Jurnal Harpodon Borneo Vol. No. April 2022 ISSN: 2087-121X INFEKSI BAKTERI PADA INDUSTRI PEMBENIHAN LARVA UDANG WINDU (Penaeus monodo. DI KOTA TARAKAN BACTERIAL INFECTION IN THE HATCHERY INDUSTRY OF GIANT TIGER PRAWN (Penaeus monodo. IN TARAKAN CITY Jimmy Cahyadi*. Zainuddin. Nurfadila Ainun Program Studi Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Borneo Tarakan. Amal Lama 77115 Kalimantan Utara, *email : jimmy@borneo. ABSTRAK Kota Tarakan adalah sentra hatchery produksi larva budidaya udang windu. Namun kualitas larva yang diproduksi masih jauh dari harapan yaitu bebas patogen spesifik dan resisten terhadap penyakit. Pengamatan infeksi bakteria pada fase pertumbuhan larva udang windu dilakukan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat di hatchery dengan pemeriksaan laboratorium menggunakan metode pewarnaan gram dan uji biokimia Hasil pengamatan menunjukkan isolasi bakteria pada post larva udang windu menggunakan media TSA 3% didapatkan masing-masing 7 isolat baik pada Hatchery Amal maupun Hatchery Beringin Tiga dengan karakteristik koloni berwarna kream susu dan kuning serta bentuk koloni irregular, entire, dan law conver. Berdasarkan uji gram negatif dan uji biokimia teridentifikasi jenis. Alcaligenes denitrificans. Pseudomonas diminuta. Shewanella putrefaciens. Bordetella bronchiseptica. Vibrio spp. Alcaligenes faecalis. Flavobacterium breve. Flavobacterium Flavobacterium multivorum. Pseudomonas pseudoalcaligenes. Pasteurella gallinarum. Actinobacillus equuli. Pseudomonas acidovoraus. Vibrio Kata Kunci: Bacteria. Hatchery. Larva Udang windu ABSTRACT Tarakan City is a hatchery center for giant tiger prawn larvae production. However, the quality of the larvae produced is still far from expectations, namely free of pathogens spesific and capable of being resistant to disease. Observation of bacterial infection in the growth phase of tiger shrimp larvae was carried out to determine the cause and proper treatment in the hatchery by laboratory examination used gram stain methods and biochemical tests. The results showed that the isolation of bacteria in tiger prawns post larvae using 3% TSA media obtained 8 isolates in the Amal Hatchery and 8 isolates in the Beringin Tiga Hatchery with the characteristics of the colonies being cream and yellow in color and the colony shape was irregular, entire, and law conversion. Based on the gram test including gram negative and biochemical tests identified the type. Alcaligenes denitrificans. Pseudomonas diminuta. Shewanella putrefaciens. Bordetella bronchiseptica. Vibrio spp. Alcaligenes faecalis. Flavobacterium A Hak Cipta Oleh Jurnal Harpodon Borneo Tahun 2022 Infeksi Bakteri Pada Industri Pembenihan Larva Udang WinduA(Jimmy Cahyadi, dk. Flavobacterium thalpophilum. Flavobacterium multivorum. Pseudomonas pseudoalcaligenes. Pasteurella gallinarum. Actinobacillus equuli. Pseudomonas Vibrio parahaemolyticus. Yersinia enterocolitica dan \pseudomonnas alcaligenes. Keywords: Bacteria. Hatchery Tiger prawn larvae PENDAHULUAN Budidaya adalah salah satu kegiatan mengurangi jumlah kematian akibat penangkapan yang berlebihan serta Beberapa hal yang paling penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan budidaya adalah menghasilkan udang yang berkualitas dan unggul, penyakit menjadi indikator utama selain dari kelalaian operasional pemeliharaan (Iromo et al, 2. Pembenihan adalah salah satu bentuk unit pengembangan budidaya udang. Unit pembenihan ini merupakan salah satu titik awal untuk