Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. December 2025 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Program Kaligrafi dalam Membangun Jiwa Gotong Royong Sebagai Penerapan P5 Kurikulum Merdeka di SD Negeri 79 Kota Bengkulu Adel Febrianti1. Meisi Dwi Wulandari2. Niken Aprilia Azhari3. Ola Anjani4 UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu adelfebrianti098@gmail. meisidwiwulandari@gmail. nikenapriliaazhari@gmail. ollaanjani24@gmail. Abstract The purpose of this study is to describe the implementation of P5 Gotong Royong activities in learning Islamic Religious Education. The method used is descriptive qualitative. Based on the findings at SDN 79 Bengkulu City, the researcher concluded that Calligraphy activities are considered appropriate to improve students' mutual cooperation spirit in accordance with Islamic teachings and foster love for the Qur'an. This is because planting activities will increase students' awareness of the importance of loving Allah's Verses. The P5 project on the mutual cooperation dimension through the Calligraphy making project that has been implemented at SDN 79 Bengkulu City is relevant to the objectives of the P5 content in the achievements of the P5 project It can be seen from the observation that students are happy because they can work together, help each other, share opinions in carrying out this P5 Calligraphy learning activity. From the documentation obtained, it shows that the implementation of P5 learning on the mutual cooperation dimension in the Calligraphy project is in accordance with the objectives of P5 learning itself. The achievement of P5 learning on the mutual cooperation dimension is very good as seen from the results of the reflection carried out by the teacher at the end of learning. Most students are happy with this P5 learning because they can work together, share, and help each So the dimension of mutual cooperation has been considered successful. Keywords: motivation. How to cite this article: Febrianti. Wulandari. Azhari. Azhari. Anjani. Program Kaligrafi dalam Membangun Jiwa Gotong Royong Sebagai Penerapan P5 Kurikulum Merdeka di SD Negeri 79 Kota Bengkulu. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10. , 197-204. Received: 7/12/2025 Revised: 10/10/2025 Accepted: 10/30/2025 198 | Adel Febrianti1. Meisi Dwi Wulandari2. Niken Aprilia Azhari3. Ola Anjani4 PENDAHULUAN Pendidikan tidak terlepas dari kegiatan belajar dimana merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu keinginannya. Pada saat proses belajar mengajar di sekolah, setiap siswa tentu berharap akan dapat mencapai prestasi yang baik dan memuaskan sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai setelah melalui proses kegiatan belajar mengajar. Proses pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa di sekolah menunjukkan keberhasilan siswa dalam proses belajar. Prestasi belajar dapat ditunjukkan melalui nilai yang diberikan oleh seorang guru dari jumlah bidang studi yang telah dipelajari oleh peserta didik. Setiap kegiatan pembelajaran siswa tentunya selalu mengharapkan menghasilkan pembelajaran yang maksimal dengan memperoleh prestasi yang baik (Putri et al. , 2. Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan suatu proses pengajaran dan pengembangan potensi dasar manusia dengan nilai-nilai keislaman melalui perkataan, perbuatan maupun pikirannya untuk kepentingan di dunia maupun di akhirat. Selain itu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu pelajaran yang berisi tentang pengetahuan mengenai Islam yang meliputi tata cara sholat, puasa, zakat dan sebagainya yang bersumber pada Al-QurAoan dan As-Sunnah serta ijtihad para ulama yang menjelaskan bagaimana cara sholat yang baik, puasa dengan niat ikhlas dan sebagainya. Tujuan utama mempelajari Pendidikan Agama Islam adalah memelihara dan mengembangkan sumber daya manusia dan alam sekitar menuju terbentuknya manusia seutuhnya sesuai dengan standar islam (Ajeng Linda Liswandari, 2. Semakin berkembangnya zaman, semakin pula perkembangan teknologi. Banyak sekali perubahan serta tantangan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari terutama dibidang pendidikan. Oleh karenanya, diharapkan jika generasi pelajar Indonesia bisa mencapai prestasi serta produktivitas yang tinggi dalam era saat ini. Mereka diharapkan bisa aktif berperan serta dalam upaya pembangunan global yang berkelanjutan serta memiliki ketangguhan dalam menghadapi segala tantangan. Selain itu, penting bagi pelajar Indonesia untuk memperoleh kompetensi dasar serta memperlihatkan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Permendikbud No 22 Tahun 2022 mewujudkan Indonesia maju dengan pelajar yang berdaulat, mandiri, dan memiliki kepribadian Pancasila (Riyadi et al. , 2. Kurikulum merdeka menjadi jalan keluar dalam menjawab tantangan pendidikan. Terbentuknya kurikulum tersebut merupakan kemerdekaan dalam berfikir. Kemerdekaan berpikir ditentukan oleh pendidik. Artinya pendidik menjadi tonggak utama dalam menjunjung keberhasilan pendidikan. Strategi pendidikan Merdeka Belajar merupakan grand design pendidikan nasional yang bertujuan untuk perubahan secara esensial dalam mengakselerasi lahirnya SDM Indonesia unggul, berkarakter, cerdas, dan berdaya saing. Kurikulum merdeka ini dilaksanakan untuk mewujudkan pengembangan kualitas karakter pelajar melalui Profil Pelajar Pancasila. Capaian ini diyakini bisa berdampak pada kerjasama, kolaborasi, kepedulian, dan berbagi yang baik apabila diterapkan secara Karakteristik Profil Pelajar merujuk kepada spirit pelajar sepanjang hayat. Karakteristik tersebut adalah karakteristik yang mengarah kepada kompetensi. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 197-204 | 199 berkarakter dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Hal ini searah dengan pandangan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan tidak terlepas dari nilai karakter, fisik dan mental pelajar yang kelak akan menjadi bagian dari warga negara (Kharisma et al. , 2. Transformasi dunia pendidikan merupakan hal yang akan selalu terjadi seiring dengan berkembangnya zaman. Hadirnya Kurikulum Merdeka, menuntut guru untuk terus belajar dan mengembangkan diri demi kualitas sebuah pendidikan. Dalam Kurikulum Merdeka guru harus kreatif mengemas dan mengembangkan sebuah pembelajaran yang benarbenar bermakna bagi murid. Muatan pembelajaran P5 (Penguatan Project Profil Pelajar Pancasil. merupakan muatan wajib pada kurikulum merdeka. Sekolah diberikan kebebasan secara luas untuk menentukan dan mengembangkan kegiatan pembelajaran P5 sesuai tema yang sudah disajikan pada masing-masing fase (Fitriani et al. , 2. Profil pelajar Pancasila memiliki tujuan akhir yaitu menciptakan SDM unggul dengan melaksanakan pelajar sepanjang hayat yang mempunyai keterampilan global dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang terkadung dalam Pancasila. Sejalan dengan pendapat Fauziah dalam (Amalia & Indrakurniawan, 2. menjelaskan bahwa dalam setiap pembelajaran pada kurikulum merdeka terdapat salah satu elemen yang sangat penting untuk dilaksanakan yaitu profil pelajar Pancasila. Pelaksanaan profil pelajar Pancasila ini diharapkan dapat membantu siswa dalam membentuk karakter yang sesuai dengan Pancasila. Menteri pendidikan Nadiem Anwar Makarim sudah menetapkan bahwa terdapat 6 dimensi utama dari profil pelajar Pancasila yaitu . beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia . berkebhinekaan global . bergotong royong . bernalar kritis . Pelatihan dan penguatan karakter gotong royong peserta didik dapat diwujudkan melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5 yang terintegrasi dalam kurikulum Merdeka. P5 adalah upaya untuk mewujudkan peserta didik berkarakter sesuai dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila atau disebut juga dengan Profil Pelajar Pancasila. Tema kegiatan pada P5 beranekaragam dan berubah-ubah setiap tahun, karena disesuaikan dengan isu-isu permasalahan terkini yang sedang terjadi di Kemendikbud-Dikti pada tahun ajaran 2021/2022 mengembangkan tujuh tema berdasarkan pada isu-isu prioritas dalam peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035. Tema-tema utama proyek penguatan profi pelajar Pancasila yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan adalah sebagai berikut: kearifan lokal, bhineka tunggal ika, gaya hidup berkelanjutan, kewirausahaan, bangunlah jiwa raganya, suara demokrasi, berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI (Laily et al. , 2. Enam dimensi karakter yang membentuk Profil Siswa Pancasila adalah sebagai berikut: keimanan, ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, kerjasama, keberagaman dunia, berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Segala bentuk pembelajaran berbasis sekolah, termasuk pengajaran di dalam kelas, proyek kolaborasi di luar kelas, dan kegiatan ekstrakurikuler, berkontribusi terhadap pengembangan Profil pelajar Pancasila. Meskipun 20-30% waktu kelas dikhususkan untuk kegiatan ekstrakurikuler, 70-80% waktu kelas dikhususkan untuk pembelajaran sesuai kurikulum. Untuk meningkatkan Profil pelajar Pancasila dan soft skill, kurikulum merdeka memiliki perbedaan terutama karena memasukkan pembelajaran ko-kurikuler berbasis proyek. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 200 | Adel Febrianti1. Meisi Dwi Wulandari2. Niken Aprilia Azhari3. Ola Anjani4 Proyek Penguatan Profil pelajar Pancasila (P. adalah sebutan untuk pembelajaran ini (Ibrahim et al. , 2. Gotong Royong merupakan bentuk kerjasama baik secara individu, individu maupun kelompok untuk memecahkan masalah kepentingan bersama. Sesuai dengan tujuan Mendikbud, gotong royong merupakan salah satu upaya peningkatan karakter di sekolah. Elemen-elemen dalam profil pelajar pancasila melalui dimensi gotong royong ialah kepedulian, kolaborasi dan berbagi. Pendidikan karakter mengutamakan pentingnya tiga aspek karakter yang baik, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perbuatan Hal ini di haruskan agar pelajar mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan (Okpatrioka et al. , 2. Projek penguatan profil Pelajar Pencasila (P. bertema kewirausahaan untuk SD merupakan inisiatif penting yang bertujuan untuk mengenalkan konsep dasar kewirausahaan sejak dini. Melalui proyek ini, siswa belajar mengembangkan pemahaman tentang nilai-nilai inti kewirausahaan, seperti kreativitas, inovasi, kerja keras, tanggung jawab, dan kemampuan mengatasi tantangan. Konteks projek ini mungkin berasal dari pengamatan bahwa pendidikan kewirausahaan sejak usia dini dapat membantu mempersiapkan siswa menghadapi tantangan global di masa depan. Selain itu, projek ini juga bertujuan untuk mendorong pemikiran kritis dan kemandirian dalam mencari solusi serta menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Kelas IV dipilih sebagai target penerapan proyek ini karena pada tingkat ini, siswa telah mencapai usia yang memungkinkan mereka untuk lebih memahami konsep-konsep abstrak, termasuk nilainilai Pancasila. Selain itu, di usia ini, anak-anak mulai menunjukkan minat terhadap lingkungan sekitar dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan yang melibatkan pemikiran kreatif (Imania & Suprayitno, 2. Salah satu aspek terpenting dalam kurikulum Merdeka adalah P5, dimana siswa diberi kesempatan menggali dan menyempurnakan karakter gotong royong siswa secara lebih Dalam konteks penerapan P5 di SDN 79 Kota Bengkulu, topik yang diangkat adalah Gaya Hidup Berkelanjutan dengan penerapan Kaligrafi. Pada topik ini topik yang diajarkan kepada siswa tentang dasar-dasar menjadi seorang yang mempunyai kepedulian terhadap Ayat Al-QurAoan. Mereka belajar tentang konsep gaya hidup berkelanjutan terkonsep termasuk perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Selain itu, mereka juga diberi kesempatan untuk menerapkan konsep-konsep ini dalam proyekproyek praktis, seperti menanam dan merawat tanaman serta memberikan pengalaman praktis berharga dan membantu mereka memahami konsep Kaligrafi secara lebih METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan metode dengan pendekatan naturalistik yang menunjukkan bahwa pelaksanaan penelitian terjadi secara alamiah, apa adanya, dalam situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya, menekankan pada deskripsi secara alami. Pengambilan data atau penjaringan fenomena dilakukan dari keadaan yang sewajarnya yang dikenal dengan sebutan pengambilan secara alami dan natural. Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah dengan teknik observasi, wawancara, trianggulasi, dan dokumentasi (Anggraini, 2. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 197-204 | 201 Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 79 Kota Bengkulu. Sumber data yang peneliti gunakan adalah primer dari kepala sekolah, guru PAI dan siswa kemudian sumber data sekunder didukung dengan teori-teori terdahulu. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian di SDN 79 Kota Bengkulu, diketahui bahwa Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. tidak bisa dilakukan secara individu, semua tema pasti melakukannya secara bergotong royong. Karena unsur gotong royong dalam kegiatan tersebut sangat erat sekali. Gotong royong menjadi karakter penting dalam proyek ini karena dapat membantu pelajar untuk mengembangkan sikap saling membantu dan peduli terhadap sesama serta memperkuat asas kebersamaan dalam melakukan aktivitas. Pada saat proses Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. berlangsung pelajar bekerja sama bagaimana harus bisa melakukanya secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama. Karena kegiatan tersebut dijadikan ajang kompetisi oleh pihak sekolah. Perilaku gotong royong dapat membantu peserta didik dalam menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain serta memiliki respon yang baik dalam mengendalikan Dapat disimpulkan bahwa gotong royong merupakan sikap kerja sama dan tolong menolong antar sesama, apabila suatu kegiatan jika dikerjakan bersama akan terasa ringan dan cepat selesai. Akan tetapi, perkembangan teknologi yang semakin pesat dapat mempengaruhi karakter dan pola hidup siswa serta memberikan dampak yang buruk bagi siswa seperti memunculkan sifat individual, kurang peduli akan lingkungan sekitarnya, melanggar peraturan sekolah, serta lalai dengan tanggung jawabnya sebagai siswa bahkan tidak menyukai tulisan Allah (Al-QurAoa. Perkembangan teknologi yang semakin canggih dapat mengakibatkan banyak hal yang tidak baik seperti bullying, individualisme, tidak memiliki tanggung jawab, suka berbohong, kurang disiplin, serta sulit untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Jika hal tersebut diabaikan, generasi muda akan mempunyai sifat individualisme yang kuat dan akan menghilangkan semangat gotong royong di lingkungan masyarakat. Agar proyek berhasil, satuan pendidikan dalam hal ini SDN 79 Kota Bengkulu membentuk tim dan proses pengumpulan komponen proyek melibatkan banyak pemangku kepentingan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan atau anggota masyarakat di sekitar. Misi sekolah adalah menanamkan minat berwirausaha pada peserta didik, melalui tema kewirausahaan dalam proyek yang akan menambah karakter Pancasila peserta didik yang disingkat P5 berfokus pada gotong royong. Hal ini karena guru mengambil alih fasilitator yang mendorong peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif sesuai keinginannya, meningkatkan motivasi berpartisipasi dalam pembelajaran langsung atau personal, berkreasi, berkolaborasi, dan mengekspresikan diri sehingga menghasilkan suatu ide dan dampaknya terhadap diri dan lingkungannya. Selain itu. Indonesia maju yang berkepribadian, mandiri, dan berdaulat. Upaya meningkatkan popularitas pelajar Pancasila berhasil menginspirasi pola pikir wirausaha dan meningkatkan kemampuan siswa. Berdasarkan temuan di SDN 79 Kota Bengkulu, kegiatan Kaligrafi dirasa tepat untuk meningkatkan jiwa gotong royong siswa sesuai dengan ajaran Islam dan menumbuhkan This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 202 | Adel Febrianti1. Meisi Dwi Wulandari2. Niken Aprilia Azhari3. Ola Anjani4 cinta Al-QurAoan. Hal ini karena dengan kegiatan menanam tanaman akan meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya mencintai Ayat Allah. Proyek P5 terhadap dimensi gotong royong melalui proyek pembuatan Kaligrafi yang telah diimplementasikan di SDN 79 Kota Bengkulu relevan dengan tujuan muatan P5 yang ada dalam capaian kegiatan project P5. Dimensi gotong royong memiliki 3 elemen yaitu kolaborasi, elemen kepedulian, dan elemen berbagi. Pada elemen kolaborasi terdapat 3 sub elemen yaitu kerjasama, komunikasi untuk mencapai tujuan bersama, dan saling ketergantungan Dalam kegiatan implementasi P5 Kaligrafi terhadap dimensi gotong royong di SDN 79 Kota Bengkulu ini terlihat adalanya sub elemen kolaborasi sesama murid, adanya kepeduian sesama murid, dan juga muncul adanya sikap berbagi ide/gagasan di dalam kelompok masing-masing. Sebelum memulai kegiatan P5, masing-masing kelompok melakukan pembagian tugas terhadap apa yang menjadi tanggung jawab masing-masing baik sebelum maupun pada saat kegiatan pembelajaran P5 berlangsung. Yakni guru PAI P5 membagi siswa dalam membuat Kaligrafi dengan nama-nama Allah (AsmaAoul Husn. Terlihat seluruh siswa dalam masing-masing kelompok antusias dan mendengarkan intruksi guru saat menjelaskan proyek yang akan dilaksanakan. Kemudian dalam pelaksanaan peserta didik saling bekerjasama dalam kelompoknya untuk membuat kaligrafi seperti Ar-Rahman. Ar-Rahim. Al-Malik dan lain seterusnya. Terlihat ada yang semangat menanam secara bersama yang dilaksanakan oleh peserta Beberapa siswa juga aktif bertanya mengenai arti nama-nama Allah yang belum mereka pahami. Interaksi anggota kelompok juga terlihat kompak. Dari hasil pengamatan ini diperoleh hasil bahwa seluruh anak dalam kelompoknya saling bergotong-royong, bekerjasama, dan berbagi tugas sehingga menyelesaikan biopori pada titik lokasi yang menjadi tugas kelompok tersebut. Terlihat pada observasi peserta didik senang karena mereka dapat saling bekerjasama, saling membantu, berbagi pendapat dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran P5 Kaligrafi ini. Dari dokumentasi yang diperoleh, menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran P5 terhadap dimensi gotong-royong pada proyek Kaligrafi sesuai dengan apa yang menjadi tujuan pembelajaran P5 itu sendiri. Capaan pembelajaran P5 pada dimensi gotong-royong sangat baik terlihat dari hasil refleksi yang dilakukan guru di akhir pembelajaran. Sebagian besar siswa senang dengan pembelajaran P5 ini karena dapat saling bekerjasama, berbagi, dan saling membantu. Sehingga dimensi gotong royong sudah tergolong berhasil. Sejalan dengan penelitian (Waryatun et al. , 2. Program P5 di SMP Negeri 10 Kota Serang berperan penting dalam membentuk karakter gotong royong peserta didik dengan mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek. Siswa tidak hanya belajar konsep akademis, tetapi juga dilatih untuk berkolaborasi, berkomunikasi, dan berkontribusi aktif dalam kelompok. Melalui proyek-proyek kolaboratif, siswa meningkatkan sikap gotong royong, saling membantu dalam menyelesaikan tugas, serta mengembangkan keterampilan sosial seperti negosiasi dan penyelesaian konflik. memperkuat ikatan sosial di sekolah, menciptakan kebersamaan, dan menumbuhkan semangat solidaritas. Dampaknya diharapkan tidak hanya positif di sekolah, tetapi juga di masyarakat, membentuk generasi yang peduli dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 197-204 | 203 Dengan implementasi yang konsisten. P5 dapat menjadi model untuk pendidikan karakter di Indonesia, memupuk nilai-nilai gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Terlihat siswa bersama-sama mengerjakan projek yang dapat membangun rasa gotong royong siswa karena perilaku ini sangat penting. Dengan adanya kerja sama tercipta kegiatan P5 yang efektif dan berhasil dalam mengembangkan karakter pelajar yang berkualitas dan memiliki nilai-nilai Pancasila, termasuk gotong royong. Dalam kegiatan proyek penguatan profil pelajar Pancasila, guru PAI memiliki peran yang penting dalam membantu pelajar mengembangkan karakter dan kompetensi yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Guru PAI dapat membantu pelajar dalam memahami nilai-nilai Pancasila, mengembangkan ide dan memilih topik proyek yang sesuai dengan kebutuhan dan minat pelajar, serta membimbing pelajar dalam mengembangkan keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan proyek penguatan profil pelajar pancasila. Selain itu, guru PAI SDN 79 Kota Bengkulu juga dapat memberikan pengawasan dan arahan pada pelajar dalam pencapaian proyek serta memberikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu pelajar dalam mengembangkan proyek dengan lebih baik. KESIMPULAN Berdasarkan temuan di SDN 79 Kota Bengkulu, peneliti menyimpulkan bahwa kegiatan Kaligrafi dirasa tepat untuk meningkatkan jiwa gotong royong siswa sesuai dengan ajaran Islam dan menumbuhkan cinta Al-QurAoan. Hal ini karena dengan kegiatan menanam tanaman akan meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya mencintai Ayat Allah. Proyek P5 terhadap dimensi gotong royong melalui proyek pembuatan Kaligrafi yang telah diimplementasikan di SD Negeri 4 Bengkulu Selatan relevan dengan tujuan muatan P5 yang ada dalam capaian kegiatan project P5. Terlihat pada observasi peserta didik senang karena mereka dapat saling bekerjasama, saling membantu, berbagi pendapat dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran P5 Kaligrafi ini. Dari dokumentasi yang diperoleh, menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran P5 terhadap dimensi gotong-royong pada proyek Kaligrafi sesuai dengan apa yang menjadi tujuan pembelajaran P5 itu sendiri. Capaan pembelajaran P5 pada dimensi gotong-royong sangat baik terlihat dari hasil refleksi yang dilakukan guru di akhir pembelajaran. Sehingga dimensi gotong royong sudah tergolong berhasil. DAFTAR PUSTAKA