Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Peran Celebrity Endorser. Social Media Marketing dan Gaya Hidup terhadap Impulse Buying: Studi pada Pengguna Body Lotion Scarlet Whitening Siva Bella Dina. Marlien Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomika dan bisnis. Universitas STIKUBANK sivabelladina@mhs. id, marlien@edu. ABSTRACT This study aims to determine the effect of celebrity endorser, social media marketing, and lifestyle on impulsive buying behavior Scarlett Whitening body lotion product. By using a purposive sampling technique, 102 respondents were obtained by a Google form questionnaire which was distributed via social media. The resulting data were processed and analyzed using multiple linear regression analysis methods, by using the classical hypothesis test to examine the accuracy of the model and the t-test and coefficient of determination (R. test to analyze the The results prove that celebrity endorsers and lifestyle have a positive and significant effect on impulse buying. On the other hand, social media marketing has proven to have no effect on impulse buying. Keywords: Celebrity Endorser. Social Media Marketing, lifestyle, and Impulse Buying ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara celebrity endorser, social media marketing, dan gaya hidup terhadap perilaku impulse buying pada produk body lotion Scarlett Whitening. Menggunakan teknik purposive sampling, 102 responden diperoleh dengan menggunakan kuesioner Google Form yang disebarkan melalui media sosial. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis dengan teknik analisis regresi linear berganda menggunakan uji asumsi klasik untuk menguji ketepatan model, serta uji T dan uji koefisien determinasi (R. untuk pengujian hipotesis. Hasilnya menunjukkan bahwa celebrity endorser dan gaya hidup berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap impulse buying. Sedangkan social media marketing terbukti tidak berpengaruh terhadap impulse buying. Kata kunci: Celebrity Endorser. Social Media Marketing, gaya hidup, dan Impulse Buying PENDAHULUAN Peningkatan penjualan produk skincare mengalami perubahan yang signifikan setiap tahunnya, tanpa terkecuali produk body lotion Scarlett Whitening yang dilansir dari data compass. id mencapai puncak market share sebesar 11,32%, mengungguli beberapa merek terkenal seperti Vaseline dan Nivea. Berdasarkan hasil data pra-penelitian oleh penulis terhadap Scarlett Whitening ditemukan bahwa konsumen memiliki respons baik dan memilih produk tersebut bukan hanya karena kualitas, namun dipengaruhi pula oleh promosi yang gencar dilakukan oleh Scarlett 1274 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Whitening, yang tidak lain memanfaatkan peluang dengan menghadirkan celebrity endorser, serta memanfaatkan social media marketing dan gaya hidup konsumennya untuk menarik daya beli. Gencarnya promosi dan banyaknya pembicaraan secara masif, cenderung membuat seseorang berbondong untuk melakukan pembelian tanpa terencana. Menurut Dwi Kurohman dan Alimuddin Rizal . impulse buying merupakan pembelian yang dilakukan secara tiba-tiba dan tanpa ada minat Sehingga, impulse buying sering terjadi karena adanya sebuah kegiatan promosi atau iklan yang berlebih terkadang memberikan pengaruh bagi perilaku konsumen untuk melakukan pembelian yang berlebih secara tidak rasional, dan tanpa mencari informasi lebih mengenai produk tersebut. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan menurut Ika dan R. A Marlien . impulse buying merupakan suatu proses pembelian barang yang mana pembelian tersebut tanpa adanya suatu Dalam hal ini konsumen membeli suatu produk bukan lagi untuk memenuhi kebutuhannya, namun semata-mata hanya untuk memuaskan keinginan dan Menurut Setiana dan R. A Marlien, . celebrity endorser adalah suatu iklan yang menggunakan orang atau publik figure dalam mendukung dalam mempromosikan suatu produk ataupun perusahaan. Peran dari public figure ini, diharapkan akan dapat membuat merek memperoleh perhatian lebih dari ketenaran dari individu tersebut, yang sering kali menjangkau