Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 PENERAPAN NILAI AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN (AIK) DALAM PENGENDALIAN STRES KERJA PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT X PARIAMAN Nova Rita. Astrina Aulia*. Nurhaida Politeknik AoAisyiyah Sumatera Barat Jl. Penjernihan No. Gunung Pangilun. Kota Padang, 25137 e-mail : astrinaaulia@gmail. Artikel Diterima: 18 Desember 2024. Direvisi: 24 Juli 2025. Diterbitkan: 13 Agustus 2025 ABSTRAK Pendahuluan: Perawat merupakan salah satu tenaga kerja yang rentan terhadap stres kerja. Salah satu hal yang dapat membuat individu mengatasi permasalahan hidupnya adalah dengan nilai-nilai spiritual. AIK merupakan suatu falsafah yang diadaptasi oleh organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Penerapan Nilai-nilai AIK dalam Pengendalian Stres Kerja pada Perawat di RSUD Aisyiyah Pariaman. Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional, sampel sebanyak 44 perawat. Hasil: Distribusi Frekuensi tingkat pendidikan perawat sebagian besar Sarjana . ,8%), jenis kelamin sebagian besar perempuan . ,4%), lama masa kerja sebagian besar lebih dari 10 tahun . ,2%), status perkawinan sebagian besar menikah . ,5%), persepsi penerapan AIK sebagian besar baik . ,9%), dan tingkat stres sebagian besar stres kerja ringan . ,8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan AIK dalam menurunkan stres kerja . value = 0,. Diskusi: Rumah sakit sudah baik dalam menerapkan nilai-nilai AIK untuk menurunkan stres kerja pada perawat, adanya komitmen organisasi yang memperhatikan kesejahteraan perawat dapat menjadi manajemen stres yang baik salah satunya adalah penerapan nilai-nilai spiritual. Kata Kunci : AIK, perawat, rumah sakit, stres ABSTRACT Introduction: Nurses are one of the workers who are vulnerable to occupational stress. One of the things that can make individuals overcome their life problems is with spiritual values. AIK is a philosophy adapted by the Muhammadiyah and Aisyiyah community. Objectives: This research aimsto determine the effect of the Implementation of AIK Values in Controlling Occupational stress in Nurses at Aisyiyah Pariaman Hospital. Method: This study is quantitative with a cross-sectional study design, the sample is 44 nurses. Results: The frequency of nurses' education level is mostly Bachelor degree . 8%), gender is mostly female . 4%), length of service is mostly more than 10 years . 2%), marital status is mostly married . 5%), perception of AIK implementation is mostly good . 9%), and stress level is mostly light occupational stress . 8%). There is a significant relationship between the implementation of AIK in reducing occupational stress . value = 0. Discussion: The hospital was good at implementing AIK values to reduce occupational stress in nurses, the existence of an organizational commitment that pays attention to the welfare of nurses can be a good stress management, one of which is the application of spiritual values. Keyword : AIK, hospital, nurses, occupational, stress Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 10 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index PENDAHULUAN Stres kerja merupakan salah satu pemicu stres utama bagi pekerja, di Amerika, stres kerja meningkat secara progresif selama beberapa dekade terakhir karena sifat kompleks dari konsep stres kerja, definisi istilah stres masih belum dikenal dan pendekatan pengendaliannya belum memadai dalam menangani luasnya fenomena tersebut (Jacobs, 2. Stres kerja dinyatakan sebagai epidemi global karena dampak negatifnya Stres kerja telah dikaitkan dengan efek buruk pada kesehatan individu di tingkat psikologis . esehatan emosional dan mental yang buru. dan tingkat fisiologis . esehatan fisik yang buru. Selain itu, stres kerja juga menimbulkan gejala dan pembengkakan biaya organisasi, menyebabkan turnover karyawan, dan membahayakan keselamatan karyawan lain. Persepsi karyawan terhadap pengalaman kepemimpinan yang tidak efektif dapat menjadi pemicu stres kerja, sehingga perlu bagi organisasi untuk mengambil tindakan korektif dan menggunakan strategi intervensi untuk pengendalian stres kerja di dalam dan luar organisasi (Kazmi et al. Tempat kerja, beban kerja dan menimbulkan kelelahan dan