ARUMBAE: JURNAL ILMIAH TEOLOGI DAN STUDI AGAMA Available online at: http://ojs. id/index. php/arumbae E-ISSN: 2715-775X Vol. No. 1 (Juni, 2. : 164-179 DOI: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Menggereja Bersama Pemulung Gresela Maimina,1* Defi Stenly Nenkeula,2 Margie Maatoke,3 Veronike Mailao. Fakultas Teologi. Universitas Kristen Indonesia Maluku, *Corresponding Author Email: marselamaimina@gmail. Submitted: 30-05-2024 Accepted: 25-06-2024 Published: 30-06-2024 Abstract This research aims to analyze the reality of the lives of scavengers, the problem of poverty that holds them hostage, and the role of the church in empowering scavengers. The scavenger profession is carried out due to the acute poverty problem experienced by urban communities. Scavengers work by picking up rubbish, such as aqua glass, bottles, iron, and various other rubbish that can be sold, to meet economic needs. Scavengers are always viewed negatively as poor people and often receive discrimination from society in general. Using qualitative research methods, this research conducted observations and in-depth interviews with scavengers to reveal the realities and life experiences of Next, descriptive analysis was carried out to show the role and involvement of the church in empowering scavengers. This article finds that the presence of the church today is no longer just a ritual presence, but a presence that empowers people to face various social problems, such as poverty experienced by scavengers. This research offers a concept of churching with scavengers which emphasizes the church's mission to empower scavengers in facing the problem of poverty that binds them. Keywords: Scavengers. Poverty. Church mission. Empowerment Services. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis realitas kehidupan pemulung, persoalan kemiskinan yang menyandera mereka, dan peran gereja dalam memberdayakan para pemulung. Profesi pemulung dilakukan akibat masalah kemiskinan akut yang dialami masyarakat perkotaan. Pemulung bekerja dengan memungut sampah-sampah, seperti gelas aqua, botol, besi, dan berbagai sampah lainya yang bisa dijual, untuk memenuhi kebutuhan perekonomian. Pemulung selalu dipandang negative sebagai orangAeorang miskin dan tidak jarang mendapat perlakuan diskriminasi dari masyarakat umumnya. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini melakukan observasi dan wawancara mendalam dengan para pemulung untuk mengungkap realitas dan pengalaman hidup pemulung. Selanjutnya, analisis deskriptif dilakukan untuk menunjukkan peran dan keterlibatan gereja dalam memberdayakan pemulung. Artikel ini menemukan bahwa kehadiran gereja di masa kini tidak lagi sebatas sebuah kehadiran ritual, tetapi suatu kehadiran yang memberdayakan umat untuk menghadapi berbagai persoalan sosial, seperti kemiskinan yang dialami para pemulung. Penelitian ini menawarkan sebuah konsep menggereja bersama pemulung yang menegaskan misi gereja untuk memberdayakan pemulung dalam menghadapi persoalan kemiskinan yang membelenggu. Kata-kata Kunci: Pemulung. Kemiskinan. Misi Gereja: Pelayanan Pemberdayaan. @ Copyright: Authors 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Generic License Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. PENDAHULUAN Gustavo Gutierez, seorang teolog pembebasan dari Amerika Latin, mengungkapkan bahwa Allah dalam Alkitab adalah pembela bagi orang miskin. Allah masuk di dalam hubungan kasih, solidaritas, dan komitmen dengan semua orang tanpa terkecuali. 1 Isu tentang kemiskinan telah menjadi persoalan bagi dunia. Isu ini melekat secara kuat di dalam misi Yesus ketika Ia berada di dunia. Di dalam pengjaran Yesus yang terkenal dengan khotbah di bukit. Yesus mulai dengan seruan bagi orang miskin (Luk. 6:20-. Oleh karena itu, perhatian gereja bagi orang miskin adalah upaya meneruskan apa yang sudah dinyatakan oleh Yesus sendiri. Paus Fransiskus pada peringatan hari orang miskin sedunia ketujuh tahun 2023, mengungkapkan bahwa luapan sungai kemiskinan yang tidak bisa terhindarkan di kota-kota membuat kita dihantam oleh menggunungnya seruan mohon bantuan, dukungan, dan solidaritas dari saudara-saudara kita. Persoalan tentang kemiskinan memang menjadi sebuah masalah bersama semua manusia di dunia melintasi batas-batas suku dan agama. Kemiskinan masih menjadi persoalan serius terutama di Maluku,. Provinsi Maluku masih menduduki ranking empat provinsi termiskin di Indonesia dengan penduduk miskin sebesar 16. 