IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 E-ISSN: 2987-1298 Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Toleransi Beragama Siswa Hakiki1. Najmul Hayat2. Tuti Indriyani3 UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi1-3. Email Korespondensi: kikijambi10@gmail. com, najmuhayat@uinjambi. Article received: 23 Maret 2023. Review process: 03 April 2023. Article Accepted: 15 April 2023. Article published: 01 Juli 2023 ABSTRACT This thesis discusses the strategies of Islamic religious education teachers in fostering students' religious tolerance. The purpose of this study was to describe the attitude of tolerance between religious communities, to find out the strategies of PAI teachers in fostering students' religious tolerance, and to find out the supporting and inhibiting factors of Islamic religious education teachers in fostering religious tolerance. The type of research used is descriptive qualitative type which will describe the facts in the field. Data collection techniques using the method of observation, interviews and documentation. The analysis technique used is data reduction, data presentation and conclusion drawing. Checking the validity of the data using triangulation techniques. The results of this study indicate that . The form of religious tolerance is very good, this can be seen from the interactions between students, teachers, and the relationship between students and teachers, who respect each other, and appreciate, accept every difference, work together and love each other. The PAI teacher's strategy in fostering an attitude of religious tolerance, in general, considers and selects an appropriate approach to achieve goals, considers and determines the steps to be used, determines benchmarks or references for the results of the efforts made. The supporting and inhibiting factors in fostering religious tolerance are the first supporting factors, religious awareness, and respect for pluralism. The two factors hindering religious tolerance are the political legacy of the colonialists, and unfriendly attitudes. Keywords: Strategy. Fostering. Tolerance. Religion. Students ABSTRAK Tesis ini membahas tentang strategi guru pendidikan agama islam dalam membina toleransi beragama siswa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sikap toleransi antar umat beragama, untuk mengetahui strategi guru PAI dalam membina toleransi beragama siswa, dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat guru pendidikan agama Islam dalam membina toleransi beragama. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis kualitatif deskriptif yang akan menggambarkan fakta di lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan reduksi data, penyajian data dan penarik kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa . Bentuk sikap toleransi beragama sangat baik, hal ini terlihat dari interaksi antar siswa, guru, dan hubungan siswa dan guru, yang saling menghormati, dan Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 menghargai, menerima setiap perbedaan, bekerja sama dan saling menyayangi. Strategi guru PAI dalam membina sikap toleransi beragama ,secara garis besar melakukan pertimbangan dan pemilihan pendekatan yag sesuai untuk mencapai tujuan, mempertimbangkan dan menentukan langkah-langkah yang akan digunakan, menentukan tolak ukur atau acuan hasil dari usaha yang dilakukan. Faktor pendukung dan penghambat dalam membina toleransi beragama pertama faktor pendukung, kesadaran beragama, dan menghargai kemajemukan. kedua faktor menghambat toleransi beragama adalah warisan politik penjajah, dan sikap kurang bersahabat. Kata Kunci: Strategi. Membina. Toleransi. Beragama. Siswa PENDAHULUAN Masyarakat Indonesia pada dasarnya merupakan masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks dan berbagai macam suku, bangsa, ras budaya maupun agama. Adanya berbagai macam agama dan iman sebagai kepercayaan Indonesia merupakan suatu kenyataan. Indonesia negara yang berdasarkan pancasila mengakui adanya 5 . agama yaitu Islam. Hindu. Budha. Kristen Katholik. Protestan. Dihadapan dengan kenyataan tersebut, sertiap orang dan umat beriman dituntut untuk mengambil sikap. Sikap yang menegaskan bahwa agama mempunyai kehidupan dalam bermasyarakat salah satunya ialah memupuk persaudaraan umat manusia yang bercerai berai. Hakikatnya semua agama mengajarkan untuk senantiasa