OPEN ACCESS JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. November 2025. Hal. e-ISSN. 3090-028X DOI. https://doi. org/10. 58472/jipsh. Research Article Studi Fenomenologi Pemahaman Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak di Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin Katerban Ngawi Zainal Abidin1. Ahmad Ali Riyadi2. Irmawan Jauhari3 Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Indonesia Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Indonesia Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Indonesia Corresponding Author: Zainal Abidin. Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Indonesia Email: zainsocrates@gmail. Abstract The aim of this research is to study phenomena that occur in society and find out how parents consider the Ma'hadul Muta'allimin Katerban Ngawi Islamic boarding school as an educational choice for their This research focuses on parents' understanding of how they choose Islamic boarding schools as an educational choice for their children. This study analyzes phenomenology from the perspective of social construction theory. The research collected data through observation, documentation and in-depth This research was conducted at Ma'hadul Muta'allimin, an educational institution that offers formal education and religious knowledge in one place. The research results show that the Ma'hadul Muta'allimin Katerban Ngawi Islamic boarding school is an Islamic educational institution that offers religious and formal education which continues to change according to the demands of the times. Internal factors, such as family culture and parental education, and external factors, such as teenagers' interactions, the reality of society, and parents' busy lives, including parental considerations, such as religious and formal education, and full supervision from the Islamic boarding school management. Keywords: The Phenomenology. The Understanding of the Elderly. PonPes MaAohadul MutaAoallimin Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari fenomena yang terjadi di masyarakat dan mengetahui bagaimana orang tua mempertimbangkan pondok pesantren Ma'hadul Muta'allimin Katerban Ngawi sebagai pilihan pendidikan untuk anak-anaknya. Penelitian ini berfokus pada pemahaman orang tua tentang bagaimana mereka memilih pondok pesantren sebagai pilihan pendidikan untuk anak-anaknya. Studi ini menganalisis fenomenologi dari sudut pandang teori kontruksi sosial. Penelitian mengumpulkan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Penelitian ini dilakukan di Ma'hadul Muta'allimin, sebuah lembaga pendidikan yang menawarkan pendidikan formal dan ilmu agama dalam satu tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pondok pesantren Ma'hadul Muta'allimin Katerban Ngawi adalah institusi pendidikan islam yang menawarkan pendidikan agama dan formal yang terus berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Faktor internal, seperti kultur keluarga dan pendidikan orang tua, dan faktor eksternal, seperti pergaulan remaja, realitas masyarakat, dan kesibukan orang tua, termasuk pertimbangan orang tua, seperti pendidikan agama dan formal, dan pengawasan penuh dari kepengurusan pondok pesantren. Kata kunci: Fenomenologi. Pemahaman Orang Tua. PonPes MaAohadul MutaAoallimin JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 240 PENDAHULUAN Pendidikan dalam keluarga memegang peranan yang sangat mendasar sebagai landasan utama dalam pembentukan karakter, moral, serta kepribadian seseorang sejak usia dini (AbiNajih. Darajat & Slamet, 2. Dalam era globalisasi yang sangat kompetitif saat ini, kekhawatiran orang tua terhadap masa depan anak-anak mereka semakin meningkat. Fenomena sosial seperti maraknya tindak kriminalitas remaja, tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, perilaku seks pra-nikah, serta kemerosotan moral yang kerap menghiasi media massa menjadi cerminan nyata tergerusnya nilai-nilai moral dan spiritual di kalangan generasi muda. Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan serius dalam dunia pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moralitas anak. Menurut Tilaar . , pendidikan tidak boleh hanya diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis, melainkan juga harus menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan spiritualitas agar peserta didik menjadi manusia yang utuh. Dalam konteks ini, keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama memiliki peranan penting dalam memberikan dasar nilai, budi pekerti, dan arah kehidupan anak. Namun, banyak orang tua yang kemudian mempercayakan peran tersebut kepada lembaga pendidikan formal maupun nonformal, salah satunya pondok pesantren. Menurut Afharrozi . Pondok pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang bersifat menyeluruh, karena menggabungkan unsur pendidikan formal dan nonformal dalam satu sistem yang terpadu. Selain menitikberatkan pada pendalaman ilmu agama, pesantren juga menyelenggarakan kurikulum pendidikan umum guna membekali santri dengan wawasan yang luas dan pengetahuan yang komprehensif. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki kontribusi besar dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan berkarakter kuat. Sebagaimana dikemukakan oleh Madjid . , pesantren adalah lembaga pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan agama, tetapi juga membentuk kepribadian dan moral peserta didik agar memiliki keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Menurut Tolib . pondok pesantren secara institusi atau kelembagaan dikembangkan untuk mengefektifkan dampaknya, pondok pesantren bukan saja sebagai tempat belajar melainkan merupakan proses hidup itu sendiri, pembentukan watak dan pengembangan sumber daya. Dalam hal ini, pesantren menjadi benteng moral yang mampu menyiapkan generasi berilmu, berakhlak, dan mandiri di tengah arus globalisasi yang cenderung sekuler dan materialistik. Belakangan ini, pesantren kembali diminati oleh banyak orang tua sebagai alternatif pendidikan yang dinilai mampu menanamkan nilai-nilai religius, kedisiplinan, dan tanggung Fenomena ini mencerminkan munculnya kesadaran baru di kalangan masyarakat tentang pentingnya pendidikan berbasis karakter dan nilai-nilai keagamaan dalam membentuk generasi muda yang berakhlak mulia. Di tengah krisis moral yang melanda generasi muda, pesantren dianggap sebagai tempat yang mampu menanamkan nilai spiritual, etika, serta kemandirian yang kuat pada diri santri. Namun demikian, pesantren juga menghadapi dua tantangan besar dalam perkembangannya. Di satu sisi, pesantren dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan sosial dan kebutuhan zaman modern, termasuk dalam aspek kurikulum, teknologi, dan metode pembelajaran. Di sisi lain, pesantren harus tetap menjaga identitas keislaman, nilai-nilai tradisi, serta karakter khas yang telah menjadi ciri utama lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Menurut Damayanti . , dukungan orang tua terhadap pendidikan anak di pesantren memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan santri. Santri yang JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 241 memperoleh dukungan emosional, moral, dan material yang memadai dari orang tuanya cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi serta motivasi belajar yang lebih Dukungan tersebut juga membantu santri dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan selama menjalani kehidupan di lingkungan pesantren. Keterlibatan orang tua menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan santri dan keberlangsungan sistem pendidikan Sebagaimana dikemukakan oleh Wahid . , pesantren merupakan subkultur yang memiliki kekuatan untuk mempertahankan nilai-nilai moral di tengah arus perubahan Akan tetapi, pesantren juga perlu melakukan inovasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Hal ini tampak pada upaya beberapa pesantren yang mulai mengintegrasikan kurikulum umum dengan pendidikan agama, seperti yang dilakukan oleh Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin Katerban Ngawi. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi juga memasukkan pelajaran umum dalam kurikulumnya, sehingga diharapkan mampu melahirkan santri yang tidak hanya alim dalam agama, tetapi juga cakap dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Pendidikan di pesantren, sebagaimana dijelaskan oleh Dhofier . , mengandung sistem nilai yang kuat, meliputi kepatuhan terhadap guru . , kesederhanaan, kemandirian, dan kebersamaan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam membentuk kepribadian santri yang berakhlakul karimah, disiplin, serta mandiri. Dalam konteks manajemen kelembagaan, pondok pesantren dengan segala keanekaragamannya termasuk lembaga pendidikan yang unik. Hal ini disebabkan oleh keberadaan figur kiai yang memiliki peranan dan kewenangan sangat besar dalam menentukan arah kebijakan pesantren. Menurut Asifudin . , peran sentral kiai sering kali menimbulkan dinamika tersendiri dalam perspektif ilmu manajemen modern, karena pola kepemimpinan yang bersifat karismatik dan paternalistik terkadang tidak sepenuhnya sejalan dengan prinsip-prinsip manajerial formal. Namun demikian, keberhasilan pendidikan di pesantren tidak hanya ditentukan oleh sistem nilai dan kepemimpinan kiai, tetapi juga sangat bergantung pada sejauh mana orang tua memahami tujuan, proses, serta sistem pendidikan yang diterapkan di pesantren. Pemahaman yang baik dari orang tua akan melahirkan sikap positif, kepercayaan penuh, serta keterlibatan aktif dalam mendukung proses pendidikan anak. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati . menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua memilih pesantren karena dinilai mampu membentuk karakter religius dan kedisiplinan anak. Sejalan dengan itu, penelitian Hidayat dan Suryana . mengungkapkan bahwa tingkat kepercayaan orang tua terhadap pesantren sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap kualitas pendidikan serta figur kiai sebagai teladan moral bagi santri. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Lestari . menegaskan bahwa pemahaman orang tua yang baik terhadap sistem pendidikan pesantren berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan anak dalam belajar dan beradaptasi di lingkungan pesantren. Selain itu, penelitian Usman & Baharuddin . memperkuat temuan tersebut dengan menunjukkan bahwa kolaborasi antara orang tua santri dan guru di Pondok Pesantren Darussalam telah terjalin dengan baik melalui hubungan komunikasi yang efektif, pembagian tugas, serta tanggung jawab bersama dalam menjalankan program pendidikan. Bentuk kerja sama ini menjadi faktor penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan pesantren secara optimal. Dengan demikian, pemahaman orang tua terhadap pendidikan anak di pesantren merupakan faktor yang krusial dalam menunjang keberhasilan pendidikan santri. Pemahaman ini mencakup persepsi orang tua mengenai tujuan pendidikan pesantren, metode pembelajaran. JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 242 pola asuh kiai, serta nilai-nilai yang ditanamkan kepada santri. Dalam konteks Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin Katerban Ngawi, menarik untuk dikaji bagaimana orang tua memahami dan menilai peran pesantren ini dalam membentuk karakter dan masa depan anakanak mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam fenomena pemahaman orang tua terhadap pendidikan anak di Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin Katerban Ngawi. Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini diharapkan mampu mengungkap pengalaman, pandangan, dan makna yang dibangun oleh para orang tua terhadap proses pendidikan di pesantren. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan wawasan masyarakat tentang pentingnya kolaborasi antara orang tua dan lembaga pesantren dalam mendidik generasi muda yang beriman, berilmu, dan berakhlakul METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi karena bertujuan untuk memahami secara mendalam pemahaman orang tua terhadap pendidikan anak di Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin Katerban Ngawi. Menurut Creswell . , fenomenologi digunakan untuk menggali makna pengalaman individu terhadap suatu fenomena yang mereka alami secara langsung. Pendekatan ini dipadukan dengan teori konstruksi sosial dari Berger & Luckmann . , yang menjelaskan bahwa realitas sosial terbentuk melalui proses interaksi manusia dan dipahami secara subyektif maupun obyektif. Melalui perspektif ini, peneliti berusaha mengungkap bagaimana orang tua membangun makna, alasan, serta pandangan mereka terhadap pendidikan pesantren. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen dengan subjek penelitian orang tua santri Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin Katerban Ngawi periode 2023-2024. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh mengenai cara orang tua memahami pendidikan anak dalam konteks sosial dan budaya pesantren. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan penelitian ini berfokus pada pemahaman dan pertimbangan orang tua dalam memilih Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin Katerban Ngawi sebagai lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka. Berdasarkan hasil wawancara mendalam, observasi lapangan, serta dokumentasi yang dikumpulkan selama penelitian, terungkap bahwa para orang tua memiliki persepsi yang positif terhadap pesantren ini. Mereka menilai bahwa Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan agama, tetapi juga sebagai lembaga yang mengintegrasikan aspek spiritual, intelektual, sosial, dan moral dalam satu sistem pendidikan yang terpadu. Pemahaman orang tua terhadap pondok pesantren ini menunjukkan adanya kesadaran yang tinggi bahwa pendidikan di pesantren dapat menjadi solusi untuk membentuk generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman modern. Sebagian besar orang tua memahami bahwa Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin memiliki sistem pendidikan yang menekankan keseimbangan antara pendidikan formal dan Pesantren ini menyediakan jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, serta memadukan kurikulum umum dan kurikulum keagamaan. Hal tersebut memberikan kemudahan bagi para orang tua yang menginginkan anak-anak mereka JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 243 memperoleh pendidikan agama tanpa meninggalkan pendidikan akademik. Dalam pandangan mereka, model pendidikan seperti ini menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan umum pada umumnya. Selain itu, sistem pengawasan dan pembinaan 24 jam penuh yang diterapkan di pesantren menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan dari para orang tua terhadap proses pembentukan karakter anak di lingkungan pesantren. Menurut Hurlock . , persepsi dan pemahaman orang tua terhadap pendidikan sangat menentukan arah dan dukungan yang diberikan kepada anak dalam proses belajar. Orang tua yang memahami nilai dan tujuan pendidikan akan lebih terlibat aktif dalam mendukung keberhasilan anak. Dalam konteks pesantren, pemahaman ini tidak terlepas dari latar belakang sosial, budaya, dan religius masyarakat Indonesia yang menempatkan pesantren sebagai lembaga pendidikan moral yang memiliki nilai historis dan kultural yang kuat. Teori konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Berger & Luckmann . menjelaskan bahwa pemahaman seseorang terhadap suatu institusi terbentuk melalui proses interaksi sosial yang berlangsung secara terus-menerus. Dalam hal ini, pandangan positif orang tua terhadap pesantren merupakan hasil konstruksi sosial yang diwariskan secara turun-temurun di masyarakat, di mana pesantren dianggap sebagai tempat yang efektif dalam membentuk akhlak dan kedisiplinan anak. Berdasarkan hasil penelitian lapangan, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi pertimbangan orang tua dalam menetapkan Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin sebagai pilihan pendidikan bagi anak-anak mereka. Faktor pertama adalah biaya pendidikan yang tergolong terjangkau dan dikelola dengan sistem sentralisasi, sehingga memberikan kemudahan bagi masyarakat dari berbagai kalangan ekonomi. Faktor kedua adalah kelengkapan jenjang pendidikan yang mencakup pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, yang memungkinkan santri melanjutkan pendidikan tanpa harus berpindah lembaga. Faktor ketiga adalah keterpaduan antara pendidikan formal dan pendidikan agama, yang menjadi daya tarik utama bagi orang tua yang ingin anaknya mendapatkan pendidikan duniawi dan ukhrawi secara Faktor keempat adalah aspek kedekatan dan kekeluargaan, di mana beberapa orang tua memilih pesantren ini karena masih ada anggota keluarga yang juga mondok di tempat yang sama. Selain itu, orang tua juga mempertimbangkan pentingnya pendidikan agama di era modern yang dinilai mampu menjadi benteng moral bagi anak-anak mereka. Terakhir, sistem pengawasan 24 jam oleh pengurus dan pengasuh pesantren dianggap sebagai jaminan keamanan dan kedisiplinan yang sulit ditemukan di lembaga pendidikan lain. Temuan ini diperkuat oleh berbagai hasil penelitian terdahulu. Rahmawati . menemukan bahwa sebagian besar orang tua memilih pesantren karena lembaga ini dinilai mampu menanamkan nilai-nilai religius, kemandirian, dan kedisiplinan anak. Penelitian Hidayat & Suryana . menegaskan bahwa tingkat kepercayaan orang tua terhadap pesantren dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap kualitas pendidikan dan peran kiai sebagai figur moral yang menjadi panutan. Sejalan dengan itu, penelitian Lestari . menunjukkan bahwa pemahaman orang tua yang baik terhadap sistem pendidikan pesantren memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan anak dalam beradaptasi, belajar, dan mematuhi tata tertib di lingkungan pesantren. Lebih jauh lagi, penelitian Usman & Baharuddin . menyoroti pentingnya kolaborasi antara orang tua santri dan pihak pesantren dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Kolaborasi tersebut terwujud melalui komunikasi yang efektif, partisipasi dalam kegiatan pesantren, dan dukungan moral maupun finansial terhadap program pendidikan yang dijalankan. JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 244 Selain faktor-faktor tersebut, pemahaman orang tua tentang pesantren juga dipengaruhi oleh nilai-nilai religius dan budaya lokal. Dalam masyarakat pedesaan seperti di Katerban Ngawi, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pengembangan masyarakat, dan pelestarian tradisi keislaman. Orang tua memandang bahwa menyekolahkan anak di pesantren merupakan bagian dari ibadah sekaligus investasi spiritual bagi masa depan anak. Pendapat ini sejalan dengan teori pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Al-Ghazali . alam Nasution, 2. , yang menekankan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang berakhlak mulia dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar mengejar prestasi akademik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan pertimbangan orang tua terhadap Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin Katerban Ngawi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, meliputi aspek ekonomi, religius, sosial, dan kultural. Pesantren ini dipersepsikan sebagai lembaga pendidikan yang ideal karena mampu menyeimbangkan kebutuhan dunia dan akhirat anak, serta memberikan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter dan moral. Pemahaman yang baik dari orang tua berperan penting dalam keberhasilan pendidikan santri, sebab semakin tinggi tingkat pengetahuan dan keterlibatan orang tua, semakin besar pula peluang keberhasilan anak dalam menempuh pendidikan di Oleh karena itu, kolaborasi yang sinergis antara pihak pesantren dan orang tua perlu terus diperkuat guna mewujudkan tujuan pendidikan Islam yang kaffah dan berkelanjutan di tengah tantangan modernisasi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa orang tua memiliki pemahaman yang baik terhadap Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengintegrasikan pendidikan agama dan formal dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional pesantren. Faktor yang memengaruhi pemahaman dan keputusan orang tua dalam memilih pesantren ini meliputi faktor internal, seperti tingkat pendidikan orang tua, keinginan anak, lingkungan keluarga, dan kondisi ekonomi, serta faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan sosial, pentingnya pendidikan agama dan formal, dan kesibukan orang tua. Pertimbangan utama orang tua dalam menetapkan Pondok Pesantren MaAohadul MutaAoallimin sebagai tempat pendidikan anak antara lain biaya yang terjangkau, jenjang pendidikan yang lengkap, tersedianya pendidikan formal dan diniyah, lingkungan yang religius dan aman, serta adanya pengawasan penuh dari pengurus dan pengasuh. Pesantren ini dinilai mampu membentuk karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab anak sesuai dengan nilai-nilai Islam. REFERENSI