Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 at-Tarbiyah al-Mustamirrah: Jurnal Pendidikan Islam Pengelola: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Penerbit: Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar Website: https://ejournal. id/ojs/index. php/at-tarbiyah Email: at-tarbiyah@uinmybatusangkar. P-ISSN: 2775-7099 E-ISSN: 2775-7498 Penggunaan Media Sosial Sebagai Double Edged Sword dalam Membentuk Literasi Keagamaan Siswa Madrasah Aliyah Salmi Wati*) Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Sumatera Barat. Indonesia salmiwati@uinbukittinggi. Eliwatis Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar. Sumatera Barat. Indonesia eliwatis@uinmybatusangkar. Muaddyl Akhyar Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Sumatera Barat. Indonesia *)Corresponding Author Received: 07-03-2025 Revised: 17-03-2025 Approved: 01-05-2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan media sosial dalam meningkatkan literasi keagamaan siswa Madrasah Aliyah, khususnya pada mata pelajaran fiqh dan aqidah-akhlak. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah rendahnya kemampuan siswa dalam memilah dan memahami informasi keagamaan secara kritis di tengah arus informasi digital yang masif. Media sosial menjadi fenomena "pedang bermata dua" . ouble-edged swor. di satu sisi menyediakan akses luas terhadap materi keagamaan, namun di sisi lain menyimpan potensi disinformasi yang dapat menyesatkan pemahaman siswa. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi Teknik pengumpulan data mencakup wawancara dengan guru PAI dan siswa, observasi kegiatan pembelajaran berbasis media sosial, serta dokumentasi konten digital yang digunakan selama proses belajar. Sumber data diperoleh dari satu Madrasah Aliyah di Sumatera Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial seperti YouTube dan WhatsApp dapat dimanfaatkan secara efektif sebagai media pendukung pembelajaran fiqh dan aqidah-akhlak. Guru yang berperan aktif dalam membimbing dan mengkurasi konten terbukti mampu meningkatkan literasi digital keagamaan siswa, terutama dalam memahami dalil, nilai moral, dan penerapan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kompetensi guru Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 dalam literasi digital keagamaan dan penyusunan panduan kurasi konten Islam berbasis media sosial. Selain itu, dibutuhkan penelitian lanjutan mengenai dampak jangka panjang dari penggunaan media sosial terhadap sikap dan karakter religius siswa. Kata Kunci: Media Sosial. Literasi Digital. Agama Abstract This study aims to examine the utilization of social media in enhancing studentsAo religious literacy at Madrasah Aliyah, particularly in the subjects of fiqh and aqidahakhlak. The main issue addressed is the studentsAo low ability to critically evaluate and understand religious information amidst the overwhelming flow of digital content. Social media serves as a Audouble-edged swordAy: while it provides broad access to religious materials, it also carries the risk of spreading misinformation that can mislead students' religious understanding. This research employs a qualitative approach with a case study method. Data were collected through interviews with Islamic education teachers and students, observations of social media-based learning activities, and documentation of digital learning content. The data source was a Madrasah Aliyah located in West Sumatra. The findings indicate that platforms such as YouTube and WhatsApp can be effectively utilized as supportive media for learning fiqh and aqidahakhlak. Teachers who actively guide students and curate appropriate content significantly contribute to the improvement of students' digital religious literacy, especially in understanding religious arguments . , moral values, and the application of Islamic teachings in daily life. This study recommends strengthening teachersAo competencies in digital religious literacy and the development of guidelines for Islamic content curation through social media. Furthermore, future research is needed to explore the long-term impact of social media use on studentsAo religious attitudes and character development. Keywords: Social Media. Digital Literacy. Religion PENDAHULUAN Peserta didik saat ini adalah generasi yang tumbuh dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, dan media sosial menjadi bagian integral dari kehidupan mereka. Sebagai platform yang memungkinkan pertukaran informasi secara cepat, media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk cara peserta didik memperoleh informasi, termasuk dalam hal keagamaan (Mahmud & Sakinah. Dalam konteks pembentukan literasi keagamaan, media sosial dapat berfungsi sebagai sarana yang sangat berguna untuk memperkaya pengetahuan agama peserta Namun, fenomena ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, media sosial membuka pintu lebar bagi peserta didik untuk mengakses berbagai informasi tentang agama Islam dari berbagai sumber yang berbeda, yang terkadang tidak dapat mereka dapatkan di ruang kelas atau lingkungan sekitar mereka. Akan tetapi, di sisi lain. Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 kemudahan ini juga membawa risiko, karena informasi yang beredar di media sosial tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hoaks, konten yang misleading, atau bahkan paham radikal dapat dengan mudah menyebar di platform ini, yang berpotensi merusak pemahaman agama peserta didik (Ashari et al. , 2. Penting untuk dicatat bahwa meskipun media sosial dapat memberikan dampak positif bagi pembentukan literasi keagamaan, risikonya juga tidak bisa diabaikan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fenomena penggunaan media sosial dalam konteks pembelajaran agama di kalangan peserta didik cenderung memiliki dampak ganda (Minarti et al. , 2. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa peserta didik yang aktif menggunakan media sosial dapat mengakses berbagai pandangan dan tafsir agama Islam yang terkadang sangat bervariasi. Namun, di sisi lain, beberapa literatur menunjukkan bahwa peserta didik juga rentan terpapar informasi yang tidak tepat, yang dapat membingungkan atau menyesatkan mereka dalam memahami ajaran agama Islam (Iwuchukwu, 2. Oleh karena itu, teori-teori yang ada masih belum dapat sepenuhnya menjelaskan dampak kompleks dari penggunaan media sosial terhadap literasi keagamaan peserta didik. Hal ini menjadi alasan mengapa penelitian ini sangat penting untuk dilakukan, agar lebih jelas bagaimana media sosial memengaruhi pemahaman agama peserta didik dan bagaimana pemanfaatannya dapat diarahkan untuk mendukung pembelajaran agama yang positif. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menggali lebih dalam mengenai pengaruh media sosial terhadap pembentukan literasi keagamaan peserta didik. Sebara spesifik penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan dengan bijak untuk memperkaya pengetahuan agama, serta mengidentifikasi cara-cara yang tepat untuk mengurangi dampak negatif yang mungkin muncul. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan rekomendasi bagi pendidik, orang tua, dan pihak terkait dalam meningkatkan literasi digital keagamaan peserta didik. Dengan pendekatan yang lebih positif terhadap media sosial, diharapkan peserta didik dapat memanfaatkan platform ini untuk mendalami ajaran agama Islam dengan cara yang lebih konstruktif dan sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang sejati. Berdasarkan fakta yang telah diungkapkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa media sosial memang memiliki potensi besar dalam membentuk literasi keagamaan, namun juga membawa risiko yang tidak kalah besar. Oleh karena itu. Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 penelitian ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana peserta didik dapat menggunakan media sosial secara bijak dalam konteks pembelajaran agama. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa meskipun media sosial dapat menyebarkan informasi yang tidak tepat, dengan pendekatan yang tepat, media sosial dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman agama peserta didik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam yang lebih responsif terhadap perkembangan teknologi digital, serta memberikan solusi praktis dalam meningkatkan literasi digital keagamaan peserta didik. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di salah satu Madrasah Aliyah di Sumatera Barat yang telah aktif memanfaatkan media sosial sebagai bagian dari proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya mata pelajaran Fiqh dan Aqidah-Akhlak. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan tujuan menggambarkan dan memahami secara mendalam bagaimana media sosial memengaruhi literasi keagamaan siswa. Fokus utama dari penelitian ini adalah fenomena media sosial sebagai Aupisau bermata duaAy yang dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus sarana penyebaran disinformasi keagamaan. Informan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu informan kunci yang terdiri dari guru Fiqh. Aqidah-Akhlak, dan QuranHadis, serta informan pendukung yaitu siswa Madrasah Aliyah yang aktif menggunakan media sosial. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam untuk menggali perspektif dan pengalaman guru serta siswa terkait penggunaan media sosial dalam pembelajaran agama, observasi non-partisipan untuk melihat secara langsung bagaimana siswa berinteraksi dengan konten keagamaan di media sosial, serta dokumentasi berupa materi pembelajaran, unggahan media sosial, dan artikel yang relevan dengan tema penelitian. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahapan utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan untuk menyaring informasi yang relevan, penyajian data disusun dalam bentuk narasi tematik, dan kesimpulan ditarik berdasarkan pola atau tema yang muncul dari data lapangan. Untuk menjamin validitas data, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode. Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Uji keabsahan juga dilakukan melalui pengujian kredibilitas, dependabilitas, transferabilitas, dan konfirmabilitas. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran utuh mengenai peran media sosial dalam membentuk literasi keagamaan siswa serta mengidentifikasi tantangan dan peluang yang muncul dalam era digital saat ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, ditemukan bahwa media sosial memegang peranan penting dalam pembelajaran keagamaan di Madrasah Aliyah. Guru Fiqh dan Aqidah Akhlak mengintegrasikan media sosial sebagai salah satu sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran. Dalam observasi, terlihat bahwa para guru sering kali meminta siswa untuk mencari informasi terkait dengan fiqh kontemporer melalui platform seperti Instagram. TikTok, dan Facebook. Salah seorang guru Fiqh menyatakan bahwa media sosial sangat membantu dalam memperkenalkan berbagai pandangan dan diskusi mengenai masalah-masalah fiqh yang relevan. Selain itu, penggunaan media sosial juga ditemukan dalam modul ajar berbasis TPACK yang sudah disusun oleh guru, yang melibatkan media sosial sebagai referensi dalam Berdasarkan data ini, media sosial dianggap sebagai alat yang membuka akses terhadap berbagai informasi keagamaan yang bermanfaat dalam pembelajaran. Data yang diperoleh melalui wawancara menunjukkan bahwa siswa juga merasa sangat terbantu dalam memperoleh pengetahuan agama dari media sosial. Dalam beberapa kesempatan, para siswa aktif mencari bahan ajar yang relevan untuk mendalami fiqh atau aqidah melalui akun-akun keagamaan di platform digital. Di sisi lain, meskipun media sosial memberi kemudahan dalam mengakses informasi agama, ditemukan pula sejumlah tantangan. Sebagian besar siswa mengakui bahwa mereka sering menemui informasi yang tidak sepenuhnya akurat, baik itu mengenai fiqh maupun akhlak. Siswa juga banyak yang mengikuti akun-akun yang menyebarkan pandangan keagamaan yang belum tentu bersumber dari otoritas yang sah. Meskipun demikian, mereka merasa bahwa media sosial memberi mereka banyak kesempatan untuk berdiskusi mengenai masalah agama dengan teman-teman atau guru mereka. Relasi antara deskripsi dan eksplanasi di atas mengarah pada pemahaman bahwa media sosial memang berfungsi sebagai sarana pembelajaran yang luas, tetapi tidak Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 lepas dari risiko penyebaran informasi yang tidak valid. Meskipun media sosial memungkinkan siswa untuk mendapatkan informasi yang berguna terkait dengan fiqh dan aqidah, realitasnya menunjukkan adanya ancaman terhadap pembentukan literasi keagamaan yang benar. Informasi yang tidak tepat dapat mempengaruhi pemahaman agama siswa, sehingga penting bagi guru untuk memandu siswa dalam memilah informasi yang mereka terima melalui media sosial. Hasil wawancara dengan guru Fiqh dan Aqidah Akhlak di Madrasah menunjukkan bahwa media sosial berfungsi sebagai "double-edged sword" dalam konteks pembentukan literasi keagamaan. Salah seorang guru mengungkapkan bahwa meskipun media sosial membuka akses kepada siswa untuk belajar lebih banyak mengenai agama, di sisi lain, terdapat banyak informasi yang menyesatkan atau tidak Data dari observasi juga menunjukkan bahwa meskipun media sosial digunakan untuk mencari pengetahuan, kadang-kadang siswa mendapatkan informasi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang benar. Beberapa siswa mengungkapkan bahwa mereka sering mendapatkan informasi keagamaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moderasi Islam yang seharusnya diajarkan di sekolah. Data yang diperoleh menjelaskan bahwa konsep "double-edged sword" tersebut memang relevan dengan penggunaan media sosial dalam pembelajaran agama. Siswa memiliki akses yang luas terhadap informasi agama, tetapi mereka juga rentan terpapar