PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DAN DUKUNGAN SOSIAL ORANGTUA TERHADAP RESILIENSI AKADEMIK (STUDI KASUS SISWA SMK MUHAMMADIYAH 1 SAMARINDA) Annisa Shafa Salsabila1. Evi Kurniasari Purwaningrum2. Siti Khumaidatul Umaroh3 Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan social teman sebaya dan dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh positif dukungan social teman sebaya dan dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda. Subjek dalam penelitian ini siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda sebanyak 167 siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala dukungan sosial teman sebaya dari Student Support Scale dengan jumlah 20 aitem dan memiliki nilai validitas berkisar antara 0,929-0,987. Skala dukungan sosial orang tua dari Parental Social Support Scale dengan jumlah 22 aitem dan memiliki nilai validitas berkisar 0,959-0,979. Skala resiliensi akademik dari The Academic Resilience Scale (ARS-. dengan jumlah 24 aitem dan memiliki nilai validitas berkisar antara 0,876-0,971. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda. Hasil uji regresi menunjukkan adanya pengaruh positif antara variable dukungan social teman sebaya dan dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammdiyah 1 Samarinda sebesar 89,6%. Dukungan social teman sebaya sebesar 11,6% dan dukungan orang tua sebesar 78%. Kata Kunci: Siswa. Dukungan Sosial Teman Sebaya. Dukungan Sosial Orang Tua, dan Resiliensi Akademik. ABSTRACK This research was conducted to knowing the effect of peer social support and parental social support on academic resilience of students at SMK Muhammadiyah 1 Samarinda. The hypothesis proposed in this study is that there is a positive influence of peer social support and parental social support on the academic resilience of students of SMK Muhammdiyah 1 Samarinda. The subjects in this study were students of SMK Muhammdiyah 1 Samarinda as many as 167 students. The measuring instrument use in this study was the peer social support scale from the Student Support Scale with a total of 20 items and has a validity value ranging 929 to 0. The parental social support scale from the Parental Social Support Scale with a total of 22 items and has a validity value ranging from 0. 959 to 0. Academic resilience scale from The Academic Resilience Scale (ARS-. with a total of 24 items and has a validity value ranging from 0. Methods of data analysis in this study using multiple regression analysis technique. The regression test results showed a positive correlation between the variables of peer social support and parental social support on the academic resilience of students of SMK Muhammdiyah 1 Samarinda of 89,6%. Peer social support of 11,6% and parental social support of 78%. Keywords: Students. Peer Social Support. Parents Social Support, and Academic Resilience. PENDAHULUAN Di masa mendatang, tantangan akan semakin berat seperti persaingan yang ketat dan lain sebagainya. Tidak dapat kita pungkiri bahwasanya tantangan-tantangan tersebut setiap harinya ada di lingkungan kita, baik di rumah, tempat kerja, sekolah, dan lain-lainnya. Sehingga dibutuhkan pribadi yang resilien. Reivich dan Shatte . menjelaskan bahwa resiliensi adalah kemampuan untuk mengatasi dan beradaptasi bila terjadi sesuatu yang merugikan dalam hidupnya. Bertahan dalam keadaan tertekan sekalipun, atau bahkan berhadapan dengan kesengsaraan . maupun trauma yang dialami sepanjang Jika orang memiliki resiliensi dalam dirinya, maka akan menghadapi segala permasalahan yang dialaminya dengan cara sehat. Mereka akan membiarkan perasaan sedih, kecewa dan berduka dalam dirinya, tetapi tidak akan membiarkan dirinya dalam keadaan seperti itu secara permanen. Di sekolah siswa tentu memerlukan resiliensi dalam hal akademik. Resiliensi akademik merupakan faktor penting bagi kesuksesan siswa karena resiliensi akademik merupakan sebuah proses dinamis yang mencerminkan kekuatan dan ketangguhan seseorang untuk bangkit dari pengalaman emosional negatif, saat menghadapi situasi sulit yang menekan atau mengandung hambatan signifikan dalam aktivitas belajar yang dilakukan. Resiliensi akademik terjadi ketika siswa menggunakan kekuatan internal maupun eksternalnya untuk mengatasi berbagai pengalaman negatif, menekan dan menghambat selama proses belajar, sehingga mereka mampu beradaptasi dan melaksanakan setiap tuntutan akademik dengan baik (Boatman dalam Hendriani, 2. Siswa yang resilien cenderung lebih mampu mempertahankan motivasi dan kinerja akademis terlepas dari kondisi yang menantang ataupun menekan yang beresiko. Dalam penelitian Chasanah, dkk . individu yang memiliki resiliensi akademik yang baik, maka melihat masalah sebagai tantangan yang harus dihadapi bukan untuk dihindari, ia juga melihat tantangan bukan sebagai hambatan melainkan sesuatu yang harus dikerjakan, selain itu ia merasa mampu menyelesaikan setiap tugas pembelajaran dengan baik. Sebaliknya. Ramadhana dan Indrawati . yang mengatakan bahwa siswa yang belum mampu bertahan menghadapi kondisi-kondisi sulit di dalam lingkungan sekolah dengan kata lain belum memiliki relisiensi akademik yang baik cenderung menunjukkan perilaku membolos, tidak patuh dengan guru, tidak mengerjakan tugas sekolah, datang terlambat, tidur di kelas, berisik dan keluar kelas saat kegiatan belajar berlangsung. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arc, dkk . alam Fitri dan Kushendar, 2. bahwa individu dengan resiliensi akan cenderung menunjukkan emosi positif dalam menghadapi berbagai peristiwa. Artinya bahwa yang diharapkan dari keadaan pandemi ini yaitu siswa mampu beradaptasi dengan keadaan yang ada, kemudian mampu keluar dari keadaan yang tidak diinginkan terutama dalam hal belajar dan mampu menghadapi masalah dalam belajar. Hasil survey BBC News . anakanak di 34 provinsi didapatkan selama masa pandemi menunjukkan gejala depresi yang megakibatkan anak-anak tidak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan maksimal. Sebanyak 93% pada rentang usia 14-18 tahun, sementara 7% mengikuti proses pembelajaran dengan maksimal. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti bahwa sebanyak 63,7% siswa tidak memiliki resiliensi akademik yang baik dan sebanyak 27,3% siswa memiliki resiliensi yang baik. Hal yang membuat mereka merasa terpuruk yaitu masa Sebelum masa pandemi terjadi, pembelajaran terjadi dengan tatap muka, dapat belajar bersama teman, dapat bertukar pikiran bersama teman, dapat bercerita juga kepada guru BK. Mereka banyak menghabiskan waktu di sekolah. Saat masa pandemi berlangsung, mereka mengerjakan semua tugas sendiri. Meskipun dapat berkomunikasi dengan teman dan Tetapi, mereka merasa terhalang karena tidak dapat bertatap langsung. Dan ini membuat mereka stres, sehingga tidak memperdulikan pembelajaran di sekolah. Kemudian, hal ini diperkuat dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada Waka Kurikulum dan salah satu Wali Kelas SMK Muhammdiyah 1 Samarinda. Beliau mengatakan bahwa sebagian besar siswa tidak memperdulikan pembelajaran yang sedang berlangsung, baik itu tugas harian, kuis, ujian, yang terkait dengan nilai sekolah. Sebelum masa pandemi berlangsung, siswa yang seperti itu dapat dihitung jari. Tetapi, saat pandemi ini terjadi, sebagian besar seperti itu, baik dari kelas X sampai XII. Beliau bertanya kepada beberapa siswa, siswa tersebut mengatakan bahwa mereka sangat pusing dengan masa pandemi ini. Dapat disimpulkan bahwa siswa-siswi di SMK Muhammadiyah 1 Samarinda belum memiliki resiliensi akademik yang baik. Terlebih SMK Muhammadiyah 1 Samarinda mempunyai mata pelajaran tambahan dari SMK pada umumnya yaitu mata pelajaran yang berkaitan dengan Agama Islam. Tentu tantangan-tantangan akademik pun semakin banyak dan kompleks. Sehingga siswa-siswi di SMK tersebut memerlukan resiliensi akademik. Idealnya siswa memiliki resiliensi akademik. Reivich& Shatte . dengan adanya reiliensi akan mempermudah individu untuk memecahkan masalah dan mengendalikan emosi, serta optimisme yang dimiliki oleh seorang individu menandakan bahwa individu tersebut percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengatasi kemalangan yang mungkin terjadi di masa depan. Zanthy . menyatakan bahwa Auresiliensi akademikdapat digunakan untuk memprediksikan tingkat kemampuan akademik siswaAy. Resiliensi akademik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya Gothberg . alam Khomsah dkk, 2. menyebutkan faktor yang mempengaruhi resiliensi akademik seseorang, yaitu: i have . aktor bantuan dan sumber dari luar individ. , i am . actor kekuatan yang berasal dari dalam individ. , i can . aktor yang berasal dari kompensasi dan interpersonal seseoran. Wardhana . menyatakan bahwa sense of humor merupakan faktor internal yang mempengaruhi resiliensi akademik. Chasanah, dkk . menyatakan bahwa resiliensi akademik dipengaruhi oleh self regulated learning. Ramadhana dan Indrawati . mengatakan bahwa yang mempengaruhi resiliensi akademik yaitu keyakinan dari dalam diri siswa yang diartikan sebagai kemampuan siswa dalam mengamati dan mengolah kesulitan. Selain faktor keyakinan, terdapat dukungan sosial sebagai faktor Khomsah, dkk . menyatakan bahwa dengan layanan konseling kelompok teman sebaya maka akan meningkatkan resiliensi akademik siswa. Qosim . mengatakan jika semangat siswa mengendur akan ada pemberi dukungan positif yaitu dukungan orangorang terdekat yang memberikan dampak positif dalam pencapaian resiliensi yang baik. Dengan kata lain, dukungan sosial dapat menumbuhkan rasa yakin dalam diri seseorang. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti bahwa sebanyak 45,16% siswa menyatakan bahwa yang membantu dan menyemangati menjalankan proses pembelajaran adalah teman, sebanyak 48,39% siswa yang menyatakan bahwa dibantu dan disemangati oleh orang tua dan guru, serta 6,45% siswa lainnya menyatakan dibantu dan disemangati oleh dirinya sendiri. Dari studi ini, peneliti menarik kesimpulan bahwa faktor eksternal lah yang berperan penting dalam membentuk resiliensi akademik siswa. Remaja menghabiskan waktu dua sampai dengan tiga kali lipat bersama dengan teman sebayanya dibanding dengan orang tua dan dewasa lainnya (Brown & Prinstein dalam Ulfah & Ariati, 2. Dengan adanya dukungan sosial yang diberikan oleh teman sebaya, siswa mendapatkan berbagai informasi sehubungan dengan mata pelajaran yang diajarkan di kelas oleh guru, siswa memiliki komunitas untuk belajar bersama dalam memecahkan setiap persoalan sehubungan dengan mata pelajaran yang diajarkan, serta siswa merasa nyaman karena ada individu yang seusianya yang dapat memberikan masukan-masukan ketika mengalami permasalahan sehubungan dengan mata pelajaran di kelas, yang semua ini akan sangat memberikan pengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa (Patty, dkk, 2. Sejalan dengan pendapat Saguni dan Amin . alam Wijaya dan Widiasavitri, 2. menyatakan bahwa remaja yang memiliki teman sebaya akan cenderung lebih mampu untuk mengatasi transisi normatif dan peningkatan pada kualitas hidupnya seperti prestasi belajar dan daya bersaing, dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki teman sebaya. Kemudian Margono . alam Rufaida dan Kustanti, 2. mengatakan bahwa remaja yang mendapatkan penolakan atau tidak diperhatikan oleh teman sebaya akan merasa kesepian dan timbul rasa permusuhan, sehingga remaja tersebut memiliki rasa harga diri yang rendah dan prestasi belajar yang kurang. Dan juga penelitian yang dilakukan Sari dan Indrawati . menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya merupakan faktor yang dapat mempengaruhi resiliensi akademik pada mahasiswa tingkat akhir. Dengan demikian, mahasiswa tingkat akhir meningkatkan resiliensi akademik yang dimiliki dengan banyaknya dukungan sosial teman sebaya yang dirasakan. Pada saat individu mengalami goncangan psikologis akibat rendahnya kemampuan dalam menghadapi perubahan dan tuntutan dalam menghadapi perubahan tuntutan akademik, teman sebaya dapat memberikan dukungan dengan memberikan kenyamanan fisik seperti menemaninya disaat sedih, membantunya mengerjakan tugas yang sulit, dan memberikan pertolongan dengan melakukan suatu pekerjaan. Selain kenyamanan fisik, teman sebaya dapat memberikan kenyamanan psikologis dengan cara membuat kondisi agar seorang menjadi bagian dari suatu kelompok sosial. Dukungan tersebut dapat berupa empati, kasih sayang, perhatian, penghargaan positif, dan nasihat. Keadaan seperti itu akan memberikan individu rasa penerimaan, kehangatan dan pengertian sehingga dapat membantu individu untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi masalah secara efektif (Rufaida & Kustanti, 2. Pada masa pandemi sekarang ini, siswa banyak menghabiskan waktu di rumah. Sehingga peran orang tua pun dibutuhkan siswa dalam menjalani proses pembelajaran. Orang tua sebagai bagian dalam keluarga merupakan individu yang paling dekat dengan remaja dan salah satu sumber dukungan sosial bagi remaja dalam keluarga. Maka dari itu, dukungan orang tua sangatlah dibutuhkan dalam menunjang anak agar mampu mendapatkan prestasi belajar yang baik dan sesuai dengan harapannya. Malwa . mengatakan bahwa dengan adanya dukungan sosial orang tua, siswa akan lebih giat dan lebih bersemangat dalam belajar karena ia tahu bahwa bukan dirinya sendiri saja yang berkeinginan untuk maju, tetapi orang tuanya pun demikian. Dukungan sosial didefinisikan sebagai dukungan yang terdiri dari informasi atau nasehat verbal dan non-verbal, bantuan nyata, atau tindakan yang diberikan oleh keakraban atau didapat karena kehadiran orang lain dan hal ini memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima dukungan sosial yang paling baik adalah dukungan sosial yang didapatkan dari keluarga. Orang tua sebagai bagian dalam keluarga merupakan individu yang paling dekat dengan remaja dan salah satu sumber dukungan sosial bagi remaja dalam keluarga (House dalam Smet, 1. Dukungan orang tua dapat meliputi dukungan moral yang berupa perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan psikis yang melikputi kasih sayang, keteladanan, bimbingan dan pengarahan, dorongan, semangat, motivasi, serta menanamkan rasa percaya diri, dimana perhatian dari orangtua merupakan harapan semua anak di masa pertumbuhan dan pekembangannya (Angelika dan Gunawan, 2. Mufidah . mengatakanbahwa mahasiswa yang banyak menerima dukungan sosial dari orang tua maka memiliki resiliensi akademik yang. Faktor eksternal yang dapat membuat semangat dan yakin bisa menyelesaikan masalah adalah ketika individu tersebut merasa selalu mendapat dukungan positif dari orang-orang terdekatnya yaitu keluarga dan orang tua. Khajehpour dan Ghazvini . alam Emeralda dan Kristiana, 2. mengatakan bahwa anak yang orang tuanya memiliki keterlibatan tinggi cenderung untuk menunjukkan performa akademik yang lebih baik dibandingkan pada anak yang orang tuanya mempunyai keterlibatan rendah. Dukungan yang diberikan orang tua kepada anaknya memiliki efek positif dan konsisten terhadap prestasi akademik dan konsep diri. Hal ini diperkuat dengan penelitian Emerelda dan Kristiani . menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki tingkat motivasi yang tinggi. Semakin tinggi dukungan sosial orang tua maka semakin tinggi motivasi belajar siswa. Untuk dukungan sosial orang tua mayoritas memiliki tingkat dukungan sosial yang sangat tinggi. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa merasa bahwa orang tua mereka telah memenuhi kebutuhan mereka yang membuat motivasi belajar menjadi tinggi. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Malwa, 2. yang menyatakan bahwa orangtua harus dapat memberikan dorongan dan motivasi anak dalam belajar, memberikan dukungan saat anak mengalami kesulitan belajar dan memenuhi kebutuhan anak. Siswa-siswi yang menduduki bangku SMA/sederajat setelah lulus ada yang bekerja ataupun melanjutkan ke bangku perkuliahan. Maka dari itu, siswa-siswi SMA/sederajat menjadi subjek penelitian. Terlebih lagi SMK Muhammadiyah 1 Samarinda merupakan sekolah keagamaan, yang dimana ada tantangan pun semakin bertambah. Dan penelitian terkait pengaruh dukungan sosial teman sebaya dengan resiliensi akademik belum banyak Serta ditambah dengan pengaruh dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik pun peneliti baru menemukan dua jurnal yang membahas terkait permasalahan Penelitian ini sangat cocok dilakukan terlebih di masa pandemi sekarang ini. Maka, berdasarkan uraian-uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait dengan pengaruh dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda. METODE Responden Penelitian Peneliti menggunakan proporsional random sampling dalam menentukan jumlah responden penelitian. Responden dalam penelitian ini adalah siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda berjumlah 167 siswa. Metode pengumpulan data Penelitian ini menggunakan tiga skala, yaitu resiliensi akademik, dukungan sosial teman sebaya, dan dukungan sosial orang tua. Resiliensi akademik, diukur menggunakan skala The Academic Resilience Scale (ARS-. yang telah diadaptasi oleh Kumalasari, dkk . berdasarkan dimensi Cassidy. Kemudian, diadaptasi sesuai kebutuhan penelitian yang terdiri dari 24 aitem valid dengan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,760. Dukungan sosial teman sebaya, diukur menggunakan Student Support Scale yang diadaptasi dalam penelitian Patty . yang disusun berdasarkan Skala Sarafino dan Smith. Kemudian, diadaptasi sesuai kebutuhan penelitian yang terdiri dari 20 aitem valid dengan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,774. Dukungan sosial orang tua, diukur menggunakan Parental Social Support Scale yang dimodifikasi dalam penelitian Verawati . yang disusun berdasarkan Skala House. Kemudian, diadaptasi sesuai kebutuhan penelitian yang terdiri dari 22 aitem valid dengan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,772. Metode analisis data Dalam penelitian ini teknik analisis data yang peneliti gunakan adalah regresi Menurut Sugiyono . regresi berganda bertujuan untuk melihat korelasi antara dua atau lebih variable dependen. Dengan pengolahan data menggunakan IBM Statictics SPSS 24. HASIL Subjek dalam penelitian ini berjumlah 167 responden, yang terdiri dari 90 perempuan dan 77 laki-laki. Responden terbanyak berdasarkan rentang usia yaitu usia 16 tahun sebanyak 52 responden . ,1%). Jumlah responden berdasarkan kelas telah ditentukan menggunakan propotionate random sampling, yang terdiri dari kelas X sebanyak 58 responden . ,7%), kelas XII berjumlah 55 responden . ,9%) dan kelas XII sebanyak 54 responden . ,3%). Berdasarkan jurusan, cenderung berjumlah sama. Jurusan akuntansi berjumlah 56 responden . ,5%), jurusan multimedia berjumlah 55 responden . ,9%), dan jurusan Teknik komputer dan jaringan berjumlah 56 responden . ,9%). Detail frekuensi dan presentase data skala dapat dilihat pada table berikut : Tabel 1. Kategorisasi skala resiliensi akademik Skor Kategorisasi Frekuensi Presentasi <48 Rendah 62,9% 48 - 72 Sedang 6,0% >72 Tinggi Total Berdasarkan table 1 terdapat 105 responden . ,9%) yang memiliki tingkat resiliensi akademik yang rendah. Sebanyak 10 responden . %) yang memiliki tingkat resiliensi akademik yang sedang. Serta 52 responden . ,1%) yang memiliki tingkat resieliensi akademik yang tinggi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tingkat resiliensi siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda tergolong rendah. Tabel 2. Kategorisasi skala dukungan social teman sebaya Skor Kategorisasi Frekuensi Presentasi <40 Rendah 40 - 60 Sedang >60 Tinggi Total Berdasarkan tabel 2 terdapat 110 responden . ,9%) yang memiliki tingkat dukungan sosial teman sebaya yang rendah. Terdapat 1 responden . ,6%) yang memiliki tingkat dukungan sosial teman sebaya yang sedang. Serta 56 responden . ,5%) yang memiliki tingkat dukungan social teman sebaya yang tinggi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tingkat dukungan sosial teman sebaya siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda tergolong rendah. Tabel 3. Kategorisasi skala dukungan sosial orang tua Skor Kategorisasi Frekuensi Presentasi <44 Rendah 44 - 66 Sedang >66 Tinggi Total Berdasarkan table 3 terdapat 110 responden . ,9%) yang memiliki tingkat dukungan sosial orang tua yang rendah. Terdapat 1 responden . ,6%) yang memiliki tingkat dukungan sosial orang tua yang sedang. Serta 56 responden . ,5%) yang memiliki tingkat dukungan sosial orang tua yang tinggi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tingkat dukungan sosial teman sebaya siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda tergolong rendah. Gambar 1. Normalitas data dengan metode PP-Plot Berdasarkan gambar 1 diketahui bahwa data dengan Normal P-P Plot pada ketiga variabel dinyatakan berdistribusi normal. Hal tersebut dikarenakan titik-titik pada gambar distribusi terlihat menyebar atau mendekati di sekitar garis diagonal dan penyebaran searah dengan mengikuti garis diagonal. Tabel 4. Uji linearitas Deviation from Variabel Resiliensi Akademik* DukunganSosial Teman Sebaya Resiliensi Akademik*DukunganSosial Orang Tua 0,279 0,279 Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai Sig Deviation from linearity lebih besar Maka dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang linear antara reseiliensi akademik dan dukungan sosial teman sebaya, dan ada hubungan yang linear antara resiliensi akademik dan dukungan sosial orang tua. Tabel 5. Uji multikoleniaritas Variabel Dukungan Sosial Teman Sebaya Dukungan Sosial Orang Tua Tolerance 0,280 VIF 35,365 0,280 35, 365 Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai tolerance lebih dari 0,1 dan VIF lebih dari 10, maka dapat dikatakan bahwa tidak terjadi multikolinearitas Priyatno . Tabel 6. Uji hipotesis Variabel Adjusted R Square Sig. Dukungan Sosial Teman Sebaya. Dukungan Sosial Orang Tua*Resilen si Akademik 0, 947 0,896 0,000 Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai korelasi antara dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik adalah sebesar 0,947 yang berarti bahwa terdapat korelasi dalam tingkat sangat kuat (Ghozali, 2. antara kemandirian belajar dan penyesuaian diri. Pengaruh dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik dalam penelitian ini dapat dilihat dari nilai Adjusted R Square sebesar 0,896. Artinya terdapat pengaruh antara dukungan sosial teman sebaya (X. dan dukungan sosial orang tua (X. dengan resiliensi akademik (Y) dengan sumbangan efektif sebesar 89,6%. Sumbangan efektif masing-masing variabel, maka dapat dihitung dengan mengalikan nilai beta dengan zero order kemudian dikalikan 100%. Maka, didapatkan bahwa sumbangan efektif yang diberikan oleh dukungan sosial teman sebaya terhadap resiliensi akademik sebesar 11,6% dan sumbangan efektif yang diberikan oleh dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik sebesar 78%. PEMBAHASAN Penelitian ini berusaha untuk menjawab permasalahan penelitian tentang pengaruh dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda. Berdasarkan uji regresi linear berganda yang dilakukan diketahui bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua memberikan pengaruh sebesar 89,6%. Hal ini dapat dilihat bahwa nilai koefisien determinasi sebesar 0,896. Sedangkan 11,4% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, diantaranya Gothberg . alam Khomsah dkk, 2. menyebutkan faktor yang mempengaruhi resiliensi akademik seseorang, yaitu: i have . aktor bantuan dan sumber dari luar individ. , i am . aktor kekuatan yang berasal dari dalam individ. , i can . aktor yang berasal dari kompensasi dan interpersonal seseoran. Wardhana . menyatakan bahwa sense of humor merupakan faktor internal yang mempengaruhi resiliensi akademik. Chasanah, dkk . menyatakan bahwa resiliensi akademik dipengaruhi oleh self regulated Hasil analisis didapatkan bahwa dukungan sosial teman sebaya mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda, yang mana artinya semakin banyak siswa memiliki dukungan sosial teman sebaya maka akan semakin tinggi juga tingkat resiliensi akademik yang dimilikinya. Begitupun hasil analisis didapatkan bahwa dukungan sosial orang tua mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda, yang artinya akan semakin tinggi siswa memiliki dukungan sosial teman sebaya maka akan semakin tinggi juga tingkat resiliensi akademik yang dimilikinya. Sebaliknya, semakin rendah dukungan social teman sebaya dan dukungan sosial orang tua yang dimiliki maka akan semakin rendah pula tingkat resiliensi akademik yang dimiliki. Serta diperoleh bahwa dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda. Temuan ini mendukung pendapat Sasmiha dan Rustika . yang menyatakanbahwa pada saat individu mengalami goncangan psikologis akibat rendahnya kemampuan dalam menghadapi perubahan dan tuntutan dalam menghadapi perubahan tuntutan akademik, teman sebaya dapat memberikan dukungan dengan memberikan kenyamanan fisik seperti menemaninya disaat sedih, membantunya mengerjakan tugas yang sulit, dan memberikan pertolongan dengan melakukan suatu pekerjaan. Selain kenyamanan fisik, teman sebaya dapat memberikan kenyamanan psikologis dengan cara membuat kondisi agar seorang menjadi bagian dari suatu kelompok sosial. Dukungan tersebut dapat berupa empati, kasih sayang, perhatian, penghargaan positif, dan nasihat. Keadaan seperti itu akan memberikan individu rasa penerimaan, kehangatan dan pengertian sehingga dapat membantu individu untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi masalah secara efektif. Dukungan sosial yang diberikan oleh teman sebaya, siswa mendapatkan berbagai informasi sehubungan dengan mata pelajaran yang diajarkan di kelas oleh guru, siswa memiliki komunitas untuk belajar bersama dalam memecahkan setiap setiap persoalan sehubungan dengan mata pelajaran yang diajarkan, serta siswa merasa nyaman karena ada individu yang seusianya yang dapat memberikan masukan masukan ketika mengalami permasalahan sehubungan dengan mata pelajaran di kelas, yang semua ini akan sangat memberikan pengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa (Patty, dkk, 2. Sari dan Indrawati . menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara teman sebaya dengan resiliensi akademik. Ramadhana dan Indrawati . menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dukungan sosial teman sebaya terhadap resiliensi akademik. Putri dan Rusli . menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dukungan teman sebaya terhadap resiliensi remaja. Pada masa pandemi seperti sekarang ini, selain dukungan sosial teman sebaya maka dibutuhkanlah dukungan sosial orang tua karena siswa banyak menghabiskan waktu di Malwa . menyatakan bahwa orangtua harus dapat memberikan dorongan dan motivasi anak dalam belajar, memberikan dukungan saat anak mengalami kesulitan belajar dan memenuhi kebutuhan anak. Diperkuat dengan penelitian Mufidah . yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi Realita dilapangan menjelaskan bahwa sebanyak 62,9%siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda tergolong memiliki tingkat resiliensi akademik yang rendah. Dalam studi pendahuluan yang peneliti lakukan peneliti menemukan bahwa salah satu faktor yang dapat menghambat resiliensi akademik yaitu kurangnya siswa merasa kesulitan untuk fokus dan memahami penjelasan materi yang diberikan oleh guru dalam melakukan pembelajaran secara online disbanding saat melakukan pembelajaran secara tatap muka. Selain itu, jika sebelum masa pandemi ini, siswa dapat bertukar informasi dengan teman sebayanya di sekolah mengenai pembelajaran. Pada masa pandemi sekarang ini, siswa banyak menghabiskan waktu di rumah. Orang tua sebagai bagian dalam keluarga merupakan individu yang paling dekat dengan remaja dan salah satu sumber dukungan sosial bagi remaja dalam keluarga. Maka dari itu, dukungan orang tua sangatlah dibutuhkan dalam menunjang anak agar mampu mendapatkan prestasi belajar yang baik dan sesuai dengan harapannya. Dengan adanya dukungan sosial orang tua, siswa akan lebih giat dan lebih bersemangat dalam belajar karena ia tahu bahwa bukan dirinya sendiri saja yang berkeinginan untuk maju, tetapi orang tuanya pun demikian. Hasil penelitian dilapangan menjelaskan bahwa sebanyak 65,9% siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda tergolong memiliki tingkat dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua yang rendah. Dari hasil penelitian di atas maka dapat disimpulkan bahwa semakin sedikit dukungan yang diberikan dari teman dan orang tua dalam belajar, maka akan semakin besar kemungkinan untuk mengalami kesulitan atau hambatanhambatan dalam melewati rintanganrintangan di sekolah, sehingga tidak dapat mencapai hasil yang maksimaldalam proses akademis. Artinya, semakin rendah dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua yang dimiliki, maka akan semakin rendah pula resiliensi akademik. Begitu pun sebaliknya semakin banyak dukungan yang diberikan dari teman dan orang tua dalam belajar, maka akan semakin kecil kemungkinan untuk mengalami kesulitan atau hambatanhambatan dalam melewati rintanganrintangan di sekolah, yang akhirnya siswa tersebut memiliki resiliensi akademik yang tinggi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data, penulis memperoleh kesimpulan, diantaranya yaitu terdapat pengaruh positif dan signifikan antara dukungan sosial teman sebaya terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda sebesar 11,6%. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda sebesar 78%. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua terhadap resiliensi akademik siswa SMK Muhammadiyah 1 Samarinda sebesar 89,6% dengan kategori tinggi. Saran yang diberikan peneliti yaitu : Pertama bagi pembaca, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan pengetahuan terkait dengan dukungan sosial teman sebaya dan dukungan sosial orang tua, serta resiliensi akademik. Kedua, bagi siswa yang sedang menjalankan pembelajaran daring, resiliensi akademik dapat tercipta dengan kemampuan dan keyakinan dalam melakukan dan menyelesaikan tugas-tugas akademis yang diberikan secara daring merupakan sesuatu yang menarik dan layak dipelajari dengan cara mencari referensi, berdiskusi dengan teman, atau bertanya pada guru, mengikuti kegiatan perkuliahan dengan baik, yakin dapat menyelesaikan masalah ataus soal dengan baik. Ketiga, bagi guru, dapat melakukan peninjauan lebih dalam terkait resiliensi akademik siswa. Serta dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan untuk memberikan psikoedukasi bagi siswa. Keempat, bagi orang tua dapat mengetahui bahwa dengan memberikan dukungan sosial orang tua dapat meningkatkan resiliensi akademik siswa. Kelima, bagi peneliti selanjutnya penting untuk lebih menelaah variable resiliensi akademik, khususnya dalam reseiliensi akademik yang terjadi ditengah masa pandemi. Serta lebih menelaah kembali variable bebas lainnya yang dapat mempengaruhi resiliensi Dan juga, dapat menggunakan hasil penelitian untuk pengembangan penelitian DAFTAR PUSTAKA