E-ISSN 2747-1128. Volume 5 Nomor 1. Februari 2024. Halaman 94-107 JURNAL AKAL: ABDIMAS DAN KEARIFAN LOKAL https://w. e-journal. id/index. php/kearifan TINGKAT PENGETAHUAN TALASEMIA. PENYAKIT MENULAR SEKSUAL & KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA USIA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Knowledge about Thalassemia. Sexually Transmitted Diseases, & Reproductive Health among Junior High School Students Raditya Wratsangka1. Endrico Xavierees Tungka2. Aditya Krishna Murthi3*. Idman Gushaendri4. Faiza Shafia 4 1Departemen Obstetri dan Ginekologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Trisakti. Jakarta 2Departemen Biokimia. Fakultas Kedokteran. Universitas Trisakti. Jakarta 3Departemen Fisiologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Trisakti. Jakarta 4Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Universitas Trisakti. Jakarta *Penulis Korespondensi: krishna. 06@trisakti. Abstrak Sejarah Artikel A Diterima September 2023 A Revisi Oktober 2023 A Disetujui Desember 2023 A Terbit Online Februari 2024 Kata Kunci: A Remaja A Talasemia A Penyakit Menular Seksual A Kesehatan Reproduksi Kesehatan reproduksi remaja merupakan hal yang sangan penting karena berkaitan dengan Pembangunan SDM Indonesia di masa mendatang. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang talasemia, penyakit menular seksual, dan kesehatan reproduksi. Metode yang digunakan pada PKM ini adalah pemaparan/penyuluhan materi dan wawancara langsung menggunakan kuesioner yang tertaut pada aplikasi google form. Hasil kegiatan PKM ini didapatkan sebagai berikut. Sumber informasi yang berperan dominan dalam penyampaian infeksi menular seksual-HIV/AIDS adalah internet yakni sebanyak 57. 4%). Sebanyak 76. 4%) siswa tidak mengetahui tentang talasemia. Survei tentang penyakit menular seksual-HIV/AID menunjukkan rata-rata remaja SMP memiliki pengetahuan yang cukup yakni diatas 50%. Survei tentang pengetahuan kesehatan reproduksi, rata-rata remaja SMP memiliki pengetahuan yang baik tentang perubahanperubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas diantaranya. Pertambahan masa otot . %), . perubahan suara . 8%), . tumbuh rambut di area wajah dan kemaluan . %), . gairah seks meningkat . 6%). payudara membesar . 3%), . mulai haid . 9%). Survei terbatas pada responden perempuan menunjukkan tingkat pengetahuan tentang siklus reproduksi wanita terkait masa subur pada remaja SMP sekitar 24 . 3%) responden namun yang tidak mengetahui hal tersebut sebanyak 30 . %) responden. Pada tingkat pengetahuan tentang masa subur dan kemungkinan kehamilan yang terjadi pada periode waktu tersebut yakni: . respon tidak tahu sebanyak 26 . orang, . segera setelah haid berakhir sebanyak 14 . 3%), . di tengah antara dua haid sebanyak 14 . 3%). Dari hasil yang didapat dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan remaja SMP tentang talasemia masih sangat rendah sementara untuk infeksi menular seksual dan kesehatan reproduksi berada pada tingkat rata-rata. Diharapkan setelah mengikuti PKM ini remaja memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dari sebelumnya. Sitasi artikel ini: Wratsangka. , 2023. Tingkat Pengetahuan Talasemia. Penyakit Menular Seksual dan Kesehatan Reproduksi pada Remaja Usia Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Akal: Abdimas dan Kearifan Lokal. : 94-107. Doi: https://dx. org/10. 25105/akal. Abstracts Keywords: A Adolescent A Thalassemia A Sexually Transmitted Disease A Reproductive Health Adolescent reproductive health is critical since it affects Indonesia's human resource development in the This PKM Activity aims to determine the level of knowledge of adolescents about thalassemia, sexually transmitted diseases, and reproductive health. The method used in this PKM is material presentation/ counseling and direct interviews using a questionnaire linked to the Google Form application. The results of this PKM activity were obtained as follows. The source of information that plays a dominant role in conveying sexually transmitted infections-HIV/AIDs is the internet, namely 57. 