oleh informasi yang tidak sahih. Hal ini terjadi karena kurangnya kemampuan untuk memverifikasi informasi yang mereka temui. Siswa sering kali mengikuti akun atau video yang mengajarkan pandangan keagamaan yang menyimpang, yang dapat berpotensi merusak pemahaman mereka. Oleh karena itu, meskipun media sosial memberikan peluang, namun risiko penyebaran informasi yang tidak akurat juga sangat Relasi antara deskripsi dan eksplanasi pada paragraf sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam konteks pembelajaran agama memang memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial memungkinkan siswa untuk mengakses berbagai materi pembelajaran agama yang bermanfaat. Di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi ruang bagi informasi yang tidak terverifikasi, yang dapat mengarah pada pemahaman agama yang keliru. Hal ini memperlihatkan pentingnya pengawasan dan Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 bimbingan dari guru dalam mengarahkan siswa untuk menggunakan media sosial secara bijak dan kritis. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, dapat disimpulkan bahwa literasi keagamaan di kalangan siswa Madrasah Aliyah perlu diperkuat, terutama dalam konteks media sosial. Guru Aqidah Akhlak menjelaskan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai alat untuk memperkaya pengetahuan agama siswa, tetapi mereka harus memiliki keterampilan literasi keagamaan yang cukup untuk menyaring informasi yang ada. Beberapa guru menyarankan siswa untuk memilih sumber-sumber yang otoritatif dan mengikuti akun-akun yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang Selain itu, ada pula upaya untuk mengintegrasikan literasi keagamaan dalam pembelajaran, dengan memberikan siswa tugas untuk mencari informasi yang benarbenar terverifikasi dari media sosial, yang kemudian didiskusikan dalam kelas. Data menunjukkan bahwa literasi keagamaan yang dimaksudkan adalah kemampuan siswa untuk mengkritisi dan memilih informasi yang benar mengenai ajaran agama dari berbagai sumber, termasuk media sosial. Data observasi menunjukkan bahwa beberapa siswa masih merasa bingung dalam membedakan informasi yang valid dan yang tidak sahih. Oleh karena itu, keterampilan literasi keagamaan yang baik sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di era digital ini. Guru-guru yang terlibat dalam penelitian ini juga mencatat bahwa meskipun banyak siswa yang antusias dalam mencari pengetahuan agama melalui media sosial, mereka juga sering kali tidak menyaring informasi dengan baik. Relasi antara deskripsi dan eksplanasi dalam paragraf ini mengarah pada pemahaman bahwa literasi keagamaan merupakan elemen kunci dalam membentuk pemahaman agama yang benar, terutama dalam menghadapi media sosial. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa meskipun media sosial dapat menjadi sumber informasi yang berharga, penting bagi siswa untuk memiliki kemampuan literasi keagamaan yang cukup untuk memilah dan memilih informasi yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa pengajaran literasi keagamaan perlu ditingkatkan agar siswa dapat memanfaatkan media sosial dengan bijak dan memperoleh pemahaman agama yang sahih dan moderat. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan pemahaman agama pada siswa di Madrasah Aliyah. Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 dengan fokus pada pengaruhnya dalam pembelajaran fiqh dan aqidah-akhlak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial, seperti Instagram. TikTok, dan YouTube, telah menjadi sarana yang efektif bagi guru dan siswa untuk mencari informasi dan mendalami topik-topik agama. Dalam beberapa observasi, ditemukan bahwa guru seringkali memanfaatkan media sosial sebagai referensi dalam pembelajaran, serta menginstruksikan siswa untuk memanfaatkan platform ini untuk mencari masalah fiqh kontemporer dan solusi dari masalah tersebut. Dalam hal ini, media sosial menjadi sarana yang memperluas cakrawala pengetahuan agama siswa, meskipun dengan beberapa keterbatasan dalam hal akurasi informasi. Penelitian ini sejalan dengan temuan dalam literatur yang menunjukkan bahwa media sosial memiliki potensi besar dalam pendidikan, termasuk dalam konteks pembelajaran agama. (Alshuaibi et al. , 2. Penelitian-penelitian sebelumnya menekankan bahwa meskipun media sosial dapat memberikan akses cepat ke informasi, penggunaannya harus diimbangi dengan pemahaman kritis dan selektif terhadap sumber yang tersedia. Dalam hal ini, penelitian ini memberikan kontribusi dengan menyoroti pentingnya literasi digital keagamaan, khususnya dalam konteks pendidikan agama Islam. Sementara penelitian lain juga menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi pedang bermata dua . ouble-edged swor. , penelitian ini lebih menekankan pada penerapan praktis di ruang kelas dan cara-cara guru dalam mengarahkan siswa untuk memilah informasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Refleksi terhadap hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan media sosial dalam konteks pembelajaran agama membawa manfaat besar bagi siswa, terutama dalam memperkaya pengetahuan agama mereka. Namun, hal ini juga menunjukkan adanya tantangan besar dalam memilih informasi yang tepat dan sesuai dengan ajaran agama yang sahih. Hasil penelitian ini memberi pemahaman bahwa guru memiliki peran penting dalam membimbing siswa untuk menggunakan media sosial dengan bijak, dengan menekankan pentingnya sumber yang valid dan terpercaya. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menyoroti bagaimana media sosial digunakan, tetapi juga memberikan gambaran yang lebih dalam tentang pentingnya pendidikan agama yang kritis di dunia digital saat ini. Implikasi dari penelitian ini sangat penting, khususnya bagi pengembangan kurikulum pendidikan agama yang memasukkan media sosial sebagai salah satu sumber Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Penelitian ini memberikan wawasan baru bagi para pendidik dalam mengoptimalkan media sosial sebagai alat pendidikan, sambil tetap menjaga akurasi informasi yang disampaikan. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya penerapan literasi digital keagamaan dikalangan siswa agar mereka dapat lebih bijaksana dalam menggunakan teknologi untuk mencari pengetahuan agama. Hasil penelitian ini bisa dijadikan dasar untuk pelatihan guru dalam memanfaatkan media sosial secara efektif di dalam kelas. Hasil penelitian ini sangat diperlukan dalam konteks pendidikan Islam di era digital, karena dapat membantu para pendidik memahami peran media sosial dalam proses pembelajaran agama. Selain itu, hasil penelitian ini memberikan dasar yang kuat bagi kebijakan pendidikan untuk meningkatkan literasi digital, terutama dalam pengajaran agama Islam. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pelatihan bagi guru dalam menggunakan media sosial secara positif dan produktif, sehingga mereka dapat membimbing siswa dengan lebih baik dalam memahami informasi keagamaan di dunia Aksi yang perlu diambil berdasarkan hasil penelitian ini adalah peningkatan pemahaman dan pelatihan bagi guru mengenai penggunaan media sosial dalam konteks pembelajaran agama. Lebih lanjut, hasil wawancara dengan beberapa guru mata pelajaran fiqh dan aqidah-akhlak menunjukkan bahwa masih terdapat kebutuhan mendesak untuk peningkatan kapasitas guru dalam memanfaatkan media sosial secara tepat dalam proses pembelajaran. Seorang guru fiqh menyatakan: AuKami sangat terbantu dengan video dakwah atau konten keislaman yang ada di media memanfaatkannya dalam pembelajaran yang sistematis dan sesuai kurikulum. Ay Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun guru memiliki kemauan untuk mengintegrasikan media sosial dalam proses belajar-mengajar, masih terdapat keterbatasan dari sisi keterampilan digital dan literasi keagamaan berbasis teknologi. Oleh karena itu, penyelenggaraan pelatihan atau workshop yang fokus pada literasi digital keagamaan sangat diperlukan. Kegiatan semacam ini dapat membantu guru dalam mengidentifikasi konten yang valid, menghindari penyebaran informasi keagamaan yang keliru, serta menyusun strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital. Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Selain itu, dari hasil wawancara dengan siswa, ditemukan bahwa banyak dari mereka mengakses konten agama secara bebas tanpa bimbingan yang memadai. Seorang siswa kelas XI menyampaikan: AuSaya sering nonton ceramah di YouTube atau TikTok, tapi kadang nggak tahu mana yang benar atau salah. Pokoknya yang enak didengar aja saya ikuti. Ay Temuan ini mengindikasikan perlunya pengawasan yang lebih intensif terhadap konten digital yang dikonsumsi oleh siswa, karena akses informasi tanpa filter dapat menyebabkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam. Dalam hal ini, peran guru dan sekolah sangat penting dalam membimbing siswa agar mampu mengenali konten keagamaan yang otentik, berbasis dalil, dan tidak menyimpang dari prinsip moderasi Sebagai tindak lanjut, penguatan kebijakan kurikulum yang secara eksplisit mengakomodasi penggunaan media sosial dalam pembelajaran agama Islam menjadi langkah strategis. Dengan demikian, media sosial tidak hanya dilihat sebagai alat tambahan, tetapi sebagai bagian integral dari strategi pendidikan agama yang responsif terhadap perkembangan teknologi informasi. Kurikulum juga perlu memuat kompetensi digital yang relevan dengan pendidikan agama, termasuk aspek pemilahan konten, validasi sumber keislaman, serta penanaman nilai-nilai kritis dan akhlak digital . dab bersosial medi. KESIMPULAN Salah satu temuan paling penting dalam penelitian ini adalah bahwa media sosial, yang sering dipandang sebagai alat untuk hiburan atau komunikasi sosial, ternyata memiliki potensi besar dalam memperkaya pemahaman agama pada siswa di Madrasah Aliyah. Meskipun sering dianggap sebagai sumber informasi yang tidak selalu dapat dipercaya, penelitian ini menemukan bahwa media sosial, dengan pengawasan dan bimbingan yang tepat dari guru, dapat menjadi sarana efektif dalam pencarian pengetahuan agama, baik dalam konteks fiqh maupun aqidah-akhlak. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai alat pembelajaran yang bisa membantu siswa memahami topik-topik agama yang kompleks, dengan catatan bahwa mereka harus didorong untuk memilah informasi secara kritis. Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan baik secara teoritis maupun praktis dalam pengembangan pemahaman tentang literasi digital keagamaan. Secara teoritis, penelitian ini menambahkan dimensi baru pada studi tentang media sosial dalam konteks pendidikan agama, dengan menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar agama. Secara praktis, penelitian ini memberikan panduan bagi pendidik tentang bagaimana memanfaatkan media sosial secara efektif dalam pengajaran agama, sambil tetap mengedepankan pentingnya validitas dan otoritas sumber informasi. Dengan demikian, penelitian ini dapat memperkaya wawasan pendidik dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, sambil memastikan bahwa siswa tetap mendapatkan pengetahuan agama yang sahih. Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal cakupan sampel yang terbatas pada beberapa Madrasah Aliyah saja, yang dapat mempengaruhi generalisasi hasil. Selain itu, penggunaan media sosial yang bervariasi antara satu siswa dengan siswa lainnya membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai dampak jangka panjang penggunaan media sosial dalam pembelajaran agama. Penelitian mendatang bisa mengembangkan aspek tersebut dengan memperluas sampel dan menambahkan variasi pada jenis platform media sosial yang digunakan. Di samping itu, penelitian lebih lanjut juga dapat mengeksplorasi lebih dalam mengenai tantangan yang dihadapi siswa dalam memilah informasi agama yang benar dari yang salah di dunia Berikut adalah temuan penelitian yang disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan tujuan penelitian: Aspek Penelitian Temuan Utama Pemanfaatan Media Sosial Pembelajaran Agama Media sosial, seperti YouTube. Instagram, dan TikTok, digunakan oleh guru untuk mencari materi fiqh dan aqidah-akhlak, serta untuk diskusi pembelajaran. Siswa antusias dalam mencari informasi agama melalui platform ini. Tidak semua informasi yang ditemukan di media sosial akurat dan sesuai dengan ajaran agama yang Beberapa siswa mengajukan pertanyaan mengenai video atau Kualitas Informasi yang Ditemui Siswa Rekomendasi untuk Meningkatkan Literasi Digital Keagamaan Guru perlu memberikan panduan yang lebih jelas mengenai sumbersumber terpercaya di media sosial dan menyarankan untuk tidak hanya mengandalkan informasi yang viral. Perlu adanya pendidikan kritis bagi siswa untuk memilah informasi yang sahih dan mengajak mereka untuk selalu merujuk pada sumber otoritatif seperti kitab-kitab fiqh Salmi Wati, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Peran Guru Mengarahkan Penggunaan Media Sosial Pentingnya Diskusi Kelas Pembelajaran Agama artikel yang mereka temui. Guru berperan dalam memandu siswa untuk menggunakan media sosial secara bijak dalam mencari pengetahuan agama, serta untuk masalah-masalah fiqh secara lebih mendalam. Siswa lebih memahami fiqh dan aqidah-akhlak dengan berdiskusi langsung bersama guru dan temantemannya di kelas, daripada hanya mengandalkan informasi media dan pendapat ulama terpercaya. Diperlukan pelatihan untuk guru dalam memanfaatkan media sosial sebagai sumber belajar yang efektif dan bijak, serta dalam mengelola diskusi yang melibatkan informasi dari platform ini. Meningkatkan secara aktif, mengintegrasikan memperdalam pemahaman agama secara lebih komprehensif. Tabel ini menyajikan temuan utama penelitian terkait pemanfaatan media sosial dalam pembelajaran agama, serta rekomendasi untuk meningkatkan literasi digital keagamaan siswa dengan memanfaatkan media sosial secara positif. DAFTAR PUSTAKA