Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 1 - 8 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 PENGALAMAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN COVID-19 Mulyaningsih¹, Endah Sri Wahyuni¹, Wardiyatmi² ¹Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas ‘Aisyiyah Surakarta ²RSUD Dr. Moewardi Surakarta email: mulyaningsih@aiska-university.ac.id INFO ARTIKEL Riwayat Artikel : Diterima : 11 Oktober 2021 Disetujui : 21 Desember 2021 Kata Kunci : COVID 19, perawat, asuhan keperawatan ARTICLE INFO Riwayat Artikel : Received : 11 October 2021 Accepted : 21 December 2021 Key words: COVID 19, nurses, nursing care ABSTRAK (Times New Roman 11, Bold, spasi 1) Jumlah penderita COVID 19 semakin meningkat. Berdasarkan data WHO tahun 2020, menunjukkan bahwa jumlah kasus terkonfirmasi COVID 19 sebanyak 49.242.837 kasus positif dengan jumlah 1.242.187 kasus yang meninggal pada 219 negara diseluruh dunia. Peningkatan kasus tersebut juga terjadi pada tenaga kesehatan, termasuk tenaga kesehatan yang meninggal dunia karena Covid. Tenaga medis yang meninggal karena Covid sejumlah 504 petugas medis. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang pengalaman perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pasien dengan COVID 19. Studi ini menggunakan pendekatan fenomenologis dengan dengan jumlah partisipan 13. Tehnik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan melakukan indeph interview kepada semua partisipan. Indeph interview dilakukan secara langsung. Hasil wawancara kemudian dilakukan analisis secara tematik. Dalam penelitian ini diperoleh 4 tema yaitu Perasaan perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien Covid 19, Hambatan yang ditemukan selama memberikan pelayanan kesehatan, Dukungan yang diperoleh selama memberikan pelayanan, Harapan perawat dalam menunjang tugasnya. ABSTRACT (Times New Roman 11, Bold, spasi 1) The number of PEOPLE with COVID 19 is increasing. Based on WHO data in 2020, it shows that the number of confirmed cases of COVID 19 as many as 49,242,837 positive cases with the number of 1,242,187 cases that died in 219 countries around the world. The increase in cases also occurred in health workers, including health workers who died due to Covid. Medical personnel who died due to Covid a number of 504 medical personnel. The purpose of this study is to provide an overview of the experience of nurses in providing nursing care for patients with COVID 19. The study used a phenomenological approach with 13 participants. The technique of data collection conducted in this study is to conduct indeph interviews to all participants. Indeph interviews are conducted in person. The results of the interview are then conducted thematically analysis. In this study obtained 4 themes namely The feeling of nurses in providing services to patients Covid 19, Obstacles found during the service of health services, Support obtained during the service, Hope nurses in supporting their duties. 1 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 1 - 8 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 1. PENDAHULUAN (Times New Roman 12, Bold, spasi 1) Coronavirus Disease atau COVID 19 merupakan penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2). Kasus Covid 19 pertama kali ditemukan di Wuhan China pada 31 Desember 2019 (WHO 2020). Berdasarkan data WHO tahun 2020, menunjukkan bahwa jumlah kasus terkonfirmasi COVID 19 sebanyak 49.242.837 kasus positif dengan jumlah 1.242.187 kasus yang meninggal pada 219 negara diseluruh dunia. Indonesia adalah salah satu negara yang turut terpapar virus corona sejak awal Maret 2020. Jumlah kasus yang terkonfirmasi Covid semakin meningkat. Peningkatan kasus tersebut juga terjadi pada tenaga kesehatan, termasuk tenaga kesehatan yang meninggal dunia karena Covid. Tenaga medis yang meninggal karena Covid sejumlah 504 petugas medis, terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medic (Dewi 2020). Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid 19. Dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien Covid 19 harus mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Tingkat kepatuhan perawat dalam memakai alat perlindungan diri (APD) dipengaruhi beberapa faktor antara lain 1) Tingkat pengetahuan; 2) Persepsi tentang penggunaan APD, termasuk persepsi terhadap ketidaknyamanan penggunaan APD karena desain dan ukuran yang tidak sesuai; 3) Terdapat peraturan yang belum jelas dan tegas tentang rekomendasi atau pedoman sesuai standar tentang jenis, desain dan ukuran serta cara penggunaan yang baik dan benar; 4) Kurang optimalnya pelatihan tentang penggunaan APD; 5). Kesulitan dalam ketersediaan dan akses fasilitas kesehatan; dan 6) Adanya riwayat penyakit pada tenaga kesehatan yang memengaruhi perilaku penggunaan APD (E, Baju, and Wahyuni 2020). Berbagai kondisi diatas meningkatkan risiko perawat tertular Covid 19. Hal ini dapat mempengaruhi kinerja perawat. Salah satu penelitian di Australia mengatakan bahwa sebagian besar responden merasa bahwa mereka memiliki pengetahuan yang cukup tentang COVID-19 namun mereka menyatakan keprihatinan tentang risiko terkait pekerjaan terhadap diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Sebagian besar responden menggambarkan adanya kekurangan alat pelindung diri di tempat kerja mereka (Halcomb et al. 2020). Selain permasalahan diatas, stigma masyarakat terkait Covid 19 juga menambah beratnya beban tenaga kesehatan. Berbagai cerita dari para sejawat tenaga medis di Ibu Kota dan beberapa kota besar lainnnya. Mereka tidak diizinkan lagi tinggal di komplek yang sama oleh warga karena dianggap dapat membawa virus yang akan menularkan penyakit. Bahkan ada perawat yang meninggal karena COVID-19 yang ditolak oleh masyarakat untuk dimakamkan di pemakaman umum. Masyarakat sangat ketakutan terhadap penularan terhadap keluarga mereka (Dai 2020). Stigma terhadap tenaga kesehatan maupun masyarakat harus diperbaiki. Perlu disampaikan bahwa penderita COVID-19 bukanlah orang melakukan perbuatan aib, sehingga tidak perlu dikucilkan apalagi dijauhi. Stigma negatif kepada para penderita positif COVID-19 haruslah dianulir dengan literasi kesehatan yang optimal dari berbagai pihak. Yang dibutuhkan oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat adalah dukungan dari semua pihak agar penderita COVID-19 bisa semangat untuk sembuh dan penanganan bisa maksimal (Abudi, Mokodompis, and Magulili 2020). 2 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 1 - 8 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien COVID-19 memiliki risiko yang tinggi, namun mereka tetap memiliki motivasi yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki motivasi yang baik dalam bekerja sebagai perawat dalam masa pandemi COVID-19 (Darma Yanti, Susiladewi, and Pradiksa 2020). 2. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi fenomenologi untuk mendapatkan gambaran tentang pengalaman yang dialami oleh perawat dalam memberikan asuhan keperaatan pasien dengan COVID19. Metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis tematik (thematic Analysis). Penelitian kualitatif dilakukan dengan berpedoman pada tiga tahap, yaitu: tahap intuiting, tahap analyzing dan tahap describing. Pada penelitian ini digunakan istilah partisipan. Penentuan unit sampel dianggap telah memadai apabila telah sampai kepada taraf “redundancy” (datanya telah jenuh dan sampel tidak lagi memberikan informasi yang baru), artinya bahwa dengan menggunakan partisipan selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti. Banyaknya partisipan pada penelitian ini berjumlah 13 orang partisipan. Partisipan pada penelitian ini dipilih dengan teknik consecutive sampling. Kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah: a) perawat yang pernah atau sedang bertugas memberikan asuhan keperawatan kepada pasien COVID 19.; b) mampu berkomunikasi verbal dengan baik dan jelas.; c)bersedia menjadi partisipan. Tehnik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan melakukan indeph interview kepada semua partisipan. Indeph interview dilakukan secara langsung. Hasil wawancara kemudian dilakukan analisis secara tematik. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menemukan 4 tema utama dan 11 sub tema. Tema-tema tersebut teridentifikasi untuk memberikan jawaban berdasarkan pada tujuan penelitian. a. Tema 1 : Perasaan perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien Covid 19 Mengawali penelitian ini maka perawat di berikan pertanyaan tentang perasaan yang dirasakan. Dari jawabab perawat ada perasaan positif dan negatif yang dirasakan oleh perawat ketika memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Tema tentang Perasaan perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien Covid 19 diperoleh 4 sub tema yaitu Bangga bermanfaat bagi sesama, Lebih empati kepada pasien, Kekompakan tim lebih terasa, Takut tertular Covid 19. Dalam sub tema tentang bangga bermanfaat bagi sesama didapatkan bahwa hampir seluruh perawat merasa bangga bisa bermanfaat. Hal ini tergambar dari ungkapan partisipan antara lain : “…bangga karena bisa berjuang bersama pasien Covid 19…” P2 “….bangga bisa bermanfaat, karena saat seperti ini kita sangat dibutuhkan” P6 Perawat juga mempunyai perasaan empati yang lebih ketika merawat pasien Covid 19. “ada perasaan empati yang beda, lebih terasa kalau merawat pasien Covid…” P4 “…jelas beda empatinya kalau merawat pasien Covid, lebih empati...” P8 3 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 1 - 8 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 Aspek kekompakan tim dalam memberikan pelayanan ke pasien Covid dirasakan lebih. Ungkapan tersebut tampak dalam beberapa pernyataan, yakni: “kekompakan tim beda, lebih kompak, tidak ada iri-irinan dalam menyelasaikan pekerjaan..” P7 “lebih terasa kompak dalam merawat pasien covid, karena kita kan harus menyelesaikan tugas dalam waktu singkat, jadi saling membantu” P2 Selama melakukan asuhan keperawatan terhadap pasien Covid 19 perawat juga mempunya perasaan takut tertular, karena meraka berinteraksi langsung dengan pasien Covid. “kalau rasa takut tentu ada, karena kita langsung berhubungan dengan pasien …”P9 “rasa takut, cemas ada. Apalagi kalau ada tim kita yang positif…”P10 Semua partisipan dalam penelitian menyatakan bahwa mereka bangga bisa berperan aktif dalam penanganan kasus Covid 19. Penelitian ini menunjukkan adanya perubahan psikologis perawat dalam memberikan pelayanan, diantaranya perasaan takut dan cemas tertular. Perawat sebagai tenaga kesehatan memiliki resiko tinggi dalam penularan. Perasaan ini diakibatkan karena adanya situasi yang tidak biasa, harus menjaga jarak dengan keluarga, kasus paparan covid yang terus meningkat dan teman sejawat yang ikut terpapar. Penelitian oleh Sukiman, et al (2020) menyatakan petugas kesehatan berhadapan dengan tantangan etis pandemic covid, yakni bekerja dalam kondisi sumber daya yang kurang memadai, sehingga bisa mempengaruhi onsisi psikologis, diantaranya adalah tekut dan cemas. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Kim (2018), menyatakan bahwa ketidakberdayaan psikologis, ancaman kesehatan pandemi dan kurangnya pengetahuan menyebabkan munculnya emosi negative seperti ketakutan dan kecemasan. b. Tema 2 : Hambatan yang ditemukan selama memberikan pelayanan kesehatan Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien Covid 19 juga merasakan ada hambatan yang dirasakan perawat, antara lain berkaitan dengan Alat Pelindung Diri (APD) dan beban kerja yang tinggi. Alat Pelindung Diri (APD) menjadi salah satu hambatan perawat dalam memberikan pelayanan. Beberapa ungkapan partisipan diantaranya: “memakai APD sangat panas, kacamata berembun, handschoon berlapis-lapis, saat pasang infus kurang fokus” P1 “APD berpengaruh dalam bertugas, apalagi jika rawat luka lama, kacamata berembun, napas jadi pendek, kadang-kadang hampir hipoksia” P12 Tingginya beban kerja perawat mempengaruhi kinerja, hal ini terjadi karena karena ratio perawat dan pasien masih terlalu tinggi. “jumlah pasien banyak, pernah sampai 30-an, kita hanya 3 orang yang bertugas, jadi berat” P3 “bebannya berat saat bertugas di abngsal covid, karena pasien banyak dan kita bertugas dalam 3 sampai 5 jam dan tugas harus dimaksimalkan selesai” P5 Adanya hambatan dalam pemakaian APD dalam melakukan pelayanan kesehatan. APD merupakan sumber daya penting dalam menghadapi pandemic. Menurut Kementrian Kesehatan RI (2020), standar Alat Pelindung Diri (APD) dalam manajemen penanganan Covid 19, meliputi masker bedah, respirator N95, pelindung mata, 4 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 1 - 8 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 pelindung wajah, sarung tangan pemeriksaan , sarung tangan bedah, gaun sekali pakai, heavy duty apron, sepatu boot anti air dan penutup sepatu. Perawat kurang nyaman dalam melakukan tindakan, seperti pemasangan infus, injeksi dan medikasi. Hal ini sejalan dengan penelitian Niuniu, et al (2020) dalam penelitiannya yang berjudul “A qualitative study psychological experience of caregiver of COVID 19 patients” yang menyatakan bahwa perawat merasakan kelelahan yang tinggi karena pekerjaan intens, jumlah pasien yang terus meningkat dan ketidaknyamanan dalam memakai APD. Penelitian oleh Sukiman , et al (2020) yang bertema pengalaman perawat dalam menagani pasien Covid di rumah sakit Jakarta juga menyatakan adanya keterbatasan fisik berupa penurunan lapang pandang dan keterbatasan gerak dalam bertugas. Penelitian ini juga menyebutkan bahwa pemakaian APD menyulitkan perawat dalam melakukan prosedur tindakan. c. Tema 3 : Dukungan yang diperoleh selama memberikan pelayanan Perawat yang bertugas memberikan asuhan keperawatan kepada pasien Covid 19 merasa memperoleh dukungan baik materiil maupun non materiil. Dukungan materiil yang diperoleh yaitu peningkatan kesejahteraan dan peningkatan imunitas. Dukungan untuk meningkatkan kesejahteraan tim tenaga kesehatan diantaranya adalah insentif dari pemerintah. “kita dapat insentif dari pemerintah…Alhamdulillah” P4 “ada tambahan dari pemerintah” P10 Selain dukungan dari pemerintah, pihak rumah sakit memberikan dukungan untuk meningkatkan imunitas tenaga kesehatan, berupa vitamin dan extra fooding. “kita dapat vitamin dari rumah sakit” P5 “dari rumah sakit juga memberikan extra fooding, tinggi protein pastinya, telur dll” P6 Dukungan non materiil yang didapatkan perawat antara lain Support system dari atasan dan tim, support system dari keluarga, serta pengakuan dari organisasi profesi. “dari kepala ruang ikut turun ke pasien, pakai hazmat, ikut medikasi, injeksi, jadi kita jadi semangat” P11 “keluarga sangat mendukung, karena sudah tahu tugas sebagai tenaga kesehatan” P3 “kita dapat surat keterangan dan sertifikat kalau kita bertugas di bangsal covid, nilainya 5 SKP. Lumayan untuk mengurus STR” P8 Dalam penelitian ini partisipan menyatakan bahwa banyak dukungan yang diperoleh, yakni materiil dan non materiil. Mereka mengungkapkan bahwa selama bertugas di bangsal covid, kesejahteraan meningkat, berupa finansial (insentif), adanya makanan tambahan, extra libur, vitamin dan dukungan moril baik dari keluarga, atasan maupun tin kesehatan lain. Menurut Khalid, et al (2016), imbalan fisik dan mental untuk perawat merupakan faktor pendukung penting dalam menjalankan tugas. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Niuniu, et al (2020) tentangpengalaman psikologis perawat dalam menangani pasien Covid 19, yang menyatakan bahwa rumah sakit harus memiliki system penghargaan dan kesejahteraan untuk mendukung dan memotivasi perawat. Sejalan juga dengan penelitian Yona dan Nursasi (2008) yang menyatakan bahwa faktor eksternal yang mendukung perawat semangat 5 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 1 - 8 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 “awal-awal bertugas saya mengurangi aktivitas di masyarakat, lebih menjaga saja, takut menulari yang lain” P9 Harapan tenaga kesehatan terkait dengan jam kerja di bangsal covid, dimana dibedakan dengan bangsal non covid. Pernyataan tersebut muncul pada beberapa partisipan, diantaranya: “kalau bisa shiftnya jangan sama dengan bangsal lain, sebaiknya kembali seperti dulu, pagi siang malam libur libur. Jadi stamina terjaga dengan baik” P10 “shiftnya kembali seperti dulu, jangan sama seperti bangsal lain, kasihan” P12 Pada tema ke-empat, harapan perawat selama menangai pasien covid adalah pandemic segera berakhir, tidak adanya stigma dan pelaksanaan shift berbeda dengan bangsal lain. Dalam penelitian ini semua partisipan mengungkapkan bahwa mereka berharap pandemic segera berakhir, pasien segera sembuh sehingga tenaga kesehatan tidak perlu memakai APD yang terlalu ketat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yona dan Nursasi (2008) fenomenologi tentang pengalaman perwat menangani pasien dengan Avian Influenza, menyatakan bahwa mereka memiliki pengalaman yang luar biasa selama merawat pasien jika pasien dinyatakan sembuh dan bisa berkumpul kemabli dengan keluarga. melakukan tugasnya adalah dukungan dari instansi, seperti adanya reward berupa uang, tambahan makanan serta vitamin untuk menunjang stamina perawat selama bertugas. Dalam penelitian Astuti dan Suyanto (2020) tentang implikasi manajemen keperawatan dalam penanganan Covid 19, menyebutkan bahwa bentuk dukungan psikologis sesama tim kesehatan mempengaruhi psikologis perawat. Bentuk nyata dukungan tersebut berupa monitor kondisi staf saat bertugas, memberi support, adanya komunikasi yang berkualitas terhadap informasi terbaru bagi semua staf. hal inijuga sesuai dengan hasil temuan bahwa perlu adanya dukungan yang responsive dari organisasi profesi dalam bentuk pengakuan kinerja. d. Tema 4 : Harapan perawat dalam menunjang tugasnya Harapan selama menangani pasien dengan COVID-19 berdasarkan hasil wawancara dengan partisipan didapatkan 3 sub-tema yaitu pandemi segera berakhir, tidak ada stigma terhadap perawat dan pasien, serta Shift berbeda dengan ruang perawatan lain. Harapan utama semua partisipan adalah pandemi segera berakhir. “harapan saya pandemic segera berakhir, bekerja seperti sedia kala, tidak perlu pakai hazmat, ribet” P3 “semoga pandemic segera berakhir, kehidupan normal kembali, tidak parno berlebihan” P6 Adanya stigma di masyarakat mempengaruhi aktivitas. Hal tersebut diungkapkan oleh beberapa partisipan, diantaranya: “karena saya tinggal di kost2an, dan tahu kalau saya bertugas di bangsal covid, temen-temen agak menjaga jarak. Dari bapak kost dan pak RT minta hasil lab, positif atau negative” P2 4. PENUTUP 4.1. Simpulan Penelitian ini memberikan gambaran yang koprehensif dan mendalam tentang pengalaman perawat dalam menangani pasien Covid 19. Gambaran pengalaman tersebut tergambar dalam 4 tema, yakni perasaan perawat selama 6 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 1 - 8 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 memberikan pelayanan kesehatan, hambatan yang ditemukan selama menangani pasien, bentuk dukungan yang diperoleh dan harapan perawat terkait pelayanan kesehatan terhadap pasien Covid 19. 4.2. Saran Manajemen hendaknya mengatur penjadwalan yang baik untuk menjaga status kesehatan perawat namun juga sesuai dengan aturan yang berlaku. Masyarakat hendaknya mematuhi protokol kesehatan agar pandemic ini segera berakhir. Selain itu masyarakat hendaknya juga tidak memberikan stigma kepada penderita COVID 19 maupun tenaga kesehatan yang bertugas memberikan pelayanan kepada pasien. 5. DAFTAR PUSTAKA Abudi, Ramly, Yasir Mokodompis, and Allika Nurfadias Magulili. 2020. “Stigma Terhadap Orang Positif Covid-19.” Jambura Journal of Health Sciences and Research 2(2): 77–84. Anindya, I., & Tomhisa, A. R. (2020). Risiko Gejala Somatik Pada Pengguna Media Sosial Yang Terpapar Informasi Seputar Covid19. COVID-19 Dalam Ragam Tinjauan Perspektif. (D. H. Santoso & A. Santoso, Eds.). MBridge Press. Astuti, J.T & Suyanto. (2020). Implikasi Manajemen Keperawatan dalam Penanganan Pasien Corona Virus Disease-19 : Literature Review. Journal of Clinical Medicine. Med Hosp2020, vo. 7 (1A): 288-297 Christian, S. L. (2020). Fenomena Kecemasan Mas Yarakat Indonesia Atas Pandemi Korona Dalam Absurditas Menurut Albert Camus. COVID-19 Dalam Ragam Tinjauan Perspektif. (D. H. Santoso & A. Santoso, Eds.). MBridge Press. Dai, Nilam Fitriani. 2020. “Stigma Masyarakat Terhadap Pandemi Covid-19.” Prodi Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Timur: 66–73. Darma Yanti, Ni Putu Emy, Ida Ayu Made Vera Susiladewi, and Hary Pradiksa. 2020. “Gambaran Motivasi Bekerja Perawat Dalam Masa Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) Di Bali.” Coping: Community of Publishing in Nursing 8(2): 155. Dewi, Ellyvon. 2020. “Kematian Tenaga Medis Indonesia Akibat Covid-19 Tertinggi Di Asia, Kenapa?” https://www.kompas.com. E, Selina Alta, Widjasena Baju, and Ida Wahyuni. 2020. “Studi Literatur Terkait Analisis Perilaku Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pada Tenaga Kesehatan Saat Wabah Pandemi Corona Virus (Covid-19.” Jurnal Ilmiah Mahasiswa 3(2252): 58–66. http://www.tjyybjb.ac.cn/CN/article/ downloadArticleFile.do?attachType= PDF&id=9987. Halcomb, Elizabeth et al. 2020. “The Experiences of Primary Healthcare Nurses During the COVID-19 Pandemic in Australia.” Journal of Nursing Scholarship 52(5): 553–63. Kemenkes. (2020). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/328/2020 Tentang Panduan Pencegahan Dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Di Tempat Kerja. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2019, 1–207. Khalid I, Khalid TJ, Qobajah MR. (2016). Healthcare Worker Emotions, Perceived Stressors and Coping Strategies During a MERS-CoV Outbreak. Clin Med Res.p7-14 Kim Y. (2018). Nurses's Experience of Care for Patients with Middle East Respiratory syndrome-Coronavirus in South Korea. Am J Infect Control. 781-7 Korsman, S.N.J., van Zyl, G.U., Nutt, L., Andersson, M.I, Presier, W. (2012). 7 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 1 - 8 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 Virology. China: Churchill Livingston Elsevier. Pemerintah Republik Indonesia. (2014). UU No. 38 tentang Keperawatan, 1– 32. Rahayu, S. 2020. COVID 19: The Nightmare Or Rainbow. Jakarta: Mata Aksara. Rajasa, R. M. (2020). Corona Dan Upaya Pencegahannya. COVID-19 Dalam Ragam Tinjauan Perspektif. (D. H. Santoso & A. Santoso, Eds.). MBridge Press. Rinaldi, M. R., & Yuniasanti, R. (2020). Kecemasan Pada Masyarakat Saat Masa Pandemi Covid-19 Di Indonesia. COVID-19 Dalam Ragam Tinjauan Perspektif. (D. H. Santoso & A. Santoso, Eds.). MBridge Press. Sukiman, Waluyo, A & Irawati, D. (2020). Studi Fenomenlogi: Pengalaman Perawat dalam Menangani Pesien dengan Covid-19 di Rumah Sakiy di Jakarta. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. Vol. 12 Nomor Khusus Jnauari 2021. p.141147.DOI:http://dx.doi.org/10.33846/s f12nk126 Wang, Z., Qiang, W., Ke, H. (2020). A Handbook of 2019-nCoV Pneumonia Control and Prevention. China: Hubei Science and Technologi Press. Weiss SR, N.-M. S. (n.d.). Coronavirus pathogenesis and the emerging pathogens se- vere acute respiratory syndrome coronavirus. Microbiol. Mol.Biol. WHO. 2020. “Coronavirus Disease (COVID 19).” https://www.who.int/emergencies/dis eases/novel-coronavirus-2019. Yona S & Nursasi AY. (2008). Analisis Fenomenologi Pengalaman Perawat dalam Memberikan Asuhan Keperawatan pasien dengan Avian Influenza. Jurnal Keperawatan Indonesia.12(1): 1-6 8