisis di rumah sakit Lavalette Tabel 3. Tabel Silang Antara Efikasi Diri Dengan Kualitas Hidup Reponden di Ruang Hemodialisis Rumah Sakit Lavalette Malang Efikasi Diri Kurang Sedang Tinggi sperman rho test Corelation coeficient Sig. -taile. Kualitas hidup buruk sedang baik sangat baik Total Berdasarkan Tabel 3 di dapatkan bahwa sebagian besar pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis memiliki nilai efikasi diri yang tinggi dengan kualitas hidup yang baik sebanyak 57 responden . %). PEMBAHASAN Efikasi Diri Pasien PGK yang Menjalani Hemodialisis di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Lavalette Malang. Berdasarkan tabel 1 didapatkan sebagian besar responden memiliki efikasi diri yang baik sebanyak 66 responden . %). Pasien yang memiliki Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM keyakinan yang tinggi. akan mampu untuk mengelola penyakitnya. Penelitian yang dilakukan oleh Shiow Luan Tsay yang di jelaskan dalam Sucahya (General selfefficac. tentang selfcare selfefficacy pada pasien hemodialisis dimana selfefficacy pasien yang tinggi akan dapat membuat pasien melakukan aktifitas fisik dan fungsi sosial. Faktor- faktor yang mempengaruhi efikasi diri antara lain jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan Noviani, 2. Peneliti berpendapat, individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi mampu memberikan motivasi secara kognitif untuk bertindak lebih baik dalam tujuan yang hendak dicapai oleh individu tersebut. Faktor yang mempengaruhi efikasi diri berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan faktor usia, pendidikan, jenis kelamin, dan status pernikahan. Dari 78 responden itu didapatan beberapa diantaranya memiliki pendidikan SMA sebanyak 42 responden . ,8%). Menurut Bandura dalam Noviani . , individu yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi biasanya memiliki efikasi diri yang baik, karena pada dasarnya mereka lebih banyak belajar dan mendapatkan kesempatan untuk belajar dalam mengatasi persoalan-persoalan dalam hidupnya. Peneliti berpendapat pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan sebagai wahana pengembang sumber daya manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang biasanya memiliki efikasi diri yang baik, karena pada dasarnya mereka terbentuk melalui proses belajar yang dapat diterima individu pada tingkat pendidikan formal ataupun non formal. Dilihat dari faktor usianya responden dengan efikasi diri yang baik berusia 26-45 tahun, dimana usia ini merupakan usia produktif. Menurut Bandura dalam Noviani . menyataka bahwa individu yang lebih tua cenderung memiliki rentang waktu dan pengalaman yang lebih banyak dalam mengatasi suatu hal yang terjadi jika dibandingkan dengan individu yang lebih muda, yang mungkin masih memiliki sedikit pengalaman dan peristiwaperistiwa dalam hidupnya. Peneliti berpendapat bahwa ,hal ini juga berkaitan dengan pengalaman yang individu miliki sepanjang rentang kehidupannya, diamana efikasi diri terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat berlangsung selama masa hidupnya. Berdasarkan faktor jenis kelamin responden dengan efikasi diri baik adalah perempuan 39 responden. Terdapat perbedaan pada perkembangan kemampuan dan kompetesi laki-laki dan perempuan. Beberapa bidang pekerjaan tertentu para pria memiliki efikasi diri yang lebih tinggi dibanding dengan wanita, begitu juga sebaliknya wanita unggul dalam beberapa pekerjaan dibandingkan dengan pria. Ketika laki-laki berusaha untuk sangat membanggakan dirinya, perempuan sering kali meremehkan kemampuan Pada faktor status pernikahan yang memiliki efikasi diri yang tinggi terdapat pada status pernikahan 54 responden . %). Menurut Sarastika et , . sebagian orang menganggap bahwa pernikahan membatasi kebebasannya, tetapi bagaimanapun juga sebagian besar dari masyarakat mengakui bahwa pernikahan memberikan jaminan ketentraman hidup, meningkatkan kualitas hidup. Manusia senantiasa hidup berkembang sesuai Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM dengan pengalaman yang diperoleh melalui proses belajar dalam hidupnya. Manusia dapat menemukan makna hidupnya dalam pernikahan. Pendapat peneliti, manusia tercipta sebagai mahkluk individu dan mahkluk social. Sebagai mahkluk social manusia senantiasa membutuhkan orang lain, selalu berinteraksi, saling bersosialisa dan saling bertukar pengalaman. Kualitas Hidup Pasien PGK yang Menjalani Hemodialisis di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Lavalette Malang Dari hasil identifikasi berdasarkan tabel 2 didapatkan bahwa sebagian besar responden di Ruang Hemodialisis mempunyai kualitas hidup baik sebanyak 57 responden . %) dan sangat baik sebanyak 3 responden . %). Kualitas hidup dijadikan sebagai aspek untuk menggambarkan kondisi kesehatan dapat dinilai berdasarkan kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas hidup dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah sosio demografi meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, dan status perkawinan. Bagian kedua adalah medis yaitu lama menjalani hemodialisa, stadium penyakit, dan penatalaksanaan medis (Sarastika et al. , 2. Peneliti berpendapat, pasien yang memiliki kualitas hidup baik membuat individu tersebut memberikan pengaruh terhadap proses kognitif, percaya diri, termotivasi, seleksi, dan membuat hal tersebut menjadi positif. Sebagian besar responden dengan kualitas hidup baik berusia 26-45 tahun sebanyak 43 responden . ,7%). Hasil penelitian ini juga didukung oleh Saratika et al, 2019 dimana usia berpengaruh terhadap cara pandang seseorang dalam kehidupan, masa depan dan pengambilan keputusan. Penderita penyakit ginjal kronis usia produktif dibandingkan deengan penderita lansia tentu saja berbeda dalam menentukan pilihan untuk mendapatkan kesehatan. Peneliti berpendapat umur seseorang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Umur seseorang memberikan gambaran adanya perubahan mental yang berkaitan dengan perkembangan psikologi yaitu kemampuan pengetahuan seseorang dalam menyikapi kualitas hidup. Pada usia produktif, seseorang lebih berekspektasi tinggi akan kehidupannya di masa depan, sehingga semangat dalam menjalani hidup pun lebih tinggi, akibatnya seseorang selalu berusaha untuk menjaga kualitas hidupnya. Sebaliknya pada usia tua seseorang mengalami penurunan beberapa fungsi tubuh, sehingga kualitas hidup lansia cenderung lebih rendah. Pada faktor umur responden yang mempunyai kualitas hidup baik berjenis kelamin perempuan sebanyak 33 responden atau 84,6%. Menurut. Hutagaol . dimana semakin tinggi derajat kesehatan seseorang maka kualitas hidup juga semakin tinggi. Menurut peneliti, perempuan lebih bisa memotivasi dirinya dan sleksi terhadap diet yang benar sesuai kondisi Berdasarkan pendidikan responden diketahui bahwa sebagian besar responden berpendidikan SMA sebanyak 33 responden . ,6%). Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Menurut Liu . Sehingga hal tersebut sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Semakin Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak informasi yang didapat tentang bagaimana menjaga kualitas hidup, salah satunya dengan mematuhi program diet maka penderita akan memiliki kualitas hidup yang baik. Peneliti berpendapat, pendidikan merupakan faktor yang penting pada pasien hemodialisis untuk dapat memahami dan mengatur dirinya sendiri dalam membatasi makan dan minum, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka dia akan cenderung berperilaku positif. Berdasarkan lama menjalani hemodialisis responden diketahui bahwa sebagian besar responden telah menjalani hemodialisis lebih 24 bulan memiliki kualitas hidup lebih baik sebanyak 36 responden atau 78,3%. Sedangkan,berdasarkan ultrafiltrasi responden didapatkan sebanyak 52 responden atau 78,8% memiliki ultrafiltrasi 0-2 liter. Semakin lama pasien menjalani hemodialisis adaptasi pasien semakin baik karena pasien telah menerima pendidikan kesehatan atau informasi dari petugas kesehatan (Sarastika et al, 2. Para penderita Penyakit Ginjal Kronis (PGK) yang menjalani terapi hemodialisa secara rutin, rata-rata sudah memahahami bahwa penyakit yang dideritanya bersifat irreversibel (Ariani, 2. Peneliti berpendapat, pasien yang lama menjalani hemodialisis lebih tahu dan paham tentang pentingnya pembatasan cairan dan dampak dari peningkatan berat badan dua hemodialisa terhadap kesehatan dan kualitas hidupnya. Dalam kondisi sehat kualitas hidup manusia akan selalu terjaga dimana keempat aspek tersebut dapat dijalankan dengan baik. Hal ini akan berbeda jika manusia dalam kondisi sakit, dimana faktor yang paling terlihat dalam penurunan kualitas hidupnya adalah kondisi fisik, terlebih pada penderita penyakit kronis salah satunya adalah PGK, pasien PGK terjadi penurunan kondisi fisik seperti gatal-gatal, mual, sesak nafas, oedema, mudah lelah. kemampuan mobilitasnya. Kualitas hidup menjadi bagian penting dalam intervensi pelayanan kesehatan sebagai acuan keberhasilan dari suatu tindakan, intervensi atau terapi terutama pada penyakit kronis. Salah satu aspek yang dapat menggambarkan kondisi kesehatan seseorang yaitu melalui kualitas hidup (Larasati, 2. Pasien PGK akan menjalani terapi hemodialisis secara terus-menerus dalam mempertahankan hidupnya, terdapat faktor-faktor yang turut mempengaruhi sehingga kualitas hidup akan lebih buruk dari pada pasien lain pada umumnya, karena itu akan berkaitan dengan munculnya masalah psikis yaitu emosional yang berlebih, tidak Kooperatif, penderitaan fisik, masalah sosial yaitu kurangnya berinteraksi dengan orang lain, keterbatasan dalam beraktivitas sehari-hari serta tingginya beban biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain hal ini secara signifikan berdampak atau mempengaruhi kualitas hidup (Lesmana. Goenawan, & Abdullah, 2. Peneliti berpendapat bahwa pasien penyakit ginjal kronis mengalami perubahan kualitas hidup dalam berbagai aspek antara lain aspek fisik, psikologis, sosial ekonomi dan dukungan keluarga. Penurunan kualitas hidup dari aspek fisik disebabkan oleh kelemahan fisik sehingga aktifitas otomatis Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM Adaptasi yang dilakukan pasien dalam aspek fisik adalah membatasi aktifitas sesuai kondisi berupa membatasi aktifitas fisik seperti tidak melakukan pekerjaan berat, membatasi asupan cairan sesuai dengan yang dianjurkan berdasarkan kesehatannya. Dengan demikian kondisi yang dialami oleh pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisi menimbulkan berbagai masalah bagi pasien yang berujung kepada pentingnya efikasi diri dalam meningkatkan kualitas hidup Analisa Keterkaitan Efikasi diri dengan Kualitas Hidup pada Pasien PGK yang Menjalani Hemodialisis di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Lavalette Malang Berdasarkan hasil analisis data di dapatkan bahwa sebagian besar pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis Rumah Sakit Lavalette Kota Malang memiliki nilai efikasi diri yang tinggi dengan kualitas hidup yang baik sebanyak 58 responden . ,4%). Dari hasil uji dengan menggunakan uji sperman rho test di dapatkan nilai p<0,05 yaitu p=0,005 yang berarti bahwa ada hubungan efikasi diri dengan kualitas hidup pada pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis di Rumah Sakit Lavalette Malang. Penderita penyakit gagal ginjal kronis kehilangan fungsi ginjal sehingga tubuh kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit. Hal ini menimbulkan masalah pada fisik pasien akibat dari penyakit yang dialami, seperti sesak, edema, anoreksia dan lain sebagainya. Pasien tidak hanya mangalami masalah fisik, melainkan masalah psikologis yang dapat berpengaruh pada penurunan kualitas hidup Salah satu faktor yang dapat mengoptimalkan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisis adalah efikasi diri (Asnaniar et al. , 2. Ghufron . mengatakan bahwa efikasi diri merupakan salah satu aspek pengetahuan tentang diri atau self knowledge yang paling berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari karena efikasi diri yang dimiliki ikut mempengaruhi individu dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Pasien yang memiliki keyakinan yang tinggi akan mampu untuk mengelola penyakitnya. Penelitian yang dilakukan oleh Shiow Luan Tsay yang dijelaskan dalam Sucahya (General self efficac. tentang self care self eficacy pada pasien hemodialisis dimana self efficacy pasien yang tinggi akan dapat membuat pasien melakukan aktifitas fisik dan fungsi sosial. Sehingga efikasi diri sangat diperlukan untuk meningkatkan proses penyembuhan pada pasien terutama pada pasien penyakit ginjal kronis. Pasien yang menjalani terapi hemodialisis mengalami beberapa masalah yang dapat mengakibatkan menurunnya kualitas hidup pasien (Indanah et al. , 2. Kualitas hidup adalah persepsi individu mengenai posisi mereka dalam hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai tempat mereka tinggal, dan hubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian. Hal ini terangkum secara kompleks mencakup kesehatan fisik, status psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, dan hubungan pada karakteristik lingkungan mereka (Joshi, 2. Kualitas hidup merupakan sasaran utama yang ingin dicapai di bidang pembangunan Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM sehingga kualitas hidup ini sejalan dengan tingkat kesejahteraan. Diharapkan semakin sejahtera maka kualitas hidup semakin tinggi. Kualitas hidup ini salah satunya dipengaruhi oleh derajat kesehatan. Semakin tinggi derajat kesehatan sesorang maka kualitas hidup juga semakin tinggi (Hutagaol. Peneliti berpendapat bahwa kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisis seringkali menurun dan menyebabkan pasien terpaksa mengubah kebiasaan rutin hidupnya. Terutama bagi pasien yang belum lama menjalani hemodialisa, pasien merasa belum siap untuk menerima dan beradaptasi atas perubahan yang terjadi pada hidupnya. Ketika pasien menemui situasi yang sulit dengan efikasi diri yang tinggi, akan mendorong seseorang untuk dapat tenang dan mencari solusi permasalahan yang Setiap individu memiliki keyakinan yang berbeda-beda dalam menghadapi permasalahan sama halnya dengan pasien dengan penyakit ginjal kronis yang diharapkan dapat meningkatkan keyakinan dalam menjalankan perawatan karena pasien penyakit ginjal kronis didorong untuk dapat manajemen penyakitnya secara efektif baik dari aspek fisik seperti hemodialisis, diet, pengaturan intake cairan, perawatan akses vaskuler dan Diperlukan kedisiplinan dan kemauan besar serta dukungan keluarga yang mampu meningkatkan kepatuhan pasien untuk menjalani Oleh karena itu penderita penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis wajib memperoleh dukungan dari keluarga dan orang terdekat supaya mendapatkan kesenangan dan perhatian, sehingga pasien lebih sejahtera dan diharapakan dengan kesejahteraan yang tinggi maka kualitas hidupnya menjadi semakin lebih baik lagi PENUTUP Sebagian besar pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis (PGK) yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Lavalette memiliki efikasi diri yang baik sebanyak 66 responden . %). Sebagian besar pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis (PGK) yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Lavalette Kota Malang mempunyai kualitas hidup baik sebanyak 57 responden . ,3%) dan kualitas hidup sangat baik 3 responden . %). Ada hubungan antara efikasi diri dengan kualitas hidup pada pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis (PGK) yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Lavalette Malang DAFTAR PUSTAKA