Volume 10. Nomor 01. Juni 2019 Hal. STIMULASI ORAL MENINGKATKAN REFLEK HISAP PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) (Oral Stimulation Increase to Sucking Reflex In Low Birth Weight Infan. Yuanita Syaiful*. Lilis Fatmawati**. Siti Sholikhah*** * Dosen Program Studi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik Jl. Hakim No. 2B Gresik, email: ntsyaiful271@gmail. ** Dosen Program Studi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik Jl. Hakim No. 2B Gresik *** Mahasiswa PSIK FIK Universitas Gresik ABSTRAK Bayi BBLR sering mengalami kesulitan oral feeding, yang disebabkan oleh imaturitas organ yang akan berdampak pada gagalnya perawatan bayi BBLR. Tindakan yang dilakukan untuk menurunkan angka kematian BBLR adalah dengan mengatasi masalah yang terjadi dengan reflek hisap yang lemah, yaitu dengan memberikan stimulasi oral sejak dini berupa sentuhan pemijatan terhadap jaringan otot disekitar mulut. Tujuan penelitian ini menjelaskan pengaruh stimulasi oral terhadap reflek hisap bayi BBLR. Desain penelitian yang digunakan adalah pra experimental dengan one group pre and post test design. Populasi dalam penelitian ini adalah 30 bayi yang diambil dengan menggunakan teknik Purposive Sampling dan besar sampel yang digunakan adalah 28 bayi. Variabel independent adalah stimulasi oral dan variabel dependent adalah reflek hisap bayi BBLR. Pengumpulan data menggunakan SOP Stimulasi Oral sedangkan reflek hisap dengan lembar observasi. Pemberian stimulasi oral selama 7 hari, frekuensi 1 kali/ hari dengan durasi masing-masing 15 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reflek hisap sebelum pemberian stimulasi oral menunjukkan reflek hisap kurang yaitu sebanyak 15 responden . %) dan sesudah dilakukan stimulasi oral terjadi peningkatan reflek hisap cukup yaitu sebanyak 18 responden . %). Hasil analisa data menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dengan signifikansi p < 0,05 didapatkan p= 0,000 yang artinya ada pengaruh stimulasi oral terhadap reflek hisap pada bayi BBLR. Perawat perlu melakukan stimulasi oral untuk meningkatkan reflek hisap pada bayi BBLR sehingga lama perawatan menjadi lebih singkat, penyembuhan bayi lebih cepat dan biaya perawatan berkurang. Kata Kunci : Stimulasi Oral. Reflek Hisap. Bayi Berat Lahir Rendah ABSTRACT Low Birth Weight Infant often experience oral feeding difficulties, which are caused by organ immaturity which will have an impact on the failure of Low Birth Weight Infant care. The action taken to reduce the mortality rate of Low Birth Weight Infant is to overcome the problem that occurs with weak suction reflexes, namely by providing oral stimulation early in the form of a touch of massage against muscle tissue around the mouth. The purpose of this study was to explain the effect of oral stimulation on Low Birth Weight Infant suction reflexes. The research design used was pre-experimental with one group pre and post test The population in this study were 30 infants and the samples used by 28 infants were taken using Purposive Sampling techniques. Independent variables are oral stimulation and the dependent variable is the suction reflux of Low Birth Weight Infant. Data collection using Oral Stimulation SOP while suction reflexes with observation sheets. Giving oral stimulation for 7 days, frequency 1 time / day with a duration of 15 minutes each. The results showed that suction reflexes before oral stimulation showed less suction reflexes as many as 15 respondents . %) and after oral stimulation there was an increase in sufficient suction reflexes as many as 18 respondents . %). The results of data analysis using the Wilcoxon Signed Rank Test with a significance of p <0. 05 found p = 0,000 which means there is an efect of oral stimulation on suction reflexes in Low Birth Weight Infant. Nurses need to do oral stimulation to increase the suction reflex in Low Birth Weight Infant so that the duration of treatment is shorter, the baby's recovery is faster and the maintenance costs are reduced. Keyword : oral stimulation, suction reflex. Low Birth Weight Infant PENDAHULUAN Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR) adalah bayi baru dilahirkan dengan berat pada saat kelahiran kurang dari 2. 500 gram (Hasan, 2. Bayi Berat Lahir Rendah akan mengalami banyak masalah antara lain hipotermi, sindroma gawat nafas, perdarahan intra kranial, hiperbilirubinemia dan hipoglikemia karena daya hisap bayi lemah sehingga intake tidak adekuat. Bayi Berat Lahir Rendah kematian bayi di Indonesia (Bobak. Prevalensi kelahiran BBLR di dunia sekitar 20 juta per tahunnya (WHO, 2. Bayi Berat Lahir Rendah sering mengalami kesulitan oral feeding karena imaturitas organ perawatan Bayi Berat Lahir Rendah (Roesli Utami, 2. Permasalahan yang sering terjadi pada Bayi Berat Lahir Rendah di NICU RSUD Ibnu Sina Gresik diantaranya adalah asfiksia 40%, respiratory distress syndrom 30 %, sepsis 20% dan hipotermi 10%. 70 % dari kasus bayi di atas juga mempunyai masalah reflek hisap yang lemah sebanyak 15 bayi BBLR. Selama ini intervensi yang sudah dilakukan oleh perawat Tindakan yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kematian BBLR adalah dengan mengatasi masalah yang terjadi dengan reflek hisap yang lemah, yaitu dengan memberikan stimulasi oral sejak dini berupa sentuhan pemijatan terhadap jaringan otot disekitar mulut. Melalui sentuhan dan stimulasi terutama jaringan otot daerah sekitar mulut yang dapat meningkatkan fungsi otot dan merangsang reflek hisap pada bayi terutama Bayi Berat Lahir Rendah serta dapat meningkatkan fungsi organ tubuh yang lainnya (Hasri. Namun apakah stimulasi oral meningkatkan reflek hisap pada BBLR masih belum dapat dijelaskan. Berdasarkan dilakukan pada tahun 2015 oleh Nutrition and Health Surveylance System (NSS) bekerjasama dengan Balitbangkes Indonesia menunjukkan bahwa Angka Kematian Bayi di Indonesia masih sangat tinggi yaitu 35 per 1000 kelahiran hidup. Kelahiran Berat Bayi Lahir Rendah masih tinggi A 20% dari angka kelahiran di Indonesia, yang banyak meninggal pada masa neonatal dan merupakan penyumbang tertinggi pada Angka Kematian Bayi, yaitu A 29% (Survey Kesehatan Rumah Tangga, 2. Di Jawa Timur pada tahun 2016 rata-rata kelahiran bayi BBLR A 18,78% dari angka kelahiran hidup (Dinkes Jatim, 2. Berdasarkan data yang diambil di Ruang NICU RSUD Ibnu Sina Gresik selama tahun 2016 tecatat 300 kasus bayi yang dirawat dengan kasus Bayi Berat Lahir Rendah 250 bayi. BBLSR ( Berat Badan Lahir Sangat Renda. 40 bayi, dan BBLASR (Berat Badan Lahir Amat Sangat Renda. sebanyak 10 bayi dengan angka kematian dari kasus BBLR sebanyak 30 bayi. Pada bulan Januari sampai Maret 2017 tercatat 100 kasus bayi yang dirawat dengan kasus BBLR (Berat Bayi Lahir Renda. 78 bayi. BBLSR (Berat Badan Lahir Sangat Renda. 19 bayi dan BBLASR (Berat Badan Lahir Amat Sangat Renda. 3 bayi, terdapat angka kematian 20 bayi atau Bayi BBLR yang dilakukan stimulasi oral selama 15 menit per hari akan mengalami kenaikan efektifitas reflek hisap per hari sejumlah 20% sampai 47% lebih banyak dari yang tidak dilakukan stimulasi oral. (T . Field dan Scafidi. Penelitian di RS The National Cheng Kung University Hospital (NCKUH) Tainan. Taiwan menunjukkan bahwa dari 19 bayi BBLR . laki-laki dan 12 perempua. dengan berat badan antara 520 gram Ae 2. 342 gram dan usia gestasi 32 minggu Ae 40 minggu mengalami kenaikan berat badan sebesar 284 gram dalam satu minggu setelah dilakukan stimulasi oral. (Yea Shwu Hwang, 2. Dari hasil Penelitian di RSUD dr. Soebandi Jember yaitu sebelum dilakukan responden . %) mengalami reflek hisap lemah dan sesudah dilakukan responden . ,3%) mengalami reflek hisap yang kuat. (Reynowati, 2. Mekanisme menghisap dan menelan belum berkembang dengan baik pada prematur. Mekanisme ini hanya dapat dikoordinasi oleh bayi untuk mulai menyusu pada payudara sekitar 32 Ae 34 minggu usia gestasi dan menjadi sangat efektif pada usia gestasi 36 Ae 37 minggu (Johnson. Kurang perkembangan menghisap pada bayi prematur ditandai dengan munculnya permasalahan oral feeding yang akan menyebabkan keterlambatan dalam menyusui, berat badan rendah dan dehidrasi selama awal minggu pasca Kelemahan menghisap ini struktur saraf bayi dan kekuatan otot mulut (Lau, 2. Kesulitan makan karena kelemahan menghisap ini menjadi perhatian bagi tenaga kesehatan karena sering menunda perubahan ke proses makan atau menyusu lewat mulut secara mandiri, menunda kepulangan dari rumah mempengaruhi hubungan ibu dan bayi serta berpotensi menjadi penyebab gangguan makan pada anak Ae anak. Beberapa alasan tersebut menjadi acuan untuk pemberian intervensi dini untuk meningkatkan kemampuan oral kemampuan menghisap pada bayi prematur (Fucile ert al, 2. Program stimulasi perioral . truktur luar mulu. dan intra oral . truktur dalam mulu. menjadi salah satu intervensi yang digunakan untuk menghisap pada bayi prematur. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fucile . bahwa terdapat pengaruh dari pemberian menghisap, peningkatan pencernaan dan berpotensi mengurangi lama waktu perawatan rumah sakit setelah diberikan stimulasi perioral dan intra oral selama 15 menit sehari selama 7 Lebih dari itu, terapi sentuhan atau stimulasi yang dilakukan sendiri oleh ibu bayi mempunyai makna dan hubungan batin atau hubungan kejiwaan antara ibu dan bayinya. Bagi bayi terapi sentuhan atau stimulasi dari ibu dapat dirasakan sebagai sentuhan kasih sayang yang sangat berarti untuk pembentukan kepribadian positif di lain hari (Roesli Utami, 2. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang Stimulasi Oral meningkatkan reflek hisap pada bayi berat badan lahir rendah di Ruang NICU RSUD Ibnu Sina Gresik. METODE DAN ANALISA Desain digunakan dalam penelitian ini adalah pre eksperimental dengan one group pre post test design. Penelitian dilaksanakan di Ruang NICU RSUD Ibnu Sina Gresik pada bulan September 2017 Ae 31 November Penelitian perijinan dari RSUD Ibnu Sina No. 070/493/437. 71/2017. Populasi penelitian adalah bayi BBLR di Ruang NICU RSUD Ibnu Sina sebanyak 30 bayi. Sampling pada purposive sampling dan didapatkan besar sampel 28 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah stimulasi oral selama 15 menit tiap hari dalam 7 hari berturut Ae turut sedangkan variabel dependent adalah reflek hisap bayi BBLR dengan mengukur jumlah volume ASI/susu formula bayi dan frekuensi minum serta menuliskan kemampuan hisap bayi sesuai kebutuhan cairan per hari pada Peningkatan menghisap bayi BBLR dengan cara mengobservasi setiap hari dan membandingkan hasilnya untuk mengetahui perubahan kemampuan menghisap yang terjadi diobservasi dengan menggunakan indikator jumlah rata Ae rata volume ASI/ susu formula yang dapat diminum dalam satu hari . L) dan frekuensi minum ASI/ susu formula, dengan hasil reflek hisap baik jika Ou 80 % kebutuhan cairan, cukup jika 50 79% kebutuhan cairan, dan kurang jika <49% kebutuhan cairan (Tom Lissauer, 2. Uji Wilcoxon Sign Rank Test untuk mengetahui Pengaruh Stimulasi Oral Terhadap Reflek Hisap Bayi BBLR di Ruang NICU RSUD Ibnu Sina Gresik dengan derajat kemaknaan < 0,05 artinya ada Pengaruh Stimulasi Oral Terhadap Reflek Hisap Bayi BBLR dengan membandingkan reflek hisap bayi BBLR sebelum dan sesudah diberikan stimulasi oral dengan skala data ordinal. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian selama 3 bulan ini didapatkan hasil sebagai berikut: Reflek Hisap Bayi BBLR sebelum dilakukan stimulasi oral Tabel 1. Gambaran Reflek Hisap Bayi BBLR Sebelum Dilakukan Stimulasi Oral. Reflek Hisap Baik Cukup Kurang Total (%) Tabel gambaran reflek hisap sebelum dilakukan stimulasi oral adalah sebagian besar mempunyai reflek hisap yang kurang yaitu sebanyak 15 responden . %) dan sebagian kecil mempunyai reflek hisap yang baik yaitu sebanyak 1 responden . %). Kurang perkembangan menghisap pada bayi prematur ditandai dengan munculnya permasalahan oral feeding yang akan menyebabkan keterlambatan dalam menyusui, berat badan rendah dan dehidrasi selama awal minggu pasca Kelemahan menghisap ini struktur saraf bayi dan kekuatan otot Hal ini sesuai dengan teori tersebut bahwa bayi yang usia kurang dari 1 minggu biasanya mengalami keterlambatan dalam permasalahan oral feeding (Jonshon. Reflek hisap pada bayi Refleks ini belum timbul bila kelahiran terjadi sebelum minggu ke 32 dan belum akan sempurna bila bayi lahir sebelum usia 36 minggu, sehingga sering kita temui bayi-bayi prematur dengan kemampuan menghisap yang lemah. Data demografi responden didapatkan hampir setengah usia bayi berusia 5 hari sebanyak 7 bayi . dan sebagian kecil berusia 9 hari sebanyak 1 bayi . %). Semakin tua usia bayi semakin baik pula reflek hisapnya dan sebaliknya. Berdasarkan usia kehamilannya hampir seluruh bayi dilahirkan pada usia kehamilan prematur yaitu sebanyak 24 bayi . %). Dan sebagian kecil bayi dilahirkan pada usia kehamilan aterm yaitu sebanyak 4 bayi . %). Semakin tua usia kehamilan maka reflek hisap akan semakin baik. Berdasarkan cara lahir sebagian besar lahir dengan cara sectio caesaria yaitu sebanyak 16 bayi . %), hampir setengahnya dengan cara spontan yaitu sebanyak 12 bayi . %). Kedekatan ibu dan bayi BBLR kurang begitu baik secara emosional karena ibu dengan proses persalinan caesar lebih fokus pada kesembuhan ibu pasca persalinan daripada menyentuh bayinya saat dalam perawatan inkubator. Lebih dari itu, sentuhan atau stimulasi yang mempunyai makna dan sangat berpengaruh terhadap hubungan batin atau hubungan kejiwaan antara ibu dan bayinya. Bagi bayi terapi sentuhan atau stimulasi dari ibu dapat dirasakan sebagai sentuhan pembentukan kepribadain positif di lain hari (Roesli Utami, 2. Reflek Hisap Bayi BBLR Sesudah Dilakukan Stimulasi Oral. Tabel 2. Reflek Hisap Bayi BBLR Sesudah Dilakukan Stimulasi Oral. Reflek Hisap Baik Cukup Kurang Total (%) Tabel gambaran reflek hisap sesudah dilakukan stimulasi oral adalah sebagian besar mempunyai reflek hisap yang cukup yaitu sebanyak 18 responden . %) dan sebagian kecil mempunyai reflek hisap yang kurang yaitu sebanyak 4 responden . %). Alan Health . Bayi BBLR yang dilakukan stimulasi oral selama 15 menit perhari akan mengalami kenaikan efektifitas reflek hisap per hari sejumlah 20% sampai 47% lebih banyak dari yang tidak dilakukan stimulasi oral sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh fisioterapis T. Field dan Scafidi. Pada bayi kurang bulan yang berusia 0 Ae 1 bulan yang distimulasi 15 menit 1 x sehari selama 7 hari didapatkan reflek hisap yang kuat. Stimulasi sensoris pada struktur oral ini dapat meningkatkan struktur oral dalam proses menghisap . dan menelan . Stimulasi dilakukan pada perioral diantaranya menekan area pipi, bibir sebanyak 8 X dan intra oral diantaranya pipi bagian dalam, gusi atas bawah, lidah dengan menggunakan dot . x setiap sisi gus. selama A 5 menit ditengah langit Ae langit untuk membiarkan bayi menghisap dot. Hal ini dapat dilihat dari kondisi dimana bayi BBLR setelah dilakukan stimulasi oral oleh perawat dengan didampingi peneliti selama 7 hari mengalami peningkatan reflek Demikian juga dengan asupan nutrisi yang diberikan pada bayi yakni ASI dan tambahan susu formula saat ASI tidak diberikan oleh ibu juga mempengaruhi adanya gangguan pencernaan pada bayi BBLR. Dengan adanya pemberian dot saat melakukan stimulasi oral BBLR peningkatan kemampuan reflek hisap Adanya pendidikan kesehatan pada ibu dalam pemberian informasi tentang pentingnya kehadiran ibu keperawatan berupa stimulasi oral meningkatkan kemampuan reflek hisap bayi BBLR. Dengan hal demikian maka ibu akan menyambut positif adanya program stimulasi oral pada bayi. Pengaruh Stimulasi Oral Terhadap Reflek Hisap Bayi BBLR Tabel gambaran reflek hisap baik sebelum dilakukan stimulasi oral sebanyak 1 responden tetapi setelah dilakukan stimulasi oral meningkat sebanyak 6 Gambaran reflek hisap kurang sebelum dilakukan stimulasi oral sebanyak 15 responden tetapi setelah dilakukan stimulasi oral menurun sebanyak 4 responden. Tabel 3. Reflek Hisap Bayi BBLR Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Stimulasi Oral. Reflek Hisap Baik Cukup Kurang Sebelum Sesudah Mean 105,66 Nilai Z hitung = -3,258 Nilai p . = 0,001 Mean 211,32 Hasil uji satistik Wilcoxon Sign Rank Test menunjukkan nilai signifikansi . sign = 0,. Hal ini berarti p sign < 0,05 sehingga H0 ditolak artinya ada pengaruh stimulasi oral terhadap reflek hisap bayi BBLR. Stimulasi oral yang dilakukan dengan pemijatan, aliran darah otot akan meningkat menyebabkan vaso dilatasi otot-otot yang aktif sehingga oksigen dan bahan gizi lain dalam jaringan jumlahnya meningkat dan curah jantung akan meningkat. Stimulasi oral dengan pemijatan tonus nervus vagus . araf ke Ae X) yang akan meningkatkan penyerapan gastrin dan insulin dengan demikian penyerapan makanan lebih baik dan berat badan lebih cepat meningkat. Peningkatan aktivitas nervus vagus akan menyebabkan bayi cepat lapar yang akan menstimuli reflek hisap dan akan lebih sering menyusu pada Proses melibatkan struktur dan fungsi di area ronga mulut, bibir, lidah, palatum lunak dan keras serta Otot yang berperan penting yaitu otot lidah dan pharyngeal. Otot lain yang juga berperan yaitu otototot sekitar wajah. Kelemahan otot tersebut menjadi salah satu penyebab lemahnya proses menghisap. Stimulasi meningkatkan sistem kekebalan, meningkatkan aliran cairan getah bening keseluruh tubuh untuk membersihkan zat yang berbahaya dalam tubuh, mengubah gelombang otak secara positif, memperbaiki sirkulasi darah dan pernafasan, merangsang fungsi pencernaan serta kenaikan berat badan, mengurangi depresi dan ketegangan, membuat tidur lelap, mengurangi rasa sakit, mengurangi kembung dan kolik . akit hubungan batin antara orang tua dan bayinya, meningkatkan volume air komunikasi, memahami isyarat bayi, meningkatkan percaya diri. Menurut Utami Roesli . dari segi psikologi pemberian ASI juga menguntungkan bagi bayi maupun ibu, dengan diberikan ASI dapat mempererat jalinan kasih sayang antara ibu dan anak. Dengan demikian diharapkan ibu tetap memberikan ASI kepada bayinya meskipun bayi dalam perawatan perawtan metode kangguru dengan melakukan stimulasi oral sesuai panduan dari petugas fisioterapist dan perawat. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Stimulasi oral mempengaruhi reflek hisap pada bayi. Reflek hisap sebelum dilakukan stimulasi oral sebagian besar mempunyai reflek hisap yang kurang. Reflek hisap setelah dilakukan stimulasi oral mempunyai reflek hisap yang cukup. Namun ada beberapa responden masih dalam rentang kurang tetapi sudah meningkat reflek hisapnya dibandingkan awal perawatan. Saran Perawat dapat memberikan asuhan kesehatan diharapkan lebih intensif memberikan penyuluhan bagi keluarga dan mendorong ibu stimulasi oral pada bayinya. Penelitian lanjutan mengenai pengaruh stimulasi oral terhadap reflek hisap dengan jumlah sampel menggunakan alat ukur reflek hisap yang lain dengan metode observasi dan wawancara terstruktur. KEPUSTAKAAN