Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 69 Ae 82 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Makna Perilaku Sosial Pengguna Instagram Story Mahasiswa FISIPOL UNESA: Fenomenologi dengan Konteks Self-Disclosure Krisna Zeyvanya Siahaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya. Indonesia Abstrak Penggunaan Media Sosial Instagram dalam fiture Instagram story saat ini tidak jauh dengan namanya self-disclosure. Pengungkapan diri . elf-discolosur. seringkali membuat pencitraan diri yang menunjukan sisi positif dari pengguna akun instagram tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna Instagram Story mahasiswa FISIPOL UNESA sebagai pengguna instagram dan bagaimana mahasiswa berperilaku di Instagram Story bedasarkan makna yang dipahaminya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi yang dianalisis dengan langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil pengamatan akun instagram milik mahasiswa FISIPOL UNESA ditemukan bahwa platform ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka. Instagram Story tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wadah untuk mengekspresikan diri, membangun identitas digital, dan berinteraksi secara sosial. Fleksibilitas fitur-fitur yang ditawarkan memungkinkan mahasiswa untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari berbagi pengalaman pribadi hingga mengikuti tren yang sedang populer. Penelitian ini menyoroti betapa kompleks dan multifasetnya penggunaan Instagram Story oleh mahasiswa. Platform ini tidak hanya mencerminkan perkembangan teknologi, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial dan budaya yang terjadi di kalangan generasi muda. Sebagai rekomendasi, penelitian ini menyarankan agar mahasiswa lebih bijak dalam menggunakan fitur Instagram Story dengan mempertimbangkan dampak terhadap citra diri dan interaksi sosial mereka. Selain itu, pengembangan literasi digital di kalangan mahasiswa perlu ditingkatkan untuk mendorong penggunaan media sosial yang lebih positif dan bertanggung jawab. Kata kunci : Instagram Story. Self-Disclosure. Mahasiswa Abstract The use of social media, particularly the Instagram Story feature, is strongly associated with self-disclosure. Self-disclosure often leads to the creation of a self-image that showcases the positive sides of the Instagram user. This study aims to understand the meaning of Instagram Story for FISIPOL UNESA students as Instagram users and how they behave on Instagram Story based on their perceived meanings. The research employs a qualitative descriptive approach using phenomenology. Data collection techniques include interviews, observations, and documentation, analyzed through stages of data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing. The observation of Instagram accounts owned by FISIPOL UNESA students revealed that this platform has become an integral part of their daily lives. Instagram Story functions not only as a communication tool but also as a medium for self-expression, digital identity building, and social interaction. The flexibility of its features allows students to meet various needs, from sharing personal experiences to following popular trends. This study highlights the complex and multifaceted use of Instagram Story by students. The platform reflects not only technological advancements but also social and cultural changes among the younger As a recommendation, this study suggests that students use Instagram Story more wisely, considering its impact on their self-image and social interactions. Furthermore, improving digital literacy among students is essential to promote more positive and responsible social media usage. Keywords: Instagram Story. Self-Disclosure. Students. How to Cite: Siahaan. Krisna Zeyvanya. Makna Perilaku Sosial Pengguna Instagram Story Mahasiswa FISIPOL UNESA : Fenomenologi dengan Konteks Self-Disclosure. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 5(No. : halaman 69 - 82 This is an open access article under the CCAeBY-SA license AU Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 69-82AU PENDAHULUAN Teknologi informasi dan media sosial saat ini sudah berkembang pesat di era abad 21. Hal ini menjadikan teknologi informasi sebagai kebutuhan pokok kehidupan manusia (Ayub. Nuryana, & Herdi, 2. Menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan bagi kehidupan manusia dari adanya perkembangan teknologi dan internet yang berbasis digital. Perkembangan teknologi dan internet ini terus berlanjut dan mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan pendidikan. Media sosial menurut (Zeva. Rizqiana. Novitasari, & Radita, 2. menjadi salah satu teknologi informasi yang mampu membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia, karena media sosial sering digunakan oleh manusia. Perkembangan yang pesat dari adanya kemunculan internet ini mendorong manusia untuk cenderung memanfaatkan teknologi informasi sebagai sarana berkomunikasi (Martha, 2. Media sosial membawa berbagai macam pengaruh terhadap macam macam rentan umur. Ketergantungan yang semakin besar pada teknologi cenderung mengarah pada nilai negatif. Nilai negative yang dimunculkan salah satunya adalah menurunnya kualitas interaksi sosial secara Media sosial dapat membuat pengguna menjadi malas dan tidak disiplin, lupa waktu dan tidak sopan dikarenakan penggunaan media sosial yang berlebihan atau tidak tepat. Sebaliknya jika media sosial digunakan untuk hal-hal positif, media sosial dapat membantu penggunanya untuk bersosialisasi dan mengelola jaringan pertemanan (Khairuni, 2. Perbatasan geografis, perbatasan jarak satu dengan jarak lainnya dan waktu yang tersedia mengurangi adanya kemajuan teknologi yang ada. Teknologi komunikasi dan informasi yang maju menjadi inovasi yang mendorong adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia teknologi saat ini (Munawar. Herdiana. Suharya, & Putri, 2. Memasuki era digitalisasi, masing-masing individu mempunyai pola hidup yang maju, beragam dan cenderung sulit terlepaskan dengan adanya perangkat berbasis teknologi. Lokasi geografis dapat diakses tanpa batasan, karena saat ini pendidikan online dan munculnya kursus daring mampu mendorong adanya kesempatan baru dalam belajar bagi masyarakat dengan cara yang lebih fleksibel (Novita & Hutasuhut, 2. Teknologi juga telah mempercepat inovasi dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan, di mana telemedicine dan aplikasi kesehatan telah mempermudah akses ke layanan medis. Pengaksesan internet yang merata oleh lapisan penduduk menjadi salah satu tantangan yang besa bagi majunya teknologi. Sulitnya mengakses jaringan internet dalam pemanfaatan digital, dapat memperburuk ketidaksetaraan sosial dan ekonomi atau biasa disebut dengan Digital Divide (Jayanthi & Dinaseviani, 2. Ketidaksetaraan ini perlu dilakukan perbaikan dengan tujuan untuk mengembangkan kebijakan dan inisiatif yang mendukung inklusi digital, memastikan bahwa semua individu dapat menggunakan haknya yang sama dalam mengakses jaringan internet. Awal munculnya posisi jaringan internet ini mampu memberikan kemudahan akses dalam bidang informasi yang dapat dijangkau dalam posisi yang jauh ataupun dekat (Widjanarko. Hadita. Saputra, & Cahyanto, 2. Pemanfaatan teknologi secara penuh menjadi peralihan dari beredarnya media sosial, aplikasi yang berbasis digital dan terjadinya transformasi kegiatan lainnya. Pemanfaatan teknologi memiliki tujuan yaitu untuk memberikan dorongan digitalisasi di Indonesia (Astini, 2. Di sisi lain dari adanya keputusan yang dikemukakan oleh Kemkominfo sebagai salah satu wujud usaha yang menjadi solusi bagi pemerintah dalam mendorong adanya pergerakan teknologi yang berbasis digitalisasi Perubahan ini terjadi karena disebabkan oleh munculnya era digitalisasi yang tidak hanya memengaruhi cara individu berkomunikasi, tetapi juga mempengaruhi bagaimana mereka bekerja. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 69-82AU belajar, dan bersosialisasi (Zis. Effendi, & Roem, 2. Sebagai salah satu contoh yaitu pemanfaatan aplikasi pesan instan dan media sosial telah menggantikan banyak fungsi komunikasi tatap muka, hal ini memungkinkan seseorang untuk tetap terhubung dengan mudah meskipun terpisah jarak yang jauh. Konferensi video dan platform kolaborasi online telah menjadi bagian integral dari lingkungan kerja dan pendidikan, memungkinkan kolaborasi yang lebih efisien dan fleksibel (Setyoningrum, 2. Beberapa orang cenderung lebih memilih berinteraksi melalui layar dibandingkan bertemu secara langsung, sehingga hal ini mengurangi kualitas hubungan interpersonal dan empati (Salsabila. Syamsir. Putri. S, & Rahmayanti, 2. Selain itu, penggunaan perangkat teknologi yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti gangguan tidur, kelelahan mata, dan masalah postur tubuh. Hal ini terutama menjadi perhatian di kalangan remaja dan anak-anak yang lebih rentan terhadap efek negatif dari penggunaan teknologi yang berlebihan. Era digital juga membuka banyak peluang baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. Salah satunya adalah berkembangnya Olshop atau E-commerc, dengan adanya platform ini telah merevolusi cara kita berbelanja, menyediakan kenyamanan dan aksesibilitas yang belum pernah ada sebelumnya (Nasution. Hariani. Hasibuan, & Pradita, 2. Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi pada era 21 menjadi komponen penting dari adanya media sosial (Anwar. Leo. Ruswandi, & Erihadiana, 2. Sejak kemunculannya, sosial media mampu mengelola proses manusia berinteraksi, komunikasi, dan bertukar wawasan. Beberapa platform media sosial menyediakan ruang bagi individu untuk terhubung dengan orang lain secara global, menghasilkan pertukaran ide, informasi, dan pengalaman. Aspek kehidupan manusia mendorong adanya sebuah penemuan yang bergerak dibidang teknologi internet, sehingga cenderung menyebabkan tidak memunculkan media yang baru, namun mengoperasikan beberapa sistem lainnya. Penyebaran pesan yang cepat kepada masyarakat yang luas dapat dikelola dengan baik oleh komunikator karena adanya peran peralatan modern yang canggih (Martha. Di era modern seperti ini telah berkembang pesat media sosial yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi salah satunya yang kerap digemari kalangan remaja saat ini adalah instagram. Instagram merupakan salah satu platform media sosial yang popular digunakan, karena memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan gen Z dimasa kini. Berbagi cerita ataupun moment penting bersama teman ataupun pasangan bahkan keluarga dapat dibagikan melalui adanya plastform Instagram, yang diluncurkan mulai tahun 2010. Istilah narsis yang menjadi salah satu kebiasaan masyarakat masa kini telah meraih peringkat ke populerannya pada platform instagram (Yurindah. Narti, & Indra, 2. Media sosial yang berisikan video, foto, cerita masa kini yang dapat digunakan oleh semua kalangan dengan menggunakan jaringan internet merupakan pengertian dari instagram (Johana. Lestari, & Fauziah, 2. Berkembangnya Instagram sering berjalannya periode menjadi platform yang lebih kompleks dan beragam, menawarkan beberapa fitur yang mendorong seseorang dengan mudah untuk membagikan momen kehidupan mereka dengan cara yang unik dan kreatif. Fitur terkemuka yang telah memperluas daya tarik Instagram adalah fitur "Story" (Kadiasti & Mukaromah, 2. Fitur Instagram story sendiri diluncurkan pada tahun 2016. Menurut penelitian (Martha, 2. beragam fitur media sosial Instagram yang banyak digemari masyarakat yaitu berkembangnya Instagram Story. Membagikan moment penting berupa foto atau video dari fitur yang disediakan Instagram story sendiri dapat menghilang sendirinya dalam waktu 1 hari setelahnya tepat 24 jam. Beberapa orang mulai memiliki ketertarikan yang tinggi, karena mereka dapat menggunakan filter wajah kartun yang tersedia pada Instagram story untuk dapat dikelola pada foto selfie mereka. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 69-82AU Pemanfaatan fitur Instagram Story ini diadaptasi dari kesuksesan Snapchat, yang sebelumnya telah populer dengan konsep serupa (Wainira. Liliweri, & Mandaru, 2. Di Indonesia. Instagram Story cepat mendapatkan perhatian pengguna media sosial. Masyarakat Indonesia yang dikenal aktif dan kreatif dalam menggunakan media sosial segera memanfaatkan fitur ini untuk berbagai keperluan, mulai dari berbagi momen sehari-hari, promosi bisnis, hingga kampanye sosial. Popularitas Instagram Story di Indonesia juga didorong oleh tingginya penetrasi smartphone dan akses internet yang semakin meluas (Hanindharputri & Putra, 2. Penggunaan Instagram Story yang sederhana dan efisien menarik minat banyak pengguna, dari kalangan remaja hingga dewasa. Beberapa fitur yang ditambahkan seperti stiker, filter, dan kemampuan untuk menandai pengguna lain membuat konten semakin menarik dan interaktif Fitur yang dikembangkan pada Instagram story, dimanfaatkan oleh pengguna Instagram sebagai salah satu bentuk media pengungkapan diri kepada pengikutnya (Rosemary. Susilawati, & Hanifah. Salah satu pengguna yang memanfaatkan adanya fitur dari Instagram story adalah beberapa selebgram yang mengambil bidang sebagai influencer. Cara pengelolaan dari sistem kerja influencer sendiri memanfaatkan Instagram story sebagai bentuk pengungkapan diri secara individu dan digunakan sebagai kegiatan promosi dari suatu barang atau pun produksi lainnya (Habil. Budiman, & Makhrian, 2. Influencer yang berkembang berawal dari pengguna Instagram biasa yang mengawali pola kehidupannya dengan cara memperkenalkan dirinya sendiri kepada para Perkenalan diri dari beberapa selebgram ini, memiliki karakter atau ciri secara khusus yang mampu menambah daya tarik bagi pengikut baru. Platform yang tersedia ini tidak hanya untuk berbagi moment penting saja, melainkan dapat digunakan untuk mengekspresikan kreativitas ataupun kepribadian (Antasari & Pratiwi, 2. Fitur Story Instagram juga memungkinkan pengguna untuk melihat siapa saja yang telah melihat cerita mereka, serta memberikan opsi untuk berinteraksi melalui pesan langsung. Fitur Instagram story menciptakan lingkungan interaktif dimana pengguna dapat berkomunikasi dan berbagi pengalaman secara lebih pribadi (Karim & Yulianita, 2. Berbagi pengalaman ini sendiri selain berfokus pada suatu kegiatan yang sedang dilakukan, namun moment yang ingin dikenang ataupun disimpan pada ketersediaan fitur penyimpanan yang berisikan arsip unggahan foto, video ataupun tulisan yang dibagikan melalui Instagram story. Keberhasilan fitur Story Instagram mencerminkan pergeseran dalam preferensi pengguna terhadap konten yang lebih sementara dan langsung. Dengan memberikan cara yang mudah dan cepat dalam berbagi berbagai moment penting yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Story Instagram telah menjadi salah satu fitur utama yang mendefinisikan pengalaman pengguna di platform ini (Ying. Komolsevin, & Kesaprakorn, 2. Pengungkapan dan pengekspresian diri terhadap publik menjadi identitas atau karakter yang dimiliki masing-masing individu (Martha, 2. Pengungkapan dan pengekspresian yang dilakukan oleh beberapa pengguna Instagram ini dimanfaatkan untuk menunjukkan jati diri mereka dan bagaimana kehidupan mereka sehari-hari melalui dunia maya. Pengekspresian kepribadian masing-masing pemilik akun dapat digunakan melalui fitur yang tersedia dari Instagram story (Wiyono & Muhid, 2. Membagikan konten berupa video ataupun foto bahkan kata-kata yang tersedia pada Instagram mampu menjadi daya tarik dalam memenuhi kepuasan serta hobi yang ada pada diri pemilik akun instagram. Pengungkapan diri pada fitur Instagram story ini tidak hanya ditujukan pada semua pengikut saja, namun dapat dikelola hanya untuk orang terdekat saja atau biasa dikenal dengan istilah AuClose FriendsAy atau AuTeman DekatAy (Ye. Ho, & Zerbe, 2. Pemanfaatan fitur ini mampu memberikan dorongan rasa kepercayaan diri yang tinggi kepada pengguna Instagram dalam menjalin interaksi sosial tanpa melakukan tatap muka antara individu satu dengan yang lainnya. Tidak sedikit pengguna AU Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 69-82AU instagram yang menggunakan fiture ini sebagai ajang branding diri atau self diself-disclosre mau dilakukan dengan sengaja ataupun tidak. Self-disclosure atau pengungkapan diri berkaitan dengan berjalannya interaksi sosial yang terjadi antara individu satu dengan individu lainnya dalam bertukar informasi yang dimiliki ataupun diterima (Johana. Lestari, & Fauziah, 2. Story Instagram memberikan pengguna kesempatan yang dapat berguna dalam memberikan ekspresi yang lebih secara langsung dan mudah digunakan. Pemilik akun dapat menambahkan berbagai cara kreatif seperti teks, stiker, dan filter untuk memperkaya cerita mereka. Informasi dan komunikasi yang diterima antar sesama pengguna satu dengan pegguna lainnya tersedia dalam fitur Instagram, sehingga pengguna akun lainnya yang terhubug dapat saling bertukar moment (Mahardika & Farida, 2. Di era digital ini, self-disclousure atau pengungkapan diri menjadi salah satu aspek penting yang ada pada interaksi sosial (Luo & Hancock, 2. Pada platform media sosial seperti Instagram, pengguna seringkali menggunakan fitur Instagram Story untuk membagikan momen-momen pribadi mereka. Self-disclosure melalui Instagram Story memungkinkan pengguna untuk menyampaikan berbagai aspek kehidupan mereka kepada audiens yang lebih luas, baik itu teman dekat, keluarga, maupun pengikut umum (Kristanti & Eva. Self-esteemdan Self-disclosureGenerasi Z Pengguna Instagram, 2. Fenomena ini menarik untuk diteliti karena pengungkapan diri yang dilakukan di dunia maya dapat memiliki dampak yang berbeda dibandingkan dengan cara mengungkapkan diri yang dilakukan secara langsung . ace to fac. Penggunaan Instagram Story sebagai media self-disclosure memiliki beberapa karakteristik unik. Keintiman atau kedekatan yang tersedia pada fitur Instagram story ini mampu memberikan kebebasan secara penuh bagi pemilik akun dalam membagikan moment penting berupa video ataupun foto (Lestari. Furau`ki. Darmawan, & Nurrahmawati, 2. Hal ini dapat mendorong pengguna untuk lebih terbuka dalam mengungkapkan diri karena konten yang dibagikan tidak Memberikan kebebasan untuk berbagi informasi dengan beberapa akun tertentu saja dapat dikontrol secara pribadi oleh pemilik akun Instagram pada settingan yang tersedia di Instagram story (Putri. Lukmantoro, & Hasfi, 2. Keberadaan fitur-fitur seperti stiker, tag lokasi, dan mention juga memperkaya cara pengguna mengungkapkan diri mereka. Pengeksplorasian pada fitur story mendorong pengguna instagram untuk dapat membagikan beberapa moment santai . , informasi bahkan keseharian pemilik akun pada kehidupan dunia maya secara lebih spontan dan autentik, yang pada gilirannya mampu membentuk citra diri yang ingin ditampilkan kepada audiens mereka (A. Ashari. Bau, & Suhada, 2. Interaksi yang terjadi melalui tanggapan dan balasan terhadap story juga memperkaya dinamika sosial yang ada pada platform tersebut dan menciptakan ruang bagi pengguna untuk menegosiasikan identitas dan membangun hubungan interpersonal (Satata & Shusantie, 2. Fenomena ini menekankan pentingnya pemahaman lebih mendalam mengenai bagaimana representasi diri digital dalam mempengaruhi persepsi sosial dan membentuk komunitas virtual di era media sosial. Perspektif psikologi sosial, self-disclosure pada penggunaan Instagram Story dapat berperan dalam pembentukan identitas dan hubungan sosial (Kreling. Meirer, & Reinecke, 2. Membagikan moment-moment pribadi, pengguna dapat membangun kepribadian atau karakter seseorang yang pemilik akun harapkan kepada pemilik akun lainnya. Moment pribadi yang dibagikan dapat memperkuat hubungan dengan pengikut mereka, karena pengungkapan diri yang lebih dalam sering kali berhubungan dengan tingkat kepercayaan dan kedekatan yang lebih tinggi (Kristanti & Eva. Self-esteemdan Self-disclosureGenerasi Z Pengguna Instagram, 2. Resiko yang berkaitan dengan adanya pengungkapan diri yang berlebihan, seperti dampak negatif terhadap privasi dan AU Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 69-82AU potensi kurang bertanggung jawabnya pemilik akun yang menyalahgunaan informasi pribadi milik pemilik akun lainnya. Penggunaan Instagram Story sebagai media self-disclosure juga berkaitan dengan dinamika sosial dan budaya di masyarakat (Fujiawati & Raharja, 2. Kaburnya ruang public dan ruang pribadi sangat minimnya kebatasan yang terjadi pada era digital saat ini. Pengguna sering kali merasa terdorong untuk terus meng-update kehidupan mereka sebagai bentuk eksistensi dan validasi Fenomena ini juga dipengaruhi oleh budaya narsisme dan pencarian pengakuan sosial yang kian menguat (Dalimunte & Sihombing, 2. Perilaku sosial dan dinamika antar manusia yang ada di dunia modern menjadi salah satu penunjang dalam self-disclousure pada fitur Instagram story dalam menggali wawasan yang mendalam dari teknologi informasi yang tersedia. Pada konteks ini, fenomena penggunaan Story Instagram menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut, khususnya dalam perspektif self-disclosure/ pengungkapan diri mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UNESA. Kecenderungan yang ditimbulkan seperti ketakutan atau kehilangan moment kebahagiaan secara interpersonal menjadi salah satu penyebab dari adanya penggunaan yang berlebihan dari teknologi (Haimbash. Rifanyanti, & Putri, 2. Pengungkapan diri ini tercermin dalam konten Story dan bagaimana aktivitas ini mampu memberikan persepsi kepribadian bagi pengguna Instagram, sehingga menjadi aspek yang penting untuk dieksplorasi (Rahayu. Ardhiansyah. Al-Hafizh, & Novealdi, 2. Penting untuk memahami bahwa keberadaan nilai pengungkapan diri di dalam Story Instagram tidak hanya mencerminkan tren individu, tetapi juga menciptakan budaya digital yang melibatkan jutaan pengguna. Menurut penelitian kornelia (Johana. Lestari, & Fauziah, 2. menceritakan dirinya sendiri kepada orang lain merupakan salah satu bentuk pengungkapan yang terjadi dari adanya Self-disclousure. Face to face atau tatap muka sering dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-harinya (Towner. Grint. Levy. Blakemore, & Tomova, 2. Media jejaring sosial berjalannya waktu, mendorong seseorang untuk dapat membuka diri terhadap individu lainnya melalui berbagai media yang tersedia. Berbagi pesan, berbagi foto ataupun video, mengupdate status yang cenderung mengundang komentar public menjadi salah satu bentuk aktivitas yang biasa dilakukan melalui platform media sosial (Yusuf. Rahman. Rahmi, & Lismayani, 2. Komentar atau feedback yang diberikan menjadi salah satu respon dari adanya ketertarikan melalui unggahan foto atau video yang dibagikan melalui Instagram story tersebut (Khrishananto & Adriansyah, 2. Ketertarikan melalui unggahan story dari pengikut Instagram ini dapat diwujudkan melalui rasa empati, dorongan bahkan judgement yang dirasa bahwa unggahan story tersebut memberikan makna negative bagi seseorang. Dengan adanya perkembangan yang meningkat melalui fitur AuInstagram StoryAy, diharapkan penelitian ini mampu memberikan wawasan baru terhadap peran yang tersedia melalui platform Instagram story dalam mengelola persepsi atau mengubah cara pandang pengguna Instagram story bahwa self-disclosure orang lain tidak selalu berasal dari apa yang mereka posting di story Instagram (Tanika & Muhibbin, 2. Pengembangan penelitian dengan judul AuPerilaku Sosial Instastory Sebagai Refleksi Self-Disclosure Pengguna Instagram (Fenomenologi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNESA) memiliki tujuan yaitu mampu memberikan penambahan wawasan dari suatu fenomena yang ada serta mampu memberikan cara pandangan yang lebih positif melalui media sosial berbasis Instagram story dengan tujuan untuk kesejahteraan dan interaksi sosial dalam masyarakat digital saat ini. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 69-82AU METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk memahami makna dan perilaku sosial mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dalam memanfaatkan fitur Instagram Story sebagai medium pengungkapan diri. Lokasi penelitian meliputi lingkungan FISIPOL UNESA dan ruang digital yang diwakili oleh akun-akun Instagram mahasiswa. Subjek penelitian terdiri dari 15 hingga 20 mahasiswa aktif FISIPOL UNESA yang memiliki pengikut Instagram sekitar 300 orang dan secara konsisten menggunakan fitur Instagram Story dalam kesehariannya. Kriteria ini dipilih untuk memastikan bahwa data yang diperoleh mencerminkan pola perilaku sosial yang signifikan. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan selama dua minggu dengan memantau aktivitas Instagram Story mahasiswa. Pengamatan mencakup frekuensi unggahan, tema cerita, estetika, gaya ungkapan, serta pola interaksi dengan pengguna lain. Peneliti mencatat momen-momen spesifik, seperti tren populer yang diikuti oleh mahasiswa atau aktivitas unggahan tinggi pada waktu-waktu Selanjutnya, wawancara mendalam dilakukan untuk menggali pengalaman, motivasi, dan persepsi subjek penelitian terkait penggunaan Instagram Story. Wawancara dilakukan secara tatap muka dan daring dengan durasi 15 hingga 20 menit untuk setiap responden. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan meliputi alasan di balik penggunaan fitur Instagram Story, pemilihan jenis konten yang diunggah, serta dampak penggunaan fitur tersebut terhadap citra diri. Proses wawancara ini direkam, kemudian ditranskripsikan untuk memastikan akurasi data. Sebagai pelengkap, peneliti mengumpulkan dokumentasi berupa tangkapan layar . dari unggahan Instagram Story subjek penelitian. Dokumentasi ini digunakan untuk mendukung analisis data dan memverifikasi informasi yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan tahapan analisis data menurut Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang telah terkumpul diseleksi dan difokuskan pada aspek yang relevan, seperti makna perilaku, simbolisme diri, gaya ungkapan, dan tren penggunaan Instagram Story. Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk narasi untuk menggambarkan pola-pola yang muncul dari perilaku sosial Penarikan kesimpulan dilakukan dengan merujuk pada teori fenomenologi Alfred Schutz, yang memberikan kerangka untuk memahami makna subjektif di balik tindakan mahasiswa dalam menggunakan Instagram Story. Proses ini melibatkan identifikasi tema, pola, dan hubungan antara data untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Metode ini dirancang secara sistematis untuk memberikan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana mahasiswa FISIPOL UNESA memaknai dan memanfaatkan Instagram Story sebagai ruang interaksi sosial digital, serta dampaknya terhadap pengungkapan diri mereka di era media sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Instagram Story dipandang oleh mahasiswa FISIPOL UNESA sebagai medium multifungsi yang mampu memenuhi kebutuhan personal dan sosial. Berdasarkan wawancara mendalam, mahasiswa menggunakan Instagram Story untuk membagikan momen pribadi, menyampaikan opini, atau mengikuti tren. Fitur ini dianggap sebagai ruang ekspresi diri yang fleksibel, di mana mahasiswa dapat mengontrol informasi yang dibagikan, baik kepada publik maupun hanya kepada teman dekat melalui fitur "Close Friends". Sebagai sarana self-disclosure. Instagram Story memungkinkan mahasiswa untuk membangun narasi personal yang mereka pilih untuk tampilkan kepada audiens. Fenomena ini mendukung teori Goffman tentang dramaturgi, di mana media sosial menjadi panggung bagi individu untuk AU Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 69-82AU menampilkan "front stage" mereka, sementara sisi lain kehidupan mereka disembunyikan di "backstage". Temuan ini sejalan dengan penelitian Johana. Lestari, dan Fauziah . , yang menyebutkan bahwa media sosial memberikan kontrol kepada pengguna untuk menentukan tingkat keterbukaan diri mereka. Namun, beberapa mahasiswa juga mengakui bahwa ada tekanan sosial untuk terus tampil sempurna. Tekanan ini tercermin dalam pilihan konten yang sering kali dirancang untuk mendapatkan pengakuan sosial, seperti pujian atau validasi dalam bentuk tanggapan atau emoji dari pengikut mereka. Hal ini mengindikasikan adanya kebutuhan akan literasi digital untuk membantu mahasiswa memahami batasan antara eksistensi digital dan autentisitas diri. Berdasarkan hasil observasi, perilaku mahasiswa dalam menggunakan Instagram Story mencakup frekuensi unggahan, jenis konten, dan pola interaksi. Rata-rata mahasiswa mengunggah 1-2 Instagram Story per hari, dengan tema konten yang meliputi aktivitas pribadi, opini sosial, dan tren populer. Data menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung menggunakan elemen visual yang menarik, seperti filter estetis, musik, atau stiker interaktif, untuk memperkuat daya tarik unggahan Mahasiswa juga memanfaatkan Instagram Story untuk membangun hubungan sosial melalui fitur tanggapan langsung. Responden menyebutkan bahwa tanggapan dari pengikut, baik dalam bentuk pesan maupun emoji, memberikan rasa keterhubungan yang signifikan, meskipun interaksi tersebut bersifat digital. Temuan ini memperkuat konsep intersubjektivitas dalam teori fenomenologi Alfred Schutz, di mana makna sosial dibangun melalui pengalaman bersama dalam konteks yang spesifik. Namun, terdapat aspek kompleks yang muncul dari perilaku mahasiswa, yaitu fenomena fear of missing out (FOMO). Beberapa responden mengakui bahwa mereka sering kali merasa tertekan untuk terus memperbarui konten mereka agar tetap relevan di kalangan teman-teman mereka. Tekanan ini mengarah pada perilaku konsumtif, di mana mahasiswa membeli produk atau mengikuti tren tertentu untuk meningkatkan daya tarik konten Instagram Story mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian Khrishananto dan Adriansyah . yang menyebutkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berhubungan erat dengan perilaku konsumtif generasi muda. Hasil penelitian ini memperkaya teori fenomenologi Alfred Schutz yang menekankan pentingnya pengalaman subjektif dalam memahami perilaku sosial. Instagram Story menjadi medium di mana mahasiswa FISIPOL UNESA tidak hanya mengungkapkan diri, tetapi juga membangun identitas sosial melalui narasi yang mereka ciptakan. Dalam konteks ini, fitur Instagram Story tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga platform konstruksi realitas sosial yang dinamis. Lebih jauh, perilaku mahasiswa yang terlibat dalam tren dan pencitraan diri di Instagram Story juga dapat dijelaskan melalui teori identitas sosial Tajfel. Mahasiswa cenderung memilih konten yang mencerminkan identitas kelompok mereka, seperti gaya hidup mahasiswa, tren populer, atau isu-isu sosial yang relevan. Hal ini menunjukkan bahwa Instagram Story tidak hanya mencerminkan identitas individu, tetapi juga berfungsi sebagai media untuk memperkuat afiliasi Namun, hasil penelitian ini juga mengungkap sisi paradoks dari penggunaan Instagram Story. satu sisi, fitur ini memberikan kebebasan untuk berekspresi dan membangun hubungan sosial. sisi lain, tekanan sosial untuk memenuhi ekspektasi audiens dapat menciptakan stres dan ketidaknyamanan psikologis. Beberapa mahasiswa bahkan mengakui bahwa mereka mengatur ulang unggahan mereka untuk menghindari komentar negatif atau penilaian dari pengikut. Penelitian ini menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan mahasiswa. Dengan memahami dampak psikologis dan sosial dari penggunaan media sosial, mahasiswa dapat lebih bijaksana dalam memanfaatkan fitur seperti Instagram Story. Institusi pendidikan dapat memainkan peran penting dengan menyelenggarakan pelatihan atau seminar tentang literasi digital, yang mencakup cara menggunakan media sosial secara positif dan bertanggung jawab. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 69-82AU Selain itu, penelitian ini memberikan wawasan bagi pembuat kebijakan dan pengembang media sosial untuk menciptakan fitur-fitur yang mendukung kesehatan mental pengguna, seperti pengaturan privasi yang lebih fleksibel atau fitur yang mendorong interaksi yang lebih positif. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman mengenai perilaku sosial generasi muda di era digital. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian tentang penggunaan media sosial dan pengungkapan diri, sementara secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pengembangan program literasi digital di lingkungan pendidikan. Rekomendasi utama dari penelitian ini adalah perlunya upaya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang dampak penggunaan media sosial terhadap citra diri dan hubungan sosial mereka. Institusi pendidikan dapat mengintegrasikan literasi digital ke dalam kurikulum untuk mendorong penggunaan media sosial yang lebih sehat dan bertanggung jawab. KESIMPULAN Berdasarkan analisis mendalam terhadap penggunaan Instagram Story oleh mahasiswa FISIPOL UNESA, dapat disimpulkan bahwa platform ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka. Instagram Story tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wadah untuk mengekspresikan diri, membangun identitas digital, dan berinteraksi secara Fleksibilitas fitur-fitur yang ditawarkan memungkinkan mahasiswa untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari berbagi pengalaman pribadi hingga mengikuti tren yang sedang Pentingnya estetika, gaya bahasa, dan pengaruh sosial dalam penggunaan Instagram Story menunjukkan betapa platform ini telah membentuk budaya visual dan komunikasi yang unik di kalangan generasi muda. Mahasiswa secara aktif menciptakan dan mengonsumsi konten yang menarik, relevan, dan sesuai dengan identitas diri mereka. Hal ini semakin menegaskan peran sentral media sosial dalam membentuk nilai-nilai, norma, dan perilaku sosial. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti betapa kompleks dan multifasetnya penggunaan Instagram Story oleh mahasiswa. Platform ini tidak hanya mencerminkan perkembangan teknologi, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial dan budaya yang terjadi di kalangan generasi muda. Self-disclosure yang dilakukan oleh mahasiswa sendiri bertujuan untuk memberikan image baik dimuka publik sebagaimana keinginan dari pemilik akun tersebut. mahasiswa memberikan gambaran terbaik menurut versinya masing masing sebagaimana hal tersebut akan menjadi konsumi publik. DAFTAR PUSTAKA