PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. 1, 2026 e-ISSN : 2622-6383 Pengukuran Efektivitas Entrepreneurial Ecosystem dengan Metode Regional Entrepreneurship Accelerate Program (REAP) pada Kinerja Usaha Sektor Pertanian Kabupaten Pasaman Barat (Studi Pada Kecamatan Kinali dan Luhak Nan Du. Risha Mulya Putri 1*. Hafiz Rahman 2 Eri Besra 3 rishamulyaput@gmail. Magister Manajemen. Universitas Andalas. Indonesia 1*,2,3 Abstrak Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas ekosistem kewirausahaan dalam mendukung kinerja usaha pertanian di Kabupaten Pasaman Barat. Pendekatan Regional Entrepreneurship Acceleration Program (REAP) digunakan untuk menilai enam dimensi utama yang memengaruhi perkembangan usaha, yaitu akses pasar, sumber daya manusia, pendanaan, regulasi, peran universitas, dan budaya kewirausahaan. Penelitian dilakukan di Kecamatan Kinali dan Luhak Nan Duo melalui penyebaran kuesioner kepada pelaku usaha pertanian yang dipilih sebagai responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua kecamatan memiliki tingkat efektivitas ekosistem yang berada pada kategori sedang, dengan kekuatan dan kelemahan yang berbeda pada tiap dimensi. Kinali cenderung unggul dalam akses pasar dan dukungan regulasi, sedangkan Luhak Nan Duo lebih kuat pada jejaring dan kolaborasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa ekosistem yang lebih kondusif mendorong peningkatan kinerja usaha, baik dari sisi perkembangan usaha maupun kemampuan Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia dan perluasan akses pendanaan agar ekosistem kewirausahaan di sektor pertanian dapat berkembang lebih optimal. Kata Kunci: entrepreneurial ecosystem. REAP. kinerja usaha. usaha pertanian. Pasaman Barat. UMKM This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Sektor pertanian memegang peranan penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Pasaman Barat. Di banyak kecamatan, termasuk Kinali dan Luhak Nan Duo, usaha pertanian menjadi sumber pendapatan utama sekaligus penopang kegiatan ekonomi lokal. Namun, perkembangan usaha di sektor ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pengelolaan lahan atau pengalaman petani, tetapi juga oleh lingkungan kewirausahaan yang mendukung. Ekosistem kewirausahaan yang efektifAimeliputi akses pasar, pengetahuan, kolaborasi, hingga dukungan regulasiAimenjadi prasyarat agar pelaku usaha dapat bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar yang semakin Sejumlah penelitian sebelumnya menekankan bahwa ekosistem kewirausahaan yang kuat mampu mendorong pertumbuhan usaha dan memperluas peluang inovasi. Pendekatan seperti Regional Entrepreneurship Acceleration Program (REAP) menilai ekosistem melalui enam dimensi yang saling berhubungan, mulai dari kualitas sumber daya manusia hingga budaya kolaboratif di tingkat daerah. Studi-studi mutakhir menunjukkan bahwa kekuatan ekosistem berdampak langsung pada peningkatan kapasitas pelaku usaha, penguatan jejaring, serta kemudahan mengakses berbagai fasilitas pendukung Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 226 usaha. Meski demikian, efektivitas ekosistem tersebut sering kali berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, terutama pada daerah yang memiliki karakteristik sosial dan ekonomi yang beragam. Kondisi lapangan di Pasaman Barat mencerminkan hal tersebut. Meskipun memiliki potensi pertanian yang luas, tantangan tetap muncul dalam bentuk keterbatasan modal, kualitas tenaga kerja yang belum merata, serta minimnya kolaborasi antarpelaku usaha. Perbedaan tingkat perkembangan usaha antara Kinali dan Luhak Nan Duo juga menunjukkan bahwa tidak semua wilayah memiliki ekosistem kewirausahaan yang sama Hal ini menandakan adanya celah antara kebutuhan pelaku usaha dan dukungan yang tersedia di lingkungan sekitarnya. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menilai efektivitas ekosistem kewirausahaan di dua kecamatan tersebut dengan menggunakan pendekatan REAP. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana masing-masing dimensi ekosistem berjalan dan sejauh mana kondisi tersebut memengaruhi kinerja usaha pertanian lokal. Pertanyaan yang diajukan meliputi: bagaimana tingkat efektivitas ekosistem kewirausahaan di Kinali dan Luhak Nan Duo, dan apa saja perbedaan utama yang muncul di antara keduanya. Secara teoretis, penelitian ini merujuk pada kerangka ekosistem kewirausahaan yang diperkenalkan Isenberg serta penguatan konsep melalui indikator REAP. Konsep kinerja usaha merujuk pada pendekatan Balanced Scorecard yang menilai kinerja melalui aspek finansial, pelanggan, proses internal, serta pembelajaran. Penggabungan kedua kerangka ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih lengkap mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan usaha pertanian di tingkat lokal. Metode Analisis Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan analisis regresi linear berganda untuk mengukur pengaruh setiap dimensi REAP terhadap efektivitas ekosistem kewirausahaan. Proses analisis dimulai dari pemeriksaan kelengkapan data, pengkodean variabel, serta pemberian skor pada masing-masing indikator yang digunakan dalam instrumen penelitian. Seluruh data dihimpun dari responden pelaku usaha pertanian, kemudian diolah menggunakan aplikasi SPSS untuk memperoleh hasil perhitungan yang akurat, termasuk estimasi koefisien regresi, nilai konstanta, serta besaran kontribusi masing-masing dimensi terhadap variabel dependen. Model regresi yang dihasilkan digunakan untuk menggambarkan hubungan simultan antara akses pasar, sumber daya manusia unggul, pendanaan, kebijakan pemerintah, regulasi dan infrastruktur, universitas, institusi pendukung, serta budaya kewirausahaan. Selain analisis regresi, penelitian ini juga menyertakan visualisasi dalam bentuk radar chart untuk membandingkan nilai efektivitas REAP antara Kecamatan Kinali dan Luhak Nan Duo. Radar chart digunakan untuk menampilkan pola kekuatan dan kelemahan setiap dimensi secara lebih jelas sehingga memudahkan interpretasi hasil numerik. Penggabungan hasil regresi dan radar chart memberikan gambaran komprehensif mengenai perbedaan karakteristik ekosistem kewirausahaan antar wilayah, serta memungkinkan analisis yang lebih mendalam terhadap dimensi-dimensi yang berperan dominan maupun yang masih memerlukan penguatan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 227 Gambar 1. Radar Chart Efektivitas Dimensi REAP Kecamatan Kinali dan Luhak Nan Duo Sumber: Data diolah dari hasil penelitian . Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Analisis regresi linear berganda dan visualisasi radar chart pada enam dimensi REAP menunjukkan bahwa efektivitas ekosistem kewirausahaan pada pelaku usaha pertanian di Kecamatan Kinali dan Luhak Nan Duo berada pada kategori berbeda untuk setiap Persamaan regresi ycU = 0,270 0,157ycU1 0,260ycU2 0,228ycU3 0,141ycU4 0,201ycU5 0,031ycU6 0,026ycU7 Oe 0,064ycU8 yce Persamaan ini menunjukkan bahwa aspek sumber daya manusia unggul, pendanaan, dan regulasi memberikan kontribusi positif paling besar terhadap efektivitas ekosistem, sedangkan budaya memiliki pengaruh negatif. Hasil ini memperkuat gambaran perbandingan kedua wilayah berdasarkan radar chart yang menunjukkan variasi nilai antar dimensi. Pada dimensi akses pasar. Kecamatan Luhak Nan Duo memperoleh tingkat efektivitas lebih tinggi . dibanding Kinali (Ae0,. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha di Luhak Nan Duo memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi permintaan, kedekatan geografis dengan pusat ibu kota, dan jaringan pemasaran yang lebih luas. Sebaliknya, lokasi Kinali yang berada di perbatasan menjadikan jangkauan pasar lebih terbatas dan kurang efektif dalam mendorong kinerja usaha. Dimensi sumber daya manusia unggul juga menunjukkan perbedaan signifikan, di mana Luhak Nan Duo memiliki nilai 0,260, jauh di atas Kinali yang hanya 0,086. Kondisi ini menggambarkan ketersediaan tenaga kerja yang lebih terdidik serta akses pendidikan formal yang lebih dekat dengan pusat pemerintahan kabupaten. Sebaliknya. Kinali masih Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 228 didominasi oleh SDM dengan keterampilan dasar, sehingga kontribusinya terhadap penguatan usaha belum optimal. Pada dimensi pendanaan, kedua wilayah memiliki nilai relatif serupa, tetapi Luhak Nan Duo sedikit lebih unggul . dibanding Kinali . Hal ini menunjukkan bahwa akses pembiayaan, meskipun masih terbatas, lebih mudah dijangkau oleh pelaku usaha di Luhak Nan Duo. Sementara itu, dimensi regulasi dan infrastruktur menunjukkan keunggulan Kinali . dibanding Luhak Nan Duo . Infrastruktur jalan, dukungan regulasi, dan fasilitas pendukung usaha di Kinali dinilai lebih memadai, sementara wilayah pedalaman di Luhak Nan Duo masih menghadapi keterbatasan aksesibilitas. Dimensi universitas menunjukkan nilai rendah pada kedua wilayah, namun Luhak Nan Duo sedikit lebih baik . dibanding Kinali (Ae0,. Perbedaan ini disebabkan oleh keberadaan institusi pendidikan tinggi yang lebih dekat dengan Luhak Nan Duo, sementara Kinali tidak memiliki perguruan tinggi yang dapat berperan dalam penyebaran pengetahuan dan inovasi usaha. Perbedaan mencolok juga terlihat pada dimensi budaya, di mana Kinali memiliki nilai sangat tinggi . , menunjukkan kuatnya etos kerja dan budaya bertani masyarakat transmigran. Sebaliknya. Luhak Nan Duo memiliki nilai negatif (Ae0,. , menandakan bahwa budaya kewirausahaan belum menjadi kebiasaan yang dominan di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan skor REAP pada masing-masing dimensi berkontribusi terhadap variasi kinerja usaha di kedua kecamatan. Wilayah dengan kekuatan pada akses pasar. SDM unggul, dan pendanaan cenderung memiliki kapasitas usaha yang lebih baik, sementara kelemahan pada budaya serta dukungan institusi pendidikan membatasi kemampuan adaptasi dan inovasi. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan dimensi ekosistem secara seimbang sangat penting untuk mendorong keberlanjutan usaha pertanian di tingkat lokal. Tabel 1. Skor Dimensi REAP Kecamatan Kinali dan Luhak Nan Duo Dimensi REAP Kinali Luhak Nan Duo Akses Pasar Sumber Daya Manusia (SDM) Pendanaan Regulasi & Infrastruktur Universitas Budaya Ae0,079 0,086 0,157 0,260 0,218 0,254 0,228 0,201 Ae0,031 0,423 0,026 -0,064 Source: Data diolah dari hasil SPSS Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap dimensi REAP memiliki pola kontribusi yang berbeda terhadap kondisi ekosistem kewirausahaan di Kecamatan Kinali dan Luhak Nan Duo. Perbedaan skor pada tabel hasil menjadi dasar utama dalam pembahasan ini. Skorskor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menggambarkan bagaimana elemen-elemen ekosistem mendukung atau membatasi perkembangan usaha pertanian di kedua wilayah. Pembahasan ini disusun untuk menjelaskan apa yang ditemukan, bagaimana temuan itu terbentuk, dan mengapa temuan tersebut relevan jika dihubungkan dengan konsep dasar ekosistem kewirausahaan. Dimensi akses pasar menampilkan perbedaan yang cukup mencolok. Nilai negatif pada Kinali menandakan masih adanya kendala dalam menjangkau pasar dan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 229 memperoleh informasi permintaan. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme distribusi dan relasi dagang belum berjalan optimal. Sebaliknya, skor positif pada Luhak Nan Duo menunjukkan bahwa pelaku usaha di wilayah ini memiliki akses yang lebih baik terhadap pembeli dan jaringan pemasaran. Perbedaan ini selaras dengan konsep dasar REAP yang menempatkan akses pasar sebagai komponen utama dalam mempercepat pertumbuhan usaha. Skor positif tersebut mengindikasikan bahwa Luhak Nan Duo memiliki ekosistem yang lebih kondusif dalam menyediakan jaringan pemasaran yang aktif. Dengan demikian, klaim bahwa akses pasar mempengaruhi perkembangan usaha dapat didukung oleh data yang disajikan. Dimensi sumber daya manusia memperlihatkan kecenderungan yang sama. Luhak Nan Duo mencatat skor yang lebih tinggi dibandingkan Kinali, menunjukkan bahwa kapasitas teknis dan manajerial pelaku usaha relatif lebih baik. Temuan ini relevan dengan konsep human capital dalam ekosistem kewirausahaan, di mana keterampilan dan kemampuan adaptasi pelaku usaha merupakan fondasi penting dalam mempertahankan kinerja usaha. Skor yang lebih tinggi memperlihatkan bahwa pelaku usaha di Luhak Nan Duo lebih mampu mengelola proses produksi, merespons perubahan, dan mengambil keputusan usaha secara lebih efektif. Data ini secara langsung mendukung ekspektasi bahwa sumber daya manusia yang kuat berkontribusi pada ekosistem usaha yang lebih Dimensi pendanaan menunjukkan nilai yang hampir seimbang antara kedua Meskipun tidak terlalu tinggi, skor tersebut memberikan gambaran bahwa akses modal tetap menjadi hambatan umum bagi pelaku usaha pertanian. Konsep dasar REAP menyebutkan bahwa pendanaan merupakan elemen krusial dalam memungkinkan usaha melakukan ekspansi atau inovasi. Kedua wilayah, meski memiliki sedikit perbedaan nilai, sama-sama menunjukkan keterbatasan akses terhadap pembiayaan formal. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa aspek kinerja usaha, seperti efisiensi proses internal, belum mencapai tingkat yang optimal. Temuan ini masuk akal bila dikaitkan dengan data, karena skor sedang pada pendanaan berarti pelaku usaha belum memiliki banyak pilihan pembiayaan yang fleksibel. Dimensi regulasi dan infrastruktur memperlihatkan keunggulan Kinali. Skor lebih tinggi pada dimensi ini menunjukkan bahwa pelaku usaha merasakan prosedur administrasi yang lebih jelas dan dukungan infrastruktur yang lebih layak. Infrastruktur yang lebih baik menjelaskan bagaimana aktivitas usaha dapat berjalan lebih lancar, terutama dalam mendistribusikan hasil panen. Konsep dasar ekosistem kewirausahaan menekankan bahwa regulasi dan infrastruktur merupakan landasan operasional yang memengaruhi keseluruhan kelancaran usaha. Data yang disajikan mendukung klaim bahwa perbedaan kualitas regulasi dan infrastruktur bisa menyebabkan variasi efektivitas ekosistem antar Dimensi universitas menunjukkan skor rendah pada kedua kecamatan. Hal ini mengindikasikan bahwa kontribusi perguruan tinggi dalam bentuk pelatihan, edukasi bisnis, atau akses inovasi belum dirasakan secara optimal oleh pelaku usaha. Menurut konsep dasar REAP, peran universitas meliputi dukungan dalam pembelajaran dan inovasi, namun data yang disajikan menunjukkan bahwa elemen ini belum berjalan secara efektif. Rendahnya skor pada dimensi ini masuk akal ketika dikaitkan dengan hasil penelitian, karena pelaku usaha pertanian biasanya memiliki hubungan yang terbatas dengan institusi Dimensi budaya kewirausahaan memperlihatkan perbedaan paling kuat. Luhak Nan Duo memperoleh skor negatif, menunjukkan bahwa nilai-nilai kewirausahaan seperti keberanian mengambil risiko, sikap proaktif, dan keyakinan terhadap manfaat berusaha Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 230 masih lemah. Sebaliknya, skor tinggi di Kinali mencerminkan dukungan budaya yang kuat terhadap aktivitas usaha pertanian. Konsep dasar ekosistem kewirausahaan mengakui budaya sebagai elemen penting yang memengaruhi pola perilaku pelaku usaha. Data yang ditampilkan memvalidasi hubungan tersebut, karena variasi skor budaya terlihat sejalan dengan dinamika usaha yang terjadi di masing-masing wilayah. Secara sintesis, hubungan antara tabel hasil dan konsep dasar ekosistem kewirausahaan terlihat jelas. Dimensi yang memperoleh skor tinggi di satu wilayah berkaitan dengan kondisi lingkungan yang lebih mendukung, sementara dimensi yang memperoleh skor rendah menunjukkan adanya elemen ekosistem yang belum berfungsi optimal. Dengan demikian, pembahasan ini memperlihatkan bahwa temuan penelitian sesuai dengan ekspektasi konseptual, dan variasi skor antar dimensi dapat dijelaskan secara logis melalui kerangka REAP. Simpulan dan Saran Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas ekosistem kewirausahaan pada pelaku usaha pertanian di Kecamatan Kinali dan Luhak Nan Duo menunjukkan variasi yang jelas pada setiap dimensi REAP. Nilai efektivitas pada dimensi akses pasar, budaya, pendanaan, sumber daya manusia unggul, serta regulasi dan infrastruktur memperlihatkan perbedaan yang mencerminkan karakteristik lokal masing-masing wilayah. Temuan ini menegaskan bahwa performa usaha pertanian sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kewirausahaan yang melingkupi pelaku usaha, dan setiap dimensi memberikan kontribusi yang berbeda terhadap keberhasilan aktivitas usaha. Dari sisi nilai dan kegunaan penelitian, kajian ini memberikan gambaran empiris mengenai bagaimana elemen-elemen ekosistem kewirausahaan bekerja dalam mendukung usaha pertanian di tingkat kecamatan. Pendekatan REAP terbukti efektif dalam mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan lingkungan usaha, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam penyusunan strategi pengembangan ekonomi lokal. Hasil penelitian ini memiliki implikasi praktis bagi pemerintah daerah, lembaga pendukung usaha, maupun pelaku UMKM, terutama dalam memperkuat akses pasar, meningkatkan kapasitas SDM, memperbaiki infrastruktur pendukung, serta menciptakan kebijakan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan usaha pertanian. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada ruang lingkup wilayah yang hanya mencakup dua kecamatan dan fokus variabel yang terbatas pada dimensi REAP tanpa mempertimbangkan faktor eksternal lainnya. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas area kajian, menambahkan variabel seperti teknologi digital, integrasi rantai pasok, atau dukungan kelembagaan lainnya, serta mempertimbangkan penggunaan metode campuran agar menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif. Selain itu, penguatan ekosistem kewirausahaan melalui peningkatan akses pembiayaan, peran perguruan tinggi, dan perluasan jejaring usaha perlu terus didorong agar pelaku usaha pertanian memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan meningkatkan daya saing. Ucapan Terimakasih Penulis menyampaikan apresiasi kepada Program Studi Magister Manajemen Universitas Andalas atas dukungan akademik yang diberikan selama proses penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pelaku usaha pertanian di Kecamatan Kinali dan Luhak Nan Duo yang telah berpartisipasi sebagai responden dan menyediakan data yang diperlukan. Penulis turut menghargai masukan dari dosen Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 231 pembimbing serta bantuan dari berbagai pihak yang terlibat dalam penyempurnaan artikel ini. Segala bentuk dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam terselesaikannya penelitian ini. Referensi