PGMI: Jurnal Pendidikan Guru Madarasah Ibtidaiyah PGMI: JURNAL PENDIDIKAN GURU MADARASAH IBTIDAIYAH VOLUME: 2 NO: 1 TAHUN 2023 https://ejournal. id/index. php/pgmi/index KEEFEKTIFAN KURIKULUM MERDEKA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR FASE B MELALUI PROBLEM BASED LEARNING (PBL) "STUDI LITERATUR" Malika Prameswari1. Oktavani Putri Pratiwi2. Wardah Nada Nabila3 Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta1,2,3 Email: prameswarimalika36@gmail. Email: oktavani155@gmail. Email: wardahnada08@gmail. Article history Submitted / 2023 Accepted / 12 / 2023 Published / 2023 ABSTRACT : The independent curriculum was inaugurated by the Minister of Education and Culture who determined that there were several things that had to be prepared before learning, after which implementing the independent curriculum with differentiated learning and assessment. The formulation of the problem in this research is AuHow is the effectiveness of the Merdeka Curriculum on Phase B Primary School Student Learning Outcomes through Problem Based Learning (PBL)?Ay. The aim of carrying out this research is to find out how effective the implementation of the independent curriculum through PBL is on the learning outcomes of Phase B elementary school students. The method used in this research is a qualitative method with a type of literature study where we conducted research by summarizing several materials sourced from journals, books and other sources related to knowledge about the curriculum and its implementation in learning in Indonesia on student learning outcomes. From the application of the Problem Based Learning learning model, it can be seen that the learning outcomes of students have increased because the Problem Based Learning model is a problem-based learning model that is directed at students to increase their activity during the learning process and improve studentsAo critical thinking skills which can solve existing problems so that new ideas or thoughts emerge in solving the problem Key Words: Curriculum Independent. Problem Based Learning. Learning Outcomes. Phase ABSTRAK : IKurikulum merdeka diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menetapkan bahwa terdapat beberapa hal yang harus disusun sebelum pembelajaran setelah itu melaksanakan pembelajaran kurikulum merdeka dengan diferensiasi pembelajaran serta assesment. Adapun rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah AuBagaimana Keefektifan Kurikulum Merdeka Terhadap Hasil Belajar Siawa Sekolah Dasar Fase B Melalui Problem Based Learning (PBL)?Ay. Tujuan melaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana keefektifan dalam penerapan kurikulum merdeka melalui PBL terhadap hasil belajar siswa SD Fase Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis studi literatur dimana kami melakukan penelitian dengan cara menyimpulkan beberapa bahan materi yang bersumber dari jurnal, buku, dan sumber lainnya terkait ilmu tentang kurikulum dan implementasinya dalam pembelajaran yang ada di Indonesia terhadap hasil belajar siswanya. Dari penerapan model pembelajaran Problem Based Learning ini dapat dilihat dengan peningkatan hasil belajar dari peserta didik karena model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran berbasis masalah yang diarahkan pada siswa untuk meningkatkan keaktifannya selama proses pembel- Program Studi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi Jawa Tmur. Indonesia PGMI: Jurnal Pendidikan Guru Madarasah Ibtidaiyah ajaran dan meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa yang dapat memecahkan masalah yang ada sehingga muncul adanya ide atau gagasan baru dalam penyelesaian masalahnya. Kata Kunci: Kurikulum Merdeka. Problem Based Learning. Hasil Belajar. Fase B PENDAHULUAN Kurikulum Indonesia telah mengalami beberapa kali penyesuaian dan peningkatan sejak diperkenalkan pada tahun 1947. Setelah diubah namanya menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi pada tahun 2004 dan Kurikulum Tingkat pada tahun 2006. Kurikulum 1994 mengalami perubahan pada tahun 1997. Setelah kembali ke Kurtilas 2013 (Kurtila. pada tahun 2013 . Kementerian Pendidikan Nasional pemerintah mengubahnya pada tahun 2018 menjadi Kurtilas yang diubah (Barlian & Iriantara, 2. Sebuah program studi terpisah sekarang sedang dalam pengembangan, dengan fokus pada implementasi mobilisasi sekolah. Siswa dengan sendirinya akan mempunyai keleluasaan untuk terus berkembang sesuai potensi, minat, dan kemampuannya karena Kurikulum Merdeka menekankan pada penyesuaian proses pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik setiap siswa. Perbaikan dalam sistem pendidikan Indonesia sudah lama tertunda, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengambil langkah pertama menuju tujuan tersebut dengan menerapkan kebijakan baruAibelajar mandiriAiyang bertujuan untuk mengalihkan fokus dari guru ke siswa. Kualifikasi dan kompetensi program pendidikan dapat diuraikan dalam kurikulum, dan sekolah dapat merancang strategi untuk membantu siswa mencapai keterampilan tersebut. Keterlibatan pimpinan sekolah tidak terlepas dari setiap modifikasi kurikulum yang dilakukan. Terdapat bukti dari penelitian sebelumnya bahwa kepala sekolah yang mempraktikkan kepemimpinan transformasional dapat memotivasi pengikutnya untuk terbuka terhadap perubahan (Nurwiatin, 2. Program akademik hanyalah salah satu dari beberapa layanan yang ditawarkan sekolah kepada siswanya. Apabila kurikulum sekolah dirancang dengan baik dan dikelola dengan tepat, maka akan meningkatkan daya tarik sekolah di mata masyarakat dan tentunya menghasilkan siswa yang unggul. Fleksibilitas untuk menerjemahkan kurikulum secara mandiri sebelum mengajarkannya kepada siswa merupakan komponen mendasar dalam pendidikan, dan guru memiliki kebebasan tersebut. Guru akan lebih siap memenuhi kebutuhan siswa dalam belajar apabila mereka mempunyai pemahaman yang kuat terhadap kurikulum yang telah ditetapkan. Peran guru dalam melaksanakan kurikulum sangatlah penting. Selain melaksanakan dan mengkoordinasikan kurikulum, serta mempunyai kemampuan membuat kurikulum baru, tanggung jawab guru adalah memanfaatkan kurikulum yang ada. Ketidakmampuan pengajar kelas dalam menyampaikan pelajaran dan membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran menjadi penyebab buruknya prestasi siswanya di kelas. Salah satu cara untuk membantu siswa lebih memahami materi pelajaran adalah dengan memanfaatkan contohcontoh dunia nyata yang relevan dalam metode pembelajaran berbasis masalah. Menurut Farida dkk. Ningsih dkk. , dan Permatasari dkk. , siswa memperoleh informasi dan kemampuan pemecahan masalah dengan menggunakan model Problem Based Learning yang merupakan semacam paradigma pembelajaran. Siswa mengembangkan keterampilan mengenali masalah, menjalin hubungan antar variabel, dan menerapkan ide-ide yang relevan dengan menggunakan metodologi Pembelajaran Berbasis Masalah (Rais & Suswanto, 2. Siswa melakukan proses ini dengan berdiskusi dalam kelompok untuk menyuarakan sudut pandang dan idenya (Malmia et al. , 2. Anugraheni . dan lainnya menunjukkan bahwa penggunaan metode Pembelajaran Berbasis Masalah dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritisnya, khususnya dalam menangani masalah. Penerapan teknik Problem Based Learning dapat meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa, sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya (Nelli et al. , 2. Penggunaan paradigma Pembelajaran Berbasis Masalah terbukti sangat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan komunikasi siswa, menurut penelitian selanjutnya (Budhi et al. , 2. Mengingat temuan ini, masuk akal untuk menyimpulkan bahwa Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dapat membantu pendidik dalam pekerjaan mereka dengan meningkatkan perolehan pengetahuan siswa. Program Studi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi Jawa Tmur. Indonesia PGMI: Jurnal Pendidikan Guru Madarasah Ibtidaiyah METODE PENELITIAN Peneliti pada halaman ini memanfaatkan tinjauan literatur untuk menyusun ringkasan beberapa artikel, buku, dan jurnal yang memberikan informasi mengenai kurikulum Indonesia saat ini. Data kualitatif yang diperoleh merupakan data dari penelitian sebelumnya yang kemudian di simpulkan dan dianalisi oleh penulis. Baik itu berupa angket, dokumentasi, wawancara, dan observasi. Berbagai sumber elektronik, termasuk internet, perpustakaan digital, dan koleksi jurnal perpustakaan, disisir untuk mengumpulkan data. Google Cendekia digunakan untuk pencarian. Istilah AuPembelajaran Berbasis MasalahAy dan Aumeningkatkan hasil belajarAy digunakan dalam pencarian artikel. Pada tahun 2013 hingga 2023, kami telah memilih publikasi yang terindeks Scopus. Sinta 2. Jurnal Jenius UIN Raden Mas Said Surakarta, dan publikasi Internasional. Jurnal yang dipilih sesuai dengan persyaratan yaitu mengenai ketersediaan data. Dari masalah diatas dikemukakan terkait pemasalahan berdasarkan artikel-artikel yang relevan dengan topik yang akan dibahas: . Langkah-langkah pembelajaran PBL,manfaat PBL, . Penyebab kurangnya hasil belajar peserta didik, . Penerapan kurmer (Permasahan yang dihadapi guru dalam penerapan PBL) HASIL DAN PEMBAHASAN Langkah-Langkah Pembelajaran PBL & Manfaat PBL. Tinjauan literatur kami menemukan bahwa banyak sekolah masih belum melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Misalnya Nevi Novelita dan Darmansyah yang menemukan hal tersebut dalam pembelajarannya terhadap siswa kelas IV SD Negeri 23 Sungai Ampek Nagari Kecamatan Malabur pada 23 Maret 2021. Menunjukkan masih ada ruang untuk perbaikan dalam cara aktivitas siswa. dan tujuan pembelajaran tercapai. Proses pembelajaran yang dilakukan guru mengungkapkan asumsi-asumsi mendasar yang menyebabkan buruknya kinerja siswa dalam tugas siswa dan di kelas. Sistem pendidikan saat ini hanya melibatkan transmisi informasi dari pengajar ke murid tanpa memperhatikan pemahaman informasi tersebut. terlebih lagi, siswa memiliki kapasitas yang kurang untuk mensintesis apa yang telah mereka pelajari. Sari (Astuti, 2. menyatakan bahwa ada lima fase berbeda dalam paradigma pembelajaran PBL. Membuat siswa berorientasi pada topik yang dibahas adalah langkah Di sini, siswa disajikan tantangan terkait topik yang harus dipecahkan. Siswa diorganisir pada tahap kedua. Sekarang siswa bekerja dalam kelompok, mereka perlu mengidentifikasi masalah yang telah diidentifikasi. Memberikan arahan untuk penyelidikan individu dan kelompok merupakan fase ketiga. Instruktur sekarang ingin kelas mengumpulkan sebanyak mungkin data relevan untuk memecahkan masalah. Mengembangkan dan menyajikan hasil pekerjaan adalah langkah keempat. Siswa sekarang mengambil tahap mempresentasikan solusi mereka terhadap kesulitan yang telah mereka diskusikan dengan anggota kelas lainnya. Menganalisis dan menilai proses penyelesaian masalah adalah langkah terakhir. Siswa dan guru bekerja sama untuk menilai hasil diskusi kelas Prosedur yang digariskan Kemendikbud untuk Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) telah diikuti dalam pelaksanaannya . Au. Mendorong siswa untuk mulai membahas masalah yang ada, . Mengumpulkan kelas untuk mengidentifikasi masalah, . Proyek penelitian independen dan kolaboratif, . Membuat dan menyampaikan presentasi yang menguraikan temuan mereka, . Guru wajib berpegang pada lima komponen paradigma Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) saat menerapkannya di kelas. Siswa sekarang menjadi lebih terlibat dalam pembelajarannya, telah meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, dan memiliki pemahaman yang kuat tentang isi pelajaran berkat penerapan siklus II. Pendekatan Problem Based Learning diyakini memberikan kontribusi aktif dalam proses pembelajaran, khususnya pada kurikulum mandiri ini. Metode pemecahan masa3 Program Studi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi Jawa Tmur. Indonesia PGMI: Jurnal Pendidikan Guru Madarasah Ibtidaiyah lah dan pembuatan produk lebih penting dibandingkan produk akhir dalam paradigma pembelajaran ini. Demikian pula PBL adalah cara mengajar yang menggunakan masalah dunia nyata untuk membantu siswa mempelajari materi dan meningkatkan kemampuan analitis dan pemecahan masalah (Anwar & Jurotun, 2. Pemecahan masalah dunia nyata secara kolaboratif adalah inti dari pembelajaran berbasis masalah (PBL). Dalam PBL, siswa mulai mengerjakan masalah sejak awal proses pembelajaran, dan instruktur berperan sebagai fasilitator sepanjang proses pembelajaran. (Barrows. Madyaratri dkk. Selain itu. PBL juga memiliki sejumlah keunggulan, sebagaimana dikemukakan oleh Aziz dkk. Hal ini mencakup: 1. siswa berpartisipasi aktif dalam semua kegiatan pembelajaran, sehingga membantu mereka menyerap informasi dengan lebih baik. siswa berlatih berkolaborasi dengan teman sekelas. siswa dapat mengambil hikmah dari berbagai sumber untuk menambah pengetahuannya. Hal ini sesuai dengan pandangan Putra . 3:82-. bahwa model pembelajaran PBL mempunyai banyak Hal tersebut antara lain: . siswa mempunyai pemahaman yang lebih mendalam terhadap konsep yang diajarkan karena terlibat aktif dalam memecahkan masalah, yang mengharuskan mereka menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan . model mendorong siswa bekerja sama untuk menemukan solusi. Skema siswa berfungsi sebagai landasan bagi pengetahuan yang tertanam, meningkatkan signifikansi Ketika siswa memecahkan masalah yang berkaitan erat dengan situasi kehidupan nyata, mereka dapat merasakan manfaat pembelajaran. Manfaat-manfaat berikut dapat diperoleh siswa: . minat dan motivasi yang lebih besar dalam mempelajari materi . berkembangnya individu yang lebih dewasa dan mandiri. peningkatan kapasitas siswa dalam memahami dan menghargai tujuan dan sudut pandang orang lain. terbentuknya sikap sosial yang lebih positif di kalangan siswa. Kapasitas kreatif siswa, baik secara individu maupun kolektif, diperkirakan dapat ditingkatkan dengan paradigma Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL), karena partisipasi aktif mereka diperlukan hampir di setiap tahapan. Penyebab Kurangnya Hasil Belajar Peserta Didik. Untuk menghindari pengulangan, siswa mungkin terlalu malu untuk mengakui ketika mereka tidak memahami suatu konsep di kelas. Ditambah lagi, sebagian besar pengajaran di kelas terdiri dari ceramah profesor, yang menyebabkan anak-anak mengabaikannya. Siswa hanya duduk diam mendengarkan perkataan guru ketika model ceramah Akibatnya, siswa tidak mendapat kesempatan untuk menyuarakan pandangan mereka terhadap isi kursus karena instruktur tidak mengizinkan mereka melaporkan hasil diskusi kelompok selama proses pembelajaran. Penyampaian pembelajaran, khususnya dalam IPS, perlu lebih interaktif, lebih transparan, dan lebih menarik bagi siswa. Namun, sebagian besar guru masih mengandalkan buku teks untuk menyampaikan pengetahuan, yang berarti siswa akan cepat melupakan apa yang telah mereka pelajari. Jadi siwa dilibatkan dalam bertukar pendapat mengenai hal tersebut terhadap teman sekolompoknya kemudian dilakukan presentasi di depan kelas supaya mengajak seluruh peserta didik didalam kelas untuk saling berinteraksi sehingga siswa lebih tertarik dan dalam materi yang dipelajari. Karena permasalahan tersebut, para sarjana terdahulu penasaran dengan fenomena teknik ceramah dalam pengajaran di kelas. Belum ada peningkatan dalam keterlibatan atau inovasi siswa dalam mengejar ide dan konsep pembelajaran. Demikian pula ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka yang benar-benar tertarik belajar akan bersuara dan berbagi solusi terhadap kesulitan-kesulitan di kelas, sedangkan mereka yang tidak tertarik akan tertinggal. Ketika bekerja dalam kelompok, siswa harus lebih proaktif dan Program Studi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi Jawa Tmur. Indonesia PGMI: Jurnal Pendidikan Guru Madarasah Ibtidaiyah imajinatif dalam pendekatan mereka terhadap pemecahan masalah, baik dalam hal mengumpulkan pengetahuan dan menggunakannya secara kreatif. Akibat dari hal tersebut adalah buruknya hasil belajar siswa. Penerapan Kurikulum Merdeka (Permasahan yang dihadapi guru dalam penerapan PBL). Hasil belajar siswa dipengaruhi secara positif oleh upaya guru memasukkan model PBL ke dalam kurikulum belajar mandiri. Temuan Nevi Novelita dan Darmansyah yang rata-rata skor pertemuan pertama siklus I sebesar 86% dan skor rata-rata pertemuan pertama sebesar 86% menyatakan setuju dengan hal tersebut. Kedua, ini merupakan kriteria yang sangat baik, dengan skor 92%. Penggunaan seluruh deskriptor pada setiap level pembelajaran berbasis proyek sangat baik. Sejalan dengan tahapan paradigma PBL, guru telah mendukung pembelajaran siswa, memusatkan pembelajaran pada siswa, dan membantu proses konstruktivisme siswa. Guru menghadapi tantangan ketika mereka merencanakan pembelajaran karena sulitnya memilih masalah yang tepat untuk didiskusikan yang akan membantu siswa belajar dan berkembang. Terkadang, tidak ada cukup waktu untuk merencanakan dan mengajarkan segalanya. Hal ini bisa terjadi karena guru belum terbiasa dengan jenis pembelajaran tertentu yang disebut PBL. Ketika tiba saatnya untuk mengajar, tantangan terbesar adalah pada tahap ketiga PBL ketika siswa seharusnya bekerja sendiri dan dalam kelompok. Mungkin sulit bagi guru untuk mengetahui bagaimana membantu dan membimbing siswa tanpa melakukan semua pekerjaan untuk mereka. Hal ini karena setiap siswa berbeda dan belajar dengan kecepatannya masing-masing. Guru harus peka terhadap hal ini dan tahu bagaimana mendukung siswa dengan cara terbaik. Guru menghadapi tantangan dalam pembelajaran jarak jauh dan mencoba mengajarkan semua pelajaran dalam waktu singkat. Sulit bagi mereka untuk berkomunikasi dengan orang tua yang juga penting dalam membantu anak belajar di rumah. Menggunakan alat online dapat membantu membuat pembelajaran lebih mudah, namun guru perlu mempelajari cara menggunakan alat tersebut terlebih dahulu. Merupakan tantangan besar bagi guru untuk mengubah cara mereka mengajar, namun mereka perlu melakukannya agar dapat membantu siswa mencapai potensi maksimal mereka. Tantangan yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari adalah tantangan yang digunakan dalam paradigma pembelajaran berbasis masalah (Fatmawati & Sujatmika, 2. Keterampilan berpikir kritis siswa akan tertantang oleh permasalahan yang menjadi bagian dari pembelajaran berbasis masalah (Febrita & Harni, 2. Kemampuan berpikir kreatif siswa akan meningkat, dan mereka juga akan mampu menemukan ide-ide baru dalam berbagai ranah keilmuan berkat pendekatan pembelajaran berbasis masalah (Masykurni et al. , 2. Keterampilan berpikir kritis harus dikembangkan seiring dengan growth mindset agar seseorang dapat mengkaji, mengevaluasi, dan mengembangkan gagasannya untuk memecahkan masalah (Magdalena et al. , 2. Semua bagian kehidupan hidup, bekerja, dan berfungsi secara efektif membutuhkan kemampuan berpikir kritis (El Soufi & See. Kemampuan berpikir kritis, termasuk kemampuan belajar, sangat menentukan keberhasilan seorang siswa di masa depan. Siswa dituntut untuk mengembangkan dan menyempurnakan kemampuan berpikir kritisnya sebagai konsekuensi dari pengalaman Mengajarkan siswa untuk berpikir kritis bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan begitu saja. Berpikir kritis merupakan kemampuan yang melibatkan akal sehat, yang dipelajari dan dipraktikkan seiring dengan proses pertumbuhan seseorang (Cahyono, 2. Program Studi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi Jawa Tmur. Indonesia PGMI: Jurnal Pendidikan Guru Madarasah Ibtidaiyah Menanyakan dan memecahkan masalah adalah komponen kunci pembelajaran berbasis masalah, seperti halnya penyelidikan otentik, produksi dan pameran produk, kolaborasi, dan penekanan pada hubungan antar disiplin ilmu (Fatmawati & Sujatmika. Puyada & Putra, 2018. Zainuddin dkk. , 2. Ciri-ciri pembelajaran berbasis masalah menekankan perlunya penggunaan kecerdasan individu, kolektif, dan lingkungan untuk mengatasi tantangan yang bermakna, relevan, dan kontekstual (Agustina & Fitrihidajati, 2. Melalui penerapan ide-ide yang relevan dan penemuan hubungan sebab-akibat, pembelajaran berbasis masalah mengidentifikasi masalah (Alan & Afriansyah, 2. Siswa melalui proses ini dengan mendiskusikan ide dan perspektif dalam kelompoknya (Febrita & Harni, 2. Hasilnya, anak- anak menjadi lebih terlibat dan memperoleh pengetahuan yang lebih bermakna (Jiniarti et al. , 2015. Handoyono & Arifin, 2. Ketika kita suka belajar, hal itu menarik perhatian kita, memotivasi kita untuk belajar lebih banyak, dan pada akhirnya meninggalkan jejak yang membekas dalam diri Siswa akan mengingat materi dalam waktu yang cukup lama. PENUTUP Peningkatan kinerja siswa di kelas merupakan salah satu indikator keberhasilan pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah dalam dunia pendidikan. Hal ini disebabkan karena model pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pendidikan yang bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis pada anak dan mendorong mereka untuk berperan aktif dalam pembelajarannya sendiri. Tantangan-tantangan yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari itulah yang digunakan dalam paradigma Pembelajaran Berbasis Masalah. Keterampilan berpikir kritis siswa akan diuji ketika mereka mengatasi permasalahan yang ada dalam kurikulum Pembelajaran Berbasis Masalah. Selain menumbuhkan keterampilan berpikir kritis yang lebih baik, pendekatan pedagogi Pembelajaran Berbasis Masalah akan mengarahkan siswa pada penemuan ideide baru dalam berbagai disiplin ilmu. Siswa melakukan prosedur ini dengan berdiskusi dalam kelompok untuk menyuarakan sudut pandang dan gagasannya. DAFTAR PUSTAKA