Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Edukasi Etika Berbahasa di Media Sosial Bagi Peserta Didik di SMA Teuku Umar Semarang: Membentuk Generasi Digital Native Positif Siti Ulfiyani. Rawinda Fitrotul Mualafina. Mukhlis. Raden Yusuf Sidiq Budiawan. Sunarya Universitas PGRI Semarang Artikel Info ABSTRAK Genesis Artikel: Latar Belakang: Edukasi tentang etika berbahasa di media sosial bukan hanya penting, tetapi juga mendesak untuk diberikan kepada generasi muda. Hal tersebut disebabkan mayoritas generasi muda merupakan pengguna aktif media sosial. Tujuan: Membentuk generasi muda sebagai generasi digital dapat mengembangkan pemahaman yang komprehensif tentang penggunaan bahasa di media sosial dengan baik, juga memaksimalkan potensi positif dari media sosial. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan dengan strategi kronologis mencakup studi kasus, latihan terbimbing, latihan mandiri, dan pemberian materi yang relevan. Hasil: Berdasarkan kegiatan latihan mandiri, peserta sudah menerapkan etika berbahasa khususnya dalam konteks mengirimkan pesan melalui platform Whatsapp. Sebesar 100% peserta sudah mengirimkan pesan dengan bahasa yang sesuai dengan konteks. Yang artinya peserta telah menunjukan secara konkret penggunaan bahasa yang Kesimpulan: Pelatihan implementasi etika berbahasa dalam konteks komunikasi media sosial perlu dilaksanakan secara berkelanjutan. Dikirim, 20 November 2024 Diterima, 12 Desember 2024 Diterbitkan, 25 Desember 2024 Kata Kunci: Generasi Digital Media Sosial Etika Berbahasa ABSTRACT Keywords: Digital native Social Media Language Ethics Background: Education about language etiquette on social media is not only important, but also urgent to be given to the younger generation. This is because the majority of the younger generation are active users of social Objective: Shaping the younger generation as a digital generation can develop a comprehensive understanding of the use of language on social media well, as well as maximizing the positive potential of social media. Methods: This activity was carried out with a chronological strategy including case studies, guided exercises, independent exercises, and the provision of relevant materials. Results: Based on independent training activities, participants have applied language ethics, especially in the context of sending messages through the Whatsapp platform. As many as 100% of participants have sent messages in a language that is appropriate to the context. Which means that the participants have shown concretely good use of language. Conclusion: Training on the implementation of language ethics in the context of social media communication needs to be carried out on an ongoing basis. This is an open access article under the CC BY-SA License. Penulis Korespondensi: Raden Yusuf Sidiq Budiawan. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas PGRI Semarang. Email: r. b@upgris. Orchid ID: https://orcid. org/0009-0005-2704-0752 Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi dan penetrasi media sosial yang semakin pesat, menyebabkan generasi muda tumbuh menjadi pengguna aktif dari berbagai platform media sosial seperti Instagram. Whatsapp. TikTok. Facebook, dan X. Generasi tersebut, lebih dikenal dengan istilah Digital native. Digital native adalah generasi yang dalam keseharian berdampingan dengan teknologi modern, seperti laptop, smartphone, telepon seluler, videogame, dan teknologi modern lainnya (Sujana et al. , 2. Sebagai generasi yang lahir dan besar pada era teknologi digital dan masifnya media sosial berbagai manfaat dapat dirasakan. Manfaat tersebut ialah terdapat fasilitas yang dapat digunakan untuk mewakili diri dan membangun interaksi, kolaborasi, komunikasi dengan orang lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual (Yusuf et al. , 2. Dengan manfaat dan kemudahan yang ditawarkan media sosial, juga terdapat tantangan besar yang perlu dihadapi. Tantangan yang dihadapi salah satunya berkenaan dengan kesenangan mencari informasi melalui sumber yang tersedia secara online dibandingkan sumber-sumber yang tersedia di perpustakaan (Handayani & Fauzi, 2. Tantangan lain muncul dari fakta bahwa generasi digital native belum memahami secara komprehensif resiko dan konsekuensi atas aktivitas dalam bermedia sosial seperti keamanan yang berkaitan dengan privasi. Generasi digital native belum menyadari bahwa informasi pribadi yang dibagikan secara terbuka dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak baik, seperti pencurian identitas dan penipuan online yang makin marak terjadi. Oleh karena itu, yang diperlukan oleh generasi muda agar lebih aware pada keamanan dan terhindar dari cybercrime ialah edukasi yang bertujuan membangun sikap selektif dalam bermedia sosial. Hal tersebut disebabkan generasi muda merupakan sasaran bagi pelaku kejahatan cyber (Umami & Yusuf, 2. Tantangan lain yang perlu mendapatkan perhatian selanjutnya ialah etika berbahasa. Etika berbahasa dalam konteks ini berkenaan dengan keterampilan komunikasi yang dilakukan dalam media Etika berbahasa adalah tata cara atau norma yang perlu dipatuhi dalam interaksi sosial (Supriadin, 2. Etika berbahasa berorientasi pada pengembangan sikap menghormati dan menjaga kesopanan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Dengan menerapkan etika berbahasa membantu dalam membangun hubungan positif dan berkelanjutan dalam komunitas online. Secara spesifik, dengan pemahaman dan penerapan etika berbahasa dalam komunikasi maka generasi digital native dapat meningkatkan kualitas komunikasi, memperkuat hubungan sosial, mengurangi resiko konflik dan permusuhan, dan membangun citra Dengan baiknya dampak yang akan dirasakan maka pengetahuan tentang etika berbahasa menjadi sesuatu yang perlu dikuasai oleh generasi digital native. Penguasaan etika berbahasa menjadi kunci penting karena melibatkan penggunaan bahasa yang hormat, jujur, bertanggung jawab, dan tidak merugikan orang lain (Taufiq et al. , 2. Pengetahuan etika berbahasa yang dimaksud misalnya validitas informasi, bahasa yang bersifat konstruktif, dan kesantunan yang berkaitan dengan norma sosial dan budaya. Edukasi tentang etika Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. berbahasa menjadi sebuah solusi atas berbagai kekhawatiran bermedia sosial yang kerap dirasakan (Hamsiah et al. , 2. Berbagai fenomena pemicu kekhawatiran kerap dinormalisasi dan dianggap Beberapa contoh fenomena yang mengkhawatirkan itu salah satunya ialah internet trolling atau online trolling. Disampaikan oleh Jannah dan Rosyiidiani . , internet trolling atau online trolling dapat diartikan sebagai bentuk perilaku seseorang yang memiliki sikap menipu, merusak, menggangu di lingkup media sosial dengan tujuan yang tidak jelas. Pelaku internet trolling lebih dikenal dengan istilah internet troll. Internet Trolling dipicu oleh kebebasan berekspresi, anonimitas, dan keterbatasan cara membalas di laman media sosial. Motif internet trolling lainnya berkenaan dengan kepuasaan pribadi, need of attention, personal frustation, law of self-confidence, dan kebosanan (Amaliyah & Agustina. Bentuk internet trolling ialah ujaran kebencian dalam rupa komentar buruk, manipulatif, intimidatif, provokatif, diskriminatif, seksisme, rasisme, hingga penyebaran propaganda atau berita Secara keseluruhan, ketidakbaikan berbahasa dalam media sosial dapat dengan mudah memicu konflik, menciptakan lingkungan yang tidak aman dan tidak nyaman bagi pengguna lainnya, serta merusak reputasi individu atau kelompok tanpa dasar yang kuat. Dampak negatif ini menegaskan pentingnya kesadaran akan etika berbahasa dalam setiap interaksi online untuk membangun lingkungan digital yang lebih positif dan mendukung. Untuk itulah edukasi tentang etika berbahasa perlu dilakukan. Khususnya bagi generasi digital native yang didominasi oleh remaja yang secara aktif menjadikan media sosial sebagai bagian dari gaya hidup atau budaya mereka (Firamadhina & Krisnani, 2. Paparan tersebut menjadi latar belakang diselenggarakannya kegiatan pengabdian yang dilaksanakan di SMA Teuku Umar Semarang. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dipaparkan, pemilihan SMA Teuku Umar Semarang dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan pertama berkaitan dengan potensi yang dimiliki oleh mitra. SMA Teuku Umar merupakan salah satu sekolah swasta berakreditasi A di Semarang yang berlokasi strategis. Peserta didik yang ada di sana notabene adalah remaja yang juga aktif dalam bermedia sosial merupakan pertimbangan berikutnya. Bertemali dengan pertimbangan tersebut, kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan tujuan mengedukasi peserta didik di SMA Teuku Umar Semarang yang notabenenya merupakan remaja yang secara aktif mempergunakan media sosial. Berdasarkan pengamatan, permasalahan prioritas yang dibidik dalam kegiatan ini ialah: peserta didik belum seluruhnya mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam konteks media sosial yang ditandai dengan kondisi berikut. Pengetahuan tentang etika berbahasa masih belum dikuasai secara komprehensif Masih dijumpai ujaran kurang baik di media sosial, baik dalam konteks mengomentari postingan teman atau menulis takarir postingan yang dibagikan Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Kosakata yang diperoleh di media sosial digunakan tidak pada tempatnya pada interaksi langsung misalnya kata anjay, bun, uwu, halu digunakan saat berkomunikasi dengan guru dalam interaksi belajar mengajar Pemahaman atas karakteristik berita hoaks masih belum diterapkan dalam penelusuran informasi melalui media sosial, sehingga peserta didik belum dapat membedakan informasi yang valid dan tidak valid. Etika berbahasa di media sosial merupakan topik yang semakin relevan mengingat pengaruh besar platform digital dalam membentuk interaksi sosial. Artikel pertama menyoroti penguataan generasi cerdasa bermedia sosial melalui penguatan keterampilan memirsa. Keterampilan memirsa diperlukan sebagai upaya menumbuhkan sikap bijak dalam bermedia sosial. Hal tersebut didasarkan pada fakta, informasi di sosial media memiliki berbagai sifat, di antaranya user-generated, virality, dan tanpa batas (Ulfiyani et al. , 2. Artikel kedua mengidentifikasi tantangan spesifik di Indonesia, di mana ujaran kebencian dan hoaks menjadi masalah besar akibat kurangnya kesadaran etika berbahasa di kalangan Dalam artikel ini juga disampaikan saran terkait model moral value yang lebih terpat diterapkan dalam konteks komunikasi media sosial agar pengguna terbebas dari kemungkinan menjadi pelaku ujaran kebencian (Muannas & Mansyur, 2. Artikel ketiga, menekankan pentingnya literasi dalam bermedia sosial yang dimulai sejak dini karena berkaitan dengan karakter pengguna yang lebih Dalam artikel tersebut ditekankan etika komunikasi yang baik dalam media sosial melalui berbagai sikap seperti menghindari kata kasar, provokatif, porno ataupun SARA. tidak memposting artikel atau status yang tidak valid sumbernya, dan tidak mengkopi paste artikel atau gambar yang mempunyai hak cipta (Maulinda & Suyatno, 2. Ketiga artikel tersebut memberikan perspektif yang berbedaAidari tantangan sosial hingga solusi pendidikanAikesemuanya sepakat bahwa peningkatan kesadaran dan edukasi tentang etika berbahasa sangat diperlukan untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan harmonis. Mendasarkan permasalahan prioritas dan studi literatur tersebut, tujuan kegiatan pengabdian ini adalah pemberian edukasi dalam rangka membangun kesadaran tentang media sosial yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari, baik secara positif maupun negatif. Melalui kegiatan ini peserta didik diajak untuk berdiskusi tentang pengalaman mereka di media sosial, serta memahami dampak dari perilaku online mereka terhadap diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan harapan dapat membentuk generasi digital native dalam konteks ini peserta didik yang tidak hanya mahir dalam menggunakan teknologi digital, tetapi juga memiliki kesadaran akan pentingnya etika berbahasa. Melalui kegiatan pengabdian ini, tujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik mengenai cara menggunakan bahasa dengan tepat dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan dalam interaksi di dunia Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. maya dapat dicapai. Dengan demikian, diharapkan mereka dapat menjadi agen perubahan positif dalam penggunaan teknologi digital serta menjaga harmoni dan etika dalam berkomunikasi di dunia maya. METODE PENGABDIAN Community development menjadi pendekatan yang diterapkan dalam kegiatan pengabdian ini . Dari berbagai sumber, community development memiliki arti berbagai usaha untuk memajukan dan mengembangkan masyarakat dengan pelibatan secara langsung dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek dan objek pembangunan (Arsawan et al. , 2019. Handoko, 2013. Lukman, 2. Dalam konteks ini, masyarakat yang dimaksud ialah peserta didik di SMA Teuku Umar Semarang. Metode yang diterapkan dalam upaya menyelesaikan permasalahan mitra adalah dengan strategi kronologis yang berfokus pada edukasi. Dalam praktiknya, lebih dititikberatkan pada latihan secara terbimbing langsung dan pemberian umpan balik. Dengan fokus pada Aulearning by doingAy diharapkan peserta didik menemukan kebermaknaan dari latihan yang dilaksanakan. Strategi ini dipilih dengan pertimbangan sasaran kegiatan merupakan remaja yang senang belajar dengan pelibatan Berikut flowchart gambar 1 dari pelaksanaan pengabdian Masyarakat. Mulai Pendahuluan:Studi Kasus Eksplorasi Konsep: Penguatan Materi Latihan Terbimbing Latihan Mandiri Evaluasi dan Refleksi Selesai Gambar 1. Diagram Alur dari Pelaksanaan PkM di SMA Teuku Umar Semarang Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Diskusi Berbasis Kasus Diskusi yang akan dilaksanakan berfokus pada pengenalan awal konteks permasalahan kepada peserta didik. Tim akan mengajak peserta didik membincangkan kasus terkait kekeliruan menerapkan etika berbahasa di media sosial. Peserta dapat menyampaikan pendapat sesuai perspektif yang dimiliki. Tanya Jawab Interaktif . emberian materi yang releva. Langkah selanjutnya, kegiatan dilaksanakan dengan metode tanya jawab interaktif. Materi yang disampaikan dikolaborasikan dengan pengalaman peserta dalam mempergunakan media sosial sebagai sumber informasi yang dilakukan secara interaktif. Dalam tahap ini, tim akan memberikan materi, yaitu . media sosial dan karakteristiknya, . kesantunan berbahasa, . norma dan etika bermedia sosial, . konsep bahasa Indonesia yang baik dan benar, . hoaks dan karakteristiknya, . keterampilan Memirsa, dan . internet trolling. Latihan Terbimbing Setelah bertanya jawab tentang berbagai materi yang relevan, kegiatan dilanjutkan dengan latihan terbimbing. Latihan dimaksudkan untuk menguatkan materi yang telah diberikan. Pada bagian ini, peserta akan diajak untuk berlatih memberikan komentar di media sosial. Melalui kegiatan ini, pengetahuan yang diberikan akan diterapkan. Latihan Mandiri Langkah akhir, dilaksanakan dengan metode latihan mandiri tanpa pendampingan dari tim. Peserta diminta membuat pesan yang akan dikirimkan kepada guru untuk menguji pemahaman atas konsep bahasa Indonesia yang baik dalam media sosial. Tim akan memberikan umpan balik untuk memberikan penguatan atas latihan yang dikerjakan. HASIL DAN ANALISIS . PT) Kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan berfokus pada upaya untuk memberikan pengetahuan berkaitan dengan media sosial dan penumbuhan sikap cerdas bermedia sosial melalui penguasan keterampilan memirsa. Sebagaimana sajian terkait metode pada bagian sebelumnya, kegiatan pengabdian dilaksanakan dalam beberapa tahapan. Pendahuluan: Diskusi Berbasis Kasus Media sosial menjadi bagian gaya hidup yang tidak terelakan lagi saat ini. Keberadaannya begitu lekat dalam kehidupan sehari-hari. Begitupun dengan apa yang saat ini turut dialami oleh para peserta didik di SMA Teuku Umar Semarang. Hal tersebut, juga didukung dengan kepemilikan gawai sebagai sarana untuk menikmati berbagai fasilitas media sosial. Kebebasan aktivitas yang dimiliki pengguna media sosial berkontribusi pada kebebasan Kebebasan berekspresi tidak hanya tampak dalam konten yang dibagikan tetapi pada bahasa yang dipergunakan. Sebagaimana tersaji pada bagian pendahuluan, salah satu permasalahan Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. prioritas yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan pengabdian ini ialah maraknya internet trolling yang dilakukan oleh pengguna media sosial. Internet trolling paling banyak dijumpai pada akun komentar para public figure. Internet trolling menjadi salah satu wujud pelanggaran etika berbahasa yang nyata terjadi dan menjadi hal yang juga berpengaruh pada aktivitas berbahasa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya ialah bahasa slang yang saat ini banyak dipakai, penyebaran awalnya melalui sosial media, seperti fyi, tmi, fam, lit, flex, anjay, dll. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kata-kata itu digunakan tidak hanya dalam konteks komunikasi media sosial juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berkomunikasi dalam konteks pembelajaran. Dalam studi kasus sebagai pembuka kegiatan, peserta diajak untuk mendiskusikan salah satu berita viral yang banyak menyita perhatian publik. Kasus yang didiskusikan ialah hujatan yang diterima oleh Dewi Sandra karena memiliki nama yang hampir sama dengan Sandra Dewi yang sedang menghadapi kasus korupsi. Hujatan yang diterima tentu saja tidak tepat. Untuk itu, peserta diajak untuk mengeksplorasi penyebab netizen melakukan hal tersebut . Gambar 2. Studi Kasus Beberapa alasan yang disampaikan ialah oversharing. Peserta didik memberikan sejumlah respons atas kasus yang disampaikan. Berikut respons yang telah diberikan oleh peserta: oversharing, sikap ikut-ikutan yang menyebabkan penyebaran informasi keliru secara masif . keengganan mencari tahu informasi yang benar menyebabkan banyak netizen berkomentar terlalu jahat pada orang yang keliru . berita yang tersebar tersebut tidak penting untuk dikomentari . komentar yang disampaikan netizen tidak sopan . Informasi yang dihimpun melalui sesi ini menjadi dasar penyajian materi pada kegiatan Pemberian Materi Kegiatan pengabdian selanjutnya dilaksanakan dengan metode tanya jawab untuk memberikan sejumlah pengetahuan yang bermanfaat bagi peserta oleh tim pengabdian. Materi yang disajikan dibagi Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. menjadi dua tahap. Pada tahap yang pertama, materi yang disajikan difokuskan pada pemahaman tentang media sosial yang disampaikan oleh Siti Ulfiyani. Pd. Materi yang disajikan pada tahap pertama di antaranya, . sifat konten media sosial, . karakteristik konten media sosial, . fenomena sosial di media sosial. Pada tahap ketiga, materi disampaikan oleh Rawinda Fitrotul Mualafina. , yang focus menyampaikan tentang: . konsep bahasa Indonesia yang baik dan benar, . hoaks dan karakteristiknya, dan . internet trolling. Adapun pada tahap ketiga, materi terkait etika berbahasa yang berfokus pada kesantunan berbahasa atau unggah-ungguh serta norma bermedia sosial disampaikan oleh Dr. Sunarya. Hum. Sementara itu, pada tahap akhir penyajian materi, disampaikan keterampilan memirsa yang bertujuan untuk memperkuat penguasan keterampilan memirsa peserta. Materi pada tahap akhir disampaikan oleh Raden Yusuf Sidiq Budiawan. Pd. Materi yang disampaikan yaitu . konsep memirsa, . Kredibilitas dan validitas sumber informasi melalui 4 tahap memirsa, dan . manfaat keterampilan memirsa dalam aktivitas bermedia sosial. Kegiatan pemberian materi dilaksanakan dengan diskusi interaktif. Dengan demikian, peserta dapat secara leluasa menyampaikan pendapat dan mengajukan pertanyaan secara terbuka yang berkaitan dengan pengetahuan yang sedang diberikan. Melalui pemberian materi diharapkan sikap positif dalam bermedia sosial melalui penguasaan etika berbahasa dapat dicapai secara optimal . ambar Gambar 3. Kegiatan Pemaparan Materi 3 Latihan Terbimbing Setelah kegiatan studi kasus dan pemberian pengetahuan selanjutnya ialah latihan terbimbing. Pada tahap ini, peserta diberikan kesempatan untuk menerapkan etika berbahasa dan keterampilan memirsa atas postingan Instagram yang kerap dipenuhi komentar AujulidAy. Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Gambar 4. Postingan untuk Latihan Terbimbing Respons peserta atas postingan gambar 4 tersebut, yaitu: Tidak perlu memberikan respons, karena tidak semua postingan perlu dikomentari. Beberapa hanya perlu lewat saja di beranda tanpa perlu diberikan respons baik dalam bentuk komentar maupun like. Budaya memilah menjadi bentuk konkret respons positif yang sebaiknya dikuasai Tidak oversharing, membagikan postingan tersebut. Bijak dalam membagikan informasi di media sosial, tidak perlu memposting hal yang memancing komentar jahat. Memberikan komentar positif atau sekadar like setelah menganalisis gambar dan caption, agar pembagi postingan termotivasi untuk tetap percaya diri. Budaya komentar positif perlu dilakukan di sosial media. Respons yang disampaikan merupakan hal baik yang tentu perlu diapresiasi sebagaimana tujuan dari pemberian latihan terbimbing. Latihan terbimbing bertujuan untuk memberikan peserta kesempatan menerapkan etika berbahasa dalam menyikapi berbagai informasi yang muncul di media Peserta juga menjadi lebih paham bahwa AuBahasa memiliki kekuatanAy dan berdampak. Memiliki sikap positif menjadi salah satu penguatan bagi peserta yang notabenenya ialah pengguna aktif berbagai platform media berbasis digital. Peserta antusias selama latihan terbimbing peserta menyimak dengan baik, tertib, dan memberikan feedback atau umpan balik yang aktif atas tugas yang didiskusikan. 4 Latihan Mandiri Untuk mengetahui dampak jangka pendek atas berbagai tahapan yang dilaksanakan, tim pengabdi memberikan latihan mandiri untuk peserta. Peserta secara individual mengerjakan tugas yang diberikan. Tugas yang diberikan yaitu mengirim pesan kepada guru melalui platform Whatsapp. Tugas ini diberikan dengan tujuan melatih peserta untuk berbahasa dengan baik dan benar, bahkan dalam konteks komunikasi melalui media sosial. Pada kegiatan latihan mandiri. Dalam pengerjaan tugas, peserta diberi waktu 20 menit untuk menyusun pesan yang akan mereka kirimkan kepada guru. Peserta menuliskan jawaban pada lembar latihan, selanjutnya setelah dirasa tepat dikirimkan secara langsung pada nomor salah satu tim pengabdian. Berdasarkan hasil pengerjaan tugas, diperoleh hasil sebagai berikut. Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik Seluruh peserta yang berjumlah 65 orang menyampaikan pesan dengan bahasa yang baik. Bahasa yang disampaikan sudah sesuai dengan konteks komunikasi. Analisis konteks yang perlu dipertimbangkan pengirim pesan secara sederhana minimal berkenaan dengan pemahaman atas mitra tutur, topik, situasi, waktu, dan tempat. Berdasarkan jawaban atas tugas yang telah terhimpun peserta mampu mengidentifikasi konteks yang ditandai dengan penggunaan bahasa Indonesia ragam formal dengan template pesan yang sesuai dengan konteks. Template yang mayoritas digunakan ialah. Ausalam, perkenalan diri, inti pesan, dan ucapan terima kasihAy. Hasil pengerjaan tugas tersebut, menjadi indikator pemahaman awal yang baik atas rangkaian kegiatan yang berorientasi pada penguatan sikap positif peserta sebagai digital native. Peserta menunjukan kesantunan berbahasa tidak hanya melalui ragam bahasa yang digunakan tetapi juga pada penerapan unggah-ungguh yang berlaku di masyarakat dalam pesan yang dikirimkan. Selanjutnya, pemahaman baik ini diharapkan diterapkan peserta dalam konteks komunikasi lainnya. Penggunaan Bahasa Indonesia yang Benar Meski tidak bertemali secara langsung dengan gagasan pelaksanaan kegiatan pengabdian. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian ialah penggunaan bahasa Indonesia yang digunakan oleh peserta yang belum sesuai dengan kaidah yang benar. Khususnya pada penulisan ejaan yang sesuai dengan ketentuan yang termuat dalam Ejaan yang Disempurnakan terbaru. Dari 65 pesan yang dikirimkan, seluruhnya masih memiliki kekeliruan penulisan ejaan. Terdapat beberapa pelanggaran kaidah ejaan yang dijumpai dalam pesan yang dikirimkan, yaitu . Penulisan huruf kapital Kekeliruan penulisan huruf kapital dijumpai pada penulisan kata sapaan. Sebagaimana aturan yang terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Penulisan sapaan diawali dengan huruf kapital, misalnya pada kalimat AuTerima kasih. Bu. Ay AuBuAy dikapitalkan karena dalam konteks tersebut digunakan sebagai sapaan. Kekeliruan lain yang dijumpai misalnya pada penulisan nama. Jika disesuaikan dengan aturan, penulisan nama seharusnya ditulis dengan diawali dengan huruf kapital. Masih banyak dijumpai kekeliruan penulisan nama dalam pesan yang dikirimkan. Kekeliruan penulisan huruf kapital masih banyak ditemukan, misal pada penulisan nama orang, nama mata pelajaran, nama sekolah, dan huruf pertama pembuka kalimat. Penulisan huruf miring Kekeliruan ejaan yang juga banyak dijumpai berikutnya pada penulisan huruf miring. Dalam EYD diatur bahwa kata asing ditulis dengan cara dimiringkan. Dalam pesan yang dikirimkan oleh Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. para peserta, penulisan salam Auassallamuallaikum warahmatullah wabarakatuhAy tidak dimiringkan. Beberapa pesan yang di dalamnya terdapat kata asing juga belum ditulis sesuai dengan ketentuan yang . Penulisan tanda baca khususnya titik (. ) dan (?) kekeliruan selanjutnya yang banyak dijumpai ialah penulisan tanda baca khususnya titik dan tanda tanya. Masih dijumpai pesan yang terdiri atas beberapa kalimat tetapi belum disajikan dengan kaidah penulisan kalimat yang benar, yakni diawali dengan huruf kapital dan diakhiri tanda akhir. Pada beberapa pesan kehadiran titik dan tanda tanya yang mestinya muncul, tidak dituliskan. Hal ini tentu berpengaruh terhadap pemahaman dan kejelasan pesan yang dikirimkan. Berikut salah satu pesan yang di dalamnya terkandung kekeliruan penulisan tanda baca yang menjadi penanda akhir Selain tiga kekeliruan yang sudah disajikan tersebut, juga ditemukan beberapa kekeliruan pada ejaan lainnya seperti penggunaan tanda baca koma dan penulisan gabungan kata . isalnya, terima kasi. Selain itu, kekeliruan juga ditemukan pada tataran kalimat. Kalimat pesan yang dikirimkan masih dijumpai belum bersifat efektif. Temuan dari kegiatan pengabdian ini ialah peserta dapat mengimplementasikan secara baik etika berbahasa dalam konteks komunikasi yang dilakukan melalui media sosial. Perbedaan pilihan kata, penggunaan etika, sudah didasarkan pada konteks yang berlaku. Hasil temuan ini sejalan dengan hasil PkM sebelumnya bahwa pelatihan etika berbahasa bukanlah upaya insidental melainkan dasar bagi pemahaman yang lebih komprehensif. Temuan lain terkait penggunaan bahasa Indonesia yang digunakan peserta yang belum seluruhnya benar, baik terkait kaidah ejaan maupun tata kalimat. KESIMPULAN Pelatihan implementasi etika berbahasa dalam konteks komunikasi media sosial perlu dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain itu, dibutuhkan komitmen dari peserta untuk menerapkan secara konsisten etika berbahasa agar mereka tumbuh menjadi digital native positif. Dalam pelatihan telah dilaksanakan berbagai kegiatan mulai dari studi kasus hingga latihan mandiri dalam rangka memberikan berbagai pengalaman belajar reflektif bagi peserta. Rekomendasi dari kegiatan ini ialah perlu adanya kegiatan serupa yang tidak hanya berorientasi pada implementasi berbahasa yang menjadi bentuk nyata penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Perlu juga dilaksanakan kegiatan serupa dengan target penguasaan bahasa Indonesia yang benar. Rekomendasi ini didasarkan pada kegiatan latihan mandiri yang telah dilaksanakan. Peserta telah mampu mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik tetapi belum semua menerapkan bahasa Indonesia dengan benar. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada LPPM Universitas PGRI Semarang yang telah memberikan dukungan dan mendanai kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Terima kasih juga kami Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. sampaikan kepada Kepala SMK PGRI 03 Semarang yang telah berkenaan menjadi mitra dan berkolaborasi dalam kegiatan pengabdian ini. REFERENSI