Journal for Science and Religious Studies Vol. 2 No. DOI: 10. A Study on The Perception of Community on The Role of Religion In Character Education For The Young Generation Studi Tentang Persepsi Masyarakat Terhadap Peran Agama Dalam Pendidikan Karakter Generasi Muda Nita Setianingsih1. Aris Priyanto2 Affiliasi: UIN K. Abdurrahman Wahid Pekalongan Email Corresponding: nitastianingsih9@gmail. Abstract Background Study: This study is grounded in the increasing moral challenges faced by young people in the era of Artificial Intelligence (AI), where technological advancement and rapid information flow significantly influence behaviors, mindset, and character development. Religious education is considered a fundamental pillar for shaping morality, strengthening ethical awareness, and embedding spiritual values essential for navigating social change. However, its effectiveness in character formation depends greatly on community perceptions and support. This research aims to analyze the role of religious education in the character development of young people amid AI-driven societal transformation, using a field-based study in Randugunting. Bantarbolang Village. Methods: A qualitative method was employed through in-depth interviews, participatory observation, and documentation, with data analyzed using the Miles & Huberman modelAidata reduction, display, and conclusion drawing. Key Findings: The community generally holds a positive perception of religious education as a source of moral guidance for adolescents, although challenges remain, including economic limitations and low parental educational background. Contributes: empirically to the discourse on religious education in the digital era and offers strategic recommendations for strengthening character education rooted in religious values. Conclusion: affirms that religious education remains relevant and impactful in shaping youth character when supported collaboratively by families, communities, and educational institutions. Keywords: The Role Of Religion. Shaping The Character. Young Generation. People's Views. Religious Education Abstrak Latar Belakang: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya persoalan moral generasi muda pada era Artifisial Intelegensi (AI), ketika paparan teknologi dan arus informasi yang semakin kompleks turut memengaruhi perilaku, pola pikir, serta perkembangan karakter Pendidikan agama dipandang sebagai pilar penting dalam memberikan arah moral, membentuk akhlak, serta menanamkan nilai etika dan spiritualitas yang dibutuhkan untuk A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies menghadapi perubahan sosial. Namun demikian, keberhasilan pendidikan agama dalam membangun karakter sangat dipengaruhi oleh persepsi dan dukungan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter remaja di tengah tantangan era AI melalui kajian lapangan pada masyarakat Dusun Randugunting. Desa Bantarbolang. Metode: Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan model Miles & Huberman melalui reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan Utama: masyarakat memiliki persepsi positif terhadap pendidikan agama sebagai penuntun moral remaja, meskipun terdapat hambatan berupa kondisi ekonomi keluarga dan rendahnya pendidikan sebagian orang tua. Kontribusi: Studi ini berkontribusi dalam memperkuat basis empiris mengenai peran pendidikan agama di era digital serta menawarkan rekomendasi strategis pengembangan pendidikan karakter berbasis nilai agama. Kesimpulan: penelitian menegaskan bahwa pendidikan agama tetap relevan dan efektif dalam membentuk karakter remaja bila didukung keluarga, komunitas, dan institusi pendidikan secara sinergis. Kata kunci: Peran Agama. Pembentukan Karakter. Generasi Muda. Pandangan Masyarakat. Pendidikan Agama PENDAHULUAN Peran agama dalam membentuk karakter remaja merupakan fakta sosial yang terus tampak dalam dinamika masyarakat modern. Dalam era Artifisial Intelegensi (AI) yang sarat teknologi dan peningkatan arus informasi, remaja menghadapi tantangan moral seperti kenakalan, kekerasan, hingga penyalahgunaan narkoba, sehingga agama dipandang sebagai penuntun nilai yang diperlukan (Andrian 2024. Aulia Herawati dkk. Masyarakat memandang pendidikan agama sebagai bagian dari sistem sosial yang berfungsi menjaga akhlak generasi muda agar tidak larut dalam degradasi moral . Sejarah pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa pendidikan sejak awal tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang baik. Selain itu, persepsi masyarakat terhadap pendidikan agama beragam. sebagian menganggapnya penting, sebagian lainnya skeptis akibat pengalaman dan pemahaman yang berbeda. Karena itu, agama tetap memiliki posisi sosial strategis dalam memandu remaja menghadapi perubahan zaman dan menjaga moralitas dalam kehidupan bermasyarakat (Muhammad Fadilah Peran agama pada pendidikan karakter tampak melalui penelitian yang menyoroti persepsi masyarakat terhadap pendidikan agama Islam bagi generasi muda. Keragaman pandangan menjadi fokus penting karena penerimaan masyarakat akan memengaruhi efektivitas pendidikan karakter yang berbasis nilai religius. Tanpa A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies pemahaman yang tepat, pendidikan agama sulit berfungsi maksimal sebagai pembangun moral. Berdasarkan kajian Sofwan Jamil . dan Aulia Herawati, dkk . bahwa pendidikan agama memiliki peranan signifikan dalam membentuk, memperkuat serta mengembangkan karakter generasi muda seperti kejujuran, tanggung jawab dan sebagainya. Sedangkan menurut hasil kajian Arianto, dkk . bahwa 85% responden menekankan bahwa lebih memahami nilai-nilai moralitas kehidupan dari pendidikan agama dan 78% membentuknya menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Secara keseluruhan, pendidikan agama terbukti memiliki peran penting dan signifikan dalam membentuk akhlak dan karakter generasi muda melalui internalisasi nilai moral, penguatan sikap religius, serta peningkatan tanggung jawab sosial yang didukung oleh temuan empiris dari berbagai kajian. Artikel ini bertujuan untuk memahami peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter generasi muda pada era Artifisial Intelegensi (AI) yang sudah mulai berkembang pesat. Peran pendidikan agama pada era Artifisial Intelegensi (AI) masih bersifat absurd, apakah bisa tetap eksis sebagaimana peran pendidikan agama pada era-era sebelumnya. Kajian Edison dan Tafanao . hanya fokus pada peran pendidikan agama pada era 4. Kajian Siskawaty Sakoan . lebih khusus kepada Gen Alpha, namun tidak spesifik kepada era Artifisial Intelegensi (AI). Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman masyarakat terhadap pendidikan agama memiliki dampak langsung pada keberhasilan pembangunan karakter remaja dan perlu terus dikaji secara komprehensif. Hasil yang diharapkan ialah tersusunnya strategi pendidikan karakter yang lebih efektif serta masukan bagi lembaga pendidikan dalam menghadapi persoalan moral Gen Z pada era Artifisial Intelegensi (AI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif lapangan . ield researc. dengan fokus pada pemahaman mendalam mengenai peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter remaja pada era Artifisial Intelegensi (AI). Lokasi kajian ditetapkan di Dusun Randugunting. Desa Bantarbolang, karena kawasan ini merepresentasikan lingkungan sosial keagamaan yang masih berjalan dalam sistem pendidikan tradisional namun tidak terlepas dari arus teknologi dan budaya digital. Subjek penelitian meliputi remaja, tokoh agama, orang tua, pendidik/ustadz, serta perangkat desa yang terlibat dalam pembinaan moral remaja. Pemilihan metode lapangan dilakukan untuk memperoleh data empiris yang tidak hanya bersumber dari A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies literatur, tetapi juga berasal dari pengalaman sosial langsung masyarakat Randugunting. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap fenomena secara alamiah, melihat bagaimana pendidikan agama dipraktikkan, diterima ataupun dipersepsikan sebagai pembentukan karakter generasi muda. Dengan teknik triangulasi data, peneliti dapat memvalidasi temuan melalui perbandingan antara wawancara, observasi, dan dokumentasi sehingga hasil penelitian lebih terbukti secara faktual dan dapat Pembacaan lapangan juga memberi ruang analisis untuk merumuskan faktor pendukung, penghambat, dan relevansi pendidikan agama terhadap tantangan moral era AI di tingkat lokal. Langkah kerja metodologis penelitian lapangan ini dimulai dengan tahap pralapangan, yaitu merumuskan fokus kajian, menentukan variabel dan informan kunci, serta melakukan koordinasi perizinan dengan pihak desa dan tokoh masyarakat Dusun Randugunting. Pada tahap ini peneliti juga menyusun instrumen penelitian berupa pedoman wawancara, lembar observasi, serta daftar dokumentasi yang diperlukan. Setelah persiapan selesai, penelitian dilanjutkan dengan proses pengumpulan data melalui observasi partisipatif untuk melihat langsung pola pembinaan keagamaan, aktivitas sosial remaja, serta interaksi nilai moral di lingkungan masyarakat. Bersamaan dengan itu, dilakukan wawancara mendalam dengan tokoh agama, ustadz, remaja, orang tua, dan perangkat desa guna menggali persepsi serta pengalaman mereka terkait Pengumpulan data diperkuat dengan dokumentasi berupa catatan kegiatan, foto aktivitas belajar agama, maupun arsip desa yang relevan. Seluruh temuan lapangan kemudian dianalisis menggunakan model Miles & Huberman, sebagaimana yang dikutip oleh Hani Maghfiroh, dkk . Safitri dan Darsinah . dan Zarkasyi . , yaitu melalui proses reduksi data, penyajian data secara terstruktur, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi hingga membentuk temuan yang utuh. Keabsahan data dijaga dengan triangulasi sumber, metode, dan waktu, sehingga simpulan penelitian akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Tahap terakhir ialah penyusunan hasil penelitian berupa deskripsi peran pendidikan agama, analisis faktor pendukung dan penghambat, serta perumusan rekomendasi strategis bagi pembinaan moral remaja di Dusun Randugunting pada era Artifisial Intelegensi. A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies PEMBAHASAN Persepsi Masyarakat Terhadap Peran Agama Dalam Pendidikan Karakter Agama memegang peranan penting dalam proses pembentukan karakter generasi Dengan pendidikan agama, generasi muda dapat menanamkan nilai-nilai moral yang teguh, etika yang luhur, serta memperdalam spiritualitas mereka. Pendidikan karakter merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam dunia Meskipun bukan merupakan isu baru, pendidikan karakter sejatinya telah ada sejak pendidikan pertama kali muncul. Berdasarkan studi sejarah dari berbagai negara di dunia, secara umum pendidikan memiliki dua tujuan utama, yakni membentuk individu yang cerdas dan berakhlak mulia. Pendidikan ini menjadi pondasi kuat bagi para remaja untuk menghadapi berbagai tantangan dan efek buruk yang muncul di lingkungan masyarakat sekarang. Selain itu, peran agama juga mendukung generasi muda untuk lebih memahami ajaran agama, etika, serta normanorma yang berlaku di tengah masyarakat. Dengan pemahaman keagamaan yang tepat, generasi muda mampu melindungi diri dari berbagai godaan dan pengaruh negatif yang berpotensi merusak karakter mereka. Tidak hanya itu, pendidikan Islam pun berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran sosial dan rasa empati terhadap sesama. Generasi muda yang memperoleh pendidikan agama secara baik umumnya lebih menyadari pentingnya sikap saling membantu, empati, dan keadilan dalam interaksi sehari-hari. Dengan demikian, mereka pun tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, peduli terhadap orang lain, serta aktif berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang lebih baik (Rika Widianita 2. Berdasarkan Dusun Randugunting. Desa Bantarbolang, dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Desa tersebut sangat menyadari pentingnya peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter generasi muda. Selain memberikan pendidikan agama di rumah, orang tua juga aktif mendorong anaknya untuk mengikuti pengajian dan kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar. Hal ini dilakukan agar nilai-nilai keagamaan dapat tertanam kuat dan membimbing perilaku para remaja dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai pandangan masyarakat terhadap pentingnya pendidikan agama, terdapat beragam Sebagian warga berpendapat bahwa pendidikan agama sangat penting untuk membentuk karakter anak, terutama generasi muda agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman. Ada A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies pula yang memandang bahwa pendidikan agama yang baik akan membantu para remaja menjadi lebih disiplin, memahami norma sosial, serta mampu menjaga diri dari pengaruh negatif. Dengan demikian, masyarakat Dusun Randugunting meyakini bahwa pendidikan agama berperan besar dalam membentuk generasi muda yang berkarakter dan berakhlak mulia. Sebagian warga menyampaikan bahwa masyarakat sebenarnya cukup menyadari pentingnya peran pendidikan agama dalam membentuk karakter generasi muda. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa pemahaman tentang urgensi pendidikan agama secara mendalam belum sepenuhnya positif, karena mereka beranggapan bahwa pendidikan agama yang lebih tinggi belum tentu menjamin kesuksesan atau kesejahteraan hidup anak-anak mereka. Menanggapi hal tersebut, pemahaman masyarakat Dusun Randugunting terhadap pentingnya pendidikan agama dalam membangun karakter remaja memang cukup baik, namun tidak sedikit persepsi ini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan orang tua yang terbatas. Akibatnya, sebagian orang tua lebih memilih agar anak-anaknya mengutamakan bekerja untuk membantu keluarga, sehingga pendidikan agama yang lebih tinggi kadang diabaikan demi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Jadi, persepsi masyarakat Dusun Randugunting terhadap pentingnya peran pendidikan agama dalam membentuk karakter generasi muda sangatlah positif. Mereka beranggapan bahwa pendidikan agama sangat berharga sebagai bekal bagi anak-anak mereka di masa depan, terutama untuk memperkuat karakter dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, meskipun pandangan mereka terhadap pendidikan agama sangat baik, tidak semua warga desa secara konsisten mendorong anak-anaknya untuk memperdalam pendidikan agama secara formal. Sebagian di antaranya lebih memprioritaskan anak untuk membantu perekonomian keluarga, sehingga peran agama dalam pendidikan karakter kadang tidak mendapatkan dukungan penuh dari seluruh anggota masyarakat. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat Persepsi adalah proses di mana individu menerima rangsangan melalui alat indera, yang dikenal juga sebagai proses sensoris. Tanggapan terhadap persepsi ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, tergantung pada individu yang mengalaminya. Stimulus Oleh karena itu, karena setiap individu memiliki perasaan, kemampuan A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies berpikir, dan pengalaman yang berbeda-beda, maka persepsi terhadap stimulus yang sama bisa menghasilkan pemahaman yang berbeda antara satu orang dengan orang Presepsi masyarakat bisa sangat beragam, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat pengetahuan, latar belakang pendidikan, pengalaman pribadi, kondisi institusi pendidikan, serta kebijakan yang diterapkan pemerintah. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mempelajari bagaimana masyarakat menilai dan menyikapi eksistensi lembaga pendidikan. Pemahaman ini akan membantu meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembinaan dan penguatan lembaga pendidikan, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih mampu membuat keputusan serta menentukan pilihan yang tepat terkait pendidikan. (Efendi. Haryanto, and Sidoarjo Munculnya persepsi positif dari masyarakat Muslim terhadap Pendidikan Agama disebabkan oleh meningkatnya minat untuk berlomba-lomba membentuk pribadi yang Pandangan yang baik ini mendorong keyakinan masyarakat untuk lebih mendalami ilmu agama. Selain itu, kepercayaan tersebut juga mempengaruhi keputusan orang tua dalam menyekolahkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan Islam. Pandangan positif ini menjadi dorongan kuat bagi masyarakat Muslim untuk turut aktif dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Qolbiyah. Ma, and Yusuf 2. Sebagian besar masyarakat juga menyampaikan bahwa pendidikan agama berperan besar dalam membentuk kepribadian mereka. Melalui pendidikan agama, mereka belajar mengelola emosi, menghargai keberagaman, serta memahami nilai keadilan. Hal ini menjadikan mereka pribadi yang lebih toleran, sabar, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat saat ini menunjukkan dinamika yang sangat cepat dan meluas ke berbagai aspek kehidupan. Salah satu faktor penting yang memengaruhi perubahan sosial tersebut adalah agama. Dalam konteks ini, agama tidak hanya dipandang sebagai sistem keyakinan spiritual, tetapi juga sebagai bagian dari kebudayaan dikenal dengan istilah agama bumi yang tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Agama memainkan peran sentral dalam mendorong serta mengarahkan perubahan sosial yang terjadi. Dengan kata lain, dinamika sosial yang berlangsung tidak bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan nilai-nilai dan ajaran agama (Ali. Zuhdi, and Mudzakir 2. A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Terkait dengan persepsi masyarakat terhadap peran pendidikan agama bagi generasi muda saat ini, ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Di antaranya, meningkatnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai moral dan etika di tengah krisis Kemudian perkembangan media dan informasi yang memungkinkan generasi muda terpapar berbagai pandangan, menjadikan agama sebagai landasan identitas dan arah moral semakin relevan. Selanjutnya, peran institusi pendidikan dan keluarga dalam mengajarkan nilai-nilai keagamaan turut memperkuat persepsi bahwa agama mampu menjadi penopang karakter dan perilaku generasi muda. Oleh karena itu, persepsi masyarakat terhadap agama sebagai fondasi pembentukan karakter anak muda menjadi semakin positif dan kuat di tengah perubahan sosial yang cepat. Tujuan Pendidikan Karakter Berbasis Agama Karakter sering dikaitkan dengan akhlak, budi pekerti, atau watak seseorang, yang menjadi identitas maupun ciri khas kepribadian yang membedakannya dari individu lain. Dengan demikian, karakter dapat dipahami sebagai perilaku positif yang tampak pada identitas seseorang. Pendidikan agama memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan akhlak yang luhur serta menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda. Dalam upaya pembentukan karakter. Pendidikan agama tidak sekadar memberikan pemahaman tentang agama, melainkan juga menanamkan nilai-nilai moral yang berperan penting dalam membentuk kepribadian Pendidikan karakter ditanamkan dalam pendidikan agama bertujuan agar tercipta generasi yang memiliki akhlakul karimah. Proses penanaman nilai-nilai karakter pada anak sangat penting dilakukan sejak usia dini agar mereka mampu nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Penguatan pendidikan karakter diwujudkan melalui berbagai macam kegiatan (Setyaningsih and Sabiq 2. Menurut William Kilpatrick, terdapat tiga unsur utama dalam pendidikan karakter yang perlu dikembangkan dan menjadi ciri khas dari pendekatan ini. Pertama, moral knowing atau pengetahuan moral, yang mencakup kesadaran akan moralitas . esadaran mora. , pemahaman terhadap nilai-nilai moral, kemampuan melihat dari berbagai sudut pandang, penalaran moral, keberanian dalam mengambil keputusan, serta pengenalan terhadap diri sendiri. Komponen ini berfokus pada ranah kognitif para remaja. Kedua, moral feeling atau perasaan moral, yang menekankan pada A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies penguatan aspek emosional para remaja agar tumbuh menjadi pribadi berkarakter. Hal ini mencakup kesadaran diri, rasa percaya diri, empati terhadap orang lain, cinta pada kebaikan, kemampuan mengendalikan diri, dan sikap rendah hati. Ketiga adalah moral action atau tindakan moral, yakni perilaku nyata yang merupakan hasil dari penggabungan antara pengetahuan dan perasaan moral. Untuk memahami dorongan seseorang dalam bertindak secara etis, perlu ditinjau tiga aspek pendukung lainnya, yaitu kompetensi, kemauan, dan kebiasaan (Munjiat 2. Demikian. Pendidikan agama memiliki peran penting dalam membimbing generasi muda menghadapi berbagai persoalan sosial, seperti kenakalan remaja, tindak kekerasan, dan penyalahgunaan narkoba. Melalui pendidikan agama, anak muda diajarkan nilai-nilai seperti kesabaran, keteguhan dalam prinsip, serta ketaqwaan kepada Allah, yang dapat menjadi bekal untuk menghadapi tekanan sosial dan menjauhi perilaku menyimpang. Pada hakikatnya, pendidikan karakter bertujuan untuk memperkuat bangsa melalui terciptanya masyarakat yang memiliki budi pekerti luhur, moral yang baik, sikap toleransi, serta semangat gotong royong. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam diri generasi muda sebagai penerus bangsa perlu ditanamkan nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari Agama. Pancasila sebagai fondasi negara, serta budaya yang menjadi ciri khas Indonesia. Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya berupaya membentuk kepribadian peserta didik secara utuh melalui penanaman nilai moral, spiritual, dan sosial. Nilainilai tersebut mencakup penguatan rasa tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, serta bangsa dan negara sebagai landasan utama tindakan dan sikap individu. Selain itu, pendidikan karakter juga diarahkan untuk membangun kebiasaan berperilaku positif dan mulia pada anak, mengingat pada usia tersebut mereka lebih mudah dibina dan dibentuk. Melalui proses ini, peserta didik diharapkan memiliki rasa memiliki terhadap lingkungan sosial serta menghargai keberagaman budaya dan bangsa sebagai kekayaan yang patut dijaga. Pendidikan karakter juga mendorong pembiasaan sikap mandiri, kreatif, mampu bekerja sama, bertanggung jawab, serta memiliki keteguhan pendirian dalam mengambil keputusan dan bertindak. Tidak hanya itu, tujuan pendidikan karakter juga berorientasi pada terciptanya suasana kehidupan yang harmonis, di mana setiap individu terbiasa menjalankan nilai-nilai positif seperti disiplin, toleransi, saling menghormati, dan menjalin hubungan sosial yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies demikian, pendidikan karakter menjadi pondasi penting dalam membentuk generasi yang bermoral, berintegritas, serta memiliki kepribadian yang kuat. Contoh Praktik Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Tantangannya Integrasi pendidikan karakter dalam manajemen pendidikan agama memberikan dampak positif dalam mengatasi krisis moral yang tengah dihadapi oleh Gen Z. Pendidikan karakter yang dipadukan dengan nilai-nilai agama berperan dalam membantu peserta didik menghayati ajaran agama, yang pada akhirnya membentuk perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian oleh Purnamasari . mengungkapkan bahwa pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan mampu memperkuat moral individu serta membekali mereka untuk menghadapi berbagai tantangan moral di tengah masyarakat. Di samping itu, terdapat tantangan lain yang berkaitan dengan resistensi dari para remaja. Gen Z, yang tumbuh di era digital yang serba cepat dan kerap terpapar oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, kadang- kadang menunjukkan penolakan terhadap pendidikan karakter. Sebagian besar para remaja tampak kurang berminat dalam mengikuti kegiatan yang berfokus pada penguatan karakter, khususnya apabila mereka menganggap kegiatan tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan realitas kehidupan mereka seharihari. (Hasan 2. Model yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan karakter di lingkungan masyarakat, terutama pada lembaga pemerintahan, lembaga sosial, dan ruang-ruang publik, dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti proses pengajaran, pemberian teladan, pembentukan kebiasaan, pemberian motivasi, serta penegakan Praktik-praktik yang dapat dilakukan contohnya seperti. para siswa atau remaja diberikan kesempatan untuk menerapkan perilaku moral secara langsung melalui kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada pelayanan . ervice learnin. Pembelajaran sosial dan emosional juga perlu dikembangkan dengan cara yang seimbang dan seiring dengan pembelajaran di bidang akademik. Menanamkan nilainilai seperti keadilan, saling menghargai, dan kejujuran. Karena nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari proses pembelajaran sehari-hari, baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun masyarakat. (Sopian 2. Meskipun ada banyak metode yang efektif dalam pendidikan karakter, implementasinya sering kali menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan waktu dan sumber daya. Perbedaan latar belakang sosial- A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies ekonomi juga dapat mempengaruhi implementasi pendidikan karakter. Anak-anak dari latar belakang yang kurang beruntung sering kali memiliki akses yang lebih sedikit ke sumber daya pendidikan yang berkualitas, termasuk pendidikan karakter (Harmi 2. Hal ini dapat menghambat perkembangan karakter mereka dan Untuk tantangan-tantangan diperlukan kerja sama yang lebih erat antara institusi pendidikan, keluarga, dan Perubahan yang bermakna dalam pendidikan membutuhkan usaha bersama dari seluruh pihak terkait. Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi, perlu dicari solusi yang tepat dalam upaya pembentukan karakter generasi muda melalui pendidikan Islam. Misalnya dilingkungan sekolah dengan cara Pemanfaatan teknologi dalam pendidikan karakter Islam, karena hal tersebut memiliki peran yang signifikan. Sekolah dapat memanfaatkan platform digital, aplikasi, dan konten multimedia yang selaras dengan ajaran Islam untuk menyampaikan materi pembelajaran serta mendukung diskusi interaktif mengenai nilai-nilai keislaman (Astuti. Febriani, and Oktarina 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa agama memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda. Pendidikan agama, khususnya pendidikan Islam, tidak hanya mengajarkan aspek spiritual dan ritual, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan empati. Nilai-nilai ini menjadi pondasi utama dalam membentuk pribadi yang berakhlak mulia dan mampu berinteraksi secara positif dalam masyarakat. Persepsi positif masyarakat terhadap peran agama semakin menguat seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai-nilai spiritual dalam membangun peradaban yang lebih baik. Masyarakat, khususnya di lingkungan Dusun Randugunting, umumnya memiliki persepsi positif terhadap peran agama dalam pendidikan karakter. Mereka menyadari bahwa pendidikan agama mampu menjadi benteng moral bagi anak-anak mereka dalam menghadapi tantangan zaman, seperti pengaruh negatif media sosial, kenakalan remaja, hingga penyalahgunaan narkoba. Namun demikian, masih terdapat kendala berupa keterbatasan ekonomi, latar belakang pendidikan orang tua yang rendah, dan kurangnya dukungan terhadap pendidikan agama formal, yang dapat menghambat implementasi pendidikan karakter berbasis agama secara optimal. A Study on The Perception of Community . (Setianingsi. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Pendidikan karakter berbasis agama memiliki tujuan mulia untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Upaya ini dapat diwujudkan melalui pendekatan yang menyeluruh, seperti integrasi nilai agama dalam kurikulum, keteladanan, pembiasaan, pemberian motivasi, serta pemanfaatan teknologi yang relevan dan islami. Selain itu, peran aktif dari semua mulai dari keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, hingga pemerintah sangat dibutuhkan agar proses internalisasi nilai-nilai keagamaan dapat berjalan efektif dan Dengan demikian, agama tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, tetapi juga sebagai kekuatan transformatif dalam perubahan sosial. Pendidikan karakter yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan harus terus dikembangkan untuk menjawab tantangan zaman dan menciptakan generasi muda yang unggul, bermoral, dan mampu menjadi agen perubahan yang positif di tengah masyarakat. REFERENCES