ORIGINAL ARTICLE - AACENDIKIA: Journal of Nursing AACENDIKIA: Journal of Nursing. Volume 4 . Juli 2025, p. https://doi. org/10. 59183/aacendikiajon. Knowledge. Attitude, and NursesAo Practices in Diabetic Wound Care with Modern Dressing: A Study in the Wound Care Unit Nurul Sakinah1*. Andi Sastria2. Asriadi2. Indra Amanah3 Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo Program Studi Profesi Ners. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo *Correspondence: Nurul Sakinah. Address: Jalan Andi Ahmad. Kota Palopo. Sulawesi Selatan. Indonesia 91913. Email: nurulsakinahw4@gmail. Received: 23 Juni 2025 U Revised: 28 Juni 2025 U Accepted: 3 Juli 2025 ABSTRACT Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels above the normal range. Diabetic foot ulcers are a condition in which wounds on the feet are accompanied by discharge of foul-smelling pus. Modern dressing is a wound care method that maintains a moist and closed environment to prevent wound dryness and accelerate the healing This study aimed to examine the relationship between knowledge and attitude and nursesAo practices in diabetic wound care using the modern dressing method. A quantitative study with a descriptive correlational design and a cross-sectional approach was conducted, involving 36 nurses working in the wound care unit at RSUD Sawerigading Palopo. Respondents were selected using purposive sampling. The results showed a significant relationship between nursesAo knowledge and attitudes and their practices in diabetic wound care using modern dressing techniques. It can be concluded that both knowledge and attitude are important factors influencing the effective implementation of modern dressing methods in diabetic wound care. ABSTRAK Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah melebihi kadar Ulkus diabetik adalah kondisi ketika kaki mengalami luka disertai dengan keluarnya cairan nanah yang berbau tidak sedap. Modern dressing adalah salah satu metode perawatan luka tertutup dan lembab yang bertujuan untuk mencegah kekeringan luka dan meningkatkan proses penyembuhan luka. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif korelasi design cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 36 pada perawat yang bekerja di ruang perawatan luka RSUD Sawerigading Palopo, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Kesimpulan dari penelitian ini Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap dengan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing di ruang perawatan luka RSUD Sawerigading Palopo. Keywords: diabetes mellitus. diabetic foot ulcer. modern dressing. nurse practice. wound care Pendahuluan Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah melebihi kadar normal (Sari et al. , 2. Menurut Colin & Listiana . kurangnya produksi insulin oleh pankreas, kurangnya tubuh terhadap insulin, dan pengaruh hormon lain yang menghambat keluaran insulin dapat menyebabkan DM. Ulkus diabetik adalah kondisi ketika kaki mengalami luka disertai dengan keluarnya cairan nanah yang berbau tidak sedap (Jasmine, 2. Menurut International Diabetes Federation (IDF), dalam Atlas Diabetes edisi ke-10, sebanyak 537 juta orang dewasa . 64 | E-ISSN: 2963-6434 hingga 79 tahu. diseluruh dunia menderita diabetes, dan jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah diharapkan itu pada tahun 2030, jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 643 juta orang dan pada tahun 2045 menjadi 783 juta orang, dan berdasarkan data tersebut, jumlah penderita diabetes diperkirakan akan meningkat. Diperkirakan akan terus meningkat hingga 40% dari jumlah total orang (Jundapri et al. , 2. Provinsi Sulawesi Selatan diperkirakan akan mengalami peningkatan kasus diabetes mellitus sebanyak 54. 007 orang pada tahun 2022, menurut layanan kesehatan setempat. Padahal jumlah kejadian DM di Sulsel pada tahun lalu A 2025 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Nurul Sakinah et al. 497 kasus. Artinya, angka kejadian DM akan meningkat sebanyak 12. 510 di Sulsel dalam satu tahun . Sedangkan menurut Dinas Kesehatan Kota Palopo, jumlah kasus DM pada tahun 2021 sebanyak 356 kasus, meningkat menjadi 966 kasus pada tahun 2022, 807 kasus pada tahun 2023 dan pada tahun 2024 data dari Januari-Oktober yaitu 869 kasus. RSUD Sawerigading Palopo, sebagai rumah sakit tipe B yang banyak menangani kasus DM, mencatatkan 116 kasus ulkus diabetic pada tahun 2023 dan pada tahun 2024 periode januari-september tercatat 81 kasus ulkus dari 1. 