PENGARUH PERAWATAN LUKA DENGAN TEKNIK BALUTAN MOIST WOUND HEALING TERHADAP REGENERASI LUKA PASIEN DIABETES DI RUANG BEDAH RSUD ASEMBAGUS Hari Purwanto1*. Dodik Hartono. Kep. Ns. Tr. Kep2. Nafolion Nur Rahmat. Kep. Ns. Kes3 Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo Email Korespondensi: 999haripurwanto@gmail. ABSTRAK Diabetes merupakan penyakit menahun . berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula yang melebihi batas normal. Komplikasi yang ditimbulkan akibat dari diabetes diantaranya adalah sistem mikrovaskuler dan makrovaskuler seperti luka Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perawatan luka dengan teknik balutan moist wound healing terhadap regenerasi luka pasien diabetes. Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimental menggunakan pra Ae post test dalam satu kelompok. Data diambil pada tanggal 17 Juli 2024 sampai 17 Agustus 2024 di Ruang Bedah RSUD Asembagus kepada 25 responden secara total sampling. Pengumpulan data meliputi editing, coding, scoring, dan tabulating. Kemudian dianalisis dengan uji spearman rank. Hasil analisa data didapatkan regenerasi luka pada penderita diabetes sebelum dan setelah dilakukan moist wound healing regenerasi luka pada fase inflamasi sebelum dilakukan Fase proliferasi setelah dilakukan perawatan moist woung healing sebanyak 20 responden . 0%). Hasil penelitian tersebut diperkuat oleh hasil uji spearman rank didapatkan p value sebesar 0. Nilai p value penelitian ini menunjukkan nilai p value < . yang berarti dapat disimpulkan ada pengaruh perawatan luka dengan teknik balutan moist wound healing terhadap regenerasi luka pasien diabetes. Diharapkan petugas kesehatan dapat menerapkan perawatan luka dengan metode moist wound healing karena berkontribusi secara signifikan dalam perawatan luka yang lebih baik, terutama untuk luka kronis seperti luka ulkus diabetikum. Kata Kunci : Luka Diabetik. Moist Wound Healing ABSTRACT Diabetes is a chronic disease in the form of metabolic disorders characterized by sugar levels that exceed normal limits. Complications caused by diabetes include the microvascular and macrovascular systems such as diabetic wounds. This study aims to analyze the effect of wound care with moist wound healing techniques on wound regeneration of diabetic patients. This study is a pre-experimental research using a pre-post test in one group. Data were taken from July 17, 2024 to August 17, 2024 in the Operating Room of Asembagus Hospital to 25 respondents in total sampling. Data collection includes Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc editing, coding, scoring, and tabulating. Then it was analyzed by spearman rank test. The results of data analysis showed that wound regeneration in diabetics before and after moist wound healing was obtained. Almost all of which were not regenerated in the inflammatory phase before treatment. The proliferation phase after moist wound healing treatment was carried out by 20 respondents . 0%). The results of the study were strengthened by the results of the spearman rank test obtained a p value of 0. The p value of this study shows a p value of < . which means that there is an effect of wound care with moist wound healing technique on wound regeneration of diabetic patients. It is hoped that health workers can apply wound care with the moist wound healing method because it contributes significantly to better wound care, especially for chronic wounds such as diabetic ulcer Keywords : diabetic wound, moist wound healing PENDAHULUAN Diabetes merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab tertinggi di dunia, penyakit ini juga menjadikan penderitanya berkurang produktivitas kerja yang berdampak pada berkurangnya pendapatan, serta berkurangnya kualitas hidup penderita karena komplikasi penyakitnya (Maraabessy, 2. Salah satunya adalah luka diabetik pada pasien diabetes mellitus. Data Organisasi Internasional Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sedikitnya terdapat 463 juta orang pada usia 20-79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2-19 atau setara dengan angka prevalensi sebesar 9,3% dri total penduduk pada usia yang sama. Berdasarkan jenis kelamin. IDF memperkirakan prevalensi diabetes di tahun 2019 yaitu 9% pada perempuan dan 9,65% pada laki-laki (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2. Menurut data WHO . , prevalensi luka kaki diabetik di dunia sebesar 8,5% dan di perkirakan pada tahun 2030 mengalami kenaikan sebesar 11,4%. Prevalensi luka kaki diabetik di Indonesia sebesar 19,47% dan Provinsi Jawa Timur masuk dalam 10 besar dengan prevalensi penderita luka kaki diabetik mencapai 6,8% (Riskesdas, 2. Pada tahun 2021 prevalensi luka kaki diabetik di Kabupaten Situbondo sebesar 15,33% (Dinkes Kab Situbondo, 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tanggal 20 Mei 2024 terhadap 10 penderita luka kaki diabetik di RSUD Asembagus mengeluh ada 6 pasien dengan luka diabetes di kaki sudah hampir 3 bulan tidak kunjung sembuh dan 4 penderita yang baru mengalami luka sekitar 5-7 hari yang lalu dengan keluhan bengkak, merah dan nyeri di daerah luka. Hal tersebut dikarenakan rata rata belum mendapatkan penanganan luka saat di rumah dan hanya dirawat sendiri dengan teknik perawatan luka seadanya di rumah. Diabetes merupakan penyakit menahun . berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula yang melebihi batas normal. Penyebab kenaikan kadar gula tersebut menjadi landasan pengelompokan jenis diabetes yaitu terdiri dari dua jenis, diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2 (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2. Dampak yang paling umum ditimbulkan oleh penyakit arteri perifer adalah timbul ulkus, gangren, dan penyembuhan luka yang lambat akibat sirkulasi darah yang buruk pada ekstremitas (Supriyadi, 2. Dampak jangka panjang luka kaki diabetik dapat menyebabkan morbiditas, peningkatan biaya perawatan, dan penurunan kualitas hidup. Luka kaki diabetik yang sudah terinfeksi dan tidak segera mendapatkan penanganan akan dilakukan amputasi supaya infeksi tidak menyebar, hal ini merugikan bagi pasien karena akan menganggu aktivitas dan akan Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc menurunkan kualitas hidup. Solusi untuk penanganan luka kaki diabetik terdiri dari 8 kategori yaitu: diagnosis, offloading, kontrol infeksi, persiapan dasar luka, balutan luka, pembedahan, agen topikal, dan pencegahan kekambuhan (Rostika, 2. Perawatan luka dengan metode moist wound healing berkontribusi secara signifikan untuk perawatan luka yang lebih baik, terutama untuk luka kronis seperti luka ulkus Prinsip perawatan luka dengan teknik moist wound healing adalah menjaga lingkungan yang hangat dan lembab di sekitar luka untuk mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan kehilangan cairan dan kematian sel. Metode ini juga dapat mempercepat epitelisasi jaringan, mempercepat autolisis jaringan, mengurangi infeksi luka dan menghilangkan rasa sakit terutama saat penggantian balutan, untuk penyembuhan luka yang lebih efisien (Handayani, 2. METODE PENELITIAN Desain penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasy eksperimen dengan rancangan jenis pra-experiment pendekatan one group pre-test post-test design, penelitian ini menggunakan tekhnik accidental sampling kepada pasien DM yang terdapat luka diabetik yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 25 responden. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 17 Juli Ae 17 Agustus 2024. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi terhadap luka diabetik sebelum dan sesudah dilakukan perawatan moist wound healing, kemudian dilakukan pengumpulan dan pengolahan data editing, coding, scoring, dan Penelitian ini menggunakan uji wilcoxon untuk data bivariat. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Usia Frekuensi Presentase (%) O 20 Tahun Tahun Tahun Tahun Total Sumber : Data primer identitas responden Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa distribusi usia responden sebagian besar berusia 51-65 tahun sebanyak 19 responden . ,0%) dan sebagian kecil berusia 36-50 tahun sebanyak 6 responden . ,0%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Prosentase . (%) Laki Ae laki Perempuan Total Sumber : Data primer identitas responden Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa distribusi jenis kelamin responden sebagian besar laki-laki sebanyak 16 responden . ,0%) dan sebagian kecil perempuan sebanyak 9 responden . ,0%). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Frekuensi Presentase (%) Dasar (SD/ SMP) Menengah (SMA Perguruan Total Sumber : Data Primer Angket Penelitian, 2024 Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan distribusi pendidikan responden hampir seluruhnya adalah dasar (SD/ SMP) yaitu sebanyak 21 responden . ,0%). Tabel 4 Distribusi responden berdasarkan pekerjaan di Ruang Bedah RSUD Asembagus pada 17 Juli Ae 17 Agustus 2024 Pekerjaan Frekuensi . Bekerja Tidak Bekerja Total Sumber : Data primer penelitian 2024 Prosentase (%) Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa distribusi pekerjaan responden hampir seluruhnya bekerja yaitu sebanyak 20 responden . 0%). Tabel 5 Distribusi Frekuensi regenerasi luka pada penderita diabetes sebelum dilakukan perawatan moist wound healing di di Ruang Bedah RSUD Asembagus pada 17 Juli Ae 17 Agustus 2024 Regenerasi Luka Sebelum Dilakukan Frekuensi Prosentase Moist Wound Healing . (%) Fase Inflamasi Fase Proliferasi Fase Maturasi Total Sumber : Data Primer 2024 Berdasarkan Tabel 5 dari hasil analisa data regenerasi luka pada penderita diabetes sebelum dilakukan moist wound healing didapatkan hampir seluruhnya regenerasi luka pada fase inflamasi sebanyak 22 responden . 0%). Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Tabel 6 Distribusi Frekuensi regenerasi luka pada penderita diabetes sebelum dilakukan perawatan moist wound healing di di Ruang Bedah RSUD Asembagus pada 17 Juli Ae 17 Agustus 2024 Regenerasi Luka Sesudah Frekuensi Prosentase Dilakukan Moist Wound . (%) Healing Fase Inflamasi Fase Proliferasi Fase Maturasi Total Sumber : Data Primer 2024 Berdasarkan Tabel 6 dari hasil analisa data regenerasi luka pada penderita diabetes setelah dilakukan moist wound healing didapatkan hampir seluruhnya regenerasi luka pada fase proliferasi sebanyak 20 responden . 0%). Tabel 6 Hasil Uji SPSS Wilcoxon Uji Wilcoxon Luka diabetik sebelum dan sesudah dilakukan perawatan moist wound healing Sumber : Data primer Nilai p-value 0,000 Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan bahwa hasil uji wilcoxon dengan sampel 25 responden menunjukkan p value = . 000 < dari nilai alpha () = 0,05 yang berarti ada pengaruh perawatan luka dengan teknik balutan moist wound healing terhadap regenerasi luka pasien diabetes di Ruang Bedah RSUD Asembagus. PEMBAHASAN Regenerasi Luka Pada Penderita Diabetes Sebelum Dilakukan Perawatan Moist Wound Healing di Ruang Bedah RSUD Asembagus Berdasarkan Tabel 5. 4 menunju Berdasarkan tabel 5. 5 dari hasil analisa data regenerasi luka pada penderita diabetes sebelum dilakukan moist wound healing didapatkan hampir seluruhnya regenerasi luka pada fase inflamasi sebanyak 22 responden . 0%). Luka Diabetik atau yang disebut juga ulkus diabetik merupakan luka yang terjadi pada penderita diabetes sebagai akibat dari adanya gangguan perfusi pada jaringan, gangguan persarafan peripheral, dan proses inflamasi yang memanjang, serta infeksi kuman yang berlebih sehingga menyebabkan kematian jaringan yang luas . (Pashar, 2. Hal tersebut sesuai dengan kondisi luka pasien yang mengalami proses inflamasi yang panjang, mengalami infeksi dan adanya jaringan yang mati. Pada dasarnya proses penyembuhan luka merupakan proses fisiolgis tubuh yaitu sel jaringan hidup yang akan beregenerasi kembali ke struktrur sebelumnya. Proses penyembuhan luka terdiri dari 3 fase, yaitu fase inflamasi yang terjadi pada hari ke 0-3 atau sampai hari ke 5, fase proliferasi . ase granulas. yang terjadi pada hari ke ke-2 sampai hari ke-24, dan fase maturasi yang terjadi pada hari ke-24 hingga 1 tahun atau lebih (Arisanty, 2. Pada hasil penelitian sebagian besar responden bekerja. Aktivitas pekerjaan sangat Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc berisiko terhadap kejadian luka pada penderita diabete seperti mengalami luka akibat pemakaian alas kaki yang sempit yaitu sepatu boot yang mengakibatkan lecet pada jari kaki, luka akibat tergores paku pada bagian telapak kaki saat berjalan tanpa alas kaki, luka akibat terinjak batu pada bagian tumit luka awalnya dibiarkan saja akhirnya menjadi luka kaki Jenis pekerjaan merupakan faktor risiko yang dapat mengakibatkan trauma pada kaki yang bisa menjadi luka kaki diabetik. Peneliti berpendapat bahwa pada penelitian ini, regenerasi luka pada penderita diabetes sebelum diberikan moist wound healing didapatkan pada fase inflamasi. Hal ini terjadi karena pasien datang ke Rumah Sakit setelah terdapat luka di kakinya5-7 hari. Dirumah pasien hanya melakukan perawatan sendiri dengan menggunakan air hangat dan dibalut dengan kain seadanya, bahkan ada yang tidak terbungkus. Hal ini dapat menyebabkan kuman mudah untuk berkembangbiak pada luka dan menyebabkan infeksi pada daerah luka sehingga luka enjadi bernanah, berbau, dan bahkan menghitam . erbentuk jaringan mat. Regenerasi Luka Pada Penderita Diabetes Setelah Dilakukan Perawatan Moist Wound Healing Di di Ruang Bedah RSUD Asembagus Berdasarkan tabel 5. 6 dari hasil analisa data regenerasi luka pada penderita diabetes setelah dilakukan moist wound healing didapatkan hampir seluruhnya regenerasi luka pada fase proliferasi sebanyak 20 responden . 0%). Moist Wound Healing merupakan proses penyembuhan luka basah dimana lingkungan luka diisolasi dari bahan oklusif dan semi oklusif. Perawatan luka lembab mendukung proses penyembuhan luka, melembabkan jaringan alami dan mengembang jika terjadi eksudasi berlebihan, dan mencegah kontaminasi bakteri eksternal. Metode perawatan luka ini dapat mempercepat penyembuhan luka dengan granulasi dan epitelisasi, mempercepat fibrinolisis, mempercepat angiogenesis, mengurangi risiko infeksi, mempercepat pembentukan luka dan faktor perkembangan luka. Keuntungan dari moist wound healing adalah mudah dipasang, menyesuaikan dengan bentuk luka, mudah dilepas, nyaman dipakai, tidak perlu sering mengganti balutan, menyerap cairan, mengompres dan memulihkan luka, menghindari benturan mekanis luka, mencegah infeksi dan meningkatkan hemostasis dengan memberikan tekanan (Maryunani, 2. Peneliti berpendapat bahwa regenerasi luka pada pasien diabetes setelah dilakukan perawatan moist wound healing membaik. Hal ini terjadi karena teknik Moist Wound Healing dapat memberikan lingkungan yang tepat bagi luka sehingga proses penyembuhan luka sesuai dengan fase penyembuhan luka atau prosesnya bisa menjadi lebih cepat. Moist Wound Healing mampu menyesuaikan apa yang dibutuhkan oleh luka. Sifat balutan Moist Wound Healing yang lembut dan dapat mengembang apabila luka menghasilkan jumlah eksudat yang banyak dan tetap memberikan kesan lembab dan mencegah kontaminasi dari bakteri yang ada diluar luka. (Boyle, 2. Penyembuhan luka dengan teknik Moist Wound Healing mempercepat pembentukan faktor pertumbuhan karena faktor pertumbuhan berperan dalam proses penyembuhan luka yang membentuk stratum korneum dan angiogenesis dan produksi komponen-komponen ini sangat penting. Kelembaban dalam penyembuhan luka mempercepat pembentukan sel-sel aktif dengan menyerang neutrofil, diikuti dengan promosi makrofag, monosit dan limfosit di daerah luka, yang berfungsi sebelum waktunya dalam kondisi lembab. (Maryunani, 2. Pengaruh Perawatan Luka Dengan Teknik Balutan Moist Wound Healing Terhadap Regenerasi Luka Pasien Diabetes Berdasarkan tabel 8 hasil uji statistik wilcoxon dengan sampel 25 responden menunjukkan p value = . 000 < dari nilai alpha () = 0,05 yang berarti ada pengaruh perawatan luka dengan teknik balutan moist wound healing terhadap regenerasi luka pasien Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc diabetes di Ruang Bedah RSUD Asembagus. Penyembuhan luka merupakan proses dimana sejumlah jaringan hidup mengalami regenerasi atau pembaruan jaringan. Dimana kemampuan sel dan jaringan akan melakukan regenerasi atau kembali ke struktur normal melalui pertumbuhan sel yang melibatkan proses fisiologis (Koutoukidis, 2. Teknik Moist Wound Healing yaitu penyembuhan luka dengan prinsip lembab. Penyembuhan luka lembab adalah dengan menjaga keadaan dasar luka agar tetap atau cukup lembab untuk dapat menfasilitasi pergerakan sel pada dasar luka, serta sebuah lingkungan yang lembab pada luka dapat memungkinkan neutrofil dan makrofag untuk bermigrasi dengan lebih baik (Hendrickson, 2. Penelitian sebelumnya yang dilakukan Witanto,dkk . menunjukkan bahwa pasien dengan ulkus diabetikum yang dirawat dengan Moist Wound Healing memiliki presentase perbaikan luka yang lebih tinggi sekitar 86,67%, serta lama perawatan lebih pendek sekitar 3-7 hari. Penyembuhan luka dengan prinsip lembab juga menunjukkan bahwa eksudat pada luka akan menyediakan sel-sel yang diperlukan oleh kulit untuk proses penyembuhan luka. Serta menyediakan subtrat atau bahan yang kaya akan enzim, growth factors, dan faktor kemotaktik. Dimana faktor kemotaktik berperan untuk mengendalikan infeksi dan menyediakan lingkungan yang terbaik untuk proses penyembuhan. Pada penelitian ini dikaji penyembuhan dengan melakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik Moist Wound Healing. Moist Wound Healing merupakan suatu metode perawatan luka dengan memberikan lingkungan yang tepat dibutuhkan oleh luka sehingga proses penyembuhan luka sesuai dengan fase penyembuhan luka atau bahkan lebih cepat. Prinsip penyembuhan luka salah satunya adalah kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang, maka perawatan dengan menggunakan metode Moist Healing yaitu menyesuaikan apa yang dibutuhkan oleh luka dalam setiap fase penyembuhannya. Sehingga penyembuhan luka dapat menjadi lebih optimal. KESIMPULAN Hasil uji wilcoxon didapatkan p value sebesar 0. Nilai p value penelitian ini menunjukkan nilai p value < . yang berarti dapat disimpulkan ada pengaruh perawatan luka dengan teknik balutan moist wound healing terhadap regenerasi luka pasien diabetes. DAFTAR PUSTAKA