Edu-Sains Volume 14 No 2. Juli 2025 Pengembangan E-Modul Bermuatan Etnosains Pembuatan Serabi Untuk Meningkatkan Literasi Sains Peserta Didik Development Of E-Module Containing Ethnoscience On Making Serabi To Enhance Students' Science Literacy Dian Nur Halisa*. Norma Eralita Universitas Negeri Semarang. Semarang. Indonesia *Corresponding author: diannurhalisa@students. Received: June 23, 2025 Accepted: July 23, 2025 Published: July 30, 2025 Abstract Scientific literacy was recognized as a crucial skill that students needed in order to think critically, make sound decisions, and engage actively in both education and society. IndonesiaAos low performance in international scientific literacy assessments highlighted the urgent need for learning media that are contextual and connected to studentsAo everyday This study aimed to develop and examine the feasibility and effectiveness of an ethnoscience-integrated e-module on serabi making to foster studentsAo scientific literacy. four-phase development model was applied, which included definition, design, develop, and dissemination stages. The results indicated that the e-module, which had been developed systematically using the 4D model, was highly feasible, as shown by a validation score of It received a positive response from 94. 5% of students and was proven to be moderately effective in enhancing studentsAo scientific literacy, as evidenced by a wilcoxon test significance value of less than 0. 001 and an n-gain score of 0. Therefore, the developed e-module served as a promising alternative learning medium that enhanced studentsAo scientific literacy. Keywords: E-module, ethnoscience, scientific literacy, 4D model Abstrak Kemampuan literasi sains merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki peserta didik untuk berpikir kritis, mengambil keputusan, dan berpartisipasi aktif dalam dunia pendidikan dan masyarakat. Rendahnya hasil literasi sains Indonesia pada penilaian sains tingkat internasional menunjukkan perlunya media pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan serta efektivitas e-modul bermuatan etnosains pembuatan serabi untuk membekali literasi sains peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan dengan model 4D, yaitu define, design, develop, dan disseminate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul yang dikembangkan secara sistematis melalui model 4D, dinilai sangat layak dengan presentase 95,85% berdasarkan hasil validasi, dan mendapat respon positif sebesar 94,5% dari peserta didik, serta terbukti cukup efektif dalam meningkatkan literasi sains peserta didik dengan hasil nilai signifikansi uji wilcoxon sebesar <0,001 , dan n-gain 0,66. Oleh karena itu, e-modul ini dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang mampu meningkatkan literasi sains peserta didik. Halisa. , dkk. Pengembangan E-Modul. Kata Kunci: E-modul, etnosains, literasi sains, model 4D PENDAHULUAN penilaian sains internasional (OECD. Peningkatan peringkat tersebut hanya menunjukkan perbandingan antar negara, bukan peningkatan performa sains sesungguhnya, sehingga mengungkap tantangan serius dalam penguasaan konsep dan literasi sains. Berpijak pada profil kemampuan literasi sains di Indonesia banyak peneliti yang tertarik akan meningkatkan dan mempertahankan performa kemampuan literasi sains melalui perbaikan instrumen penilaian, pemberian inovasi pembelajaran yang mutakhir, metode serta bahan ajar yang akan digunakan dalam pembelajaran (Merta dkk. , 2. Kemajuan sains dan teknologi diakui sebagai implikasi hasil pengembangan pendidikan, hal ini telah menjadi tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkompoten (Lamuri & Laki, 2. era ini, pendidikan menjadi semakin penting untuk memastikan peserta didik memiliki kemampuan dalam belajar, berinovasi, serta memanfaatkan teknologi dan media informasi, yang dapat mendukung mereka bekerja dan bertahan hidup dalam dunia pendidikan dan Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah literasi sains, yang disebabkan oleh kemajuan sains dan teknologi dalam pendidikan (Fuadi dkk. Bahan ajar penting bagi proses pembelajaran secara keseluruhan oleh karena itu pengembangan bahan ajar perlu disusun dengan baik untuk mencukupi kompetensi yang diharapkan (Ramadhani & Dewi, 2. Bahan ajar . nstructional material. menjadi kunci dalam proses pembelajaran karena menjadi dasar interaksi antara guru dan siswa, serta arah kegiatan belajar mengajar (Richards. Sejalan dengan pernyataan Tomlinson . bahwa esensi bahan ajar bukan sekadar sumber informasi, tetapi alat interaktif yang harus mendukung proses pembelajaran aktif antara guru dan siswa, serta disesuaikan dengan kebutuhan Dalam kerangka tersebut, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga bertindak sebagai perancang pengalaman belajar yang bermakna, termasuk menyesuaikan dan mengembangkan bahan ajar sesuai dengan kebutuhan peserta Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA SMP Negeri 5 Ungaran, diperoleh informasi bahwa bahan ajar yang selama ini digunakan masih terbatas pada powerpoint (PPT), buku paket, dan LKS. Materi IPA yang disampaikan belum mengintegrasikan nilai-nilai etnosains, sementara nilai-nilai tersebut memiliki Literasi sains merupakan pemahaman sains atas proses serta aplikasinya dalam masyarakat, oleh sebab itu literasi sains sangatlah diperlukan dalam dunia meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia (Dewantari & Singgih, 2. Literasi sains dipandang sebagai alat pemberdayaan masyarakat pengambilan keputusan berbasis sains (Falk & Dierking, 2. Pernyataan tersebut sejalan dengan National Research Council . menyebutkan bahwa penekanan literasi sains bukan hanya pada aspek pengetahuan dan pemahaman terhadap konsep dan proses sains saja, namun juga diarahkan pada proses seseorang dalam membuat keputusan dan Kelemahan mendasar dalam rendahnya literasi sains siswa terlihat dari penurunan skor Indonesia yang turun dari 396 menjadi 383, meskipun peringkat relatif naik ke posisi ke-74 dari 81 negara dalam Edu-Sains Volume 14 No 2. Juli 2025 potensi signifikan dalam mengaitkan konsep-konsep sains dengan budaya lokal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari Ketiadaan konteks pembelajaran yang bermakna dan kontekstual dapat menyebabkan pemahaman siswa terhadap materi sains menjadi kurang mendalam dan tidak berkelanjutan, yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya literasi sains peserta didik di SMP Negeri 5 Ungaran. Kondisi ini menyebabkan tujuan pembelajaran belum dapat tercapai secara optimal. dikenal, siswa lebih mudah memahami materi sains secara mendalam, reflektif, dan aplikatif. Literasi sains mencakup kemampuan memahami konsep sains, menerapkannya dalam kehidupan seharihari, berpikir kritis, serta mengambil keputusan berdasarkan bukti ilmiah. Oleh karena itu, integrasi etnosains dalam pembelajaran IPA secara langsung mendukung penguatan dimensi-dimensi tersebut dalam literasi sains siswa. Penelitian terdahulu turut memperkuat pernyataan ini, bahwasanya Nihwan & Widodo . menunjukkan jika penggunaan e-modul berbasis etnosains mampu meningkatkan literasi sains secara pembelajaran yang kontekstual dan Sementara itu, (Kriswanti dkk. juga menemukan bahwa integrasi nilai-nilai etnosains dalam bahan ajar mendorong keterlibatan siswa dan terhadap konsep-konsep sains. Dengan demikian, pendekatan etnosains tidak hanya memperkaya konten pembelajaran, tetapi juga secara nyata berkontribusi terhadap peningkatan literasi sains peserta Upaya pembelajaran yang diharapkan diperlukan pengembangan bahan ajar (Ritonga dkk. Salah satu bahan ajar yang dapat dikembangkan adalah modul elektronik atau e-modul. E-modul merupakan modul dalam bentuk digital yang dikembangkan dengan mengintegrasikan komponen multimedia . eks, gambar, audio, dan pembelajaran berlangsung secara interaktif dan mandiri (Darmaji dkk. , 2. Dalam pengembangan ini, e-modul bermuatan etnosains tidak hanya mengadaptasi komponen dari modul cetak ke bentuk elektronik, tetapi juga memuat nilai-nilai lokal sebagai bagian dari pembelajaran Pengembangan e-modul bermuatan etnosains sebagai bahan ajar bertujuan untuk mengenalkan kebudayaan atau kearifan lokal ke dalam materi Pendekatan ini sejalan dengan pernyataan Parmin dkk . yang menegaskan bahwa pendidikan memiliki fungsi sebagai wahana untuk melestarikan budaya positif bangsa, sehingga pembelajaran IPA perlu dibekali mengintegrasikan budaya lokal melalui pendekatan etnosains. Etnosains memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi sains karena mampu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, relevan, dan dekat dengan realitas kehidupan siswa. Dengan mengaitkan konsep-konsep ilmiah pada praktik budaya lokal yang telah METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian . esearch pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan kebutuhan dan kelayakan produk yang dikembangkan, sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur efektivitas produk dalam membekali literasi sains peserta didik. Model pengembangan yang digunakan adalah Four-D . D) yang dikembangkan oleh Thiagarajan dkk . yang terdiri dari empat tahap, yaitu pendefinisian . , . , . , penyebarluasan . Model ini Halisa. , dkk. Pengembangan E-Modul. dipilih karena memiliki tahapan sistematis dan terprogram dalam menghasilkan produk pembelajaran yang efektif, menunjukkan tingkat kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2. Instrumen dikatakan valid jika dapat mengukur apa yang diinginkan, dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Berdasarkan angket validasi dan respon peserta didik, instrumen akan dianalisis mengikuti skala likert yang terdiri dari empat kategori dengan skor 1 . angat kurang bai. , 2 . urang bai. , 3 . , dan 4 . angat bai. Skor yang diperoleh kelayakannya menggunakan rumus: sebagaimana ditunjukan pada Gambar 1. Define Design Disseminate Develop Gambar 1. Tahapan 4D (Thiagarajan , 1. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2024/2025 di SMP Negeri 5 Ungaran yang berlokasi di Jl. Nakula. Desa Kalongan. Kecamatan Ungaran Timur. Kabupaten Semarang. Jawa Tengah. Waktu pelaksanaan dimulai pada pertengahan April hingga akhir Mei Subjek penelitian terdiri dari validator dan peserta didik. Validator merupakan lima ahli materi dan lima ahli media pembelajaran yang menilai kelayakan e-modul. Subjek peserta didik adalah siswa kelas Vi tahun ajaran 2024/2025 sebagai populasinya. Uji coba skala kecil melibatkan sampel 10 siswa kelas Vi D, sedangkan uji coba skala besar melibatkan 32 siswa kelas Vi B, dimana teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara yang mengidentifikasi kebutuhan dan kelayakan Data kuantitatif diperoleh dari angket dan hasil pretest dan posttest, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial berupa uji wilcoxon dan uji n-gain dengan bantuan software SPSS untuk melihat efektivitas emodul dalam membekali literasi sains peserta didik. ycE= yce ycu 100% ycA (Sudijono, 2. Keterangan: P = Persentase skor yang didapatkan f = Jumlah skor total yang didapatkan N = Jumlah skor maksimal Untuk menentukan tingkat kevalidan dan kelayakan suatu produk, dapat dilihat pada tabel interpretasi penilaian (Arikunto, 2. sebagai berikut: Tabel 1. Kategori persentase kelayakan Presentase 81-100% 61-80% 41-60% 21-40% 0-20% Kategori Kelayakan Sangat Layak Layak Cukup Layak Tidak Layak Sangat Tidak Layak Kemampuan literasi sains siswa dapat diketahui melalui perbandingan hasil pretest dan posttest yang dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan diberikan. Untuk mengukur efektivitas perlakuan tersebut, khususnya dalam desain penelitian one group pre-test and post-test, digunakan analisis n-gain. Menurut Hake . , n-gain didefinisikan sebagai ukuran standar atas seberapa besar Analisis data statistik deskriptif untuk mengukur validitas dan kelayakan menggunakan skor penilaian skala likert. Validitas merupakan suatu ukuran yang Edu-Sains Volume 14 No 2. Juli 2025 pembelajaran yang terjadi relatif terhadap potensi maksimal peningkatan skor. Sejalan dengan pernyataan Sugiyono . n-gain merupakan rasio antara skor peningkatan yang diperoleh siswa dengan skor maksimum yang mungkin dicapai. Nilai rata-rata n-gain atau gain ternormalisasi yang diperoleh selanjutnya dianalisis melalui persamaan berikut: Berdasarkan wawancara dengan guru IPA SMP Negeri 5 Ungaran diperoleh data bahwa, penggunaan buku paket dari kemendikbud dan LKS berbayar dapat membatasi akses peserta didik terhadap materi yang lebih mendalam yang dikaitkan kebudayaan Pengembangan e-modul bermuatan etnosains disini dapat menjadi alternatif yang lebih fleksibel dan mudah diakses oleh semua peserta didik. E-modul dapat dirancang untuk mencakup berbagai aspek etnosains yang relevan dengan konteks lokal, sehingga peserta didik tidak hanya belajar teori, tetapi juga dapat mengaitkan pengetahuan sains dengan budaya dan kearifan lokal mereka. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 5 Ungaran adalah pendekatan saintifik dengan model inquiry terbimbing namun masih terpusat pada guru. Dengan dikembangkannya e-modul yang memuat pembelajaran ini, disamping juga berbasis masalah yang bertujuan untuk mendorong peserta didik aktif dalam menggali dan mengaitkan permasalahan kebudayan disekitar dengan pembelajaran IPA. ycIyceOeycI . = ycI OeycIycn yco ycn (Sugiyono, 2. Keterangan: = gain ternormalisasi = skor rata-rata post-test = skor rata-rata pre-test = skor maksimum Kategori keefektivitasan hasil analisis nilai n-gain dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kategori Nilai Gain Ternormalisasi Rata-rata N-Gain >0. <0. Interpretasi kategori N-Gain Efektif Cukup efektif Kurang efektif Tidak efektif Produk pengembangan dinyatakan efektif jika nilai memeproleh n-gain lebih dari 0,76 dan tidak efektif jika kurang dari 0,40. Kemampuan literasi sains peserta didik di SMP Negeri 5 Ungaran menurut hasil wawancara dengan guru dikatakan berada pada golongan menengah ke bawah, memerlukan bimbingan lebih untuk mencapai tujuan pembelajaran yang baik. E-modul menyertakan berbagai aktivitas seperti lembar kerja memuat indikator literasi sains, kuis, video, dan eksperimen yang dimana dapat membantu peserta didik memahami materi dengan lebih baik. Dengan cara ini, diharapkan dapat membekali kemampuan literasi sains peserta didik sehingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran yang HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian pengembangan ini menunjukkan bahwa e-modul bermuatan etnosains dengan konteks pembuatan serabi terbukti sangat layak digunakan dalam pembelajaran IPA, khususnya pada materi unsur, senyawa, dan campuran. Hal ini dibuktikan dari hasil dan pembahasan penelitian pengembangan melalui tahapantahapan model pengembangan 4D berikut Pendefinisian (Defin. Dalam tahap ini informasi yang didapatkan yaitu analisis awal atau analisi kebutuhan sebelum menentukan produk yanga akan Halisa. , dkk. Pengembangan E-Modul. Perancangan (Desig. Setelah mendapatkan permasalahan dari tahap pendefinisian, selanjutnya dilakukan tahap perancangan. Tahap perancangan bertujuan untuk merancang e-modul. Tahap penyusunan instrumen validasi dalam aspek media dan materi produk e-modul IPA dan instrumen angket respon peserta Instrumen ini digunakan untuk menilai kelayakan produk e-modul. Dilajutkan dengan pemilihan software mengembangankan e-modul, beserta pemilihan format-format yang akan dimuat didalamnya. Berikut merupakan tampilan dari e-modul bermuatan etnosains pembuatan serabi yang telah dikembangkan yang dapat diakses dan dilihat melalui link dan gambar di bawah. Tabel 2. Implementasi Etnosains dalam E-Modul Kajian etnosains dan aktivitasnya Lembar kerja peserta didik (LKPD) Gambar 2. Tampilan Cover E-Modul Bermuatan Enosains Pembuatan Serabi Link: https://shorturl. at/vX2u2 Selain itu pengimplementasian etnosains dalam e-modul juga dicantumkan pada kajian etnosains, aktivitas, lember kerja peserta didik, materi, dan latihan soal, serta rekonstruksi etnosains yang dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini Materi Edu-Sains Volume 14 No 2. Juli 2025 pendapat atau sains masyarakat dan konsep sains ilmiah. Rancangan e-modul yang telah dibuat oleh peneliti kemudian diberi masukan oleh dosen pembimbing. Masukan dari dosen pembimbing akan digunakan untuk memperbaiki e-modul sebelum rancangan e-modul akan di validasi. Pengembangan (Develo. Pada tahapan ini peneliti mengkonkretkan hasil perencanaan pada tahapan design Tahap pengembangan ini, produk yang telah terkonsep kemudian dikembangkan sesuai dengan materi, kebutuhan siswa, ilustrasi gambar lain menghasilkan bahan ajar yang sudah direvisi berdasarkan masukan ahli dan uji coba kepada siswa. Langkah pertama yaitu validasi, berfungsi untuk memvalidasi kelayakan aspek media dan materi pada pokok bahasan materi unsur, senyawa dan Rekapitulasi hasil validasi ahli media dan materi dapat dilihat pada tabel 3 dan 4 berikut ini. Latihan Soal Tabel 3. Rekapitulasi Penilaian Ahli Media Tabel Rekonstruksi Etnosains Aspek Penilaian Tabel 2 menampilkan lima bentuk implementasi etnosains yang dimuat dalam e-modul. Kelima aspek tersebut meliputi: . kajian etnosains dan aktivitasnya yang berkaitan dengan budaya lokal dalam konteks pembelajaran, . lembar kerja peserta didik (LKPD) mengamati dan menganalisis etnosains melalui etnovlog dalam LKPD, . materi ajar yang diintegrasikan dengan konsepkonsep ilmiah dan budaya lokal, . latihan soal yang dirancang untuk mengukur pemahaman siswa terhadap konsep sains dan penerapannya dalam konteks budaya yang dimuat dalam e-modul, serta . tabel menyederhanakan perbandingan antara Total Rata-rata Total (%) Kategori Desain Sampul Desain Isi Penggunaan Skor . Skor Maks (N) 97,2% Sangat Layak Tabel 4 Rekapitulasi Penilaian Ahli Materi Aspek Penilaian Isi Kebahasaan Penggunaan Total Rata-rata Total (%) Skor . Skor Maks (N) 94,5% Halisa. , dkk. Pengembangan E-Modul. Kategori Sangat Layak Validasi yang dilakukan oleh ahli media dan ahli materi menghasilkan skor kelayakan sangat tinggi, masing-masing sebesar 97,2% dan 94,5%, dengan rata-rata total 95,85%. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi tampilan, isi, dan teknis penyajian, e-modul telah memenuhi Meskipun demikian, beberapa saran dari aksesibilitas link interaktif, dan tampilan daftar pustaka, tetap menjadi perhatian penting dan telah ditindaklanjuti secara menyeluruh dalam proses revisi. Dari sisi materi, revisi signifikan dilakukan pada peta konsep yang sebelumnya kurang informatif, dengan penambahan narasi penjelas pada tiap cabang konsep. Hal ini penting untuk memperkuat pemahaman peserta didik terhadap keterkaitan antar konsep sains. Selain itu, aktivitas LKPD dalam e-modul juga disempurnakan, terutama pada materi unsur dan senyawa yang digabung menjadi satu aktivitas terpadu untuk memperjelas pemahaman mengenai zat murni. Aktivitas ini dirancang berbasis etnosains dengan mengaitkan fenomena lokal, seperti bahan tradisional pembuatan serabi, sehingga siswa dapat memaknai konsep ilmiah dalam konteks budaya mereka sendiri. melaksanakan pembelajaran dan diberikan tes akhir . setelah diberikan perlakuan . berupa penggunaan e-modul bermuatan etnosains pembuatan serabi, dalam hal ini peserta didik diajak untuk memahami konsep-konsep sains melalui bahan dan proses yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembuatan serabi melibatkan berbagai bahan seperti tepung beras, santan, gula merah, dan garam yang dikaji berdasarkan klasifikasi zat tunggak . nsur dan Sedangkan santan dan adonan tepung termasuk ke dalam campuran. Melalui kegiatan mencampurkan bahanbahan tersebut, peserta didik mempelajari konsep pencampuran zat, sedangkan proses seperti penyaringan santan atau pemisahan ampas kelapa digunakan untuk konsep pemisahan Dengan demikian, e-modul ini mengintegrasikan pengetahuan lokal dan sains untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi unsur, senyawa, dan campuran secara kontekstual meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik. Produk dinyatakan baik dan layak untuk disebarluaskan abaila telah melawati uji coba pengembangan . kala terbatas dan skala besar lapanga. , maka emodul dapat dikatakan berhasil membekali literasi sains peserta didik. Setelah melalui validasi dan revisi, maka dihasilkan produk valid yang siap di uji coba lapangan terbatas . elompok keci. Siswa diberikan angket respon terhadap emodul yang digunakan pada akhir uji coba. Setelah dilakukan proses validasi produk dan uji skala terbatas, produk akan di pengembangan lapangan skala besar dengan sampel satu kelas yang belum mendapatkan materi unsur senyawa dan Dalam uji skala besar ini menggunakan model One-Group PretestPosttest Design. Dalam penelitian ini siswa diberikan tes awal . sebelum Uji coba terbatas dan skala besar menunjukkan respon sangat positif dari peserta didik. Pada skala terbatas, respon siswa mencapai rata-rata 98%, sedangkan pada skala besar mencapai 91%, dengan rata-rata keseluruhan 94,5%. Peserta didik menyatakan bahwa e-modul mudah Beberapa masukan kecil muncul terkait keterbacaan teks dan penggunaan bahasa, namun secara umum siswa merasa terbantu dalam memahami materi karena penyajian yang kontekstual dan interaktif. Hal ini menunjukkan bahwa Edu-Sains Volume 14 No 2. Juli 2025 keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPA. Efektivitas e-modul juga dibuktikan melalui uji statistik menggunakan uji wilcoxon dan uji n-gain. Hasil uji wilcoxon menunjukkan nilai Z = -5. dengan signifikansi < 0. 001, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara hasil pretest dan posttest. Temuan ini diperkuat oleh nilai rata-rata n-gain sebesar 0. yang masuk kategori cukup efektif. Berdasarkan Sugiyono . nilai n-gain sebesar 0. termasuk dalam kategori cukup efektif . Ou 0. , yang berarti bahwa perbedaan menggunakan e-modul tergolong sangat Hal ini memperkuat hasil uji Wilcoxon e-modul perbedaan signifikan dalam proses Kedua hasil ini menegaskan bahwa e-modul yang dikembangkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa terhadap konsep-konsep IPA secara informasi kepada calon pengguna dalam konteks diseminasi awal modern. Penyebarluasan (Disseminat. Produk E-Modul bermuatan etnosains pembuatan serabi selanjutnya memasuki tahap akhir, yaitu menyebarluaskan. Proses penyebarluasan dilakuakan dengan membagikan produk yang dikembangkan pada seluruh grup guru dan peserta didik SMP Penyebarluasan produk dilakukan melalui penyebaran file melalui whatsapps dan publikasi jurnal ilmiah sehingga dapat dikatakan peneybarluasan. Meskipun dalam model 4D tahap disseminate ditujukan untuk menyebarluaskan produk secara langsung ke pengguna di berbagai institusi pendidikan (Thiagarajan dkk. , publikasi ilmiah juga dapat dianggap sebagai bagian dari pendekatan pengetahuan dan menarik minat pengguna potensial, atau sebagai strategi difusi E-modul yang disusun berdasarkan etnosains peuatan serabi dan dilengkapi indikator literasi sains, yakni menjelaskan fenomena ilmiah, merancang atau mengevaluasi penyelidikan ilmiah, serta menginterpretasi data dan bukti ilmiah dalam konteks serabi ini terbukti meningkatkan pemahaman konseptual sebagaimana ditunjukkan dalam hasil uji Wilcoxon dan uji n-gain. Peningkatan skor literasi sains ini mencerminkan bahwa peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu mengaplikasikan sains dalam kehidupan nyata melalui pendekatan budaya. Dengan kata lain, aktivitas eksplorasi, dan latihan soal dalam e-modul bermuatan konteks lokal berperan penting dalam membentuk pemikiran ilmiah siswa secara kritis dan Secara keseluruhan, e-modul bermuatan etnosains dengan konteks pembuatan pembelajaran yang layak dan efektif dalam meningkatkan literasi sains peserta didik. Proses pembuatan serabi yang dikaji dalam e-modul mencakup aktivitas kajian etnosains pencampuran dan pemisahan bahan pembuatan serabi seperti tepung beras, santan, gula dan garam yang dikaitkan langsung dengan konsep unsur, senyawa, dan campuran dalam IPA. Peserta didik tidak hanya diajak mengenali karakteristik bahan-bahan tersebut secara teoritis, tetapi juga mengamati dan menganalisisnya secara langsung dalam aktivitas kontekstual yang mereka pahami dan kenali dalam budaya lokal. Aktivitas seperti ini dapat memberi ruang bagi peserta didik untuk menjelaskan fenomena pertanyaan ilmiah yang relevan, dan menginterpretasi data serta bukti ilmiah yang mereka amati sendiri. Halisa. , dkk. Pengembangan E-Modul. Hasil ini diperkuat oleh pernyataan Sudarmin . yang menyatakan bahwa etnosains dapat menjembatani pemahaman antara pengetahuan lokal dan konsep ilmiah yang dapat diuji kebenarannya melalui metode sains. Temuan penelitian ini juga sejalan dengan pandangan Mayer . dan Gudesma . , yang kontekstual dan berbasis budaya secara signifikan meningkatkan retensi informasi, pemahaman konsep, serta kemampuan literasi sains peserta didik. Oleh karena itu, e-modul etnosains, khususnya dengan konteks pembuatan serabi, merupakan strategi diterapkan secara luas dalam pembelajaran IPA untuk menjadikan ilmu pengetahuan lebih relevan, kontekstual, dan bermakna bagi peserta didik. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar e-modul bermuatan etnosains ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan mengangkat materi IPA lainnya serta mengintegrasikan ragam kearifan lokal di berbagai daerah, guna memperkaya konten pembelajaran yang kontekstual dan bermakna bagi peserta didik. DAFTAR PUSTAKA