E-ISSN 2798-3846 Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 PENDAMPINGAN KOPERASI SEKOLAH SMAN 3 PONOROGO MELALUI RAPID RURAL APPRAISAL BERTAJUK AKU ANAK KOPERASI MILENIAL Elana Era Yusdita1*. Nur Wahyuning Sulistyowati1 Universitas PGRI Madiun *elaradita@unipma. id, nurwahyu@unipma. ABSTRAK Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk membangkitkan kesadaran siswa dalam mendukung kemajuan koperasi siswa sebagai anggota serta memberi dasar yang kuat kepada pengurus koperasi tentang dasar-dasar koperasi. Metode pelaksanaan menggunakan rapid rural appraisal (RRA) untuk mengidentifikasi masalah dan pencarian solusi dengan melibatkan partisipasi aktif siswa sebagai anggota dan pengurus. Untuk itu, transfer pengetahuan melalui seminar koperasi sekolah diakhiri dengan menjawab kuesioner untuk para siswa. Pelaksanaan pengabdian meliputi survey pendahuluan, pelaksanaan seminar koperasi sekolah, partisipasi siswa untuk mengidentifikasi masalah dan solusi, hingga evaluasi kegiatan pengabdian beserta Diharapkan selain kesadaran bersama para siswa untuk turut mengembangkan koperasi sekolah, ada kegiatan berkelanjutan berupa penelitian dan masukan baru pembelajaran ekonomi koperasi di sekolah dan akuntansi keperilakuan dalam bidang koperasi. UMKM, dan Kata Kunci: Koperasi Sekolah. Manajemen Koperasi. Minat Berkoperasi ABSTRACT The purpose of this service is to raise student awareness in supporting the progress of student cooperatives as members and to provide a strong basis for cooperative management on the basics of cooperatives. The implementation method uses rapid rural appraisal (RRA) to identify problems and find solutions by involving the active participation of students as members and For this reason, the transfer of knowledge through school cooperative seminars ended with answering questionnaires for students. The implementation of community service includes preliminary surveys, conducting school cooperative seminars, student participation to identify problems and solutions, to evaluation of community service activities and their It is hoped that in addition to the joint awareness of students to participate in developing school cooperatives, there will be ongoing activities in the form of research and new input on cooperative economic learning in schools and behavioral accounting in the fields of cooperatives. SMEs and entrepreneurship. Keywords: School Cooperative. Cooperation Management. Cooperative Interest Masuk: 2 November 2022 Diterima: 13 Desember 2022 Halaman: 65-74 Yusdita dan Sulistyowati Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 PENDAHULUAN SMAN 3 Ponorogo memiliki laboratorium ekonomi berupa koperasi siswa AuHarapan KitaAy. Koperasi ini dikelola oleh siswa dengan pendamping guru. Sayangnya atensi siswa yang lain untuk berkunjung ke koperasi sekolah dirasakan kurang. Generasi milenial yang ada pada rentangan usia 16 sampai dengan 30 tahun, sekitar 60% darinya tidak tertarik bahkan tidak mengetahui sama sekali tentang koperasi (Jannah, 2. Ada beberapa kondisi awal yang tidak mendukung berkembangnya koperasi Pertama, musibah banjir yang sering menimpa sekolah membuat peralatan seperti lemari es dan mesin fotocopi rusak. Kedua, banjir membuat koperasi siswa harus diungsikan ke ruang kelas biasa dan semua barang dagangan tetap harus dinaikkan ke meja atau kursi untuk berjaga-jaga dari banjir. Barang-barang yang dijual adalah makanan kecil yang tidak dijual di kantin Barang-barang lainnya berupa alat tulis, seragam dan atribut sekolah, serta lembar