42 % pada rilis data Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku Juli, 2023. 3 Berbagai kajian mengenai persoalan kemiskinan di Maluku telah dilakukan dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Kemiskinan di Maluku dipandang sebagai kemiskinan struktural dan absolut, yang melanda mayoritas masyarakat Maluku. 4 Di tengah realitas kemiskinan masyarakat, penelitian lain menyerukan suatu perspektif pelayanan diakonial gereja yang transformatif untuk membebaskan masyarakat dan umat gereja dari belenggu kemiskinan. 5 Berbeda dari kajian-kajian sebelumnya, kajin ini menempatkan realitas hidup para pemulung di dalam siatuasi kemiskinan dan pelayanan gereja terhadap pemulung sebagai fokus penelitian. Gustavo Gutierez. The God of Life (New York: Orbis Books, 1. , xvi. Paus Fransiskus. AuPesan Paus untuk Hari Orang Miskin Sedunia ke-7 dalam AuPesan Paus Fransiskus untuk Hari Orang Miskin Sedunia ke-7 | Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI . Ay. Diakses pada hari Kamis 27 Juni 2024 pukul 11. 30 WIT. https://maluku. id/pressrelease/2023/07/17/645/persentase-penduduk-miskin-di-malukumaret-2023-naik-menjadi-16-42-persen. Fridolin R Kwalomine. AuKemiskinan Dan Struktur Sosial Di Maluku Dalam Perspektif Social Capital,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama 3, no. Josepina Supulatul and Martha Patty. AuPengembangan Ekonomi Mengatasi Kemiskinan Umat: Analisis Pemberdayaan Jemaat GPM Riring Rumahsoal,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama 4, no. Welhelmus Abraham Beresaby. AuPemberdayaan Jemaat Dalam Perspektif Diakonia Transformatif: Studi Implementasi Dana Sharing GPM,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama 3, no. : 201Ae217. Menggereja Bersama Pemulung Gresela Maimina. Defi Stenly Nenkeula. Margie Maatoke. Veronike Mailao Gereja berada di dalam dunia dan hadir di tengah masyarakat. Gereja berasal dari kata Yunani eklesia, yang berarti dipanggil keluar, dan dari kata igreia yang berasal dari bahasa Portugis. Gereja digambarkan dalam teologi sebagai orang-orang yang dipanggil dari kegelapan ke dalam dunia dan diutus sebagai umat Allah untuk menjadi berkat bagi orang 6 Dalam situasi seperti ini, gereja tidak hanya harus berkonsentrasi pada praktik ibadah kepada Allah saja, tetapi juga harus berpartisipasi dalam aspek sosial. 7 Dalam kehidupan sosial, melalui Tri-panggilan gereja yaitu koinonia . , marturia . , dan diakonia . , gereja memainkan peran penting dalam memberdayakan umat. dalam konteks GPM, ditambahkan satu panggilan gereja, oikonomia . , sehingga menjadi Catur Panggilan Gereja. 8 Keempat panggilan gereja saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan, karena gereja sebagai sebuah persekutuan dapat memberikan kesaksian sebagai bagian dari tubuh Kristus melalui pelaksanaan tugas pelayanannya. Tugas pelayanan gereja bukan hanya menyentuh internal gereja, tetapi juga masyarakat. Keberadaan gereja yang melayani di tengah masyarakat memperlihatkan realita ketidakadilan, kemiskinan, dan berbagai persoalan hidup lain yang turut menjadi tanggung jawab gereja sebagai persekutuan umat maupun lembaga. Salah satu persoalan penting adalah realitas pemulung yang hidup dalam belenggu kemiskinan dan diskriminasi. Menurut Hafizah dan Mawarpury, pemulung adalah orang yang memungut, mengambil, mengumpulkan, dan mencari sampah di pinggiran jalan. Pemulung merupakan pekerjaan yang dipandang rendah oleh masyarakat sekitar. Menjadi pemulung tidak membutuhkan keterampilan, hanya kemauan keras untuk bertahan hidup dengan melakukan pekerjaan yang dipandang rendah oleh masyarakat. 9 Pemulung berusaha untuk tetap bertahan hidup dari sampah-sampah yang dibuang oleh masyarakat dan dikumpulkan kembali untuk dijual. Selama proses bekerja, para pemulung menghadapi banyak tekanan, terutama dari lingkungan masyarakat perkotaan. Tekanan itu memaksa mereka untuk mencoba bertahan hidup di ruang yang terbatas. Para pemulung sering dipinggirkan atau dikucilkan. Masalah Fibry Jati Nugroho AuGereja dan kemiskinan : diskursus peran gereja ditengah kemiskinanAy Evangelikal: Jurnal teologi injili dan pembinaan warga jemaat. Vol 3 No 1. (Januari 2. , 100. Lotnatigor Sihombing AuIsu etika sosial dalam gereja yang mula-mulaAy Jurnal Amanat Agung, vol. , 171. Beresaby. AuPemberdayaan Jemaat Dalam Perspektif Diakonia Transformatif: Studi Implementasi Dana Sharing GPM. Ay Hafiza. Sarah, and Marty Mawarpury. "Kesejahteraan Subjektif pada Pemulung: Tinjauan Sosiodemografi. " Jurnal Psikologi UGM, vol. 5, no. 2, 2019, pp. 139-150, doi:10. 