DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Kepemimpinan Transformatif ala Monkey D. Luffy: Penelitian Kualitatif Nilai-Nilai SDGs dalam One Piece Adhis Ayudia Arianti, 2Erindah Dimisyqiyani, 3Amaliyah, 4Nazhifah Wardani Departemen Bisnis. Fakultas Vokasi. Universitas Airlangga. Surabaya E-mail: 1adhis. 398766-2023@vokasi. id, 2erindahdimisyqiyani@vokasi. id , 3amaliyah@vokasi. id, 4nazhifah. wardani2023@vokasi. ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi representasi kepemimpinan dalam serial anime Jepang One Piece, dengan fokus pada tokoh Monkey D. Luffy serta interaksinya dengan karakter lain dan berbagai Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis adegan naratif terpilih untuk mengkaji nilai-nilai kepemimpinan, dinamika tim, dan resolusi konflik, berdasarkan pengamatan mendalam terhadap dialog, perkembangan alur cerita, dan momen simbolis yang menyoroti praktik kepemimpinan. Temuan menunjukkan bahwa Luffy merefleksikan secara kuat kepemimpinan transformasional, yang ditunjukkan melalui kemampuannya menginspirasi dan memotivasi orang lain, memberdayakan krunya, serta mendorong persatuan di tengah perbedaan. Gaya kepemimpinan ini menekankan visi, kepercayaan, dan tujuan bersama, sejalan dengan teori modern yang memandang kepemimpinan sebagai relasional daripada hierarkis, dan melalui pembentukan loyalitas serta ketangguhan. Luffy mewujudkan sosok pemimpin transformasional yang mendorong pertumbuhan pribadi, kolaborasi, dan pencapaian kolektif. Namun, nilai-nilai tersebut terus diuji oleh konflik yang berulang dengan pihak Angkatan Laut, yang melambangkan perjuangan lebih luas terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. , khususnya Tujuan 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, sehingga memperlihatkan bahwa kepemimpinan transformasional harus adaptif terhadap resistensi, ketidakpastian, dan ketidakadilan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa One Piece bukan sekadar hiburan, melainkan juga sumber pembelajaran kepemimpinan yang relevan bagi konteks organisasi maupun personal, serta menunjukkan bagaimana narasi fiksi seperti anime dapat menjadi media efektif untuk pendidikan kepemimpinan dan pengembangan karakter dalam dinamika sosial yang kompleks. Kata kunci : Kepemimpinan Transformasional. One Piece. Dinamika Tim. Resolusi Konflik. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. Pendidikan Kepemimpinan ABSTRACT This study explores the representation of leadership in the Japanese anime series One Piece, focusing on the character Monkey D. Luffy and his interactions with other key figures and conflicts throughout the storyline. Using a qualitative descriptive approach, this research examines selected narrative scenes to analyze leadership values, team dynamics, and conflict resolution within the Data are drawn from in-depth observation of character dialogues, plot developments, and symbolic moments that highlight leadership practices. Findings reveal that Luffy demonstrates core elements of transformational leadership, including inspiring and motivating others, empowering team members, and promoting unity despite differences. However, these leadership Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. values are often tested by recurring conflicts between pirates and the Marine, which reflect broader challenges to achieving Sustainable Development Goals such as peace, justice, and strong This study concludes that One Piece offers more than entertainment. it provides valuable insights into leadership that are relevant for both organizational and personal contexts. Fictional narratives like anime can serve as effective media for leadership education and character This study explores the representation of leadership in the Japanese anime series One Piece, focusing on Monkey D. Luffy and his interactions with other characters and conflicts. Using a qualitative descriptive approach, the research analyzes selected narrative scenes to examine leadership values, team dynamics, and conflict resolution, with data drawn from close observation of dialogues, plot developments, and symbolic moments that highlight