hidup damai dan rukun dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan sebuah artikel berjudul hanya 30 persen konflik berakar agama. Artinya bahwa konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan tersebut dapat diatasi dengan bimbingan yang baik, bukan malah Hal tersebut dapat dilakukan melalui proses pendidikan sejak dini. Seorang anak dibimbing dan dikenalkan oleh guru dengan perinsi bhineka tunggal ika, yaitu berbeda-beda tetap satu juga. Selain itu, anak juga diberikan bekal keagamaan yang baik dan diberikan contoh perilaku saling menghargai, menghormati, dan bersedia menerima perbedaan yang ada. Usaha guru dalam menggunakan beberapa tujuan, metode dan alat, serta evaluasi agar dapat mempengaruhi para siswa dalam mencapai tujuan yang telah diterapkan (Suwandi, 2. Indonesia adalah negara yang berlandaskan pancasila, yang memberi dan menjamin kebebasan bagi penduduknya untuk memeluk suatu agama dan kepercayaan yang disukainya tanpa ada paksaan. Hal ini telah dijelaskan dalam UUD 1945 pasal 29: 2 bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Toleransi beragama adalah toleransi yang mencakup masalah pada diri manusia yang berhubungan dengan akidah atau yang berhubungan dengan ketuhanan yang diyakininya. Seseorang harus diberi kebebasan untuk meyakini dan memeluk agama . empunyai akida. masing-masing yang dipilih serta memberikan penghormatan atas pelaksanaan ajaran-ajaran yang dianut atau yang diyakini (Adon, 2. Pembinaan anak dalam keluarga memberikan pengaruh yang sangat besar pada upaya membentuk karakter, watak, serta kepribadian yang baik pada anak, begitu pula sebaliknya pembinaan yang buruk didalam Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 keluarga dapat memunculkan karakter, watak, serta kepribadian anak yang Dampak keberhasilan pembinaan tersebut merupakan bekal dan menjadi pertimbangan anak ketika berhadapan di masyarakat. Pembinaan pada anak paling tidak meliputi 3 macam yakni membina akidah, ibadah serta akhlaknya (Darajat, 2. Pembinaan adalah upaya kegiatan serta tindakan yang dilaksanakan dengan cara berdaya guna untuk mendapatkan hasil yang baik. Arifin berpendapat bahwa pembinaan merupakan upaya sadar untuk melakukan pembimbingan serta pengarahan kepribadian serta kemampuan anak, baik dalam pendidikan formal ataupun non formal (Nurikhsan, 2. Selanjutnya kita analisis kembali, disamping adanya guru berkualitas tentu guru memiliki cara atau strategi yang tepat untuk mendidik peserta didik. Oleh karena itu, startegi disini adalah cara dalam berupaya mewujudkan pendidikan dalam menggapai tugas dari seorang guru PAI. Startegi sendiri menurut Sanjaya Wina dalam konteks belajar mengajar, strategi berarti pola umum perbuatan guru peserta didik didalam terwujudan kegiatan belajar mengajar. Maka dari itu, konsep strategi dalam hal ini mewujud pada karakteristik abstrak rentetan perbuatan guru peserta didik didalam peristiwa belajar mengajar. Cropper dikutip Wiryawan dan Noorhadi menegaskan bahwa setiap tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktikkan (Ahmadi, 2. Pendidikan sebagai pusat kebudayaan merupakan potret bangsa Indonesia yang menunjukkan kebinekaan. Jika pendidikan dikelola dengan baik dan serius ditanamkan semangat nasionalisme . , maka sangatlah berarti dalam mewujudkan wawasan nusantara. Salah satu kunci keberhasilan dalam pendidikan terletak pada tenaga pengajar . Mana kala guru bisa dengan giat menanamkan semangat nasionalisme kepada anak didik, maka usaha untuk membangun kerukunan di tengah masyarakat akan lebih mudah tewujud (Diy. Seperti yang ada di SMP Negeri 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, yang mana di dalam sekolah terdapat siswa siswi dari berbagai macam agama yaitu Islam, kristen dan khatolik, seperti Indonesia kecil yang terdapat berbagai macam agama, suku dan budaya. Mayoritas siswa di SMP Negeri 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi adalah Islam, jumlah siswa dan siswi sekitar 310 dan menjadi objek penelitian yang dipilih oleh peneliti dikarenakan sekolah tersebut bermacam Tujuan peneliti dalam megambil tema ini adalah peneliti ingin melihat dan mengamati strategi apa saja yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam dalam membina toleransi beragama pada siswa di SMP Negeri 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, dengan gejala-gejala yang terjadi pada siswa. Selain itu peneliti juga menyadari bahwa dalam kegiatan ini tentu memiliki pendukung dan tantangan dalam strategi guru pendidikan agama Islam dalam menumbuhkan toleransi beragama, untuk mewujudkan lingkungan masyarakat yang rukun, damai, serta aman dari ancaman peperangan akibat dari perselisihan akibat perbedaan keyakinan. Berdasarkan hal yang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang strategi guru pendidikan agama islam dalam membina toleransi beragama di Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 SMPN 03 Tungkal Ulu Jambi, dengan tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran sikap toleransi antar umat beragama, untuk mengetahui strategi guru PAI dalam membina toleransi beragama siswa, dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat guru pendidikan agama Islam dalam membina toleransi beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yakni penelitian yang memahami pada suatu gejala dan fenomena dengan berbagai metode alamiah (Sugiono, 2. Penelitan dilakukan SMPN 03 Tungkal Ulu Jambi. Subjek penelitian meliputi seluruh karakteristik yang berhubungan sengan Strategi Guru pendidikan Agama Islam Dalam Membina Toleransi Beragama Siswa di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi. Peneliti ini memiliki irforman, yaitu kepala sekolah, guru pendidikan agama Islam, dan siswa yang dalam penetapannya menggunakan snowball samping. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi (Margono, 2. Taknik analisa data dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Sugiono, 2. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Sikap Toleransi Beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi Membahas tentang toleransi beragama merupakan suatu permasalahan yang sangat menarik untuk dibahas dikarenakan permasalahantersebut tidak akan pernah habisnya, namun tetap aktual untuk selalu didiskusikan mengingat negaraIndonesia merupaka negara multikultural. Khusus pada lingkungan sekolah SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, yang terletak di desa Dusun Kebun, kecamatan Batang Asam. Kabupaten Tanjung Jabung barat, dimana baik dalam lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah kita akan senantiasa diperlihatkan dengan keragaman suku, budaya dan agama dalam satu lingkungan (Observas. Toleransi umat beragama yaitu hubungan sesama manusia yang memiliki agama dilandasi dengan sikap menerima, saling menghargai, saling menghormati perbedaan, menghargai kesetaraan dalam pengalaman dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (RI, 2. Sebagai hasil wawancara peneliti dengan Kepala Sekolah bapak Supardi SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, yaitu Bapak Supardi bahwa AuSaya selaku kepala sekolah sangat menekankan dalam membina sikap toleransi beragama khususnya pada siswa, karena di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi jambi merupakan salah satu sekolah yang majemuk, dimana dalam satu lingkungan sekolah terdapat kurang lebih terdapat tiga keyakinan yaitu agama Islam. Agama Kristen Protestan. Agama Kristen Katolik. Sehingga upaya dalam membina sikap toleransi sangatlah dibutuhkan, untuk menanamkan sikap toleransi pada siswa, khusus pada ruang lingkup sekolah kami, dan hal tersebut kami lakukan baik pada Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 penyampaian upacara bendera, melalui pembiasaan dan melalui guru kelas dan guru agamaAy (Wawancar. Kehidupan dalam lingkungan sekolah di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi sudah lumayan bagus dalam perbedaan yang ada, baik itu perbedaan adat istiadat, bahasa dan agama. hal tersebut tentunya sesuai dengan pilar negara Indonesia yaitu Bhineka tunggal Ika . erbeda-beda tapi satu tujua. , pada dasarnya sebagai warga negara yang baik maka setiap individu wajib menjalankan pilar negara tersebut (Observas. Sebagai mana yang telah diungkapkan oleh Bapak Muhammad Zairan. Ag selaku guru pendidikan agama Islam di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, sebagai berikut : AuToleransi di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi sudah lumayan baik dan harus membutuhkan pembinaan, sikap toleransi beragama pada siswa merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan, dikarenakan lingkungan sekolah di SMPN 03 Tungkal Ulu provinsi Jambi terdapat beberapa keyakinan, namun hal tersebut