22146/gamajop. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. yang dihadapi oleh pemulung bukan saja masalah kemiskinan, melainkan tekanan diskriminasi dan eksklusi dari masyarakat. Para pemulung harus menghindari ancaman, takut, malu, dan rasa tidak hormat terhadap martabat mereka. 10 Romo Mangunwijaya, seorang teolog yang berteologi bersama komunitas pemulung di bantaran kali Code Yogyakarta, dapat menjadi salah satu inspirasi menggereja bersama pemulung. Pemulung memiliki pendapatan perekonomian yang sangat minim, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kehadiran Romo Mangun turut memberdayakan kehidupan masyarakat Code dengan berbagai pelayanan bersama yang menjadikan pemulung sebagai subjek dan penentu Sejarah kehidupan mereka. Pemulung memberdayakan diri mereka sendiri dengan pendampingan dari Romo Mangun. Banyak orang mengagumi kepribadiannya yang sangat peduli terhadap orang-orang yang terpinggirkan. 11 Romo Mangun melihat orang miskin, terutama para pemulung, sebagai bagian dari tubuh Kristus, dan Yesus adalah kepalanya. Bertolak dari kehidupan para pemulung pada kalangan masyarakat termasuk mereka yang adalah warga gereja, gereja memiliki peran untuk terlibat di dalam pelayanan pemberdayaan para pemulung. Tanggung jawab ini didasarkan pada pemahaman bahwa tujuan gereja bukan saja membangun gedung gereja dan institusi saja, tetapi membangun dan memberdayakan umatnya. 13 Artinya, pelayanan atau diakonia yang dilakukan di dalam gereja tidak terbatas pada warga jemaat saja melainkan terbuka untuk sesama orang yang hadir di gereja untuk berpartisipasi dalam masalah yang dihadapi masyarakat. 14 Karena tanggungjawab dan panggilan gereja inilah, maka penelitian ini menawarkan suatu konsep menggereja bersama pemulung. METODE PENELITIAN Metode penelitian deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Dengan melihat kenyataan di lapangan, peneliti mencari dan mengumpulkan data dan informasi dari informan yang adalah para pemulung. Dua orang pemulung, pendeta jemaat, dan anggota masyarakat adalah informan yang diwawancarai. Lokasi penelitian yang kami lakukan di Argo Twikromo. Pemulung Jalanan Yogyakarta (Yogyakarta : Media Pressindo, 1. , 160. Nur Istana Pasaribu,AyPemikiran Y. B Mangun Wijaya tentang pemberdayaan dan penerapannya di kampong Code JogyakartaAy, 2016, 18. Josep P Widyatmadja. AuYesus dan Wong Cilik: Praksis Diakonia Transformatif dan Teologi Rakyat di IndonesiaAy (Jakarta: BPK Gunung Muli. , 1. Timotius Kumiawan Sutanto AuTiga dimensi keesaan dalam pembangunan jemaatAy, 2008. https://w. com/doc/270681478/Arti-Pelayanan-Diakonia-Di-Masa-Kini. Diakses pada tanggal 5 Januari 2022, pukul 12. 00 WIT. Menggereja Bersama Pemulung Gresela Maimina. Defi Stenly Nenkeula. Margie Maatoke. Veronike Mailao sekitar daerah kota Ambon yaitu kelurahan Kudamati. Kecamatan Nusaniwe. Lokasi yang lebih spesifik adalah daerah sekitar gedung Gereja Rehoboth dan Lorong rumah tingkat Bailoman. Waktu penelitian yang dilakukan mulai dari tanggal 26 Februari - 29 April, 2024. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemulung di Kota Ambon Kehidupan sehari-hari pemulung adalah bekerja mengumpulkan barang bekas dan dijual sehingga mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Pemulung telah menjadi fenomena sosial di perkotaan dan dianggap sebagai sisi gelap dari kemegahan kota yang selalu Profesi pemulung dilakukan akibat tingkat kemiskinan hebat yang melanda satu kota beserta penduduknya. Di kota Ambon yang memliki tingkat perekonomian minim atau tidak mampu, profesi ini dijadikan sebagai cara untuk bertahan hidup. Jumlah pemulung dengan kartu pemulung di Ambon berjumlah 230 orang, menurut data dari Instalasi Pembuangan Sampah Terpadu (IPST). Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan tingkat kemiskinan di kota ini. Pemulung di kota Ambon kebanyakan sudah berkeluarga, akibat tanggungan keluarga yang begitu besar dengan tingkat pendapatan yang sedikit mengakibatkan profesi ini dipilih sebagai alternatif yang baik, sebab profesi ini tidak memerlukan persyaratan formal seperti pekerjaan pada umumya. Biasanya profesi pemulung tidak hanya dilakukan oleh salah seorang keluarga, tetapi setiap anggota keluarga juga terlibat. Barang-barang yang biasanya dimulung berupa botol, gelas aqua, plastik, kaleng, koran, kertas sebab mudah Namun ada juga yang memulung besi atau logam bekas. Pemulung terdiri dari dua kategori: pemulung lepas yang bekerja sendiri dan pemulung yang bergantung pada bandar yang meminjamkan uang kepada mereka dan kemudian memotong uang pinjaman tersebut saat mereka menjual barang bekas kepada juragannya. Volume pendapatan pemulung bergantung pada waktu kerja. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan oleh penulis terhadap M. M ditemukan varian waktu dalam melakukan pekerjaannya, antara lan: pertama, dilakukan pada pukul 03. 00 Wit. kedua, ada yang baru memulai pada pukul 07. 00 Wit. ketiga, ada yang memulai dari pukul 14. 00 Wit dan. keempat, ada yang memulai dari pukul 16. Delta Aria Rudi. AuKorelasi Sosial Ekonomi Masyarakat Pemulung Dalam Kehidupan Beragama Ae Studi Kasus Pemulung TPA Gampong Jawa Kecamatan Kutareja Kota Banda AcehAy. Skripsi, (Banda Aceh: , 10 Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. 00 Wit. Karena kesibukan di rumah, pekerjaan sampingan, atau tugas tambahan lainnya, mungkin ada perbedaan waktu saat memulai aktivitas memulung. Mereka perlu merencanakan waktu untuk memulung. Selain itu, tergantung pada kemampuan pemulung dan volume barang atau material yang mereka kumpulkan, masing-masing pemulung memiliki waktu yang berbeda untuk memulung. Pendapatan yang diterima oleh pemulung juga bervariasi, ada yang mendapat Rp. 000,- dan tertinggi antara Rp. 000,- Sementara pemulung yang menampung hasil mulungnya hingga satu minggu atau lebih akan memperoleh pendapatan terendah antara Rp. 000,- dan tertinggi diatas Rp. 000,- atau lebih. Hasil ini menunjukkan bahwa pemulung memerlukan lebih banyak makanan setiap hari, pendidikan anak, dan perawatan kesehatan, serta kebutuhan lainnya. Sebagian besar memulung mengatakan bahwa pendapatan mereka tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga, jadi mereka harus menghemat dan mengatur pengeluaran. Selain itu, harga pasar barang kebutuhan pokok terus meningkat sehingga menjadi mata rantai kemiskinan yang membelenggu pemulung. Pada umumnya, masyarakat menganggap pemulung sebagai orang yang malas, tidak bertanggung jawab, dan sebagainya. Namun, jika dilihat dengan cermat, pemulung adalah anggota masyarakat yang sangat penting dalam hal penyelamatan lingkungan. Mereka memilah-milah sampah sehingga barang-barang yang dianggap sampah oleh masyarakat dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang sampah, sehingga pemulung dapat mengurangi jumlah sampah yang menggunung di lingkungan sekitar. 16 Selain itu, pemulung sering dipandang dengan sebelah mata, sehingga para pemulung malu dan cenderung tidak terlibat dalam kegiatanAekegiatan sosial maupun kegiatan peribadatan. Hal seperti inilah yang menyebabkan hilangnya persekutuan sosial yang berada di tengah masyarakat. Menurut Friedlander, relasi sosial adalah tindakan sistematis yang bertujuan untuk membantu penyesuaian timbal balik antara individu dan lingkungan sosial mereka. Menciptakan hubungan yang baik dengan lingkungannya dan dengan orang lain. Dalam kehidupan para pemulung, peneliti menemukan bahwa mereka tidak merasakan kesejahteraan sosial di dalam kehidupan. Karena, dalam proses bekerja mereka Nuraedah. AuPemulung yang Termarjinalkan: Studi Sosial Ekonomi Masyarakat Pemulung di Kelurahan LasoaniAy dalam Kreatif, vol. No. 3, 2014. Onny Medaline. AuKajian Teori Kesejateraan Sosial dalam Pelaksanaan Wakaf atas Tanah. Ay AlAwqaf. , vol. 10, no. (Desember, 2. , 144. Menggereja Bersama Pemulung Gresela Maimina. Defi Stenly Nenkeula. Margie Maatoke. Veronike Mailao dimarahi dan diusir dengan cara yang tidak baik sehingga dari tindakan ini, pekerjaan para pemulung terhambat. Keterhambatan ini kemudian membuat pemulung mendapatkan penghasilan yang tidak maksimal. Kehidupan para pemulung pada umumnya adalah orangorang yang mengalami kesusahan sehingga mereka harus bekerja untuk menghidupi keluarga mereka. Pemulung juga bekerja untuk memfasilitasi biaya sekolah dari anak-anak mereka karena keinginan dari para pemulung adalah melihat anak-anak mereka berhasil di kemudian hari. Pemulung juga mempunyai mimpi untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga Salah satu bukti nyata yang ditemukan oleh penulis terjadi pada MM. Meskipun hanya berprofesi sebagai pemlung, ia mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Namun, sang anak dari MM memandang rendah pekerjaan yang dilakukan olehnya. Pandangan negatif juga datang dari dalam keluarga dengan alasan bahwa profesi pemulung adalah sebuah profesi yang memalukan. Bagi penulis sesungguhnya anak tersebut tidaklah menyadari bahwa ia mampu memperoleh gelar sarjana melalui profes yang ditekuni oleh MM. Anak-anak harus dididik, kata Richards, karena mereka penting. 18 Perintah Allah dalam Perjanjian Lama menegaskan pentingnya anak-anak dan pendidikan bagi mereka. Ulangan 6:6-11 menegaskan pengajaran dan didikan yang dilakukan kepada anak-anak haruslah disampaikan secara berulang-ulang di saat tidur, duduk, berjalan dan bangun. Pembinaan yang diterapkan di dalam keluarga haruslah dilakukan secara berulang-ulang agar dapat membentuk karakter anak. Peneliti melihat bahwa anak-anak dari MM tidak menerapkan ajaran yang dilakukan didalam kehidupan mereka sehingga mengakibatkan anak-anak yang tidak peduli terhadap setiap usaha yang dilakukan oleh MM. Berteologi Bersama Pemulung Tanda bahwa gereja merawat kehidupan ialah gereja senantiasa berpihak kepada orang marginal tanpa terkecuali. Semua orang dianugerahi kehidupan oleh Allah, namun karena ketidakadilan dan kerakusan manusia, maka ada sekelompok manusia, yakni kaum marginal, khususnya pemulung yang hidup dalam belenggu kemiskinan dan diskriminasi. Keberpihakan kepada pemulung sesungguhnya menunjukkan bahwa gereja senantiasa merawat kehidupan. Bunda Theresia dari Kalkuta memandang orang miskin dari perspektif Krisda Mahdalena Sinaga AuKonsep Pendidikan Anak menurut Lawrence O. Richards dan Implementasinya bagi Perkembangan Iman Anak dalam Keluarga Kristen,Ay Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, vol. 1, no 2, (Desember 2. , 27. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. yang luas. Mereka tidak hanya lapar akan makanan, tetapi juga lapar akan kasih. tidak hanya tanpa busana . aked for clothin. , tetapi juga kehilangan martabat dan penghargaan sebagai manusia atau yang kehidupannya mengalami kesusahan dan Bunda Theresia membiarkan Allah meraja dalam hatinya dengan keyakinan bahwa orang-orang yang sungguh bersatu dengan Dia, juga mencintai sesama dan sungguhsungguh mencintai kehidupannya. Bunda Theresia tidak menjalankan misi untuk membuat orang berpindah agama, baginya untuk memberi kesaksian tentang Allah terhadap dunia diimplementasikan melalui sikap peduli terhadap sesama. Bunda Theresia sebagai ikon kerahiman atau cinta akan kehidupan menunjukkan wajah kerahimam Allah dengan melayani semua orang tanpa pandang latar belakang. Menurutnya, tindakan gereja yang pro-hidup tidak hanya menyediakan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Namun, perlu diakui bahwa semua ini penting sebagai kebutuhan dasar. Keadilan berarti membawa kegembiraan dan kasih Allah kepada orang-orang, melakukan hal-hal kecil untuk mengubah relasi mereka dengan Allah menjadi yang benar, dan mengembalikan martabat manusia atau kehidupan mereka. 20 Dalam hal masalah pemulung, gereja harus mendengar suara kaum marginal dan kemudian melakukan perubahan dalam masyarakat berdasarkan suara mereka. Misi berpusat pada kaum marginal sering disalah artikan dan dianggap sebagai poros bermisi oleh gereja, tetapi ini sebenarnya membuat kita kehilangan sudut pandang kaum marginal karena orang tidak memahami jika mereka tidak merasakan sudut pandang mereka. Kaum marginal lebih mengetahui tentang situasi kehidupan mereka, maka pendekatan bermisi dari kaum marginal berarti gereja turut serta dalam masalah pemulung dan mengakui bahwa kita bisa belajar dari mereka. Ada pula masalah ketidakadilan dalam pembangunan yang menciptakan kemsikinan struktural dialami oleh pemulung. Pembangunan hanya dinikmati oleh kalangan atas, dan kalangan bawah atau kaum marginal tetaplah miskin. Kalangan atas menganggap pembangunan sebagai pertumbuhan ekonomi yang cepat, ketersediaan insfrastruktur, dan upaya untuk memperlancar dan mengembangkan modal dan kekayaan mereka. Sebaliknya, bagi kaum marginal, pembangunan yang diharapkan adalah kesempatan untuk terbebas dari C. Mandagi. AuGereja Merawat KehidupanAy dalam Ronaldo R. Sarimole. Berteologi Bersama Anak Jalanan: Suatu Kajian Kritik Ideologi Terhadap Teks Amos 5:1-17 dengan Perspektif Kaum Marginal, (Skripsi. Fakultas Teologi. UKIM, 2. , 123. Mandagi. Gereja Merawat Kehidupan, 123. Ronaldo R. Sarimole. Berteologi Bersama Anak Jalanan: Suatu Kajian Kritik Ideologi Terhadap Teks Amos 5:1-17 dengan Perspektif Kaum Marginal, (Skripsi Fakultas Teologi. UKIM, 2. , 132. Menggereja Bersama Pemulung Gresela Maimina. Defi Stenly Nenkeula. Margie Maatoke. Veronike