leadership practices. Findings indicate that Luffy strongly reflects transformational leadership, demonstrated through his ability to inspire and motivate others, empower his crew, and promote unity despite differences. His leadership style emphasizes vision, trust, and shared purpose, aligning with modern theories that view leadership as relational rather than hierarchical, and by cultivating loyalty and resilience. Luffy embodies the transformational leader who encourages personal growth, collaboration, and collective achievement. However, these values are continually challenged by recurring conflicts with the Marine, which symbolize broader struggles tied to Sustainable Development Goals (SDG. , particularly Goal 16 on peace, justice, and strong institutions, thereby showing that transformational leadership must adapt to resistance, uncertainty, and social injustice. This study concludes that One Piece provides more than entertainment. it serves as a meaningful source of leadership lessons relevant for both organizational and personal contexts, and demonstrates how fictional narratives like anime can function as effective media for leadership education and character development, while illustrating how transformational leadership operates within complex social dynamics. Keyword : Transformational Leadership. One Piece. Team Dynamics. Conflict Resolution. Sustainable Development Goals (SDG. Leadership Education PENDAHULUAN Kepemimpinan merupakan salah satu fenomena sosial yang paling kompleks dan fundamental dalam kehidupan Sejak kepemimpinan telah menjadi faktor utama yang menentukan arah, stabilitas, serta keberlanjutan kelompok, baik dalam lingkup keluarga, komunitas, organisasi, hingga negara. Pada tingkat yang paling mengarahkan, dan mengorganisasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks pendidikan Islam, kepemimpinan didefinisikan sebagai upaya sadar yang dipimpin oleh seorang . dalam proses pengaruh, motivasi dan memprovokasi individu atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu secara sukarela sehingga mengarah pada tujuan yang telah ditentukan (Mahdiya et Dengan kepemimpinan tidak hanya sebatas posisi kemampuan interpersonal, komunikasi, dan manajemen relasi dalam konteks Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, konsep kepemimpinan mengalami perluasan makna. Ike Nurhidayah. Anasari. Roihan. Maghfiroh, & Ratna Sari Dewi . menjelaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya sebagai fasilitator teknis, tetapi juga sebagai katalisator yang membentuk interaksi produktif melalui kemampuan interpersonal, strategi fasilitasi, sekaligus Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. kepekaan terhadap latar belakang anggota dalam dinamika kelompok pemahaman kolektif, komunikasi yang adaptif, dan reflexif menjadi inti dari proses tersebut (Ike Nurhidayah et al. , 2. Efektivitas seorang pemimpin biasanya diukur dari sejauh mana ia mampu menginspirasi, mempertahankan motivasi kelompok di tengah dinamika maupun tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bersifat dinamis, bergantung pada konteks, dan tidak bisa dilepaskan dari Kepemimpinan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pemimpin memiliki peran sentral dalam menentukan arah, strategi. Di konteks organisasi publik maupun swasta di Indonesia, kepemimpinan transformasional secara signifikan memperkuat kepuasan kerja dan komitmen organisasi, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap kinerja para pegawai (Novitasari & Fidiastuti, 2. Tidak hanya dalam dunia nyata, konsep kepemimpinan juga sering digambarkan dalam media populer yang dapat menjadi bahan refleksi dan Media populer, seperti anime, seringkali menjadi cermin dan nilai-nilai kepemimpinan yang aplikatif. Salah satu contoh media yang merepresentasikan kepemimpinan secara kuat adalah serial anime One Piece karya Eiichiro Oda. One Piece adalah manga dan anime yang mulai terbit pada tahun 1997 dan hingga kini menjadi fenomena global (Geronimo et al. , 2. Cerita ini berpusat pada petualangan Monkey D. Luffy, seorang pemuda yang bercita-cita menjadi Raja Bajak Laut dengan menemukan harta legendaris yang disebut One Piece. Namun, tujuan Luffy tidak Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 hanya sebatas memperoleh harta, melainkan juga menjunjung nilai-nilai kebebasan, persahabatan, dan mimpi. Bersama kru Bajak Laut Topi Jerami. Luffy kepemimpinan bukanlah sekadar tentang kekuasaan, melainkan tentang keberanian untuk bermimpi, solidaritas, perjuangan menghadapi ketidakadilan. Rumusan masalah . Bagaimana bentuk kepemimpinan yang ditampilkan dalam alur cerita One Piece, baik melalui tokoh utama maupun interaksi antar karakter? . Nilai-nilai kepemimpinan apa saja yang muncul dalam One Piece? . Bagaimana dinamika kepemimpinan kru Topi Jerami memengaruhi kohesi kelompok dan perjalanan mereka mencapai tujuan bersama? Tujuan . Mendeskripsikan kepemimpinan yang muncul dalam alur cerita One Piece . melalui berbagai arc dan karakter. Menganalisis nilai-nilai kepemimpinan yang tergambar dari perjalanan kru Topi Jerami lingkungan sosial. Menjelaskan peran dinamika kepemimpinan dalam menjaga solidaritas kelompok di One Piece. Baik, aku akan melanjutkan dari pendahuluan tadi ke landasan teori dengan menjelaskan masingmasing gaya kepemimpinan dalam bentuk paragraf panjang, detail, . anpa bullet/nomo. Setiap gaya akan dengan sitasi. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. LANDASAN TEORI Manajemen Manajemen merupakan proses penting dalam mencapai tujuan organisasi melalui pengarahan, dan pengendalian sumber daya secara efektif dan efisien. Manajemen mengatur, tetapi juga memastikan bahwa seluruh aktivitas organisasi bergerak selaras dengan visi dan misi yang telah Hal ini sejalan dengan fungsi-fungsi manajemen adalah seni dan ilmu dalam mengoordinasikan manusia maupun sumber daya lainnya agar dapat menghasilkan output yang optimal (Mariyah et al. , 2. Dalam praktiknya, fungsi utama manajemen terdiri dari perencanaan . , pengorganisasian . , pengarahan . , dan pengendalian . yang saling berhubungan dalam membentuk siklus keberhasilan organisasi. Di sinilah terlihat keterkaitan erat antara manajemen dan menyediakan kerangka dan mekanisme pengaturan, sementara kepemimpinan memberikan arah, visi, dan inspirasi bagi individu untuk bergerak mencapai tujuan Dengan demikian, pemimpin yang efektif bukan hanya mampu memimpin secara karismatis, tetapi juga harus menguasai fungsi manajerial agar dapat menciptakan strategi yang inovatif dan membangun iklim organisasi yang Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan elemen fundamental dalam organisasi maupun kehidupan sosial karena berhubungan langsung dengan bagaimana seorang mengarahkan, dan menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan sebagai proses dinamis yang melibatkan interaksi antara pemimpin dan pengikut, di mana efektivitas kepemimpinan tidak hanya bergantung pada pemimpin semata, tetapi juga pada hubungan timbal balik yang tercipta (Klasmeier et al. , 2. Kepemimpinan mempengaruhi orang lain dengan visi yang jelas, serta kemampuan untuk menciptakan perubahan positif di dalam organisasi maupun masyarakat (Jun & Lee, 2. Kepemimpinan sebagai praktik yang bersifat kontekstual, di mana gaya dan efektivitas seorang pemimpin dipengaruhi oleh situasi, budaya, dan kebutuhan kelompok yang dipimpin(Nazhiroh et al. Kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan untuk memotivasi serta memberikan arah yang jelas, sehingga pemimpin berperan sebagai agen perubahan yang mampu menggerakkan kelompok menuju tujuan Kepemimpinan modern tidak lagi hanya tentang mengontrol, melainkan lebih pada membangun kepercayaan, menciptakan iklim kerja kolaboratif (Noor & Saputra, 2. Dengan demikian, kepemimpinan dapat dipahami sebagai kompetensi, dan kemampuan manajerial yang digunakan untuk memengaruhi orang lain secara efektif. Keterhubungan antara manajemen dan kepemimpinan terletak pada bagaimana manajemen menyediakan sistem dan struktur, makna, motivasi, dan inspirasi agar individu dalam organisasi mampu bergerak secara harmonis mencapai visi Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan merupakan pendekatan yang digunakan seorang Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. anggota organisasi untuk mencapai tujuan Gaya kepemimpinan memiliki keterkaitan erat dengan kemampuan strategis pemimpin dalam mengelola inovasi, sehingga tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan organisasi (Cortes & Herrmann, 2. Pengertian gaya kepemimpinan tidak hanya terbatas pada Aucara seorang pemimpin memimpin,Ay melainkan mencakup aspek yang lebih luas seperti bagaimana pemimpin mengambil keputusan, memotivasi tim, hingga menciptakan budaya organisasi yang sehat. Gaya mencerminkan kepribadian dan nilai yang dianut oleh seorang pemimpin, sehingga pola kepemimpinannya akan berbeda dari satu individu ke individu lainnya. Selain itu, gaya kepemimpinan bersifat dinamis karena dapat berubah sesuai dengan bawahan, serta tantangan lingkungan yang dihadapi. Oleh karena itu, pemahaman tentang gaya kepemimpinan sangat penting agar seorang pemimpin dapat menyesuaikan pendekatan yang paling tepat guna mencapai efektivitas organisasi secara optimal. Kepemimpinan Otoriter Gaya merupakan pola kepemimpinan yang menempatkan pemimpin sebagai pusat kendali penuh dalam pengambilan keputusan, sementara bawahan hanya berperan sebagai pelaksana instruksi tanpa ruang partisipasi (Aditya et al. Model ini cenderung menekankan kedisiplinan yang ketat, komunikasi satu arah, serta kepatuhan mutlak terhadap Kelebihan dari gaya ini adalah adanya ketegasan dan kecepatan dalam keputusan dibuat secara langsung tanpa melalui proses diskusi panjang. Hal tersebut menjadikan gaya kepemimpinan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 otoriter efektif dalam situasi krisis atau kondisi darurat yang membutuhkan arahan tegas agar tidak menimbulkan kebingungan di antara anggota tim (Oh et , 2. Akan tetapi, penerapan gaya ini sering menimbulkan tekanan yang dapat menghambat kreativitas, inisiatif, bahkan menurunkan motivasi kerja bawahan. Tidak jarang, pola kepemimpinan ini juga menciptakan rasa ketidakpastian yang justru memperkuat dominasi pemimpin atas bawahan, sehingga hubungan kerja menjadi kurang seimbang. Kepemimpinan Demokratis Efektivitas kepemimpinan demokratis tercermin dari dampaknya terhadap kinerja maupun aspek psikologis Penelitian The Influence of Democratic Leadership on Employee Performance With Psychological Empowerment as a Mediation Variable in DP3AM Binjai City oleh Pohan & Ferine . menemukan bahwa kepemimpinan meningkatkan kinerja pegawai, dengan mediator yang memperkuat hubungan Dalam konteks yang lebih pemberdayaan psikologis karyawan melalui tumbuhnya rasa percaya diri, otonomi, serta keyakinan bahwa mereka mampu mengambil keputusan yang bermanfaat bagi organisasi. Dengan demikian, gaya ini bukan hanya berfokus pada pencapaian hasil kerja secara kuantitatif, tetapi juga memberikan dampak kualitatif berupa kepuasan, rasa memiliki, dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi. Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan demokratis sangat relevan dalam organisasi modern yang menuntut kolaborasi, inovasi, dan partisipasi aktif dari seluruh anggota tim. Kepemimpinan Laissez-faire Kepemimpinan laissez-faire merupakan gaya kepemimpinan yang P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. ditandai dengan pemberian kebebasan penuh kepada bawahan untuk mengatur keputusan, serta menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan tugas. Pemimpin dengan gaya ini cenderung mengambil posisi sebagai pengamat pasif yang hanya memberikan arahan secara umum, sepenuhnya diserahkan kepada tim. Karakteristik utama gaya ini adalah minim intervensi langsung, komunikasi yang tidak terlalu intensif, dan adanya kepercayaan besar terhadap kemampuan Dalam laissez-faire dipandang efektif pada organisasi atau kelompok kerja yang beranggotakan individu dengan kompetensi tinggi, mandiri, serta mampu mengelola tanggung jawab tanpa banyak arahan. Kepemimpinan laissez-faire menjadi strategi yang relevan ketika pemimpin ingin menumbuhkan rasa tanggung jawab, kreativitas, dan kemandirian anggota tim, asalkan diterapkan pada lingkungan yang sudah memiliki kedewasaan kerja yang baik (Chandra & Yanuar, 2. Kepemimpinan Transformasional Kepemimpinan transformasional memposisikan pemimpin sebagai agen perubahan yang menanamkan visi, nilai, dan makna kerja sehingga pengikut terdorong melampaui kepentingan pribadi demi tujuan bersama. kuncinya tampak pada empat dimensi pengaruh ideal . ole mode. , motivasi inspirasional . enyatuan arah dan harapa. , stimulasi intelektual . eluang berkreasi dan berpikir kriti. , serta pertimbangan individual . oaching yang persona. yang bekerja serempak membentuk energi kolektif untuk perubahan berkelanjutan (Islam et al. Dalam konteks lingkungan yang kepemimpinan ini relevan karena organisasi: pemimpin mengartikulasikan urgensi perubahan, merangkai narasi mengonversi ketidakpastian menjadi arena pembelajaran, sehingga organisasi lebih gesit merespons tantangan eksternal dan peluang inovasi (Sultoni & Gunawan. Dengan cara itu, kepemimpinan memotivasi secara emosional, tetapi juga mengonstruksi struktur kognitif baru cara pandang, prioritas, dan praktik kerja yang menyatukan perilaku individu dengan strategi jangka panjang organisasi. Kepemimpinan Transaksional Kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan yang berfokus pada hubungan timbal balik antara pemimpin dan bawahan melalui sistem imbalan dan Pemimpin menekankan kepatuhan terhadap aturan, prosedur, dan target yang telah ditetapkan, di mana keberhasilan bawahan akan pelanggaran atau kegagalan akan diikuti dengan konsekuensi tertentu. Gaya ini menekankan stabilitas, keteraturan, serta kejelasan peran, sehingga sering dianggap membutuhkan struktur hierarki yang kuat. Kepemimpinan menghasilkan efisiensi jangka pendek karena orientasinya pada hasil yang terukur, meskipun dampaknya terhadap inovasi dan kreativitas cenderung terbatas (Udin et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transaksional lebih cocok diterapkan pada konteks organisasi yang memerlukan kepastian, pengendalian, dan disiplin dalam operasional sehari-hari. Dengan kata lain, gaya ini dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas organisasi, sektor-sektor membutuhkan konsistensi kerja tinggi seperti birokrasi, militer, maupun perusahaan manufaktur. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. METODOLOGI Metodologi penelitian merupakan langkah-langkah digunakan untuk memperoleh data, menganalisis, serta menarik kesimpulan dalam suatu kajian ilmiah. Bagian ini memaparkan pendekatan penelitian, jenis pengumpulan data, serta teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini. Pendekatan penelitian Penelitian pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi . ontent analysi. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian berfokus pada makna, interpretasi, dan konteks narasi fiksi (Bydi & Prabowo. Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif-interpretatif, yang bertujuan direpresentasikan dalam serial anime One Piece serta keterkaitannya dengan nilainilai Sustainable Development Goals (SDG. Penelitian deskriptif-interpretatif tidak hanya memaparkan fakta, tetapi juga memberikan pemahaman lebih mendalam tentang makna yang terkandung dalam objek penelitian (Annisa et al. , 2. Sumber data A Data primer adalah suatu informasi yang didapatkan langsung dari orang atau sumber yang terlibat dalam peristiwa tersebut . Data primer yang didapatkan melalui scene pada anime One Piece . epemimpinan transformasional ) oleh Monkey D Luffy menjadikan sumber data utama dalam penelitian ini. A Data sekunder yang digunakan dalam penelitian tidak didapatkan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 melainkan melalui pihak ketiga. Dengan data yang didapatkan dari jurnal maupun dokumen lainnya yang terkait dengan studi dan topik penelitian Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui: A Dokumentasi dengan menonton dan mencatat adegan-adegan penting dalam anime One Piece kepemimpinan dan relevansi dengan SDGs. A Studi Literatur dengan mengkaji kepemimpinan, serta penelitian terdahulu terkait analisis media dan SDGs. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi tematik. Prosesnya meliputi: A Reduksi Data, memilih adegan dan alur cerita yang relevan dengan fokus penelitian. A Kategorisasi Tema, mengklasifikasikan data sesuai teori kepemimpinan, misalnya demokratis, atau situasional. A Interpretasi, menafsirkan makna kepemimpinan dalam adegan serta menghubungkannya dengan nilai-nilai SDGs A Penarikan Kesimpulan, menyeluruh tentang bagaimana kepemimpinan dalam One Piece dapat dipelajari sebagai refleksi nilai kepemimpinan yang relevan dalam kehidupan nyata. Keabsahan Data Untuk menjaga validitas penelitian, digunakan teknik triangulasi sumber dan Triangulasi sumber dan triangulasi P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. teori membantu menguji kredibilitas temuan dengan membandingkan data dari berbagai sumber serta teori pendukung. Dalam interpretasi adegan anime dengan teori kepemimpinan dan literatur terkait SDGs. HASIL DAN PEMBAHASAN Menginspirasi dan Memotivasi Gambar 01. Luffy meyakinkan Nami untuk tetap percaya (Arlong Park Arc. Episode 37. Menit 18:. Kemampuan mengatasi tantangan Gambar 02. Luffy melawan Crocodile untuk membebaskan Alabasta (Alabasta Arc. Episode 126. Menit 19:. Memeberdayakan anggota tim Gambar 03. Luffy mempercayai Zoro dalam duel melawan Mr. (Alabasta Arc. Episode 119. Menit 12:. Zoro: AuAku akan mengalahkan musuh ini. Jangan ikut campur. Luffy. Ay Luffy: AuAku percaya padamu. Zoro. Menangkan pertarungan ini!Ay Anime One Piece karya Eiichiro Oda menghadirkan kisah epik mengenai perjalanan sekelompok bajak laut yang dipimpin oleh Monkey D. Luffy. Selain sebagai kisah petualangan. One Piece juga sarat dengan nilai kepemimpinan, konflik Luffy sebagai kapten kru Topi Jerami bukan hanya pemimpin karismatik yang mampu menginspirasi, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap sistem yang menindas, terutama melalui konflik berulang antara bajak laut dan Marine/Pemerintah Dunia. Plot utama One Piece berfokus pada pencarian harta legendaris AuOne PieceAy yang diyakini akan membawa pemiliknya menjadi Raja Bajak Laut. Namun, perjalanan ini tidak hanya tentang harta, melainkan juga perjalanan membentuk aliansi, melawan musuh, serta menentang struktur kekuasaan global yang dikuasai oleh Pemerintah Dunia. Pemerintah Dunia sendiri digambarkan sebagai institusi yang sering kali menyalahgunakan kekuasaan untuk mempertahankan status quo, sementara Marine sebagai aparat militernya menjadi representasi hukum yang ambigu di satu sisi menjaga ketertiban, tetapi di sisi lain menutup mata terhadap ketidakadilan. Secara keseluruhan. One Piece tidak hanya menghadirkan kisah petualangan bajak laut, tetapi juga sebuah refleksi sosial tentang kepemimpinan, kekuasaan, dan perjuangan melawan sistem yang Melalui tokoh Luffy, kru Topi Jerami, serta lawan-lawan yang mereka hadapi, serial ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang otoritas semata, melainkan tentang Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. keberanian, visi, serta kemampuan untuk memperjuangkan kebebasan bagi semua KESIMPULAN Observasi terhadap anime One Piece memberikan pemahaman yang berharga mengenai gaya kepemimpinan yang ditampilkan melalui karakter Monkey D. Luffy dan kru Topi Jerami. Dari pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang efektif membutuhkan keberanian, komitmen, dan Luffy memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin mampu memotivasi, menginspirasi, dan menjaga kesatuan tim meskipun menghadapi tantangan besar dan konflik dengan pihak Marine maupun bajak laut lainnya. Dari hasil observasi ini, dapat transformasional dalam One Piece memberikan inspirasi tidak hanya bagi para karakternya, tetapi juga bagi Anime ini mengajarkan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk menjadi pemimpin yang membawa perubahan positif, baik dalam lingkup kecil seperti komunitas maupun dalam skala yang lebih luas. Dengan menerapkan nilai-nilai kepemimpinan yang ditampilkan dalam One Piece ke dalam kehidupan nyata, kita dapat membangun lingkungan yang lebih adil, kolaboratif, dan berorientasi pada masa depan yang lebih baik. UCAPAN TERIMA KASIH Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah memberikan dukungan pendanaan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Bantuan tersebut sangat membantu saya dalam menyediakan sumber daya dan fasilitas yang diperlukan selama proses penelitian. DAFTAR PUSTAKA