KESKOM. : 33-38 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal. Perilaku Petugas Farmasi Tentang Standar Pelayanan Minimal di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awalbros Ujung Batu Behavior Of Pharmacy OEcers About Minimum Service Standards in The Pharmacy Installation Of Awalbros Hospital. Ujung Batu Toni Winata1. Oktavia dewi2. Emy leonita3. Abdurrahman Hamid4. Novita Rany5 1,2,3,4,5 STIKes Hangtuah Pekanbaru ABSTRACT ABSTRAK Pharmaceu cal service is a direct and responsible service to pa ents related to pharmaceu cal prepara ons to achieve deAnite results to improve the quality of life of pa ents as stated in Permenkes RI number 35 of 2014 ar cle 1 paragraph 3. This research aims to determine the behavior of pharmacy oEcers regarding SPM (Minimum Service Standard. at the Awalbros Hospital Pharmacy Installa on in Ujung Batu. This research is qualita ve research with a phenomenological approach. This research was conducted at the Walbros Ujung Batu hospital installa on in July 2020. There were six respondents. The results of the study show that the wai ng me for Anished drug services is following the provisions of hospital management, which is less than 8 minutes or faster than the service me in the provisions of the hospital and the Ministry of Health, the me for presen ng the concocted drugs has not been running with the expected target of fewer than 20 minutes. Because of the numbers of drugs formulated and the limited number of workers working on it. There are no errors in administering the drug, this has been going according to the hospital's standard opera ng procedures, customer sa sfac on has not run perfectly such as wai ng me for concocted drugs that are not yet on me, prescrip on wri ng according to the formulary has been implemented properly and the formulary guideline document is con nuously revised, and the implementa on of minimum service standards consistently applied during the Covid-19 pandemic. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pas untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien yang tertuang dalam Permenkes RI nomor 35 tahun 2014 pasal 1 ayat 3. Peneli an ini bertujuan untuk mengetahui perilaku petugas farmasi tentang SPM (Standar Pelayanan Minima. di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awalbros Ujung Batu. Peneli an ini adalah peneli an kualita f dengan pendekatan fenomenologi. Peneli an dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awalbros Ujung Batu dilaksanakan pada bulan Juli 2020. Responden berjumlah 6 orang, hasil peneli an yaitu waktu tunggu layanan obat jadi sudah sesuai dengan ketentuan manajemen rumah sakit kurang dari 8 menit atau lebih cepat dari pada waktu layanan dalam ketentuan rumah sakit dan Kepmenkes, waktu penyajian obat racikan belum berjalan dengan target yang diharapkan yakni kurang dari 20 menit hal ini disebabkan banyaknya obat yang diracik serta terbatasnya jumlah tenaga yang mengerjakan. Tidak adanya kesalahan dalam pemberian obat hal ini sudah berjalan sesuai dengan SPO rumah sakit, kepuasan pelanggan belum berjalan dengan sempurna seper waktu tunggu obat racikan yang belum tepat waktu, penulisan resep sesuai dengan formularium sudah diberlakukan dengan baik serta dokumen pedoman formularium direvisi secara berkelanjutan, dan penerapan standar pelayanan minimal konsisten diterapkan dalam masa pandemi covid-19. Keywords : Tangible. Reliability. Responsiveness. Assurance. Empathy. Health Educa on and Training. Health Training Center Kata Kunci :Pharmacy Installa on. OEcer Behavior. Minimum Service Standards. Correspondence : Toni Winata Email : toniwinata@gmail. A Received 19 Oktober 2020 A Accepted 22 Februari 2021 A p - ISSN : 2088-7612 A e - ISSN : 2548-8538 A DOI: h ps://doi. org/10. 25311/keskom. Vol7. Iss1. Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 Interna onal License . p://crea vecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium Keskom. Vol. No. 34 April 2021 PENDAHULUAN Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah suatu ketentuan jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh se ap warga secara minimal dan merupakan spesiAkasi teknis untuk tolak ukur pelayanan minimum yang diberikan oleh Badan Layanan Umum kepada Agar dapat membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, maka rumah sakit harus terus menerus memberikan pelayanan yang bermutu kepada se ap pasien. Selain itu, dengan semakin banyaknya rumah sakit maka secara dak langsung se ap rumah sakit dituntut untuk terus menerus memberikan pelayanan baik dan bermutu agar terus dapat bertahan dan bersaing dengan rumah sakit lainnya (Permana. Rumah Sakit Awalbros Ujung Batu sudah memberikan layanan yang baik namun hal ini perlu dilakukan peneli an secara ilmiah untuk membandingkan hasil evaluasi dari hasil peneli an dengan hasil audit internal dari rumah sakit itu sendiri. Perilaku tentang bagaimana seseorang menanggapi rasa sakit dan penyakit yang bersifat respon internal dan eksternal : respon yang diberikan antara lain respon pasif berupa pengetahuan, persepsi, dan sikap maupun respon ak f yang dilakukan sehubungan dengan sakit dan penyakit (Santoso, 2. Menurut Hadjam dalam (Pras ka, 2. , masalah kesehatan menjadi problem utama yang dijumpai sehari-hari. Se ap hari banyak masyarakat yang datang ke rumah sakit untuk berobat. Semakin banyak masyarakat datang ke rumah sakit maka semakin nggi pula tuntutan rumah sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanannya. Merujuk hasil riset yang dilakukan (Shera. Andayani, & W, 2. menunjukkan evaluasi pelaksanaan standar pelayanan minimal rumah sakit bidang farmasi di instalasi farmasi rumah sakit umum daerah pemangkat hasil peneli annya menunjukkan waktu tunggu pelayanan obat telah memenuhi standar. Pelayanan yang bermutu instansi haruslah konsisten untuk memberikan layanan dengan meningkatan kinerja secara terus menerus hal ini sudah dibuk kan secara ilmiah sesuai dengan hasil peneli an yang dilakukan oleh (Wahyuningsih, 2. , didapatkan hasil peneli an ada pengaruh kinerja petugas farmasi terhadap ngkat kepuasan pelayanan obat pasien di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RSUD dr. Soedja Soemodiardjo P u r wo d a d i . S e ca ra te o r i s j u ga d i ke m u ka ka n o l e h (Notoatmodjo, 2. Dimana perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor perilaku . ehaviour cause. dan faktor diluar perilaku . nabling cause. Berdasarkan data kunjungan Rumah Sakit Awalbros Ujung Batu Per tahun 2019 kunjungan pasien rawat jalan 48. sedangkan Per 3 Bulan November 2019- Januari 2020 pasien rawat jalan 13. Berdasarkan survei PKRS (Promosi Kesehatan h p://jurnal. Rumah Saki. di bagian instalasi farmasi didapatkan data belum mencapai target, yaitu 70%. Keluhan pasien rawat jalan ke instalasi farmasi Rumah Sakit Awalbros Ujung Batu seper waktu tunggu obat lama, edukasi pelayanan informasi obat terlalu singkat atau secara umum saja. Ditambah lagi dengan berbagai persoalan teknis yang dihadapi oleh pasien akibat pandemi covid-19 dalam menerapkan protokol kesehatan yang menyebabkan sebagian pasien merasa waktu atau kesempatan mereka dalam mendapatkan layanan rumah sakit atau difarmasi menjadi kurang maksimal seper terbatasnya tempat duduk diruang tunggu, pemeriksaan suhu, mencuci tangan serta mengunakan masker yang menyebabkan keresahan tersendiri bagi sebagian pasien. Dari permasalahan tersebut maka tujuan peneli an ini untuk mengetahui bagaimana standar pelayanan minimal pada instlasi farmasi Rumah Sakit Awalbros Ujung Batu. METODE Peneli an menggunakan jenis kualita f dengan pendekatan fenomenologi dengan melakukan wawancara mendalam kepada 5 orang responden 3 orang staf instalasi farmasi 1 staf manajemen dan 2 orang pasien yang ada di instalasi farmasi saat peneli an dilakukan, peneli an dilakukan mulai Juli-Agustus Data diperoleh dengan wawancara melalui teknik snowball dan studi leteratur, objek peneli an ini berkaitan dengan standar pelayanan minimal pada instalasi farmasi rumah sakit awalbros ujungbatu dengan subjek peneli an se ap stakeholder di rumah sakit dengan prinsip parsi pa f untuk mengukur standar waktu tunggu obat jadi, waktu tunggu obat racikan, dak adanya kesalahan obat, kepuasan pelanggan, ketersediaan formularium dan informasi tentang penerapan standar pelayanan minimal oleh petugas farmasi. Analisis data dilakukan dengan teknik triangulasi yaitu dengan mengkomparasi hasil peneli an dalam seper taraskrip wawancara dengan standar prosedur operasional yang berlaku di rumah sakit serta standar dari HASIL Berdasarkan hasil wawancara mendalam kepada responden utama dalam hal ini responden in yang terlibat langsung pada instalasi farmasi dan responden pendukung atau responden yang menerima jasa layanan farmasi dalam ini pasien atau keluarga pasien, diketahui waktu tunggu obat jadi sudah sesuai dengan SPM, hal ini dapat dilihat dari ku pan berikut : AAu biasanya kami telah menyerahkan kepasien lebih cepat dari 8 menit untuk obat jadi dak pernah atau jarang terjadi keterlambatan (Iu. AyA AAusaya biasanya saya atau kawan-kawan di farmasi melayani pasien untuk pengambilan obat jadi lebih cepat dari waktu yang sudah (Iu. AyA Toni Winata, et al Behavior of Pharmaceu cal OEcers about Minimum Service Standards Perilaku Petugas Farmasi tentang Standar Pelayanan Minimal saya rasa sudah baikya cepat saya rasa, barusaja resep saya serahkan kepetugasnya duduk sebentar sudah dipanggil (K. AyA Hasil wawancara mendalam dengan ga orang yang terdiri responden utama dan pendukung ,terkait layanan obat racikan bahwa proses pelayanan kepada pelangan belum berjalan dengan semes nya hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seper yang diungkapkan berikut ini: AAu sampai saat ini saya rasa belum tercapai target kami bila sampai 80% baru dikategorikan tercapai (Iu. AyA AAukisaran kinerja kami instalasi farmasi baru sekitar 70% nan untuk periode bulan juli sampai agustus ini karena tenaga kami juga kurang (Iu. AyA AAusaya rasa cukup lama, sedangkan obat yang saya terima dak banyak (K. AyA Berdasarkan hasil wawancara mendalam kepada responden utama dan pendukung ,terkait kesalahan dalam pemberian obat, hal ini diketahui berdasarkan hasil ku pan wawancara : AAubelum pernah terjadi kesalahan dalam pemberian obat, karena sudah mengiku SPOhal ini sangat pen ng karena berkaitan dengan keselamatan pasien (Iu. AyA AAustaf menyerahkan obat sesuai dengan yang diresepkan dokter, baiasnya kesalahan dari pasien karena komsumsi dak sesuai petunjuk (K. AyA AAulaporan kepihak manajemen belum ada kesalahan dalam pemberian obat (Iu. AyA AAupasien belum pernah menerima obat yang salah atau dak sesuai dengan resep dokter (K. AyA Sedangkan hasil wawancara mendalam kepada utama meraka mengungkapkan bahwa se ap melayani pelangan selalu mengedepankan aspek kepuasan pelangan sedangkan responden pendukung mengungkapkan bahwa layanan yang diterima sudah sangat baik, berikut hasil ku pan wawancara terkait kepuasan pelangan : AAumendengar keluhan pelanggan, dan memberikan layanan yang terbaik sesuai dengan peraturan dirumah sakit (Iu. AyA AAumelakukan survei untuk mengetahui ngkat kepuasan pelanggan, dan mengevaluasi untuk perbaikan dimasa yang akan datang (Iu. AyA AAupasien memaklumi keterlambatan pelayanan obat tapi tetap merasa puas dengan layanan yang dia terima (K. AyA Sedangkan kesesuaian dalam penulisan formularium obat sudah berjalan dengan sempurna dan dak pernah terjadi keleliruan dalam penerapannya hal ini dikuatkan dengan kuripan wawancara berikut ini: AAumenaruh da ar formularium obat dimeja kerja untuk mengetahui da ar obat formularium yang tersedia difarmasi (K. AyA AAuda ar formularium obat merupakan bagian dari kepas an aturan untuk menjaga mutu rumah sakit (Iu. AyA Berdasarkan hasil wawancara baik penuturan responden utama serta pendukung penerapan SPM sudah dilaksanakan dengan dengan baik namun hal ini terdapat kontradiksi dengan penilaian yang dilakukan oleh m audit rumah sakit tentang penerapan SPM, hal ini dapat dilihat dari ku pan wawancara : AAumelayani pasien dengan baik dan sesuai SOP akan memberikan nama baik juga terhadap rumah sakit (Iu. AyA AAumelalui kebijakan yang dituangkan dalam SPO semua bertujuan untuk membuat sikap staf melayani pelanggan dengan baik (Iu. AyA AAuselama mengantri layanan obat di depan apo k saya berdiri saja, pegal juga lama-lama, ya mau bagaimana lagi kondisinya lagi korona, tapi sikap petugas tetap ramah walaupun kita melangar kadang-kadang dak memakai masker dengan benar (K. AyA AAusaya rasa sangat merepotkan se ap kali mau masuk kedalam ruang tunggu obat saya diharuskan untuk mencuci tangan, cek suhu, padahal saat itu sangat terburu-buru (K. AyA PEMBAHASAN Waktu tunggu layanan obat jadi sudah sejalan dengan standar pelayanan minimal dimana setelah pasien melakukan konsultasi dengan dokter, umumnya dokter spesialis maka resep obat yang telah ditulis oleh dokter akan dibawa sendiri oleh pelanggan, dan diserahkan kepada staf instlasi farmasi untuk diproses sesuai dengan jenis dan jumlah obat yang tertera pada resep obat yang dibuat oleh dokter. Evaluasi pelaksanaan standar pelayanan minimal rumah sakit bidang farmasi di instalasi farmasi rumah sakit umum daerah pemangkat hasil peneli annya menunjukkan waktu tunggu pelayanan obat telah memenuhi standar. (Shera. Andayani, & W. Peneli an ini sesuai dengan peneli an Rosyid . dimana hasil peneli annya menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk pelayanan resep obat jadi pasien umum rawat jalan di rumah sakit X masuk dalam range PERMENKES Nomor. 129/MENKES/SK/II/2008 yaitu kurang dari 30 menit. Hasil pengamatan peneli layanan obat jadi yang tepat waktu karena rumah sakit awal bros merupakan rumah sakit yang sudah bertaraf nasional sehingga manajemen mutu lebih diutamakan untuk kepuasan pelanggan, dan juga staf farmasi yang bekerja sudah melakukan pekerjaan dengan sempurna karena se ap staf akan memposisikan dirinya sebagai pemilik rumah sakit bukan sebagai pekerja, hal ini dijadikan sebagai sebuah mo vasi untuk terus meningkatkan layanan sehingga visi dan misi rumah sakit bisa segera terwujud sesuai dengan rencana strategi yang sudah ditetapkan bersama. Keterlambatan layanan obat racikan salah satu penyebab adalah keterbatasan jumlah sumber daya manusia akibat dak adanya keseimbangan antara jumlah permintaan obat racikan j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. 36 April dengan jumlah staf di instalasi farmasi, hal ini disebabkan oleh kebijakan manajemen. Rumah sakit sebagai layanan jasa kesehatan pas mengejar keuntungan. Oleh sebab itu penambahan sumberdaya manusia akan memangkas dan memperbesar cost atau upah yang harus dibayarkan. Jumlah kunjungan pelanggan yang dak menentu juga mempengaruhi income bagi rumah sakit. Proses peracikan suatu obat racikan harus melalui proses peracikan terlebih dahulu Proses peracikan tersebut yaitu merupakan kegiatan menimbang, mencampur, mengemas dan memberi e ket dengan benar (Karuniawa , 2. Berdasarkan hasil telaah peneli faktor penyebab panjangnya waktu tunggu layanan obat racikan disebabkan oleh mul faktor bisa dari individu atau staf farmasi yang dak disiplin atau kelelahan dalam bekerja, banyak jumlah bungkusan obat yang diracik dan juga jumlah staf yang dak seimbang dengan jumlah pelanggan yang berkunjung di Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Selama mereka menangani pelayanan obat belum pernah terjadi kesalahan dalam pemberian obat namun kemungkinan kesalahan dalam pemberian obat bisa saja terjadi akibat kelalaian staf karena dak memperha kan dengan teli jenis obat, kemasan dan bentuk obat yang sama, dan juga faktor individu seper dak konsentrasi disaat bekerja. Untuk layanan obat staf instalasi menerima resep obat dari pelanggan, sedangkan pelanggan memperoleh dari dokter, adanya alur proses perjalanan resep kemungkinan kesalahan bisa saja terjadi, namun pada saat peneli an, observasi dan telaah dokumen dak ditemukannya kesalahan dalam pemberian obat. Kesalahan pemberian obat merupakan suatu kegagalan pada proses pengobatan yang dapat menyebabkan potensi membahayakan pada pasien dalam proses pengobatan atau Kesalahan dalam pengobatan ini dapat menyebabkan efek yang merugikan serta berpotensi menimbulkan resiko fatal dari suatu penyakit (Oktarlina, 2. Hasil peneli an ini sejalan dengan peneli an yang dilakukan oleh (Yana, 2. , pelaksanaan prinsip enam benar merupakan suatu prinsip yang harus diperha kan oleh perawat dalam pemberian obat untuk menghindari kesalahan pemberian obat. Hasil pengamatan peneli kesalahan pemberian obat sangat mungkin terjadi bisa disebabkan karena kelalain staf saat membaca resep yang ditulis dokter, lalu kesalahan dalam pemberian obat kepada pelanggan dimana terdapat persamaan nama pelanggan sehingga yang menerima obat bukan pelanggan yang seharusnya. Lalu kesalahan bisa juga disebabkan oleh kesalahan pelanggan saat menerima resep dari dokter umumnya dokter spesialis, saat dibawa untuk diserahkan ke farmasi kemungkinan terjadi kekeliruan atau tertukar dengan memberikan resep obat yang lama atau akibat kurang konsentrasi atau faktor usia maka staf farmasi menerima resep atau menyerahkan obat yang bukan resep/obat yang seharusnya. h p://jurnal. Terjadinya peningkatan kepuasan pelanggan secara kuan ta f peningkatan dari periode tahun 2019 ketahun 2020 namun belum sesuai harapan dengan nilai lebih dari 80% dimana ngkat kepuasan pelanggan meningkat sebesar 6% pada instalasi farmasi, hasil survei yang dilakukan oleh mpromosi kesehatan rumah sakit. Ini merupakan hasil telaah dokumen yang peneli lakukan saat dilangsungkannya peneli an. Hasil dengan metode wawancara menunjukkan bahwa mayoritas pelangan merasa puas dengan layanan yang diberikan oleh staf instalasi farmasi dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Konsep service quality yang populer. ServQual dinyatakan bahwa kualitaspelayanan memiliki 5 dimensi, yaitu reliability, resposniveness, assurance, empathy, dantangible, sedangkan dalam pengelolaankepuasan pelanggan, ada beberapa upaya pen ng untuk meningkatkan kepuasanpelanggan, yaitu pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi program (Prap wi, 2. Peneli an ini sejalan dengan peneli an yang dilakukan oleh (Wahyuningsih, 2. , didapatkan hasil peneli an ada pengaruh kinerja petugas farmasi terhadap ngkat kepuasan pelayanan obat pasien di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RSUD dr. Soedja Soemodiardjo Purwodadi. Berdasarkan pengamatan peneli walaupun hasil wawancara pasien menyatakan puas terhadap pelayanan farmasi namun dari hasil telusur dokumen menunjukkan adanya peningkatan kepuasan pasien tetapi belum signiAkan terutama untuk mutu standar pelayanan farmasi. Hal ini perlu mendapat perha an dari pihak manajemen untuk mengevaluasi kinerja staf pelayanan sehingga tercapai mutu standar pelayanan. Formularium merupakan sebuah dokumen yang berisi tentang produk obat yang disusun oleh Pani a Farmasi dan Terapi (PFT) yang disertai dengan suatu informasi tentang penggunaan obat tersebut, dengan suatu kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan obat yang relevan untuk rumah Ketersediaan obat dikategorikan berlebih dengan ngkat persediaan selama 21 bulan. Terkait dengan Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan obat yaitu pengelolaan obat, dokter dan pasien (Pasaribu, 2. Hasil peneli an ini dak sejalan dengan hasil peneli an (Fedrini, 2. tentang analisis sistem formularium 2013 Rumah Sakit St. Elisabeth-Bekasi yang menyebutkan bahwa proses penyusunan formularium belum op mal, sistem pengendalian persediaan belum ada. Berangkat dari pengamatan peneli formularium sudah berjalan dengan baik, pengendalian dokumen terutama manual mutu terus menerus direvisi sesuai dengan perkembangan rumah sakit. Hal ini merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan pertumbuhan rumah sakit dan memberikan pelayanan dengan standar pelayanan minimal rumah sakit. Toni Winata, et al Behavior of Pharmaceu cal OEcers about Minimum Service Standards Perilaku Petugas Farmasi tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Awalbros sebagai rumah sakit swasta terbesar di Kabupaten Ujung Batu pas akan mempertahankan dan mengembangkan layanannya untuk meningkatkan kepuasan pelanggan salah satunya dengan merevisi da ar formularium Penerapan Standar Pelayanan Minimal yang tak lain adalah untuk mencapai visi dan misi rumah sakit dalam bentuk pelayanan secara Profesional dengan memberikan layanan prima, hal ini tercermin dalam berbagai ak vitas pelayanan dengan mengedepankan standar pelayanan minimal, walaupun dimasa pandemic Covid-19 standar pelayanan tetap diberikan dengan baik dan pihak manajemen tetap melakukan evaluasi berkala untuk mengetahui ngkat kepuasan pelanggan. Perilaku dapat diar kan sebagai suatu aksi dimana dalam reaksi organisme terhadap lingkungan, dalam hal ini juga berar adanya sebuah perilaku baru yang akan terwujud bila ada sesuatu tanggapan atau rangsangan dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu juga dapat menghasilkan sebuah perilaku tertentu (Kholid, 2. Hasil peneli an peneli dak sejalan dengan peneli an (Kuzairi, 2. di RSUD Bondowoso masih belum berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seper komunikasi, struktur birokrasi, sumber, disposisi . dan kepemimpinan dalam pengendalian ego sektoral. Ber k tolak dari pengamatan peneli perilaku se ap staf instalasi farmasi dalam memberikan pelayanan minimal dengan menegedepankan Ins ng dimana dalam melakukan pekerjaan dipengaruhi oleh perilaku bawaan dalam melakukan pekerjaan yang monoton dalam pelayanan obat-obatan serta orang-orang disekitarnya untuk menjadi lebih baik dan yang terbaik kemudian dorongan untuk memberikan yang terbaik baik bagi tempat mereka bekerja sehingga terjadi reduksi dimana akan mempengaruhi dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, secara kogni f dapat memilih perilaku mana yang harus dilakukan sebagai pekerja dalam memberikan pelayanan sudah barang tentu se ap staf telah mempunyai per mbangan dampak apa yang akan terjadi dari ak vitas yang dilakukan saat ini pada masa yang akan datang dalam hal ini sesuai tujuan mereka memberikan layanan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit di tempat mereka bekerja yakni dengan menunjukkan sikap untuk memberikan pelayanan sesuai standar pelayanan minimal. KESIMPULAN Waktu tunggu layanan obat jadi sudah sesuai dengan ketentuan mutu rumah sakit kurang dari 8 menit atau lebih cepat dari pada waktu standar layanan. Waktu penyajian obat racikan belum berjalan sesuai dengan target yakni lebih dari 20 menit. Tidak adanya kesalahan dalam pemberian obat sudah berjalan sesuai dengan SPO rumah sakit yang memuat berbagai pedoman tentang penyajian obat. Pelanggan dak puas terhadap waktu tunggu obat racikan. Penulisan resep sesuai dengan formularium sudah diberlakukan sesuai dengan standar layanan manual. Perilaku petugas sudah mencerminkan standar pelayanan minimal dengan tetap memberikan layanan yang prima dengan keterbatasan ruang gerak serta pembatasan sarana prasarana untuk mengiku protokol kesehatan akibat pandemi Covid-19. Saran Mempertahankan kualitas waktu penyajian obat jadi yang sudah berjalan sesuai dengan standar pelayanan minimal dan meningkatkan waktu pelayanan obat racikan sesuai dengan waktu yang tertuang manajemen mutu yaitu kurang dari 20 menit baik untuk pelanggan asuransi perusahaan ataupun Melakukan evaluasi diri secara berkala untuk melihat penampilan dan performa kerja staf farmasi dan melengkapi sarana prasarana penunjang demi kenyamanan pasien selama berada diinstalasi farmasi. Meningkatkan promosi kesehatan kepada pelanggan dalam penerapan protokol kesehatan seper mengunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak selama dirumah sakit untuk penanggulangan penularan pandemic covid19, sehingga pasien dapat memahami dan mentaa peraturan yang berlaku. Memberikan edukasi serta menyediakan instrument pengolahan obat yang termutakhir sehingga bisa memangkas waktu layanan obat untuk meningkatkan ferforma kerja unit instalasi farmasi rumah sakit awalbros ujung batu. Ucapan Terima Kasih Ucapan terimakasih yang dak terhingga kepada Pihak Rumah Sakit Awalbros Ujung Batu yang telah memberikan izin untuk melakukan peneli an. Responden yang telah meluangkan waktu untuk bersedia menjadi responden DAFTAR PUSTAKA