bukanlah alasan untuk kita tidak menghargai satu sama lain. Justru dengan perbedaan tersebut merupakan suatu keyakinan yang harus dijaga sebagaimana ungkapan bahwa pelangi akan indah ketika memiliki beranekaragam warna. Begitupun dengan perbedaan yang ada di lingkungan sekolah SMPN 03 Tungkal Ulu provinsi Jambi pada khususnya, harus saling menghormati dan menghargai kepercayaan atau keyakinan yang dianut orang lain baik itu pada guru dan Hal tersebut ditandai dengan hubungan yang terjalin akrab tanpa melihat status perbedaan yang ada, baik itu hubungan dengan sesama guru, guru dengan siswa maupun hubungan dengan sesama siswaAy. (Wawancar. Sebagaimana hasil observasi lapangan,dimana terlihat guru dan osis memberi bantuan kepada siswa yang kurang mampu baik itu kepada muslim ataupun kepada non Muslim. (Observas. Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa meningkatkan toleransi beragama harus diterapkan dimana saja kita berada. Tantangan untuk terus menjaga kesatuan dan persatuan Indonesia adalah kewajiban kita sebagai generasi muda, generasi penerus bangsa untuk memperkuat dan mempertahankan sikap saling menghormati dan menghargai untuk mejadkan toleransi sebagai sebuah kesadaran bahwa setiap masyarakat meskipun dengan latar belakang suku, agama, dan ras yang berbeda kita adalah sama dan tetap satu. Dan juga sikap toleransi dalam berpendapat ada yang dilandasi dengan sikap saling mengerti satu sama lain yang juga dikuatkan teori dari Kholidia yang mengatakan bahwa tidak terjadi sikap saling menghormati satu sama lain antar sesama manusia bila tidak dilandasi dengan sikap saling mengerti di antara mereka sikap saling mencaci, saling menghina, saling memusuhi dan saling menyalahkan akan timbul karena tidak adanya sikap saling mengerti dan hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup bermasyarakat. Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 Berdasarkan hasil observasi toleransi beragama di sekolah SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi telah tertanam pada diri siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari sikap sehari-harinya dalam menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di sekitar mereka. SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi memiliki berbagai macam budaya, adat istiadat dan keyakinan yang beranekaragam, membina sikap toleransi beragama melalui pembinaan pendidikan Islam merupakan alternatif yang tepat untuk mewujudkan kehidupan yang rukun, damai serta saling menghormati perbedaan yang ada dalam suatu lingkungan (Observas. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Toleransi Beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi. Sikap toleransi memudahkan mencapai mufakat saat bermusyawarah. Karena inti dari sikap toleransi adalah menjunjung sikap menghormati dan menghargai perbedaan pendapat dan juga tidak membeda-beda suku, agama dan ras yang dianut di lingkugan sekolah maupun masyarakat Dengan adanya sikap toleransi, konflik dan perpecahan antar individu maupun kelompok tidak akan Hal tersebut penting untuk diperhatikan mengingat bangsa Indonesia mempunyai latar belakang perbedaan yang beragam. Sikap toleransi patut dijaga demi menjaga keutuhan persaudaraan, tanpa memandang perbedaan. Mengingat besarnya peran toleransi dalam masyarakat, arti toleransi yang sesungguhnya harus diketahui untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari Dalam hal ini peneliti juga melakukan wawancara dengan bapak Supardi selaku kepala sekolah dan hasilnya adalah sebagai berikut: AuDalam proses belajar dikelas ataupun di lingkungan sekolah rasa persaudaraan sangat penting dan selalu diupayakan untuk ditanamkan pada diri setiap siswa dengan hak orang lain agar rasa toleransi dengan siswa yang lain dapat terjalin dengan baik dan juga lingkungan rumah dan sekolah memegang peranan penting dalam mengembangkan toleransi. Jika lingkungan rumah atau sekolah yang ditemui anak bersifat heterogen maka anak dapat memahami perbedaan agama dan kebiasaan yang dilakukan masing-masing agama. Ay(Wawancar. Pembinaan toleransi beragama perlu diwujudkan dalam bentuk programprogram kegiatan di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi. Sebagai dari hasil wawancara secara mendalam serta observasi dan pengamatan langsung dapat diketahui strategi guru pendidikan agama Islam dalam membina toleransi beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi. Berikut hasil wawancara yang peneliti lakukan bersama Ibu Ermaneli guru pendidikan agama Islam di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi sebagai berikut: AuStrategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam membina toleransi beragama ada dua yang harus dilakukan, memalui formal dan non formal. Formal yaitu ketika pembelajaran di kelas ada materi tentang tasamuh atau toleransi, disini saya memberi contoh bagaimana bertoleransi dengan baik antar sesama agama ataupun berbeda agama dengan guru, orang tua maupun teman. Nonformal bagaimana caranya siswa dibina dengan baik. Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 memberi arahan tentang hidup saling berdampingan sesama umat Memberi contoh bagaimana menyelesaikan masalah ketika ada perbedaan agama, semua harus dipantau dan dibina agar terciptanya kerukunan dan keharmonisan dikalangan siswa antar beragama siswa di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi. Ay(Wawancar. Berdasarkan dari hasil observasi dan wawancara dengan salah satu guru pendidikan agama Islam diantaranya yaitu. Guru menjadi suri tauladan . erkelakuan bai. Memberikan kebebasan hak beragama. Menghormati dan menghargai perbedaan agama. Memulai dialog dengan siswa beragama. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan salah satu guru pendidikan agama Islam dengan Bapak Muhammad Zairan mengenai tujuan dari pembinaan toleransi beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi jambi, beliau mengatakan: AuAdapun tujuan toleransi beragama adalah untuk membuat atau membentuk karakter siswa, agar mereka mempunyai sikap saling menghargai dan menghormati dan saling mengerti dengan perbedaan untuk menjadikan kehidupan yang rukun dan tentram dikalangan SMPN ini, contohnya, ketika mereka melaksanakan beribadah mereka saling menghormati dengan tidak memngganggu satu sama lain, menjaga kelakuan mereka ketika ada salah satu agama beribadah. Selanjutnya ada kegiatan bakti sosial, mereka disuruh membawa uang seikhlasnya, dan dikumpulkan untuk diberikan kepada yang tidak mampu, tidak peduli itu beragama Islam ataupun agama non Islam, disini nilai-nilai toleransi mulai tampak dengan hal sederhana itu, contohnya lagi dengan kegiatan sekolah, sekolah mengadakan kegiatan perlombaan dimana semua siswa harus berpartisipasi tidak memandang Islam maupun non Islam, hal seperti ini memiliki tujuan agar siswa bergaul dengan semua teman-temannya tanpa membedakan agama dan latar belakang. Ay(Wawancar. Melakukan pembinaan untuk mewujudkan peserta didik yang memahami akan perintah agama dan senantiasa menjalankan sesuai dengan syariat Islam. Membiasakan siswa dari hal yang kecil untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh agama merupakan suatu kewajiban yang ditanamkan oleh seorang guru kepada siswa agar siswa menjadi terbiasa dan suka menolong dengan tidak memandang dari latar belakang. Selain itu peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu siswi Aulia kelas IX SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi mengatakan sebagai berikut: AuIya biasanya selain didalam kelas guru juga memberikan contoh yang seperti ketika ada kegiatan guru-guru bekerja sama tanpa memandang perbedaan agama, tidak boleh pilih-pilih teman, tidak boleh menjelek-jelekkan agama yang dianut orang lain. (Wawancar. AuKetika ada salah satu agama melakukan ibadah, dengan tidak bergurau, tidak ramai menghargai ketika umat lain melakukan ibadah agar mereka bisa tenang dalam menjalankan ibadah. Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 Kemudia dalam ekstrakurikuler, ada berbagai kegiatan seperti pramuka, nari, dan lain sebagainya ini salah satu strategi guru untuk menyatukan mereka semua agar tidak ada lagi intoleran. Strategi dalam membina toleransi beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi memiliki beberapa aspek, diantaranya: Guru menjadi suri tauladan (Berkelakuan bai. Guru merupakan panutan, teladan dan orang dewasa yang akan menjadi contoh bagi siswa, untuk itu seorang guru atau pendidik tidak hanya bertugas memberikan materi pembelajaran di kelas akan tetapi seorang guru juga harus memberikan contoh keteladanan yang baik bagi para siswa. Salah satu strategi guru PAI dalam membina sikap toleransi beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, yaitu melalui keteladanan. Menghargai dan Menghormati Perbedaan Agama Menghormati keyakinan orang lain mengidentifisikan bahwa natar individu satu dengan yang lain harus mempunyai sifat menerima secara lapang dada untuk menghormati keyakinan orang lain dan memberikan keluasan kepada pemeluk agama yang dianut dan menjalankan ibadahsesuai dengan ajaran masing-masing (Abdullah, 2. Sebagaimana hasil wawancara yang telah peneliti lakukan dengan guru Ermaneli selaku guru Pendidikan Agama Islam di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, sebagai berikut: AuIslam mengajarkan kita saling menghargai perbedaan keyakinan orang lain, wajib menghormati pendapat orang lain, sekedar shering dengan perbedaan yang ada agar tidak terjadi perselisihan, dan menganggap semua agama sama, tidak ada yang salah dan yang paling Ay(Wawancar. Sesuai dengan hasil yang peneliti lakukan, guru Pendidikan Agama Islam membina sikap toleransi siswa dengan cara menghormati perbedaan agama di kalangan SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, ketika agama lain melakukan ibadah guru mengajak siswa agar saling menghargai dan menghormati perbedaan, tanpa adanya saling menghargai dan menghormati tidak bisa dilakukan toleransi beragama dikehidupan. Karena tujuan utama toleransi adalah hidup berdampingan damai dan rukun tanpa adanya perselisihan (Observas. Memberi Kebebasan beragama Memberi kebebasan beragama menjadikan seseorang mampu meniadakan diskriminasi agama, pelanggaran terhadap hak untuk beragama, paksa yang menganggu kebebasan seseorang untuk mempunyai agama dan kepercayaan, hal tersebut sudah dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam membina toleransi beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi. Sebagai hasil wawancara yang telah peneliti lakukan denga guru PAI Muhammad Zairani di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi sebagai berikut: AuUntuk kebebasan beragama saya rasa itu sangan penting karena kalau siswa dipaksa hasilnya atau dampaknya akan buruk, mungkin itu ada rasa ketidak nyamanan atau merasa terganggu. Agama Islam kan sejak dulu Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 tidak pernah memaksa untuk mengikuti ajarannya. Jadi kita tanamkan sifat-sifat tidak memaksa kehendak orang lain. Pada saat saya mengajar mereka, saya beri kebebasan untuk mengikuti pelajaran saya atau tidak, karena saya tidak ingin deskriminasi. Ay(Wawancar. Memulai dialog dengan siswa beragama Kegiatan dialog umat beragama berfungsi sebagai pemecah kesalahpahaman dan prasagka-prasangka yang negatif antar umat beragama jadi dengan adanya toleransi dapat menciptakan kerukunan antar umat Sebagai hasil wawancara yang telah peneliti lakukan dengan guru pendidikan agama Islam di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi sebagai ketika ada permasalahan mengenai perbedaan keyakinan AuKetika ada permasalahan atau perdebatan dengan guru ataupun siswa yang beragama lain, ya saya selesaikan dengan kekeluargaan bang, seperti contohnya perbedaan keyakinan tentang hari valentine, dulu pernah anakanak sering berbagi cokelak, kemudia disaat itu kan menentang akidah bang, disitu juga saya terangkan pelan-pelan dan ditata sebaik mungkin perkataan saya dengan membuka dialog antar siswa beragama bersama semua guru agama yang ada di SMPN 03 Tungkal Ulu Jambi, saya juga memberi kejelasan kepada guru dan siswa yang bergama non muslim tentang hukum valentine di agama Islam sperti apa, dan alhamdulilah mereka menerima bang dengan berjalannya toleransi hidup berdampingan dikalangan siswa di SMP 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi. Ay(Wawancar. Ketika siswa non Islam mengikuti pembelajaran PAI AuKetika saya di kelas waktu pembelajaran di kelas, ada siswa yang mengikuti pembelajaran PAI, nah kita harus menghargai pendapat dan perbedaan antar guru agama lain maupun kepada siswa yang beragama selain Islam, jadi bagaimanapun pendapat ataupun keyakinan mereka ya kita hargai tanpa merubah keyakinan ataupun prinsip kita, dengan cara sharing, saya tidak menyalahkan agamanya dan tidak memaksa untuk mempercayai agama saya, tapi dikelas kita berdiskusi, membuka dialog antar beragama siswa dengan terbuka dan jujur, agar tidak terjadi kesalahpahaman, dan saya menjelaskan lagi ketika ada pertanyaan yang belum paham. Ay(Wawancar. Sesuai dengan hasil, sebagaimana dialog antar beragama siswa berjalan dengan sesuai yang diinginkan, guru memulai membuka dialog antar beragama siswa ketika ada suatu masalah dalam kalangan siswa dan didalam kelas ketika pembelajaran Pendidikan Agama Islam ketika siswa non muslim ikut didalam kelas, dengan adanya dialog antar beragama siswa, berfungsi sebagai pemecah kesalahpahaman dan prasangka-prasangka negatif antar agama siswa jadi dengan adanya toleransi dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama saling menghargai dan menghormati kepada guru maupun siswa yang non muslim akan tercipta rasa nyaman, jadi mereka membuat Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 suasana menjadi nyaman, damai dan menjunjung nilai kemanusiaan dikalangan sekolah SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi jambi. Faktor mempengaruhi guru PAI dalam membina toleransi beragama siswa di SMP Negeri 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi Faktor Pendukung . Kesadaran Beragama SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi adalah sekolah yang heterogen, tidak hanya beragama Islam saja ada beberapa agama lainya, meskipun disana mayoritas agama Islam tapi kesadaran beragama sangat penting dalam faktor pendukung terjadinya toleransi beragama. Wawancara kepada Bapak Zairan Guru PAI di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, yaitu. Auuntuk kesadaran mungkin siswa SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi sudah sadar bang dengan adanya keberagaman agama, jadi mereka sudah menempatkan posisi mereka, begitu juga saya, saya juga sadar dengan lingkungan yang heterogan, ya intinya kita menempatkan yang baik agar terjalin baik toleransi beragamaAy(Wawancar. Faktor pendukung dalam bertoleransi beragama,salah satunya adalah kesadaran beragama, di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi sudah nampak kesadaran bertoleransi entah dikalangan guru maupun dikalangan siswa . sebab kesadaran beragama menjadi nilai yang hakiki dari kemanusiaan yang Faktor Penghambat Di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi toleransi beragama cukup baik, tetapi mungkin ada beberapa siswa yang kurang bersahabat karena faktor individu . atau mungkin dari luar . Faktor dari individu mungkin belum ada sifat yang terbuka atau kurang bersahabat menerima keadaan sekolah dan lingkungan sekitar yang heterogen bermacam-macam siswa dari latar belakang siswa yang berbeda, terutama perbedaan agama. Adapun kesimpulan faktor pendukung dan penghambat dalam membina toleransi beragama adalah faktor pendukung meliputi lingkungan, semangat guru dan orang tua, sekolah yang menyediakan fasilitas kegiatan penanaman toleransi serta kerjasama yang baik antara guru dan orangtua. Sedangkan faktor penghambat berupa keadaan siswa yang berbeda-beda dan tidak adanya buku penghubung orangtua SIMPULAN Kesimpulan dalam penelitian ini pertama. Sikap toleransi beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi sudah lumayan baik, hal tersebut dapat dilihat dari hubungan saling menghargai, mengayomi, saling menghormati, saling menghargai pendapat atas perbedaan yang dianut oleh setiap individu. Kedua. Strategi guru pendidikan agama Islam dalam membina toleransi beragama di SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, guru menjadi suri tauladan bagi siswanya yaitu guru dengan guru, memiliki kepribadian baik yang melekat pada guru Maka dikalangan guru dan siswa telah terjalin toleransi dengan baik. Hakiki. Najmul Hayat. Tuti Indriyani IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam http://ejournal. id/index. php/ihsan Volume 1 Nomor 2 Juli 2023 sikap guru terhadap siswa harus bersikap adil dengan semua siswa tidak membeda-bedakan siswa, dan bekerja sama. Faktor pendukung terjadinya toleransi beragama siswa adalah kesadaran beragama yang meliputi kesadaran antar siswa berbeda agama dan berlaku adil dan bersahabat dengan antar siswa beragama, kesadaran beragama siswa menyadari dan mengenal keberagaman agama dikalangan SMPN 03 Tungkal Ulu Provinsi Jambi, menghargai dengan kesadaran beragama yang tinggi siswa akan semakin baik dalam menghargai dan menghormati antar umat beragama. Faktor penghambat terjadinya toleransi beragama adalah ada beberapa siswa yang kurang bersahabat atau terbuka dalam kehidupan sehari-hari, jadi mereka cenderung pasif dalam bergaul dengan teman sesama beragama maupun berbeda agama. serta kurangnya kerjasama. UCAPAN TERIMAKASIH