memulai budidaya udang windu di Kota Tarakan. Namun kualitas larva yang diproduksi masih jauh dari harapan yaitu bebas patogen spesifik dan mampu resisten terhadap penyakit (Cahyadi, 2. Beberapa spesies Vibrio patogen telah banyak dilaporkan menyebabkan tingkat kematian benih yang sangat tinggi pada panti pembenihan di wilayah Asia Tenggara dan Selatan (Otta et al. , 2. Chatterjee dan Haldar . menyatakan beberapa spesies Vibrio yang sering dilaporkan menyebabkan infeksi vibriosis diantaranya harveyi. V aguillarum dan V. Infeksi vibriosis menurut Menurut Cahyadi, dan Gusman . serangan vibrio dapat terjadi pada semua stadium fase umur larva hingga post larva udang windu. Benih udang dapat terinfeksi beberapa penyakit yang dapat disebabkan oleh virus parasit jamur dan bakteri (FAO, 2. Bakteri Vibrio sp. merupakan bakteri Gram negatif, bersifat motil, oksidase positif, berbentuk sel tunggal, batang pendek bengkok atau lurus, berukuran panjang 1,45,0 m dan lebar 0,3-1,3 m, fermentatif mempunyai flagela di salah satu kutubnya, tidak membentuk asam dari glukosa dan dapat menggunakan sukrosa sebagai sumber energinya (Lavilla-Pitogo et al. 1990 dalam Cahyadi et al, 2. Bakteri Vibrio pada umumnya menyerang larva udang pada stadia zoea. Mysis dan awal post larva. Oleh karena itu kehadiran bakteri Vibrio merupakan kendala dalam budidaya udang (Cahyadi et al, 2. Kondisi ini harus diperhatikan para pembudidaya yang ada di Kota Tarakan. Infeksi patogen pada tingkat benih menurut Shailender . dapat terjadi pada tingkat stadium larva yang bervariasi. Hal tersebut terkait pada tingkat ketahanan larva, jenis patogen, kondisi lingkungan . Faktor menyebabkan kematian pada udang windu disebabkan oleh bebas patogen spesifik. Timbulnya penyakit pada udang di sebabkan terjadinya interaksi yang tidak seimbang antara kondisi udang dan Faktor yang mempengaruhi stress pada udang salah satunya adalah infeksi oleh bakteri (Zulkarnain, 2. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa infeksi bakteri yang menginfeksi pada udang windu (Penaeus monodo. di Hatchery Kota Tarakan. METODOLOGI Lokasi Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juli 2021 pada Laboratorium A Hak Cipta Oleh Jurnal Harpodon Borneo Tahun 2022 Jurnal Harpodon Borneo Vol. No. April 2022 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UBT dengan sampel larva udang windu (Penaeus monodo. yang diambil dari hatchery Beringin Tiga dan Hatchery Amal pada fase Post Larva 10 masing-masing sebanyak 7 Tahapan persiapan di laboratorium meliputi sterilisasi alat dan bahan. Isolasi bakteri, identifikasi bakteri, dan analisis Prosedur Penelitian Sterilisasi alat dan bahan dilakukan dengan menggunakan autoklaf pada temperatur 121 AC dengan tekanan 1 atm selama 15 menit untuk menghilangkan kontaminasi bakteri atau mikroorganisme lain (Marlina, 2. Identifikasi Bakteri Vibrio harveyi Identifikasi adalah dilakukan dengan mencari ciri pada organisme yang belum diketahui kemudian dibandingkan dengan organisme yang telah diketahui. Bakteri Vibrio pada kepala udang windu (Penaeus identifikasi laboratorium Cowan and SteelAos, (Barrow dan Feltham,1. Khusus kelompok vibrio spp koloni yang tumbuh pada media TSA 3% diamati secara visual setelah proses inkubasi selama 24 jam dan di lanjutkan pemurnian di TSA 3% dan diikubasi selama 24 jam dengan suhu ruang 37oC dengan melihat karakter, pencatatan Gram kebutuhan oksigen, motility indole ornitin dan motilitas. Pengujian Pengujian gram positif atau negatif dengan alat bantu