16 kasus DM. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu staf dibagian kepegawaian RSUD Sawerigading, diketahui bahwa rumah sakit Sawerigading merupakan satu-satunya fasilitas kesehatan di wilayah tersebut yang telah memiliki surat keputusan (SK) resmi terkait penerapan metode modern dressing dalam perawatan luka. Menurut Wikantana 2022 dalam Seidel. Pada penderita diabetes, luka pada kaki dapat menyebabkan amputasi jika dibiarkan. Ini karena kematian jaringan, infeksi bakteri, dan kemungkinan kematian jika dibiarkan. Sekitar 15% dari pasien DM mengalami komplikasi berupa luka pada kaki selama hidup mereka. Apabila penanganan luka ini dilakukan secara terlambat maka akan memperburuk keadaan dan akan mengakibatkan jaringan di sekitar luka menjadi mati, dan harus dilakukan amputasi (Santoso, 2. Sehingga, pasien diabetes mellitus dengan luka pada kaki sangat penting dilakukan perawatan luka untuk mendorong penyembuhan luka agar tidak terjadi amputasi (Panjaitan et al. , 2. Menurut Aalaa et al. , 2012 dalam Namretta, 2020 perawat memiliki peran yang sangat penting dalam pengelolaan DM, terutama dalam perawatan luka diabetik. Mereka adalah tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien dan bertanggung jawab memberikan perawatan langsung, termasuk manajemen luka. 65 | E-ISSN: 2963-6434 Perawat dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses perawatan luka yang dimulai dari pengkajian yang komprehensif, perencanaan intervensi yang tepat, implementasi tindakan evaluasi hasil yang ditemukan selama perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis (Chrisanto, 2. Perawatan luka DM dilakukan di ruang medical surgical. Perawatan luka telah berkembang secara pesat saat ini. Pada teknik perawatan luka konvensional, luka ditutup dengan kain kassa dengan tipe kering atau basah kering. Kassa sebagai balutan dan NaCl untuk membasahi sehingga menciptakan suasana lembab pada cara perawatan luka konvensional. Selanjutnya luka dikompres menggunakan kasa lembab dan diganti sebelum kasa mengering, sehingga memerlukan penggantian kasa yang sering (Colin & Listiana. Proses penyembuhan luka dengan teknik ini akan lebih lama. Karena perawatan yang dilakukan hanya membungkus luka di bagian dalam, tanpa melihat proses perkembangan luka. Sehingga kondisi luka akan lebih parah, penyembuhan akan lebih lama, dan sering terjadi komplikasi atau dilakukan amputasi. Menurut Hartono dalam Muliyah et al. 2020 sikap merupakan respon seseorang terhadap suatu objek yang mengharuskan seseorang untuk bertindak sesuai dengan objek yang sedang Chrisanto, 2017 menyatakan bahwa perawat yang memiliki sikap positif mampu menerima perkembangan atau trend terkini dalam keperawatan, seperti tektin perawatan luka dengan menggunakan metode modern dressing. Namun ada juga sikap perawat yang pasif terhadap penerapan modern dressing. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa perawat diruangan masih belum menerapkan modern dressing secara optimat, banyak perawat masih beranggapan bahwa perawatan modern dressing hanyalah kewajiban perawat pelaksana yang telah mengikuti pelatihan perawatan luka, banyak perawat masih terlalu Nurul Sakinah et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing terfokus pada intruksi perawatan luka dari dokter yang dianggap sebagai orang yang penting (Muliyah et al. , 2. Dalam melakukan perawatan luka menggunakan metode modern dressing, perawat harus memiliki sikap yang positif untuk memfasilitasi proses penyembuhan Sikap positif dari perawat didukung oleh adanya kebijakan dukungan pemimpin, sarana dan prasarana, pendapatan, lingkungan kerja rumah sakit, serta keterampilan saling berpengaruh dan bersama-sama mewujudkan pelaksanaan yang baik (Barus et al. , 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan perawat tentang perawatan luka dm menggunakan metode modern dressing di ruang perawatan luka. Metode Jenis dan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskritif korelasi menggunakan pendekatan cross sectionalI. Penelitian ini dilaksanan pada bulan januari-februari 2025. Variabel dalam penelitian ini terbagi menjadi dua variabel yaitu variabel independen dan dependen, variabel independen pengetahuan dan sikap sedangkan variabel dependen adalah tindakan. Populasi pada penelitian ini adalah semua perawat yang melakukan perawatan luka di ruang rawat inap Anggrek dan Cemara di RSUD Sawerigading Palopo. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakn teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan cara memilih asampel dengan sengaja berdasarkan kriteia tau karakteristik tertentu sesuai tujuan penelitian, sehingga jumlah sampel pada penelitian ini aadalah sebanyak 40 perawat yang ada I ruang rawat inap Anggrek dan Cemara di RSUD Sawerigading Palopo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan data primer yang diambil langsung dari responden melalui pengisian kuesioner. Teknik pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan editing, coding, entry data dan tabulasi. Penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan analisis bivariate untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan taraf Signifikansi . <0. Hasil Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden . Karakteristik Umur 25-30 tahun 31-40 tahun >40 tahun Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Pendidikan terakhir Lama Bekerja <10 >10 Pelatihan yang pernah diikuti Tidak mengikuti pelatihan BTCLS Perawatan Luka https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 66 Nurul Sakinah et al. Berdasarkan dari tabel 1 dapat diketahui bahwa frekuensi umur yang paling banyak yaitu 31-40 tahun sebanyak 21 responden . ,3%) dan yang paling sedikit umur >40 sebanyak 8 orang . ,2%). Dari tabel diatas diketahui keseluruhan responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 36 responden . %). Distribusi responden berdasarkan pendidikan terakhirnya mayoritas responden adalah S1 yaitu 31 orang . S2 1 orang . ,8%). D3 4 orang . ,1%), dan tidak sekolah 3 orang . ,5%). Berdasarkan data yang didapatkan dari tabel diatas menunjukkan lama bekerja responden <10 th sebanyak 17 responden . ,2%), dan >10 th sebanyak 18 responden . ,8%). Distribusi data yang diperoleh berdasarkan pelatihan yang pernah diikuti yaitu BTCLS sebanyak 28 perawat . ,8%). Perawatan luka sebanyak 5 perawat . ,9%), dan tidak mengikuti pelatihan sebanyak 3 perawat . ,3%). Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan, sikap dan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing . Variabel Pengetahuan Baik Cukup Sikap Positif Negatif Tindakan Sesuai Tidak Sesuai Berdasarkan tabel 2, dari 36 perawat yang diteliti, diketahui bahwa sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebanyak 23 orang . ,9%), dan sisanya memiliki pengetahuan cukup sebanyak 13 orang . ,1%). Selain itu, mayoritas responden menunjukkan sikap yang baik sebanyak 32 orang . ,9%), sedangkan hanya 4 orang . ,1%) yang memiliki sikap negatif. Dalam hal tindakan, sebagian besar perawat telah melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) sebanyak 33 orang . ,7%), sementara hanya 3 orang . ,3%) yang tidak melaksanakan tindakan sesuai SOP. Tabel 3. Hasil uji chi-square person antara pengetahuan dengan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing . Tindakan Pengetahuan Baik Cukup Total 67 | E-ISSN: 2963-6434 Sesuai Tidak sesuai Total P-Value 0,040 Nurul Sakinah et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa perawat dengan pengetahuan baik yang melakukan tindakan sesuai SOP berjumlah 23 responden . ,9%), sedangkan pengetahuan baik yang melakukan tindakan tidak sesuai SOP sebanyak 0 responden . %). Sementara itu. Perawat dengan pengetahuan cukup yang melakukan tindakan sesuai SOP sebanyak 10 orang . ,8%), dan pengetahuan kurang yang melakukan tindakan tidak sesuai SOP sebanyak 3 perawat . ,3%). Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square dengan melihat nilai value Fisher Exact Test menunjukkan A = 0,040 < = 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, terdapat hubungan antara pengetahuan dan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan Metode Modern Dressing di Ruang Perawatan Luka RSUD Sawerigading Palopo Tahun 2025. Tabel 4. Hasil uji chi-square person antara sikap dengan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing . Tindakan Total Sikap P-Value Sesuai Tidak sesuai Positif 86,1% 2,8% 0,027 Negatif Total 91,7% 8,3% Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa perawat dengan sikap positif yang melakukan tindakan sesuai SOP berjumlah 31 responden . ,1%), sedangkan sikap positif yang melakukan tindakan tidak sesuai SOP sebanyak 1 responden . ,8%). Sementara itu. Perawat dengan sikap negatif yang melakukan tindakan sesuai SOP sebanyak 2 perawat . ,6%), dan sikap negatif yang melakukan tindakan tidak sesuai SOP sebanyak 2 perawat . ,6%). Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji chi square dengan melihat nilai Fisher Exact Test menunjukkan nilai A = 0,027 < = 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, terdapat hubungan antara sikap dan tindakan menggunakan Metode Modern Dressing di Ruang Perawatan Luka RSUD Sawerigading Palopo Tahun 2025. Pembahasan Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Perawatan Luka DM Menggunakan Metode Modern Dressing Di Ruang Perawatan Luka RSUD Sawerigading Palopo Tahun 2025 Perawat di ruang perawatan luka RSUD Sawerigading Palopo yang menjadi responden ini sebagian perawat memiliki pengetahuan baik. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan oleh responden melalui kuesioner yang telah Berdasarkan hasil uji person Chi Square dengan melihat nilai p-value = 0,040, dimana p<0,05 yang berarti terdapat hubungan antara pengetahuan dengan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing Tahun 2025. Pada tabel 4. diperoleh data dari perawat dimana perawat yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 23 orang . ,9%) dari 36 responden. Maka dari itu, dapat diasumsikan bahwa sebagian besar perawat memiliki pengetahuan baik, sedangkan perawat yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 13 orang . ,1%). Peneliti berasumsi bahwa penelitian ini menjadi berhubungan dikarenakan mayoritas https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 68 Nurul Sakinah et al. perawat memiliki pengetahuan yang baik sehingga menghasilkan perawatan luka yang baik pula sesuai dengan SOP. Bukan hanya pengetahuan saja, namun sebelumnya perawat sudah menerapkan perawatan luka lembab di ruangan. Pengetahuan adalah pemahaman partisipan tentang topik yang diberikan. Pengetahuan adalah kemampuan untuk menerima, mempertahankan dan menggunakan informasi yang dipengaruhi oleh pengalaman dan keterampilan. Sebagian besar dari pengetahuan berasal dari pendidikan baik formdan informasi,lingkungan serta media massa (Siltrakool, 2. Pengetahuan yang didefinisikan sebagai pemahaman partisipan tentang topik yang diberikan serta kemampuan untuk menerima, mempertahankan, dan menggunakan informasi yang dipengaruhi oleh pengalaman dan keterampilan, menjadi faktor utama dalam menentukan kualitas tindakan perawat. Sebagian besar pengetahuan yang dimiliki seseorang berasal dari pendidikan, baik formal maupun informal, lingkungan, serta media massa. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat pengetahuan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing, semakin baik pula tindakan yang mereka lakukan dalam praktik klinis. Budiman & Riyanto . mengatakan bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang diharapkan semakin luas pula Namun bukan berarti seseorang dengan pendidikan rendah mutlak berpengatahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh pada pendidikan formal, akan tetapi dapat diperolah dari pendidikan non-formal, media massa, pengalaman dan faktor pendukung Meskipun tingkat pendidikan dan pengetahuannya cukup, tetapi tidak menjamin kemampuannya dalam merawat luka akan baik jika tidak disertai pengalaman yang banyak dalam hal perawatan luka. Meskipun kurang tetapi pengalaman banyak serta sarana dan prasarana yang mendukung maka perawatan akan 69 | E-ISSN: 2963-6434 baik pula (Rasli et al. , 2. Yulianto . dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan dengan pelaksanaan tindakan perawatan luka, dimana pengetahuan yang baik akan mempengaruhi kepatuhan perawat dalam melakukan tindakan sesuai dengan prosedur perawatan luka. Hasil penelitian ini mendukung teori yang dikemukan oleh (Suparyanto, 2. bahwa dalam melakukan tindakan yang sesuai dengan prosedur dipengaruhi oleh pendidikan, akomodasi, modifikasi, faktor lingkungan dan sosial, meningkatkan interaksi professional, dan Hasil penelitian ini sejalan dengan Chrisanto tahun 2017 di RSAD Mayjend H. Ryacudu Kotabumi Lampung Utara mengatakan hasil penelitian dari 30 responden didominasi oleh kategori pengetahuan tinggi dengan hasil penelitian yakni 16 responden . berpengetahuan baik, 11 responden . memiliki pengetahuan cukup, dan 3 responden . %) memiliki pengetahuan kurang. Penelitian ini juga sejalan dengan Della Safitri tahun 2022 di RSUD Labuang Baji Makassar mengatakan hasil penelitian dari 55 responden didominasi oleh kategori pengetahuan tinggi dengan hasil yaitu 53 responden . ,4%) dan 2 responden . ,6%). memiliki pengetahuan kurang. Penelitian ini memiliki persamaan dimana responden telah mengetahui atau memahami konsep umum perawatan ulkus diabetik dengan metode moist wound healing secara benar, mulai dari mencuci luka, mengkaji luka sampai dengan mengganti balutan luka. Memahami teknik mempertahankan kondisi luka yang tetap lembab kelembaban, occlusive dan semi occlusive, dengan mempertahankan luka tetap lembab dan dilindungi selama proses penyembuhan dapat mempercepat re-epitalisasi 3-50%. Peneliti merekomendasikan pihak instansi bisa lebih meningkatkan pengetahuan perawatan luka Nurul Sakinah et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing melalui sosialisasi atau mengirim beberapa perawat untuk mengikuti pelatihan perawatan luka modern dressing. Hubungan Sikap dengan Tindakan Perawat Tentang Perawatan Luka DM Menggunakan Metode Modern Dressing Di Ruang Perawatan Luka RSUD Sawerigading Palopo Tahun 2025 Berdasarkan hasil uji person chi square dengan melihat value Fisher Exact Test didapatkan p-value = 0,027, dimana p<0,05 yang berarti terdapat hubungan antara sikap dengan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing di Ruang Perawatan Luka RSUD Sawerigading Palopo Tahun 2025. Berdasarkan hasil penelitian dari 36 responden diperoleh bahwa mayoritas responden memiliki sikap yang positif sebanyak 32 orang . ,9%). Berdasarkan data tersebut, penelitian ini menjadi berhubungan dikarenakan mayoritas perawat memiliki sikap yang positif sehingga mendorong perawat untuk melakukan perawatan luka DM sesuai SOP. Sikap yang positif ini mencerminkan pemahaman perawat tentang pentingnya penggunaan metode modern dressing mengurangi risiko serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Menurut Rasli dalam (Muliyah et al. , 2. apabila seorang perawat ingin memberikan perawatan luka moist dengan baik, harus memiliki sikap yang positif. Tidak hanya itu, namun juga disertai dengan pengetahuan yang cukup, adanya pengalaman serta mengikuti pelatihan. Akan tetapi jika hanya pengetahuan yang cukup serta sikap positif tetapi tanda adanya pengalaman maka perawatan luka teknik moist akan buruk. Penelitian yang dilakukan oleh Rasli et al. mengenai hubungan pengetahuan dan sikap perawat dengan perawatan luka diabetes mellitus menggunakan tehnik moist wound healing di RSUP Labuang Baji Makassar dengan hasil uji Chi Square nilai p-value = 0,000, dimana menunjukkan bahwa responden memiliki sikap yang kurang dengan melakukan perawatan luka moist buruk. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan, keterampilan, pengalaman serta kurangnya sarana dan prasarana. Tidak hanya pengetahuan yang menunjang sikap yang positif, namun juga dengan adanya kebijakan dukungan pemimpin, pengalaman, sarana dan prasarana, lingkungan kerja rumah sakit serta keterampilan pelaksanaan yang baik. Sehingga dapat hubungan yang signifikan antar variabel tersebut. Namun, terdapat beberapa perbedaan yang dapat dianalisis. Penelitian Rasli et al. menekankan bahwa selain pengetahuan, faktor lain seperti keterampilan, pengalaman, sarana dan prasarana, serta kebijakan rumah sakit turut mempengaruhi tindakan perawat. Sementara itu, dalam penelitian ini, fokus utama lebih pada hubungan langsung antara pengetahuan, sikap dan tindakan tanpa membahas secara mendalam faktor eksternal lainnya. Perbedaan ini dapat terjadi karena variasi dalam lingkungan penelitian, kebijakan institusi kesehatan, serta karakteristik responden yang terlibat dalam studi. Peneliti lainnya menjelaskan bahwa mayoritas perawat memiliki sikap yang negatif dalam melakukan perawatan luka menggunakan metode moist wound healing disebabkan oleh belum optimalnya metode perawatan luka moist diterapkan diruangan, perawat masih berfokus kepada instruksi dokter yang dianggap sebagai orang yang penting dan sebagian besar perawat masih beranggapan bahwa perawatan luka moist hanya kewajiban seorang perawat pelaksana dan yang sudah mendapatkan pelatihan saja (Chrisanto, 2. Peneliti merekomendasikan agar dilakukan pelatihan dan workshop motivasional, pemberian penghargaan bagi perawat yang konsisten menerapkan modern dressing, peningkatan dukungan supervisi dari manajemen dan penyediaan akses mudah ke informasi terbaru terkait modern dressing guna menguatkan sikap positif perawat dalam praktis klinik. https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 70 Nurul Sakinah et al. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Tindakan Perawat Tentang Perawatan Luka DM Menggunakan Metode Modern Dressing di Ruang Perawatan Luka RSUD Sawerigading Palopo Tahun 2025 Berdasarkan hasil uji Chi Square dengan melihat nilai value Fisher Exact Test didapatkan p-value = 0,040, dimana p<0,05 yang berarti terdapat hubungan antara pengetahuan dengan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing Tahun Berdasarkan hasil uji Chi Square dengan melihat nilai value Fisher Exact Test didapatkan p-value = 0,027, dimana p<0,05 yang berarti terdapat hubungan antara sikap dengan tindakan menggunakan metode modern dressing Tahun Berdasarkan hasil uji statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap dengan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing. Peneliti berasumsi bahwa penelitian ini menjadi berhubungan dikarenakan mayoritas perawat memiliki pengetahuan yang baik serta sikap yang posisitif sehingga menghasilkan perawatan luka yang baik pula sesuai dengan SOP. Peneliti berharap RSUD Sawerigading mengadakan meningkatkan pengetahuan dan skill perawat sehingga menciptakan sikap yang positif. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap dengan tindakan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing. Sejalan dengan penelitian Chrisanto . , yang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan yang tinggi berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam menerapkan metode moist wound healing. Colin & Listiana . juga menemukan bahwa perawatan luka modern lebih efektif dibandingkan metode konvensional, sehingga sikap positif 71 | E-ISSN: 2963-6434 terhadap metode ini mendukung implementasinya. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pelatihan berperan penting dalam meningkatkan tindakan perawat, sedangkan dalam penelitian ini, mayoritas perawat belum pernah mengikuti pelatihan perawatan luka, tetapi tetap memiliki sikap positif dan tindakan yang sesuai SOP. Faktor pengalaman kerja dan tingkat pendidikan dapat menjadi penyebab perbedaan, karena perawat dengan pengalaman lebih lama cenderung lebih kompeten meskipun tanpa pelatihan formal. Peneliti merekomendasikan yang dapat diterapkan di lokasi penelitian yaitu peningkatan pelatihan dimana RSUD Sawerigading Palopo dapat mengadakan pelatihan atau workshop rutin mengenai modern dressing untuk memastikan semua perawat memiliki keterampilan yang diperbarui, melakukan evaluasi berkala terhadap tindakan perawat untuk memastikan penerapan metode modern dressing dilakukan secara optimal. Selain meningkatkan kompetensi perawat, edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai perawatan luka yang benar juga dapat meningkatkan DM. Dengan rekomendasi ini, diharapkan pelayanan perawatan luka di RSUD Sawerigading Palopo dapat lebih optimal dan meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes mellitus. Berdasarkan Taksonomi Bloom, hubungan antara pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam pembelajaran dan perubahan perilaku dalam keperawatan terjadi secara bertahap. Pengetahuan membentuk dasar pemahaman, sikap menentukan kesiapan dan motivasi untuk bertindak, sedangkan tindakan mencerminkan sejauh mana seorang perawat mampu menerapkan ilmunya dalam praktik klinis. Dengan demikian, peningkatan edukasi dan pelatihan perawat tentang perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing sangat diperlukan untuk memperkuat pemahaman, membangun sikap positif, dan memastikan Nurul Sakinah et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing tindakan yang sesuai dengan standar perawatan luka yang telah ditetapkan. Kesimpulan Hasil penelitian di ruang perawatan luka RSUD Sawerigading Palopo tahun 2025 menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki pengetahuan yang baik dalam melakukan perawatan luka diabetes melitus (DM) menggunakan metode modern dressing, yaitu sebanyak 23 orang . ,9%). Selain itu, sebagian besar perawat juga menunjukkan sikap yang positif terhadap penerapan metode tersebut, sebanyak 32 orang . ,9%). Berdasarkan hasil analisis lebih lanjut, ditemukan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap perawat dengan pelaksanaan perawatan luka DM menggunakan metode modern dressing, yang menunjukkan bahwa semakin baik pengetahuan dan sikap perawat, maka semakin baik pula pelaksanaan tindakan keperawatan luka yang dilakukan. Referensi