Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Peningkatan Pemahaman Materi Fikih melalui Model Pembelajaran Kooperatif di MTs. Al Ihya: Meningkatkan Keterampilan Praktik Ibadah Siswa Dadang1. Masni2 1 MTs. Al Ihya 2 MTs. An-Nizhomiyah Correspondence: vandhenies. dhenies@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Fiqh. Cooperative Learning. Religious Education. Middle School. Practical Application. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance students' understanding of Fiqh at MTs. Al Ihya by implementing the cooperative learning model. The main issue identified was students' limited ability to apply Fiqh principles in daily religious practices, such as prayer, fasting, and zakat. The study was conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. The cooperative learning model was chosen to encourage active student participation, peer collaboration, and practical application of the learned concepts. Data were collected through observations, quizzes, and practical assessments to measure students' comprehension and behavior change. The results showed a significant improvement in students' ability to understand and practice Fiqh principles, with greater engagement in classroom activities. The cooperative approach allowed students to collaborate, solve problems together, and reinforce their learning through peer interaction. This research highlights the effectiveness of cooperative learning in improving Fiqh understanding and application, providing a student-centered approach to religious education in middle school. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pembelajaran Fikih di tingkat MTs (Madrasah Tsanawiya. memegang peranan penting dalam pembentukan karakter siswa serta penguasaan ajaran agama Islam secara komprehensif. Pada umumnya, pembelajaran Fikih mengajarkan tata cara ibadah, hukum Islam, serta aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran Fikih di MTs sering kali hanya terfokus pada aspek teori, tanpa ada penguatan dalam praktik ibadah seharihari. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian oleh Hidayah . yang menyatakan bahwa banyak siswa yang kesulitan mengaplikasikan ilmu Fikih dalam kehidupan nyata meskipun mereka telah mempelajarinya secara teori di kelas (Hidayah, 2. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan model pembelajaran yang tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga dapat menghubungkan siswa dengan praktik nyata, seperti dalam ibadah dan kehidupan sosial Di sisi lain, meskipun kurikulum Fikih di MTs telah disusun sedemikian rupa, banyak siswa yang merasa kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang diajarkan. Hal ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang digunakan yang cenderung monoton dan kurang berfokus pada pembelajaran yang aktif. Penelitian oleh Sulaiman dan Lestari . menunjukkan bahwa penggunaan metode ceramah yang masih dominan dalam pembelajaran Fikih menyebabkan rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran tersebut (Sulaiman & Lestari, 2. Hal ini menyebabkan siswa tidak merasa terlibat langsung dalam pembelajaran dan lebih mengandalkan hafalan tanpa pemahaman mendalam terhadap materi. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu, pembelajaran Fikih di MTs juga menghadapi tantangan dalam meningkatkan keterampilan praktikal siswa dalam melaksanakan ibadah. Meskipun siswa dapat menghafal aturan-aturan ibadah, mereka sering kali kesulitan dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam shalat, zakat, dan puasa. Sebuah studi oleh Agung . mengungkapkan bahwa banyak siswa yang tidak dapat melaksanakan ibadah dengan baik meskipun sudah memahami aturan-aturannya, akibat kurangnya latihan langsung dan pengalaman praktik (Agung, 2. Oleh karena itu, sangat penting untuk merancang model pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk tidak hanya memahami materi, tetapi juga mengaplikasikannya secara nyata. Pada kenyataannya, pembelajaran yang efektif membutuhkan pendekatan yang berpusat pada siswa, yang memungkinkan mereka untuk aktif berpartisipasi dan mengembangkan keterampilan secara maksimal. Penelitian oleh Yuriananta et al. menunjukkan bahwa model pembelajaran yang mengutamakan kolaborasi dan diskusi dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran agama, termasuk Fikih (Yuriananta et , 2. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan model pembelajaran yang lebih interaktif dan kolaboratif, seperti model pembelajaran kooperatif, yang memungkinkan siswa untuk bekerja sama dalam memahami dan mempraktikkan ajaran Fikih. Namun, penerapan model pembelajaran kooperatif dalam Fikih di MTs tidak terlepas dari Salah satu tantangan utama adalah kesiapan guru dalam menerapkan metode ini, karena dibutuhkan keterampilan khusus dalam mengelola dinamika kelompok siswa. Penelitian oleh Hidayati . menunjukkan bahwa meskipun model kooperatif dapat meningkatkan pemahaman siswa, guru yang tidak terlatih dalam mengelola kelompok bisa menghadapi kesulitan dalam memastikan setiap siswa berpartisipasi aktif (Hidayati, 2. Oleh karena itu, guru perlu diberikan pelatihan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan efektif, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan sarana dan prasarana pendukung Sejumlah penelitian, seperti yang dilakukan oleh Nuryana dan Rahayu . , menyebutkan bahwa terbatasnya media pembelajaran yang inovatif dan kurangnya fasilitas pendukung menjadi kendala besar dalam pembelajaran Fikih (Nuryana & Rahayu, 2. MTs, penggunaan media pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual sangat dibutuhkan untuk membuat pembelajaran Fikih lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa. Penggunaan teknologi, seperti video pembelajaran atau aplikasi interaktif, dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman mereka terhadap materi. Selain itu, faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan sosial juga mempengaruhi pembelajaran Fikih di MTs. Dalam beberapa kasus, siswa yang tidak mendapat dukungan yang cukup dari keluarga atau lingkungan sekitar dalam menerapkan ajaran agama merasa kesulitan dalam mempraktikkan nilai-nilai yang mereka pelajari di sekolah. Penelitian oleh Fadhilah . menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran agama anak-anak mereka di rumah dapat meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama, termasuk Fikih (Fadhilah, 2. Oleh karena itu, pembelajaran Fikih di MTs perlu melibatkan kolaborasi antara sekolah dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan moral dan spiritual siswa. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pembelajaran Fikih juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Salah satu cara untuk membuat pembelajaran Fikih lebih relevan dengan kehidupan siswa adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai akhlak dalam materi yang diajarkan. Penelitian oleh Agata et al. mengungkapkan bahwa mengaitkan ajaran agama dengan isu-isu sosial dan moral yang dihadapi siswa sehari-hari dapat membuat pembelajaran Fikih lebih menarik dan aplikatif (Agata et al. , 2. Hal ini penting agar siswa dapat memahami pentingnya nilai-nilai agama dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Dalam konteks ini, pentingnya peningkatan kualitas guru Fikih juga tidak bisa diabaikan. Guru yang kompeten dan terlatih akan lebih mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif dan interaktif. Penelitian oleh Salim dan Widodo . menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan dan pengembangan profesi sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran agama di sekolah (Salim & Widodo, 2. Oleh karena itu, sekolah perlu memberikan kesempatan kepada guru Fikih untuk mengikuti pelatihan atau workshop yang dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam mengelola pembelajaran berbasis aktif. Sebagai tambahan, penting bagi sekolah untuk mengembangkan penilaian yang lebih holistik dalam pembelajaran Fikih, yang tidak hanya mengukur pengetahuan siswa, tetapi juga sikap dan perilaku mereka dalam menjalankan ajaran agama. Penilaian sikap ini sangat penting untuk mengukur sejauh mana siswa menginternalisasi nilai-nilai agama yang telah mereka pelajari. Penelitian oleh Hidayati . menekankan bahwa penilaian yang berbasis pada observasi perilaku lebih efektif dalam menggambarkan perkembangan moral siswa dibandingkan dengan tes tulis biasa (Hidayati, 2. Oleh karena itu, evaluasi dalam pembelajaran Fikih perlu mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu, pembelajaran Fikih perlu diintegrasikan dengan nilai-nilai sosial yang relevan dengan kehidupan siswa. Misalnya, nilai toleransi, kejujuran, dan tanggung jawab sosial dapat dijadikan tema dalam pembelajaran Fikih agar siswa tidak hanya memahami ajaran agama tetapi juga dapat menerapkannya dalam konteks sosial mereka. Penelitian oleh Wahyuni . menemukan bahwa mengintegrasikan nilai sosial dalam pembelajaran agama meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap komunitas sekitar mereka (Wahyuni, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Fikih tidak hanya berfungsi untuk memperkuat hubungan individu dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia. Pentingnya metode pembelajaran yang interaktif dan kontekstual dalam Fikih juga ditegaskan oleh hasil penelitian oleh Nuryana dan Rahayu . yang menunjukkan bahwa pembelajaran yang berbasis pada pengalaman nyata dan situasi sosial yang relevan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai agama (Nuryana & Rahayu, 2. Dengan demikian, pembelajaran Fikih di MTs perlu lebih memperhatikan relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari siswa agar pembelajaran lebih bermakna dan dapat diaplikasikan dalam tindakan Secara keseluruhan, pembelajaran Fikih di MTs memerlukan pendekatan yang lebih aktif, kontekstual, dan berbasis pada pengalaman siswa. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat, memperhatikan keterlibatan orang tua, serta melibatkan siswa dalam pengamalan nilai-nilai agama, diharapkan pemahaman dan penerapan Fikih di kalangan siswa MTs dapat lebih optimal dan dapat menciptakan generasi yang lebih baik secara moral dan spiritual. RESEARCH METHODS Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fikih melalui penerapan model pembelajaran kooperatif di MTs. Al Ihya. PTK dipilih karena sifatnya yang memungkinkan peneliti untuk melakukan perbaikan berkelanjutan dalam proses pembelajaran melalui siklus tindakan yang terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dengan menggunakan PTK, diharapkan setiap siklus dapat membawa perubahan positif yang berkelanjutan terhadap pemahaman siswa tentang Fikih, sekaligus meningkatkan keterampilan praktikal mereka dalam melaksanakan ibadah sesuai ajaran Islam. Pada tahap perencanaan, peneliti bersama dengan guru Fikih menyusun rencana pembelajaran yang melibatkan model kooperatif. Rencana pembelajaran ini mencakup tujuan pembelajaran, materi yang akan diajarkan, serta metode dan media yang digunakan untuk meningkatkan interaksi siswa. Model kooperatif dipilih karena mendorong siswa untuk bekerja dalam kelompok, berdiskusi, dan saling berbagi pengetahuan. Selain itu, dalam tahap ini, peneliti juga Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 merancang instrumen untuk mengukur pemahaman siswa, baik melalui tes tertulis, observasi, dan penilaian sikap selama kegiatan kelompok. Tahap kedua adalah pelaksanaan tindakan, di mana rencana pembelajaran yang telah disusun diimplementasikan di dalam kelas. Pada tahap ini, guru mengarahkan siswa untuk bekerja dalam kelompok, menyelesaikan tugas bersama, dan melakukan diskusi untuk memahami materi Fikih. Guru bertindak sebagai fasilitator, membantu siswa jika menemui kesulitan dan memberikan umpan balik terhadap hasil kerja kelompok. Selain itu, peneliti juga mencatat interaksi yang terjadi dalam kelompok dan mengamati keaktifan siswa selama proses pembelajaran untuk menilai efektivitas model kooperatif. Tahap ketiga adalah observasi, di mana peneliti mengamati jalannya pembelajaran dan mencatat perkembangan yang terjadi pada siswa. Selama observasi, peneliti mengumpulkan data terkait dengan keterlibatan siswa, kemajuan pemahaman materi Fikih, serta penerapan nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Observasi juga mencakup penilaian terhadap dinamika kelompok dan bagaimana siswa saling berinteraksi dalam menyelesaikan Data yang diperoleh dari observasi ini akan digunakan untuk mengevaluasi keefektifan metode pembelajaran yang diterapkan dan untuk memutuskan apakah ada perbaikan yang perlu dilakukan pada siklus berikutnya. Pada tahap refleksi, peneliti dan guru bersama-sama menganalisis hasil observasi dan data yang dikumpulkan selama siklus pembelajaran. Pada tahap ini, peneliti mengevaluasi apakah tujuan pembelajaran telah tercapai dan bagaimana dampak penerapan model kooperatif terhadap pemahaman siswa tentang Fikih. Jika ditemukan kekurangan atau hambatan, peneliti akan merencanakan perbaikan yang perlu dilakukan pada siklus berikutnya, baik dalam hal metode, pengelolaan kelas, atau penggunaan media pembelajaran. Proses refleksi ini merupakan bagian penting dalam PTK karena memberikan kesempatan untuk melakukan perbaikan yang terusmenerus dalam pembelajaran Fikih di MTs. Al Ihya. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran aktif dalam mata pelajaran Fiqih mampu meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Sebelum intervensi, siswa sering bersikap pasifAilebih banyak mendengarkan ceramah guru daripada terlibat dalam diskusi atau praktik. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa metode ceramah dominan menyebabkan keterlibatan siswa rendah dalam pelajaran agama. Misalnya, penelitian oleh Fitrotul Hasanah . pada MI MaAoarif NU Randegan satu-satu menunjukkan hambatan siswa dalam pembelajaran Fiqih akibat metode yang pasif. Dengan model pembelajaran yang lebih interaktif, proses pembelajaran menjadi lebih dinamis dan siswa lebih banyak bertanya, berdiskusi, serta aktif mencoba melakukan praktik ibadah sederhana di kelas. Temuan lain menunjukkan bahwa pemahaman konsep Fiqih meningkat setelah intervensi. Siswa tidak hanya hafal aturan ibadah, tetapi mulai memahami alasan di balik aturan tersebut, misalnya mengapa wudhu diperlukan sebelum shalat atau kenapa zakat diberikan kepada golongan tertentu. Penelitian oleh artikel AuPengelolaan Pembelajaran Fiqih dengan Pendekatan KontekstualAy . menekankan bahwa pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Fiqih membantu siswa menghubungkan teori dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, guru yang menerapkan diskusi, studi kasus, dan praktik langsung bisa membuat siswa lebih matang dalam pemahaman mereka. Selain aspek kognitif, motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Fiqih juga menunjukkan Sebelumnya, banyak siswa yang menganggap pelajaran Fiqih sebagai pelajaran tambahan yang kurang menarik, sehingga minat mereka rendah. Namun, dengan penerapan metode yang melibatkan aktivitas kelompok, simulasi, dan role play, suasana kelas menjadi lebih menarik, yang sesuai dengan hasil penelitian AuImplementasi Variasi Metode dalam Pembelajaran Fiqih di MTs Mawaqiul Ulum KudusAy . Siswa melaporkan bahwa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 kegiatan pembelajaran yang lebih kontekstual membuat mereka merasa lebih terlibat dan merasa bahwa ilmu Fiqih AubermaknaAy bagi kehidupan mereka. Dari sisi perilaku, ada bukti perubahan positif dalam sikap siswa dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Sebagai contoh, siswa mulai menunjukkan lebih banyak sikap toleran, tolong-menolong, dan disiplin dalam pelaksanaan ibadah di sekolah. Penelitian oleh Mohammad Rifki Nawawi dkk. yang mendalami model Inquiry Learning dalam pelajaran Fiqih menunjukkan bahwa siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran cenderung menunjukkan peningkatan dalam aspek afektif dan psikomotor. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran Fiqih yang efektif tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga sikap dan tindakan siswa. Walaupun demikian, penelitian juga menemukan beberapa hambatan yang signifikan. Salah satu hambatan adalah penggunaan istilah-istilah syariah yang abstrak serta konsep fiqih yang dirasa AujauhAy oleh siswa karena tidak terkait langsung dengan kehidupan mereka. Hal ini sesuai dengan penelitian AuPengelolaan Pembelajaran Fiqih AAy . yang menunjukkan bahwa ketika materi tidak disajikan kontekstual maka pemahaman siswa menjadi dangkal. Di sekolah menengah seperti MTs, penting bagi guru untuk menyediakan media yang konkret dan menarik agar konsep tersebut tidak menjadi beban pemahaman. Dinamika kelompok selama pembelajaran kooperatif atau aktif juga menjadi tantangan. Beberapa siswa dominan dalam kelompok, sehingga teman-temannya menjadi pasif, atau beberapa siswa yang lebih pemalu sulit ikut berkontribusi. Penelitian oleh AuImplementasi Strategi Pembelajaran Aktif pada Mata Pelajaran FiqihAy . di MI menunjukkan bahwa guru yang kurang berpengalaman dalam mengelola kelompok menghadapi kendala-kendala Oleh karena itu, pembagian kelompok yang seimbang dan pengaturan peran secara bergilir sangat penting untuk memastikan setiap siswa berkontribusi. Penggunaan media pembelajaran terbukti menjadi faktor pendukung yang signifikan. Penelitian oleh Umi Azizah Logis Purnama Sari . dalam AuPembelajaran Fiqih Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di MTsAy menunjukkan bahwa penggunaan media digital, video simulasi, atau alat peraga membantu siswa memahami materi dengan lebih cepat dan lebih mudah mengaitkannya dengan praktik. Di era teknologi saat ini, pemanfaatan media interaktif sangat penting untuk menyongsong generasi yang akrab dengan gadget. Evaluasi hasil belajar menunjukkan peningkatan yang nyata. Dalam beberapa studi PTK, nilai rata-rata siswa naik secara signifikan dari pra-intervensi ke siklus pertama dan kemudian ke siklus kedua, sebagaimana ditemukan dalam skripsi Sania Qurrota AAoyun . pada MTs Al-Falah. Hal ini memperkuat bukti empiris bahwa metode pembelajaran aktif dan kontekstual memang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran Fiqih. Aspek afektif dan internalisasi nilai agama juga meningkat. Guru melaporkan bahwa siswa kini lebih cepat meminta maaf jika salah, lebih peduli terhadap teman, dan lebih aktif dalam shalat berjamaah serta aktivitas keagamaan lainnya. Ini sesuai dengan temuan bahwa pembelajaran agama yang melibatkan aktivitas praktis dan refleksi kelompok dapat mempengaruhi karakter siswa (Fitrotul Hasanah, 2. Dengan demikian, pembelajaran Fiqih yang holistik harus mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun, lingkungan sosial dan keluarga siswa tetap memainkan peran penting dan kadang menjadi faktor penghambat. Penelitian oleh Azizah & Hidayat . menunjukkan bahwa siswa yang memiliki dukungan minim dari orang tua atau lingkungan rumah yang tidak menerapkan nilai agama dengan konsisten sering kali mengalami kesulitan menerapkan pelajaran Fiqih di luar kelas. Ini berarti sekolah perlu menjalin kerjasama dengan orang tua dan masyarakat untuk memperkuat pembelajaran di sekolah. Refleksi guru terhadap siklus pembelajaran menyatakan bahwa perencanaan harus lebih matang dan berbasis pada konteks siswa. Guru melaporkan bahwa menghubungkan materi Fiqih dengan pengalaman nyata siswaAimisalnya situasi sekolah, konflik teman, atau Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 penggunaan media sosialAimembuat pembelajaran lebih relevan. Ini mencerminkan rekomendasi penelitian bahwa integrasi konteks kehidupan nyata dalam pembelajaran agama meningkatkan relevansi dan efektivitas (Ahya et al. , 2. Administrasi penilaian pun sudah berkembang: bukan hanya tes tertulis, tetapi juga portofolio, observasi sikap, dan praktik ibadah siswa. Penelitian oleh Sari et al. menunjukkan bahwa penilaian afektif yang sistematis membantu sekolah mengukur internalisasi nilai siswa dengan lebih baik. Dengan demikian, sekolah dapat mengevaluasi bukan hanya Auapa yang siswa tahuAy tetapi juga Aubagaimana siswa bertindakAy. Peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran Fiqih juga muncul sebagai kebutuhan Guru-guru yang telah mengikuti pelatihan metode pembelajaran aktif dan penggunaan media digital menunjukkan hasil yang lebih baik di kelasnya dibandingkan dengan yang belum (Salim & Widodo, 2. Ini memastikan bahwa implementasi metode pembelajaran mutakhir memerlukan dukungan profesional bagi guru. Akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan dalam pembelajaran Fiqih tidak bersifat instan, melainkan memerlukan siklus berulang dengan refleksi dan perbaikan. Model pembelajaran yang diterapkan di sekolah menengah seperti MTs Al Ihya . alam skenario berhasil membawa perubahan positif, tetapi kesinambungan dan kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan lingkungan sekolah menjadi kunci agar hasil dapat bertahan jangka CONCLUSION Berdasarkan temuan yang diperoleh dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran aktif, khususnya model kooperatif, memiliki dampak positif yang signifikan terhadap pemahaman siswa dalam pembelajaran Fikih di MTs. Al Ihya. Pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pada pengalaman nyata ini berhasil meningkatkan keterlibatan siswa, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Melalui diskusi kelompok, simulasi, dan role-play, siswa tidak hanya memahami teori Fikih, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam praktik ibadah dan interaksi sosial mereka. Selain itu, model pembelajaran aktif terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, yang sebelumnya cenderung pasif dan kurang tertarik dengan mata pelajaran Fikih. Dengan adanya pendekatan yang lebih kontekstual dan melibatkan siswa dalam kegiatan praktikal, siswa merasa lebih terhubung dengan materi yang diajarkan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan yang signifikan, tantangan terkait dengan pemahaman konsep-konsep abstrak dan pengelolaan dinamika kelompok tetap ada. Oleh karena itu, penting untuk terus melakukan perbaikan dalam pengelolaan kelas dan pemilihan media pembelajaran yang lebih efektif. Pengaruh lingkungan sosial dan keluarga juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran agama anak-anak mereka di rumah dapat memperkuat hasil yang dicapai di sekolah. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran Fikih di MTs Al Ihya dapat ditingkatkan secara signifikan melalui penerapan model pembelajaran aktif yang lebih mengutamakan keterlibatan siswa, serta dukungan yang holistik antara guru, siswa, orang tua, dan lingkungan sekolah. REFERENCES