stres bagi World Health Organization (WHO) pada tahun 2011 menyatakan bahwa beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menghadapi peningkatan beban kerja perawat yang bekerja di rumah sakit dan masih terjadi kekurangan perawat. WHO menyatakan bahwa stres merupakan epidemi di seluruh Laporan Perserikatan BangsaBangsa (PBB) menyatakan bahwa stres kerja merupakan penyakit abad ke-20. Hingga 90% pelayanan medis di rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan (Hidayati and Betria, 2. Kesejahteraan subjektif merupakan evaluasi emosional dan kognitif yang JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 dilakukan seseorang terhadap hidupnya yang biasanya disebut kebahagiaan, kedamaian, makna, dan kepuasan hidup. Kesejahteraan subjektif merupakan analisis mengevaluasi kehidupan mereka saat ini dan dalam jangka panjang. Penilaian ini mencakup bentuk penilaian emosional terhadap kejadian, suasana hati, dan kepuasan hidup (Juniarly and Hadjam. Perawat merupakan tenaga kerja terbesar di institusi pelayanan kesehatan dan memiliki peran penting. Mereka berperan sebagai Augaris depanAy untuk melayani rumah sakit. Beberapa penelitian telah mengidentifikasi penyebab stres kerja pada perawat seperti beban kerja, kurangnya peralatan dalam merawat pasien, menghadapi kematian dari pasien, konflik peran dan rendahnya tingkat kerjasama dari pasien dan keluarganya (Dartey et al. Selain itu, kekerasan di tempat kerja, upah yang buruk, dan kurangnya partisipasi perawat dalam pengambilan keputusan juga merupakan stresor paling umum yang (Chatzigianni et al. , 2. Menjaga sisi spiritual seseorang dapat terhindar dari berbagai masalah kehidupan seperti stres. Menurut Hurrel . alam Munandar, 2. faktor-faktor pekerjaan dikelompokkan menjadi lima kategori besar, faktor intrinsik dalam pekerjaan, peran dalam organisasi, pengembangan karier, hubungan dalam pekerjaan dan struktur dan organisasi. (Okta Yudra and dan Ahmad Hidayat, 2. Pertama, kategori faktor intrinsik dalam pekerjaan adalah fisik dan tugas, untuk fisik seperti kebisingan, panas, petir. Untuk tugas meliputi beban kerja, shift kerja, risiko dan bahaya. Kedua, peran individu dalam organisasi berarti setiap pekerja mempunyai sekumpulan tugas yang harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ada. Ketiga, pengembangan karier merupakan stresor potensial yang meliputi ketidakpastian pekerjaan, promosi jabatan Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 11 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index yang berlebihan atau kurangnya promosi Keempat, hubungan kerja yang buruk terlihat dari rendahnya rasa percaya, rendahnya minat dalam menyelesaikan masalah organisasi. Sedangkan untuk yang kelima yaitu struktur dan organisasi, kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan dalam organisasi (Putranto. Dalam nilai-nilai agama Islam disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sempurna yang memiliki potensi untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengatur kehidupan di muka bumi. Manusia diciptakan dalam kodrat aslinya . , cenderung kepada Tuhan, dan kebaikan serta kebenaran, atau yang lebih dikenal dengan istilah Religiusitas (Okta Yudra and dan Ahmad Hidayat, 2. Agama merupakan pedoman bagi manusia dalam menata kehidupannya dan menuntun manusia dari kondisi yang buruk yang dapat mempengaruhi kepribadiannya. Apabila manusia dapat menjadikan agama sebagai landasan hidup dan meyakininya, maka manusia tersebut akan memiliki energi positif dalam hidupnya, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, ketenangan batin, serta setiap jengkal hidupnya akan dianggap bermakna dan permasalahan hidup dapat diatasi dengan baik. Salah satu penyebab individu mudah terombangambing dalam keraguan dan kehilangan gairah hidup adalah nilai-nilai spiritual yang mulai ditinggalkan. Hal ini juga menjadi pemicu stres karena tidak adanya keyakinan dalam hidupnya (Annisa Imaniar Roosniawati and Muhammad Ilmi Hatta. Al Islam dan Muhammadiyah (AIK) merupakan paham keagamaan yang dipelopori oleh Muhammadiyah dengan memadukan pendidikan Islam dan pendidikan umum yang memiliki nilai strategis terkait dengan perubahan sosial. dan pembangunan karakter. Dalam AIK. Muhammadiyah diberikan kepada semua orang yang bekerja dan belajar di Lembaga JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Muhammadiyah dan Aisyiyah (Setiawan. Ada beberapa poin penting dalam paradigma Al-Islam dan Muhammadiyah dalam mengatur kehidupan manusia seperti: Pemikiran dikembangkan dalam pelatihan AIK bersifat teosentris . erfokus pada Tuha. dimana agama berasal dari Tuhan dan dianggap sebagai pelayanan atau untuk Tuhan semata. Dalam pola pemahaman ini, agama memberikan lebih sedikit tuntutan Teosentrisme memosisikan manusia hanya sebagai hamba Tuhan. Pandangan tentang hakikat hidup sangat berpengaruh terhadap jalan hidup Mereka yang menganut aliran mistisisme spiritual meyakini bahwa dunia ini sepenuhnya fana, bahwa dunia dan keinginan duniawi merupakan penghalang terhadap kebenaran dan karenanya keinginan terhadap dunia bukanlah hal yang utama dan berusaha meninggalkannya. Nilai-nilai AIK yang relevan dalam menurunkan stres kerja, antara lain: . Tawakal (Berserah diri kepada Alla. Setelah melakukan upaya maksimal dalam pekerjaan, pekerja menenangkan hati dengan keyakinan bahwa hasil ada di tangan Allah (Arifin, 2. Ikhlas. Bekerja karena niat ibadah dan membantu sesama, bukan semata-mata karena tuntutan atau imbalan. Mencegah timbulnya kelelahan emosional . karena pekerjaan dipandang sebagai ladang amal (Handayani, 2. Sabar. Menghadapi tekanan kerja atau beban tugas berat dengan sikap tenang dan tabah (Suryaningsih, . Syukur. Mensyukuri kesempatan untuk bekerja dan membantu orang lain (Kurniawati. Menjaga Silaturahim dan Ukhuwah. Dukungan sosial dari lingkungan kerja dapat menurunkan stres. Amar MaAoruf Nahi Munkar. Mengurangi menciptakan suasana kerja harmonis (Nurhayati, 2. Menjaga Kesehatan Jasmani dan Rohani. Keseimbangan fisikmental membantu daya tahan terhadap stres (Widyawati, 2. Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 12 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Di sisi lain, aliran tasawuf yang berideologi asketis menyatakan bahwa untuk mencapai keunggulan hidup yang berfokus pada spiritual tidak berarti harus Penguatan ketakwaan agama dalam etos kerja dan semangat kerja merupakan cerminan dan ekspresi diri sebagai pribadi terpilih demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat (Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah (AIK) dalam pengendalian stres kerja pada perawat di RS Aisyiyah Pariaman. BAHAN DAN METODE Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Juli 2024 terhadap Perawat di RSUD Aisyiyah Pariaman. Populasi dan sampel penelitian sebanyak 44 responden, sampel diambil dengan metode Total Sampling. Variabel terdiri dari variabel bebas (Nilai AIK) dengan variabel terikat yaitu Stres Kerja. Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner faktor individu . mur, lama masa kerja, status perkawinan, tingkat pendidika. , dan aspek/Nilai AIK (Pemikiran Beragama. Tuhan. Nabi. Manusia Utama. Pandangan Hidu. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang disusun oleh peneliti sendiri berdasarkan kajian literatur tentang nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang relevan dengan profesi perawat, khususnya dalam upaya penurunan stres kerja yang mengacu pada prinsip-prinsip AIK. Kuesioner telah diuji validitasnya dengan nilai 0,87 dan Stres Kerja dengan menggunakan kuesioner dari Permenaker No. 5 Tahun 2018. Analisis data menggunakan software SPSS 24. 0 dengan pengujian bivariat menggunakan uji Chi square dengan nilai signifikansi 0,05. JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 HASIL Analisis Univariat Tabel 1 Distribusi Frekuensi Status Pendidikan Perawat di Rumah Sakit Aisyiyah Pariaman Status Pendidikan Di Total Berdasarkan Tabel 1, sebagian besar responden berpendidikan Diploma 3 sebanyak 26 orang . ,1%). Tabel 2 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Perawat di Rumah Sakit Aisyiyah Pariaman Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Berdasarkan Tabel 2, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 27 orang . ,4%). Tabel 3 Distribusi Frekuensi Masa Kerja Perawat di Rumah Sakit Aisyiyah Pariaman Masa Kerja Ou10 tahun <10 tahun Total Berdasarkan Tabel 3, sebagian besar responden masa kerjanya yaitu Ou10 tahun sebanyak 30 orang . ,2%). Tabel 4 Distribusi Frekuensi Status Pernikahan Perawat di Rumah Sakit Aisyiyah Pariaman Status Pernikahan Lajang Menikah/cerai Cerai Total Berdasarkan Tabel 4, sebagian besar responden dengan status pernikahan menikah sebanyak 35 orang . ,3%). Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 13 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Tabel 5 Distribusi Frekuensi Implementasi AIK Perawat di Rumah Sakit Aisyiyah Pariaman Implementasi AIK Baik Sedang Rendah Total Berdasarkan Tabel 5, sebagian besar implementasi AIK oleh perawat yaitu baik sebanyak 29 orang . ,9%). JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Tabel 6 Distribusi Frekuensi Stres Kerja Perawat di Rumah Sakit Aisyiyah Pariaman Stres kerja Normal Sedang Tinggi Total Berdasarkan Tabel 6, sebagian besar responden memiliki stres kerja dengan kategori normal sebanyak 25 orang . ,8%). Analisis Bivariat Tabel 7 Hubungan Karakteristik Demografi dan Penerapan AIK dengan Stres Kerja pada Perawat di Rumah Sakit Aisyiyah Pariaman Stres Ringan Stres Sedang Stres Berat P value Variabel Pendidikan 0,001* Di Jenis kelamin Laki-laki 0,000* Perempuan Masa Kerja Ou 10 tahun 0,000* < 10 tahun Status pernikahan Lajang 0,178 Menikah Cerai Implementasi AIK Baik 0,026* Sedang 9,11 6,82 Rendah Ket : * . Berdasarkan Tabel 2, responden berpendidikan sarjana dengan kondisi stres normal lebih banyak . ,4%) dibandingkan dengan responden berpendidikan D3 . ,5%). Berdasarkan analisis statistik uji Chi-square, terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan stres kerja dengan nilai p = 0,001, artinya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah orang tersebut dalam mengelola stres. Responden laki-laki dengan kondisi stres normal lebih banyak . ,4%) perempuan . ,5%). Berdasarkan analisis statistik uji Chi-square, terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 14 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index stres kerja dengan nilai p = 0,000, artinya laki-laki lebih mudah dalam mengelola stres dibandingkan dengan perempuan. Responden dengan masa kerja lebih dari 10 tahun dengan kondisi stres normal lebih banyak . ,3%) dibandingkan dengan kurang dari 10 tahun . ,51%). Berdasarkan analisis statistik uji Chi-square, terdapat hubungan yang signifikan antara lama masa kerja dengan stres kerja dengan nilai p = 0,000, artinya semakin lama masa kerja, maka individu akan semakin mudah dalam mengelola stres. Responden yang berstatus lajang dengan kondisi stres normal lebih sedikit . ,8%) dibandingkan dengan responden . ,0%). Berdasarkan analisis statistik uji Chisquare, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan stres kerja dengan nilai p = 0,178. Responden dengan persepsi baik terhadap penerapan AIK dengan kondisi stres normal lebih banyak . ,5%) dibandingkan dengan responden dengan penerapan AIK sedang . ,11%) dan rendah . ,3%). Berdasarkan analisis statistik uji Chi-square, terdapat hubungan yang signifikan antara lama masa kerja dengan stres kerja dengan nilai p = 0,026, artinya organisasi yang menerapkan nilai-nilai AIK dengan baik dapat menghindarkan pekerjanya dari stres kerja. PEMBAHASAN Berdasarkan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan stres kerja. Stres yang dialami perawat dengan jenjang pendidikan S1 pada level normal lebih banyak dibandingkan dengan perawat dengan jenjang pendidikan D3. Hal ini dikarenakan pola pikir seseorang bersifat linier terhadap jenjang Jenjang pendidikan yang pengalaman dalam menghadapi masalah termasuk stres. JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Penelitian ini sejalan dengan Suci pada tahun 2018 bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan stres kerja. Pendidikan merupakan salah satu jenjang kegiatan kelembagaan seperti sekolah yang digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan manusia dari pengetahuan, kegiatan dan rutinitas. Kemudian pendidikan maka semakin menguasai metode pemecahan masalah termasuk mengendalikan suatu informasi baru. Jenjang pendidikan yang tinggi dari seorang individu akan memudahkannya dalam mengelola stres karena penguasaan informasi yang baik. Tingkat pendidikan seseorang yang tinggi cenderung membuat orang tersebut lebih mudah menerima perubahan yang baik, sedangkan seseorang yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi cenderung bersifat introvert dan sulit menerima perubahan perilaku (Nurul et al. Kualifikasi pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan seseorang karena menambah keterampilan yang dibutuhkan untuk dapat bersaing dalam dunia kerja. Orang dengan tingkat pendidikan yang rendah cenderung tidak dapat memanfaatkan peluang dalam dunia kerja karena keterbatasan keterampilan. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal tersebut, organisasi dapat memberikan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pekerja guna menutupi kesenjangan pada Pendidikan memiliki kelebihan yaitu relatif stabil sepanjang hayat dan berkaitan erat dengan berbagai kondisi kesehatan. Selain itu, kualifikasi pendidikan berdampak pada kualifikasi kebutuhan tenaga kerja agar dapat bersaing dengan organisasi lain dengan menyesuaikan kompetensi yang dimiliki oleh pekerja (Lunau et al. , 2. Berdasarkan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan stres kerja. Perawat laki-laki dalam kondisi stres kerja normal lebih banyak dibandingkan perawat Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 15 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Hal ini terjadi karena wanita cenderung lebih banyak berpikir daripada Wanita sering kali memikirkan sesuatu secara berlebihan yang membuat mereka rentan terhadap stres. Sementara mengutamakan logika daripada perasaan dalam mengambil keputusan (Universitas Gadjah Mada, 2. Penelitian ini sejalan dengan Awalia pada tahun 2021 bahwa dalam penelitian tersebut wanita mengalami lebih banyak stres daripada wanita dewasa. Seseorang dengan kepribadian maskulin lebih mampu menghadapi stresor yang datang tanpa perasaan emosional yang berlebihan dan dengan tingkat kecemasan yang lebih rendah dibandingkan dengan seseorang dengan kepribadian yang lebih feminin (Awalia. Medyati and Giay, 2. Perbedaan pria dan wanita dalam paparan stres psikososial di tempat kerja terkait dengan faktor biologis atau fisiologis . enis kelami. dan sosial . Namun, perbedaan antara pria dan wanita dalam pentingnya dukungan sosial di tempat kerja terhadap tingkat stres terkait dengan keunggulan wanita dalam empati dan kemampuan mengenali emosi orang Tinjauan bukti penelitian multidisiplin menyimpulkan bahwa tekanan selektif secara historis telah membentuk anatomi, fisiologi, dan neurobiologi wanita untuk memfasilitasi perilaku pengasuhan dan penyesuaian emosional, dan kapasitas mereka untuk perilaku prososial dan kooperatif (Padkapayeva et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan yang signifikan antara lama masa kerja dengan stres kerja. Perawat yang bekerja lebih lama (Ou 10 tahu. lebih banyak berada dalam kondisi stres normal dibandingkan perawat dengan masa kerja baru (< 10 tahu. Hal ini terjadi karena individu dengan masa kerja lama sudah memahami tentang tugas pekerjaannya, memiliki lebih banyak pengalaman dan lebih tahan terhadap tekanan pekerjaan di tempat kerja. Berbeda dengan masa kerja baru, hal ini dikarenakan perawat baru JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 menghadapi, mengatasi, dan memecahkan masalah di tempat kerja sehingga tidak dapat mengelola stres dengan baik. Penelitian ini sejalan dengan Manabung tahun 2018 bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lama masa kerja dengan stres kerja. Lama masa kerja memiliki pengaruh dalam memicu stres Hal ini dikarenakan pekerja dengan masa kerja yang lebih lama cenderung lebih tahan terhadap tekanan-tekanan yang dihadapi di tempat kerja, juga lebih memahami pekerjaannya, pengalaman dan pemahaman tersebut akan membantu dalam mengatasi permasalahan dalam upaya pencegahan dibandingkan dengan pekerja dengan masa kerja yang baru. Masa kerja yang baru cenderung masih memerlukan penyesuaian antara individu dengan lingkungan kerja dan risiko apa saja yang dapat terjadi di tempat kerja (Manabung. Suoth and Warouw, 2. Berdasarkan menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara status perkawinan dengan stres kerja dengan kecenderungan perawat yang masih lajang lebih sedikit dalam kondisi stres normal dibandingkan dengan perawat yang sudah menikah. Hal ini dapat terjadi sebab, individu lajang tidak mendapatkan dukungan sosial dalam kehidupan pribadinya karena tidak memiliki pasangan dan anak sebagai penanggulangan stres. Hal ini berbeda dengan perawat yang sudah menikah, mereka memiliki orang di rumah, yaitu keluarga, untuk berbagi keluh kesah. Kehadiran pasangan dan anak dapat membuat kehidupan individu menjadi lebih bahagia (Sinta and Dwiyanti, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Budiarti tahun 2022 yang menunjukkan bahwa proporsi pekerja lajang dengan tingkat stres rendah jauh lebih rendah dibandingkan dengan pekerja yang sudah menikah. (Andini Budiarti & Christia Sera. Berdasarkan penelitian lain, rata-rata pria lajang lebih mudah stres dibandingkan pria yang sudah Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 16 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Temuan dari berbagai penelitian lain juga mengungkapkan hal yang sama karena tidak seperti orang lajang, orang yang sudah menikah mendapatkan dukungan sosial dari pasangannya, yang diakui sebagai sumber terpenting untuk mengatasi stresor (Gayen and Lakhotia. Peneliti lain telah meneliti hubungan antara stres kerja dengan status perkawinan, menunjukkan bahwa perawat dengan tingkat kesehatan psikologis yang lebih tinggi memiliki hubungan yang lebih baik dengan pasangannya dan hal ini berdampak positif pada kehidupan pribadi mereka. Pekerjaan dan keluarga merupakan dua komponen dasar kehidupan individu dan masing-masing Dampak ini akan lebih bermanfaat bagi individu yang bekerja di industri jasa (Adib-Hajbaghery. Lotfi and Hosseini. Berdasarkan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan nilai AIKA dengan stres kerja dengan kecenderungan Perawat yang menerapkan nilai AIKA cenderung berada pada fase normal untuk kategori stres. Spiritualitas diartikan sebagai kesadaran akan hubungan dengan semua ciptaan, penghargaan terhadap kehadiran, dan tujuan yang mencakup rasa makna. Peningkatan nilainilai spiritual seperti meditasi dapat mendukung peningkatan kesehatan mental. Penyembuhan melalui nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari dapat menghilangkan energi negatif dari stres (Freeman et al. , 2. Penelitian ini sejalan dengan Caniago et al. yang meneliti bagaimana kecerdasan spiritual dapat mencegah stres kerja (Niza et al. , 2. Organisasi yang menekankan nilai-nilai spiritual memiliki peran dalam membantu meningkatkan kinerja karyawan (Malone and Lewis. Spiritualitas di tempat kerja membawa keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari karyawan dan sebagai hasilnya JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 karyawan yang merasa tempat kerjanya memberikan dukungan spiritual cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik karena mereka merasa puas. Semakin spiritual lingkungan kerja, semakin positif kondisi lingkungan kerja. Hal ini pada kinerja, keterlibatan kerja, keuntungan yang lebih tinggi, komitmen organisasi, dan kesuksesan (Abdul Jabbar dan Muhammad Zakiy, 2. Sebuah organisasi dengan tata kelola dan budaya Islam mengharuskan semua kegiatan dan tindakan didasarkan pada ajaran Islam dalam semua pilar organisasi, seperti pengelolaan kesehatan organisasi dan stres karyawan di tempat kerja (Aini et , 2. Sebuah penelitian untuk melihat hubungan antara ajaran Islam dan manajemen stres menekankan filosofi bahwa manusia adalah khalifah Allah atau wakil Tuhan di dunia. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk memiliki sifat-sifat keimanan dan kemampuan yang baik. Salah satunya dalam mengelola dan mengatasi stres (Siti, 2. Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) merupakan landasan moral, spiritual, dan sosial yang dapat menjadi panduan perilaku profesional perawat (Arifin, 2. Dalam konteks pekerjaan yang memiliki tingkat tekanan tinggi seperti keperawatan, nilainilai AIK berperan penting dalam mencegah dan mengelola stres kerja melalui penguatan aspek keimanan, ketenangan batin, dan hubungan sosial (Suryaningsih Puspitasari, 2. AIK menekankan hubungan yang erat dengan Allah SWT melalui nilai tawakal, ikhlas, dan sabar. Perawat yang menanamkan tawakal akan memandang setiap tugas sebagai amanah, mengerjakannya secara optimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah (QS. Ali Imran: . Sikap ikhlas mendorong perawat untuk bekerja dengan niat ibadah, sehingga tekanan kerja dipersepsikan sebagai bagian dari ladang pahala. Kesabaran membantu perawat tetap tenang menghadapi situasi Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 17 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index sulit, seperti pasien kritis atau keluarga pasien yang emosional. Secara psikologis, ketiga nilai ini dapat menurunkan respon stres dengan meningkatkan kontrol diri dan resiliensi emosional (Kurniawati, 2. Rasa syukur, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ibrahim: 7, membantu perawat mengubah persepsi terhadap pekerjaan dari AubebanAy menjadi Aukesempatan berbuat baikAy. Penelitian Handayani et al. psikologis yang lebih baik, yang pada gilirannya menurunkan risiko burnout. Sikap ini mendorong individu fokus pada hal-hal positif, sehingga tekanan kerja tidak (Handayani, 2. Nilai ukhuwah . dalam AIK(A) mendorong perawat untuk menjaga silaturahim, bekerja sama, dan saling memberi dukungan di lingkungan kerja. Hubungan interpersonal yang baik dapat menjadi buffer terhadap stres, sebagaimana dukungan sosial terbukti menurunkan tingkat stres kerja pada tenaga kesehatan (Nurhayati, 2. AIK menempatkan ukhuwah sebagai bagian integral dari amar maAoruf munkarAimenciptakan lingkungan kerja yang saling mengingatkan dalam kebaikan (Nurhaliza, 2. Penerapan amar maAoruf nahi munkar di lingkungan rumah sakit membantu membangun budaya kerja yang positif, etis, dan saling menghargai (Fahmi, 2. Lingkungan interpersonal akan mengurangi pemicu stres kerja. Prinsip ini juga sejalan dengan kode etik profesi perawat yang menuntut integritas, tanggung jawab, dan kejujuran dalam pelayanan. AIK menekankan keseimbangan antara kesehatan fisik dan rohani (Puspitasari, dkk, 2. Perawat yang menjaga kebersihan, kesehatan tubuh, serta meluangkan waktu untuk ibadah dan dzikir akan memiliki daya tahan lebih baik terhadap stres (Bunyamin. World Health Organization . menegaskan bahwa gaya hidup sehat, termasuk aktivitas fisik dan manajemen JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 spiritual, berkontribusi pada pengendalian stres kerja (WHO, 2. Implementasi AIK tidak berdiri sendiri, tetapi dapat diintegrasikan dengan strategi manajemen stres berbasis evidencebased pernapasan, manajemen waktu, dan pelatihan komunikasi terapeutik (Bahjah. Perawat yang menginternalisasi nilai-nilai AIK akan lebih mudah menerapkan strategi ini dengan perspektif positif, sehingga pencegahan stres menjadi lebih efektif dan berkelanjutan (Zulkahfi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, jenis kelamin, lama masa kerja, dan penerapan nilai-nilai AlIslam dan Kemuhammadiyahan (AIK) memiliki hubungan signifikan dengan tingkat stres kerja perawat. Perawat dengan pendidikan sarjana, berjenis kelamin lakilaki, memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun, serta bekerja di lingkungan dengan penerapan AIK yang baik cenderung memiliki kondisi stres kerja normal. Sementara itu, status pernikahan tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan stres kerja. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor individu dan faktor organisasi, termasuk penerapan AIK, berperan penting dalam pencegahan stres kerja. Saran Penelitian ini menyarankan agar organisasi pelayanan kesehatan, khususnya rumah sakit perlu memperkuat penerapan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) pelatihan rutin, pengajian, dan pembinaan etika profesi. Hal ini terbukti dapat membantu perawat mengelola stres kerja secara lebih efektif. Manajemen rumah sakit juga dapat memberikan kesempatan pelatihan atau pendidikan lanjutan, karena tingkat pendidikan yang lebih tinggi Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 18 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index mengelola stres yang lebih baik. Perawat dengan masa kerja lebih lama dapat berperan sebagai mentor bagi perawat baru, untuk berbagi strategi manajemen stres dan adaptasi di lingkungan kerja. Mengingat perbedaan kemampuan pengelolaan stres antara lakilaki dan perempuan, manajemen dapat merancang program dukungan psikologis spesifik gender. Rumah sakit juga dapat melakukan evaluasi berkala terhadap tingkat stres kerja perawat, agar intervensi pencegahan dapat dilakukan lebih dini. KEPUSTAKAAN