Mailao kelaparan, ketersediaan pakaian dan papan, dan akses ke sumber daya yang diperlukan. Gereja dan pemerintah kemudian berfokus pada mendengarkan suara mereka. Penulis menemukan bahwa gereja ternyata terlibat dalam menangani masalah ekonomi pemulung. karenanya, gereja tidak bisa menghindari konflik pemulung, yang merupakan tanggung jawab gereja. Gereja didirikan untuk membantu orang-orang yang lemah, miskin, dan Jika gereja tidak membantu orang-orang yang lemah, maka tidak ada guna kehadiran gereja. Gereja berfungsi sebagai wadah untuk memberitakan injil kepada semua orang, sehingga tidak dapat dipisahkan dari setiap masalah yang dihadapi oleh anggota 23 Jadi, gereja harus peduli dengan masalah jemaat, terutama pemulung. Gereja ditugaskan untuk melayani orang-orang yang tertindas dan terpinggirkan, bukan hanya memberikan bantuan material kepada mereka, tetapi juga berusaha untuk menumbuhkan semangat spiritual bagi mereka melalui pelayanan kasih. Penulis menemukan bahwa gereja tidak mengabaikan pemulung atau orang tertindas, tetapi mereka peduli dengan masalah mereka, jadi mereka bekerja untuk membantu pemulung atau orang Hasil penelitian Randing dan Imanuel menunjukkan bahwa gereja dalam kehidupan nyata hanya berkonsentrasi pada masalah ritual dan upacara keagamaan. Namun, gereja mengabaikan tanggung jawab dan tugasnya untuk memberdayakan umat. 24 Peneliti tidak setuju dengan temuan Randing dan Imanuel. Kami menemukan bahwa gereja memiliki peran dan kontribusi yang sangat membantu pemulung dalam menghadapi krisis ekonomi. Noordegraaf juga mengatakan bahwa diakonia sebagai pelayan kasih tetapi juga pelayanan keadilan, yang berarti bertindak menerangi dan jika mungkin mengatasi ketidak adilan, penindasan, kemiskinan, kekurang mampuan, dengan harapan meningkatkan kehidupan yang lebih baik dalam terang injil. 25 Ini sudah menjadi tanggung jawab gereja dalam memberdayakan umatnya. Gereja harus melihat orang-orang tertinas sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan yang memiliki martabat dan harkat yang sama dengan kekuatan dan kelemahan Viktor Latumahina. AuPeran Gereja dalam Menanggapi KemiskinanAy. Jurnal Teologi biblika. Vol No 1, (April 2. , 35. Paultje Peiti Tampa. AuPeran Gereja terhaap Kaum Miskin,Ay Tomou Tou, vol. 2, no. 1, (Januari 2. Toding dan I. Harisantoso AuMemaknai Tanggung Jawab Gereja Terhadap Kaum Marginal Perkotaan melalui Pemikiran Emmanuel Levinas,Ay Sanctum Domine, vol. 12, no. 2, (Mei 2. , 3. Noordegraaf. Orientasi Diakonia Gereja : Teologi Dalam Perspektif Reformasi (Jakarta : BPK GM. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. masing-masing. Kita diutus untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin dan membebaskan orang yang tertindas, seperti yang dinyatakan dalam Lukas 4:18Ae19. Injil Lukas menggambarkan perjalanan Yesus dalam melayani dan berpihak kepada orang-orang miskin sehingga dengan tindakan Yesus menjadi teladan bagi gereja dalam melayani umat terkhususnya para pemulung. Gereja ada untuk melanjutkan misi Allah . issio de. untuk memberikan keadilan dan kesejahteraan kepada semua ciptaan. Menggereja bersama pemulung merupakan panggilan untuk meneladani misi Yesus di dunia. Dalam pelayananNya. Yesus tidak hanya memberitakan Injil dalam kata-kata, tetapi menunjukkan kehadiran kerajaan Allah dengan memihak dan memulihkan orang-orang miskin da terpinggirkan. Praktik menggereja harus berorientasi pada ruang publik, atau kontekstual. Gereja memulai panggilan ini sebagai upaya untuk membebaskan umatnya yang berada dalam situasi marginal. Penulis menemukan setidaknya ada pendasaran yang dipakai oleh Gereja Protestan Maluku (GPM) dalam menyikapi problematika sosial yang ada. Dalam Pola Induk Pelayanan-Renacana Pokok Induk Pengembangan Pelayanan (PIP-RIPP) GPM tahun 20152025,27 terdapat 13 isu prioritas dan dua diantaranya, antara lain: pertama, menguatnya kapasitas pelayan guna mengelola isu-isu kontekstual. Penguatan kapasitas pelayan untuk mengelola isu-isu teologia, maupun isu-isu sosial yangterbarukan. Perubahan sosial yang disebabkan oleh modernisasi, globalisasi, dan kemudahan akses ke informasi tanpa batas, berdampak pada perilaku dan nilai sosial masyarakat. Salah satu tantangan yang harus dijawab dalam perjalanan bergereja ke depan adalah meningkatkan kemampuan pelayan untuk memahami dan mengkritisi proses perubahan ini. Berbagai perubahan yang dimaksud mendorong munculnya berbagai masalah sosial yang mengintervensi ketahanan umat, bahkan ketahanan umat pada tingkat keluarga. Kondisi ini menunjukkan bahwa kapasitas pelayan harus diperkuat untuk mengelola model pelayanan pastoral yang fleksibel dan efektif untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang dimaksud. Sebaliknya, sejak 2012. GPM telah mengubah model perencanaan dan pengelolaan program pelayanan secara signifikan. Perubahan dalam sistem dan manajemen pelayanan di semua jenjang gereja dipengaruhi oleh penerapan perencanaan strategis berbasis jemaat. Beberapa produk ikutan untuk memperkuat keutuhan pola managemen seperti Sistem Timotius. Gereja yang Bertumbuh dan Berkembang (Yogyakarta:ANDI 2. Balitbang GPM. Pola Induk Pelayanan dan Rencana Induk Pengembangan Pelayanan Gereja Protestan Maluku (PIP-RIPP GPM) Tahun 2016-2025, (Ambon: Percetakan GPM), 28-29. Menggereja Bersama Pemulung Gresela Maimina. Defi Stenly Nenkeula. Margie Maatoke. Veronike Mailao Informasi GPM (SIM-GPM). Tugas Pokok Kewenangan dan Fungsi GPM (TUPOKSI GPM). Program Lima Tahun (PROLITA) Klasis. Monitoring dan Evaluasi, pengembangan sistem audit keuangan dan program, pengembangan teknologi informasi, serta beberapa bentuk perubahan lainnya mengisyaratkan diperkuatnya kapasitas aparat pengelola pelayanan pada semua jenjang GPM untuk beradaptasi dengan system pelayanan terpadu yang sementara dikembangkan. berintegrasi kedalam seluruh model perubahan yang sedang berlangsung, peningkatan spiritualitas pelayan menjadi salah satu aspek penting yang juga harus dikelola. Dalam penyelidikan masalah utama lintas klasis, salah satu keluhan yang ditemukan adalah penurunan rasa keterpanggilan dan rasa memiliki pada pelayanan gereja. Sementara kondisi ini tidak diperbaiki, sinergitas perubahan besar yang dilakukan GPM tidak akan sebanding dengan kemampuan integrasi dan keteguhan spiritual perangkat pelayan untuk mendukung seluruh gerak perubahan yang dimaksud. Data BPS menunjukan bahwa garis kemiskinan makanan memberikan kontribusi lebih besar pada tingginya indeks kemiskinan. Fakta ini menjadi masukan bagi GPM untuk berpartisipasi dalam program penanggulangan kemiskinan melalui penguatan ketahanan pangan lokal. Sesuai dengan kapasitasnya. GPM dapat berpartisipasi untuk mendata berbagai bahan pangan lokal yang tersedia, memastikan kandungan kalorinya untuk memenuhi total standar kalori yang diacu, dan secara kreatif mengembangkan pengelolaannya menjadi produk-produk siap saji, serta mendiseminasinya menjadi pengetahuan dasar jemaat-jemaat GPM di wilayah-wilayah dengan kantong kemiskinan yang besar. Pada sisi lainnya. GPM sejauh ini melalui departemen Pelpem telah menyusun Panduan Standarisasi dan Model Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sebagai instrument pendataan kemiskinan di jemaat-jemaat GPM, sekaligus rencana intervensinya. Proses pendataan sementara dilakukan di berbagai klasis. Diharapkan berbasis data ini strategi intervensi bisa dilakukan secara maksimal dengan memperhitungkan kapasitas GPM. Untuk meningkatkan ketahanan pangan lokal dan mengembangkan model penanganan lainnya. GPM harus bekerja sama dengan pemerintah atau lembaga mitra lainnya untuk mengembangkan berbagai model intervensi di bidang pengentasan kemiskinan. Di antaranya adalah pembangunan sentra pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan tangkap dan tambak di berbagai wilayah klasis. Balitbang GPM. Pola Induk Pelayanan dan Rencana Induk Pengembangan Pelayanan Gereja Protestan Maluku (PIP-RIPP GPM) Tahun 2016-2025, (Ambon: Percetakan GPM), 28-29. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Dengan demikian, menjadikan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional harus dilihat sebagai peluang untuk memungkinkan komunitas yang tinggal di pusat perikanan untuk mendirikan dan mengelola wilayah konservasi ulayat laut mereka sejak awal. GPM harus mempertimbangkan pengembangan model-model "sekolah masyarakat" dengan bekerja sama dengan pemerintah untuk meningkatkan ketahanan ekonomi berbasis lokal dalam tindakan selanjutnya. GPM perlu membangun kemitraan dengan berbagai pemangku kebijakan terus-menerus membarui data perencanaan dan arah pengembangan wilayah serta menyebarluaskannya kepada publik. Penguatan Lembaga Partisipasi Pembangunan (PARPEM GPM) dan pembangunan Uraur sebagai sentra pelatihan GPM adalah salah satu fokus pemberdayaan GPM yang secara serius harus dilakukan untuk menangani masalah ini. Dibandingkan dengan kisah keberhasilan Uraur sebelumnya, keterpurukannya saat ini cukup mengejutkan. Dalam periode pelayanan selanjutnya, kontribusi MPH Sinode GPM untuk revitalisasi Uraur dalam beberapa tahun terakhir ini harus dipertimbangkan secara serius karena merupakan aset utama GPM di bidang pemberdayaan masyarakat. Sebagai implementasi dari PIP/RIPP, program-program yang digalakkan di dalam jemaat GPM dapat memberi umat GPM sumber teologis yang dapat membantu mereka merenungkan kembali misi-misi yang telah dilaksanakan oleh jemaat selama ini. Dengan memilih pemulung sebagai subjek untuk berteologi. Anda membuat mereka menjadi anggota komunitas iman di mana Anda dapat menebarkan injil Kerajaan Allah dan meneruskan apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di dunia. Program Pemberdayaan Gereja Program strategis gereja dalam menyelesaikan problematik pemulung dapat mencakup berbagai inisiatif yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial bagi para pemulung. Berikut adalah beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan gereja: Pendidikan dan Pelatihan Balitbang GPM. Pola Induk Pelayanan dan Rencana Induk Pengembangan Pelayanan Gereja Protestan Maluku (PIP-RIPP GPM) Tahun 2016-2025, 32. Menggereja Bersama Pemulung Gresela Maimina. Defi Stenly Nenkeula. Margie Maatoke. Veronike Mailao Program Pendidikan: Menyediakan pendidikan gratis atau beasiswa bagi anak-anak pemulung agar mereka mendapatkan akses ke sekolah formal. Pelatihan Keterampilan: Mengadakan pelatihan keterampilan bagi pemulung dewasa, seperti keterampilan menjahit, memasak, atau keterampilan teknis lainnya yang dapat meningkatkan peluang kerja mereka. Pelayanan Kesehatan Klinik Gratis: Menyediakan layanan kesehatan gratis atau dengan biaya minimal untuk pemulung dan keluarganya. Penyuluhan Kesehatan: Mengadakan kesehatan, kebersihan, dan gizi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Pemberdayaan Ekonomi Program Mikro Kredit: Memberikan akses ke program mikro kredit atau modal usaha kecil untuk membantu pemulung memulai usaha kecil yang lebih berkelanjutan. Pembentukan Koperasi: Mendorong pembentukan koperasi pemulung yang dapat membantu dalam mengelola dan menjual barang-barang daur ulang dengan lebih efisien. Bantuan Sosial dan Dukungan Psikologi Pusat Bantuan Sosial: Menyediakan bantuan kebutuhan dasar bagi pemulung yang membutuhkan, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal Konseling dan Dukungan Psikologis: Menyediakan layanan konseling dan dukungan psikologis untuk membantu pemulung menghadapi tantangan mental dan emosional. Advokasi dan Kesadaran Publik Kampanye Kesadaran: Mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kondisi hidup pemulung dan pentingnya dukungan dari komunitas. Advokasi Kebijakan: Bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi nonpemerintah untuk mendorong kebijakan yang mendukung pemulung, seperti program perumahan, pendidikan, dan kesehatan yang inklusif. Pembangunan Infrastruktur Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan: Mendirikan pusat-pusat pelatihan dan pemberdayaan di daerah-daerah dengan konsentrasi pemulung yang tinggi. Fasilitas Rekreasi dan Komunitas: Menyediakan fasilitas rekreasi dan komunitas yang dapat digunakan oleh pemulung untuk berinteraksi dan mengembangkan komunitas yang kuat. Gereja dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup para pemulung dan membantu mereka keluar dari lingkaran kemiskinan dengan menerapkan program-program ini. Untuk mencapai hasil yang berkelanjutan, sangat penting untuk bekerja sama dengan pemerintah. LSM, dan komunitas lokal. KESIMPULAN Gereja memiliki peran penting dalam bermisi dan memberdayakan para pemulung. Gereja melakukan pelayanan kasih kepada para pemulung yang menetap di jemaat. Menggereja adalah suatu tindakan yang diwujudkan gereja sebagai persekutuan umat untuk ada dan hadir berdama pemulung. Kehadiran gereja adalah merepresentasi misi Allah yang diemban oleh gereja untuk mewujudkan kehadiran Kerajaan Allah yang membebaskan orang-orang miskin dan terpinggirkan, seperti para pemulung. Menggereja bersama pemulung memberikan sebuah pengharapan bahwa masalah pemulung dapat diatasi secara bersama dengan menjadikan pemulung sebagai subjek pelayanan. Diakonia transformative dan pemberdayaan . mesti diarusutamakan dalam misi gereja daripada sekedar berorientasi ritual dan institusional. Menggereja bersama pemulung adalah suatu tindakkan menjadikan gereja tetap relevan dengan misinya di dalam dunia. DAFTAR PUSTAKA