EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA MAPEL FIQIH MELALUI METODE COOPERATIVE TIPE PICTURE AND PICTURE RATU SUMIYATI MTs Ahlussunnah Wal JamaAoah Buntok e-mail: ratusumiyati@gmail. ABSTRAK Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak AumengalamiAy sendiri apa yang dipelajarinya, bukan AomengetahuiAo-nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi AomengingatAo jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangkan panjang. Tujuan dari penelitian ini adalah: . Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar Fikih setelah diterapkannya metode belajar aktif Melalui Metode Cooperative Picture and Picture. Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar Fikih setelah diterapkan Melalui Metode Cooperative Picture and Picture. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan . ction researc. sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalh siswa kelas VII MTs Ahlussunah Waljamaah Buntok. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus i yaitu, siklus I . ,19%), siklus II . ,09%), siklus i . ,71%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui Metode Cooperative Picture and Picture dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa MTs Ahlussunnah Wal jamaAoah, serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran Fikih. Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif, picture and picture ABSTRACT There is a tendency in education today to fall back on the idea that children will learn better if the environment is created naturally. Learning will be more meaningful if children "experience" what they learn, not 'know' it. Target-oriented learning of material mastery has proven successful in short-term 'remembering' competitions, but has failed in equipping children to solve problems in long-term life. The objectives of this study are: . Want to know the increase in Jurisprudence learning achievement after the application of active learning methods through the Cooperative Picture and Picture Method. ( . Want to know the influence of motivation to learn Jurisprudence after being applied through the Cooperative Picture and Picture Method. This study used three rounds of action research. Each round consists of four stages: design, activity and observation, reflection, and reference. The target of this study is grade VII MTs Ahlussunah Waljamaah Bstudents. The data obtained are in the form of formative test results, observation sheets of teaching and learning activities. From the results of the analysis, it was found that student learning achievement increased from cycle I to cycle i, namely, cycle I . 19%), cycle II . 09%), cycle i . 71%). The results showed that throughthe Cooperative Picture and Picture Method can have a positive effect on the learning motivation of MTs Ahlussunnah Wal Jama'ah Students, and this learning model can be used as an alternative to Jurisprudence learning. Keywords: cooperative learning model, picture and picture Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peranan penting bagi manusia untuk mengembangkan individu yang berkualitas dalam mencapai keberhasilan proses pendidikan (Mayasari & Lazim, 2. Dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2008 tentang standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama islam dan bahasa arab di madrasah, mata pelajaran Fikih di Madrasah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang fikih ibadah, terutama menyangkut pengenalan dan pemahaman tentang cara-cara pelaksanaan rukun Islam dan pembiasaannya dalam kehidupan sehari-hari, serta fikih muamalah yang menyangkut pengenalan dan pemahaman sederhana mengenai ketentuan tentang Taharah dan Alat AeAlat Bersuci. Secara substansial mata pelajaran Fikih memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan dan menerapkan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya ataupun lingkungannya. Mata pelajaran Fikih di Madrasah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat Mengetahui dan memahami cara-cara pelaksanaan hukum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan social. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dan baik, sebagai perwujudan dari ketaatan dalam menjalankan ajaran agama Islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, dan makhluk lainnya maupun hubungan dengan lingkungannya Islam menganjurkan tentang asas pendidikan yang pertama yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini adalah keimanan, hal ini menjadi acuan tentang tujuan pokok dari pengajaran fiqih ini dalam konteks sosial yaitu, bagaimana memberikan pengetahuan kepada manusia agar dapat melaksanakan ibadah kepada Tuhannya dengan baik. Saat ini, dunia pendidikan sedang mengalami krisis, perubahan-perubahan yang cepat diluar pendidikan menjadi tantangan-tantangan yang harus di jawab oleh dunia pendidikan. Jika praktik-praktik pengajaran dan pendidikan di Indonesia tidak di rubah, bangsa Indonesia akan ketinggalan oleh Negara-negara lain. Pada Abad 21 ini, praktik-praktik pembelajaran dan pendidikan di sekolah-sekolah perlu diperbaharui. Peranan dunia pendidikan dalam mempersiapkan anak didik agar optimal dalam kehidupan bermasyarakat, maka proses dan model pembelajaran perlu terus diperbaharui. Upaya pembaharuan proses tersebut, terletak pada tanggung jawab guru, bagaimana pembelajaran yang disampaikan dapat difahami oleh anak didik secara benar. Dengan demikian, proses pembelajaran ditentukan sampai sejauh guru dapat menggunakan metode dan model pembelajaran dengan baik. Model pembelajaran itu banyak macamnya, setiap model pembelajaran sangat ditentukan oleh tujuan pembelajaran dan kemampuan guru dalam mengelola proses pengajaran. Menurut (Komara et al. , 2. bahwa dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi yang mendukung pembelajaran siswa secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru harus menguasai teknik presentasi atau metode dan model pengajaran yang efektif. Berdasarkan observasi, di Madrasah diperoleh gambaran keadaan dimana masih banyak siswa beranggapan bahwa pelajaran fiqih merupakan pelajaran yang sulit ditambah bahan ajar tidak dimiliki siswa. Hal ini berdampak pada hasil belajar fiqih yang kurang memuaskan. Penggunaan model pembelajaran kooperatif belum banyak digunakan. Model pembelajaran kooperatif dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran dan melalui metode tersebut siswa merasa lebih terdorong untuk belajar dan berfikir. Karena dengan meningkatnya aktivisas siswa dalam proses pembelajaran akan membuat pelajaran lebih bermakna dan mudah dipahami oleh siswa, karena disana ada keterlibatan siswa dalam Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 membuat dan menyusun perencanaan proses belajar mengajar, adanya keterlibatan intelektual dan emosional siswa melalui dorongan dan semangat yang dimilikinya, serta adanya keikutsertakan siswa secara kreatif dalam memperhatikan dan mendengarkan apa yang disajikan guru (Slavin, 2008: 143 ). Penggunaan model pembelajaran kooperatif diharapkan dapat dimanfaatkan dan memungkinkan guru dapat mengelola kelas dengan lebih efektif dan memudahkan siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model AeModel menampilkan gambit -gambar (Picture and Pictur. terhadap materi pelajaran fiqih kelas VII MTs Ahlussunnah Wal-JamaAoah Buntok. Menurut (Fadjarajani et al. , 2. picture and picute merupakan strategi pembelajaran dengan berkelompok dan menggunakan gambar sebagai media pembelajaran, dimana gambar yang diberikan harus di pasangkan atau diurutkan secara logis. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Praseptia & Zulherman, 2. bahwa model pembelajaran picture and picture dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang dibuktikan dengan hasil tes yang mengalami peningkatan. Ditambahkan oleh (Kharis, 2. pembelajaran dengan menggunakan model picture and picture dapat meingkatkan keaktifkan siswa selama proses pembelajaran menjadi lebih antusias sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Berdasarkan pemaparan di atas maka penelitian ini dilakukan dengan mengambil judul AuUpaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih Melalui Metode Cooperative Picture and PictureAy. METODE PENELITIAN Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MTs Ahlussunnah Wal-JamaAoah di Buntok dalam mata pelajaran fiqih. Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober Judul penelitian ini adalah upaya meningkatkan prestasi belajar siswa mapel Fiqih melalui metode cooperative Picture and Picture. Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelasVII yang berjumlah 21 orang, terdiri dari 11 orang laki-laki dan 10 orang Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes tertulis, observasi dan wawancara. Analisis data dilajukan dengan membuat skor hasil belajar secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecendrungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hubungan Pembelajaran dari model pembelajaran cooperative Picture and picture dengan Ketuntasan Belajar Suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dianggap tuntas secara klasikal jika siswa yang mendapat nilai 65 lebih dari atau sama dengan 85%, sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu jika mendapat nilai minimal 65. Siklus I Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan model pembelajaran cooperative ficture and picture, dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada akhir Bulan Juli Tahun 2022 di Kelas VII jumlah siswa 21 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan . dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut. Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I Uraian Hasil Siklus I 1 Nilai rata-rata tes formatif 70,00 2 Jumlah siswa yang tuntas belajar 3 Persentase ketuntasan belajar 61,90 Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran model model pembelajaran cooperative picture and picture diperoleh nilai ratarata prestasi belajar siswa adalah 70,00 dan ketuntasan belajar mencapai 68,18% atau ada 13 siswa dari 21 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai C 65 hanya sebesar 61,19% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan model pembelajaran cooperative picture and picture . Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran . Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu . Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung Revisi Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. Siklus II Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada akhir bulan Juli tahun 2022 di Kelas VII dengan jumlah siswa 21 siswa. Dalam hal Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan . dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut. Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II Uraian Hasil Siklus II 1 Nilai rata-rata tes formatif 77,73 2 Jumlah siswa yang tuntas belajar 3 Persentase ketuntasan belajar 76,19 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 77,73 dan ketuntasan belajar mencapai 76,19 % atau ada 16 siswa dari 21 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan pembelajaran model - model pembelajaran cooperative ficture and picture . Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut. Memotivasi siswa . Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep . Pengelolaan waktu Revisi Rancangan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangankekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus II antara lain: Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. Siklus i Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang Tahap kegiatan dan pengamatan Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus i dilaksanakan pada bulan Agustus. 2022 di Kelas VII dengan jumlah siswa 21 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus i. Pengamatan . dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif i dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif i. Adapun data hasil penelitian pada siklus i adalah sebagai berikut. Tabel 3. Hasil Formatif Siswa Pada Siklus i Uraian Hasil Siklus i 1 Nilai rata-rata tes formatif 82,73 2 Jumlah siswa yang tuntas belajar 3 Persentase ketuntasan belajar 85,71 Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 82,73 dan dari 21 siswa telah tuntas sebanyak 18 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 85,71% . ermasuk kategori tunta. Hasil pada siklus i ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus i ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran model model pembelajaran cooperative ficture and picture sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran model model pembelajaran cooperative ficture and picture . Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. Hasil belajar siswa pada siklus i mencapai ketuntasan. Revisi Pelaksanaan Pada siklus i guru telah menerapkan pembelajaran model - model pembelajaran cooperative ficture and picture dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model pengajaran kontekstual berbasis dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pembahasan Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran cooperative picture and picture memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru . etuntasan belajar meningkat dari siklus I. II, dan . yaitu masing-masing 61,90%, 76,19%, dan 85,71%. Pada siklus i ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pad setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. Aktivitas siswa dalam pembelajaran Fiqih pada pokok bahasan tentang Taharah dan alatalat Bersuci dengan indikator pencapaian kompetensi mengkategorikan alat-alat bersuci berdasarkan pembagian dan hukumnya, mendemonstrasikan benda banda alat bersuci yang dapat digunakan untuk bersuci. Menurut (Purwani et al. , 2. bahwa pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interkasi secara langsung seperti kegiatan tatap muka secara langsung maupun secara tidaklangsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Pembelajaran harus menumbuhkan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan(Wisesa, 2. Ketuntasan Peserta Didik (%) SIKLUS I SIKLUS II SIKLUS i Gambar 1. Grafik perbandingan ketuntasan tiap siklus Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan model picture and picture pada mata pelajaran Fiqih dapat meningkatkan ketuntasan peserta didik dari per siklus. Model pembelajaran dengan menggunakan picture and picture memudahkan peserta didik untuk mengingat cara-cara melakukan Taharah yang dituntun melalui gambar sehingga dapat ditiru oleh peserta didik. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Mayasari & Lazim, 2. menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran cooperative picture and picture dapat meningkatkan hasil pembelajaran IPS di SDN 37 Pekanbaru. Lebih lanjut penelitian yang dilakukan oleh (Dewantara & Nurgiansah, 2. Peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan melalui model Picture and Picture. Diperoleh data pada siklus I keaktifan belajar siswa masuk kategori sedang dan siklus II masuk kategori tinggi. Peningkatan keaktifan siswa juga tergambar melalui minat dan motivasi belajar, perhatian dan fokus pada materi ajar, presensi kehadiran siswa, dan partisipasi dalam tanya jawab. Penerapan Model Pembelajaran Picture and Picture Berorientasi Pendidikan Karakter berpengaruh terhadap motivasi belajar IPS siswa kelas V di Gugus I Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan (Paramita, 2. Secara teknis, penggunaan model kooperatif picture and picture dilakukan dengan cara membuat gambar cara melakukan Taharah yang ditunjukkan dengan gambar secara berurutan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Gaffar, 2. bahwa model Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 kooperatif tipe picture and picture, yang dalam pelaksanaannya menggunakan gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan yang logis dengan keunggulan seperti guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa, serta melatih siswa berpikir logis dan KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: Model model-model pembelajaran cooperative picture and picture dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Fiqih Pembelajaran model model-model pembelajaran cooperative picture and picture memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I . ,19%), siklus II . ,19%), siklus i . ,17%). Model pengajaran kontekstual berbasis masalah dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide dan Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok, serta mampu mempertanggung jawabkan segala tugas individu maupun kelompok. Penerapan pembelajaran model model - model pembelajaran cooperative picture and picture mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA