Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Ekstrak Air Buah Pepaya Muda (Carica papaya. L) terhadap Gambaran Folikel Sekunder. De Graaf dan Korpus Luteum Ovarium Tikus Betina (Rattus norvegicu. Okti Satria*. Wira Meiriza Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Perintis Indonesia. Sumatra Barat. Indonesia Article Information : Received 25 May 2024. Accepted 29 June 2024. Published online 30 June 2024 *Corresponding author: user. chiot@gmail. ABSTRAK Pepaya mengandung polisakarida, alkaloid, saponin, flavonoid yang diduga mampu mengakibatkan gangguan jalur hipotalamus hipofise yang mengakibatkan gangguan sekresi GnRH yang berpengaruh terhadap pembentukan, perkembangan dan pematangan folikel. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemberian ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya L. ) terhadap gambaran folikel sekunder, folikel de graaf dan korpus luteum ovarium tikus betina (Rattus novergicu. Jenis penelitian adalah eksperimental dengan desain Post Test Only Control Group. Jumlah sampel sebanyak 24 ekor tikus betina berumur 12 minggu, berat 200-300 gram, dibagi secara acak dalam 4 kelompok. Setiap kelompok dilebihkan 2 ekor untuk mengantisipasi terjadi kematian, sehingga jumlah seluruh sampel 32 ekor. Kelompok (K-) tanpa diberikan perlakuan. Kelompok (P. diberi ekstrak air buah pepaya muda 47 mg/200 gr BB. Kelompok (P. diberi ekstrak air buah pepaya muda 93 mg/200 gr BB. Kelompok (P. diberi ekstrak air buah pepaya muda 189 mg/200 gr BB. Setelah 20 hari perlakuan, dilakukan perhitungan jumlah folikel sekunder, folikel de graaf dan korpus luteum. Hasil analisis statistik menggunakan uji ANOVA dan Kruskal-Wallis didapatkan tidak ada pengaruh secara sinifikan pemberian ekstrak air buah pepaya muda terhadap jumlah folikel sekunder . = 0,. , tidak ada pengaruh secara signifikan pemberian ekstrak air buah pepaya muda terhadap jumlah folikel de graaf . = 0,. , ada pengaruh pemberian ekstrak air buah pepaya muda terhadap jumlah korpus luteum . = 0,. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian ekstrak air buah pepaya muda tidak berpengaruh terhadap jumlah folikel sekunder dan folikel de graaf, namun berpengaruh terhadap jumlah korpus luteum dengan dosis 189 mg/200 grBB. Kata kunci : Ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya L. ), folikel sekunder, de graaf, korpus luteum, tikus betina (Rattus novergicu. ABSTRACT Papaya contains polysaccharides, alkaloids, saponins, and flavonoids, which are thought to disrupt the hypothalamic-pituitary pathway and result in impaired GnRH secretion, affecting the formation, development, and maturation of follicles. The research aims to determine the A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 administration of water extract from the young papaya fruit (Carica papaya L. ) on the appearance of secondary follicles, de Graafian follicles, and corpus luteum of the ovaries of female rats (Rattus novergicu. This type of research is experimental with a Post Test Only Control Group design. The number of samples was 24 female mice aged 12 weeks, weighing 200-300 grams, divided randomly into 4 groups. To anticipate deaths, two animals were added to each group, so the total sample size was 32. Group (K-) without treatment. Group (P. was given water extract of young papaya fruit 47 mg/200 gr BW. Group (P. was given water extract of young papaya fruit 93 mg/200 gr BW. Group (P. was given water extract of young papaya fruit 189 mg/200 gr BW. After 20 days of treatment, the number of secondary follicles, graafian follicles and corpus luteum were counted. The results of statistical analysis using ANOVA and Kruskal-Wallis tests showed that there was no significant effect of giving young papaya fruit water extract on the number of secondary follicles . = 0. , there was no significant effect of giving young papaya fruit water extract on the number of degraaf follicles . = 0. , there was an effect of giving water extract of young papaya on the number of corpus luteum . = 0. This research concludes that administering water extract from young papaya fruit has no effect on the number of secondary follicles and graafian follicles, but does affect the number of corpus luteum at a dose of 189 mg/200 gr BW. Keywords : Unripe arica papaya L. water fruit extracts, secondary folicle, de Graaf follicle, corpus luteum Ovarian Female Rats (Rattus novergicu. PENDAHULUAN Penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia masih kurang. Berdasarkan data tahun 2021 penggunaan kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur (PUS) sebesar 57,4%. Penggunaan kontrasepsi dengan metode non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yaitu suntik 59,9%, pil 15,8% dan Kondom 1,8%, sedangkan metode MKJP yaitu IUD 8%. MOW 4,2 % dan MOP 0,2 % (Kemenkes RI, 2. Pada tahun 2022 data penggunaan Kontrasepsi pada PUS sebesar 64,2%, penggunaan non MKJP 75,4 % dengan suntik 61,9%, 13,5% dengan pil dan kondom sebesar 2,3%, sementara untuk penggunaan MKJP sebesar 11,7% dengan IUD sebesar 7,7%. MOW 3,8% dan MOP 0,2%. Jenis non MKJP pengendalian kehamilan dibandingkan dengan MKJP (Kemenkes RI, 2. Badan Pusat Statistik tahun 2022 melaporkan presentase wanita yang berumur 15-49 tahun yang menggunakan KB di Sumatera Barat sebesar 45,60% dengan pemakaian kontrasepsi tertinggi pada umur 35-39 tahun sebesar 51,55%. Pasangan usia subur yang tidak ingin punya anak lagi atau yang ingin menjarangkan kelahiran, tetapi tidak menggunakan kontrasepsi (Unmet Nee. masih tinggi. Dari data tren penurunannya justru tidak mengalami perubahan di angka 11% dalam 10 tahun terakhir. Sementara target sebesar 7,4% pada tahun 2024 (Kemenkes RI. Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Adanya kepercayaan dari kontrasepsi yang memiliki efek samping merupakan salah satu alasan bagi Pasangan Usia Subur (PUS) untuk tidak menggunakan kontrasepsi dan lebih memilih untuk menggunakan kontrasepsi Bahan Alam tumbuhan disekitar kita memiliki khasiat sangat banyak yang dimanfaatkan sebagai obat herbal atau obat Zat tumbuhan alami mempunyai sifat estrogenik yang bisa djadikan kontrasepsi herbal (Adani et al. , 2. Indonesia kaya akan tanaman obat, salah satunya adalah buah pepaya. Tanaman pepaya merupakan tanaman yang kaya akan manfaat mulai dari daun sampai Meskipun pepaya banyak akan manfaat dalam berbagai bidang, namun masih sedikitnya informasi manfaat dari buah pepaya muda sebagai bahan Selama bertahun-tahun bagian dari tanaman pepaya yang terdiri dari buah mentah maupun matang, daun, biji, serta sarinya telah digunakan sebagai obat tradisional karena aktivitas antioksidannya yang tinggi. Setiap A buah pepaya ukuran sedang yang setara dengan 76 gram A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 mengandung 30 kalori, 89% air, 0,5 g protein, 8 g karbohidrat, 2 g serat, 1 mg kalium, 18 mg kalsium, 8 mg magnesium, 8 mg fosfor, 22 IU Vitamin A, 47 mg Vitamin C, 1 mg Vitamin E, 1mg niasin, 29 micrg folat. Biji pepaya memiliki kandungan karpain, caricin, glikotropakolin, alkaloid, flavanoid dan enzim papain. Pada daun pepaya mengandung senyawa Flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, steroid, dan tritepnoid. Akar pepaya memiliki kandungan karposid, dan enzim mirosin (Mardhiah & Sabarina. Kandungan senyawa pada tanaman Carica papaya L. mempunyai sifat Biji, daun, batang, daging buah dan akar memiliki sifat antifertilitas (Cruz et , 2. Biji pepaya (Carica pepaya L. sebagai antifertilitas sudah diketahui sejak tahun 1970 dapat menyebabkan kuantitas dan kualitas sperma menurun. Potensi antifertilitas ini diperkuat oleh adanya penelitian yang menunjukkan bahwa didalam biji pepaya terkandung senyawa antifertilitas yaitu saponin dan flavanoid (Pupitaari et al. , 2. Daun pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavanoid, saponin dan tanin. Daun pepaya berkhasiat sebagai antioksidan, atibakteri, antimalaria. Beberapa senyawa yang diduga sebagai antifertilitas adalah flavanoid, alkaloid, isoflavanoid, steroid, xantom dan triterpen (Dewanti et al. , 2. Pada penelitian Sindhu . menyatakan bahwa, terdapat kandungan kimia pada pepaya yaitu enzim, likopen, flavonoid, mineral dan vitamin. Efek antifertilitas dari Carica papaya L. penelitian ini adalah dengan memberikan buah pepaya yang masih mentah kepada tikus betina dapat mengganggu siklus estrus dan menyebabkan aborsi. Efek ini hilang ketika buah menjadi terlalu matang. Pepaya juga menunjukkan efek antiimplantasi dan Disamping itu buah pepaya muda (Carica papaya L. ) juga mengandung senyawa multi enzim, diantaranya enzim cyclotransferase, peptidase A dan B dan monoterpenoid. Saponin dan flavonoid (Heena & Sunil, 2. Bahan aktif pepaya yaitu triterpenoid saponin, alkaloid dan flavanoid mampu bekerja sebagai antifertilitas. Senyawa aktif tersebut memiliki sifat estrogenik ringan dan sifat anti estrogenik sehingga dapat digunakan sebagai pengatur kesuburan. Senyawa antifertilitas dapat menyebabkan kerusakan pada zigot, mencegah terjadinya ovlasi dan implantasi. Senyawa antifertilitas ini diduga mampu mengakibatkan gangguan pada jalur hipotalamus hipofise yang sekresi hormon gonad, sekresi FSH dan LH yang kemudian akan berpengaruh terhadap pematangan folikel (Hakameri, et al. , 2. Senyawa saponin dan flavonoid dapat disintesis menjadi antiestrogen di dalam tubuh menyebabkan sehingga mengganggu sekresi estrogen Terganggunya sekresi estrogen dan endogen menyebabkan proses miotik mengakibatkan sel telur gagal berkembang dan matang. Pengaruh lain dari senyawa ini adalah kelenjar serviks menjadi sedikit dan lebih kental, keadaan ini akan mengganggu motilitas spermatozoa, maka tidak terjadi fertilisasi meskipun terjadi perkawinan. Efek lain antiestrogen menyebabkan atrofi endometrium, sehingga meskipun terjadi fertilisasi proses implantasi akan terganggu (Devi, et. al, 2. Salah satu senyawa yang diduga memiliki kemampuan sebagai antifertilas adalah senyawa flavanoid. Senyawa flavanoid bersifat estrogenik yang dapat mengganggu sekresi Follicle Stimulating Hormon (FSH) sehingga perkembangan folikel yang berada di ovarium akan Perkembangan folikel yang tehambat berdampak terbentuknya folikel atresia (Setiawan et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut masih sedikitnya informasi mengenai potensi buah pepaya muda sebgai agen antifertilitas alami terutama pengaruhnya terhadap ovarium. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah dengan pemberian ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya L. ) berdampak terhadap jumlah folikel sekunder, de graaf dan korpus luteum ovarium tikus betina (Rattus novergicu. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat eksperimental dengan desain the post test only control group design. Sampel yang dipilih dari populasi menggunakan teknik simple random sampling. Penelitian tentang pemberian ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya . L) ini dilakukan pada tikus (Rattus novergicu. yang berjumlah 24 ekor Setiap kelompok diberikan 2 ekor sebagai cadangan untuk mengindari kriteria ekslusi dan drop out, jumlah tikus/kelompok yang akan digunakan pada penelitian ini adalah 8 ekor tikus. Sehingga jumlah tikus yang digunakan adalah 32 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol tanpa diberikan perlakuan, perlakuan terdiri dari P1 . iberi ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya L. ) 47 mg/200 gr BB). P2 . iberi ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya L. ) 93 mg/200 gr BB). P3 . iberi ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya L. ) 189 mg/200 gr BB). Variabel independen pemberian ekstrak air buah pepaya muda berbagai dosis. Variabel dependen gambaran folikel seunder, folikel de graaf dan korpus luteum. Bahan Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus betina (Rattus norvegicu. yang diperoleh dari Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional II Bukittinggi, digunakan 32 ekor tikus betina yang mempunyai berat 200-300 gr dan umur 12 minggu. Makanan dasar tikus betina adalah pellet yang terbuat dari jagung, kulit padi, dedak, tepung tulang dan Minuman yang diberikan adalah Ekstrak air buah pepaya muda Ekstrak air buah pepaya muda yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah pepaya muda yang diambil ekstraknya berbentuk cair. Pada waktu akan digunakan dilarutkan dengan akuades. Regensia yang digunakan : Akuades untuk melarutkan Ekstrak air buah pepaya Alkohol 70%, 80%, 90%, 96% untuk fiksasi apusan vagina, larutan Giemsa untuk mewarnai apusan, eter untuk mematikan tikus, larutan Phosphate Buffered Saline (PBS) untuk membersikan jaringan, larutan BNF 10%, xilol untuk menjernihkan sediaan histologi ovarium, paraffin dengan titik cair 55-60 CC yang digunakan untuk filtrasi dan embedding jaringan ovarium, pewarna Hematoxylin Eosin (HE) untuk pewarnaan sediaan histologi ovarium, meyers albumin untuk meletakkan specimen ke gelas objek, kanada balsam untuk menempelkan kaca penutup dan membantu indeks bias cahaya. Alat Kandang untuk memelihara hewan percobaan dengan ukuran 60 cm x 40 cm x 20 cm pada setiap masing-masing perlakuan, lengkap dengan tempat makan dan minum , timbangan (Ahaus. untuk menimbang tikus, gavage needle/sonde. Alat untuk pembedahan adalah perangkat alat bedah yang terdiri dari gunting, piset anatomis, pinset cirugie, pisau bedah dan toples beserta penutupnya untuk mematikan tikus betina, alat untuk ekstraksi secara infusa adalah hot plate, rotary evaporator, vacum dryer, objek glass dan kaca penutup untuk sediaan histologi ovarium, mikroskop cahaya binokuler, botol tertutup untuk larutan ekstrak air buah pepaya muda, gelas ukur untuk mengukur volume reagensia yang dipakai, batang pengaduk, gelas objek dan penutupnya untuk sediaan histologi ovarium, mikrotom untuk memotong sediaan histologi ovarium, staining jar . ak pewarn. , kertas tisu, botol dengan penutup untuk fiksasi organ ovarium. Prosedur Kerja Tahapan Hewan Coba Hewan percobaan yang digunakan adalah Tikus betina Rattus norvegicus yang berumur 12 minggu dengan berat 200-300 gr. Tikus betina ditempatkan pada kandang yang terbuat dari plastik dan dialas dengan serbuk kayu serta ditutup dengan penutup yang terbuat dari besi, pada penutup tersebut terdapat tempat untuk meletakkan makanan dan botol minum. Alas kandang diganti setiap minggu. Suhu ruangan yang digunakan untuk kandang tikus A 2 oC, kelembaban 73%, dan siklus cahaya 12 jam terang dan 12 jam gelap. Pakan yang diberikan kepada hewan uji berupa pelet dan air minum berasal dari air ledeng. Persediaan makanan dan minum diberikan setiap hari secara ad libitum. Sebelum diaklimatisasi terlebih dahulu didalam kandang selama 1 minggu. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 Bahan Uji Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah ekstrak air buah pepaya muda yang berbentuk cairan dengan konsentrasi P1 23,5 mg/ml. P2 46,5 mg/ml. P3 94,5 mg/ml. Pemberian ekstrak air buah pepaya muda (Carica papay. L) pada penelitian ini diberikan secara gavage dan pelarut yang digunakan adalah akuades digunakan untuk dikonsumsi. Untuk volume pemberian menggunakan rumus : Volume sediaan yang diberikan kemasingmasing hewan : Volume Pemberian = BB Tikus : Persen Pemberian Volume Pemberian Pemberian = BB Tikus : Persen = 200 gram x 1% = 2 ml Volume pemberian ekstrak air buah pepaya VAO . = dosis . g/k. x BB . C . g/m. Keterangan : : Konsentrasi sediaan . g/m. VAO : Volume pemberian . Pembuatan Ekstrak Esktrak buah pepaya muda diekstrak menggunakan infundasi dengan menyaring zat kandungan aktif yang larut dalam air buah pepaya muda (Wijaya, et. al, 2. Buah pepaya dibuang biji dan kulitnya kemudian ditimbang lebih kurang 3 kg, dicuci bersih dan dirajang. Hasil rajangan disalin ke becker glass yang selanjutnya dipanaskan dengan ditambahkan aquades secukupnya selama lebih kurang 15 menit sampai suhu mencapai 90A C sambil Kemudian menggunakan kertas saring untuk kemudian dipekatkan pada rotary evaporator hingga didapatkan ekstrak kental yang akan disimpan dalam botol gelap untuk menghindari sampel teroksidasi oleh (Sariyem, et. al, 2. Pemberian Bahan Uji Ekstrak air buah pepaya muda diberikan secara gavage pada tikus betina mulai dari masa estrus hari pertama sampai hari dua puluh. Pemberian ekstrak pepaya muda dilakukan satu kali sehari yaitu pada 00 . agi har. Pemberian diberikan secara Oral gavage dengan memasukkan selang lambung makanan melalui mulut . Pemberian secara oral merupakan metode yang paling sering digunakan karena faktor kemudahan penggunaan dan kenyamanan, selain itu waktu yang diberikan dapat dikontrol sesuai jadwal yang kita tentukan (Zhang, 2. Pemberian secara oral gavage diberikan mulai dari fase estrus sampai hari ke-20, untuk menentukan tikus dalam fase estrus maka dilakukan pemeriksaan vaginal smear. Apusan vagina pada saat estrus akan menunjukan sel epitel yang menanduk (Sulastri, et. al, 2. Waktu pemberian ekstrak air buah pepaya muda yang sudah dilarutkan dengan aquades diberikan 1 kali sehari pukul 08. 00 WIB . agi har. Pembuatan preparat vaginal Smear Pembuatan preparat vaginal Smear ini menggunakan alat yang berupa cotton bud. Alat ini berfungsi untuk mengambil sel-sel epitel vagina sehingga dapat diamati Sel-sel epitel vagina yang telah terambil selanjutnya diletakkan objek glass dan diberi pewarna giemsa. Sel-sel epitel vagina tersebut untuk selanjutnya diamati dibawah mikroskop cahaya. Mematikan Tikus Betina Mematikan tikus betina dilakukan setelah 20 hari perlakuan diberikan. Tikus betina dimatikan dengan cara Anestesi Tabel 1. Volume pemberian berdasar cara pemberiannya Species Mencit 20-30gr Tikus 200 gr Kelinci 2,5kg Volume maksimum sesuai jalur pemberian 0,05 0,5-1,0 (Stevani, 2. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 pembiusan dengan Eter. Caranya adalah dengan meletakkan larutan eter dengan larutan kepekatan dan pelarut 2% dalam NaCl atau 10-25% dalam NaCl dan dosis 300 mg/kg atau 1-1,25 g/kg pada dasar desikator, kemudian masukkan tikus betina kedalam wadah tertutup, ditunggu sampai tikus betina tidak bergerak, pupil midriasis dan mata tertutup. Apabila tikus betina Untuk dilakukan dengan melakukan penekanan leher serta menariknya kearah anterior . islokasio atlanto-occipitali. (Stevani. Pembedahan Tikus betina yang telah mati ditelentangkan diatas papan fiksasi, ke empat ekstremitas difiksasi. Lakukan laparatomi, identifikasi dan potong ovarium, dibilas dengan menggunakan Phosphate Buffered Saline (PBS) dimasukkan kedalam larutan BNF 10%. Pembuatan Preparat Histologi Ovarium Metode yang digunakan dalam pembuatan preparat histologi ovarium adalah dengan parafin. Tahapan metode parafin dimulai dengan fiksasi. Ovarium difiksasi di dalam larutan BNF 10% selama 24-48 jam, selanjutnya dipotong melintang dengan ketebalan A 2-3 mm dan dimasukkan ke kaset histologi dan diberikan kode yang sesuai dengan kode gross, jaringan kemudian diproses dengan alat Tissue Tex Prosesor selama 90 menit sampai alarm berbunyi menandakan selesai, selanjutnya diblok dengan paraffin sesuai dengan kode jaringan, jaringan disayat menggunakan alat microtome dengan ketebalan 3-5 mikron. Preparat yang sudah disayat kedalam oven selama 30 menit dengan suhu 70A-80AC, kemudian dimasukkan ke dalam 2 tabung xylol, masing-masing 20 menit. Kemudian dimasukkan ke 4 tabung alkohol dengan durasi 3 menit setiap tabung . dan diberikan air mengalir selama 15 menit. Proses pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) yaitu potongan jaringan dimasukkan ke cat utama Harris Hematosiklin selama 10-15 menit, cuci dengan air mengalir 15 menit, celupkan 2-5 kali alkohol asam 1%, celupkan 3-5 kali amonia lithium karbonat, cat pembanding : Eosin 1% selama 10-15 Proses dehidrasi dengan alkohol secara bertingkat dimulai dari alkohol 70%, 80%, 96% masing-masing selama 3 menit. Alkohol absolut selama 3 menit, proses penjernihan (Clearin. dengan Xylol selama 15 menit sebanyak 2 kali. Mounting dengan entelan dan coverglass, slide ditutup cover glass dan dibiarkan kering pada suhu ruang, setelah kering, slide siap untuk diamati dengan mikroskop. Pengamatan dan Perhitungan Hasil Penelitian Preparat Folikel Pengamatan memeriksa 64 ovarium tikus betina yang dibuat hasil preparat histologi dengan menggunakan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Dilakukan pengamatan dengan lapangan pandang secara acak menentukan folikel sekunder, de graaf dan korpus Perhitungan Preparat Histologi Ovarium Preparat menggunakan mikroskop pada 10 lapang pandang untuk menghitung seluruh jumlah folikel folikel sekunder, folikel de graff dan korpus luteum pada sediaan ovarium dengan pembesaran 10x dan 40x HASIL DAN PEMBAHASAN Folikel Sekunder Untuk mengetahui apakah pemberian Ekstrak Air Buah Pepaya Muda antar kelompok perlakuan memberikan pengaruh maka perlu dilakukan analisis perbandingan masing-masing kelompok perlakuan. Oleh karena itu sebelum melakukan analisis tersebut, data yang diperoleh diuji normalitas terlebih dahulu, uji normalitas yang digunakan adalah uji Shapiro Wilk. Hasil uji normalitas didapat data tidak terdistribusi normal dengan nilai p=0,006 . O 0,. , kemudian dilanjutkan dengan uji Kruskal-Wallis. Berdasarkan tabel 2 didapatkan bahwa rata-rata jumlah folikel sekunder yang paling tinggi ditemukan pada perlakuan ke-2 dan ke-3 dengan rata-rata 0,67. Hasil uji perbandingan jumlah folikel sekunder untuk semua kelompok subjek A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 Gambar 1: Folikel Sekunder, a. Kelompok Kontrol, b. Kelompok P1, c. Kelompok P2 (Perbesaran 40X. HE) diperoleh nilai p>0,05 . Hal ini menunjukkan bahwa pemberian Ekstrak Air Buah Pepaya Muda pada tikus betina tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah folikel sekunder pada struktur ovarium tikus tersebut dan tidak dilanjutkan ke uji statistik selanjutnya. Setelah di analisis menggunakan uji Kruskal Wallis tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan Pada saat pengamatan jumlah folikel sekunder untuk masing-masing kelompok kontrol, perlakuan 1, perlakuan 2, dan perlakuan 3 tidak banyak ditemukan. Hal ini diduga karena tidak adanya penurunan kadar hormon estrogen dalam jumlah banyak didalam darah yang FSH hipotalamus masih terhambat, walaupun pemberian ekstrak air buah pepaya muda Oleh karena itu sel folikel masih dalam jumlah yang relatif sama pada perlakuan 1, perlakuan 2 dan pelakuan 3. Pemberian ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L. ) yang mengandung senyawa saponin tidak memiliki pengaruh terhadap jumlah folikel sekunder. Hal ini disebabkan pertumbuhan folikel tidak tergantung pada hormon gonadotropin akan tetapi dipengaruhi oleh factor pertumbuhan yang diproduski secara lokal melalui mekanisme parakrin (Williams & Gregory. Penelitian Ayuningtyas et al. pemberian ekstrak etonaol biji pepaya pada tikus betina Galur Wistar memberikan hasil bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan penurunan jumlah folikel antral . rimer dan sekunde. Hal ini disebabkan pertumbuhan folikel tidak tergantung pada hormon gonadotropin. Banyak berkembang antara lain spesies hewan, fase reproduksi, keadaan lingkungan, umur induk dan faktor genetik. Dugaan yang menjadi penyebab tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap jumlah folikel sekunder pada tikus dengan pemberian ekstrak air buah papaya muda faktor umur induk dan faktor genetik. Folikel de graaf Untuk mengetahui apakah pemberian Ekstrak Air Buah Pepaya Muda antar kelompok perlakuan memberikan pengaruh maka perlu dilakukan analisis perbandingan masing-masing kelompok perlakuan. Oleh karena itu sebelum melakukan analisis A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 Tabel 2 Perbandingan Jumlah Folikel Sekunder Pada Kelompok Kontrol dan Ekstrak Air Buah Pepaya Muda Kelompok Subjek Kontrol Negatif Perlakuan 1 Perlakuan 2 Perlakuan 3 Rata-rata Jumlah Folikel Sekunder A SD 1,50 A 0,548 1,17 A 0,983 0,67A 0,516 0,67A 0,516 0,083ns Ket: ns = tidak berbeda signifikan tersebut, data yang diperoleh diuji normalitas terlebih dahulu, uji normalitas yang digunakan adalah uji Shapiro Wilk. Hasil uji normalitas didapat data tidak terdistribusi normal p=0,001 . O 0,. Dikarenakan data tidak terdistribusi normal maka uji statistik selanjutnya menggunakan uji Kruskal-Wallis untuk melihat pengaruh pemberian Ekstrak Air Buah Pepaya Muda terhadap jumlah folikel de Graaf pada semua kelompok Dari tabel 3 menjelaskan bahwa ratarata folikel de Graaf ditemukan paling banyak pada kelompok kontrol dengan nilai rata-rata 2,17 dan rata-rata jumlah folikel de Graaf pada kelompok perlakuan dengan dosis tertinggi 189 mg/200 grBB . Setelah dilakukan uji statistik diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata jumlah folikel de Graaf antar kelompok perlakuan dengan nilai p>0,05, sehingga tidak perlu dilakukan uji lanjut untuk multiple comparison. Hasil analisis perbandingan jumlah folikel de graaf dengan uji Kruskal Wallis memberikan pengaruh terhadap jumlah folikel, walaupun secara statistik tidak berpengaruh