eISSN 2598-9898 | pISSN 2654-2811 JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Vol. 10 | No. 1 | Januari 2026 | Hal. 107 - 116 http://riset. id/index. php/JU-ke/index http://dx. org/10. 33474/JU-ke ANALISIS EFISIENSI USAHATANI BAWANG MERAH DI DESA TORONGREJO. KECAMATAN JUNREJO KOTA BATU Aliyah MaisyarahA. Noerhadi SudjoniA. Lia Rohmatul MaulaA AUniversitas Islam Malang. email: 22201032029@unisma. Universitas Islam Malang. email: liarohmatul@unisma. Universitas Islam Malang. email: nurhadisudjoni@unisma. ABSTRAK Komoditas bawang merah memiliki peran strategis dalam sektor hortikultura, namun produktivitas antar petani di Desa Torongrejo masih bervariasi sehingga diperlukan analisis efisiensi usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk mengalisis efisiensi usahatani bawang merah di Desa Torongrejo. Kecamatan Junrejo Kota Batu. Penelitian ini dilakukan secara sengaja . di Desa Torongrejo sebagai salah satu sentra produksi bawang merah di Kota Batu. Pengambilan sampel menggunakan metode sensus dengan melibatkan seluruh populasi sebagai responden sebanyak 60 petani. Data yang digunakan berupa data primer dan data Analisis dilakukan menggunakan R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani bawang merah di Desa Torongrejo sebesar Rp150. 085/ha/MT, biaya produksi sebesar Rp 57. /ha/MT dan pendapatan yaitu sebesar Rp 93. 701/ha/MT. Hasil R/C ratio usahatani bawang merah sebesar 2,73 > 1 artinya usahatani tersebut efisien/layak dijalankan. Kata Kunci: efisiensi. bawang merah. R/C ratio. Cobb-Douglas ABSTRACT Shallots play a strategic role in the horticulture sector, but productivity among farmers in Torongrejo Village still varies, requiring an analysis of farming efficiency. This study aims to analyze the efficiency of shallot farming in Torongrejo Village. Junrejo District. Batu City. This study was conducted purposively in Torongrejo Village as one of the shallot production centers in Batu City. Sampling was done using a census method involving the entire population as respondents, totaling 60 farmers. The data used were primary and secondary data. The analysis was conducted using the R/C ratio. The results showed that the average income of shallot farmers in Torongrejo Village was IDR 150. 085/ha/MT, production costs were IDR 384/ha/MT, and revenue was IDR 93. 701/ha/MT. The R/C ratio for shallot farming was 2,73 > 1, meaning that the farming was efficient/viable. Keywords: efficiency. R/C ratio. Cobb-Douglas Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Aliyah MaisyarahA. Noerhadi SudjoniA. Lia Rohmatul MaulaA PENDAHULUAN Pertanian merupakan sektor utama yang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perekonomian Indonesia, yang tidak hanya menjadi Penyumbang Domestik Bruto (PDB) nasional saja, tetapi sebagai penopang mata pencaharian lebih dari 27. 114 rumah tangga petani (BPS. Sebagian besar pendapatan masyarakat di Indonesia berasal dari sektor pertanian, maka pengembangan sektor ini perlu terus dilakukan demi keberlanjutan kesejahteraan masyarakat. Sektor hortikultura merupakan salah satu jenis usahatani yang memiliki permintaan pasar cukup Sektor hortikultura memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya melalui pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti bawang merah (Allium ascalonicu. Di tengah dinamika globalisasi saat ini, komoditas hortikultura seperti bawang merah (Allium ascalonicu. semakin strategis dalam pemenuhan kebutuhan pangan utama. Usahatani bawang merah cukup menjanjikan bagi petani, karena memiliki potensi yang cukup besar dan dapat dikembangkan kedepannya, dilihat dari permintaan pasar yang terus meningkat (Tapo. Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang paling luas dibudidayakan oleh petani di Indonesia, karena mampu menjadi sumber pendapatan yang relatif stabil serta memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari ( Lekik et al. , 2. Bawang merupakan tanaman hortikultura yang dianggap memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dengan produksi nasional mencapai 2,24 juta ton pada tahun 2024, yang mengalami kenaikan 7,7% dibandingkan tahun 2023 (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian, 2. Meskipun sering mengalami fluktuasi dan permintaan yang tidak stabil, karena produksinya yang musiman dan ketergantungan pada faktor cuaca (Ewut et al. , 2. Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang memiliki fluktuasi harga yang relatif tinggi. Keragaan harga bawang merah sangat dipengaruhi oleh perkembangan produksi bawang merah (Pusdatin, 2. Kota Batu merupakan salah satu wilayah penghasil komoditas hortikultura di Jawa Timur, termasuk bawang merah. Kecamatan Junrejo, khususnya Desa Torongrejo, memiliki potensi besar dalam budidaya bawang merah karena kondisi tanah dan iklimnya yang mendukung. Produktivitas bawang merah di Kota Batu pada tahun 2024 mencapai 11,58 ton/ha dan lebih tinggi dari Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Proboinggo daerah sentra produksi bawang merah. Desa Torongrejo merupakan daerah pusat produksi bawang merah di Kecamatan Junrejo Kota Batu. Desa ini memiliki kondisi tanah subur, iklim sejuk, serta petani yang sudah lama mengembangkan komoditas hortikultura. Namun. Produktivitas usahatani bawang merah di Desa Torongrejo belum menunjukkan hasil yang optimal. Menurut Balai Penyuluh Pertanian Junrejo. Kota Batu menyatakan bahwa hasil panen antar petani masih sangat bervariasi, yang mengindikasikan adanya perbedaan efisiensi dalam penggunaan faktor produksi seperti luas lahan, tenaga kerja, benih, pestisida dan pupuk serta faktor sosial ekonomi petani seperti pendidikan, pengalaman bertani, dan keikutsertaan dalam kelompok tani. Beberapa petani telah menggunakan teknologi modern tetapi sebagian lainnya masih mengandalkan metode konvensional. Permasalahan lain yang dihadapi petani di Desa Torongrejo adalah fluktuasi harga input dan output, tenaga kerja, keterbatasan akses modal, terknologi serta keterlambatan distribusi pupuk Petani sering kali menghadapi kesulitan dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki secara efisien, sehingga hasil panen tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Ketidakefisienan dalam pengelolaan faktor produksi menyebabkan rendahnya produktivitas dan pendapatan petani. Penggunaan input produksi yang tidak seimbang kerap membuat hasil produktivitas petani menjadi kurang optimal (Nainggolan et al. , 2. Penggunaan faktor produksi sebagai input dalam kegiatan usahatani harus diusahakan dengan baik. Kegiatan produksi bisa berjalan dengan bagus apabila beberapa faktor poduksi yang dibutuhkan sudah berjalan dengan tepat dan sesuai (Putri, 2. Produksi dan produktivitas yang tinggi dihasilkan dari kegiatan usahatani yang telah efisien. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mampu mengintegrasikan analisis efisiensi usahatani. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 108 Vol. 10 | No. 1 | Januari 2026 Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Analisis Efisiensi Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi efisiensi usahatani bawang merah di Desa Torongrejo. Kecamatan Junrejo Kota Batu dengan menggunakan analisis R/C ratio. LANDASAN TEORI Teori Usahatani Usahatani merupakan suatu organisasi produksi dimana petani sebagai pelaksana mengorganisasi alam, tenaga kerja dan modal ditunjukkan pada produksi di sektor pertanian, baik berdasarkan pada pencarian laba atau tidak (Mokhamad Fatikhin, 2. Menurut (Shinta, 2. , menyatakan bahwa usahatani adalah suatu tempat dimana seseorang atau sekumpulan orang berusaha mengelola unsur-unsur produksi seperti alam, tenaga kerja, modal dan ketrampilan dengan tujuan berproduksi untuk menghasilkan sesuatu dilapangan pertanian. Menurut Soekartawi . dalam (Ibrahim et al. , 2. Usahatani biasanya diartikan bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efesien untuk tujuan memperoleh keuntugan yang tinggi pada waktu-waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani atau produsen dapat mengaloksikan sumberdaya yang mereka miliki . ang dikuasa. dengan baik dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan output yang melebihi input. Teori Efisiensi Usahatani Efisiensi usahatani merupakan salah satu indikator penting untuk menilai kemampuan petani dalam mengelola sumber daya secara optimal. Menurut (Tangdi & Samsinar, 2. efisiensi berkaitan dengan produktivitas, pengukuranefisien dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan. Efisiensi produksi merupakan suatu kondisi di mana input yang digunakan dapat menghasilkan output secara optimal tanpa adanya pemborosan sumber daya. Salah satu cara mengukur efisiensi usahatani adalah dengan menghitung nilai R/C ratio atau perbandingan antara penerimaan dengan pengeluaran (Risa Nur Hidayah. Andriyono Kilat Adhi, 2. R/C ratio merupakan perbandingan antara penerimaan usahatani yang diterima dengan setiap rupiah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi usahatani (Mokhamad Fatikhin, 2. Teori Produksi Produksi merupakan aktivitas yang bertujuan meningkatkan nilai suatu barang melalui keterlibatan berbagai faktor produksi secara bersamaan. Dengan kata lain, produksi adalah proses mengubah input menjadi output, yakni kegiatan yang menambah nilai suatu barang atau jasa dengan melibatkan faktor produksi sebagai inputnya (Damayanti, 2. Tujuan dari kegiatan produksi adalah memaksimalkan jumlah output dengan sejumlah input tertentu. Teori produksi menggambarkan tentang keterkaitan antara faktor-faktor produksi dengan tingkat produksi yang diciptakan. Teori produksi dapat dinyatakan dalam bentuk fungsi produksi dan tingkat produksi yang diciptakan (Kamaruddin. Dita Puspitasari, 2. Fungsi produksi merupakan keterkaitan antara berbagai faktor produksi dengan jumlah output yang dihasilkan dari penggunaan faktor-faktor tersebut. Dengan lain. Fungsi Produksi adalah hubungan diantara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya (Rachman. METODE Penelitian ini dilakukan di Desa Torongrejo. Kecamatan Junrejo Kota Batu. Daera penelitian ditentukan secara sengaja . karena desa tersebut merupakan salah satu sentra produksi bawang merah di Kota Batu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2025 Ae Januari Pengambilan sampel menggunakan metode sensus, yaitu seluruh anggota populasi digunakan sebagai sampel respoden penelitian yaitu sebanyak 60 petani bawang merah di Desa Torongrejo. Kecamatan Junrejo Kota Batu. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden melalui Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Aliyah MaisyarahA. Noerhadi SudjoniA. Lia Rohmatul MaulaA pengamatan atu observasi dan wawancara menggunakan kuesioner/angket yang telah disusun sesuai tujuan penelitian kepada responden. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan secara tidak langsung yang diperoleh dari sumber kedua seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan analisis R/C ratio dan analisis fungsi Cobb Douglas. Biaya Usahatani Biaya usahatani adalah total pengeluaran dalam bentuk uang yang digunakan sehingga menghasilkan produk dalam satu periode. Biaya usahatani dibedakan menjadi yaitu biaya tetap . ixed cos. dan biaya tidak tetap . ariabel cos. Biaya tetap umumnya diartikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun output yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya tidak tetap merupakan biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh hasil produksi komoditas pertanian. Total biaya merupakan semua nilai yang masuk . abis paka. oleh petani selama melakukani kegiatan usahatani. Biaya usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut: TC = TFC TVC Keterangan: : Total biaya keseluruhan (R. TFC : Total biaya tetap (R. TVC : Total biaya variabel (R. Penerimaan Usahatani Penerimaan usahatani adalah total nominal produk dari usahatani pada periode waktu tertentu (Aril Mooduto. Yuriko Boekoesoe, 2. Menurut pemahaman (Gratya et al. , 2. penerimaan usahatani merupakan penghasilan yang diperoleh dari aktivitas pertanian pada akhir proses produksi. Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual, total penerimaan dari kegiatan usahatani yang diterima pada akhir proses Penerimaan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut: TR = P. Keterangan: : Total penerimaan (R. : Total produksi . : Harga produksi (R. Pendapatan Usahatani Pendapatan secara umum adalah penghasilan yangs diperoleh atau diterima dari hasil penjualan produk baik situ barang maupun jasa. Menurut (Abas et al. , 2. Pendapatan usahatani adalah selisih antara total penerimaan dengan seluruh biaya yang dikeluarkan. Pendapatan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut: = TR Ae TC Keterangan: : Pendapatan/keuntungan (R. : Total penerimaan (R. : Total biaya (R. 110 Vol. 10 | No. 1 | Januari 2026 Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Analisis Efisiensi Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Analisis R/C ratio Menurut (Raissa Reswara. Sri Hindarti, 2. analisis R/C ratio merupakan analisis untuk menghitung analisis efisiensi pada usahatani bawang merah dengan perbandingan antara penerimaan dan biaya dalam usahatani. Menurut (Rahim. & Hastuti, 2. analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar penerimaan yang dihasilkan dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Dirumuskan sebagai berikut: R/C ratio = TR/TC Keterangan: : Total penerimaan per hektar (Rp/h. : Total biaya per hektar (Rp/h. Kriteria keputusan: R/C ratio > 1, maka usahatani bawang merah dikatakan efisien dan layak untuk laksanakan R/C ratio < 1, maka usahatani bawang merah dikatakan tidak efisien dan tidak layak untuk R/C ratio = 1, maka usahatani bawang merah dikatakan mencapai titik impas karena penerimaan sama dengan biaya HASIL DAN PEMBAHASAN . Analisis Biaya Usahatani Bawang Merah Biaya usahatani bawang merah terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan biaya yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah output yang dihasilkan. Sedangkan, biaya variabel merupakan biaya yang besarnya dipengaruhi oleh jumlah output yang dihasilkan. Berikut adalah komponen biaya usahatani bawang merah yang dikeluarkan oleh petani responden di daerah penelitian. Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya relatif tetap, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Pada usahatani bawang merah, biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani antara lain biaya sewa lahan, biaya pajak, dan biaya penyusutan peralatan pertanian. Tabel 1. Rata-Rata Biaya Tetap Usahatani Bawang Merah di Desa Torongrejo Keterangan Biaya pajak atau sewa lahan Biaya penyusutan alat Jumlah Total (Rp/ha/MT) Rp 1. Rp 2. Persentase (%) 73,72 26,28 Sumber: Data primer diolah . Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui total rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan petani untuk usahatani bawang merah yaitu sebesar Rp 2. 