4%). As many as 76. 4%) students did not know about thalassemia. Surveys on sexually transmitted diseases/AIDs show that the average junior high school teenager has sufficient knowledge, namely above 50%. Surveys on reproductive health knowledge show that the average junior high school teenager has good knowledge about the physical changes that occur during puberty, including. an Increase in muscle mass . %), . a change in voice . 8%), . hair growth on the face and pubic area . %), . increased sex drive . 6%). enlarged breasts . 3%), . menstruation started . 9%). A survey limited to female respondents showed that the level of knowledge about the female reproductive cycle related to the fertile period in junior high school teenagers was around 24 . 3%) respondents, but 30 . %) respondents did not know this. The level of knowledge about the fertile period and the possibility of pregnancy occurring in that period are: . the response of not knowing was 26 . 3%), people, . immediately after menstruation ended 14 . 3%), . in the middle between two menstruations as many as 14 . 3%). From the results obtained, it can be concluded that the level of knowledge of junior high school adolescents regarding thalassemia is still very poor, while for sexually transmitted infections and reproductive health, it is at an average level. It is hoped that after participating in PKM, teenagers will have a better level of knowledge than before. PENDAHULUAN Remaja menurut definisi WHO adalah kelompok usia antara 11 hingga 19 tahun (Dambal S & Panneerselvam S, 2018. Deshpande, dkk. , 2013. Kulkarni, dkk. , 2. Periode remaja merupakan fase yang sangat krusial karena merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa (Deshpande, dkk. , 2013. Panjaitan, 2. Indonesia merupakan salah satu negara di Asia dengan populasi remaja terbanyak. Berdasarkan survey demografi dan kesehatan pada 2017 populasi remaja berada pada kisaran 25-26% dari jumlah keseluruhan penduduk (BKKBN, 2. Kesehatan reproduksi remaja merupakan hal yang sangan penting karena berkaitan dengan Pembangunan SDM Indonesia di masa Generasi muda yang sehat secara fisik maupun mental merupakan generasi produktif dengan daya pikir cemerlang serta prestasi yang dapat berkontribusi pada pembanguan kesejahteraan nasional. Usia remaja baik laki-laki maupun perempuan mengalami berbagai perubahan yang signifikan dalam aspek tumbuh kembang. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan tulang yang cepat, pertambahan berat badan yang cepat dan ekspansi volume darah yang cepat terutama pada remaja perempuan yang memasuki siklus menstruasi (Dambal S & Panneerselvam S, 2. Selain dari segi fisik, perubahan juga terjadi pada tingkat mental- intelektual- psikologis dan pola perilaku. Segala perubahan yang terjadi pada usia remaja tersebut membutuhkan pemahaman diri remaja yang sangat baik sehingga remaja dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi permasalahan di kehidupannya. Keterbukaan arus informasi dan kemudahan akses teknologi informasi dewasa ini membawa dampak positif dan negative bagi remaja. Seringkali terdapat kekeliruan informasi terkait perubahan perilaku pada remaja dan terutama yang berkaitan dengan aspek psikoseksual. Hal tersebut dikarenakan pada masa remaja sedang mengalami proses pencarian identitas diri dan kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan Studi menunjukkan bahwa perubahan perilaku remaja sangat terkait dengan kemampuan remaja dalam menerima dan mengolah informasi di sekitarnya (Salam, dkk. , 2. Berdasarkan studi yang dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat pemahaman yang baik tentang perubahan fisik serta perilaku seksual pada remaja memberikan dampak positif dalam kemampuan