A. Rachmania. Sefudin / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. EFEKTIVITAS LITERASI KEUANGAN TERHADAP PENGELOLAAN UANG SAKU MAHASISWA PADA ORGANISASI KARANG TARUNA KELURAHAN GEDONG Oleh: Arsa Rachmania1 Akhmad Sefudin2 Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Indraprasta PGRI. Jakarta. Indonesia Email: arsaarach@gmail. sefudinakhmad@gmail. ABSTRACT This study aims to find out how the effectiveness of financial literacy on the management of student pocket money in the Gedong village youth organization. The research method used in this study is a qualitative method with a descriptive phenomenological type of research that uses 5 informants who are active members of the gedong village youth organization. The results of this study indicate that financial literacy is effective in managing student pocket money as seen from the improved management of pocket money and welfare after understanding financial Keywords: Effectiveness. Financial Literacy. Pocket Money Management ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana efektivitas literasi keuangan terhadap pengelolaan uang saku mahasiswa yang ada pada organisasi karang taruna kelurahan Gedong. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi deskriptif yang menggunakan 5 informan anggota aktif karang taruna kelurahan gedong. Hasil dari penelitian ini menunjukkan literasi keuangan efektif dalam pengelolaan uang saku mahasiswa dilihat dari pengelolaan uang saku yang membaik dan kesejahteraan setelah memahami literasi keuangan Kata Kunci: Efektivitas. Literasi Keuangan. Pengelolaan Uang Saku Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. PENDAHULUAN Uang saku adalah uang yang diberikan para orang tua kepada anaknya yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, biasanya diberikan dalam kurun waktu perhari, perminggu, atau perbulan Vhalery. Leksono, & Irvan . Pemberian uang saku bukan pada besar atau kecil nominalnya, tetapi bagaimana mengajarkan anak untuk mulai mengelola keuangannya sendiri. Mahasiswa yang merupakan komponen dengan jumlah yang cukup banyak memberikan kontribusi yang besar untuk perekonomian lewat jalur kerja mestinya lebih mandiri terhadap pengelolaan dan pengawasan keuangannya. Sayangnya banyak dijumpai para mahasiswa yang selalu mengeluh mengenai uang saku mereka seperti Aulebih besar pasak daripada tiangAy, masalah keuangan mahasiswa disebabkan karena ketidakmampuan dalam mengontrol keuangan pribadinya (Wulandari & Hakim, 2. , penelitian lain menyatakan banyak individu yang tidak mengetahui bagaimana cara mengelola uang saku sehingga mereka menggunakan uang sakunya sesuai keinginannya secara berlebihan (Alfilail & Vhalery, 2. , selain itu penelitian lain juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak mengontrol pengeluarannya karena tidak melakukan pencatatan keuangan sehingga pengelolaan uang sakunya berakhir buruk (Priya dan Chitra, 2. , dari pernyataan yang diungkapkan oleh Wulandari. Alfilail dan Priya dapat disimpulkan bahwa yang pengelolan uang saku yang buruk dikarena mahasiswa tidak mengetahui bagaimana cara mengelola uang sakunya sehingga tidak adanya kontrol dalam pengeluaran uang saku, tidak adanya rencana pengeluaran dan tidak dapat melakukan pencatatan keuangannya. Kegagalan dalam pengelolaan uang saku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Vhalery. Leksono, & Irvan, 2. Rendahnya kemampuan pengelolaan uang saku berhubungan erat dengan faktor internal individu, yaitu literasi keuangan. Kemampuan dalam mengelola dan bertanggung jawab terhadap keuangan pribadi agar tidak menyebabkan ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran dimana nantinya juga akan berdampak pada tingkat kesejahteraan hidup individu. Para individu membutuhkan pengetahuan mengenai bagaimana cara mengelola uang saku yang baik untuk dapat menggunakan uang sakunya secara efektif. Melihat fenomena ini maka, terlihat seberapa pentingnya pengetahuan yang mendalam mengenai literasi keuangan. Literasi keuangan sangat diperlukan untuk mendidik individu yang sadar dan faham tentang bagaimana pengelolaan keuangan secara bijak dan sesuai kebutuhan. Literasi keuangan sangat berkaitan dengan kesejahteraan individu (Yushita, 2. , misi penting dari program literasi keuangan yakni untuk melakukan edukasi dibidang keuangan kepada masyarakat Indonesia agar dapat mengelola keuangan secara cerdas, sehingga rendahnya pengetahuan tentang industri keuangan dapat diatasi dan masyarakat tidak mudah tertipu dengan produk-produk investasi yang menawarkan keuntungan tinggi dalam jangka waktu yang singkat tanpa mempertimbangkan resikonya. Perlunya pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, maka program strategi nasional literasi keuangan mencanangkan tiga pilar utama. Pertama, mengedepankan program edukasi dan kampanye nasional literasi keuangan. Kedua, berbentuk penguatan infrastruktur A. Rachmania. Sefudin / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. 41-52 literasi keuangan. Ketiga, berbicara tentang pengembangan produk dan layanan jasa keuangan yang terjangkau. Penerapan ketiga pilar tersebut dengan harapan dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi sehingga dapat memilih dan memanfaatkan produk dan jasa keuangan guna meningkatkan kesejahteraan (Otoritas Jasa Keuangan, 2. Dari kelanjutan program tadi indeks literasi keuangan di tahun 2019 menunjukkan angka sebesar 38,03% yang berarti dari setiap 100 orang penduduk terdapat sekitar 38 orang yang well literate. Hasil ini menunjukkan peningkatan dari survei sebelumnya yakni 29,7% di tahun 2016 dan 21,8% di tahun 2013 (Otoritas Jasa Keuangan, 2. Sumber: Otoritas Jasa Keuangan . Gambar 1 Presentase Literasi Keuangan berdasarkan Jenis Pekerjaan Untuk lebih meningkatan pengetahuan literasi keuangan dilakukan melalui pendidikan literasi keuangan secara formal maupun non formal, misalnya dengan pemberian mata kuliah yang sejalur dengan keuangan, pelatihan dan seminar mengenai literasi keuangan. Pendidikan literasi keuangan yang dilakukan oleh (Putra. Khoiriyah, & Sacipto, 2. melalui pengabdian masyarakat dengan penyampaian materi dan pelatihan literasi keuangan mendapatkan hasil yang sesuai harapan, dari yang awalnya hanya 20 individu yang memahami literasi keuangan setelah ada pengabdian masyarakat ini bertambah menjadi 28 individu, kemudian penggunaan produk jasa keuangan yang semula 65% bertambah menjadi 94% yang digunakan untuk pencatatan keuangan sehari-hari mereka. Pelatihan literasi yang dilakukan oleh (Herawati & Anantawikrama, 2. menunjukkan bahwa indeks skor literasi keuangan mahasiswa rata-rata 70, kebanyakan dari mereka telah mampu membedakan konsep antara aset dan uang dan melakukan perencanaan keuangan yang baik. Ekonomi sebagai ilmu yang menyeimbangkan antara kebutuhan dengan pendapatan, maka pengambilan keputusan merupakan hal yang sangat vital dalam pengelolaan ekonomi khususnya pengelolaan keuangan. Kebutuhan akan literasi keuangan bagi mahasiswa menjadi menarik untuk dibahas dan ditelaah lebih dalam karena begitu terkait dengan ekonomi, terlebih dengan mahasiswa yang telah mengambil mata kuliah akuntansi, manajemen keuangan dan investasi. Pembelajaran di perguruan tinggi terkait dengan pembelajaran keuangan yang diberikan meliputi mata kuliah manajemen keuangan, penganggaran, dan pengantar akuntansi mampu memberikan Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. 41-52 pengetahuan terhadap mahasiswa mengenai pencatatan transaksi keuangan, pencatatan keuangan pribadi, jenis dan cara berinvestasi (Syuliswati, 2. Tingkat literasi keuangan mahasiswa ekonomi terbukti lebih tinggi dibandingkan mahasiswa non ekonomi, melalui penelitiannya ditemukan sebesar 40,33% mahasiswa ekonomi mampu menjawab soal benar mengenai basic personal finance, sedangkan mahasiswa non ekonomi hanya mendapatkan presentase 36,71% (Kusumawardhani. Cahyani, & Ningrum, 2. Mahasiswa yang dihadapkan dengan teori-teori ekonomi, termasuk juga membahas mengenai keuangan apakah benar lebih cakap dalam mengelola uang Mahasiswa yang merupakan penggerak generasi muda tentulah pasti terlibat dalam beberapa kegiatan dan organisasi, salah satunya ialah organisasi karang taruna. Karang taruna merupakan organisasi pemuda di Indonesia yang merupakan wadah pengembangan generasi muda atas kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial, sebagai organisasi kepemudaan karang taruna didirikan dengan tujuan pembinaan dan pemberdayaan remaja diberbagai bidang, mulai dari bidang organisasi, ekonomi, olahraga, keterampilan, advokasi, dan sebagainya, karena wadah generasi muda inilah tentunya karang taruna diisi oleh anggota dari berbagai pekerjaan dan usia, keanggotannya dimulai dari 17-35 tahun, persoalan yang banyak dihadapi oleh remaja karang taruna biasanya ialah kurangnya kesadaran mengatur keuangannya, ini berimbas pada kegiatan remaja yang menjadi sering berkerumun dengan sesamanya, boros, dan berprilaku konsumtif demi mengikuti gaya hidupnya dan membuat mereka menjadi individu dengan pengelolaan uang yang buruk. KAJIAN PUSTAKA Uang Saku Menurut KBBI, uang saku merupakan uang yang dibawa untuk kebutuhan sewaktu-waktu, atau disebut sebagai uang jajan. Uang saku ialah uang tambahan yang diberikan orang tua kepada anaknya untuk keperluan pendidikan dan kebutuhan sehari-hari yang diberikan setiap minggu, bulan, atau tahun Vhalery. Leksono,& Irvan, . , pendapat lain menyatakan uang saku ialah uang yang diberikan orang tua atau hasil bekerja yang hanya cukup untuk periode tertentu (Rikayanti & Listiadi, 2. , uang saku adalah uang pemberian orang tua yang diperoleh para individu yang mempengaruhi pola konsumsi mereka yang dialokasikan kepos-pos pengeluaran mereka (Rahel. Kandowangko, & Lasut. Dari beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa uang saku ialah uang yang diperoleh dari orang tua ataupunhasil kerja yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dalam periode tertentu yang dialokasikan kepos-pos pengeluaran konsumsi baik yang rutin maupun tidak rutin. Indikator untuk mengukur pengelolaan uang saku disebutkanoleh (Vhalery. Leksono, & Irvan, 2. sebagai berikut. pengelolaan uang masuk, . pengelolaan uang keluar, . dana simpanan. Rachmania. Sefudin / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. 41-52 Literasi Keuangan Literasi keuangan merupakan bentuk kemampuan untuk memilih kebutuhan keuangan, membahas mengenai permasalahan keuangan, merencanakan masa depan, dan menanggapi dengan bijak peristiwa kehidupan yang mempengaruhi keputusan keuangan sehari-hari. Seseorang dengan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola keuangannya dengan baik biasanya menunjukkan perilaku yang bijak dalam menangani masalah keuangannya (Rapih, 2. Selaras dengan literasi keuangan sebagai pengetahuan dan pemahaman atas konsep dan risiko keuangan, berikut keterampilan, motivasi, serta keyakinan untuk menerapkan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki dalam rangka membuat keputusan keuangan yang efektif, meningkatkan kesejahteraan keuangan . inancial well bein. individu dan masyarakat, dan berpartisipasi dalam bidang ekonomi (OECD, 2. Kemudian pandangan lain menyatakan literasi keuangan adalah kemampuan pemahaman pengetahuan serta keterampilan untuk mengelola sumber daya keuangan untuk mencapai kesejahteraan (Roestanto, 2. Dari beberapa pendapat diatas, peneliti menyimpulkan bahwa literasi keuangan adalah pengetahuan dan pemahaman akan konsep keuangan yang menjadi keterampilan dalam mengelola keuangan secara efektif hingga mencapai Adapun untuk mengukur keberhasilan literasi keuangan, maka harus dirujuk dari Indikator Literasi Keuangan sebagai berikut (Mulyati & Hati, 2. : . Pengetahuan pengelolaan keuangan, . Pengetahuan tentang perencanaan keuangan, . Pengetahuan tentang pengeluaran dan pemasukan, . Pengetahuan dasar tentang investasi, . Pengetahuan keuangan dalam keadaan sehat, . Pengetahuan dasar tentang asuransi. Efektivitas Efektivitas ialah ukuran seberapa jauh sebuah sistem sosial dapat mencapai tujuannya (Fadila, et al. , 2. Sedangkan pendapat lain menyebutkan Efektivitas ialah kesesuaian antara hasil dari sebuahusaha atau kegiatan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Supriati. Sunarto, & Astuti, 2. , efektivitas adalah keberhasilan organisasi, program maupun kebijakan dalam menjalankan tugas serta fungsinya untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan (Sihombing, 2. Dari berbagai pendapat tersebut peneliti menyimpulkan bahwa efektivitas ialah keberhasilan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan Maka ukuran atau kriteria efektivitas yang merupakan suatu standar akan terpenuhinya mengenai sasaran dan tujuan yang akan dicapai serta menunjukan pada tingkatan sejauh mana sebuah organisasi, program, kegiatan melaksanakan fungsi-fungsinya secara optimal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan ialah desain penelitian kualitatif, sedangkan tipe penelitian yang digunakan ialah penelitian fenomenologi deskriptif. Fenomenologi deskriptif berarti sebuah penelitian eksplorasi dengan pemahaman mengenai orangorang biasa di dalam sebuah situasi untuk menyatakan atau mengklarifikasi sebuah Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. 41-52 gejala tersebut (Samsu, 2. Untuk itu pada penelitian ini peneliti menggunakan subjek penelitian seorang narasumber yang merupakan mahasiswa yang berasal dari organisasi Karang Taruna Kelurahan Gedong dengan kriteria yang sudah mendapatkan mata kuliah akuntansi, manajamen, manajemen keuangan dan mata kuliah lain yang selaras dengan literasi keuangan. Adapun teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini ialah teknik analisis Flow Chart Analysis yakni teknik yang terdiri atas tiga aktivitas reduksi data, display data, dan menarik kesimpulan/verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti melakukan wawancara dengan 5 anggota aktif Karang Taruna Kelurahan Gedong yang bersedia menjadi narasumber, dengan kriteria narasumber yang telah mendapatkan mata kuliah akuntansi, manajemen, manajemen keuangan dan mata kuliah lain yang selaras dengan literasi keuangan, adapun anggota karang taruna yang terpilih menjadi narasumber pada penelitian ini ialah : Muhammad Dzaky Khairy. Garnis Putri Sulandari kemudian Qori Mauuludin . Annisa Putri, dan Maulida Rahmawati. Adapun wawancara dalam penelitian ini dilakukan menggunakan media zoom meeting dengan masing-masing narasumber, pembahasan dari wawancara tersebut peneliti bagi dan sederhanakan sebagai Literasi Keuangan Temuan penelitian pada variabel ini menunjukkan 3 dari 5 narasumber telah melakukan perencanaan keuangan, menurutnya perencanaan keuangan membantu pengelolaan uang sakunya menjadilebih terarah, terperinci, dan lebih jelas alokasi kebutuhannya, baginya pengelolaan keuangan yang baik ini dapat menyelamatkan keuangan nya baik dalam jangka pendek maupun panjang. Narasumber yang melakukan perencanaan keuangan biasanya membagi besaran persentase alokasi kebutuhannya, ada yang membaginya 50% untuk primer, 30% sekunder, 20% tersier, disisi lain ada yang membaginya 75% untuk primer, 15% untuk sekunder, dan sisa 10% untuk tersier, dan narasumber lain yang juga melakukan perencanaan keuangan hanya mematokkan kebutuhan primer 60%, untuk sekunder dan tersier mengikuti sisa keuangannya. Kemudian untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pemahaman narasumber tentang literasi keuangan, peneliti menanyakan terkait investasi, urgensi investasi dan asuransi, para narasumber menyatakan bahwa investasi merupakan hal yang penting untuk kalangan mahasiswa dengan catatan memahami dengan benar ilmunya karena resiko dalam investasi cukup besar, meskipun demikian urgensi investasi ini untuk menyelamatkan keuangan mahasiswa dari perilaku pemborosan, terlebih investasi pada zaman sekarang ini sudah mudah dijangkau dan ditemukan, narasumber menuturkan investasi bisa dilakukan melalui gadget ataupun dengan cara lain seperti mengoleksi barangbarang kpop dan dijual kembali. Dari kelima narasumber 1 narasumber telah merealisasikan investasi sejak bulan Juni tahun 2021 melalui sebuah aplikasi, tujuannya menambah ilmu baru dan memang tertarik mengenai investasi sejak masa menengah atas, meskipun para narasumber menuturkan bahwa investasi penting, pada satu sisi narasumber lain A. Rachmania. Sefudin / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. 41-52 menuturkan investasi penting dilakukan namun tidak untuk kalangan mahasiswa yang notabennya uang sakunya masih diberikan orang tua, menurutnya investasi tersebut dapat dilakukan jika sudah mendapatkan pekerjaan tetap dengan gaji yang cukup memadai. Selanjutnya peneliti beranjak kepada pernyataan narasumber mengenai asuransi, sama seperti investasi, asuransi juga merupakan hal yang cukup penting bagi narasumber terlebih asuransi pendidikan, seorang narasumber telah melakukan asuransi kendaraan, menurutnya dengan adanya program asuransi kedepannya lebih terjamin jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Perencanaan keuangan yang telah dibuat tidak selalu membuat para narasumber merasa keuangannya berada dalam tahap yang selalu aman, hanya saja penggunaannya lebih tertata dan pengunaannya jelas untuk apa sehingga tidak habis di awal pemberian uang saku. Meskipun tidak selalu membuat para narasumber merasa keuangannya selalu aman pemahaman mengenai rencana keuangan, investasi dan asuransi tadi membuat pengelolaan uang saku narasumber lebih baik, sebab dari yang awalnya hanya dihabiskan untuk jajan dan memenuhi keinginan semata kini seluruh kebutuhan dari primer hingga tersier terpenuhi, selain itu adanya keinginan untuk menyisihkan uang sakunya untuk masa depan sebagai dana simpanan serta mulai berinvestasi, dan mengikuti program asuransi dengan uang sakunya, menurutnya pemahaman mengenai literasi keuangan ini membuat pengelolaan uang sakunya menjadi lebih baik dan tidak ada minus pada tiap jatah yang telah Melihat keseluruhan jawaban dari para narasumber kemudian dikaitkan dengan indikator pengukuran literasi keuangan (Mulyati & Hati, 2. Pengetahuan pengelolaan keuangan, . Pengetahuan tentang perencanaan keuangan, . Pengetahuan tentang pengeluaran dan pemasukan, . Pengetahuan dasar tentang investasi, . Pengetahuan keuangan dalam keadaan sehat, . Pengetahuan dasar tentang asuransi, maka para narasumber telah tergolong mahasiswa yang well literate karena banyak dari karakteristik dalam indikator literasi keuangan yang telah sesuai dengan pemahaman para narasumber. Ini menunjukkan bahwa sasaran prioritas literasi keuangan dikalangan mahasiswa telah tercapai. Pengelolaan Uang Saku Temuan penelitian di variabel ini masing-masing narasumber telah mengelola uang sakunya sendiri dengan berbagai besaran yang berbeda bahkan terdapat narasumber yang diberikan uang saku hanya sesuai keperluan saja, dari uang masuk yang telah didapatkan tersebut hanya 2 diantara 5 narasumber yang melakukan pencatatan keuangan, meskipun demikian para narasumber merasa pencatatan tersebut diperlukan untuk mengukur sejauh mana uang sakunya telah digunakan, tetapi hampir seluruh narasumber melakukan perencanaan keuangannya baik secara tertulis maupun tidak, para narasumber membagikan uang sakunya untuk keperluan primer, sekunder, dan tersier. Biasanya para narasumber menghabiskan sebagian besar uang sakunya untuk pemenuhan kebutuhan primer terlebih dahulu, seperti transportasi dan jajan, namun selama kegiatan perkuliahan dilakukan secara daring. Sebagian narasumber menghabiskan uang sakunya untuk belanja di marketplace, meskipun demikian Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. 41-52 narasumber tetap menyisihkan uang sakunya setelah pemenuhan kebutuhankebutuhannya tersebut sebagai simpanan dimasa yang akan datang, besaran penyisihan uang saku tersebut pun berbeda-beda, dimulai dari yang paling kecil Rp. 000 sampai yang paling besar Rp. 000, narasumber juga menuturkan pentingnya penyisihan uang saku untuk dana simpanan, menurutnya pembelajaran mengenai penyisihan uang saku ini perlu diajarkan sedini mungkin, meskipun telah membagi uang sakunya ke dalam pos-pos kebutuhan dan merasakan seberapa besar pentingnya penyisihan uang saku, para narasumber tetap membeli barang-barang yang dirasakan tidak perlu dengan alasan keinginan dan tergiur potongan harga yang ditawarkan. Hal tersebut menyebabkan perubahan perencanaan keuangan pada bulan berikutnya, meskipun begitu tetap saja sebagian dari narasumber merasakan manfaat yang luar biasa dari adanya perencanaan keuangan ini, menurutnya dengan adanya perencanaan keuangan penggunaan uangnya lebih terarah, teratur, terperinci dan jelas penggunaanya untuk apa saja. Sebagian besar narasumber juga menuturkan lebih mudah mengelola uang saku menggunakan pemahaman aturan-aturan pengelolaan uang saku. Melihat fakta ini maka indikator pengelolaan uang saku Melihat fakta ini maka indikator pengelolaan uang saku (Vhalery. Leksono, & Irvan, 2. sebagai berikut. pengelolaan uang masuk, . pengelolaan uang keluar, . dana simpanan telah seluruhnya terjawab dan sesuai, peneliti menyatakan bahwa narasumber terpilih yang ada dalam organisasi Karang Taruna Kelurahan Gedong mengelola uang sakunya sesuai dengan hal-hal yang memang perlu diperhatikan dalam pengelolaan uang saku seperti yang sudah tertera dalam indikator. Menimbang hasil analisis dari fakta diatas dan mengaitkannya dengan efektivitas, kata efektivitas berasal dari bahasa inggris yang berarti berhasil, tepat, atau manjur. Efektivitas adalah sebuah hasil akhir yang diharapkan sesuai dengan rencana, program, tujuan yang telah ditetapkan (Masruri, & Muazansyah, 2. , sedangkan pendapat lain menyatakan efektivitas merupakan suatu wujud keberhasilan tercapainya tujuan yang menjadi acuan atau patokan tertentu, selain itu efektivitas berhubungan antara output dengan tujuan, untuk mengukurnya dilihat dari seberapa jauh hasil output dengan tujuan yang akan dicapainya (Yulianto, & Nugrahaeni, 2. Maka dapat dikatakan efektif apabila terpenuhinya sasaran dan tujuan yang akan dicapai serta menunjukkan pada tingkatan sejauh mana sebuah organisasi, program, kegiatan melaksanakan fungsifungsinya. Tujuan dari literasi keuangan adalah untuk untuk membuat para masyarakat memahami lebih dalam bagaimana mengatur keuangannya hingga di tahap aman yang menjadikan keuangannya sejahtera maka pada tahap ini literasi keuangan telah efektif membantu pengelolaan uang saku mahasiswa yang ada pada Karang Taruna Kelurahan Gedong, sebab dapat dilihat bahwa dari narasumber terpilih secara keseluruhan menyatakan pengelolaan uang sakunya yang pada awalnya narasumber tersebut hanya menggunakan uang sakunya untuk jajan, membeli barang-barang yang kurang dibutuhkan, menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak jelas, tidak terfikir untuk menyisihkan uang sakunya sebagai dana simpanan, kini telah berubah menjadi lebih baik setelah memahami dan mengenai literasi keuangan, para A. Rachmania. Sefudin / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. 41-52 narasumber sudah melakukan perencanaan terhadap pengelolaan uang sakunya, meyisihkan uang sakunya untuk kebutuhan dimasa yang akan datang, dan mulai tertarik serta mengikuti program investasi dan asuransi dan yang terpenting para narasumber merasa pengelolaan uang sakunya lebih sejahtera dengan pemahaman literasi ini. Hasil dari penelitian ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Vhalery. Leksono, & Irvan, 2. yang menyebutkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara literasi keuangan dengan pengelolaan uang saku mahasiswa, selain itu melihat data hasil jawaban narasumber di atas terkait kesadaran untuk menahan diri melakukan pembelian barang-barang yang tidak perlu setelah membuat rencana pengeluarannya relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Marsela. Rusno, & Warlipah, 2. yang menyebutkan adanya pengaruh signifikan antara literasi, pengelolaan uang saku, dan control diri terhadaprasionalitas perilaku konsumsi mahasiswa. Perubahan perilaku narasumber dalam mengelola uang saku setelah mengetahui pentingnya perencanaan, investasi dan asuransi selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Napitupulu. Ellyawati, & Astuti, 2. yang menuturkan bahwa semakin tinggi literasi literasi keuangan dan sikap keuangan maka semakin tinggi perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa SIMPULAN Berdasarkan hasil wawancara yang telah peneliti lakukan dengan kelima narasumber terpilih pada organisasi Karang Taruna Kelurahan Gedong, ditemukan bahwa pada awalnya pengelolaan uang saku narasumber bermasalah ditandai dengan habisnya uang saku yang tidak jelas pengeluarannya untuk apa, sedangkan semenjak memahami dasar literasi keuangan, pengelolaan uang saku mahasiswa yang ada pada organisasi Karang Taruna Kelurahan Gedong berganti menjadi lebih baik, tidak lagi adanya kekurangan pada saat pembagian jatah uang saku, lebih terperinci dan jelas penggunaannya, para narasumber juga menyisihkan sebagian uang sakunya secara rutin, kemudian salah satu narasumber mulai melakukan program investasi dan asuransi adapun investasi yang dilakukan ialah investasi melalui aplikasi bibit dan asuransinya adalah jenis asuransi kendaraan yang dilakukan sebatas kemampuan seorang mahasiswa, secara keseluruhan para narasumber merasakan pengelolaan uang sakunya lebih baik semenjak memahami literasi keuangan tersebut. Maka dengan itu literasi keuangan dinilai telah efektif membuat pengelolaan uang saku mahasiswa yang ada pada Karang Taruna Kelurahan Gedong menjadi lebih baik, keefektifannya dilihat dari pengelolaan uang saku yang lebih terkelola, dan menjadikan keuangan para narasumber tersebut sejahtera, hal tersebut dinilai telah mencapai tujuan dan sasaran literasi keuangan itu sendiri. Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 9 No. 1 (September 2. DAFTAR PUSTAKA