411/ha/MT. Biaya sewa lahan adalah nilai yang dikeluarkan petani untuk menyewa lahan selama satu kali musim tanam bawang merah. Nilai sewa lahan berdasarkan pada informasi yang diberikan oleh petani responden, dimana terdapat perbedaan biaya sewa lahan antar petani responden karena perbedaan letak lahan. Biaya pajak lahan adalah nilai yang dikeluarkan oleh petani untuk membayar pajak lahan setiap satu kali musim tanam bawang merah. Biaya pajak lahan dikeluarkan oleh petani yang memiliki hak guna lahan sendiri. Biaya pajak lahan ini adalah nilai yang dikeluarkan oleh petani untuk membayar pajak lahan setiap satu kali musim tanam bawang merah. Terdapat perbedaan biaya pajak lahan antar petani responden karena letak lahan sama seperti nilai sewa lahan. Sehingga diperoleh rata-rata biaya pajak atau sewa lahan Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Aliyah MaisyarahA. Noerhadi SudjoniA. Lia Rohmatul MaulaA yaitu sebesar Rp 1. 598 per hektar dengan persentase terbesar dari keseluruhan biaya tetap yaitu 73,72%. Biaya penyusutan peralatan pertanian adalah biaya yang dikeluarkan oleh setiap petani untuk sekali musim tanam tergantung pada jumlah kepemilikan dan waktu pemakaian Peralatan pertanian yang umum digunakan oleh petani responden adalah cangkul, sabit, sprayer dan ember. Rata-rata biaya penyusutan peralatan pertanian dari petani responden adalah Rp 547. 812 dengan persentase 26,28% terhadap total biaya tetap. Sehingga diperoleh total rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan petani bawang merah di Desa Torongrejo yaitu sebesar Rp 2. 411/ha/MT. Biaya Variabel Biaya tidak tetap atau biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya dipengeruhi oleh produksi yang diperoleh. Biaya variabel yang termasuk di dalam usahatani bawang merah antara lain biaya pengadaan bibit, pupuk, upah tenaga kerja, dan pestisida. Tabel 2. Rata-Rata Biaya Variabel Usahatani Bawang Merah di Desa Torongrejo Uraian Penggunaan Biaya Biaya (R. Persentase (%) Bibit (Rp/ha/Musim tana. 63,77 Pupuk (Rp/ha/Musim tana. 17,16 Pestisida (Rp/ha/Musim tana. 6,91 Tenaga Kerja (Rp/ha/Musim tana. 12,16 Jumlah Sumber: Data primer diolah . Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk keperluan sarana produksi usahatani bawang merah yaitu sebesar 55. Biaya bawang merah yang digunakan oleh petani adalah bibit bawang merah. Bibit yang digunakan oleh petani merupakan bibit yang memiliki produktifitas tinggi dan sudah lama digunakan oleh Bibit yang digunakan oleh petani di Desa Torongrejo yaitu menggunakan bibit varietas Thailand-Nganjuk atau dikenal dengan nama Tajuk dengan harga berkisar antara Rp. 000,sampai dengan Rp. 000,-. Kebutuhan bibit rata-rata oleh petani responden adalah 829,49 kg per hektar. Maka dapat diketahui total biaya bibit yang dikeluarkan petani untuk penanaman bawang merah di Desa Torongrejo yaitu sebesar Rp 35. 857/ha/MT. Pupuk yang digunakan oleh petani bawang merah di Desa Torongrejo yaitu meliputi pupuk kandang, pupuk ZA dan pupuk NPK. Pupuk kandang digunakan oleh petani responden di Desa Torongrejo sebagai pupuk dasar pada saat melakukan usahatani bawang merah. Penggunaan pupuk kandang yang dilakukan oleh petani responden pada umumnya bertujuan untuk menjaga kesuburan tanah. Pupuk kandang yang digunakan pada umumnya adalah pupuk kambing, pupuk sapi dan ada juga yang menggunakan pupuk petroganik. Rata-rata penggunaan pupuk kandang untuk usahatani bawang merah di Desa Torongrejo mencapai 880 kg/ha dengan harga mulai dari Rp 800,- hingga Rp 2. 500,-. Pupuk NPK digunakan untuk memenuhi kebutuhan unsur N. P dan K. Pupuk majemuk NPK merupakan jenis pupuk kimia yang paling banyak digunakan oleh petani responden di Desa Torongrejo. Pupuk NPK digunakan untuk memenuhi kebutuhan unsur N. P dan K. Ratarata penggunaan pupuk NPK untuk usahatani bawang merah di Desa Torongrejo mencapai 372 kg/ha. Harga dari pupuk NPK yang digunakan oleh petani responden berkisar antara Rp 000,- sampai dengan Rp 26. 000,-. Sedangkan Rata-rata penggunaan pupuk ZA untuk usahatani bawang merah di Desa Torongrejo mencapai 395 kg/ha dengan harga berkisar antar Rp 5. 000Ao,- sampai dengan Rp 15. Sehingga diperoleh total biaya yang dikeluarkan petani 112 Vol. 10 | No. 1 | Januari 2026 Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Analisis Efisiensi Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi untuk biaya pupuk yang digunakan untuk usahatani bawang merah yaitu sebesar Rp 340/ha/MT. Penggunaan pupuk ZA memiliki kemiripan dengan pupuk urea yang mengandung unsur N. Pestisida yang digunakan oleh petani bawang merah di Desa Torongrejo yaitu insektisida dan fungisida. Rata-rata penggunaan pestisida untuk usahatani bawang merah di Desa Torongrejo mencapai 29,17 liter/hektar dengan total biaya rata-rata penggunaan pestisida sebesar Rp 3. Tenaga kerja yang digunakan oleh petani di Desa Torongrejo adalah tenaga kerja tenaga dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga dan digunanakan pada setiap tahapan budidaya bawang merah hingga panen. Rata-rata penggunaan biaya tenaga kerja pada usahatani bawang merah di Desa Torongrejo adalah sebesar Rp 6. 824 per hektar. Biaya untuk upah tenaga kerja ini memiliki persentase cukup besar yaitu sebesar 12,16% terhadap biaya variabel. Hal ini dikarenakan bawang merah merupakan jenis tanaman yang membutuhkan banyak perawatan yang intensif. Sehingga diperoleh rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani bawang merah di Desa Torongrejo sebesar Rp 55. 974/ha/MT. Biaya Usahatani Biaya usahatani adalah total pengeluaran dalam bentuk uang yang digunakan oleh petani bawang merah di Desa Torongrejo sehingga menghasilkan produk dalam satu periode. Tabel 3. Total Biaya Usahatani Bawang Merah di Desa Torongrejo Komponen Jumlah Biaya (R. Biaya Tetap Biaya Variabel Jumlah Sumber: Data primer diolah . Berdasarkan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa total biaya yang dikeluarkan petani bawang merah di Desa Torongrejo yaitu sebesar Rp 57. 384/ha/MT. Biaya usahatani bawang merah dibedakan menjadi yaitu biaya tetap . ixed cos. dan biaya tidak tetap . ariabel Pada usahatani bawang merah, biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani antara lain biaya sewa lahan, biaya pajak, dan biaya penyusutan peralatan pertanian, sehingga diperoleh total biaya tetap yaitu sebesar Rp 2. 411/ha/MT dan biaya variabel yang termasuk di dalam usahatani bawang merah antara lain biaya pengadaan bibit, pupuk, upah tenaga kerja, dan pestisida, sehingga diperoleh total biaya variabel sebesar Rp 55. 974/ha/MT. Penerimaan Usahatani Bawang Merah Penerimaan usahatani bawang merah merupakan penerimaan yang diterima oleh petani dari hasil panen yang dijual, yaitu perkalian antara produksi dan harga jual. Nilai rata-rata penerimaan usahatani bawang merah di Desa Torongrejo dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rata-Rata Penerimaan Usahatani Bawang Merah di Desa Torongrejo Keterangan Produksi (Kg/Ha/MT) Harga (Rp/K. Total Penerimaan (Rp/ha/MT) Nilai Sumber: Data primer diolah . Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa besarnya nilai rata-rata penerimaan usahatani bawang merah tergantung pada besarnya jumlah produksi dan harga jual. Jumlah produksi rata-rata usahatani bawang merah di Desa Torongrejo adalah 12. 101 kg/ha/MT dengan ata-rata harga jual bawang merah oleh petani adalah Rp 12. 583/kg. Sehingga diperoleh Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Aliyah MaisyarahA. Noerhadi SudjoniA. Lia Rohmatul MaulaA rata-rata penerimaan usahatani bawang merah di Desa Torongrejo yaitu sebesar Rp150. 085/ha/MT. Penerimaan dipengaruhi oleh jumlah produksi dan harga jual. Jika produksi tinggi tetapi harga jual rendah, maka penerimaan juga rendah/menurun. Menurut Hadi dan Maharani . faktor jumlah produksi dan harga jual berbanding lurus, jika salah satu faktor mengalami kenaikan atau penurunan maka berpengaruh pada penerimaan. Pendapatan Usahatani Bawang Merah Pendapatan yang diperoleh oleh petani dihitung dari selisih antara total penerimaan (TR) usahatani bawang merah dengan total biaya (TC) produksinya. Besarnya pendapatan yang diperoleh petani responden dapat diketahui dengan terlebih dahulu menghitung besarnya tingkat penerimaan yang diperoleh serta biaya-biaya yang dikeluarkan pada suatu usahatani (Fattah, et al. ,). Adapun rata-rata pendapatan usahatani bawang merah dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rata-Rata Pendapatan Usahatani Bawang Merah di Desa Torongrejo Keterangan Penerimaan Biaya Total Pendapatan Nilai (Rp/Musim Tana. Sumber: Data primer diolah . Berdasarkan pada Tabel 5. diatas dapat diketahui bahwa rata-rata pendapatan usahatani bawang merah di Desa Torongrejo dalam satu kali musim tanam sebesar Rp 93. dimana pendapatan ini diperoleh dari hasil rata-rata total penerimaan yaitu sebesat Rp 085 dikurangi dengan rata-rata total biaya produksi yaitu sebesar Rp 57. Sehingga, petani di Desa Torongrejo telah memperoleh keuntungan pada usahatani bawang merah yang dilakukan. Menurut (Azizah et al. , 2. jika biaya produksi meningkat maka pendapatan petani akan menurun dan sebaliknya jika biaya produksi menurun pendapatan petani akan meningkat. Analisis R/C ratio Usahatani Bawang Merah Salah satu cara yang digunakan untuk mengetahui efisiensi usahatani bawang merah di Desa Torongrejo dapat dihitung dengan R/C ratio (Revenue Cost Rati. R/C ratio merupakan hasil perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya usahatani. Hasil analisis efisiensi usahatani bawang merah di Desa Torongrejo berdasarkan analisis R/C ratio disajikan pada tabel sebagai berikut. Tabel 6. Rata-Rata Efisiensi Usahatani Bawang Merah di Desa Torongrejo Keterangan Penerimaan (TR) Biaya Total (TC) R/C ratio Nilai (Rp/Musim Tana. 2,73 Sumber: Data primer diolah . Berdasarkan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa total penerimaan rata-rata sebesar Rp 150. 085 sedangkan total biaya rata-rata sebesar Rp 57. 384, sehingga diperoleh nilai R/C ratio 2,73 yang berarti bahwa setiap pengeluaran Rp 1 pada usahatani bawang merah tersebut akan menghasilkan penerimaan sebesar 2,73 rupiah. Berdasarkan hasil perhitungan R/C ratio 2,73 > 1 . ebih dari . yang diperoleh dari usahatani bawang merah, maka pengembangan usahatani bawang merah di Desa Torongrejo telah menguntungkan dan layak untuk diusahakan. 114 Vol. 10 | No. 1 | Januari 2026 Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Analisis Efisiensi Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Usahatani bawang merah di Desa Torongrejo. Kecamatan Junrejo. Kota Batu terbukti efisien dan layak diusahakan secara ekonomi, yang ditunjukkan oleh nilai R/C ratio sebesar 2,73, dengan rata-rata penerimaan Rp150. 085 per hektar per musim tanam, total biaya Rp 57. 384 per hektar, dan pendapatan bersih Rp 93. 701 per hektar dan ditunjukkan oleh nilai R/C ratio sebesar 2,73 > 1, yang menunjukkan bahwa setiap pengeluaran Rp1 pada usahatani bawang merah menghasilkan penerimaan Rp 2,73, sehingga kegiatan usahatani bawang merah di Desa Torongrejo memberikan keuntungan dan layak untuk terus dikembangkan. DAFTAR RUJUKAN Aril Mooduto. Yuriko Boekoesoe. Analisis pendapatan usahatani cengkeh di desa iloheluma kecamatan posigadan kabupaten bolaang mongondow selatan. AGRINESIA: Jurnal Ilmiah Agribisnis, 5. , 91Ae100. Astuti Padu Ewut. Elfis Umbu Katongu Retang. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Merah Di Tanggedu Kecamatan Kanatang Kabupaten Sumba Timur. SATI: Sustainable Agricultural Technology Innovation, 4. , 175Ae Azizah. Hakim. , & Kadir. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Bawang Merah di Kabupaten Aceh Tamiang. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian. : 196-207. Badan Pusat Statistik. Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) di Indoensia. Jakarta: Badan Pusat Statistik. https://sensus. id/main/index/st2023 Debi Sintia Abas. Yanti Saleh. Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Kelapa di Desa Tanah Putih Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo. AGRINESIA: Jurnal Ilmiah Agribisnis, 3. , 151Ae155. Fattah. Mardiyati. , & Firmansyah. Pendapatan dan Kelayakan Usahatani Bawang Merah. Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Januari, 8. Gratya. Rotinsulu, . Analisis Pendapatan Dan Kelayakan Usaha Industri Kecil Cap Tikus Di Kecamatan Motoling Timur. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 24. , 61Ae72. Hadi. , & Maharani. Strategi Pengembangan Bawang Merah di Kota Pekanbaru. Jurnal Dinamika Pertanian. : 219-228. Ibrahim. Halid. Boekoesoe . Analisis Biaya Dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Non Irigasi Teknis Di Kelurahan Tenilo Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo. AGRINESIA: Jurnal Ilmiah Agribisnis, 5. , 176Ae181. Kamaruddin. Dita Puspitasari. Pengaruh faktor produksi terhadap peningkatan produktivitas sektor pertanian. Jurnal ekonomi & bisnis, 10. , 380Ae390. Mokhamad fatikhin, n. Analisis Efisiensi Usahatani serta Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Tebu di Desa Badang Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang. JUKe (Jurnal Ketahanan Panga. , 4. , 10Ae16. Nainggolan. Fitri. , & Ulma. Model Produktivitas. Risiko Dan Perilaku Petani Menyikapi Risiko Produksi. Jurnal Ilmiah Sosio-Ekonomika Bisnis, 24. , 10Ae16. Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian. Outlook Bawang Merah. Jakarta: Pusat Data Sistem Informasi Pertanian. https://satudata. id/assets/docs/publikasi/Outlook_Bawang_Merah_2024. Putri. Ida Syamsu Roidah. Efisiensi Teknis Produksi Bawang Merah di Desa Campur . Kecamatan Gondang . Kabupaten Nganjuk. Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, 10. , 2209Ae2219. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Aliyah MaisyarahA. Noerhadi SudjoniA. Lia Rohmatul MaulaA Raissa Reswara. Sri Hindarti. Analisis Efisiensi Usahatani Bawang Merah Di Desa Bendosari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. JU-Ke (Jurnal Ketahanan Panga. , 7. , 187Ae195. Risa Nur Hidayah. Andriyono Kilat Adhi. Pendapatan Usahatani Ubi Kayu Berdasarkan Saluran Pemasaran Di Kabupaten Gunungkidul. Yogyakarta. Jurnal Agribisnis Indonesia, 12. , 140Ae150. Tangdi. , & Samsinar. Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Realisasi Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Toraja Utara. EKOMA: Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi, 4. , 6566Ae6573. Tapo. Strategi Pengembangan Usahatani Bawang Merah (Allium Ascalonicum L) di Kebun Praktek Fakultas Teknologi Pangan Pertanian Dan Perikanan Universitas Nusa Nipa Maumere. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10. , 1071Ae1082. Yovita Luruk Lekik. Tomycho Olviana. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Bawang Merah Di Desa Fafoe Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka. Buletin Ilmiah IMPAS, 23. , 59Ae68. 116 Vol. 10 | No. 1 | Januari 2026 Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional.