Kelola Jur n al Ma naj e me n P e nd id ik a n Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Kristen Satya Wacana jurnalkelola@gmail. e-ISSN 2549-9661 Volume: 12. No. Juli-Desember 2025 Halaman: 184-195 Evaluasi Program Pelatihan Project-Based Learning bagi Guru dengan Model Kirkpatrick Reinhard Leonardo Paais Universitas Pendidikan Indonesia reinhardpaais007@upi. Sabirin Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru sab014@gmail. ABSTRACT This studi aims to evaluate the effectiveness of Project-Based Learning (PjBL) training for teachers using two levels of the Kirkpatrick Model: Reaction and Learning. The training is essential to equip teachers in meeting the demands of 21st-century education, where teachers serve as facilitators who encourage active student participation in meaningful learning. The research subjects consisted of 25 junior and vocational high school teachers from the Islamic Development Network Boarding School Solo who participated in the Project-Based Learning (PjBL) training. Data were collected through evaluation questionnaires (Reaction leve. and pretest-posttest assessments (Learning leve. The data were analyzed quantitatively. The evaluation at the Reaction level indicated that the training was rated very positively by participants, with an overall average score of 4. Four aspect are material relevance, facilitators, training methods, and facilities and media were rated as AuVery Good. Ay Meanwhile, the aspects of training duration and participant engagement were rated as AuGood. Ay At the Learning level, the results of a paired sample t-test showed a significant increase in participants' knowledge scores after the training . retest mean = 50. mean = 84. 000 < 0. These results indicate that the training successfully enhanced teachersAo understanding of the concepts and implementation of Project-Based Learning (PjBL). Therefore, the Project-Based Learning (PjBL) training proved to be effective in improving teachersAo knowledge and received a positive response from This evaluation provides a valuable foundation for developing more impactful and contextual teacher training programs, and supports the improvement of learning quality in schools. Keywords: Project-Based Learning. Teacher Training Evaluation. Kirkpatrick Model Article Info Received date: 18 Juni 2025 Revised date: 29 Oktober 2025 PENDAHULUAN Memasuki era abad ke-21, dunia pendidikan menghadapi tantangan baru yang menuntut perubahan paradigma pembelajaran. Fokus pendidikan tidak lagi sebatas pada Accepted date: 12 Desember 2025 pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang mendalam dan aplikatif. Pembelajaran abad ke-21 menekankan pentingnya kemampuan peserta didik dalam mencari informasi dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir kritis dan Evaluasi Program Pelatihan Project-Based Learning bagi Guru A | R. Paais & Sabirin kreatif, serta bekerja sama secara efektif dalam menyelesaikan persoalan (Afifah et al. , 2022. AssyaAobani & Majdi, 2. Keterampilan ini dikenal dengan istilah 4C yaitu Critical Thinking. Communication. Collaboration, dan Creative Thinking yang diyakini dapat meningkatkan toleransi terhadap keberagaman, kemampuan menyelesaikan masalah secara inovatif, serta menghubungkan teori dengan praktik kehidupan nyata (Almarzooq et al. Undari et al. , 2. Lebih jauh, keterampilan tersebut mencerminkan tiga kompetensi utama abad ke-21: berpikir . erpikir kritis dan kreatif, pemecahan masala. , bertindak . omunikasi, kolaborasi, literasi digital dan teknolog. , serta hidup di dunia . nisiatif, kemandirian, dan tanggung jawab sosia. (Indarta et al. , 2022. Rahayu et al. Menjawab kebutuhan tersebut, maka pembelajaran di abad ke-21 haruslah dilakukan dengan menjunjung tinggi kebermaknaan dengan mendesain pembelajaran yang inovatif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Cholilah et al. , 2023. Nurfida et , 2. Upaya yang dapat diterapkan guna pembelajaran di abad ke-21 adalah dengan model-model Salah satu model pembelajaran yang relevan yaitu Project-Based Learning (PjBL) (Fahrozy et al. , 2. Project-Based Learning (PjBL) adalah strategi pembelajaran yang keterampilan melalui pelaksanaan proyek nyata yang kompleks, relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan memerlukan kolaborasi antar Dalam proses ini, siswa didorong untuk merancang, mengelola, dan menyelesaikan proyek-proyek yang memerlukan keterlibatan aktif serta pemikiran mendalam (Faslia et al. Melalui Project-Based Learning (PjBL), siswa tidak hanya belajar tentang materi pelajaran, tetapi juga mengembangkan kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan problem solving secara alami (Almulla, 2020. Gomez-del Rio & Rodriguez, 2. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) memiliki dampak positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di berbagai jenjang dan mata pelajaran. Penerapan Project-Based Learning (PjBL) terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik. Penelitian oleh Wahyuni & Fitriana . pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam, membuktikan bahwa penggunaan ProjectBased Learning (PjBL) mampu meningkatkan persentase peserta didik yang mencapai Ketuntasan Belajar Minimum (KBM) dari 60% menjadi 85%. Efektivitas serupa juga ditemukan pada pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar menurut penelitian oleh Ramadianti . , di mana model ini dapat membantu siswa memahami konsep dengan lebih baik melalui proyek nyata yang relevan. Selanjutnya, penelitian oleh Irfana et al. di SDN 3 Pecangaan Wetan Jepara, juga mengungkapkan penerapan Project-Based Learning (PjBL) meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas IV. Selain itu, penelitian eksperimental oleh Amalda et al. juga menunjukkan adanya pengaruh signifikan model ProjectBased Learning (PjBL) terhadap hasil belajar, dibuktikan dengan nilai thitung sebesar 4,121 dan sig . -taile. sebesar 0,000, serta skor NGain sebesar 67,31, yang mengindikasikan peningkatan hasil belajar yang cukup tinggi. Tidak hanya dari aspek kognitif, model ProjectBased Learning (PjBL) juga berpengaruh terhadap aspek afektif, seperti motivasi belajar, di mana pada penelitian oleh ditemukan Bulkini & Nurachadijat . ditemukan adanya korelasi yang kuat dan signifikan antara penerapan Project-Based Learning (PjBL) dan peningkatan motivasi belajar siswa. Temuantemuan ini tentunya menjadi dasar dalam memperkuat argumen penguasaan dan penerapan model Project-Based Learning Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. No. Juli-Desember 2025 (PjBL) sangat penting untuk mendorong pembelajaran yang lebih aktif, bermakna, dan berdampak langsung terhadap pencapaian peserta didik. Keberhasilan implementasi ProjectBased Learning (PjBL) di sekolah tidak dapat dilepaskan dari peran guru. Guru dituntut tidak hanya memahami teori Project-Based Learning (PjBL), tetapi juga memiliki kemampuan untuk merancang proyek yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan siswa. Namun, ditemukan banyak guru yang mengalami kesulitan dalam menerapkan Project-Based Learning (PjBL) karena keterbatasan dalam hal perencanaan, pengelolaan kelas, serta penilaian berbasis proyek. Dalam kondisi tersebut, pelatihan guru menjadi sangat krusial, tidak hanya untuk menambah wawasan, tetapi juga sebagai sarana transformasi cara pandang dan pendekatan dalam mengajar (Burhamzah et al. Mantra et al. , 2. Pelatihan merupakan proses sistematis untuk mengembangkan kompetensi guru, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang mendukung profesionalisme dalam mengajar. Dalam dunia pendidikan, pengembangan diri, peningkatan motivasi, serta respon terhadap dinamika dan tantangan pembelajaran (Ulandari & Santaria, 2. Studi menunjukkan bahwa pelatihan yang tepat dapat meningkatkan kualitas kerja guru secara signifikan (Bahtiyar et al. , 2. Namun demikian, pelatihan guru di berbagai satuan pendidikan, termasuk di SMP dan SMK IDN Boarding School Solo, masih jarang dievaluasi secara sistematis. Akibatnya, efektivitas program belum dapat diketahui secara objektif dan belum menghasilkan umpan balik yang dibutuhkan untuk perbaikan Padahal, evaluasi program pelatihan memiliki peran penting dalam menjamin kualitas peningkatan kompetensi guru, karena melalui evaluasi dapat diketahui sejauh mana tujuan pelatihan tercapai, aspek mana yang perlu diperbaiki, serta dampak nyata yang dirasakan oleh peserta. Tanpa adanya evaluasi yang terencana dan komprehensif, seremonial, tidak berkelanjutan, dan tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap mutu pembelajaran di sekolah (Ayuningtyas et , 2. Oleh sebab itu, pelatihan ProjectBased Learning (PjBL) yang dilaksanakan di SMP dan SMK IDN Boarding School Solo perlu dievaluasi secara mendalam untuk memperoleh gambaran objektif mengenai tingkat keberhasilan program, relevansinya terhadap kebutuhan guru, serta kontribusinya terhadap peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru. Salah satu model evaluasi pelatihan yang banyak digunakan adalah KirkpatrickAos Training Evaluation Model, dikembangkan oleh Donald Kirkpatrick dalam konteks pengembangan sumber daya manusia. Model ini memberikan kerangka kerja yang sistematis dan mudah dipahami untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan, dengan penekanan utama pada dampak pelatihan terhadap peningkatan kinerja organisasi (Suhartati, 2022. Taufiqoh et al. , 2. Keunggulan model ini terletak pada kemampuannya menyederhanakan proses evaluasi yang kompleks, sehingga menjadi lebih praktis dan aplikatif (Khosyiin & Fakhruddin, 2. Kirkpatrick & Kirkpatrick . mengemukakan bahwa evaluasi dilakukan melalui empat level, yaitu reaction . espon peserta terhadap pelatiha. , learning . eningkatan pengetahuan atau keterampila. , behavior . erubahan sikap atau kinerja di tempat kerj. , dan results . ontribusi pelatihan terhadap tujuan organisas. Keempat level ini saling berkaitan dan memberikan panduan menyeluruh dalam menilai keberhasilan program pelatihan secara bertahap dan berkelanjutan (Nawaz et al. , 2022. Triana et al. Evaluasi Program Pelatihan Project-Based Learning bagi Guru A | R. Paais & Sabirin Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan berfokus pada evaluasi program pelatihan Project-Based Learning (PjBL) bagi guru SMP dan SMK IDN Boarding School Solo dengan menggunakan Model Kirkpatrick sebagai pendekatan untuk menilai efektivitas pelatihan secara menyeluruh dan berjenjang. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menilai efektivitas pelatihan Project-Based Learning (PjBL) yang telah dilaksanakan bagi guru. Evaluasi difokuskan pada Level 1 (Reactio. dan Level 2 (Learnin. karena penelitian ini bertujuan menilai efektivitas pelatihan secara langsung pascapelaksanaan. Level 3 (Behavio. dan Level 4 (Result. tidak diikutsertakan mengingat keterbatasan waktu dan ruang lingkup penelitian yang tidak mencakup evaluasi dampak jangka panjang di tempat Subjek dalam penelitian ini adalah 25 orang guru yang mengikuti pelatihan ProjectBased Learning (PjBL) yang berasal dari SMP dan SMK IDN Boarding School Solo. Seluruh peserta dilibatkan dalam pengisian angket serta tes evaluasi awal dan akhir. Data dikumpulkan melalui dua jenis instrumen, yaitu angket evaluasi dan tes pengetahuan. Instrumen evaluasi pada level reaction berupa angket tertutup dengan skala Likert lima poin, mulai dari poin 1 untuk Sangat Tidak Setuju (STS), 2 untuk Tidak Setuju (TS), 3 untuk Kurang Setuju (KS), 4 untuk Setuju (S), dan 5 untuk Sangat Setuju (SS) yang disebarkan menggunakan Google Form saat proses pelatihan selesai dilaksanakan. Angket ini disusun berdasarkan enam aspek utama yang relevan dengan konteks pelatihan. Rincian kisikisi angket disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Evaluasi Reaction No. Aspek Relevansi Materi Pelatihan Fasilitator Metode dan Aktivitas Pelatihan Waktu Pelatihan Keterlibatan Peserta Fasilitas dan Media Pelatihan Data dari angket ini dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung nilai rata-rata pada setiap aspek. Nilai tersebut Nomor Butir 1, 2, 3, 4 5, 6 7, 8, 9 10, 11, 12 13, 14 15, 16 kemudian dikategorikan menggunakan interval interpretasi yang merujuk dari (Sugiyono, 2. , seperti terlihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kategori Interpretasi Skor Skala Likert Skor Rata-Rata 4,21 Ae 5,00 3,41 Ae 4,20 2,61 Ae 3,40 1,81 Ae 2,60 1,00 Ae 1,80 Sementara itu, untuk mengevaluasi level learning, digunakan tes objektif berupa 20 soal pilihan ganda yang mengukur pemahaman peserta mengenai konsep dan implementasi Project-Based Learning (PjBL). Tes ini diberikan sebelum pelatihan . dan Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang sesudah pelatihan . Hasil pretest dan posttest dianalisis secara inferensial untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan yang signifikan dengan menggunakan SPSS. Uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan ShapiroWilk digunakan untuk memastikan data Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. No. Juli-Desember 2025 berdistribusi normal. Mengingat jumlah responden kurang dari 50, interpretasi uji normalitas mengacu pada hasil Shapiro-Wilk. Setelah data dinyatakan berdistribusi normal, dilakukan uji paired sample t-test untuk mengetahui signifikansi perbedaan antara hasil pretest dan posttest. Rincian kisi-kisi tes objektif disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Kisi-Kisi Instrumen Evaluasi Learning No. Indikator Materi/Sub Materi Menjelaskan pengertian Project Based Konsep dasar Project Based Learning (PjBL) Learning (PjBL) Menyebutkan karakteristik Project Based Ciri-ciri Project Based Learning Learning (PjBL) (PjBL) Mengidentifikasi kelebihan Project Based Keunggulan model Project Learning (PjBL) Based Learning (PjBL) Menjelaskan langkah-langkah implementasi Sintaks Project Based Learning Project Based Learning (PjBL) (PjBL) Mengidentifikasi komponen penting dalam Komponen proyek, tugas, dan Project Based Learning (PjBL) Menghubungkan Project Based Learning Project Based Learning (PjBL) (PjBL) dengan prinsip pembelajaran aktif dan pembelajaran aktif Mengkaji peran guru dalam pelaksanaan Peran guru sebagai fasilitator Project Based Learning (PjBL) Menjelaskan penilaian dalam Project Based Asesmen produk, proses, dan Learning (PjBL) Mengidentifikasi dalam Kendala pelaksanaan Project pelaksanaan Project Based Learning (PjBL) Based Learning (PjBL) Menentukan alternatif solusi dari tantangan Solusi untuk implementasi Project Based Learning (PjBL) Project Based Learning (PjBL) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Evaluasi Level 1 - Reaction Evaluasi pada level Reaction bertujuan untuk mengetahui tanggapan peserta terhadap pelaksanaan pelatihan Project-Based Learning Nomor Soal 7, 8, 9 10, 11 12, 13 14, 15 16, 17 19, 20 (PjBL). Evaluasi ini mencakup enam aspek, yaitu relevansi materi pelatihan, fasilitator, metode dan aktivitas pelatihan, waktu pelatihan, keterlibatan peserta, serta fasilitas dan media pelatihan. Hasil rekapitulasi skor rata-rata masing-masing ditampilkan pada Tabel 4. Tabel 4. Rata-Rata Skor Evaluasi Level Reaction No. Aspek yang Dinilai/Indikator Relevansi Materi Pelatihan Fasilitator Metode dan Aktivitas Pelatihan Waktu Pelatihan Keterlibatan Peserta Fasilitas dan Media Pelatihan Seluruh Aspek Hasil Tabel menunjukkan bahwa empat aspek memperoleh kategori Sangat Baik, yaitu relevansi materi pelatihan . , fasilitator . , metode dan aktivitas pelatihan . , serta fasilitas dan . Hal mengindikasikan bahwa peserta memberikan penilaian sangat positif terhadap kualitas isi Rata-Rata 4,34 4,42 4,25 3,85 4,00 4,40 4,21 Kategori Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik pelatihan, kemampuan penyaji, pendekatan yang digunakan, dan kelengkapan sarana pendukung pelatihan. Materi pelatihan dinilai relevan dengan kebutuhan guru di lapangan, sementara fasilitator mampu menyampaikan materi dengan jelas dan interaktif. Selain itu, penggunaan metode dan aktivitas berbasis proyek dianggap menarik dan mudah dipahami. Evaluasi Program Pelatihan Project-Based Learning bagi Guru A | R. Paais & Sabirin serta fasilitas yang disediakan mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan. Dua aspek lainnya, yaitu waktu pelatihan . dan keterlibatan peserta . , memperoleh kategori Baik. Skor ini menunjukkan bahwa meskipun pelatihan berjalan efektif, masih terdapat ruang perbaikan dalam pengaturan waktu dan strategi peningkatan partisipasi aktif seluruh peserta. Beberapa peserta merasa waktu pelaksanaan relatif singkat untuk mendalami materi secara menyeluruh, sementara sebagian lainnya mengharapkan lebih banyak kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman praktik di Secara keseluruhan, rata-rata seluruh aspek adalah 4,21 yang termasuk dalam kategori Sangat Baik. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan Project-Based Learning (PjBL) telah dirancang dan dilaksanakan dengan sangat baik, serta mampu memberikan pengalaman belajar yang positif dan relevan bagi guru sebagai peserta pelatihan. Dengan hasil ini, pelatihan dapat dikatakan berhasil memenuhi harapan peserta dan berpotensi menerapkan Project-Based Learning (PjBL) di Evaluasi Level 2 Ae Learning Evaluasi pada level Learning bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti pelatihan Project-Based Learning (PjBL). Instrumen yang digunakan adalah tes pretest dan posttest yang diberikan kepada seluruh peserta pelatihan. Data dianalisis menggunakan uji paired sample t-test setelah terlebih dahulu dilakukan uji normalitas untuk memastikan distribusi data memenuhi syarat analisis parametrik yang hasilnya ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Sig. Statistic Statistic Sig. Pretest ,127 ,200* ,968 ,601 Posttest ,126 ,200* ,937 ,129 This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction Tabel 5 menampilkan hasil uji normalitas berdasarkan metode KolmogorovSmirnov dan Shapiro-Wilk. Mengingat jumlah sampel dalam pelatihan ini tergolong kecil . < . , maka interpretasi uji normalitas lebih tepat mengacu pada nilai signifikansi dari ShapiroWilk. Suatu data dinyatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansinya melebihi 0,05 . > 0,. Berdasarkan hasil yang ditampilkan, nilai signifikansi pretest sebesar 0,601 dan posttest sebesar 0,129. Keduanya berada di atas batas signifikansi 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data hasil pretest dan Dengan terpenuhinya asumsi normalitas, analisis selanjutnya dapat dilanjutkan menggunakan uji paired sample t-test untuk melihat perbedaan hasil belajar peserta sebelum dan sesudah Hasil uji normalitas ini menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan memenuhi salah satu asumsi analisis parametrik. Dengan demikian, keandalan hasil uji t dapat terjaga dan memberikan dasar yang kuat dalam menilai efektivitas pelatihan yang telah dilaksanakan. Hasil analisis tersebut disajikan pada Tabel 6. Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Tabel 6. Hasil Uji Paired Samples t-Test Statistik Mean Standard Deviation Mean Difference (PosttestAePretes. Standard Deviation of Differences Standard Error Mean t . Sig. -taile. Tabel 6 memperlihatkan bahwa bahwa rata-rata skor pretest peserta sebelum pelatihan adalah 50,20, sedangkan skor posttest setelah pelatihan meningkat menjadi 84,80. Selisih rata-rata skor antara sebelum dan sesudah pelatihan adalah 34,60 poin, yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan setelah Analisis uji t menghasilkan nilai t hitung = -9,922 dengan derajat kebebasan . = 24 dan nilai signifikansi . -taile. = 0,000. Karena nilai signifikansi < 0,05, maka dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor pretest dan posttest. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan ProjectBased Learning (PjBL) yang diberikan mampu meningkatkan kompetensi peserta secara nyata. Dengan kata lain, peserta pelatihan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai konsep dan implementasi ProjectBased Learning (PjBL) setelah mengikuti kegiatan pelatihan. Pembahasan Evaluasi Project-Based Learning (PjBL) yang dilakukan melalui pendekatan Model Evaluasi Kirkpatrick menunjukkan hasil yang baik pada dua level pertama, yakni reaksi . dan pembelajaran . Pada level reaction, peserta menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi terhadap berbagai aspek pelatihan, seperti relevansi materi, metode, fasilitator, dan kelayakan fasilitas. Seluruh aspek mendapatkan penilaian dalam kategori sangat baik, yang mencerminkan persepsi Pretest 50,20 10,654 34,60 17,436 3,487 -9,922 0,000 Posttest 84,80 9,626 penyelenggaraan pelatihan. Evaluasi pada level ini sangat penting karena memberikan masukan berharga kepada penyelenggara pelatihan dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan mutu pelatihan di masa mendatang, serta mengoptimalkan efektivitas penyampaian materi (Khosyiin & Fakhruddin, 2. samping itu, informasi ini juga berguna bagi pemangku kebijakan dalam mengambil keputusan strategis terkait pelaksanaan pelatihan dan bagi narasumber dalam menyusun standar penyampaian materi yang lebih efektif. Sari . menegaskan bahwa evaluasi tingkat reaction bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan peserta terhadap pelatihan, dan berfungsi sebagai umpan balik dalam penyusunan dan perbaikan program ke Hasil dari penelitian ini sejalan dengan temuan Savitri et al. dan Supriyono et al. yang menyatakan bahwa peserta memberikan umpan balik positif terhadap seluruh aspek pelatihan. Pada level learning, ditemukan peningkatan pengetahuan peserta pelatihan yang signifikan. Hasil uji statistik melalui paired samples t-test menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara nilai pretest dan posttest, di mana nilai posttest menunjukkan peningkatan kemampuan peserta dalam memahami dan menguasai materi ProjectBased Learning (PjBL). Hal mengindikasikan bahwa proses pelatihan telah berhasil mentransfer pengetahuan dan keterampilan yang relevan. Sebagaimana diungkapkan oleh Khosyiin & Fakhruddin Evaluasi Program Pelatihan Project-Based Learning bagi Guru A | R. Paais & Sabirin . , evaluasi pada level ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peserta pelatihan pengetahuan, dan keterampilan setelah mengikuti pelatihan. Mulyawan . menambahkan bahwa pada level learning, indikator yang diukur mencakup perubahan pada aspek kognitif dan psikomotor peserta. Oleh karena itu, peningkatan hasil posttest pada penelitian ini menjadi bukti bahwa tujuan pelatihan tercapai dalam bentuk peningkatan kompetensi guru. Temuan ini diperkuat oleh Lestiani et al. dan Handayani et al. yang juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pretest dan posttest dalam pelatihan guru, serta menegaskan bahwa evaluasi pembelajaran melalui tes objektif adalah cara efektif untuk menilai keberhasilan Selain itu, pelatihan yang berfokus pada implementasi Project-Based Learning (PjBL) memiliki keunggulan tersendiri dalam mendukung pengembangan keterampilan abad ke-21 guru. Project-Based Learning (PjBL) dianggap sebagai model pembelajaran yang mampu menciptakan lingkungan belajar aktif, partisipatif, dan bermakna (Kamariah et al. Model ini memungkinkan guru untuk tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga menerapkannya dalam skenario pembelajaran nyata yang mengintegrasikan pemecahan masalah dan kolaborasi. Hal ini sesuai dengan pandangan Azzahra et al. bahwa Project-Based Learning (PjBL) dapat mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif, menghasilkan produk yang relevan. Nugraha et . juga menekankan bahwa ProjectBased Learning (PjBL) menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran yang aktif dan Secara keseluruhan, hasil evaluasi dua level awal ini menunjukkan bahwa pelatihan Project-Based Learning (PjBL) tidak hanya disenangi peserta, tetapi juga memberikan dampak nyata pada peningkatan pengetahuan. Sejalan dengan pernyataan Kirkpatrick dalam Engriyani & Rugaiyah . , evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk menilai efektivitas program serta menghasilkan informasi faktual dan ilmiah yang menjadi dasar pengambilan keputusan serta penyusunan program lanjutan oleh para pemangku kebijakan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Hasil evaluasi terhadap pelatihan Project-Based Learning (PjBL) dilaksanakan di SMP-SMK IDN Boarding School Solo, dapat disimpulkan bahwa pelatihan ini berhasil mencapai tujuannya pada dua level pertama dalam Model Evaluasi Kirkpatrick, yaitu Reaction dan Learning. Pada level Reaction, para peserta memberikan respon yang sangat positif terhadap pelaksanaan pelatihan, khususnya pada aspek relevansi materi . , kualitas fasilitator . , metode dan aktivitas pelatihan . , serta fasilitas dan media pendukung . yang seluruhnya berada pada kategori Sangat Baik. Meskipun demikian, aspek waktu pelatihan . dan keterlibatan peserta . masih berada dalam kategori Baik, menunjukkan perlunya optimalisasi pengelolaan waktu dan strategi peningkatan partisipasi aktif. Pada level Learning, terjadi peningkatan signifikan terhadap pemahaman guru mengenai konsep dan implementasi Project-Based Learning (PjBL). Rata-rata skor peserta meningkat dari 50,20 pada pretest menjadi 84,80 pada posttest, dengan hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. Ini menandakan bahwa pelatihan peningkatan pengetahuan peserta secara Secara keseluruhan, pelatihan ini dinilai efektif dalam meningkatkan kompetensi awal guru terkait Pembelajaran Berbasis Proyek, serta memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Saran Hasil evaluasi ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perancangan program pelatihan guru yang lebih efektif dan Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu hanya mengevaluasi dua level awal Model Kirkpatrick (Reaction dan Learnin. , sehingga belum mencerminkan perubahan perilaku mengajar maupun dampak terhadap hasil belajar siswa. Selain itu, cakupan data yang terbatas pada satu institusi dengan jumlah peserta kecil membatasi generalisasi Oleh karena itu, disarankan agar penelitian selanjutnya mencakup evaluasi hingga level Behavior dan Result serta melibatkan lebih banyak sekolah dan peserta dari beragam latar belakang untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai efektivitas pelatihan Project-Based Learning (PjBL). DAFTAR PUSTAKA