remaja untuk mengambil sikap untuk menentukan masa depannya (De Castro, dkk. , 2. Studi lainnya menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan orang tua sangat berkaitan erta dengan tingkat pemahamam remaja terhadap perilaku seksual dan pentingnya kesehatan reproduksi (Esan & Bayajidda, 2. Kesehatan Seksual dan reproduksi dipengaruhi oleh beberapa hal salah satunya adalah infeksi menular seksual (IMS). Lebih dari 1 juta IMS didapat setiap hari di seluruh dunia, mayoritas tidak menunjukkan gejala. Menurut WHO 2020, kurang lebih terdapat 374 juta infeksi baru setiap tahunnya, dengan 1 dari 4 IMS yang dapat disembuhkan seperti klamidia, gonore, sifilis, dan trikomoniasis (WHO (World Health Organizatio. , 2. Kelompok yang berisiko menjadi pasien IMS pelanggan PSK, pekerja, laki-laki dan sudah menikah. Terdapat kurang lebih 20 juta kasus infeksi menular seksual di Amerika Serikat dan setengahnya terjadi di kalangan remaja usia 15-24 tahun (Kreisel, dkk. , 2. Sedangkan di Asia. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Indonesia menempati urutan kelima sebagai negara risiko tinggi IMS dengan angka mencapai 5608 kasus pada tahun 2014 (Passe, dkk. , 2. Rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi dapat mengarah ke kejadian seks pranikah dan merusak perilaku individu. Faktor yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada remaja yang mengakibatkan infeksi menular seksual, yaitu: umur, jenis kelamin, tempat tinggal, sikap, pendidikan, pengetahuan, peran media, gaya hidup, dan pengaruh teman sebaya (Helda & Muchlisa. Kondisi lain yang baiknya diketahui oleh remaja adalah talasemia, hasil penelitian menunjukan Diperkirakan 320. 000 bayi di seluruh dunia lahir dengan hemoglobinopati setiap tahun, dan 80% di antaranya terjadi di negara berpenghasilan rendah atau menengah (Weatherall, 2. Sekitar 5% dari populasi di Indonesia diperkirakan membawa gen thalassemia. Dengan tingkat kelahiran sekitar 20% per tahun, menurut studi, akan ada sekitar 2500 kasus baru thalassemia mayor per tahun, menjadikan Indonesia sebagai hot spot untuk talasemia (Wahidiya, dkk. , 2. Data terakhir tahun 2019 menunjukkan prevalensi penderita thalassemia di Indonesia berkisar 10. Jumlah ini bervariasi di seluruh provinsi dengan mayoritas terkonsentrasi di Jakarta dan Jawa Barat (Wahidiyat, dkk. , 2. Sehingga sangat penting untuk remaja untuk mengetahui lebih banyak mengenai talasemia mengingat mereka akan berkeluarga kelak pada saat sudah dewasa. Terdapat studi yang membuktikan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kualitas hidup anak thalassemia, hal ini berkaitan dengan skrining talasemia yang akan dilakukan pada anaknya (Mat, dkk. , 2020. Sriwijaya, dkk. , 2. Pengendalian prevalensi penyakit ini yang paling baik adalah dengan pencegahan yang mana itu dapat dicapai dengan program pendidikan kesehatan masyarakat yang efektif (Ebrahim, dkk. , 2. Atas pertimbangan berbagai aspek dan studi yang telah penulis lakukan, maka kegiatan PKM ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan para remaja usia sekolah menengah pertama tentang penyakit talasemia, infeksi menular seksual terutama yang terkait dengan HIV-AIDS serta pemahaman kesehatan reproduksi. Melalui kegiatan PKM ini juga upaya promotif-preventif dapat dilakukan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada para remaja terhadap permasalahan kesehatan yang akan timbul pada rentang usia mereka. METODE PELAKSANAAN Kegiatan PKM ini dilaksanakan pada Rabu 11 Mei 2022 secara online menggunakan aplikasi Zoom Meeting Video conferenceTM. Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini meliputi: . Perubahan Fisiologi terkait fisik dan psikologis pada remaja, . Gambaran kesehatan reproduksi pada remaja- penyakit menular seksual yang sering ditemuai pada remaja, dan . Pengenalan tentang Talasemia dan cara Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 108 siswa-siswi SMP Katolik Sang Timur Jakarta Barat beserta 8 orang guru pembina kegiatan siswa. Kegiatan PKM ini dikombinasikan dengan pengambilan data berupa kuesioner berisi pertanyaan seputar topik yang akan disampaikan. Kuesioner DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. didistribusikan kepada para siswa secara sukarela dan dilakukan secara digital dengan memanfaatkan aplikasi Google formsTM. Alur pelaksanan kegiatan PKM ini terangkum dalam bentuk diagram alir sebagai berikut (Gambar . Gambar 1. Alur pelaksanan kegiatan PKM Responden diberikan waktu kurang lebih 15-30 menit untuk menjawab kuesioner yang telah disediakan kemudian dilanjutkan dengan presentasi materi penyuluhan. Jawaban yang didapat dari kuesioner kemudian dilakukan rekapitulasi data. Data responden tersebut kemudian diolah menggunakan aplikasi olah data statistik SPSS statistic for Windows version 26TM yang terlisensi untuk Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Data kemudian disajikan dalam bentuk statistika deskriptif. HASIL dan PEMBAHASAN Karakteristik Responden Respon jawaban kuesioner responden disajikan dalam bentuk Tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Karakteristik responden. Jenis Kelamin n (%) Laki-laki 49 . Golongan darah n(%) n(%) 13 . Perempuan 59 . n(%) 10 . n(%) 21 . Tidak tahu n(%) 2 . Berdasarkan tabel tersebut didapatkan jumlah responden laki-laki sebanyak 49 . 4%) siswa, jumlah responden perempuan sebanyak 59 . 6%). Siswa laki-laki yang memiliki golongan darah O sebanyak 21. 9%) orang, golongan darah A sebanyak 13 . 5%) orang, golongan darah B sebanyak DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. 4%), golongan darah AB sebanyak 3 . 1%), dan yang tidak mengetahui golongan darahnya sebanyak 2 . 1%) orang. Pada siswa perempuan, yang memiliki golongan darah O sebanyak 30 . 8%), golongan darah A sebanyak 16 . 61%), golongan darah B sebanyak 10 . 9%), golongan darah AB sebanyak 2 . 4%) orang, dan yang tidak mengetahui golongan darahnya sebanyak 1. 7%) orang. Pengetahuan Talasemia Data tingkat pengetahuan tentang talasemia tersaji dalam bentuk Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Talasemia Pertanyaan Apakah pernah Respons n(%) 106 . Apakah 32 . Apakah dikeluarga ada yang rutin mendapatkan transfusi darah setiap bulan? 2 . Apakah saudara/i seorang pembawa sifat 1 . Tidak n(%) 2 . Tidak Tahu n(%) Berdasarkan table tersebut didapatkan responden yang mengetahui anemia sebesar 106 . orang sedangkan yang tidak mengetahui anemia sebanyak 2 . 9%) orang. Responden yang mengetahui penyakit talasemia sebesar 32 . 6%) orang sedangkan yang tidak mengetahui penyakit talasemia sebanyak 76 . 4%) orang. Responden dengan riwayat anggota keluarga dengan transfusi darah rutin sebanyak 2 . 9%) orang sementara yang tidak mendapat transfusi darah rutin sebanyak 89 . orang dan responden yang tidak mengetahuinya sebanyak 17 . 7%) orang. Responden yang memiliki kondisi pembawa sifat/carrier talasemia sebanyak 1 . 9%) orang sementara yang tidak memiliki kondisi pembawa sifat sebanyak 57 . 8%) orang dan responden yang tidak mengetahui kondisi pembawa sifat talasemia 50 . 3%) orang. Tabel 3. Data tingkat pengetahuan tentang penyakit menular seksual Pertanyaan Apakah anda tentang infeksi Apakah anda Respons n(%) 76 . %) . Tidak n(%) 32 . %) 2 . DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. mendengar HIV/AIDS ? Darimanakah seksual serta HIV/AIDS? Sekolah n(%) Radio/TV n(%) Internet n(%) Teman n(%) Media n(%) Tenaga n(%) Orang n(%) Tidak n(%) 25. Berdasarkan Tabel 3 didapatkan responden yang mengetahui penyakit infeksi menular seksual sebanyak 76 . %) orang dan responden yang tidak mengetahui penyakit infeksi menular seksual sebanyak 32 . %) orang. Responden yang mengetahui HIV/AIDS sebanyak 106 . 1%) dan responden yang tidak mengetahui HIV/AIDS sebanyak 2. 9%) orang. Berdasarkan tabel tersebut didapatkan juga sumber informasi yang diperoleh responden perihal infeksi menular seksual serta HIV/AIDS yakni: sekolah sebanyak 25 . 2%) orang. Radio/TV sebanyak 15 . 2%) orang, internet sebanyak 57 . 4%), teman sebanyak 5. 8%) orang, media cetak sebanyak 2 . 9%) orang, tenaga medis sebanyak 2 . 9%) orang, orang tua sebanyak 1 . 9%) orang dan yang tidak tahu tentang IMS-HIV AIDS sebanyak 1 . 9%) orang. Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Data tingkat pengetahun tentang kesehatan reproduksi tersaji dalam beberapa bentuk diagram sebagai Responden diberikan pertanyaan tentang bagaimana perubahan fisik pada laki-laki yang mengalami pubertas (Gambar . DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Gambar 2. Diagram pengetahuan perubahan kondisi fisik pada laki-laki saat masa pubertas. Responden diberikan pertanyaan tentang bagaimana perubahan fisik pada perempuan yang mengalami pubertas (Gambar . Gambar 3. Diagram pengetahuan perubahan kondisi fisik pada perempuan saat masa pubertas. Responden diberikan pertanyaan tentang sumber informasi terkait perubahan fisik saat mengalami pubertas (Gambar . DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Gambar 4. Diagram sumber informasi tentang perubahan fisik saat pubertas. Responden . husus siswa perempua. diberikan pertanyaan tentang sejauh mana pengetahuan siklus reproduksi Wanita (Gambar 5 sd Gambar . Gambar 5. Diagram pengetahuan tentang masa subur pada perempuan DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Gambar 6. Diagram pengetahuan hari masa subur dan menstruasi. Gambar 7. Diagran pengetahuan tentang kemungkinan hamil pasca melahirkan. Pembahasan Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan bersamaan dengan kegiatan penyuluhan pada siswa-siswi SMPK Sang Timur didapatkan bahwa profil responden lebih dominan berjenis kelamin perempuan yakni 59 . 6%) orang dan bergolongan darah O yakni 30 . 8%) orang. Hasil survei tentang pengetahuan talasemia menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang tidak mengetahui talasemia yakni 76 . Studi yang dilakukan di beberapa negara Asia menunjukkan umumnya remaja usia sekolah belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang talasemia (Hossain, dkk. , 2020. Noeriman, dkk. , 2020. Wahidiyat, dkk. , 2. Sedangkan penelitian di Pontianak. Indonesia menyatakan bahwa pelajar SMA DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. masih memiliki tingkat pengetahuan yang buruk terhadap talasemia . %) dimana siswi memiliki pengetahuan lebih baik . ,1%) daripada siswa . %) (Noeriman, dkk. , 2. Hasil survei tentang pembawa sifat/carrier talasemia menunjukkan juga banyak remaja yang belum mengetahui kondisi tersebut yakni 57 . 8%) orang mengaku tidak memiliki pembawa sifat talasemia dan 50 . 3%) orang mengaku tidak tau tentang carrier talasemia. Hal ini dikarenakan selain tingkat pengetahuan tentang talasemia di kalangan remaja yang masih terbilang rendah dan juga memang tampilan klinis pembawa sifat talasemia seringkali normal/tidak bergejala. Pembawa sifat talasemia umumnya tidak memiliki gejala klinis yang khas seperti pada talasemia mayor berupa anemia berat dan gangguan tumbuh kembang(Galanello & Origa, 2010. Nabavizadeh, dkk. , 2. Kondisi ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi para tenaga kesehatan untuk dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang apa itu talasemia serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan remaja. Berdasarkan hasil survei tentang penyakit menular seksual-HIV/AIDS, rata-rata remaja SMP memiliki pengetahuan yang cukup yakni diatas 50%. Dari hasi survei didapatkan bahwa sumber informasi yang berperan dominan dalam penyampaian infeksi menular seksual-HIV/AIDS adalah internet yakni sebanyak 57 . 4%). Sekolah dan televisi menempati peringkat kedua dan ketiga yakni 25 . 2%) dan 15 . 2%). Realita ini terjadi dikarenakan keterbukaan arus informasi yang sedemikian derasnya di masa modern saat Hal yang perlu diperhatikan bahwa peran orang tua dan tenaga kesehatan yang masih sangat kecil dalam penyampaian informasi seputar kesehatan remaja yakni hanya sebesar 2 . 9%) dan 1 . 9%). Tentu saja kondisi ini bila tidak disikapi dengan serius dan langkah konkrit akan berpotensi menimbulkan misinformasi di kalangan remaja. Misinformasi di kalangan remaja dapat menyebabkan remaja tidak dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi permasalahan seputar penyakit menular seksual yang dialaminya. Berdasarkan hasil survei tentang pengetahuan kesehatan reproduksi, rata-rata remaja SMP memiliki pengetahuan yang baik tentang perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas . Pertambahan masa otot . %), . perubahan suara . 8%), . tumbuh rambut di area wajah dan kemaluan . %), . gairah seks meningkat . 6%). payudara membesar . 3%), . mulai haid . 9%). Realita ini merupakan hal yang positif karena remaja usia SMP mulai sadar akan perubahan yang terjadi pada dirinya. Hasil survei sumber informasi perihal perubahan fisik pada masa pubertas menunjukkan bahwa umumnya remaja mendapatkan informasi tersebut dari: . guru sekolah . 6%), . petugas kesehatan . %), . orang tua . 3% & 24. 5%), . Internet . 8%), . Televisi . 4%), . Majalah/Surat kabar . 5%). Kondisi ini menunjukkan bahwa peranan guru sekolah sangat besar dalam menyampaikan pengetahuan tentang perubahan fisik pada masa pubertas bagi remaja. Hasil survei terbatas pada responden perempuan menunjukkan tingkat pengetahuan tentang siklus reproduksi wanita terkait masa subur pada remaja SMP sekitar 24 . 3%) responden namun yang tidak DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. mengetahui hal tersebut sebanyak 30 . %) responden. Pada tingkat pengetahuan tentang masa subur dan kemungkinan kehamilan yang terjadi pada periode waktu tersebut yakni: . respon tidak tahu sebanyak 26 . 3%) orang, . segera setelah haid berakhir sebanyak 14 . 3%), . di tengah antara dua haid sebanyak 14 . 3%). Pada tingkat pengetahuan tentang kemungkinan kehamilan setelah melahirkan menunjukkan sekitar 33 . 7%) responden tidak mengetahui kemungkinan tersebut, sedangkan yang mengetahuinya sekitar 18 . 7%) responden. Kondisi ini menggambarkan tingkat pengetahuan dan pemahaman remaja SMP perempuan masih sangat kurang. Hal ini juga memerlukan langkah konkrit untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi pada remaja. Pemahaman kesehatan reproduksi pada remaja harus bersifat komprehensif agar remaja dapat mengambil sikap untuk menghadapi permasalahan kesehatan reproduksi di masa mendatang. KESIMPULAN Tingkat pengetahuan dan pemahaman remaja usia SMP tentang penyakit talasemia, infeksi menular seksual- HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi perlu untuk terus ditingkatkan. Keterbukaan arus informasi dapat merupakan suatu kenuntungan namun juga dapat memberikan dampak negative bila tidak disertai dengan kemampuan telaah informasi yang baik pada remaja. Upaya promotif-preventif terkait berbagai permasalahan kesehatan yang dihadapi oleh remaja merupakan tantangan yang berlangsung terusmenerus bagi para tenaga kesehetan lini pertama. Guru dan orang tua merupakan faktor yang tidak dapat diabaikan begitu saja sebagai primary support group remaja. Langkah proaktif dengan kolaborasi bersama antara tenaga kesehatan-guru-orang tua mutlak diperlukan untuk mewujudkan generasi remaja yang sehat fisik maupun mental. Kegiatan edukasi dengan konsep kolaboratif ini perlu dilanjutkan kepada para remaja usia sekolah menengah pertama di provinsi DKI Jakarta dan daerah sekitarnya. UCAPAN TERIMAKASIH Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dekan FK USAKTI. Kepala Sekolah SMPK Sang Timur. Guru-guru Pembina kegiatan SMPK Sang Timur. Laboratorium Klinik PRODIA, seluruh responden yang telah bersedia berpartisipasi dalam kegiatan PKM ini serta semua pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA