Hymnos Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen Volume 1 No. : 76-87 e-ISSN 3109-2586 A Silva Ba Si. Aris D. Ramber. Petra Harys Alfredo Tampilang, 2025 Diterbitkan oleh: LPPM STTII Ambon Diajukan: 17 Maret 2025 Direvisi: 27 April 2025 Diterima: 30 Mei 2025 PERAN DEBORAH BERDASARKAN KITAB HAKIM-HAKIM 4 DALAM KONTEKS GURU KRISTEN MASA KINI Silva Ba Si1. Aris D. Rimbe2. Petra Harys Alfredo Tampilang3* Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Mamasa1,2,3 tampilang@gmail. Abstract: This research explains the role of women in Judges 4 in the context of modern Christian teachers. The background of this writing is to find out the role of women in the book of Judges 4. The character discussed in the book of Judges 4 is Deborah. The method used in this research is qualitative method. The qualitative method used is literature The author uses books, journals, and literature that support the writing. This study found that Deborah had three roles, namely as a prophetess, wife, and judge. Deborah's example for modern Christian teachers is as a teacher, helper, and good listener. Keywords: The role of women in Judges 4. Deborah, modern Christian teachers Abstrak: Penelitian ini menjelaskan tentang Peran Perempuan dalam kitab Hakim-Hakim 4 dalam Konteks guru-guru Kristen modern. Latar belakang penulisan ini adalah untuk mengetahui peran perempuan dalam kitab Hakimhakim 4. Tokoh yang dibahas dalam kitab Hakim-Hakim 4 adalah Debora. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode kualitatif yang digunakan adalah studi literatur. Penulis menggunakan buku-buku, jurnal, dan literatur yang mendukung penulisan. Penelitian ini menemukan bahwa Debora memiliki tiga peran, yaitu sebagai seorang nabiah, istri, dan hakim. Teladan Debora bagi guru-guru Kristen modern adalah sebagai guru, penolong, dan pendengar yang baik. Kata Kunci: Peran perempuan dalam Hakim-hakim 4. Debora, guru-guru Kristen modern Copyright A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. Pendahuluan Kitab Hakim-Hakim menawarkan beragam contoh kepemimpinan yang unik dalam konteks sejarah Israel, di mana para hakim bertindak sebagai penyelamat, pemimpin, dan simbol kehendak Allah di tengah situasi krisis. Dalam narasi Hakim-Hakim 4. Deborah muncul sebagai satu-satunya hakim perempuan yang memimpin Israel. Berbeda dari hakim-hakim lain. Deborah tidak hanya seorang pemimpin dalam aspek politik dan militer, tetapi juga seorang nabi yang menyampaikan pesan Tuhan kepada umat-Nya. Kepemimpinan dan kebijaksanaan Deborah dalam menghadapi ancaman dari musuh bangsa Kanaan menggambarkan betapa ia bukan hanya sosok yang memegang kekuasaan, tetapi juga menjadi teladan iman dan keberanian dalam kondisi yang penuh tantangan. Kisahnya mencerminkan bahwa peran seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari otoritas dan kekuatan, tetapi juga dari kemampuan mendengar, memahami, dan mengarahkan umat sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada masa kini, peran seorang guru Kristen dihadapkan pada berbagai tantangan, baik dalam menyampaikan pendidikan yang berakar pada prinsip-prinsip iman Kristen maupun dalam menginspirasi siswa di tengah perubahan sosial dan budaya yang kompleks. Seorang guru Kristen tidak hanya berperan dalam mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menjadi pembimbing moral dan spiritual bagi para siswa. Dalam konteks ini, nilai-nilai yang tercermin dalam kehidupan Deborah memiliki relevansi yang mendalam, khususnya bagi para guru Kristen yang harus menjadi pilar iman di lingkungan pendidikan yang sering kali berlawanan dengan nilai-nilai Alkitabiah. Kepemimpinan Deborah yang menekankan iman, keteguhan, dan keberanian menjadi contoh inspiratif yang dapat diterapkan oleh guru Kristen masa kini dalam perannya sebagai pendidik yang berintegritas dan berlandaskan iman. Topik mengenai Deborah ini telah banyak diteliti oleh peneliti-peneliti terdahulu. Septiana Yolandi dalam penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 yang berjudul AuSolidaritas Antar Perempuan Dalam Budaya Patriarki (Suatu Analisa Sosio-Feminis Terhadap Kisah Debora. Yael daan Ibu Sisera Dalam Hakim-Hakim 4 Dan . Ay menemukan bahwa dalam Hakim-hakim 4 dan 5 terdapat dua pola solidaritas: pertama, solidaritas antara Debora dan Yael yang dibangun atas pengalaman bersama dalam penindasan, dan kedua, anti-solidaritas antara Debora. Yael, dan ibu Sisera yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan kekuasaan. 1 Penelitian ini juga menyarankan bahwa solidaritas antar perempuan, terlepas dari perbedaan sosial, merupakan kunci perjuangan dalam budaya patriarki, dan dapat memperkuat posisi perempuan sebagai mitra setara dengan laki-laki. Kemudian Immanuela Artika Risamasu juga telah meneliti topik ini pada tahun 2022. Penelitian Immanuela berfokus pada kepemimpinan Debora, seorang tokoh perempuan dalam Alkitab yang memimpin bangsa Israel dalam pertempuran melawan raja Kanaan Yabin dan panglima tentera Sisera, sebagaimana tercatat dalam Hakim-hakim 4:1-24. Melalui pendekatan tafsiran retorika dan teori-teori kepemimpinan, termasuk teori kepemimpinan feminis, penelitian tersebut berusaha untuk mengidentifikasi peran, karakteristik, dan ciri kepemimpinan Debora Sepriana Yolandi. AuSolidaritas Antar Perempuan Dalam Budaya Patriarki (Suatu Analisa Sosio-Feminis Terhadap Kisah Debora. Yael Daan Ibu Sisera Dalam Hakim-Hakim 4 Dan . ,Ay Reository UKSW, no. Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW . serta relevansinya dengan konteks kepemimpinan perempuan saat ini. 2 Penelitian tersebut menegaskan bahwa Debora bukan hanya seorang hakim, tetapi juga seorang pemimpin militer yang efektif. Ia memiliki kemampuan untuk memotivasi dan memimpin bangsa Israel dalam menghadapi tantangan besar. Dalam konteks budaya Yahudi yang patriarkal, keberadaan Debora sebagai pemimpin perempuan menunjukkan bahwa perempuan dapat memiliki peran yang signifikan dalam kepemimpinan, meskipun sering kali diabaikan dalam sejarah. Elkana Chrisna Wijaya juga meneliti topik yang sama pada tahun 2018. Penelitian tersebut berfokus pada tokoh Debora dalam Kitab Hakim-Hakim, yang merupakan salah satu figur penting dalam tradisi Alkitab. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa Debora adalah contoh teladan bagi perempuan dalam kepemimpinan dan menunjukkan bahwa peran perempuan dalam konteks religius dan sosial sangatlah penting. Temuan ini dapat memberikan inspirasi bagi generasi mendatang untuk melihat potensi dan kemampuan perempuan dalam berbagai bidang, termasuk kepemimpinan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, artikel ini bertujuan untuk mengupas peran Deborah dari Kitab Hakim-Hakim 4 dan menganalisis relevansinya bagi peran guru Kristen masa Dalam kajian ini, tiga peran utama Deborah akan dibahas: sebagai nabi yang menyampaikan kehendak Tuhan, sebagai hakim yang menegakkan keadilan, dan sebagai istri yang menunjukkan kesetiaan dalam hubungan sosialnya. Berdasarkan analisis ini, artikel ini akan mengungkapkan bagaimana teladan Deborah dapat diterapkan dalam konteks pendidikan Kristen, di mana guru Kristen diharapkan tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi figur yang mendampingi, menguatkan, dan membimbing siswa sesuai dengan nilai-nilai Alkitab. Metode Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi Penulis akan melakukan pencarian informasi dari berbagai buku, artikel jurnal, dan juga informasi-informasi sekunder dari berbagai situs web yang ditelusuri melaui internet, serta sumber atau naskah-naskah lain yang mendukung serta memiliki korelasi dengan judul Temuan dan Pembahasan Perempuan dalam bahasa Ibrani Isysya dan dalam bahasa Yunani Gune. Perempuan dan lelaki sama-sama diciptakan menurut Augambar dan rupa AllahAy. Perempuan diciptakan untuk menjadi seorang penolong bagi pria. Kata AupenolongAy disini bisa diartikan dapat diterjemahkan dengan Aupenolong yang sepadanAy (Kejadian 1:. Istilah ini digunakan karena peran perempuan sebagai penolong sangat menentukan, karena tanpa seorang perempuan, pria tidak dapat Imanuella Risamasu. AuKepemimpinan Debora Menurut Hakim - Hakim 4:1-24,Ay MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual 3, no. : 102Ae114. Elkana Chrisna Wijaya. AuStudi Tokoh Debora Dalam Kitab Haki-Hakim 4-5: Menjawab Isu Kontemporer Kepemimpinan Wanita Dalam Organisasi Kristen,Ay Dunamis: 1, no. : 15, http://w. id/ejournal/indeks. php/dunamis. mewujudkan dirinya dengan sepenuhnya. 4 Seorang perempuan tidak hanya memiliki peran sebagai ibu rumah tangga yang hanya berfokus pada urusan-urusan yang ada di rumah. Peran Debora Berdasarkan Kitab Hakim-hakim 4 Saat ini banyak perempuan yang tidak hanya menjadi ibu rumah tangga saja, tetapi juga menjadi wanita karir. Mereka tidak hanya mengurus pekerjaan-pekerjaan rumah, tetapi juga bisa meniti karir mereka untuk membantu perekonomian keluarga. Menjadi seorang wanita karir saat ini bukanlah suatu hal yang aneh dan hal yang harus dipertanyakan, karena pada saat ini seorang perempuan bis menjadi seorang pemimpin. Dalam kitab Hakim-hakim4:4 dapat dilihat bahwa Debora memegang tiga rangkap peran sebagai perempuan pada masa itu. Pada bagian ini peneliti akan menjelaskan mengenai tiga peran perempuan berdasarkan kitab Hakim-hakim 4, yaitu sebagai nabiah, istri, dan hakim. Seorang Nabiah Menjadi seorang nabi/nabiah bukanlah karena kemauan dari diri sendiri, tetapi karena Allah sendiri yang telah memilih. Seorang nabi/nabiah adalah hamba Tuhan yang selalu mengucapkan kata-kata demi nama Tuhan, dan hanya memegang perintah atau perkataan yang diterimanya dari Tuhan, serta bertanggungjawab penuh kepada Tuhan. 5 Tugas nabiah adalah mengecam bangsa yang tidak berakal budi, tetapi kritik nabiah mempunyai tujuan yang positif, yaitu supaya bangsa Israel insaf dari kebodohannya dan jangan binasa dalam hukuman yang mengancam mereka. Nabiah adalah sebutan kepada nabi perempuan. Orang pertama dari bangsa Israel yang disebut nabi adalah Musa. Dia menyebut dirinya sendiri sebagai nabi dalam Ulangan 18:15, dan merupakan suatu contoh bagi nabi-nabi lainnya. Miryam, saudara perempuan Musa, disebut nabiah . abi perempua. Nama berikutnya adalah Debora, salah seorang hakim, yang disebut nabiah . abi perempua. dalam Hakim-Hakim 4:4. Mungkin dia telah menerima dan menyampaikan pesan dari Tuhan sebelum menjadi hakim, bahkan mungkin jabatan ini diperolehnya karena pengalaman dia sebelumnya sebagai nabi perempuan. 7 Seorang nabiah dapat melihat sesuatu yang akan terjadi dalam sejarah dengan suatu kepastian. Nubuat para nabiah tidak hanya menyangkut hal-hal yang akan datang, tetapi juga hal-hal yang sedang terjadi. Karena itu nubuat dapat berupa kecaman dan berita penghukuman terhadap kejahatan bangsa, tetapi dapat juga berupa berita pengharapan akan keselamatan. 8 Menurut Ludji, para nabi/nabiah setia kepada tradisi iman yang dikenal baik oleh masyarakat Israel, seperti peristiwa keluaran. Martha Belawatitarihoran. AuPeranan Perempuan Dalam Alkitab,Ay . , tersedia: https://marthabelawatitarihoran. com/2013/10/03/peranan-perempuan-dalam-alkitab/ . ): 14Ae16. Leon J. Wood. The Propets Of Israel . alang: Gandum Mas, 2. Rothlisberger. Firmanku Seperti Api: Para Nabi Israel (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Sudarman. Nabi-Nabi Israel Dalam Perjanjian Lama, 8. (Online: tersedia: https://media. com/media/publications/56664-ID-none. pdf, 2. Barnabas Ludji. Pemahaman Dasar Perjanjian Lama (Bandung: Bina Media Informasi, 2. perjalanan di padang gurun, tradisi pemilihan, tradisi hari Tuhan, penaklukan tanah Kanaan dan Namun demikian pengalaman pribadi nabi/nabiah juga sangat menentukan dalam Para nabi juga, walaupun setia pada tradisi, namun tidak terikat kaku dengan Artinya ada kreatifitas dari para nabi dalam menafsirkan tradisi-tradisi itu Pamahaman atau penafsiran para nabi, mungkin berbeda dengan apa yang dipahami oleh bangsa Israel secara secara keseluruhan dan secara tradisional dan mungkin juga dipahami berbeda oleh nabi-nabi yang lain. Peran Debora sebagai seorang nabiah dapat dilihat pada Hakim-hakim 4:6. Pada ayat tersebut Debora mengatakan Aubukankah TUHAN. Allah Israel, memerintahkan demikian. Ay Dari ayat ini dapat diketahahui bahwa Allah telah berbicara terlebih dahulu kepada Debora mengenai peperangan yang akan mereka lakukan. Debora bisa mengetahui perintah dari Allah karena dia merupakan seorang nabiah, di mana peran nabi/nabiah pada masa itu adalah sebagai penyambung lidah Allah. Mereka dipilih Allah untuk menjadi alat untuk menyampaikan perkataan Allah kepada umatNya. Jadi, jika Allah ingin menyampaikan perintahNya kepada umat Israel maka Dia akan berbicara kepada nabi/nabiah pada masa itu. Seorang Istri Kedudukan Debora sebagai hakim bisa dibilang sedikit unik dari hakim-hakim yang Ia merupakan satu-satunya hakim perempuan saat itu. Ia merupakan istri dari Lapidot, dan saat itu tidak biasa seorang istri memegang kepemimpinan. Selain sebagai seorang hakim dan seorang istri. Debora juga adalah seorang nabiah. 10 Debora memiliki karunia-karunia bernubuat yang memungkinkan dia mendengar berbagai amanat Allah dan menyampaikan amanat itu kepada umat Israel. Hubungan yang erat antara Debora dengan Allah membuat dirinya menjadi orang memiliki pengaruh diantara bangsa Israel saat itu. Sikap tunduk dari hakim Debora dapat dilihat saat mereka akan maju untuk berperang melawan Sisera. Debora menawarkan kepada Barak untuk memimpin peperangan tersebut, tetapi Barak menolak hal itu dan mengatakan bahwa jika Debora maju maka ia juga akan maju untuk berperang. Dari hal ini dapat di lihat bahwa meskipun Debora sebagai seorang pemimpin di bangsa Israel pada saat itu, tetapi Debora tidak lupa akan aturan yang berlaku bagi bangsa Israel pada saat itu. Perjanjian Lama masih menganut suatu struktur sosial patriarki, yaitu suatu istilah yang diartikan sebagai kekuasaan bapak atau patriark. Istilah ini biasanya digunakan untuk menunjukkan kepemimpinan dalam suatu keluarga yang dikuasai oleh seorang laki-laki. Namun kemudian istilah ini digunakan secara meluas untuk menyebut kekuasaan laki-laki atas Dalam Perjanjian Lama hampir segala bidang didominasi dan dikuasia oleh laki-laki. Pandangan tradisional ini muncul karena melihat kondisi biologis laki-laki dan perempuan berbeda maka seharusnya peranan sosial pun berbeda. Salah satu contoh budaya patriarki dalam Perjanjian Lama terdapat dalam kitab Bilangan, pada saat dilakukan perhitungan terhadap Ibid. Emmanuel Gerrit Singgih. Dua Konteks: Tafsir-Tafsir Perjanjian Lama Sebagai Respons Atas Perjalanan Reformasi Di Indomesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Andrew E. Hill dan John H. Walton. Survey Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2. laskar israel atau sensus penduduk yang dilakukan oleh Musa sebanyak dua kali perempuan tidak dimasukkan kedalam hitungan (Bil. 1-4 dan . Perkembangan pemahaman mengenai peranan kaum wanita pada masa kini tentunya tidak terlepas dari perspektif masyarakat terhadap esksistensi wanita pada masa lampau. Indonesia, keberadaan wanita dan peranannya dalam posisi-posisi yang strategis, terutama yang bersentuhan langsung dengan kaum pria, menghadapi banyak tantangan dan tentangan, mengingat budaya paternalistis yang mengakar sangat kuat dalam pikiran dan budaya masyarakat Indonesia. 13 Wanita pada masa kini memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan wanita pada masa dulu. Wanita masa dulu beranggapan bahwa tugas mereka hanyalah mengurus rumah, hal ini berbeda dengan wanita masa kini, di mana wanita masa kini berpikir untuk memiliki penghasilan sendiri. Di dalam konteks rumah tangga. Allah memerintahkan agar perempuan bisa menunjukkan sikap tunduk dan hormat kepada suaminya sebagai kepala rumah tangga. Ketundukan dapat dilakukan dengan rasa bebas hanya jika para wanita menyadari bahwa ketundukan itu dilakukan sebagai pilihan dan ketaatan terhadap perintah Tuhan dan bukan sebagai paksaan. 14 Kata tunduk merupakan istilah dari bahasa Yunani yang berkenaan dengan hubungan antara bahwahan dan atasan. Kata yang sama juga dipakai untuk antara suami dan istri dalam Efesus 5: 22. Titus 2:5. antara tuan dan hamba Titus 2:9. antara penguasa dan rakyat. Roma 13:1, yang artinya adalah Autunduk kepada, menaati, diperintah olehAy. Semua ini menggambarkan sikap yang harus dilaksanakan oleh setiap orang percaya. Tunduk bukanlah suatu ketaatan yang membabi-buta. Ketaatan berarti mengikuti suatu perintah, sedangkan tunduk adalah suatu enyerahan yang dilakukan secara sukarela atau menyerahkan kemauan. Ketaatan tidak memberi kesempatan untuk memilih, sedangkan tunduk memberi kesempatan untuk memilih. Tunduk yang benar adalah seorang istri yang mampu mengakui tempatnya di dalam tata tertib Allah, dengan secara sukarela menyerah kepada kepemimpinan seuaminya, dan percaya bahwa Tuhan akan memakai suaminya sebagai faktor pembimbing di dalam kehidupannya. Dalam 1 Petrus 3:1-6, dijelaskan bahwa tunduknya istri tidak sama dengan tunduknya seorang budak kepada tuannya, maka penundukan ini tidak menunjukkan status atau kapasitas yang lebih rendah tetapi kerekanan dalam subordinasi peran dalam pernikahan. Istri tunduk kepada suami bukan demi kepentingan suami, tetapi istri tunduk kepada suami untuk Allah. Penundukan istri dilakukan oleh karena adanya kesalehan dan dimotivasi oleh iman, kasih dan Asnath Niwa Natar. Ketika Perempuan Berteologi (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2. Elkana Chrisna Wijaya. AuStudi Tokoh Debora Dalam Kitab Haki-Hakim 4-5: Menjawab Isu Kontemporer Kepemimpinan Wanita Dalam Organisasi Kristen. Ay Tan Giok Lie dan Casthelia Kartika. Seri PA Kelompok Kecil Pemuda: Pria Dan Wanita Menurut Perspektif Alkitab (PT. Visi Anugerah Indonesia, 2. Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida. Surat-Surat Paulus Kepada Jemaat Di Kolose Dan Kepada Filemon (Jakarta: : Lembaga Alkitab Indonesia dan Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2. Bo Berry. Bila Kekasih Belum Percaya: Petunjuk-Petunjuk Bagi Istri Yang Suaminya Belum Kristen, ed. Jenny Natanael (Jakarta: Gunung Mulia, 2. pengharapan di dalam Allah. Jadi penundukan ini dilakukan dengan kerelaan bukan karena rasa takut atau intimidasi. Seorang Hakim Peran Debora sebagai dapat dilihat pada Hakim-hakim 4:4-5. Pada ayat 4 dikatakan bahwa pada waktu Debora memerintah sebagai hakim atas orang Israel. Sedangkan pada ayat 5 dikatakan bahwa pada masa itu Debora duduk di bawah pohon korma dan orang-prang Israel akan datangnya kepadanya untuk menceritakan masalah yang sedang mereka hadapi. Jabatan hakim pada masa itu tidaklah mudah untuk didefinisikan. Para hakim ini tidaklah semua dipilih, mereka juga tidak mewarisi jabatan mereka bahkan mereka juga tidak diangkat secara resmi. Para hakim disebut sebagai para pemimpin kharismatik, karena secara spontan mereka mengambil peran kepemimpinan manakala kebutuhan muncul. Sebutan besar digunakan bagi hakim-hakim yang secara langsung berhubungan dan dipilih langsung oleh Allah untuk suatu tugas khusus. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa Allah yang mengangkat mereka untuk membebaskan Israel. Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang hakim, hakim harus dipimpin Roh Tuhan dalam kehidupannya. Di bawah kuasaNyalah hakim akan melaksanakan tugas mereka, dan oleh karena itu menunjukan bahwa Tuhan sedang bekerja dan pada hakikatnya Ia yang bertanggung jawab untuk kelepasan yang dilakukan oleh seorang hakim. 19 Para hakim tidak akan mampu menyelesaikan masalah atau memberikan solusi kepada umat Israel yang datang dengan masalah-masalah yang mereka tanggung, jika tidak hidup dalam pimpinan Roh Tuhan. Tugas dari hakim dalam umat Israel tidak hanya sekedar untuk menghakimi, melainkan juga harus mendistribusikan, mengatur, serta menjamin keadilan secara merata dan tepat sasaran. 20 Hakim bukanlah suatu jabatan yang dimiliki untuk menciptakan atau menentukan hukum, tetapi penanggung jawab atas pelaksanaan hukum Allah. Proses kepemimpinan dari seorang hakim sangat menentukan bagaimana jalannya proses keadilan dan kesejahteraan bagi bangsa Israel di masa itu, maka dari itu keseriusan serta ketegasan dari para hakim dan petugas dalam melaksanakan tugas tanggung jawab mereka merupakan suatu hal sangat penting. Itu dikarenakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi tiaptiap suku Israel tergantung dari kepemimpinan para hakim yang telah dipilih untuk menjalankan kepemimpinan di dalam sukunya. Keteladanan Debora bagi Guru Kristen Masa Kini Setelah mengetahui peran perempuan berdasarkan kitab Hakim-hakim 4, peneliti akan menjelaskan mengenai teladan dari peran Debora bagi guru Kristen masa kini. Teladan dari peran Margaretha P. Rissing dan Claudia Angelina. AuPenafsiran Michelle Lee-Barnewall Terhadap Kejadian 1-3 Terkait Isu Kesetaraan Gender Dan Implikasinya Bagi Pernikahan Kristen,Ay Tiranus: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen . : 156Ae172. Andrew E. Hill dan John H. Walton. Survey Perjanjian Lama. Ibid. Ibid. Theofilus Welem. AuTugas UAS Teologi PL 2,Ay 2019. Debora dari kitab Hakim-hakim 4 bagi guru Kristen masa kini adalah: sebagai pengajar, sebagai penolong, dan sebagai pendengar yang baik. Sebagai Pengajar Peran nabiah pada masa Debora adalah sebagai penyambung lidah Allah atau juru bicara Alah kepada umatNya. Jika diimplikasikan kepada guru Kristen, maka guru Kristen harus menjadi juru bicara Allah lewat pengajaran maupun tingkah laku hidupnya. Pengajaran yang guru Kristen ajar harus berpegang pada Alkitab, karena Yesus merupakan Guru Agung guru Kristen harus meneladani sikap guru Agung. Guru merupakan unsur penting dalam kegiatan mengajar. Hal itu sangat beralasan karena, seperti dikemukakan oleh Prof. Brian Hill, gurulah yang membimbing peserta didiknya untuk belajar mengenal, memahami, dan menghadapi dunia tempatnya 22 Menjadi guru adalah sebuah panggilan terkhusus guru Kristen dalam mengajarkan akan kebenaran Firman Tuhan sebagai suatu bentuk pelayanan. Mengajar anak agar menjadi orang yang lebih berguna tidak akan tercapai dengan baik apabila pendidik hanya mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan sebelumnya atau hanya dengan mempelajari jiawa Sebagai pengajar, guru Kristen juga harus menunjukkan sikap sebagai karakter Kristus, sehingga peserta didik bisa meneladani sikap tersebut. Guru Kristen harus mencintai anak-anak tanpa membeda-bedakan. Cinta sangat mempengaruhi cara dan suasana hati peserta didik dalam mengajar. Cinta kepada Tuhan dan cinta kepada anak-anak akan membuat guru Kristen akan lebih bersemangat sehingga tugas mengajar tidak lagi menjadi beban kewajiban tetapi mengajar itu adalah menyenangkan. Agar menjadi seorang pengajar yang profesional guru Kristen harus mengikuti pelatihan-pelatihan agar membantu menambah wawasan dalam dunia Tidak semua orang mampu menjadi pengajar yang baik. Mengajar bertujuan utuk mengubah dan menambah pengetahuan peserta didik. Seperti yang dikemukakan oleh Nasution mengenai pengertian mengajar, yang pertama. mengajar adalah menanamkan pengetahuan kepada anak. Kedua, mengajar adalah menyampaikan kebudayaan pada anak. Ketiga, mengajar adalah salah satu aktivitas mengoranisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar, guru Kristen harus berusaha membuat peserta didiknya menjadi anak-anak yang kreatif. Kreativitas akan berkembang apabila suasana saling menghargai tetap tercipta, dengan harapan setiap anak memperoleh rasa harga diri yang Langkah-langkah yang bisa guru Kristen lakukan untuk mengembangkan kreativitas peserta didiknya adalah: pertama, jangan terlalu cepat menyediakan jawaban atas segala masalah. Kedua, kedua, biarkan peserta didik menempuh beberapa risiko. Ketiga, tolong peserta didik agar teratur bereksperimen dengan bahan-bahan yang baru. Rejeki Sitanggang and Dorlan Naibaho. AuPeningkatan Kompetensi Spiritual Guru PAK Dengan Belajar Dari Kekurangan. Kelebihan. Kegagalan Serta Kesuksesan Peserta Didik,Ay Juperan: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran 02, no. Ibid. Paul Lewis. Cara Mengarahkan Anak (Bandung: Kalam Hidup, n. Sebagai Penolong Setiap peserta didik yang satu dengan yang lain memiliki karakter dan masalah yang berbeda-beda. Oleh karena itu sangat penting bagi guru Kristen untuk mengetahui keadaan dan peserta didiknya. Untuk memahami peserta didiknya, guru Kristen perlu belajar mengenai psikologi pendidikan. Hal ini akan membantu guru Kristen untuk bisa lebih mengerti lagi terhadap peserta didiknya. Guru Kristen harus menyadari bahwa tujuan utama pengajarannya adalah membantu memperlengkapi dan membimbing peserta didik, untuk mampu bertumbuh menuju kedewasaan secara utuh baik jasmani, mental atau cara berpikir, moral dan etika. serta rohani . engenalan akan Kristu. Guru Kristen harus memabantu peserta didik mengenal pribadi Yesus sebagai Juruselamat dalam hidupnya. Guru Kristen harus menolong peserta didiknya bertumbuh sesuai firman Allah dibawah bimbingan Roh Kudus melalui sejumlah pengalaman belajar. Sehingga dalam diri peserta didik dapat menghasilkan pertumbuhan rohani yang berkesinambungan melalui pengabdian diri kepada Allah Bapa. Tuhan Yesus Kristus berupa tindakan kasih terhadap sesamanya. Guru Kristen berperan sebagai salah satu penolong pribadi peserta didik untuk berkembang sesuai yang sudah direncanakan oleh Allah dalam hidup mereka. Guru adalah seorang profesional dalam bidangnya untuk diajarkan kepada peserta didik dan sumber pengajarannya adalah Alkitab. Sebagai Pendengar yang Baik Peran Debora sebagai hakim membuktikan bahwa dia adalah seorang pendengar yang hal ini terlihat pada saat orang Israel datang kepadanya untuk menceritakan masalah yang sedang ia hadapi. Jika Debora tidak mendenfarkan dengan baik apa yang disampikan oleh orang Israel yang datang kepadanya, maka ia tidak akan tahu cara menyelesaikan masalah orang-orang yang datang kepadanya. Mendengar adalah suatu seni. Komunikasi akan berjalan lebih berkesan jika ada pendengar yang baik. Untuk menjadi pendengar yang baik, seseorang harus bisa mendengar secara aktif dan reflektif. 26 Tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik. Terkadang ada orang yang hanya mau di dengar saja, tetapi dia tidak mau untuk mendengarkan orang lain. Seorang guru harus bisa menjadi pendengar yang bagi murid-muridnya. Menjadi seorang pendengar yang baik memang tidaklah mudah, tetapi jika seseorang menjadi pendengar yang baik maka ia akan disenangi oleh semua orang. Begitu juga halnya dengan guru, seorang guru harus bisa menjadi pendengar yang baik agar dia lebih mudah untuk memahami para peserta didiknya. Menjadi pendengar yang baik merupakan suatu anugerah, karena seperti yang kita ketahui banyak orang yang hanya ingin untuk selalu berbicara tetapi untuk mendengar dia tidak mau. 27 Pendengar yang baik adalah orang yang memiliki jiwa Elieser R Marampa. AuPeran Orangtua Dan Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Membentuk Karakter Kerohanian Peserta Didik,Ay SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. : 239Ae258. Mega Rahmawati and Edi Suryadi. AuGuru Sebagai Fasilitator Dan Efektivitas Belajar Siswa,Ay Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran 4, no. : 49. Lukas Teguh Jatmiko. Percikan Inspirasi: Mengasah Nurani (Bekasi: Media Maxima, 2. Seorang pendengar yang baik akan selalu setia mendengarkan orang yang sedang berbicara kepadanya. Pendengar yang baik akan memberikan respon dari cerita-cerita yang didengarnya, sehingga itu akan membuat yang bercerita senang karena ada orang yang mau mendengarkan 28 Bukan hal mudah untuk menjadi seorang pendengar yang baik, oleh karena itu utuk menjadi seorang pendengar yang baik sangat dibutuhkan jiwa kesabaran yang lebih. Setiap pendidik perlu memiliki keterampilan menjadi pendengar yang baik, terutama pendengar bagi peserta didiknya yang mengalami masalah dalam belajar. Kesediaan mendengar butuh latihan, hal ini disebabkan karena memori jangka pendek yang dimiliki setiap orang sangat mudah melupakan informasi yang barus saja diterima. Oleh akarena itu, setiap pendidik yang mau menjadi pendengar yang baik bagi peserta didiknya harus memiliki keterampilan dan kesediaan sikap terbuka dan mau mendengarkan orang lain. Dalam proses pembelajaran, pendidik perlu mengembangkan mendengarkan agar bisa mengetahui masalah-masalah apa saja yang dihadapi para peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut. 29 Menjadi guru sebagai pendengar yang baik, dibutuhkan keterampilan berkomunikasi yang baik pula. Komunikasi merupakan sarana untuk mengetahui informasi. Sasaran dari komunikasi adalah agar supaya penerima pesan memahami apa maksud pesan yang ia terima. Komunikasi akan berjalan dengan lancar jika pihak penerima memahami maksud pesan dari pihak pengirim. Begitu juga dalam proses pendidikan, guru akan memahami masalah yang dihadapi oleh peserta didik jika hubungan komunikasi mereka baik. Kesimpulan Kesimpulan dari artikel berjudul Peran Perempuan Berdasarkan Kitab Hakim adalah bahwa tokoh Debora dalam Hakim-Hakim 4 memberikan teladan kepemimpinan bagi guru Kristen masa kini. Debora memainkan tiga peran utama: sebagai nabiah, hakim, dan istri, yang masing-masing mencerminkan aspek-aspek penting yang relevan bagi pendidikan Kristen. Sebagai nabiah. Debora menjadi penyambung lidah Tuhan, yang mengajarkan bahwa guru Kristen juga harus setia menyampaikan kebenaran Alkitab dalam pengajaran. Sebagai hakim. Debora menjadi pemimpin yang adil dan pendengar yang baik, menginspirasi guru untuk mendengarkan siswa dengan penuh perhatian dan kesabaran. Dan sebagai istri, ia menunjukkan sikap tunduk yang sukarela dan penuh kasih, menekankan pentingnya kerendahan hati dan ketundukan pada peran masing-masing. Tulisan ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai kepemimpinan Debora dapat menjadi panduan bagi guru Kristen dalam menghadapi tantangan pendidikan masa kini yaitu: sebagai pengajar yang menyampaikan kebenaran dengan kasih, sebagai penolong yang membimbing siswa dengan bijaksana, dan sebagai pendengar yang baik yang mendukung siswa dalam segala situasi. Artikel ini menekankan bahwa sikap kepemimpinan yang bijaksana, pengabdian yang tulus, dan kemampuan untuk mendengarkan adalah kualitas Hegar Pengarep. Great Personality Plus, ed. Triwanto P (Yogyakarta: Cakrawala, 2. Doni Koesoema dan Evy Anggraeny. Inspirasi Praktik Baik Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah: Membentuk Budaya Berkarakter Setiap Hari (Yogyakarta: Kanisius, 2. yang harus dimiliki oleh guru Kristen dalam membimbing siswa menuju pertumbuhan spiritual dan moral yang lebih baik. Daftar Pustaka