Selvi Aprianti Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 1 No. Maret 2024 Hal: 39-48 Pendidikan Akhlak Siswa Madrasah Ibtidaiyah: Konsep dan Urgensinya di Era Globalisasi Selvi Aprianti STAI Sabilul Muttaqin Mojokerto e-mail: selviaprianti88@gmail. ABSTRACT The advancement of technology and science that has developed thoroughly has made an era of globalization full of sophistication in various sectors. The impact is immediately felt in various fields of human life not only in the material aspects of life, but continues in non-material aspects such as morals. The urgency of implementing moral development is carried out in the family, community and education environment. This research uses qualitative research methods using literature review techniques. The purpose of literature research is to gain a deep understanding of the material being explored. The result of the literature review is that character is an order that is firmly embedded in the soul from which various actions emerge easily and lightly, without requiring thought and consideration needed in the era of globalization. Learners, especially the Madrasah Ibtidaiyah level, need a strong moral foundation. and good morals. Like the opinion of AlGhazali and KH Mustofa Bisri. Keywords: Morals. Education. Globalization ABSTRAK Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang secara menyeluruh menjadikan sebuah era globalisasi yang penuh dengan kecanggihan diberbagai sector. Dampaknya segera terasa dalam berbagai bidang kehidupan manusia tidak hanya berlangsung pada aspek kehidupan yang bersifat material, akan tetapi berlanjut pada aspek non material seperti akhlak. Urgensi Implementasi Pembinaan akhlak dilakukan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan Pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik literature review. Tujuan dari penelitian pustaka adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang materi yang didalami. Hasil dari literature review ialah Akhlak merupakan sebuah tatanan yang tertanam kuat dalam jiwa yang darinya muncul beragam perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan dibutuhkan di era Peserta didik khususnya tingkat Madrasah Ibtidaiyah membutuhkan fondasi akhlak yang kuat. dan akhlak baik. Seperti pendapat Al-Ghazali dan KH Mustofa Bisri. Kata Kunci:Akhlak. Pendidikan. Globalisasi PENDAHULUAN Pendidikan akhlak harus menjadi tanggung jawab bersama dan dibangun dari dasar kesadaran dan keiklasan. Karena pendidikan akhlak seorang anak dalam hal ini peserta didik Hal 39 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Selvi Aprianti perlu dilatih dan dipahamkan ditanamkan pada diri anak sejak dini kerena kebiasaan tersebut akan terbawa dalam kehidupan berikutnya. Di era globalisasi ini, sangatlah penting menyemarakkan pendidikan akhlak supaya generasi-generasi penerus bangsa terjaga, baik secara moral maupun intelektual. Banyak sekali fakta-fakta yang dapat ditemukan mengenai kondisi saat ini kurangnya pendidikan akhlak untuk peserta didik. Diantaranya adalah anak SD di Sukabumi Tewas diduga dianiaya teman sekolah (CNN Indonesia, 2. 7 fakta menyayat hati anak SD di Banyuwangi gantung diri usai dibully teman (Detik Jatim, 2. Anak SD membacok teman saat kalah main bola, tak terima kalah bawa nama orang tua (Tribun Madura, 2. Melihat kedaan semacam ini, tidaklah berlebihan apabila salah satu prioritas pendidikan adalah pendidikan akhlak pada anak usia Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang secara menyeluruh menjadikan sebuah era globalisasi yang penuh dengan kecanggihan diberbagai sektor. Dampaknya segera terasa dalam berbagai bidang kehidupan manusia baik ekonomi, politik, perdagangan, gaya hidup, bahkan agama, tidak hanya berlangsung pada aspek kehidupan yang bersifat material, akan tetapi berlanjut pada aspek non material seperti akhlak. Untuk membentengi kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Maka urgensi pendidikan akhlak untuk siswa madrasah ibtidaiyah di mana anak pada usia ini mereka butuh pondasi akhlak yang dan akhlak yang baik tidak akan terwujud pada seseorang anak tanpa adanya pembinaan yang dilakukan. Oleh karena itu perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi pembinaan akhlak dilakuatkan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan Pendidikan (Amirudin, 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik literature review. Tujuan dari penelitian pustaka adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang masalah untuk menemukan landasan teori untuk penelitian. Instrumen yang digunakan penelitian ini menggunakan jenis data sekunder yaitu data dan referensi dari literatur yang telah ada selama kurang lebih 10 tahun. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah identifikasi data dari berbagai perpustakaan atau dalam bentuk buku artikel majalah, surat kabar atau bahkan website yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan. Tahapan penelitian dilaksanakan literature review dengan menghimpun sumber kepustakaan, baik primer . eskripsi langsung dari saksi mata kejadian, sumber primer Hal 40 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Selvi Aprianti umumnya berbentuk karya orisinal yang ditulis oleh orang pelak. , sekunder . iasanya ditulis oleh pengarang yang tidak mengalami peristiwa tersebut secara langsung, contoh sumber sekunder adalah review dari jurnal, buku teks, dan indeks publikas. , dan tersier . umber jenis ini digunakan sebagai petunjuk untuk melakukan penelusuran lebih lanjut, handbooks, bibliografi dan ensiklopedia adalah bagian dari sumber tersie. (Assyakurrohim et al. , 2. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dalam makalah ini menggunakan data sekunder yakni dengan mengumpulkan data secara tidak langsung dengan meneliti objek yang HASIL DAN PEMBAHASAN Konseptualisasi Akhlak Akhlak bukan sekadar apa yang terlihat dari sikap, namun juga apa yang ada di dalam batin. Keseluruhan aspek lahir dan batin dari akhlak mulia inilah ada pada diri manusia terbaik Nabi Muhammad saw. Secara terminologi pengertian akhlak adalah sebuah tatanan yang tertanam kuat dalam jiwa yang darinya muncul beragam perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan (Ibrahim Bafadhol, 2. Sumber akhlak adalah sumber Islam itu sendiri, yaitu wahyu Allah Swt. (Al-QurAoan dan as-Sunna. yang berisi perintah-perintah-Nya untuk dilaksanakan dan larangan-larangan-Nya untuk dijauhkan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw. Kedudukan akhlak dalam Islam sedemikian penting sampai suatu ketika Rasulullah saw. ditanya tentang apa inti agama, maka dijawab dengan jawaban akhlak baik. Keimanan seseorang yang dilengkapi dengan akhlak adalah jalan menuju kesempurnaan pribadi (Anisa Maila, 2. Gambar 1 Konseptualisasi Akhlak Hal 41 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Selvi Aprianti Bagan diatas menunjukkan hakikat akhlak bahwa akhlak kepada Allah Swt. akhlak kepada yang lainnya. Bangunan akhlak . sendiri tidak bisa lepas dari bangunan syariat (Isla. dan akidah . Tidak ada ruang terjadi kesenjangan antar akhlak, syariat, dan akidah. apabila ada kesenjangan, maka itulah keberagamaan yang minus atau kurang. Diumpamakan sebuah pohon, akidah adalah akarnya, syariat adalah batangnya, dan akhlak adalah buahnya. Akhlak tanpa dilandasi akidah, maka tidak dianggap sebagai muslim, sedangkan akhlak tanpa syariat, maka akhlak tersebut tidak akan pernah sampai derajat mulia. Dari seluruh uraian konseptual di atas mewujudkan akhlak mulia dalam jiwa manusia adalah pertamatama fokus membangun secara kokoh di sanubarinya akhlak kepada Allah Swt. Ontologi Pendidikan Akhlak Ontologi dapat dipahami sebagai ilmu tentang ada, yaitu ilmu yang membahas hakikat yang ada, yang merupakan ultimate jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Dengan demikia ontologi akhlak berarti mempertanyakan apa hakikat akhlak itu. Untuk mengetahui hakikat akhlak setidaknya berangkat dari pengertian akhlak, makna akhlak bisa didapatkan dengan pendekatan etimologi . dan pendekatan terminologi . (Munasir, 2. Secara bahasa akhlak diartikan sebagai: moral, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan secara istilah akhlak menurut Ibn Miskawaih diartikan keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran lebih dahulu. Suatu perbuatan dapat disebut akhlak jika memenuhi kriteria diantaranya: Perbuatan tersebut berasal dari dorongan jiwa dan bukan dari paksaan orang lain Perbuatan tersebut dilakukan secara berulang-ulang dan hampir menjadi kebiasaan Perbuatan tersebut timbul dengan sendirinya secara spontan, tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Seseorang dikatakan berakhlak penolong, ketika dihadapkan kepada orang yang sedang dirundung kesulitan, secara spontan akan memberikan pertolongan tanpa banyak memperhatikan atau memikirkan untung-rugi, atau ketika seseorang sedang berjalan tiba-tiba tersandung batu, maka kata-kata yang keluardari mulutnya mencerminkan Jadi akhlak menunjukkan pada hubungan sikap batin dan perilaku secara Hal 42 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Selvi Aprianti Epistimologi Pendidikan Akhlak Epistemologi akhlak merupakan kajian terhadap bagaimana akhlak itu bisa diperoleh dan diajarkan kepada orang lain. Berbicara tentang pemerolehan akhlak maka tidak terlepas dari teori kesadaran nilai, karena akhlak adalah bagian dari pada nilai yang termasuk ke dalam nilai etik. Letak Nilai letak nilai ada dua yaitu nilai terletak dalam benak orang . eopleAos min. dan nilai itu terletak pada tindakan manusia. Berarti akhlak itu letaknya di dalam benak manusia dan terletak di dalam tindakan manusia Cara Manusia Memperoleh Nilai Ada tiga teori yang berbicara tentang perolehan nilai yaitu teori nativisme, empirisme dan konvergensi. Nativisme manusia memperoleh nilai karena ada faktor bawaan yang dimilikinya. Dalam terminologi Islam dikenal dengan istilah fitrah. Behaviorisme justru memandang bahwa yang mempengaruhi perolehan nilai pada diri manusia adalah faktor lingkungannya, bukan faktor bawaan. Sedangkan konvergensi dimana memandang bahwa perolehan nilai itu dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Kesadaran Nilai Ada dua teori yang berkaitan dengan kesadaran nilai yaitu aliran fungsionalis dan aliran sufistik. Aliran fungsionalis memandang bahwa kesadaran nilai diperoleh dari proses penangkapan fakta oleh panca indera lalu dipersepsi oleh akal. Sementara aliran sufistik memandang bahwa kesadaran nilai diperoleh dengan cara perenungan hati yang bersih tentang sifat-sifat Allah swt. Aksiologi Pendidikan Akhlak Pokok bahasan aksiologi selanjutnya adalah definisi baik dan buruk, pembahasan aksiologi ini para ahli ilmu membagi menjadi dua pembahasan lagi yatu etika dan estetika. Etika dan estetika yang telah dijelaskan di atas merupakan sebuah teori nilai yang dilihat dari sudut pandang baik dan buruk. Ruang lingkup aksiologi lainnya adalah manfaat kegunaan sebuah pengetahuan, aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan Hal 43 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Selvi Aprianti sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula. Objek aksiologi ilmu ialah etika serta estetika (Rochmad Nuryadin, 2. Aksiologi pendidikan Islam lebih mengarah kepada orientasi, tujuan, dan nilai pendidikan Islam. Islam mengajarkan tujuan hidup manusia untuk beribadah, menjalankan Oleh karena itu, pendidikan Islam dalam dimensi aksiologi mengantarkan peserta didik agar dapat menjalankan kehidupan yang lebih baik dan bahagia, baik kehidupan di dunia maupun di akhirat (Abdul Halik, 2. Aksiologi terbagi menjadi tiga bagian. yakni Moral Conduct. Esthetic Expression dan Sosio-political. Moral conduct yaitu tindakan moral yang melahirkan disiplin khusus yakni etika yang membahas moralitas nilai baik dan buruk yang dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan manusia sebagai individu maupun masyarakat. Esthetic Expression, yaitu ekspresi keindahan yang melahirkan keindahan atau estetika yang berarti pemahaman intelektual atau pengamatan spiritual terhadap objek yang bersifat keindahan, seni, rasa, kreasi dan apresiasi. Sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik yang melahirkan filsafat sosiopolitik. Yang membahas disiplin politik, kebebasan, keadilan, hak, hukum, pemerintahan dan penegakan hukum oleh pemegang otoritas kekuasaan (Samsul Hakim, 2. Pendidikan Akhlak Menurut Para Tokoh Al-Ghazali Pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali ada dua sistem yakni pendidikan formal dan non formal. "Pendidikan ini berawal dari non formal dalam lingkup keluarga, mulai pemeliharaan dan makanan yang dikonsumsi. Selanjutnya bila anak telah mulai nampak daya hayalnya untuk membeda-bedakan sesuatu . , maka perlu diarahkan kepada hal positif. Al-Ghazali juga menganjurkan metode cerita . , dan keteladanan . swah al hasana. Anak juga perlu dibiasakan melakukan sesuatu yang baik, disamping itu pergaulan anakpun perlu diperhatikan, karena pergaulan dan lingkungan itu memiliki andil sangat besar dalam pembentukan keperibadian anakanak. Perhatian Al-Ghazali terhadap faktor makanan baik orang tua atau anak merupakan hal menarik. Ini menurutnya akan menjadi gen baik dan buruk bagi perkembangan generasi. Demikain pula pendidikan di rumah serta pergaulan. Hal 44 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Selvi Aprianti Dalam konteks ini Al-Ghazali setuju dengan aliran konvergensi yang menyatakan pandidikan di tentukan oleh titik temu faktor keturunan dan lingkungan (Sungkowo. Sementara untuk pendidikan formal. Al-Ghazali mensyaratkan adanya seorang guru atau mursyid yang mempunyai kewajiban antara lain: mencontoh Rasulullah tidak meminta imbalan, bertanggung jawab atas keilmuannya. Hendaklah ia membatasi pelajaran menurut pemahaman mereka. Hendaklah seorang guru ilmu praktis . mengamalkan ilmu, yang amal itu dilihat oleh mata dan ilmu dilihat oleh hati, tapi orang yang melihat dengan mata kepala itu lebih banyakdari mereka yang melihat dengan mata hati. Metode pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali, ada dua cara dalam mendidik akhlak, yaitu. Mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh. Kedua, perbuatan itu dikerjakan dengan di ulang-ulang. Selain itu juga ditempuh dengan jalan pertama, memohon karunia Illahi dan sempumanya fitrah . , agar nafsu-syahwat dan amarah itu dijadikan lurus, patuh kepada akal dan agama. Lalu jadilah orang itu berilmu . 'li. tanpa belajar, terdidik tanpa pendidikan, ilmu ini disebut juga dengan ladunniah. Akhlak tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riyadhah, yaitu dengan membawa diri kepada perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak Singkatnya, akhlak berubah dengan pendidikan latihan KH Mustofa Bisri Pendidikan Akhlak menurut KH Mustofa Bisri Pendidikan yang didasarkan pada penanaman akhlak mulia dalam diri peserta didik untuk membekali mereka agar mampu berbuat baik dan menghindarkan diri dari perilaku buruk. Penanaman akhlak mulia ini tidak hanya dalam lingkungan keluarga melainkan juga lingkungan sekolah dan lingkungan social masyarakat. KH Mustofa Bisri dalam kutipan pada kitab Ngudi Susilo karangan beliau menuliskan beberapa tujuan dari Pendidikan akhlak diantaranya adalah untuk menjauhkan seseorang dari perilaku yang buruk, serta memberikan penjelasan mengenai budi pekerti yang baik, yang dapat memberikan jalan menuju surga. Mustafa Bisri menjelaskan pendidikan akhlak bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai budi pekerti yang baik yang dapat menjauhkan setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan dari perilaku atau sikap yang buruk dalam kitab Mitero Sejati. Hal 45 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Selvi Aprianti Materi Pendidikan akhlak menurut KH Mustofa Bisri terdiri dari 3 lingkup, diantaranya . akhlak dalam keluarga, pendidikan akhlak yang dapat ditanamkan dalam keluarga adalah bagaimana perilaku yang baik terhadap orang tua. sepantasnya anak berbakti kepada orang tuanya, dengan mengerjakan apa yang menjadi perintahnya dan menjauhi apa yang menjadi larangannya. akhlak di sekolah, pada poin ini ada 3 akhlak: akhlak terhadap guru karena patuh dan berbakti terhadap guru adalah sebuah keharusan, dan perintah yang baik agar langsung dilaksanakan, akhlak terhadap sesama di sekolah adalah bagaimana peserta didik untuk terbiasa mempersiapkan diri ketika akan ke sekolah atau tempat pembelajaran, dan akhlak pulang sekolah diantaranya, akhlak yang baik ketika pulang dari sekolah adalah langsung pulang kerumah tanpa singgah untuk bermain dengan teman-temannya. akhlak dalam masyarakat, diantaranya ada sikap terhadap teman sebaya, tata krama berbicara, dan adab mendengarkan pembicaraan orang lain. Metode yang dapat digunakan dalam penerapan pendidikan akhlak menurut KH Mustofa Bisri upaya penanaman pendidikan akhlak terhadap diri seseorang salah satunya dapat dilakukan dengan jalan pembiasaan diri, metode nasihat. Metode reward and punishment, metode dialog atau tanya jawab, serta metode keteladanan dapat pula dilakukan untuk memberikan penanaman akhlak yang mulia (Sutrisno, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Akhlak adalah sebuah tatanan yang tertanam kuat dalam jiwa yang darinya muncul beragam perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa membutuhkan pemikiran dan Sumber akhlak adalah sumber Islam itu sendiri, yaitu wahyu Allah Swt. (Al-QurAoan dan as-Sunna. Ontologi akhlak berarti mempertanyakan apa hakikat akhlak dan diawali dari pengertian akhlak. Suatu perbuatan dapat disebut akhlak jika memenuhi kriteria diantaranya: Perbuatan tersebut berasal dari dorongan jiwa. Perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan hampir menjadi kebiasaan, serta Perbuatan tersebut timbul dengan sendirinya secara spontan, tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Epistemologi akhlak merupakan kajian terhadap bagaimana akhlak itu bisa diperoleh dan diajarkan kepada orang lain. Untuk memperoleh akhlak ada 3 nilai yang ada yakni letak nilai, cara manusia memperoleh nilai, dan kesadaran nilai. Hal 46 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Selvi Aprianti Pembahasan aksiologi membagi menjadi dua pembahasan lagi yatu etika dan Ruang lingkup aksiologi lainnya adalah manfaat kegunaan sebuah pengetahuan, aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari Pandangan tokoh mengenai Pendidikan akhlak, dalam hal ini KH Mustofa Bisri dimulai dari penanaman akhlak mulia dalam diri peserta didik untuk membekali mereka agar mampu berbuat baik dan menghindarkan diri dari perilaku buruk. Metode Pendidikan akhlak dilakukan dengan metode pembiasaan diri, metode nasihat. Metode reward and punishment, metode dialog atau tanya jawab, serta metode keteladanan dapat pula dilakukan untuk memberikan penanaman akhlak yang mulia Pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali ada dua sistem yakni pendidikan formal dan non formal. Pendidikan non-formal adalah Pendidikan dalam lingkungan keluarga mulai pemeliharaan dan makanan yang dikonsumsi. Sedangkan untuk pendidikan formal Al-Ghazali mensyaratkan adanya seorang guru atau mursyid yang mempunyai kewajiban. Metode pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali, ada dua cara dalam mendidik akhlak, . Mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh dan . Akhlak tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riyadhah. DAFTAR PUSTAKA