Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik. Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil Volume 3 Nomor 3 Juli 2025 E-ISSN . : 3031-4089. P-ISSN . : 3031-5069. Hal 94-105 DOI: https://doi. org/10. 61132/konstruksi. Available online at: https://journal. id/index. php/Konstruksi Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Bukit Tutari dengan Konsep Ekowisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Adat (Studi Kasus : Kampung Doyo Lama. Distrik Waib. Meicelin ApaserayA*. Elisabeth Veronika WambrauwA. James ModouwA Perencanaan Wilayah dan Kota. Universitas Cenderawasih Jayapura. Indonesia Kampus Jl. Kampwolker Yabansai Waena Jayapura. Papua Korespondensi penulis: ichameicelin53272@gmail. Abstract. The Bukit Tutari Cultural Heritage Area in Jayapura Regency. Papua, has enormous potential to be developed as a sustainable ecotourism destination. This study aims to explore strategies for developing the area by involving indigenous people as the main managers. Through a community- based approach, it is hoped that this development will not only improve local economic welfare, but also preserve cultural and environmental This study uses a qualitative method with data analysis from interviews, observations, and literature studies. The results of the study indicate that the involvement of indigenous people in ecotourism management can create synergy between cultural preservation and local economic development. Keywords: Tutari Megalithic Site. Cultural Heritage. Sustainable Ecotourism . Indigenous People Abstrak. Kawasan Cagar Budaya Bukit Tutari di Kabupaten Jayapura. Papua, memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi pengembangan kawasan tersebut dengan melibatkan masyarakat adat sebagai pengelola Melalui pendekatan berbasis masyarakat, diharapkan pengembangan ini tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal, tetapi juga melestarikan nilai-nilai budaya dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis data dari wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan ekowisata dapat menciptakan sinergi antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi lokal. Kata kunci: Situs Megalitik Tutari. Cagar Budaya. Ekowisata Berkelanjuan . Masyarakat Adat. LATAR BELAKANG Kawasan Cagar Budaya Bukit Tutari adalah situs megalitik yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Menurut Anton Setiawan . , situs ini mencerminkan peradaban awal masyarakat Papua yang memiliki tradisi dan kearifan lokal yang mendalam. Sayangnya, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk pariwisata berkelanjutan. Data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayapura . menunjukkan bahwa sektor pariwisata di wilayah ini masih tertinggal dibandingkan daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan strategi inovatif, seperti pengembangan ekowisata berbasis masyarakat adat. Ekowisata, yang menjadi fokus global, tidak hanya mengutamakan aspek ekonomi, tetapi juga pelestarian lingkungan dan budaya, seperti dijelaskan oleh Fandeli . Dengan melibatkan masyarakat adat dalam pengelolaan ekowisata, diharapkan tercipta keseimbangan antara pengembangan ekonomi dan pelestarian budaya. Prinsip-prinsip ekowisata yang diusulkan oleh WWF . menekankan pentingnya partisipasi masyarakat lokal. Dalam konteks Bukit Tutari, pengembangan ekowisata ini dapat memberi kesempatan bagi masyarakat lokal untuk aktif dalam pengelolaan sumber daya mereka, menjadikan mereka bukan hanya objek wisata, tetapi juga agen Received: April 30, 2025. Revised: Mei 15, 2025. Accepted: Juni 07, 2025. Online Available: Juni 09, 2025 Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Bukit Tutari dengan Konsep Ekowisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Adat (Studi Kasus : Kampung Doyo Lama. Distrik Waib. perubahan yang melestarikan warisan budaya. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran masyarakat adat dalam pengembangan ekowisata di Bukit Tutari serta tantangan dan peluang yang ada. KAJIAN TEORITIS Konsep Ekowisata (Ecotouris. Ekowisata, menurut The Ecotourism Society pada 1990 dan dikutip oleh Fandeli . , adalah perjalanan bertanggung jawab ke area alami yang melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Konsep ini menekankan pengalaman edukatif dan berkelanjutan, di mana wisatawan dapat memahami ekosistem dan budaya setempat serta pentingnya pelestarian. Data dari Badan Pusat Statistik . menunjukkan bahwa sektor pariwisata, termasuk ekowisata, berkontribusi lebih dari 5% terhadap PDB nasional. Selain itu, ekowisata juga mencakup aspek sosial dan lingkungan serta berfungsi sebagai alat konservasi dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya. Konsep Berkelanjutan (SDGS) Ekowisata berkelanjutan merupakan elemen penting dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. yang diinisiasi oleh PBB, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada pelestarian budaya dan tradisi lokal. Ekowisata bisa menjadi model pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan, memberi manfaat bagi semua. Dengan penekanan pada keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal, ekowisata mendukung pariwisata yang bertanggung jawab, terutama di daerah kaya keanekaragaman hayati, seperti Bukit Tutari, dan berkontribusi pada penciptaan kota yang inklusif dan Konsep Ekowisata Berkelanjutan (Sustainable Ecotouris. Penerapan prinsip ekowisata berkelanjutan tercermin dalam pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana dan pengembangan ekonomi lokal. Menurut Ramadhan dan Trimarstuti . , ekowisata berkelanjutan harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal dalam setiap fase pengembangan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, guna meningkatkan rasa memiliki dan memastikan manfaat ekonomi dirasakan oleh masyarakat. Konsep Ekowisata Berbasis Masyarakat Adat Ekowisata berbasis partisipasi masyarakat adalah usaha pariwisata yang menekankan peran aktif komunitas lokal. Model ini dirancang untuk melibatkan masyarakat dalam semua tahap, mulai dari perencanaan hingga pengelolaan ekowisata. Masyarakat juga berhak KONTRUKSI - VOLUME. 3 NOMOR. 3 JULI 2025 E-ISSN . : 3031-4089. P-ISSN . : 3031-5069. Hal 94-105 mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut (WWF-Indonesia, 2. Konsep Cagar Budaya Konsep pelestarian yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya merupakan usaha berkelanjutan untuk menjaga eksistensi dan nilai cagar Upaya ini meliputi tiga aspek utama: perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan, yang saling terkait dalam rangkaian kegiatan pelestarian. Perlindungan bertujuan mencegah kerusakan atau pengabaian, sedangkan pengembangan berfokus pada peningkatan kualitas dan nilai cagar budaya. Aspek pemanfaatan berperan penting dalam menggunakan cagar budaya untuk kesejahteraan masyarakat. Konsep Kawasan Pengembangan Meningkatkan kesadaran lingkungan telah memicu berbagai tuntutan dalam sektor Tuntutan ini mendorong munculnya usaha dan pendekatan baru dalam kegiatan pariwisata, baik dari dunia usaha maupun masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan. Untuk pengembangan ekowisata yang integratif, diperlukan beberapa pendekatan, antara lain: Pendekatan Lingkungan, . Partisipasi dan Pemberdayaan, . Sektor Publik, . Pengembangan Infrastruktur, . Pengendalian Dampak Ekologi, . Zonasi Ekowisata, . Pengelolaan Ekowisata, . Perencanaan Ekowisata, . Pendidikan Ekowisata, . Pemasaran, dan . Organisasi. Pengembangan Kawasan Pengembangan kawasan, menurut Suwarsito dkk . , adalah proses penggunaan tata ruang untuk meningkatkan kualitas dan fungsi suatu area. Tujuan utamanya meliputi: . Meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan fasilitas dan infrastruktur yang baik, serta peluang ekonomi. Memaksimalkan potensi wilayah dengan memanfaatkan sumber daya alam, budaya, dan manusia secara optimal. Menciptakan lingkungan yang Pengembangan ini bertujuan untuk memperbaiki sistem ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup dalam ekosistem yang ada. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan pendekatan campuran yang mengintegrasikan metode kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis data. Fokus penelitian adalah pada kondisi fisik Kawasan Cagar Budaya Bukit Tutari di Kampung Doyo Lama. Distrik Waibu. Kabupaten Jayapura. Pendekatan ini melibatkan analisis spasial dan wawancara tematik, yang bertujuan memberikan pemahaman mendalam serta perspektif dari masyarakat setempat. Pengumpulan data mencakup data primer melalui observasi dan wawancara, serta data sekunder dari instansi Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Bukit Tutari dengan Konsep Ekowisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Adat (Studi Kasus : Kampung Doyo Lama. Distrik Waib. Gambar 1. Observasi dan Wawancara Peneliti di Kampung Doyo Lama Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis spasial dan kualitatif melalui analisis tematik. Indikator pengembangan diidentifikasi dari wawancara Analisis SWOT dilakukan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dalam ekowisata. Hambatan yang teridentifikasi meliputi rendahnya efektivitas program, kurangnya kerjasama pemerintah dan masyarakat, serta keterbatasan anggaran. Faktor keberhasilan mencakup edukasi, budaya, ekonomi, dan lapangan pekerjaan, yang akan digunakan untuk merencanakan pengembangan wisata berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Administrasi Wilayah Penelitian Kampung Doyo Lama terletak di Distrik/Kecamatan Waibu_Kabupaten Jayapura Papua. Kampung Doyo Lama memiliki pemerintahan adat kepala suku atau . dan pemerintahan sipil . epala kampun. Kampung Doyo lama memiliki jumlah jiwa 600 kepala keluarga (Anton Setiawan, 2. Batas wilayah Kampung Doyo Lama sebagai berikut Sebelah Utara Kampung Doyo Baru dan Kampung Adat Bambar. Sebelah Selatan Kampung Kwadeware. Sebelah Timur Kelurahan Hinekombe Distrik Sentani dan Sebelah Barat Kampung Sosiri. Gambar 2. Peta Administrasi Kampung Doyo Lama Analisis Kondisi Eksisting Wilayah Penelitian Kampung Doyo Lama juga menyimpan berbagai objek wisata menarik, seperti Danau KONTRUKSI - VOLUME. 3 NOMOR. 3 JULI 2025 E-ISSN . : 3031-4089. P-ISSN . : 3031-5069. Hal 94-105 Sentani. Bukit Teletubbies. Situs Megalitik Tutari, dan Pondok Apung Tomarokai. Objek-objek tersebut tidak hanya menampilkan keindahan alam, tetapi juga mendukung ekonomi lokal, di mana penduduk berperan aktif dalam pengelolaannya. Bukit Tungkuwiri menawarkan pemandangan indah Gunung Cycloop dan Danau Sentani. Gambar 3. Peta Persebaran Wisata Kampung Doyo Lama Ketiga objek wisata di Kampung Doyo Lama dan Kabupaten Jayapura bertujuan untuk mengoptimalkan potensi daerah. Dengan pengelolaan dan promosi yang baik, diharapkan dapat meningkatkan ekonomi lokal dan menarik lebih banyak wisatawan. Penelitian ini berfokus pada Kawasan Situs Megalitik Tutari, di mana peneliti melakukan observasi dan wawancara untuk menemukan masalah serta solusi dalam pengembangan ekowisata. Hasil menunjukkan potensi kawasan ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui enam sektor yang memiliki informasi klasifikasi batuan. Tabel 1. Analisis Kondisi Eksisting Kawasan Situs Megalitik Tutari Sektor Sebaran Batuan Sektor 1 Lukisan batu Sektor 2 Lukisan batu Sektor 3 Batu lingkar dan lukisan batu Sektor 4 Batu pahlawan dan lukisan batu Sektor 5 Jajaran batu Sektor 6 Kompleks menhir. Sumber : Analisis Peneliti,2025 Selain itu, kawasan situs tersebut membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung kegiatan wisata. Berdasarkan observasi langsung, ditemukan bahwa kondisi sarana dan prasarana yang ada masih memerlukan perbaikan dan penambahan. Berikut adalah tabel mengenai ketersediaan sarana dan prasarana. Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Bukit Tutari dengan Konsep Ekowisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Adat (Studi Kasus : Kampung Doyo Lama. Distrik Waib. Tabel 2 . Ketersediaan Sarana dan Prasarana di Kawasan Situs Megalitik Tutari Ketersediaan Sarana dan Prasarana Keterangan Pos Jaga Rusak Pagar Rusak Gazebo ( 3 unit ) Cukup baik Jalur Pendakian Cukup baik Sumber : Analisis Peneliti,2025 Gambar 4. Peta Kondisi Eksisting dan Sarana Prasarana di Kawasan Situs Megaliti Tutari Kondisi topografi di Kampung Doyo Lama dapat digambarkan sebagai area datar dengan kemiringan sedang. Penelitian ini berfokus pada zona yang lebih tinggi di wilayah perbukitan, dengan kemiringan lereng sekitar 25%. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perjalanan dari Kampung Doyo Lama ke puncak bukit Tutari memakan waktu antara 25 hingga 30 menit. Gambar 5. Peta Topografi Akses ke Kampung Doyo Lama dapat dilakukan melalui Jalan Sentani Ae Bongkrang Ae Warumbaim, yang merupakan jalur utama Kabupaten Jayapura menuju Geyem dan Sarmi. Jalan Doyo adalah jalan arteri satu jalur dengan dua lajur, mendukung lalu lintas kendaraan roda dua dan empat. Kondisi jalan menuju destinasi wisata di Kampung Doyo Lama baik, memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Aksesibilitas Kampung Doyo Lama tergolong sedang karena volume kendaraan tidak terlalu padat, dan akses ke tempat wisata seperti Bukit Tutari juga terjamin serta dalam kondisi sangat baik. KONTRUKSI - VOLUME. 3 NOMOR. 3 JULI 2025 E-ISSN . : 3031-4089. P-ISSN . : 3031-5069. Hal 94-105 Gambar 6. Peta Aksesbilitas Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jayapura berfungsi sebagai panduan pemanfaatan ruang. RTRW bertujuan menciptakan keseimbangan perkembangan antar distrik dan keserasian sektor. Selain itu. RTRW mengatur lokasi investasi serta penataan kawasan strategis. Penyusunannya mempertimbangkan dinamika pembangunan, tantangan globalisasi, otonomi, dan kearifan lokal, serta mencakup kawasan konservasi dan pariwisata. Gambar 7. Peta Penggunaan Lahan Analisis Tematik Pengembangan dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui analisis spasial untuk pemetaan dalam penelitian, serta pendekatan kualitatif dengan analisis tematik. Ini melibatkanpenentuan indikator penghambat dan keberhasilan pengembangan berdasarkan wawancara dengan narasumber di lokasi penelitian. Dalam konteks ekowisata, indikator SWOT dipertimbangkan, di mana kekuatan dan kelemahan dievaluasi berdasarkan kondisi Sementara itu, peluang dan tantangan dianalisis melalui wawancara dengan masyarakat setempat. Indikator penghambat pengembangan meliputi: . Program pengembangan yang belum efektif, . Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat yang belum optimal, . Aturan adat yang menghambat, . Konflik internal, dan . Keterbatasan anggaran untuk sarana dan prasarana. Di sisi lain, indikator yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan mencakup: Edukasi, . Budaya, . Ekonomi, dan . Lapangan pekerjaan. Dengan memadukan kedua pendekatan ini, diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Bukit Tutari dengan Konsep Ekowisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Adat (Studi Kasus : Kampung Doyo Lama. Distrik Waib. mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan ekowisata. HASIL PENELITIAN Rencana pengembangan kawasan cagar budaya Bukit Tutari bertujuan untuk menciptakan ekowisata berkelanjutan bagi masyarakat dan pemerintah. Penelitian sebelumnya menjadi dasar untuk mengembangkan fasilitas umum yang nyaman bagi pengunjung. Pengembangan ini didasarkan pada pemahaman peneliti tentang perencanaan kawasan wisata dan hasil analisis data yang menunjukkan kebutuhan fasilitas yang memadai. Gambar 8. Peta Pengembangan Kawasan Situs Megalitik Tutari Alternatif Pengembangan Produk Wisata baru : Tur Budaya dan Warisan Paket Wisata Sejarah dan Budaya: Mencakup kunjungan ke situs cagar budaya, tempat ibadah, dan lokasi bersejarah, diiringi oleh pemandu wisata yang berpengetahuan. Menyajikan cerita dan narasi menarik tentang sejarah dan tradisi masyarakat lokal. Kegiatan Pertunjukan Budaya: Mengadakan pertunjukan seni tradisional, seperti tarian, musik, dan drama yang mencerminkan budaya lokal. Memberikan sesi interaktif di mana pengunjung dapat belajar dan berpartisipasi dalam kegiatan budaya. Pendakian dan Trekking: Menawarkan rute trekking yang dirancang untuk menjelajahi keindahan alam dan flora fauna di sekitar Bukit Tutari. Menyediakan level kesulitan yang berbeda untuk memenuhi berbagai tingkat kemampuan pengunjung. KONTRUKSI - VOLUME. 3 NOMOR. 3 JULI 2025 E-ISSN . : 3031-4089. P-ISSN . : 3031-5069. Hal 94-105 Program Edukasi Lingkungan Workshop Pelestarian Lingkungan: Menerapkan program edukasi tentang pentingnya pelestarian lingkungan, cara melestarikan flora dan fauna, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Mengundang para ahli atau aktivis lingkungan untuk memberikan wawasan yang lebih dalam kepada pengunjung. Ecotourism Youth Camp: Mengorganisir program bagi siswa dan generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan pelestarian dan ekowisata, menciptakan kesadaran dan tanggung jawab lingkungan yang lebih Paket Edukasi untuk Anak-anak: Menawarkan program pendidikan yang dirancang khusus untuk anak-anak, termasuk kegiatan luar ruangan, permainan edukatif, dan belajar tentang ekosistem lokal. Menyusun program keluarga yang mencakup kegiatan yang menarik dan mendidik bagi semua anggota keluarga Kesadaran dan Promosi Budaya Lokal Pameran dan Pasar Kerajinan Tangan: Mengadakan pameran kerajinan tangan yang dihasilkan oleh masyarakat lokal, di mana pengunjung dapat membeli produk unik sambil belajar tentang teknik dan cerita di balik setiap Program Pertukaran Budaya: Mengundang pengunjung dari berbagai daerah untuk bergabung dalam kegiatan budaya lokal, menciptakan hubungan antarbudaya yang positif. KESIMPULAN DAN SARAN Situs Megalitik Tutari di Kampung Doyo Lama. Jayapura, adalah cagar budaya bernilai Potensi batu prasejarah dan keindahan alam menarik wisatawan, sehingga pengembangan berkelanjutan penting. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan potensi melalui ekowisata berbasis masyarakat. Metode yang digunakan termasuk analisis spasial dan tematik untuk mengidentifikasi faktor penghambat dan keberhasilan, serta rencana pengembangan kawasan dan produk wisata baru. Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Bukit Tutari dengan Konsep Ekowisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Adat (Studi Kasus : Kampung Doyo Lama. Distrik Waib. UCAPAN TERIMA KASIH