kerja siswa merupakan pembeda dari KPRI (Koperasi Pegawai Republik Indonesi. Berbeda dengan KPRI SMAN 3 Ponorogo yang telah dikelola secara serius, modal koperasi siswa terbatas jumlahnya, dengan memanfaatkan swadaya pengurus karena belum ada simpanan wajib dan sukarela. Jadi, anggota masih berstatus sebagai konsumen secara penuh. Dengan kondisi seperti itu, koperasi siswa berusaha Padahal jika berkaca pada daerah lain, misalnya SMU di Kecamatan Jagakarsa sudah memiliki koperasi simpan pinjam dan dapat berjalan dengan sedikit perbaikan administrasi (Setyawati. Suroso. Rambe. Damayanty, & Lestari, 2. Meskipun keberadaan koperasi itu merupakan salah satu penunjang penilaian akreditasi sekolah (Rachmawati. Widalesmana. Toyib. Permatasari, & Januardi, 2. , harapan koperasi Harapan Kita menjadi koperasi percontohan untuk SMA lainnya. Tidak sekedar koperasi yang AuadaAy, tapi juga AuberkembangAy. Pengurus koperasi berusaha memberi edukasi kepada siswa untuk berbelanja di koperasi siswa. Oleh karena itu, pengurus atas bimbingan pembina koperasi mengadakan seminar koperasi tahunan AuHarapan KitaAy dengan dua pemateri. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk membangkitkan kesadaran siswa dalam mendukung kemajuan koperasi siswa sebagai anggota serta memberi dasar yang kuat kepada pengurus koperasi tentang dasar-dasar koperasi. Yusdita dan Sulistyowati Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 METODE Pengabdian ini terlaksana atas permintaan Pembina Koperasi Siswa SMAN 3 Ponorogo kepada Prodi Pendidikan Akuntansi Universitas PGRI Madiun. Dosen yang ditunjuk untuk pengabdian ini terdiri dari 3 orang. Pengabdian ini disiapkan sejak seminggu sebelum pelaksanaan seminar untuk mengetahui keadaan koperasi Harapan Kita. Seminar dilaksanakan pada tanggal 9 Januari 2020 di aula SMAN 3 Ponorogo pada 00 sampai dengan 11. 30 WIB dengan cara memaparkan intisari Undang Undang Perkoperasian, sambil memberi pertanyaan kepada peserta seminar agar menyadari kondisi koperasi sekolah mereka. Untuk mencapai tujuan pengabdian, dibutuhkan solusi yang efektif dan efisien. Pencarian solusi untuk memajukan koperasi siswa ini harus melibatkan partisipasi aktif siswa sebagai anggota dan pengurus. Masalah yang menghalangi koperasi siswa untuk maju seharusnya sudah diketahui oleh para pengurus dan anggota koperasi, namun sering tidak disadari. Dengan pemetaan masalah, pemateri berusaha menganalisis keadaan dan menyajikan solusi yang sebenarnya didapat dari para siswa. Pemateri tidak datang dengan teori yang dipaksakan kepada siswa, tapi memandang siswa sebagai pihak yang berpengetahuan lebih yang harus memberitahu pemateri. Jikalau ada transfer pengetahuan, ujungnya adalah pemberdayaan anggota koperasi. Metode ini disebut metode participatory rural appraisal (PRA), yang jika dilakukan dalam waktu singkat seperti pada kasus ini seminar adalah 2 sampai 3 jam untuk memicu pemberdayaan siswa terhadap koperasi, maka metodenya disebut rapid rural appraisal (RRA) (Arijanto, 2017: . Peserta seminar adalah pengurus koperasi siswa dan perwakilan siswa dari masing-masing kelas. Untuk menarik atensi, tim pengabdian memberitahukan bahwa pada akhir acara ada kuis berhadiah. Kuis yang dimaksud adalah daftar pertanyaan mengenai 4 hal, yaitu identitas siswa, kuesioner pengabdian, kuesioner tentang pendapat siswa sebagai konsumen, dan kuesioner pendapat siswa sebagai pengurus koperasi . Masingmasing pertanyaan beserta jawabannya akan dibahas pada bagian pelaksanaan. Yusdita dan Sulistyowati Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 