Machfudloh, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 4: . p51-57 ISSN 2809-6541 Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung Received: 20 Februari 2025 Accepted: 22 Februari 2025 Published online: 28 Februari 2025 DOI: 10. 30659/jmhsa. RE S E A RC H A RT IC L E Gambaran Perilaku Seksual Beresiko Pada Remaja Pranikah Di SMA Negeri 10 Semarang 1,2,3 Machfudloh1. Annisa Fatika Sari2*. Is Susiloningtyas 3 Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Farmasi Universitas Islam Sultan Agung Semarang Corresponding author: annisafatikasari5@gmail. Latar belakang: Perilaku seksual beresiko didefinisikan sebagai aktivitas seksual yang dapat membuat seseorang rentan terhadap resiko infeksi menular seksual dan kehamilan tidak direncanakan. MenurutWHO di dunia diperkirakan 15 juta remaja hamil setiap tahunnya, 60% diantaranya hamil di luar nikah. Sementara di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 1 juta remaja yang mengalamim kehamilan sebelum pernikahan, dengan laporan 52% dari remaja tersebut melakukan aborsi. Selain itu, sekitar 3,1% remaja berusia 15-18 tahun yang mengidap HIV/AIDS. Tujuan: Untuk mengambarkan perilaku seksual beresiko pada remaja pranikah berdasarkan pengetahuan, sikap, dan tindakan. Metode: penelitian ini menggunakan metode deskritif kuantitatif dengan pendekanan cross sectional study, menggunakan teknik sampling yaitu purposive samping, sampel pada penelitian ini adalah 78 responden sesuai denga kriteria inklusi, dan Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan deskritif statistik. Hasil : mayoritas pengetahuan remaja mengenai perilaku seksual beresiko dalam kategori tinggi sebesar . ,6%), mayoritas sikap remaja mengenai perilaku seksual beresiko dalam kategori positif sebesar . ,3%), mayoritas tindakan remaja mengenai perilaku seksual dalam kategori beresiko sebesar . ,8%). Keywords: Perilaku Seksual Beresiko. Remaja. Pranikah PENDAHULUAN Menurut (WHO, 2. remaja merupakan fase antara masa kanak-kanak dan dewasa dalam rentang usia antara 10 hingga 19 tahun. Berbeda dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI NO. 2014, remaja merupakan penduduk dalam rentang usia antara 10 hingga 18 tahun (Kemenkes RI. Jumlah remaja di dunia sebesar 1,3 milyar atau 16% dari jumlah penduduk di dunia (WHO, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2023 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia 696,2 juta jiwa, 44,25 juta jiwa diantaranya adalah remaja (BPS, 2. Menurut undang undang no. 16 tahun 2019 pasal 7 ayat 1 yang menyatakan batas minimal usia perkawinan bagi calon pengantin adalah 19 tahun bagi laki laki dan perempuan (Sekretariat Negara Republik Indonesia. Juaeriah, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 3: . p45-51 ISSN 2809-6541 Pada masa remaja mengalami kematangan biologis, dan sifat khas remaja yaitu mempunyai rasa keingintahuan yang besar, menyukai petualangan dan tantangan serta cenderung berani menanggung resiko tanpa didahului pemikiran yang matang (Sarwono, 2. Menurut survey yang dilakukan oleh (SDKI, 2. menunjukkan 80% remaja wanita dan 84% remaja pria menyatakan bahwa mereka memulai berpacaran pada umur 15-17 tahun. Kebanyakan remaja pria dan wanita mengaku saat berpacaran melakukan aktivitas berrpegangan tangan . % wanita dan 75% pri. , berpelukan . % dan 33% pri. , cium bibir . % dan 50% pri. dan meraba/diraba . % wanita dan 22% Perilaku-perilaku tersebut kemudian memicu remaja melakukan hubungan seksual berisiko. Perilaku seksual beresiko didefinisikan sebagai aktivitas seksual yang dapat membuat seseorang rentan terhadap resiko infeksi menular seksual termasuk Human Immunodeficiency Virus (HIV) serta kehamilan tidak direncanakan (Keto et al. , 2. Perilaku seksual pada remaja dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut teori Lawrance Green, faktor yang dapat mempengaruhi perilaku terbagi kedalam tiga bagian yaitu faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat. (Green, 1. Perilaku seksual berisiko disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang seks dan akibat dari perilaku seksual sehingga membuat remaja ingin mencobanya. Selain itu, juga disebabkan oleh meningkatnya libido seksual, rendahnya usia kematangan seksual yang diikuti oleh meningkatnya aktivitas seksual pada usia yang dini, perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu (Sari, 2. Perilaku seksual beresiko yang dilakukan remaja akan berdampak pada masalah kesehatan yang akan dihadapi, seperti: kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit infeksi menular, meningkatkan prevalensi angka kematian ibu & balita, dan aborsi (Santrock, 2. Menurut data WHO diseluruh dunia diperkirakan 15 juta remaja setiap tahunnya hamil, 60% diantaranya hamil di luar nikah. Sementara di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 1 juta remaja yang mengalamim kehamilan sebelum pernikahan, dengan laporan 52% dari remaja tersebut melakukan aborsi (BKKBN, 2. Selain itu, pada tahun 2022 tercatat bahwa sekitar 3,1% remaja berusia 15-18 tahun yang mengidap HIV/AIDS (Kemenkes RI, 2. Upaya pemerintah dalam menyelesaikan masalah kesehatan reproduksi remaja adalah dengan upaya promosi dan pencegahan masalah kesehatan reproduksi (Kemenkes RI, 2. Pemerintah Indonesi sejak tahun 2000 telah menjadikan kesehatan reproduksi remaja (KRR) menjadi program nasional. Program KRR merupakan upaya untuk membantu remaja memiliki status kesehatan reproduksi yang baik melalui pemberian informasi, pelayanan konseling dan pendidikan keterampilan hidup (Muadz, 2. Berdasarkan fenomena di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran perilaku seksual beresiko pada remaja pranikah. METODE Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan studi deskriptif. Dengan mengunakan desain cross sectional, teknik sampling yang di gunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan kriterian inklusi dan ekslusi, populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas 12 sma negeri 10 semarang dengan jumlah sampel 78 responden yanh telah di hitung mengunakan rumus slovin. Data dianalisis menggunakan analisis univariat menggunakan uji SPPS deskritif statistik, penelitian ini sudah lolos uji etik : No. 406/X/024/Komisi Bioetik Juaeriah, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 3: . p45-51 ISSN 2809-6541 HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahun Perilaku Seksual Beresiko Variable Pengetahuan Frekuensi . Tinggi Rendah Total Sumber : Data Primer, 2024 Presentase (%) Berdasarkan Tabel 1. Distribusi Frekuensi pengetahuan remaja terkait perilaku seksual beresiko dari 78 responden di dapatkan hasil bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang tinggi sebesar 41 responden . ,6%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Sikap Perilaku Seksual Beresiko Variable Sikap Frekuensi . Positif Negatif Total Sumber : Data Primer, 2024 Presentase (%) 48,7% Berdasarkan Tabel 2. Distribusi frekuensi sikap remaja terkait perilaku seksual beresiko dari 78 responden di dapatkan hasil bahwa mayoritas responden memiliki sikap dalam kategori positif sebesar 40 responden . ,3%). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Tindakan Perilaku Seksual Variable Tindakan Frekuensi . Beresiko Tidak Beresiko Total Sumber : Data Primer, 2024 Presentase (%) 46,7% Berdasarkan Tabel 3. Distribusi frekuensi tindakan remaja terkait perilaku seksual beresiko dari 78 responden di dapatkan hasil bahwa mayoritas responden memiliki tindakan dalam kategori beresiko sebesar 42 responden . ,8%). PEMBAHASAN Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan tinggi sebesar 41 responden ( 52,6 %) sedangkan responden yang mempunyai pengetahuan rendah sebesar 37 responden . ,4%). Yang artinya sebagian besar responden mempunyai pengetahuan yang baik tentang perilaku seksual. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Sutrisnowati et al. , 2. yang menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan seksual yang AucukupAy yaitu sebesar . ,9%), karena sebagian besar remaja sudah Juaeriah, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 3: . p45-51 ISSN 2809-6541 mencari informasi secara mandiri yang dilakukannya melalui internet, guru, teman sebaya bahkan orang tua. Berdasarkan hasil penelitian bahwa berpegangan tangan dan berpelukan menurut sebagian responden bukan termasuk ke dalam bentuk perilaku seksual, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Setijaningsih et al. , 2. didapatkan hasil bahwa remaja menganggap berpegangan tangan dan berpelukan boleh dilakukan. Namun ternyata hal tersebut keliru, berpegangan tangan dan berpelukan sudah termasuk ke dalam bentuk perilaku seksual. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dampak dari sexsual intercouse dengan pertanyaan berhubungan sex pranikah dapat menyebabkan masalah penurunan prestasi akademik di sekolah dengan jawaban salah sebanyak 36 responden . %). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian (Suhaida et al. , 2. yang dilakukan di desa Masaloka ditemukan bahwa pergaulan bebas dapat menurunkan prestasi di sekolah. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh (Darnoto and Dewi, 2. didapati bahwa perilaku pergaulan remaja mengarah ke pergaulan bebas, seperti seks bebas, merokok, mengonsumsi minuman keras, tawuran, obat-obatan dan berdampak penurunan prestasi belajar bahkan putus sekolah. Hal ini disebabkan oleh karena remaja kurang fokus dalam belajar sehingga terjadi penurunan prestasi belajar. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pemberian rangsangan pada diri sendiri merupakan bagian dari aktivitas seksual dengan jawaban benar responden 78 responden . %) hal ini sejalan dengan penelitian (Paramita, 2. remaja mengetahui bahwa merangsang diri sendiri adalah aktivitas seksual dan responden mempunyai pengetahuan yang luas terkait masturbasi. Hal ini disebabkan Sumber-sumber yang remaja dapatkan berasal dari keluarga terutama orang tua, guru, teman sebaya, dan media massa serta media elektronik. Remaja yang memiliki persepsi positif mengenai pendidikan seksual mendapatkan informasi tentang seks dari guru di sekolah, orang tua, dan buku pelajaran. Sumber-sumber informasi ini tentunya akurat dan dapat Sedangkan, remaja yang memiliki persepsi negatif mengenai pendidikan seks mendapatkan pengetahuan atau informasi yang kurang tepat melalui internet dan teman sebaya (Amir et al. , 2. Remaja yang memiliki pengetahuan yang tinggi mengenai pendidikan seksual mendapatkan informasi tentang seks dari guru di sekolah, orang tua, dan buku pelajaran. Sumber-sumber informasi ini tentunya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan, remaja yang memiliki pengetahuan yang rendah mengenai pendidikan seks mendapatkan pengetahuan atau informasi yang kurang tepat melalui internet dan teman sebaya (Amir et al. , 2. Berdasarkan tabel 2. menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki respon positif sebesar 40 responden . ,3%), sedangkan respon negatif sebesar 38 responden . ,7 %) hal ini menunjukan sebagian besar responden mempunyai sikap positif tentang perilaku seksul. Hal ini sejalan dengan penelitian (Widayati et al. , 2. menunjukan sikap seksual pranikah adalah sebesar 86,25% merupakan kategori positif dan di dapatkan bahwa sikap yang positif lebih besar dari sikap yang negatif. Sikap positif dalam penelitian tersebut ialah sikap yang tidak mendukung terhadap hubungan seksual pranikah pada remaja. Berdasarkan hasil penelitian bahwa perilaku seks bebas dapat dicegah dengan pendidikan kesehatan seksual sebesar . ,1%) artinya sebagian besar reponden setuju terkait perilaku seks dapat di cegah dengan pendidikan kesehatan seksual. Hal ini sejalan dengan penelitian (Istiqomah, 2. bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik mempengaruhi perilaku seksual pranikah remaja di SMK Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian (Pinandari et al. , 2. menunjukkan bahwa remaja yang menerima informasi kesehatan reproduksi komprehensif Juaeriah, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 3: . p45-51 ISSN 2809-6541 memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melakukan hubungan sesual pranikah. Oleh karena itu sangat diperlukan pemberian edukasi kesehatan reproduksi sehingga perilaku-perilaku seksual pranikah dapat dicegah. Berdasarkan hasil penelitian bahwa masalah seksual adalah hal pribadi yang tidak perlu didiskusikan sebesar . %) artinya sebagaian besar responden merasa bahwa masalah seksual perlu didiskusikan dengan orang lain. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian (Zuhriyatun et al. yang menunjukan bahwa Adanya jarak emosional dengan orangtua menyebabkan anak remaja tidak berani mendiskusikan masalah seksual mereka dengan orang tuanya. Sebaliknya, mereka justru sering kali diam-diam mencari informasinya diluar rumah yang kebenarannya belum tentu dipertanggungjawabkan. Menurut Azwar . dalam (Laoli et al. , 2. , terdapat 6 . faktor yang berperan dalam pembentukan sikap, yaitu: pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, kebudayaan ,media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, dan pengaruh faktor emosional. Berdasarkan tabel 3 Menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki tindakan mengenai perilaku seksual beresiko dalam kategori beresiko sebesar 42 responden . ,8%) dan responden dalam kategori tidak beresiko sebesar 36 responden . ,7%), hal ini sejalan dengan penelitian (Setiawati et al. , 2. bahwa sebesar . 5%) responden mempunyai perilaku seksual beresiko seperti berciuman, berpelukan, masturbasi hal ini di pengaruhi faktor internal, meliputi individu, pengetahuan dan sikap, serta perubahan fisik pada masa remaja. Sedangkan faktor eksternal, seperti lingkungan pergaulan, teman sebaya dan pengaruh media. Tingginya persentase remaja yang telah melakukan hubungan seksual pranikah akan meningkatkan pula dampak buruk yang dapat terjadi, seperti kehamilan remaja, penyakit infeksi menular seksual, hingga dampak sosial dalam masyarakat. Hal tersebut tentu disebabkan oleh banyak faktor dapat memengaruhi tindakan remaja terhadap perilaku seksual berisiko (Setiawati et al. , 2. Berdasarkan penelitian terdapat pertanyaan dengan presentase pernah paling tinggi yaitu berpegangan tangan dengan pasangan . ,6%), bergandengan lengan dengan pasangan . ,3%), masturbasi . %), berpelukan dengan pasangan . ,4%), dan merangkul tubuh pasangan . ,4%) selanjutnya Bentuk perilaku seksual dengan presentase rendah adalah berhubungan seksual tanpa alat kontrasepsi . %) dan berhubungan seksual lebih dari satu pasangan . ,7%). Hal ini sejalan dengan Penelitian (Lestari et al. , 2. yang dilakukan kepada remaja usia 15-24 tahun menunjukkan bahwa dari 60 responden sebanyak 49,2% berperilaku seksual pranikah ringan . erpegangan tangan, berpelukan, mencium pipi atau kening, masturbasi, memegang atau meraba daerah sensiti. , sedang . iuman bibir atau mulut, petting, oral sek. sebanyak 46,2% dan berat . erhubungan sek. sebanyak 4,6%. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh (Pratama and Notobroto, 2. sebanyak 47% reponden memiliki perilaku seksual pranikah beresiko dan jenis perilaku seksual yang paling banyak dilakukan pada responden di SMK Negeri 10 Surabaya berupa berpegangan tangan, berpelukan, mencium pipi dan kening. Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa pengetahuan yang tinggi dan sikap yang positif tidak mepengaruhi seseorang bertindak aman hal ini disebabkan oleh faktor internal . sia, pendidikan, pengetahuan dan sika. dan faktor eksternal . eterpaparan dengan kesehatan Juaeriah, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 3: . p45-51 ISSN 2809-6541 reproduksi, keterpaparan media massa, peran guru dan peran teman sebay. dari perilaku seksual pranikah yang dapat menyebabkan remaja memiliki tindakan beresiko (Hasanah et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkankan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwasanya pengetahuan remaja mengenai perilaku seksual beresiko di SMA Negeri 10 Semarang dalam kategori tinggi sebesar . ,6%). Sikap remaja mengenai perilaku seksual beresiko di SMA Negeri 10 Semarang dalam kategori positif sebesar . ,3%). Tindakan remaja mengenai perilaku seksual beresiko di SMA Negeri 10 Semarang dalam kategori beresiko sebesar . ,8%). DAFTAR PUSTAKA