secara signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan1, perlakuan 2 dan perlakuan 3. Hal ini dikarenakan kurangnya dukungan hormonal untuk folikel mengalami perkembangan saat berovulasi, sehingga kadar estrogen meningkat yang menyebabkan penurunan sekresi FSH yang pada akhirnya perkembangan folikel menjadi dewasa yang siap untuk ovulasi menjadi terganggu. Kejadian tersebut dapat dikarenakan fase folikulogenesis yang terjadi pada ovarium telah berada pada fase diestrus, dimana semua folikel de graaf sudah mengalami ovulasi. Penelitian Odirichukwu et al. yang melaporkan bahwa pemberian ekstrak methanol air buah pepaya muda pada dosis 450 dan 900 mg/kg bb memperpanjang siklus metestrus dan diestrus sehingga mengurangi terjadi fase estrus pada siklus estrus tikus betina. Terjadinya pengurangan fase estrus pada siklus estrus menunjukkan juga terjadinya pengurangan frekuensi ovulasi sehingga dapat mengganggu fertilitas tikus betina dikarenakan adanya senyawa kimia yang terdapat pada esktrak air buah pepaya muda, senyawa tersebut kemungkinan Pengaruh ekstrak air dan biji papaya (Carica papaya L. ) terhadap keteraturan Siklus Estrus Mencit (Mus musculu. dengan umur 2,5 bulan, ditemukan bahwa bahwa paparan senyawa antifertilitas dalam biji pepaya terbukti mempengaruhi siklus Hal tersebut ditunjukkan dengan persentase Mencit (Mus musculu. yang mengalami gangguan keteraturan siklus peningkatan dosis yang diberikan senyawa Gambar 2 Folikel de Graaf, a. Kelompok Kontrol, b. Kelompok P1 c. Kelompok P2 (Perbesaran 10X. HE) A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 Tabel 3 Perbandingan Jumlah Foliker de Graaf pada Kelompok Kontrol dan Ekstrak Air Buah Pepaya Muda Kelompok Subjek Kontrol Negatif Perlakuan 1 Perlakuan 2 Perlakuan 3 Rata-rata Jumlah Folikel de Graaf A SD 2,17 A 1,169 0,67 A 0,816 0,50 A 0,837 1,00A 1,265 0,069ns Ket: ns = tidak berbeda signifikan antifertilitas dalam bahan uji. Persentase hewan uji yang diberikan senyawa antifertilitas dengan dosis P1 menunjukkan keteraturan siklus estrus yang relatif sama dengan K- dan kelompok kontrol positif K , yaitu berkisar 83%. Hal tersebut dapat diartikan hewan uji yang memiliki siklus estrus tidak teratur berkisar 15-17% dari keseluruhan hewan uji (Sitasiwi et al. , 2. Hasil penelitian berbeda dengan yang dilaporkan oleh Alfian et al. , jumlah folikel de graaf ovarium mencit mengalami penurunan dengan bertambahnya dosis ekstrak air biji pepaya yang diberikan, penurunan jumlah folikel de graaf dikarenakan adanya senyawa antifertilitas biji pepaya yang dapat mempengaruhi sistem hormon pada hewan percobaan . Hasil temuan tersebut berbeda dengan hasil penelitian Odirichukwu et al. yang melaporkan bahwa pemberian ekstrak methanol air buah pepaya muda pada dosis 450 dan 900 mg/kg bb memperpanjang siklus metestrus dan diestrus sehingga mengurangi terjadi fase estrus pada siklus estrus tikus betina kelompok kontrol, dan rata-rata fase estrus menunjukkan penurunan yang signifikan . <0,. Banyak berkembang antara lain spesies hewan, fase reproduksi, keadaan lingkungan umur induk dan faktor genetik. Hal ini diduga menyebabkan tidak adanya perbedaan yang signifikan terhadap jumlah folikel pada tikus dengan pemberian ekstrak air buah papaya muda dan tanpa pemberian ekstrak air buah pepaya muda. Korpus Luteum Berdasarkan uji normalitas data diketahui data jumlah korpus luteum terdistribusi secara normal dengan nilai p=0,317 . >0,. Menurut normalitas data yang dilakukan, data korpus luteum untuk semua perlakuan tersebar secara normal, sehingga untuk melihat pengaruh Ekstrak Air Buah Pepaya Muda terhadap jumlah korpus luteum pada struktur histologi ovarium dilakukan uji perbandingan ANOVA. Dari tabel 4 menunjukkan bahwa ratarata jumlah korpus luteum yang diamati pada struktur histologi ovarium pada kelompok perlakuan yang diberikan Ekstrak Air Buah Pepaya Muda mengalami peningkatan dibandingkan dengan kontrol. Rata-rata jumlah korpus luteum tertinggi . terdapat pada kelompok perlakuan Ekstrak Air Buah Pepaya Muda dengan dosis yang paling tinggi yaitu 189 mg/200 gr/BB. Berdasarkan tabel 2 dapat diamati juga bahwa setelah dilakukan analisis statistik ANOVA, perbandingan ratarata jumlah korpus luteum untuk semua perlakua berbeda signifikan dengan nilai p<0,05, hal memberikan infomasi pada penelitian ini bahwa pemberian Ekstrak Air Buah Pepaya Muda memberikan pengaruh terhadap jumlah korpus luteum pada struktur histologi ovarium tikus. Analisis statistik lanjutan dari uji Tabel 4 Perbandingan Jumlah Korpus Luteum pada Kelompok Kontrol dan Ekstrak Air Buah Pepaya Muda Kelompok Subjek Kontrol Negatif Perlakuan 1 Perlakuan 2 Perlakuan 3 Rata-rata Jumlah Korpus Luteum A SD 7,17 A 1,169 12,33 A 2,338 17,17 A 1,722 24,17 A 4,401 0,000* A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 Tabel 5 Uji Multiple Comparison Bonferroni Jumlah Korpus Luteum pada Kelompok Kontrol dan Ekstrak Air Buah Pepaya Muda Kelompok Kontrol Kontrol 0,21 0,00* 0,00* 0,21 0,34 0,00 0,00* 0,34 0,001* 0,00* 0,00 0,001* uji ANOVA yang digunakan untuk membandingkan perbedaan masing-masing perlakuan adalah Uji Multiple Comparisons Bonferroni. Hasil uji perbandingan masingmasing menunjukkan bahwa untuk perbandingan antara perlakuan Ekstrak Air Buah Pepaya Muda dengan dosis tertinggi dengan kontrol. P2 dan P3 menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p<0,05 . Hal ini memberikan infomasi pada penelitian ini bahwa perlakuan Ekstrak Air Buah Pepaya Muda yang sangat memberikan pengaruh terhadap jumlah korpus luteum tikus pada struktur histologi ovarium adalah pada dosis yang paling tinggi. Berdasarkan hasil uji analisis ANOVA terdapat perbedaan yang signifikan korpus luteum antara kelompok kontrol dengan Setelah dilakukan uji lanjut perbedaan yang signifikan terlihat antara kelompok perlakuan dosis Ekstrak Air Buah Pepaya Muda tertinggi dengan kelompok kontrol. P2 dan P3. Pepaya muda mengandung beberapa senyawa fitokimia seperti saponin, alkaloid, tanin, flavonoid, triterpenoid, dan kuinon merupakan prekursor hormon progesteron (Nadiyah, et. al, 2. Efek yang ditimbulkan jika diberikan secara berlebihan akan menyebabkan hormon progesteron yang dihasilkan akan meningkat dalam darah, sehingga dengan meningkatnya memberikan efek umpan balik terhadap Progesteron merupakan hormon yang dihasilkan oleh korpus luteum di dalam ovarium. Berperan dalam proses pembentukan endometrium pada dinding rahim untuk menerima ovum yang telah dibuahi. Meningkatnya jumlah progesteron diduga memicu perkembangan oosit didalam folikel de graaf terjadi dengan cepat. Selain itu progesteron yang meningkat diduga menyebabkan folikel de graaf yang terovulasi sebelum waktunya. Hal ini Penelitian Odirichukwu et al. melaporkan bahwa pemberian ekstrak methanol air buah pepaya muda pada dosis 450 dan 900 mg/kg bb memperpanjang siklus metestrus dan diestrus sehingga mengurangi terjadi fase estrus pada siklus estrus tikus Fase diestrus merupakan fase korpus luteum bekerja secara optimal. Fase ini disebut juga fase persiapan uterus untuk Fase ini merupakan fase yang terpanjang di dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, korpus luteum akan berkembang dengan sendirinya menjadi organ yang fungsional yang menghasilkan sejumlah progesteron. Korpus luteum mensekresikan progesteron dan hormon progesteron yang dihasilkan tergantung pada perkembangan korpus luteum, jika perkembangan korpus luteum berlangsung normal, akan dihasilkan kadar hormon yang normal. Sebaliknya jika selama proses perkembangan, jumlah korpus luteum meningkat mengakibatkan Gambar 3. Korpus Luteum (KL) a. Kelompok Kontrol, b. Kelompok P1. Kelompok P2, Kelompok (Perbesaran 10x. HE) A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 48-59 produksi progesteron terganggu. Hal ini sangat tergantung pada besarnya gangguan yang terjadi selama proses perkembangan korpus luteum. KESIMPULAN Dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini bahwa pemberian Ekstrak Air Buah Pepaya Muda tidak berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah folikel sekunder dan folikel de graaf dibandingkan kelompok kontrol, namun memberikan pengaruh pada korpus luteum. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional II Bukittinggi yang telah memberikan izin dan bantuan dalam proses pelaksanaan penelitian ini. REFERENSI