HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA DENGAN PERILAKU REPRODUKSI SEHAT DI DUSUN SUNGAI JERNIH KABUPATEN BATANGHARI PROVINSI JAMBI TAHUN 2025 Lusiatun1. Rosmani Sinaga2. Ribur Sinaga3. Nur Azizah4 1,2,3,4 STIKes Mitra Husada Medan Email: lusiatun12@gmail. ABSTRAK Remaja merupakan tahap krusial yang sedang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju Pada masa ini, remaja mengalami perubahan yang signifikan baik fisik, kognitif, maupun psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap remaja dengan perilaku reproduksi sehat di Dusun Sungai Jernih Kabupaten Batanghari. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan crosectional studi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putra dan putri yang berusia 10 hingga 24 tahun di RT 10 Dusun Sungai Jernih. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling sebanyak 24 remaja. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 16 orang . ,67%) remaja memiliki tingkat pengetahuan yang baik, 14 orang . ,33%) memiliki sikap yang baik, dan perilaku yang baik sebanyak 14 orang . ,33%). Pada tingkat pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku reproduksi sehat dengan nilai p = 0,001. Demikian pula sikap remaja juga memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku reproduksi sehat dengan nilai p = 0,017. Kata Kunci: Pengetahuan. Perilaku. Remaja. Sikap ABSTRACT Adolescence is a crucial stage that is undergoing a transition from childhood to adulthood. During this period, significant changes occur both physically, cognitively, and psychosocially. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and attitudes of adolescents with healthy reproductive behavior in Sungai Jernih Hamlet. Batanghari Regency. This study is an analytical survey study with a cross-sectional study approach. The population in this study were all male and female adolescents aged 10 to 24 years in RT 10 Sungai Jernih Hamlet. Sampling used a total sampling technique of 24 adolescents. Data collection used a questionnaire and was analyzed using the chi-square test. The results showed that as many as 16 people . 67%) of adolescents had a good level of knowledge, 14 people . 33%) had good attitudes, and 14 people . 33%) had good behavior. At the level of knowledge, there was a significant relationship with healthy reproductive behavior with a p value = 0. Likewise, adolescent attitudes also had a significant relationship with healthy reproductive behavior with a p value = 0. Keywords: Adolescents. Attitudes. Behavior. Knowledge LATAR BELAKANG Masa remaja merupakan fase antara dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik, kognitif, dan psikososial yang pesat. Sehingga akan mempengaruhi remaja dalam berpikir, bersikap, mengambil keputusan dan berinteraksi dengan ligkungan sekitar mereka (WHO, 2. Kesehatan reproduksi seksual masih menjadi hal yang tabu terutama bagi Informasi dan layanan kesehatan kesenjangan kritis bagi remaja yang belum menikah, terutama remaja perempuan, sehingga mengakibatkan mereka rentan terhadap risiko kesehatan dan diskriminasi pelayanan kesehatan (Zakaria et al, 2. Kesehatan reproduksi menurut WHO . adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi, dan prosesnya. Remaja dan dewasa muda . -24 tahu. merupakan proporsi utama dari populasi dunia dan mayoritas berada di negara berkembang (Alam et al, 2. Remaja berusia 15Ae19 tahun di negara berkembang diperkirakan mengalami kehamilan sebanyak 21 juta kasus setiap Sebanyak 55% kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja akan berakhir dengan aborsi. Kehamilan remaja cenderung banyak terjadi di kalangan berpendidikan dan status ekonomi yang Kehamilan remaja merupakan masalah global dengan konsekuensi kesehatan, sosial, dan ekonomi yang serius (WHO, 2. Masa remaja menjadi tahap krusial dalam masa perkembangannya, yang memunculkan tantangan yang unik. Pada remaja perempuan akan menghadapi kompleksitas menstruasi. Namun, aspek vital kesehatan pribadi remaja putri seringkali terabaikan, terutama karena stigma budaya (Ene et al, 2. Upaya meningkatkan kesehatan seksual dan reproduksi remaja putri merupakan salah berkelanjutan (SDG. Pengetahuan yang memadai, sikap yang positif, dan perilaku yang aman berkontribusi terhadap kesehatan reproduksi dan seksual remaja, kesehatan ibu dan anak (Zakaria et al. Perhatian meningkatkan hak kesehatan seksual dan peningkatan namun belum merata di seluruh negara. Hal ini terjadi karena pengaruh norma-norma sosial, stereotip ketidakseimbangan kekuatan, infrastruktur yang buruk, kemiskinan, dan tingkat kekerasan berbasis gender yang tinggi, yang secara umum menghambat akses perempuan dan remaja perempuan ke layanan kesehatan Selain itu, sebagian besar mereka terutama mereka yang tinggal di pusat-pusat konflik dan pemukiman sementara, berisiko tinggi mengalami kekerasan seksual, pemotongan alat kelamin, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi yang tidak aman, penyakit HIV dan infeksi menular seksual lainnya, serta kematian ibu (Alam et al, 2. Pemerintah Indonesia Permenkes Nomor 2 Tahun 2025 menyebutkan penyelenggaraan upaya kesehatan sistem reproduksi sesuai siklus hidup bertujuan untuk menjaga dan meningkan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada perempuan dan laki-laki perkembangan kelompok sasaran, agar terbebas dari gangguan, penyakit, atau menjami kesehatan sistem reproduksi pada perempuan dan laki-laki untuk membentuk generasi sehat dan mencegah kehamilan berisiko. dan mencegah serta menangani kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross-sectional keterkaitan tingkat pengetahuan dan sikap dengan perilaku reproduksi sehat pada remaja di RT 10 Dusun Sungai Jernih Desa Ladang Peris Kabupaten Batanghari Tahun Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja yang berusia 10-24 tahun, dengan jumlah sampel 24 orang menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang terdiri dari 30 pertanyaan. Analisis data menggunakan uji bivariat dengan chisquare. HASIL Karakteristik responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Responden Frekuensi Persentase (%) Jenis Kelamin Laki-laki 37,50 Perempuan 62,50 Usia 10-14 tahun 54,17 15-19 tahun 25,00 20-24 tahun 20,83 Pendidikan 37,50 SMP 33,33 >= SMA 29,17 Sumber: Data Penelitian Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa responden sebagian besar adalah berjenis kelamin perempuan yaitu 15 orang . ,50%), selebihnya sebanyak 9 orang 37,50%) adalah laki-laki. Berdasarkan usia responden sebagian besar dalam rentang 10-13 tahun yaitu 13 orang . ,17%). Berdasarkan tingkat pendidikan sebagian besar masih berada di jenjang pnedidikan SD 9 orang . ,50%) Tabel 2. Hasil Analisis Bivariat Tingkat Pengetahuan dan Sikap Remaja Dengan Perilaku Reproduksi Sehat Variabel Perilaku Baik Kurang Pengetahuan Baik 13 54,17 Kurang 4,17 Sikap Baik 11 45,83 Kurang 12,50 Sumber: Data Penelitian Total 12,50 29,17 66,67 33,33 0,001 12,50 29,17 58,33 41,67 0,017 Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa sebanyak 16 orang memiliki pengetahuan baik dan sebanyak 13 orang . ,17%) berperilaku baik sedangkan 3 orang . ,5%) berperilaku kurang baik dalam menjaga kesehatan reproduksi. Remaja yang memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 8 orang dengan 7 orang . ,17%) diantaranya berperilaku kurang baik dan 1 orang . ,17%) berperilaku baik. Pada menggunakan uji chi-square terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan remaja dengan perilaku reproduksi sehat dengan nilai p sebesar 0,001 yang berarti p < 0,05. Pada variabel sikap diperoleh sebanyak 14 orang memiliki sikap baik dan sebanyak 11 orang . ,83%) berperilaku baik sedangkan 3 orang . ,5%) berperilaku kurang baik dalam menjaga kesehatan reproduksi. Remaja yang memiliki sikap kurang baik sebanyak 10 orang dengan 7 orang . ,17%) diantaranya berperilaku kurang baik dan 3 orang . ,5%) berperilaku baik. Pada hasil uji bivariat dengan menggunakan uji chisquare terdapat hubungan yang signifikan antara sikap remaja dengan perilaku reproduksi sehat dengan nilai p sebesar 0,017 yang berarti p < 0,05. PEMBAHASAN Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja dengan Perilaku Reproduksi Sehat Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku reproduksi sehat pada remaja dengan nilai p 0,001 < 0,05. Semakin baik tingkat pengetahuan remaja, maka akan semakin baik pula perilaku reproduksi sehat mereka. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Meliyanti et al . bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku tiga ancaman dasar kesehatan reproduksi remaja . riad KRR). Triad KRR adalah tiga risiko yang dihadapi oleh remaja yaitu seksualitas. HIV/AIDS, dan NAPZA. Pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksi reproduksi, mencegah masalah seksual, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab tentang kelahiran. Perilaku promosi kesehatan mengacu pada perilaku yang meningkatkan kesehatan reproduksi, seks yang aman, tanggung jawab, deteksi dini penyakit reproduksi, dan pencegahan penyakit menular (Kang dan Park, 2. Demikian pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Redayanti et al . menyatakan bahwa pengetahuan dan kesehatan reproduksi pada remaja SMP di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Unggat Kota Tanjungpinang dengan nilai p 0,000 < 0,005. Kurangnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan seks pranikah akan mempengaruhi sikap dan perilaku remaja, sehingga mengabaikan aspek kesehatan mereka (Malau & Siagian. Usia pasangan muda, latar belakang pendidikan yang rendah, dan kurangnya pengetahuan yang mendalam merupakan faktor risiko dari kehamilan yang tidak Sebagian besar kehamilan yang tidak diinginkan akan diakhiri dengan tindakan aborsi. Pendidikan yang tepat sasaran perlu dilakukan bagi mereka yang berpendidikan rendah dan kaum muda. Selain itu, pendidikan seks dini di sekolah dan keluarga, pemerintah dan dinas kesehatan perlu ditekankan (Liu et al. Menurut Zakaria et al . perlu komprehensif tentang kesehatan reproduksi yang terintegrasi dengan kurikulum, pemanfaatan media massa yang efektif, dan penyediaan materi komunikasi perubahan Hubungan Sikap Remaja dengan Perilaku Reproduksi Sehat Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap remaja dengan perilaku reproduksi sehat dengan nilai p 0,017 < 0,05. Semakin baik sikap menjaga perilaku reproduksi sehat mereka. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Malau & Siagian . bahwa sikap tentang kesehatan reproduksi berhubungan dengan perilaku seks pranikah pada remaja SMA. Semakin tinggi kesadaran individu terhadap kesehatan reproduksi, maka remaja semakin membatasi perilaku negatif Meskipun sebagian besar remaja memiliki kesadaran tentang perilaku berisiko seksual, namun sebagian besar mereka telah mempraktikkan perilaku seksual berisiko yang dapat membuat mereka rentan mengalami masalah kesehatan seksual dan reproduksi. Faktor utama yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seksual pertama meraka adalah tekanan teman sebaya. Teman sebaya sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja. Sehingga sekolah perlu menekankan pentingnya peran pendidik sebaya dan diskusi antar teman untuk melindungi remaja dari perilaku seksual berisiko (Keto, 2. Dalam penelitian Ene et al . bahwa sikap positif remaja perempuan terhadap manajemen higiene menstruasi yang baik dipengaruhi oleh kelas atau jenjang pendidikan, agama, dan kualifikasi pendidikan orang tua. Remaja putri yang berada di kelas 3 SMP, responden yang beragana islam dan mereka yang memiliki orang tua berpendidikan tinggi cenderung memiliki sikap yang positif terhadap manajemen kebersihan ketika menstruasi. Kebersihan menstruasi yang baik sangat penting untuk kesejahteraan semua wanita. Remaja merupakan populasi yang rentan karena perubahan psikolsosial dan biologis, dan tantangan yang terkait dengan titik perubahan ini. Remaja pada umumnya akan mengeksplorasi identitas dan perasaan seksual mereka. Mengabaikan kesehatan seksual dan reproduksi remaja dapat perkembangan mereka, seperti kesehatan fisik dan mental, pekerjaan masa depan, kesejahteraan ekonomi, dan kemampuan Penyediaan informasi melalui ponsel dapat berdampak positif terhadap luaran kesehatan seksual dan reproduksi, pengetahuan, mengurangi perilaku berisiko seksual, dan meningkatkan penggunaan layanan kesehatan (Benoit et al, 2. Upaya preventif kesehatan sistem reproduksi usia sekolah remaja dapat diantaranya dengan pemantauan sikap dan perilaku remaja yang terkait dengan kesehatan reproduksi, mencakup interaksi antara laki-laki dan permepuan atau sesama jenis, serta keselarasan dengan nilai dan norma yang berlaku. Bila ditemukan sikap dan perilaku yang tidak selaras maka perlu tindak lanjut dengan pendekatan persuasif (Permenkes RI, 2. KESIMPULAN Perilaku reproduksi sehat pada remaja berhubungan dengan tingkat pengetahuan dan sikap remaja. Pada penelitian ini tingkat pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku reproduksi sehat dengan nilai p = 0,001. Demikian pula sikap remaja juga memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku reproduksi sehat dengan nilai p = 0,017. Remaja yang memahami dengan baik tentang kesehatan reproduksi akan membentuk sikap yang positif, sehingga dapat menjaga dan berperilaku yang baik terkait kesehatan DAFTAR PUSTAKA