kelompok tertentu. Dalam Penelitian Yudha dan Kristina Anindita, . membuktikan celebrity endorser public figure yang memiliki keahlian dalam membicarakan suatu produk yang didukung guna mempengaruhi perilaku ataupun sikap seseorang terhadap produk yang diiklankannya. Penelitian yang dilakukan oleh Lina dan Asep . dan Yossi dan Rinaldi, . menyatakan bahwa pada pengaruh celebrity endorser berpengaruh signifikan dan positif terhadap impulse buying. Sedangkan menurut Mimi dan Seta, . menyatakan bahwa celebrity endorser tidak berpengaruh terhadap impulse buying. Samuel Rivaldi dan Ajeng Aquinia, . menyatakan bahwa social media marketing merupakan teknik marketing yang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mempromosikan suatu produk atau jasa. Sedangkan promosi media sosial oleh Safitri dan Robertus Basiya, . merupakan sarana bagi konsumen yang menyediakan berbagai informasi teks, gambar, video dan audio yang berhubungan dengan suatu produk maupun perusahaan. Pemasaran sosial media menggunakan komunitas online, jejaring sosial, blog pemasaran dan masih banyak Social media marketing merupakan tambahan terbaru dalam dunia marketing dimana digunakan untuk menjalin komunikasi pada rencana pemasaran terpadu. Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh Mariah dan Siti . Mariah dan Asri, . menyatakan bahwa pada social media marketing berpengaruh signifikan dan positif terhadap impulse buying. Sedangkan menurut Rizqi dkk. , . menyatakan bahwa pada social media marketing tidak berpengaruh terhadap impulse buying. 1275 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Gaya hidup menurut Daniyah Khansa dkk. , . merupakan penggambaran tentang keseluruhan diri seseorang dalam bertindak dan berinteraksi dengan dunia dan lingkungannya. Menurut Alaziz dan Endang Tjahjaningsih . Gaya hidup mencerminkan masalah apa saja yang sebenarnya terjadi pada konsumen di dalam pikirannya yang berbaur pada berbagai hal yang terkait dengan masalah emosi dan psikologis konsumen. Menurut Setiyana dan Suzy Widyasari, . Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya yang diekspresikan melalui aktivitas, minat dan opininya. Penelitian yang dilakukan oleh Renggani dan Hendra . Veliana dan Eristia . Menyatakan bahwa pada gaya hidup berpengaruh signifikan dan positif terhadap impulse buying. Sedangkan menurut Hikmawati, dkk. , . menyatakan bahwa variabel gaya hidup berpengaruh tidak signifikan dan negatif terhadap impulse Berdasarkan uraian di atas, terdapat research gap atau perbedaan hasil pada penelitian sebelumnya, baik itu pengaruh celebrity endorser terhadap impulse buying, ataupun pengaruh social media marketing dan gaya hidup terhadap perilaku pembelian impulsif atau impulse buying. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian guna mengetahui serta menganalisis pengaruh dan peran dari celebrity endorser, social media marketing dan gaya hidup dalam mendorong terjadinya perilaku impulse buying. TINJAUAN LITERATUR Impulse Buying Menurut Sumarwan, . , impulse buying adalah suatu proses pembelian suatu barang, dimana pada awalnya pembeli tidak mempunyai niatan untuk melakukan suatu pembelian, yang mana pembelian tersebut dilakukan tanpa adanya rencana atau spontan. Sedangkan menurut Bagas Mahendra dan Ignatius Hari, . juga menyatakan bahwa pembelian impulsif merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dalam membeli sesuatu secara spontan tanpa adanya pertimbangan sebelumnya. Celebrity Endorser Menurut (Kertamukti, 2. celebrity endorser adalah seseorang yang memiliki pencapaian besar dan dikenal oleh publik selain dari pada produk yang didukungnya, celebrity dipandang figure banyak diminati oleh masyarakat yang mempunyai keunggulan pada bidang masing-masing yang membedakan dari yang Sedangkan, oleh Nur dan Rahmidani . , celebrity endorser adalah pembicara untuk suatu merek produk sehingga merek tersebut mudah diingat audience. Dimensi dan indikator celebrity endorser oleh (Shimp, 2003:. , meliputi: Expertness, membintangi produk 1276 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Trustworthiness, merupakan kebenaran dan konsistensi informasi dalam Likability, sebagai daya tarik endorser dalam sebuah iklan Respect, merupakan rasa percaya atas endorser sebagai bintang iklan dalam Similarity, mencakup kesamaan karakter endorser dengan target iklan. Social Media Marketing Social media marketing adalah komunikasi dua arah yang mencari empati dengan pengguna, dan aktivitas media sosial dari sebuah merek memberikan peluang untuk mengurangi kesalahpahaman dan prasangka terhadap merek, serta untuk meningkatkan nilai merek . rand valu. dengan membuat platform untuk bertukar ide dan informasi dengan masyarakat (Kim dan Ko, 2. Sedangkan oleh menurut Hanaysha, . social media marketing merupakan sarana komunikasi secara online dimana individu dapat berbagai dan bertukar informasi satu sama lain terlepas dari lokasi dimana mereka berada. Seiring dengan berkembangnya teknologi masyarakat pun banyak yang menggunakan media sosial untuk bersosialisasi dan menari informasi sehingga perusahaan memanfaatkan situasi ini untuk melakukan pemasaran melalui media sosial . ocial media marketin. Terdapat lima dimensi atau indikator dalam social media marketing oleh (Alhadid, 2. , meliputi: Online communities, mencakup hubungan antar anggota komunitas media Interaction, terdiri atas kemudahan berpendapat dan berinteraksi di forum media sosial Sharing of content, meliputi keinginan berbagi informasi dan beropini di media sosial Acessibility, mencakup kemudahan akses atas suatu informasi dan mengambil Credibility, merupakan relevansi informasi untuk membangun kepercayaan Gaya Hidup Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya yang diekspresikan melalui aktivitas, minat dan opininya (Handrian & Euis Soliha, 2. Setiadi . mendefinisikan gaya hidup sebagai ara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana seseorang menghabiskan waktu mereka . , apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya . , dan apa yang mereka pikirkan tentang dari mereka sendiri dan juga dunia di sekitarnya . Menurut Setiadi . gaya hidup dapat berkembang melalui beberapa dimensi yakni: Activity, mencakup kegiatan yang dikerjakan dan konsumsi yang dilakukan Interest, terdiri atas kesukaan, kegemaran dan prioritas hidup seseorang 1277 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Opinion, merupakan pandangan seseorang pada diri sendiri, produk dan Gambar 1 Model Kerangka Pemikiran Hubungan Celebrity Endorser terhadap Impulse Buying Penggunaan celebrity endorser ialah sebagai juru bicara merek atau produk agar cepat melekat di benak konsumen sehingga konsumen mau membeli produk tersebut (Royan, 2004:. Adanya celebrity endorser dapat mendorong konsumen untuk melakukan pembelian karena konsumen tergiur atau tertarik dari apa yang selebriti tersebut pakai atau promosikan demi memenuhi kebutuhannya ataupun keinginan untuk mendapatkan keindahan yang sama dengan sang idola jika menggunakan produk yang sama dan memunculkan perilaku impulse buying. Sejalan dengan penelitian Lina dan Asep, . dan Yossi dan Rinaldi, . yang menyatakan celebrity endorser berpengaruh positif terhadap impulse buying, diketahui bahwa tersebut diketahui responden melakukan keputusan impulse buying yang disebabkan oleh adanya promosi dari celebrity endorser. Sehingga hipotesis yang diajukan, yaitu H1: Celebrity Endorser berpengaruh positif terhadap Impulse Buying. Hubungan Social Media Marketing terhadap Impulse Buying Menurut Kim dan Ko, . social media marketing adalah komunikasi dua arah yang menari empati dengan penggunaan dan aktivitas media sosial dari sebuah merek serta untuk meningkatkan nilai merek memberikan peluang untuk mengurangi kesalahpahaman dan prasangka terhadap merek serta untuk meningkatkan nilai merek . rand valu. dengan membuat platform untuk bertukar ide dan informasi dengan masyarakat. Hasil penelitian Mariah & Asri, . yang menyatakan social media marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying. adanya hasil bahwa social media marketing memiliki peran yang besar untuk memberi informasi atau membuat konsumen melakukan impulse buying. Sehingga hipotesis yang diajukan, yaitu: H2: Social Media Marketing berpengaruh terhadap Impulse Buying. Hubungan Gaya Hidup terhadap Impulse Buying 1278 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Menurut Kotler dan Keller, . gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia sebagaimana diungkapkan dalam aktivitas, minat dan pendapat. Sebagai pemasar harus dapat mengetahui hubungan antara produk dan gaya hidup Hasil penelitian Renggani dan Sanoesi . dan Veliana & Eristia, . yang menyatakan bahwa gaya hidup berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying yang berarti adanya gaya hidup yang dilakukan konsumen agar mendapatkan apa yang mereka inginkan demi memenuhi kepuasannya, sehingga dengan adanya perilaku yang seperti ini dapat menimbulkan adanya impulse buying. Sehingga hipotesis yang diajukan, yaitu: H3: Gaya Hidup berpengaruh positif terhadap Impulse Buying METODE PENELITIAN Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui peran celebrity endorser, social media marketing, dan gaya hidup terhadap perilaku pembelian Impulsif pada produk body lotion Scarlett Whitening. Obyek pada penelitian ini adalah pengguna body lotion Scarlett Whitening dengan besaran sampel sebanyak 102 responden yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan metode purposive sampling untuk memperoleh responden yang sasuai dengan kriteria, yaitu benar mengetahui dan pernah menggunakan produk body lotion Scarlett Whitening. Teknik pengumpulan data menggunakan metode kuesioner serta memanfaatkan platform media sosial, seperti WhatsApp Messages untuk meningkatkan response rate. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah software SPSS 24 dengan metode pengukurannya melalui metode analisis linear berganda. Namun, sebelum dilakukan pengujian analisis linear berganda, dilakukan beberapa pengujian meliputi uji reliabilitas, uji validitas, uji normalitas dan uji goodness of fit (GoF) untuk mengetahui bahwa variabel yang digunakan benar-benar relevan untuk diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini melibatkan sebanyak 102 responden yang diperoleh dari hasil kuesioner yang tersebar melalui platform media sosial WhatsApp pada 6 Juni-9 Juni Di bawah ini merupakan gambaran profil responden, sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Uji Deskripsi Responden Jenis Kelamin Usia Deskripsi Responden Keterangan Laki-laki Perempuan 18-20 Tahun 21 - 23 Tahun 1279 | Volume 6 Nomor 3 2024 Frekuensi Presentase Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Deskripsi Responden Keterangan Frekuensi 24 Ae 27 Tahun 28-32 Tahun Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Karyawan Swasta Pegawai Negeri Pelajar/ Mahasiswa Wiraswasta Wirausaha Pendapatan < Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. > Rp. Domisili Aceh Batang Bekasi Bogor Demak Kendal Kudus Pekalongan Semarang Riwayat Pembelian Pernah Tidak Pernah Sumber: Data Primer, 2023 Presentase Berdasarkan tabel di atas, riwayat pembelian menunjukkan bahwa sebanyak 102 responden dalam penelitian ini pernah melakukan pembelian produk body lotion Scarlett Whitening, yang mana dalam data tersebut menunjukkan bahwa pembelian didominasi oleh perempuan sebanyak 76 responden . 5%). Hal ini dikarenakan adanya kecenderungan untuk seorang perempuan merawat kesehatan kulit dan diri Namun, dalam data juga menunjukkan bahwa sebanyak 26 responden . ,5%) berjenis kelamin laki-laki, yang artinya pengguna body lotion Scarlett Whitening saat ini tidak terbatas pada jenis kelamin, sehingga laki-laki sekalipun bisa menggunakan produk Scarlett Whitening sebagai penunjang penampilan. Dilihat dari rentang usia, pengguna produk Scarlett Whitening didominasi oleh pengguna berusia 21-23 tahun yaitu sebanyak 78 responden . %). Hal ini mencerminkan bahwa produk body lotion ini cocok digunakan untuk kaum remaja sehingga banyak dipilih oleh pengguna di usia tersebut sebagai produk perawatan kulit andalan mereka. Namun demikian, produk Scarlett Whitening ini juga dapat digunakan oleh pengguna 1280 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. usia dewasa yang mana pada penelitian ini terdapat 3 responden . 9%) dengan rentang usia 28-32 tahun yang masih menggunakan produk Scarlett Whitening. Angka tersebut tidak begitu banyak karena pada umumnya rentang usia ini memerlukan perawatan khusus bagi kesehatan kulit mereka seperti kandungan antiaging dan sejenisnya yang belum menjadi keunggulan utama dari produk ini. Selaras dengan sebaran usia mayoritas responden, dari segi pekerjaan didominasi oleh pelajar atau mahasiswa sebanyak 49 responden . %) diikuti oleh profesi sebagai karyawan swasta dan wiraswasta sejumlah 27 responden . dan 19 responden . 9%). Hal ini mencerminkan bahwa mayoritas pengguna produk Scarlett Whitening ini merupakan kelompok yang aktif berkegiatan di luar ruangan dan rentan terpapar sinar UV sehingga memerlukan produk perawatan kulit yang dapat melindungi mereka dari paparan langsung sinar matahari. Namun di luar pekerjaan tersebut, terdapat pula 5 responden . 9%) berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang memilih produk Scarlett Whitening ini sebagai produk pilihan mereka, yang mana mencerminkan bahwa pengguna Scarlett Whitening tidak terbatas oleh pekerjaan penggunanya, sehingga dapat digunakan oleh berbagai kalangan. Berdasarkan data pada segi pendapatan, mayoritas pengguna Scarlett Whitening didominasi oleh pengguna dengan pendapatan < Rp. 000 sejumlah 77 responden . Hal ini selaras dengan profesi dan usia mayoritas pengguna yang masih berprofesi sebagai pelajar atau mahasiswa. Terkait dengan data pendapatan ini pula, persebaran responden juga kebanyakan berasal dari wilayah Kabupaten Kendal sejumlah 83 responden . 4%), yang mana pada wilayah tersebut Upah Minimum Kabupaten (UMK) belum mencapai Rp. 000 dan masih menyentuh angka Rp. Sehingga ditinjau dari hal tersebut, dapat diartikan bahwa produk body lotion Scarlett Whitening masih memiliki harga yang cukup terjangkau oleh penggunanya. Menurut Sugiyono . Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidak suatu kuesioner. Dalam penelitian ini, uji validitas dilakukan untuk mengukur kecukupan sampel menggunakan teknik analisis faktor dengan menentukan nilai Kaiser Meyer-Olkin (KMO). Suatu sampel dapat dianggap cukup dan valid apabila nilai KMO > 0. 5 dan memiliki nilai loading factor > 0. Adapun hasil pengujian dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 2. Uji Validitas Variabel Indikator X1. X1. X1. X1. X1. 1281 | Volume 6 Nomor 3 2024 KMO (>0. Loading Factor (>0. Keterangan VALID VALID VALID VALID VALID Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Variabel Indikator Celebrity Endorser (X. X1. X1. X1. X1. X1. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X3. X3. X3. X3. X3. X3. X3. X3. X3. Social Media Marketing (X. Gaya Hidup (X. Impulse Buying (Y) Loading Factor (>0. Sumber: Data Primer, 2023 KMO (>0. Keterangan VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID Berdasarkan tabel 2, hasil uji validitas dalam penelitian ini memiliki nilai KMO > 0. 5, dengan nilai KMO variabel celebrity endorser 0. 903 > 0. 5, variabel social media 897 > 0. 5, variabel gaya hidup 0. 910 > 0. 5, dan variabel impulse buying 881 > 0. hal ini menandakan bahwa kriteria sampel dikatakan cukup terpenuhi, sehingga analisis faktor dapat dilakukan. Sedangkan indikator- indikator untuk semua variabel seluruhnya mempunyai nilai loading factor > 0. 4 sehingga semua indikator dinyatakan valid dan layak sebagai indikator variabel penelitian. Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur kuesioner yang merupakan indikator dari suatu variabel atau konstruk. Uji reliabilitas dikatakan reliabel jika 1282 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. jawaban responden terhadap pertanyaan atau pernyataan adalah konsisten . Jika nilai CronbachAos Alpha > 0. 70 maka instrumen penelitian reliabel. Hasil reliabilitas dari olah data SPSS dapat dilihat berikut ini: Tabel 3. Uji Reliabilitas CronbachAos Standar Alpha Reliabilitas Celebrity Endorser (X. > 0. Social Media Marketing (X. > 0. Gaya Hidup (X. > 0. Impulse Buying (Y) > 0. Sumber: Data Primer, 2023 Variabel Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Berdasarkan tabel di atas, diketahui hasil uji reliabilitas semua variabel dalam penelitian telah memenuhi syarat reliabilitas sehingga dapat dikatakan reliabel. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai CronbachAos alpha > 0. 70 dimana hasil pengujian reliabilitas untuk variabel celebrity endorser sebesar 0. 929 > 0. 70, variabel social media marketing sebesar 0. 920 > 0. 70, variabel gaya hidup sebesar 0. 907 > 0. 70, dan variabel impulse buying sebesar 0. 925 > 0. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semua variabel layak untuk dilakukan analisis selanjutnya. Uji normalitas didalam penelitian ini menggunakan metode KolmogorovSmirnov Test dengan memfokuskan pada hasil hitung nilai ouput Asym. Sig. -taile. Jika nilai dari signifikansi adalah > 0. 05 maka data dapat dikatakan terdistribusi dengan normal dan jika nilai dari signifikan < 0. 05 maka data tidak dapat dikatakan terdistribusi dengan normal. Tabel 4. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Unstandardized Residual Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Sumber: Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 5, hasil uji normalitas dengan one sample KolmogorovSmirnov test dapat disimpulkan bahwa hasil variabel terdistribusi dengan Normal (Sig 0. 200 > 0. , hal ini mencerminkan bahwa skala yang mengukur variabel 1283 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. tersebut memperlihatkan data yang normal, yang artinya terindikasi bahwa data tergolong normal. Uji goodness of fit dilakukan untuk menentukan apakah model regresi layak untuk dilakukan analisis lebih lanjut atau tidak, dengan menggunakan dua pengujian, yaitu Uji koefisien determinasi untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen yang ditunjukkan pada nilai adjustted R-square dan Uji F untuk mengetahui apakah variabel independen secara simultan berhubungan dengan variabel dependen, yang dilihat melalui nilai signifikansinya harus <0. Tabel 5. Uji Goodness of Fit (GoF) Adjusted R-Square Persamaan Celebrity Endorser (X. Social Media Marketing(X. dan Gaya Hidup (X. => Impulse Buying (Y) Sumber: Data Primer, 2023 Uji F Sig. Berdasarkan data, menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi yang dilihat dari nilai Adjusted R-Square adalah sebesar 0. ,6%). Sehingga 42,6% variabel impulse buying . dapat dijelaskan oleh celebrity endorser, social media marketing, dan gaya hidup. Sedangkan sisanya 57,4% . % - 42,6%) dijelaskan oleh variabel lain diluar dari penelitian ini seperti harga, kebutuhan terhadap produk, merek serta kelompok referensi. Sedangkan pada Uji F memberikan nilai signifikansi kurang dari 0. 05 yakni sebesar 0. 000 < 0. 05 sehingga dapat diartikan bahwa variabel celebrity endorser (X. , social media marketing (X. , gaya hidup (X. mempengaruhi variabel impulse buying (Y) secara simultan. Tabel 6. Analisis Regresi Uji T Standardized Coefficients Beta Persamaan Celebrity Endorser (X. => Impulse Buying (Y) Social Media Marketing (X. => Impulse Buying (Y) Gaya Hidup (X. => Impulse Buying (Y) Sig. Keterangan Hipotesis diterima Hipotesis ditolak Hipotesis diterima Sumber: Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa celebrity endorser dan gaya hidup masing-masing memiliki nilai signifikansi 0. 044 < 0. 05 dan 0. 000 < 0. 05 yang 1284 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. artinya variabel celebrity endorser dan gaya hidup berpengaruh terhadap impulse buying, sehingga H1 dan H3 diterima. Sedangkan variabel sosial media marketing dinyatakan tidak berpengaruh terhadap impulse buying karena ditinjau dari nilai signifikansinya sebesar 0. 090 > 0. 05 sehingga H2 ditolak. Berdasarkan hal di atas, memiliki makna bahwa: Celebrity Endorser (X. berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Impulse Buying (Y) dengan nilai koefisien regresi senilai 0. 218 dan tingkat signifikansi yaitu 0. 44 < 0. Social Media Marketing (X. tidak berpengaruh terhadap variabel Impulse Buying (Y) karena memiliki tingkat signifikansi lebih dari 0. 05 yaitu sebesar 90>0. Gaya Hdup (X. berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Impulse Buying (Y) dengan nilai koefisien regresi senilai 0. 413 dan tingkat signifikansi 00 < 0. 05, yang dapat diartikan pula bahwa Gaya Hidup memiliki pengaruh paling besar terhadap Impulse Buying dibandingkan variabel lain dalam penelitian ini. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian pada 102 data, diperoleh responden yang melakukan pembelian impulsif didominasi oleh pengguna berjenis kelamin perempuan berusia 21-23 tahun dengan mayoritas berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa dengan penghasilan di bawah Rp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran celebrity endorser, social media marketing dan gaya hidup terhadap impulse buying produk Scarlett Whitening. Hasil analisis pada uji hipotesis yang dilakukan menunjukkan celebrity endorser terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying, dan dapat diinterpretasikan bahwa semakin baik celebrity endorser dalam menyampaikan produk yang dipromosikan maka dapat meningkatkan impulse Hal ini tercermin dari sebagian besar konsumen melihat iklan Scarlett Whitening melalui celebrity endorser (Agnes Monica. Natasha Wilona. Ria Ricis. Song Joong-k. sehingga menimbulkan rasa ingin membeli dan menggunakan barang tersebut karena selebriti idolanya menggunakan barang tersebut. Celebrity endorser Scarlett Whitening dianggap memiliki daya tarik yang kuat. Berbagai macam daya tariknya melalui prestasi, ketampanan, charisma, dan memiliki inner beauty untuk menarik atensi para penggemarnya agar membeli barang yang diiklankan. Hasil dari penelitian ini dapat dikatakan positif karena adanya pembuktian yang signifikan antara celebrity endorser dengan perilaku konsumtif. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Yossi dan Rinaldi, . dan Lina dan Asep, . menemukan bahwa celebrity endorser berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying. Berdasarkan hasil uji hipotesis, diperoleh hasil analisis yang menunjukkan bahwa social media marketing tidak berpengaruh terhadap impulse buying, artinya 1285 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dapat diinterpretasikan bahwa tinggi atau rendahnya promosi penjualan di sosial media (Instagram. Line, hingga Official Shopee Mal. yang dilakukan perusahaan Scarlett Whitening tidak akan mempengaruhi peningkatan impulse buying yang dirasakan oleh konsumen supaya benar-benar melakukan pembelian. Apabila dikaitkan dengan karakteristik responden yang mayoritas responden dalam penelitian ini sebanyak 49 . %) responden masih berstatus sebagai pelajar/mahasiswa yang sebagian besar belum memiliki pendapatan sendiri. Banyak responden yang berpendapatan bulanan < Rp 3. 000 sebanyak 77 . %) responden sehingga mereka memiliki keterbatasan untuk membeli barang yang diinginkan terutama apabila ingin membeli produk dengan nominal yang besar. Alasan lain tidak berpengaruhnya social media marketing Scarlett Whitening terhadap impulse buying diduga karena promosi penjualan yang diberikan oleh perusahaan Scarlett Whitening seperti gratis ongkir, diskon, voucher, dan cashback yang diberikan dirasa terlalu kecil nilainya. Beberapa bulan terakhir pemberian alat promosi penjualan yang diberikan Scarlett Whitening semakin mengecil dan tidak terlalu agresif dalam memberikan gratis ongkir, diskon, voucher, dan cashback dengan nilai yang sangat besar dan banyak seperti saat awal Scarlett Whitening masuk dan bersaing dengan produk body lotion lain di Indonesia. Sehingga banyak responden yang merasa tertarik namun tidak membuat keputusan untuk melakukan impulse Buying. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin banyak dan menarik promosi penjualan di sosial media yang dilakukan oleh perusahaan Scarlett Whitening tidak mampu menstimulus konsumen untuk melakukan impulse buying sesuai dengan penelitian yang dilakukan Kirana Nariswara, . dan Karima Millati, . ) yang menyatakan hubungan yang positif dan tidak signifikan antara social media marketing terhadap impulse buying. Namun hasil penelitian ini tidak didukung atau bertolak belakang dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Mariah dan Dara, . dan Mariah dan Asri, . menemukan bahwa social media marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying. Hasil analisis pada uji hipotesis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying, dan dapat diinterpretasikan selaras dengan semakin berkembangnya zaman, keinginan seseorang untuk merawat kesehatan kulitnya dengan menggunakan body lotion dapat meningkatkan impulse buying pada produk body lotion Scarlett Whitening. Secara keseluruhan konsumen yang melakukan impulse buying pada produk body lotion Scarlett Whitening memiliki persepsi baik terhadap gaya hidup yang lebih modern. Hal ini mencerminkan bahwa responden melakukan pembelian tanpa direncanakan . mpulse buyin. karena sebelumnya menyisihkan uang terlebih dahulu untuk membeli produk perawatan kulit yaitu body lotion Scarlett Whitening untuk merawat kesehatan kulit mereka. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uang, dan bagaimana mengalokasikan waktu. Beberapa orang percaya bahwa berbelanja dapat menjadi alat untuk menghilangkan stres. Menghabiskan uang secara signifikan dapat mengubah suasana hati seseorang. Kemampuan menyisihkan dan membelanjakan uang membuat seseorang merasa 1286 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. memegang kendali. Hal ini dapat menyebabkan pembelian yang tidak direncanakan . mpulse buyin. Dalam penelitian ini gaya hidup dalam melakukan pembelian produk Scarlett Whitening dipengaruhi oleh penawaran dalam berbagai bentuk. Pembelian dipengaruhi karena ketertarikan konsumen terhadap packaging produk yang mengikuti tren dan harga yang ditawarkan cukup dapat dijangkau konsumen. Konsumen membandingkan harga dengan sangat hati-hati dan juga mempertimbangkan merek suatu produk yang akan dibeli akan menjadi tolak ukur dari gaya hidup. Gaya hidup yang telah dipaparkan di atas semakin meningkatkan kemungkinan terjadinya impulse buying, dimana konsumen Scarlett Whitening membelanjakan suatu produk tahap terencana terlebih dulu dan tanpa ada pertimbangan secara mendalam. Sehingga dapat ditarik kesimpulan semakin tinggi gaya hidup seseorang maka akan meningkatkan pula untuk melakukan pembelian tidak terencana . mpulse buyin. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Renggani dan Sanoesi . dan Veliana dan Eristia, . menemukan bahwa gaya hidup berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dapat diambil beberapa simpulan bahwa celebrity endorser dan gaya hidup berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap impulse buying, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa semakin baik celebrity endorser mempromosikan produk tersebut maka kemungkinan untuk terjadinya perilaku impulse buying juga meningkat. Demikian dengan gaya hidup, seiring dengan peningkatan atas kebutuhan hidup manusia dan perkembangan teknologi yang ada, dapat mendorong seseorang untuk memiliki keinginan yang lebih daripada sebelumnya sehingga kemungkinan untuk melakukan perilaku impulse buying juga Secara keseluruhan, konsumen dari Scarlett Whitening dalam penelitian ini memiliki persepsi yang cukup baik terhadap celebrity endorser produk ini serta menganggap bahwa penawaran yang produk ini berikan terkesan up to date untuk mempengaruhi mereka melakukan pembelian tanpa terencana. Namun dalam penelitian ini juga menyatakan bahwa social media marketing tidak berpengaruh terhadap impulse buying, yang mana secara keseluruhan responden pada penelitian ini kurang berkenan untuk membagikan pengalaman mereka di sosial media atas penggunaan produk ini. Adanya batasan penggunaan atas beberapa penawaran seperti diskon dan voucher, sedikitnya menjadi salah satu alasan berkurangnya pengaruh social media marketing terhadap perilaku impulse buying. 1287 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1274- 1290 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. SARAN Untuk penelitian berikutnya, peneliti berharap adanya penelitian lanjutan menggunakan sampel yang lebih variatif dan beragam serta variabel lain yang mungkin meningkatkan pengaruh impulse buying. DAFTAR PUSTAKA