HASIL DAN PEMBAHASAN Survey pendahuluan Survey tentang koperasi dilakukan dengan cara menanyakan kondisi koperasi, meliputi partisipasi siswa, permodalan koperasi, barang-barang yang dijual, masalah yang dihadapi selama ini menurut pendapat guru pembina. Tim pengabdian mendapatkan informasi bahwa dalam selama ini SMAN 3 Ponorogo selalu mendapat musibah musiman, yaitu banjir. Oleh karena itu mereka harus memfungsikan kelas biasa sebagai koperasi dalam rangka menyelamatkan barang-barang dagangan. Barang dagangan itupun masih diletakkan di atas meja dan kursi untuk mengantisipasi banjir. Barang-barang yang dijualpun merupakan kebutuhan utama siswa, yaitu seragam beserta atributnya. LKS, serta jajanan yang tidak dijual di kantin siswa. Pemateri butuh mengetahui kondisi koperasi sekolah untuk menentukan ruang lingkup pembahasan pada seminar. Dengan mengetahui kondisi tersebut, maka pemateri memutuskan untuk memberi penyadaran tentang Koperasi yang merupakan milik bersama agar niat untuk berpartisipasi dalam pengembangan koperasi di kalangan anggota yang merupakan siswanya meningkat. Pelaksanaan Seminar Koperasi Sekolah Pemateri membagi dua pembahasan, yaitu niat untuk berpartisipasi aktif pada koperasi menurut kajian aturan dasar Koperasi yaitu UU Koperasi UU RI No 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, serta bagian teknis kepengurusan koperasi. Pemateri bergantian menjelaskan seluk beluk koperasi tampak pada Gambar 1. Pemateri mengembangkan koperasi dengan cara menunjukkan dasar aturan tentang kuasa anggota koperasi yang memiliki peran penting atas tegaknya koperasi sekolah. Keunikan koperasi ditonjolkan pada sisi organisasi yang bertujuan mengumpulkan laba, tapi membagikan laba dalam bentuk SHU pada para anggota. Hal berbeda dengan prinsip yang dimiliki entitas usaha pada umumnya, apalagi pelajaran akuntansi yang lekat dengan kapitalis. Koperasi dapat menjembatani ajaran Islam bahwa kita tidak boleh menumpuk harta dan penanaman prinsip gotong royong sesuai Pancasila dengan praktiknya secara konkrit. Apalagi kini SMA 3 Ponorogo memiliki mata pelajaran baru bernama Ekonomi Syariah. Keistimewaan mengembalikan laba menjadi nol pada Yusdita dan Sulistyowati Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 koperasi diharapkan mengembalikan jiwa anak-anak sesuai budayanya, sekaligus memancing daya tarik anak milenial. Gambar 1. Pemateri Bergantian Memaparkan Seluk Beluk Koperasi Sekolah Anak milenial dikenal memiliki sifat 4C, yaitu critical . erpikir kriti. , change . enang akan perubaha. , communicative . engkomunikasikan pilihannya dengan pihak lai. , serta community . ergabung dalam komunita. , selain kesukaan mereka dengan teknologi terbaru (Badan Pusat Statistik, 2. Sifat berpikir kritis serta membangun kesadaran ketergabungan mereka pada sebuah komunitas bernama koperasi sekolah itu digiring dengan memahamkan bahwa anggota koperasi adalah inti dari koperasi dan harus bergerak bersama-sama . ihat pemaparan slide pada Gambar . Senang dengan perubahan diarahkan dengan cara memberikan keistimewaan koperasi daripada bisnis kebanyakan yang ada . ihat pemaparan slide pada Gambar . Pengkomunikasian preferensinya tentang berbelanja di koperasi disalurkan melalui jawaban pertanyaan kuesioner yang dibuat pemateri pada akhir acara . aftar pertanyaan ada pada tabel . secara daring, begitupun dengan pengumumannya melalui instagram @himadiksihebat (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas PGRI Madiu. untuk mewadahi minat mereka pada segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi . engumuman ada pada Gambar . Yusdita dan Sulistyowati Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 Gambar 2. Pemaparan Materi untuk Memicu Rasa Memiliki Koperasi Sekolah pada Siswa Gambar 3. Pemaparan Materi untuk Menunjukkan Perbedaan Koperasi dengan Korporasi Pemateri memberi hadiah bagi 10 orang yang beruntung yang menjawab kuesioner dengan syarat dan ketentuan yang dijelaskan pada akhir presentasi (Gambar Kuesioner tersebut terdiri dari 4 bagian yaitu . identitas siswa, . kuesioner pengabdian, . kuesioner tentang pendapat siswa sebagai konsumen, . kuesioner pendapat siswa sebagai pengurus koperasi . Penjabaran item kuesioner tersebut adalah sebagai berikut ada pada Lampiran 1. Yusdita dan Sulistyowati Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 Gambar 4. Syarat dan Ketentuan Doorprize AuAku Anak Koperasi MilenialAy Gambar 5. Pengumuman Pemenang Doorprize Partisipasi Siswa untuk Masalah dan Solusi Setelah transfer pengetahuan melalui seminar, siswa diminta partisipasi aktif untuk mengenali masalah dan mencari solusinya. Tugas pemateri selain memberikan transfer ilmu adalah menjadi fasilitator identifikasi masalah dan pencarian solusi. Sesuai metode rapid rural appraisal (RRA), siswa berpartisipasi aktif dalam bentuk tanya jawab dalam bentuk kuesioner. Dari 88 anak yang diharapkan datang ke acara Seminar Koperasi Sekolah, hanya 83 anak yang datang dan 39 orang di antaranya mengumpulkan jawaban. Response rate yang didapat adalah 47%. Siswa sebagai konsumen diharapkan mengenali total uang sakunya dan digunakan untuk berbelanja apa dan dimana. Kesadaran pertama yang diidentifikasi Yusdita dan Sulistyowati Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 adalah Auberapa banyak uang sakumu?Ay. Hasil menunjukkan 25% kurang dari Rp10. 000,- dan 75% responden memiliki uang saku antara Rp10. 000,- sampai dengan Rp25. 000,-. Responden sebanyak 38,5% sering mengunjungi koperasi sekolah, 28,2% agak sering, 30,8% netral, dan 2,6% jarang. Mayoritas . ,5%) pernah berbelanja makanan di koperasi sekolah, kemudian alat tulis . ,1%), minuman . ,4%), lainnya . ,6%). Pembelian alat tulis selain di koperasi sekolah dikarenakan sudah membeli alat tulis dari toko di luar koperasi sekolah . ,9%), sudah dibelikan orang tua . ,4%), atau lebih memilih untuk meminjam . ,6%). Mereka yang lebih membeli alat tulis di luar koperasi sekolah beralasan bahwa barang yang mereka cari tidak tersedia di koperasi sekolah . ,7%), harga di koperasi sekolah lebih mahal . ,8%), atau memang sudah punya atau membawa dari rumah . ,9%). Sedangkan untuk pembelanjaan makanan di koperasi sekolah, mereka yang tidak melakukan beralasan bahwa mereka beli di kantin sekolah . ,5%), membawa bekal dari rumah . ,3%). Alasan mayoritasnya adalah makanan yang ada di kantin tidak cocok dengan selera mereka . %) yang beberapa anak di antaranya menyebut kata kunci AunasiAy, disusul dengan alasan sudah membawa bekal dari rumah . ,4%), dan 5,2% beralasan tidak membeli karena ingin menabung atau berhemat. Untuk pelayanan di koperasi sekolah tidak ada masalah karena 61,5% menjawab baik, 25,6% menjawab sangat baik, dan 12,8% biasa saja. Penggambaran mereka atas koperasi sekolah memuat kata kunci: AumemuaskanAy. AubaikAy. Aujajanan monotonAy. Aukoperasi lebih terbukaAy. Aubelum ada printerAy. Auevaluasi hargaAy yang juga berkaitan dengan saran pengembangan koperasi sekolah mulai dari Aumenghias ruangan agar menarikAy. Aumenambah barang daganganAy. Autempat yang lebih bagusAy. Auada musikAy. Aubutuh printerAy, sampai dengan Aupenambahan kata-kata motivasiAy. Setelah mengikuti acara ini, 79,5% anak menyatakan lebih tertarik untuk berbelanja di koperasi sekolah, 15,4% masih mungkin, dan 5,1% menyatakan tidak. Sedangkan, sumber permodalan koperasi tampaknya belum banyak diketahui oleh siswa yang berperan sebagai pengurus, kepengurusan belum jelas pembagian tugasnya, jadwal piket juga belum jelas, rapat pengurus koperasi sampai dengan pembagian SHU tampak dari beragamnya jawaban. Untuk identifikasi diri mereka sebagai anggota koperasi, 90% responden meyakini siswalah anggota koperasi Yusdita dan Sulistyowati Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 sebenarnya, selain guru dan komite sekolah. Responden meyakini koperasi sekolah melaporkan hasil penjualan berupa catatan manual. Ketika diminta memberikan saran, siswa menjawab Auadanya perwakilan kelas untuk dibuat jadwal piket koperasi sekolahAy. Aumengadakan koperasi kejujuranAy, selain jawaban itu rupanya siswa masih bingung membedakan peran sebagai konsumen dan pengurus sehingga sarannya lebih kepada pelayanan dan bukan manajemen koperasi. Kegiatan Pengabdian dan Keberlanjutannya Hasil pengisian kuesioner menunjukkan bahwa penjelasan para pemateri telah sesuai dengan tema acara . ,4%), acara dipandang menarik . ,3%), materi yang disampaikan sangat menarik . ,6%), materi yang disampaikan sangat berguna . ,3%), pemateri sudah memakai multimedia dengan sangat efektif . ,2%), pemateri sudah memanfaatkan waktu dengan sangat efisien . ,4%), para pemateri sangat menguasai materi . ,4%), pemateri cukup memakai contoh untuk membantu memahami materi . ,6%), para pemateri sangat berhasil memotivasi para audien . ,6%). Dengan demikian, dapat dipandang seminar koperasi sekolah ini berhasil menyentuh para siswa sebagai anggota maupun pengurus. Keberlanjutan pengabdian ini menurut guru SMAN 3 Ponorogo adalah peluang untuk pendampingan Koperasi Sekolah SAMN 3 Ponorogo untuk menjadi koperasi percontohan bagi seluruh koperasi sekolah di Ponorogo. Sedangkan menurut pemateri, pengabdian ini dapat memunculkan dua penelitian untuk bidang keperilakuan dan pendidikan akuntansi. Hasil pengabdian juga menunjukkan ada kaitan antara mengurus koperasi dengan mencoba berwirausaha karena jawaban siswa cenderung ingin menjadi konsumen, tanpa tau menau tentang manajemen koperasi atau menjadi pengurus Pengetahuan koperasi pada anak-anak juga masih minim dipahami, mungkin karena selama ini kecenderungan untuk menghapalkan pelajaran sehingga dibutuhkan metode pembelajaran yang menarik untuk koperasi. Niat untuk berkoperasi itu sendiri dapat memperkaya pembahasan akuntansi keperilakuan pada koperasi. UMKM, dan Yusdita dan Sulistyowati Volume 2 Nomor 2 Desember 2022 SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian berjalan lancar dan dapat berkesinambungan menjadi kegiatan lainnya. Siswa SMAN 3 Ponorogo telah menyadari bahwa mereka adalah anggota koperasi sehingga mereka bersama-sama mengidentifikasi masalah dan mencari Kendala yang ditemui pada saat kegiatan pengabdian adalah waktu untuk menelusuri lebih jauh manajemen koperasi pada sekolah untuk mencari akar masalah kurang berkembangnya koperasi sekolah. Area sekolah yang merupakan lokasi rawan banjir mempersulit pengadaan fasilitas baru untuk koperasi sekolah. Selain itu, butuh adanya penertiban administrasi bagi pengurus koperasi sesuai UU Koperasi UU RI No 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian agar rasa memiliki semakin kuat. DAFTAR PUSTAKA