Tamasya: Jurnal Pariwisata Indonesia Volume 2. Nomor 2. Juni 2025 E-ISSN: 3064-3260 . P-ISSN: 3064-3287. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/tamasya. Available online at : https://ejournal. id/index. php/Tamasya Praktik Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Pedesaan: Studi Kasus Taman Wisata Alam Egon. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur Michael Rudolfus Sawu 1*. Natalia Kristiani Tandafatu 2. Desiderius Siga Meli Poa 3 Program Studi Ekowisata. Politeknik Cristo Re. Indonesia Alamat: Jl. Wairklau No. Madawat. Kec. Alok. Flores. Nusa Tenggara Tim Korespondensi penulis: m. rudolfussawu@gmail. Abstract. This study aims to analyse the practices of community-based tourism development, the level of community participation and to formulate a collaborative development model to strengthen its management A qualitative approach with a case study design is employed. The researcher conducted observations of community-based tourism practices, in-depth interviews with local residents and a review of relevant literature. The collected data will be analysed using a descriptive qualitative method. The data will be reduced, verified, and concluded based on the analysis carried out. The research findings indicate that although there is considerable potential for adventure tourism, there are still significant shortcomings in its development. Therefore, a collaborative development pathway is needed to enhance the management system in the future, so as to generate meaningful social implications for the local community. Keywords: Community based tourism, community capacity building, level of community participation, collaborative development Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, tingkat partisipasi masyarakat dan merumuskan model pengembangan kolaboratif guna memperkuat sistem Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Peneliti melakukan observasi terhadap praktik pariwisata berbasis masyarakat, melakukan wawancara mendalam dengan penduduk lokal, serta meninjau literatur yang relevan. Data yang dikumpulkan akan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Data akan direduksi, diverifikasi, dan disimpulkan berdasarkan analisis yang dilakukan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun potensi untuk pariwisata petualangan cukup besar akan tetapi masih terdapat berbagai kekurangan yang signifikan dalam pengembangannya. Oleh karena itu, arah pengembangan kolaboratif diperlukan untuk meningkatkan sistem pengelolaan ke depannya, sehingga dapat menciptakan implikasi sosial yang bermakna bagi masyarakat lokal. Kata kunci: Pariwisata berbasis masyarakat, pembangunan kapasitas, tingkat partisipasi masyarakat, pengembangan kolaboratif LATAR BELAKANG Pariwisata merupakan kontributor bagi pembangunan berkelanjutan, sebagaimana tercantum dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. poin 8, 12, dan 14. Kontribusi spesifik sektor ini terhadap penciptaan lapangan kerja diakui dalam tujuan 8, target 8. 9 yang menyatakan bahwa: pada tahun 2030, kebijakan harus dirancang dan diimplementasikan untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan yang menciptakan lapangan kerja dan mempromosikan budaya serta produk lokal (UNWTO, 2. Oleh karena itu, pariwisata menjadi titik fokus bagi banyak negara dalam pembangunan nasional karena potensinya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Pariwisata diakui karena kemampuannya memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional maupun global. Akibatnya. Received: April 16,2025. Revised: April 30,2025. Accepted: Mei 20, 2025. Online Available : May 30, 2025. Praktik Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Pedesaan: Studi Kasus Taman Wisata Alam Egon. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur banyak kebijakan nasional yang diarahkan untuk mempercepat pengembangan sektor Pariwisata pedesaan merupakan bagian dari pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya alam dan budaya secara bijaksana serta dikelola oleh masyarakat lokal. Pariwisata pedesaan memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan perubahan sosial. Pariwisata pedesaan didefinisikan sebagai suatu pengalaman komprehensif yang mencakup kunjungan, tamasya, rekreasi, dan hiburan dalam lingkungan pedesaan. Substansi pedesaan dan warisan budaya tak benda, keindahan alam, dan aktivitas pertanian menjadi inti dari sumber daya pariwisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan (Lu dkk. , 2. Pariwisata pedesaan menjadi pendekatan penting dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Taman Wisata Alam Egon menjadi salah satu target pengembangan pariwisata Secara geografis, lanskapnya sangat estetis dan berpotensi menjadi ikon pariwisata Kabupaten Sikka apabila dikelola dengan baik. Hal ini dikarenakan memiliki potensi pariwisata yang signifikan. Oleh karena itu, pemerintah daerah melalui dinas pariwisata dan kebudayaan secara aktif melakukan upaya pemberdayaan masyarakat. Daya tarik wisata ini masih dalam tahap awal akan tetapi cukup berkembang. Taman Wisata Alam Egon telah mengembangkan atraksi wisata berbasis petualangan . dventure touris. yang didukung dengan keberadaan homestay yang dikembangkan oleh masyarakat lokal. Pengembangan tersebut dilakukan dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai pusat dari upaya pembangunan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, diketahui bahwa status Taman Wisata Alam Egon sebagai potensi wisata hingga kini masih sangat terbatas. Kondisi yang ada menunjukkan bahwa pengembangan komponen produk destinasi sangat terbatas, belum terarah, dan belum terintegrasi secara keruangan. Selain itu, belum terdapat model pengembangan yang dirumuskan, sehingga kegiatan pengembangan sebagai kawasan destinasi wisata belum berjalan secara efektif dan efisien. Hal ini disebabkan oleh minimnya peran para pemangku kepentingan dalam pengembangan pariwisata pedesaan. Padahal, peran pemangku kepentingan sangat penting dalam membangun kapasitas masyarakat. Kapasitas masyarakat yang berkualitas akan memberikan implikasi positif terhadap pengembangan pariwisata pedesaan. Posisi para pemangku kepentingan sangat menentukan keberhasilan pengembangan pariwisata pedesaan. Byrd . menekankan bahwa keberhasilan tersebut sangat bergantung pada keterlibatan aktif para pemangku kepentingan dalam seluruh proses. TAMASYA - VOLUME 2. NOMOR 2 JUNI 2025 E-ISSN: 3064-3260 . P-ISSN: 3064-3287. Hal. Permasalahan dalam penelitian ini adalah minimnya pengembangan kapasitas masyarakat lokal. Padahal, kapasitas masyarakat lokal merupakan aspek yang sangat esensial dalam pengembangan pariwisata pedesaan. Hal ini karena masyarakat hanya dapat berpartisipasi secara aktif apabila memiliki kapasitas. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa pembangunan kapasitas masyarakat diidentifikasi sebagai salah satu cara agar pembangunan masyarakat dapat diwujudkan dan pengembangan pariwisata dapat diatasi (Aref dan Redzuan, 2. Masyarakat lokal memiliki partisipasi yang sangat minim disebabkan oleh keterbatasan sumber daya manusia di bidang pariwisata, minimnya pendanaan, serta kurangnya keterlibatan pemangku kepentingan lainnya untuk memberikan Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam membangun kapasitas Membangun kapasitas masyarakat berarti memberikan pemberdayaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti merumuskan pertanyaan penelitian sebagai A Bagaimana pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Taman Wisata Alam Egon. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur? A Bagaimana tingkat partisipasi masyarakat setempat dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Taman Wisata Alam Egon. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur? A Bagaimana arah pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Taman Wisata Alam Egon. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan pariwisata dan menghasilkan model pengembangan kolaboratif. Peneliti berharap bahwa pariwisata pedesaan dapat berkembang seiring dengan keterlibatan optimal para pemangku Pengembangan kapasitas masyarakat lokal dipandang sebagai kunci keberhasilan dalam pengembangan pariwisata pedesaan. Pembangunan kapasitas masyarakat adalah tentang pemberdayaan masyarakat. Hal ini membantu individu, organisasi, dan komunitas untuk menemukan keterampilan, sumber daya, dan keunggulan geografis yang belum dimanfaatkan dan belum dikembangkan, sehingga memungkinkan mereka untuk mempertimbangkan kembali kekuatan dan peluang dari kemampuan kapasitas masyarakat dalam pengembangan pariwisata (Aref dan Redzuan, 2. Praktik Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Pedesaan: Studi Kasus Taman Wisata Alam Egon. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur KAJIAN TEORITIS Pengembangan Pariwisata Pedesaan HavenAaTang dan Jones . menyatakan bahwa pariwisata pedesaan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi pedesaan dan industri pariwisata secara luas. Sharpley . berpendapat bahwa pariwisata pedesaan masih merupakan aktivitas berskala kecil dan pasif. Hal ini dikarenakan secara tradisional wilayah pedesaan lebih banyak diasosiasikan dengan sektor pertanian. Pariwisata pedesaan mencakup berbagai aktivitas yang beragam, termasuk wisata pertanian, ekowisata, wisata alam, wisata petualangan, wisata warisan budaya, serta wisata kuliner dan minuman (Lane, 2. HavenAaTang dan Jones . juga menyebutkan bahwa di sebagian besar destinasi pariwisata pedesaan, industri pariwisata didominasi oleh bisnis skala kecil dan pengelolanya memegang peran penting dalam mendorong kemajuan industri pariwisata pedesaan. Adikampana dkk . berpendapat bahwa pariwisata pedesaan seharusnya dipandang sebagai bentuk pariwisata yang berkembang di wilayah pedesaan. Kriterianya mencakup berlokasi di daerah pedesaan, menjalankan fungsi-fungsi pedesaan, berskala kecil, bersifat tradisional, tumbuh secara perlahan dan berkelanjutan, serta dikelola oleh komunitas lokal. Pembangunan Kapasitas Masyarakat Pembangunan kapasitas masyarakat dapat mencakup penguatan sumber daya manusia, kapasitas organisasi dan individu, pengembangan fasilitas yang sesuai dan pelatihan di bidang pariwisata, serta penilaian terhadap dampak pariwisata (Bushell dan Eagles, 2. Hounslow . menyebutkan bahwa kapasitas masyarakat adalah kemampuan individu dan komunitas untuk mengelola secara mandiri dan bekerja secara kolektif untuk mendorong serta mempertahankan perubahan positif. Adapun berbagai karakteristik kapasitas masyarakat mencakup aspek-aspek yang berkaitan dengan pengetahuan dan kemampuan untuk mendefinisikan serta mengusulkan solusi atas Diantaranya adalah kemampuan untuk mengevaluasi secara kritis proyek dan aktivitas yang diusulkan. kepemimpinan lokal dan kewirausahaan. keterampilan teknis dan manajerial yang spesifik. jaringan dan kohesi komunitas. kemitraan yang adil dengan organisasi eksternal. sumber daya dan infrastruktur. serta motivasi dan rasa percaya diri (Balint, 2. TAMASYA - VOLUME 2. NOMOR 2 JUNI 2025 E-ISSN: 3064-3260 . P-ISSN: 3064-3287. Hal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mengkaji praktik-praktik pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Fokus utama diarahkan pada pemahaman mendalam tentang kondisi exisisting pengembangan. Tingkat partisipasi masyarakat setempat dan identifikasi potensi model pengembangan di masa Peneliti memperoleh data melalui observasi langsung terhadap praktik pengembangan di lapangan. Misalnya, kondisi atraksi wisata, fasilitas pariwisata, kelembagaan lokal, wirausaha lokal dan promosi serta pemasaran. Peneliti juga melakukan wawancara mendalam dengan masyarakat lokal, industry pariwisata, akademisi dan Dalam rangka memperkuat analisis, peneliti menggunakan telaah literatur yang relevan guna memperkaya konteks analisis. Proses analisis dilakukan secara deskriptifkualitatif yakni melalui mereduksi data berdasarkan situasi faktual dan aspirasi komunitas Selanjutnya, interpretasi atas data dilakukan secara reflektif untuk memahami makna dari praktik yang dijalankan melalui proses verifikasi keabsahan data melalui triangulasi. Dengan demikian, peneliti merumuskan sintesis dari berbagai temuan yang merefleksikan realitas lokal dan arah pengembangan ke depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Taman Wisata Alam Egon Tren kembali ke alam telah menjadi gaya hidup bagi banyak orang, khususnya generasi milenial. Generasi milenial cenderung lebih berani dalam melakukan perjalanan dibandingkan generasi babyboomers. Faktor pendorong keinginan wisatawan milenial untuk berwisata antara lain adalah rasa ingin tahu yang besar dalam mencari pengalaman yang unik, baru, otentik, personal, serta makna yang lebih dalam melalui perjalanan yang dilakukannya (Parhusip dan Arida, 2. Merujuk pada hal tersebut, muncul motivasi untuk melakukan wisata berbasis alam dalam berbagai dimensi. Salah satu jenis pariwisata yang belakangan ini mendapat perhatian besar adalah pariwisata minat khusus. Pariwisata minat khusus merupakan kategori pariwisata yang berfokus pada praktik pariwisata berkelanjutan dalam skala kecil, yang mencakup pariwisata pedesaan, wisata petualangan, wisata alam, wisata budaya dan warisan, serta festival dan event pariwisata. Daya tarik wisata yang terdapat di destinasi ini adalah kawasan wisata andalan, air terjun meang miak, jalur pendakian gunung, air panas, medium panas dan dingin, watu gong dan gua sarang burung wallet. Praktik Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Pedesaan: Studi Kasus Taman Wisata Alam Egon. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur Kawasan wisata alam Egon memiliki berbagai aktivitas wisata petualangan. Daerah ini menawarkan berbagai spot foto yang indah, dikelilingi oleh flora yang unik dan pemandangan pegunungan yang asrih. Selain itu, terdapat juga sumber air alami, seperti mata air panas, mata air hangat, dan mata air dingin. Para wisatawan juga dapat berkunjung ke Watu Gong . atu alami yang berbunyi seperti gon. , gua, dan sarang burung walet. Keanekaragaman daya tarik di kawasan ini menjadi magnet kuat bagi wisatawan. Suasana yang masih alami, topografi pegunungan, dan udara sejuk menciptakan suasana unik bagi para wisatawan yang mencari pengalaman baru. Destinasi wisata ini juga memiliki wisata pendakian gunung yang digemari oleh generasi milenial. Secara konseptual, wisata pendakian adalah aktivitas fisik yang bertujuan untuk rekreasi, olahraga, dan kebugaran. Wisatawan milenial yang melakukan aktivitas ini sering disebut sebagai wisatawan allocentric. Seery dan Paris . menyebutkan bahwa wisatawan allocentric adalah wisatawan yang suka mengunjungi destinasi yang belum dikenal luas, memiliki jiwa petualang, dan ingin menggunakan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat lokal. Potret exisiting menunjukan bahwa terdapat aktivitas pendakian akan tetapi pengembangannya masih belum berjalan dengan baik. Kelompok wisatawan ini berasal dari wisatawan domestik dan juga mancanegara. Potret exsiting fasilitas pariwisata menunjukan bahwa ketersediaanya masih terbatas dan tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan setiap fasilitas wisata di daya tarik wisata ini belum mendapatkan perhatian yang serius. Beberapa daya tarik memang sudah memiliki sarana penunjang, akan tetapi masih sangat terbatas dan kurang terawat. Daya tarik wisata seperti Watu Gong dan Gua Walet belum dikembangkan sehingga belum dikenal secara luas oleh wisatawan. Keduanya terletak tidak jauh dari lokasi mata air panas alami yang memang sudah memiliki beberapa fasilitas akan tetapi pengelolaanya belum dilaksanakan dengan baik sehingga terkesan tidak terawat. Merujuk pada realitas, fasilitas yang tersedia terdiri dari empat buah gazebo di area pintu masuk, satu pos jaga di pintu masuk, dan satu pos jaga lainnya di dekat sumber kolam air panas. Namun, kondisi fasilitas ini kurang terawat. Pengelolaan setiap daya tarik wisata masih sangat sederhana dan hanya dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) di Kabupaten Sikka. Masyarakat lokal belum berpartisipasi aktif, meskipun sudah ada upaya pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwi. Namun, rencana aksi dalam pengembangan tersebut belum berjalan dengan efektif dan efisien. Partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan memerlukan dorongan, khususnya pembangunan kapasitas agar dapat terlibat aktif dalam pengembangannya. TAMASYA - VOLUME 2. NOMOR 2 JUNI 2025 E-ISSN: 3064-3260 . P-ISSN: 3064-3287. Hal. Pada konteks promosi dan pemasaran, destinasi wisata ini belum memiliki kemasan produk yang dipublikasikan secara berkala. Selain itu, belum ada pengembangan media sosial khusus yang berfungsi untuk mengkomunikasikan varian produk yang sedang Hal ini menimbulkan minim informasi kepada wisatawan tentang profil dari destinasi pariwisata ini. Secara riil, kunjungan wisatawan bersifat fluktuatif dan tidak terjadi secara berulang dan berpola. Mayoritas yang berkunjung adalah pengunjung milenial regional yang biasanya terjadi di akhir pekan. Tingkat Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Taman Wisata Alam Secara fundamental, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat perlu memahami dan memanfaatkan faktor-faktor motivasi, kesempatan dan kemampuan masyarakat lokal. Hal ini dimaksudkan untuk merancang program pelatihan, menciptakan kondisi yang mendukung partisipasi dan memotivasi masyarakat untuk ambil bagian aktif dalam proses pengambilan keputusan. Pertimbangan yang berbasis pada motivasi, oportunitas dan abilitas dapat menciptakan lingkungan dimana partisipasi masyarakat bermakna dalam mencapai tujuan pariwisata yang berkelanjutan. Masyarakat lokal belum memiliki motivasi yang kuat untuk mendapatkan manfaat konservasi dan ekonomi dari praktik pengembangan pariwisata ini. Hal ini dapat dilihat melalui keterlibatannya dalam penataan jalur, sanitasi daya tarik wisata dan kerja gotong royong lainnya dalam meningkatan daya saing. Selain itu, pengembangan kewirausahaan juga masih cukup minim dan memerlukan inovasi pengembangan kedepannya. Kondisi ril wirausaha lokal yang ada yakni: 5 homestay, madu asli Egon, jagung manis dan pulut, sayursayuran. Potret oportunitas menunjukan bahwa daerah ini sangat prospektif karena kebijakan pemerintah saat ini sangat mendukung pengembangan pariwisata sebagai pendekatan yang menciptakan ekonomi baru di pedesaan melalui kegiatan konservasi. Daerah ini berada dalam kawasan konservasi sehingga dalam zonasi pengembangan wisata alam memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat aktif. Dengan demikian, pengembangan pariwisata diharapkan dapat memberikan manfaat konservasi yang luas dan juga ekonomi bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan kesejahteraan. Pengembangan tersebut diantaranya adalah optimalisasi daya tarik wisata dan menyelenggarakan aktivitas konservasi di kawasan hutan lindung tersebut. Penyajian daya tarik wisata berbasis alam masih sangat asli di destinasi pariwisata ini. Hal ini mendapatkan sambutan yang positif dari wisatawan karena keunikan dan keindahan yang dimilikinya. Banyak wisatawan yang telah mengunjungi dan merasa kagum dengan Praktik Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Pedesaan: Studi Kasus Taman Wisata Alam Egon. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur keindahan destinasi wisata ini. Namun, kemampuan masyarakat untuk mengorganisasikan dalam usaha pariwisata berbasis masyarakat masih belum berjalan dengan baik. Peneliti menemukan bahwa pertumbuhan komponen produk pariwisata masih sangat minim. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan masyarakat setempat dalam menginovasikan produk pariwisata yang dimiliki untuk dipasarkan. Hal ini sangat krusial dan memerlukan perhatian yang serius untuk meningkatkan pengembangan kedepan. Arah Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Taman Wisata Alam Egon Pengembangan secara kolaboratif merupakan aspek yang sangat penting sebagai mekanisme dalam mengorganisir para pemangku kepentingan demi pembangunan pariwisata yang berkualitas. Pengembangan kolaboratif mampu membantu meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dalam mengelola, memberikan kepuasan bagi wisatawan, serta mendorong partisipasi para pemangku kepentingan untuk menciptakan pariwisata yang Warisan dari pendekatan pariwisata berbasis masyarakat telah menjadi dominan dalam pengembangan masyarakat, dan kolaborasi telah menjadi kunci utama dalam pengembangan pariwisata. Pengembangan pariwisata di Taman Wisata Alam Egon diarahkan pada penguatan kolaboratif lintas pemangku kepentingan. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas pengalaman wisata, memberdayakan masyarakat lokal, dan mendukung konservasi Pariwisata berbasis masyarakat memerlukan dukungan dan sinergi dari pihak lain seperti pemerintah, industri, dan media. Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat hendaknya merujuk pada kapasitas setiap pemangku kepentingan. Dengan demikian, perlu dibangun beberapa kelompok yang memiliki peran strategis sebagai berikut. Kelompok Sadar Wisata: Oe Menjadi motor penggerak kegiatan pariwisata lokal. Oe Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pariwisata berkelanjutan. Oe Menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan destinasi wisata. Kelompok Pemandu Wisata Pendakian: Oe Menyediakan layanan interpretasi lingkungan dan keselamatan pendakian. Oe Memberikan edukasi kepada wisatawan tentang konservasi alam dan budaya lokal. Oe Menjadi garda terdepan dalam menjaga kawasan konservasi. Kelompok Agrowisata: Oe Menyediakan pengalaman wisata berbasis pertanian . arm tour, edukasi tanaman TAMASYA - VOLUME 2. NOMOR 2 JUNI 2025 E-ISSN: 3064-3260 . P-ISSN: 3064-3287. Hal. Oe Mendukung diversifikasi produk wisata dan memperkuat ekonomi lokal. Oe Menyediakan bahan pangan lokal untuk konsumsi wisatawan. Kelompok Wirausaha Lokal (UMKM): Oe Menawarkan produk-produk lokal . uliner, kerajinan, suveni. Oe Mendorong berkembangnya ekonomi kreatif lokal. Oe Menyediakan jasa pendukung pariwisata seperti homestay, transportasi lokal, dan A Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka: Oe Merancang dan menetapkan kebijakan strategis pembangunan pariwisata berbasis Oe Memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM pariwisata lokal. Oe Menyediakan infrastruktur pendukung seperti akses jalan, fasilitas umum, dan promosi digital. Oe Mendorong integrasi pariwisata dengan program lintas sektor seperti pertanian, pendidikan, dan lingkungan hidup. Kolaborasi dengan media industri pariwisata . urnalis, travel blogger, content creato. Oe Meningkatkan visibilitas Taman Wisata Alam Egon melalui promosi digital dan A Oe Mendukung branding destinasi berbasis komunitas. Oe Mengangkat cerita-cerita inspiratif dari masyarakat lokal sebagai daya tarik wisata. Travel Agent dan Tour Operator: Oe Mengemas dan memasarkan paket wisata berbasis komunitas yang berkelanjutan. Oe Menjalin kemitraan dengan pelaku lokal untuk memastikan manfaat ekonomi menyebar ke masyarakat. Oe Menyediakan akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk wisata Taman Wisata Alam Egon. Oe Mengembangkan pola perjalanan wisata yang ramah lingkungan dan inklusif. Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Taman Wisata Alam Egon menuntut kerja sama yang erat, adil, dan partisipatif antara masyarakat, pemerintah, media, dan pelaku industri. Setiap pemangku kepentingan memiliki peran spesifik untuk saling melengkapi dengan tujuan menciptakan destinasi yang berdaya saing, inklusif, dan Dengan demikian, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat tersebut Praktik Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Pedesaan: Studi Kasus Taman Wisata Alam Egon. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat memberikan manfaat nyata baik dari segi konservasi dan ekonomi terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat dan lingkungan hidup. KESIMPULAN DAN SARAN Praktik pariwisata berbasis masyarakat telah menjadi pendekatan pembangunan pariwisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pariwisata berbasis masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pelibatan langsung dalam aktivitas pariwisata seperti pengelolaan homestay, penyediaan jasa wisata, dan pengembangan wirausaha lokal. Keberhasilan praktik ini sangat ditentukan oleh faktor kepemimpinan lokal, partisipasi aktif masyarakat, dukungan kelembagaan dan sinergi dengan pihak luar seperti akademisi, pemerintah, media dan industri pariwisata. Walupun demikian, tantangan dalam implementasinya masih cukup besar. Diantaranya adalah keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, lemahnya manajemen destinasi, dan kurangnya akses terhadap pasar. Oleh karena itu, pendekatan pemberdayaan yang berkelanjutan menjadi kunci dalam mengoptimalkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Berdasarkan kondisi aktual yang ada, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan dan strategis. Salah satu aspek utama yang perlu diperhatikan adalah pelatihan berkelanjutan bagi masyarakat dalam manajemen usaha wisata, pelayanan wisatawan, dan pelestarian lingkungan guna meningkatkan kualitas layanan serta daya saing destinasi. Selain itu, kelembagaan pariwisata di tingkat desa harus diperkuat dengan prinsip partisipatif dan akuntabel agar koordinasi dan pengambilan keputusan dapat dilakukan secara efektif. Kemitraan strategis antara pemangku kepentingan dan masyarakat lokal juga menjadi faktor kunci dalam promosi, pendanaan, dan pengembangan infrastruktur pariwisata. Untuk memperluas akses pasar bagi produk dan layanan wisata berbasis masyarakat, diperlukan strategi promosi yang terintegrasi, termasuk pemanfaatan teknologi digital. Terakhir, pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap dampak praktik pariwisata berbasis masyarakat sangat penting agar pengembangan tetap berada pada jalur yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, pariwisata berbasis masyarakat dapat berkembang secara optimal serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. TAMASYA - VOLUME 2. NOMOR 2 JUNI 2025 E-ISSN: 3064-3260 . P-ISSN: 3064-3287. Hal. DAFTAR REFERENSI Adikampana. Sunarta. , & Pujani. A model of community-based rural tourism products development. Jurnal IPTA, p-ISSN, 2338Ae8633. Balint. Improving community-based conservation near protected areas: The importance of development variables. Environmental Management, 38, 137Ae148. Bushell. , & Eagles. Tourism and protected areas: Benefits beyond Wallingford. UK: CAB International. Byrd. Stakeholders in sustainable tourism development and their roles: Applying stakeholder theory to sustainable tourism development. Tourism Review, 62. , 6Ae13. https://doi. org/10. 1108/16605370780000309 HavenAaTang. , & Jones. Local leadership for rural tourism development: A case study of Adventa. Monmouthshire. UK. Tourism Management Perspectives, 4, 28Ae Hounslow. Genocide and the maintenance of power: Settler colonialism, carcerality, and the new liberal order, 1950Ae1970. Lane. Rural tourism: An overview. In T. Jamal & M. Robinson (Eds. The SAGE handbook of tourism studies . 354Ae. London: Sage Publications Ltd. Lu. Liu. , & Wang. Identification and comparative analysis of rural tourism definitionsAiA quantitative analysis on 50 rural tourism definitions by China Resource Development Market, . https://doi. org/10. 3969/j. Parhusip. , & Arida. Wisatawan milenial di Bali (Karakteristik, motivasi, dan makna berwisat. Jurnal Destinasi Pariwisata, 6. , 299Ae303. Seery. , & Paris. A three dimensional tourist typology. African Journal of Hospitality. Tourism & Leisure, 4. , 1Ae8. Sharpley. Flagship attractions and sustainable rural tourism development: The case of the Alnwick Garden. England. Journal of Sustainable Tourism, 15. , 125Ae143.