mikroskop binokuler dengan perbesaran 10000AAm. Indikasi pewarnaan yaitu bakteri gram positif akan berwarna biru keunguan dan bakteri ISSN : 2087-121X Pewarnaan menggunakan lebih dari satu pewarna dan memiliki reaksi berbeda untuk setiap jenis bakteri, sehingga dapat membedakan dua kelompok besar yaitu gram positif dan gram negatif dilanjutkan uji utama (KOH, oksidase, katalas. dan uji lanjutan motility oksidase/fermentatif, glukosa, lysin dekarboksilase dan arginin dyhidrolas. (Pratiwi, 2. Analisa Kualitas Air Parameter kualitas air yang diukur sebagai data pendukung dalam penelitian meliputi Dissolved Oksigen (DO), suhu, pH, dan salinitas Pengukuran parameter kualitas air dilakukan bersaman dengan pengambilan sampel larva udang windu. Analisis Data Data pemeriksaan bakteri pada tiap pengamatan fase pertumbuhan yang telah diperoleh dari masingAemasing hatchery dihitung dan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan data lebih lanjut perhitungan hasil pengamatan dilakukan secara statistik analisa sidik ragam. HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi Bakteri Post Larvae Hasil isolasi bakteri pada post larva udang windu menggunakan media TSA (Triptic Soy Aga. 3% . , dengan melihat bentuk morfologi koloni yang tumbuh dengan karakteristik koloni berwarna kream susu dan kuning. Bentuk koloni tidak teratur . , seluruh tepi koloni . , dan elevasi ketinggian koloni . aw conve. A Hak Cipta Oleh Jurnal Harpodon Borneo Tahun 2022 Infeksi Bakteri Pada Industri Pembenihan Larva Udang WinduA(Jimmy Cahyadi, dk. Tabel 1. Hasil Isolasi Bakteri No Kode Isolat Bentuk Koloni Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Irregular Elevasi Koloni Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Law Conver Koloni bakteri yang tumbuh berwarna kream dan kuning . ambar 1 Mailoa dan Setha . berpendapat bahwa, warna koloni yang berwarna kuning mampu memfermentasi sukrosa serta mampu menurunkan pH pada media TSA. Tepi Koloni Entire Entire Entire Entire Entire Entire Entire Entire Entire Entire Entire Entire Entire Entire Warna Koloni Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning gram menggunakan lebih dari satu pewarna dan memiliki reaksi berbeda untuk setiap jenis bakteri, sehingga dapat membedakan dua kelompok besar yaitu gram positif dan gram 2able2ve (Pratiwi, 2. Gambar 2. Pewarnaan Gram Bakteri Gambar 1. Warna Koloni Bakteri dan Pemurnian Media TSA 3% Pewarnaan Gram Bakteri Indikasi pewarnaan gram yaitu bakteri gram positif akan berwarna biru keunguan dan bakteri gram 2able2ve berwarna merah (Gambar . Pewarnaan Hasil dari pewarnaan gram yang dilakukan dari 14 isolat terdapat bakteri pada sampel yang bersifat gram 2able2ve selain itu bentuk morfologi sel bakteri dari 16 isolat berbentuk batang/bacil dan Kokus/bulat pada . able 2 ). Bakteri yang terdapat pada larva udang windu diduga bisa melakukan perubahan bentuk sel dari bentuk batang menjadi kokus/bulat termasuk terjadinya pengurangan diameter dan volume sel . -67%) yang disebut sferik ultramikrosel bila kebutuhan nutrisi pada media kurang dan umur dari bakteri sudah tua sekitar antara 1-7 hari (Kondo et , 1. A Hak Cipta Oleh Jurnal Harpodon Borneo Tahun 2022 Jurnal Harpodon Borneo Vol. No. April 2022 ISSN : 2087-121X Tabel 2. Morfologi bakteri berdasarkan pewarnaan gram Bakteri Morfologi Sel Sifat Gram Bentuk Sel Alcaligenes Negatif Kokus Pseudomonas Negatif Basil Shewanella Negatif Kokus Bordetella Negatif Kokus Vibrio spp. Negatif Basil Alcaligenes faecalis Negatif Basil Flavobacterium Negatif Flavobacterium Negatif Basil Flavobacterium Negatif Kokus Pseudomonas Negatif Kokus A Hak Cipta Oleh Jurnal Harpodon Borneo Tahun 2022 Infeksi Bakteri Pada Industri Pembenihan Larva Udang WinduA(Jimmy Cahyadi, dk. Tabel 2. Morfologi bakteri berdasarkan pewarnaan gram . No Bakteri Morfologi Sel Sifat Gram Bentuk Sel 11 Pasteurella Negatif Basil 12 Actinobacillus Negatif Kokus 13 Pseudomonas Negatif Basil 14 Vibrio Negatif Kokus Karakterisasi Bakteri Vibrio spp. Berdasarkan didapatkan 14 isolat bakteri Vibrio spp. yang akan dikarakterisasi secara mendalam setelah melakukan pemurnian pada koloni bakteri diinkubasi dalam inkubator selama 24 jam dengan suhu ruang 37o C untuk mengetahui identitasnya. Berbagai uji dilakukan seperti uji utama dan uji lanjut. disterilkan lalu dilakukan pengamatan. Pengamatan uji KOH dianalisa dengan melihat lendir, apabila terdapat lendir mengindikasikan isolat tersebut adalah gram negative apabila tidak memiliki lendir isolate maka merupakan gram positif (Dwyana dan Gobel, 2. Pengujian Utama Pengujian KOH 3% Pengujian KOH mengamati pembentukan lendir yang terjadi pada saat koloni bakteri yang dicampurkan bereaksi dengan larutan KOH 3%. Hasil yang didapatkan dalam pengujian KOH 3% disimbolkan gram negative (-) kemudian catat hasil yang didapatkan dilembar bakteriologi . Pengujian dengan menggunakan larutan KOH dengan cara ditetesi larutan ke atas kaca preparat yang telah disterilkan dengan alkohol, lalu menggunakan tusuk gigi yang telah Gambar 3. Pengujian KOH 3% Pengujian Katalase Pengujian H2O2 . %) dengan mengamati pembentukan gelembung udara yang terjadi pada saat koloni bakteri yang dicampurkan bereaksi dengan H2O2 . %) Hasil yang didapatkan adalah terjadinya gelembung udara yang disimbolkan A Hak Cipta Oleh Jurnal Harpodon Borneo Tahun 2022 Jurnal Harpodon Borneo Vol. No. April 2022 katalase ( ) kemudian catat hasil yang didapatkan dilembar laporan uji sementara pemeriksaan bakteriologi gambar 5 ). Untuk menentukan adanya katalase, hydrogen peroksida (H2O. pada koloni Kemudian satu tetes larutan H2O2 ISSN : 2087-121X diteteskan diatas permukaan koloni. Pada bakteri yang bersifat katalase positif terlihat adanya pembentukan gelembung gas disekitar koloni dan jika gas tidak terbentuk katalase berate katalase negatif (Ijong. Gambar 4. Pengujian Katalase H2O2 Pengujian Oksidase Berdasarkan hasil dari uji oksidase berubah warna menjadi biru yang disimbolkan Oksidase ( ). Uji oksidase berfungsi untuk menentukan adanya sitokrom oksidase yang dapat ditemukan pada bakteri tertentu Gambar 6. Kertas paper oksidase diambil, lalu digoresi satu isolate bakteri, goreskan pada kertas oksidase lalu dilihat perubahan warna pada goresan isolat, reaksi oksidase positif ditandai dengan munculnya warna biru keunguan pada goresan (Dwyana dan Gobel, 2. Gambar 5. Pengujian Oksidase Pengujian Lanjut Pengujian (Oksidatif / Fermentati. Berdasarkan perubahan uji O/F (Oksidatif / Fermentati. menunjukkan hasil berubah warna kuning . maka disebut Fermentatif (F) Gambar 7. Sedangkan parrafin bertujuan untuk mengetahui sifat oksidatif atau fermentasi bakteri terhadap glukosa denga menggunakan dua tabung reaksi yang salah satunya ditutupi dengan paraffin, sehingga diharapkan di dalam media tidak terdapat udara yang dapat mendukung terjadinya fermentasi (Barrow dan Feltham,1. A Hak Cipta Oleh Jurnal Harpodon Borneo Tahun 2022 Infeksi Bakteri Pada Industri Pembenihan Larva Udang WinduA(Jimmy Cahyadi, dk. menusuk kedalam tabung media Glukosa kemudian diingkubasi selama 24 jam pada suhu 37AC. Hasil pengamatan media glukosa adalah ( ) karena media berubah warna menjadi kuning (Gambar . , kemudian di amati hasil lembar laporan hasil uji sementara bakteriologi (Barrow dan Feltham,1. Gambar 6. Pengujian O/F Pengujian Motility Idol Ornithin Pengujian pewarnaan media MIO (Motility Idol Ornithi. setelah diinkubasi dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 37AC dengan melihat hasil media MIO yang dihasilkan ( ) karena bakteri pada daerah setrikan menyebar atau media menjadi keruh dan hasil pembacaan Indole dilakukan dengan menambahkan satu tetes kovaks pada media MIO hasil yang didapatkan adalah (-) (Gambar . , karena tidak terbentuk cincin merah pada permukaan atas media. (Barrow dan Feltham,1. Gambar 7. Pengujian Glukosa Pengujian TSIA Hasil pengujian pewarnaan pada media TSIA tegak dan miring setelah menusukkan biakan bakteri ke dalam media TSIA tegak dan TSIA miring kemudian diinkubasi kedalam inkubator selama 24 jam pada suhu 37AC hasil yang didapatkan adalah pada media TSIA tegak dan TSIA miring mengalami perubahan warna kuning yang telah mengalami terjadinya reaksi Asam (A) . (Barrow dan Feltham,1. Gambar 8. Pengujian MIO Pengujian Glukosa Hasil didapatkan pada pengujian media glukosa setelah mengambil biakan bakteri dengan jarum ose steril dan Gambar 9. Pengujian TSIA A Hak Cipta Oleh Jurnal Harpodon Borneo Tahun 2022 Jurnal Harpodon Borneo Vol. No. April 2022 Hasil isolasi dan karakterisasi kedua hatchery terdapat bakteri genus Vibrio spp dan genus lainnya. Hasil karakterisasi dan identifikasi bakteri pada Hatchery Pantai Amal meliputi: A. Kemudian Karakterisasi Identifikasi Bakteri Hatchery Beringin 3 meliputi : Vibrio spp. Faecalis. Kualitas Perairan Data kualitas air di ukur pada saat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan, dapat tabel 3. Tabel 3. Kualitas Perairan Suhu pH DO Salinitas Pantai Amal 1 7,6 6,04 Pantai Amal 2 7,6 5,65 Beringin i 1 7,9 6,35 Beringin i 2 7,9 5,92 Referensi : Rakhmatun dan Mudjiman, 2003 Kisaran Optimal Suhu 29-30 0C . pH 7,6 Ae 7,9 . DO 5-7mg/l . Salinitas 30 ppt. ISSN : 2087-121X umumnya bakteri bersifat patogen dalam kondisi lingkungan . ualitas ai. yang buruk dapat menyerang dan mematikan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 14 isolat yang mengontaminasi udang windu (Penaeus monodo. ukuran post larvae (PL) 11-12 pada perwakilan hatchery di Kota Tarakan. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat spesies dan susunan genus bakteri yang sudah melakukan penelitian tentang identifikasi bakteri di Hatchery Kota Tarakan. Hatchery Seharusnya kondisi kualitas air tersebut bakteri tidak muncul, namun kenyataannya pada penelitian ini masih tetap ditemukan. Kemunculan bakteri di hatchery Kota Tarakan ini diduga tidak memiliki kolerasi dengan kondisi kualitas air di hatchery (Cahyadi dan Gusman. Bakteri yang ada di udang windu, walaupun masih dalam batasan yang tidak menyebabkan kematian, namun apabila kondisi kualitas air buruk maka akan menyebabkan kematian massal seperti yang dikemukakan oleh Wedemeyer dan Wood . menerangkan bahwa bakteri ini dapat menyerang udang saat oksigen terlarut kurang dari 6 ppm suhu 10oC dan salinitas 10 Ae15 ppt. Lightner . dalam Cahyadi . menyatakan bahwa pada UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada DIPA Universitas Borneo Tarakan Nomor. 202/UN51/KPT/2021 Tahun 2021 yang telah membiayai penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA