Prosiding Seminar Nasional Peternakan. Kelautan, dan Perikanan I (Semnas PKP I) AuOptimalisasi Peran Sektor Peternakan. Kelautan, dan Perikanan dalam Mendukung Kemajuan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dan Menyongsong Indonesia Emas 2045Ay Peran Stakeholder Agrowisata terhadap Penerapan Community Based Tourism (CBT) di Desa Wisata Sapi Perah Brau: Studi Kasus Wisata Sapi Perah Brau. Dusun Brau. Desa Gunungsari. Kecamatan Bumiaji. Kota Bat. (The Role of Agrotourism Stakeholders in the Implementation of Community Based Tourism (CBT) in the Brau Dairy Cattle Tourism Village: Case Study of Brau Dairy Cattle Tourism. Brau Hamlet. Gunungsari Village. Bumiaji District. Batu Cit. Syahrain Khafi*. Siti Aziza Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya. Malang *Corresponding author: syahrainkhafi18@student. ABSTRACT Tourism villages focused on agro-agriculture have developed significantly through the Community-Based Tourism (CBT) approach, which emphasizes local community involvement as a key factor for success. Previous studies highlight that local community participation in the development of tourism villages is a crucial indicator of successful CBT implementation. This study aims to describe the application of CBT, the roles of stakeholders, and the factors influencing the development of Brau Dairy Cattle Tourism. The research employed a descriptive qualitative method with a case study approach. Findings reveal that stakeholders in Brau Dairy Cattle Tourism play roles as facilitators/regulators, dynamisators, operators, and service users, with participation categorized into incentive, interactive, functional, and initiative Stakeholder participation is influenced by leadership, communication, and education. However, tourism development faces obstacles such as limited infrastructure, lack of village organization support, and low human resource quality, compounded by the absence of official governance. The primary supporting factor for this tourism is the natural beauty of the area, which serves as its main attraction. CBT implementation in Brau Dairy Cattle Tourism has been carried out but remains suboptimal, particularly in community involvement in local management, economic equity, and political empowerment in decision-making processes. Keywords: Economic equality. Local management. Political Empowerment ABSTRAK Desa wisata yang difokuskan pada agro-pertanian berkembang pesat melalui pendekatan community based tourism (CBT) yang menekankan pada keterlibatan masyarakat setempat sebagai salah satu faktor kunci Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa salah satu hal penting dalam penerapan CBT adalah keterlibatan masyarakat setempat dalam pengembangan desa wisata yang menjadi salah satu indikator keberhasilan penerapan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan CBT, peran stakeholder, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan wisata sapi perah Brau ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menunjukkan bahwa peran stakeholder wisata sapi perah Brau meliputi fasilitator/regulator, dinamisator, operator, dan pengguna jasa, dengan partisipasi berupa insentif, interaktif, fungsional, dan inisiatif. Partisipasi stakeholder dipengaruhi oleh kepemimpinan, komunikasi, dan edukasi, namun pengembangan wisata terhambat oleh keterbatasan sarana, organisasi desa, dan kualitas sumber daya manusia, serta ketiadaan naungan resmi. Faktor pendukung utama wisata ini adalah keindahan alam yang menjadi daya tariknya. Dapat disimpulkan bahwa Penerapan CBT pada wisata sapi perah Brau sudah terlaksana meskipun belum berjalan optimal dengan mengkaji aspek keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lokal, pemerataan ekonomi, dan pemberdayaan politik dalam pengambilan keputusan. Kata Kunci: Kesetaraan ekonomi. Manajemen lokal. Pemberdayaan politik AProsiding Seminar Nasional PKP I 2024 e-ISSN: 3090-305X Khafi & Aziza | Seminar Nasional PKP I . : 55 Ae 60 Pendahuluan yang signifikan karena mereka inilah adalah suatu pondasi dari perkembangan kawasan atau bisnis pariwisata yang ada. Sebagaimana dijelaskan oleh Freeman . , bahwa pemangku kepentingan adalah setiap kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi. Dalam kasus ini, tujuan yang ingin dicapai adalah pembangunan lokasi wisata. Usaha Pengembangan suatu bisnis wisata dalam bentuk Agrowisata merupakan salah satu bentuk alat yang ampuh dalam masyarakat setempat di wilayah geografis yang mendukung untuk dibangun nya suatu memanfaatkan sumberdaya manusia dari masyarakat sekitar yang ada di daerah tersebut hal tersebut memberikan dampak yang sangat signifikan bagi masyarakat tersebut dalam aspek ekonomi, sosial, lingkungan dan politik. Pengembangan suatu pariwisata dengan pendekatan community based tourism (CBT) atau pariwisata berbasis komunitas merupakan salah satu solusi dalam mengembangkan perekonomian suatu daerah setempat serta menjamin keberlanjutan dari suatu pariwisata Menurut Nurhidayati . , agrowisata adalah industri pariwisata yang memanfaatkan media promosi, pendidikan, diversifikasi produk agribisnis, dan pasar berbagai produk lokal untuk menciptakan peluang kerja dan usaha bagi masyarakat lokal. Salah satu aspek yang mempengaruhi perkembangan suatu agrowisata dengan pendekatan CBT adalah memfokuskan pengembangan masyarakat atau sumber daya manusia yang akan turut ikut berperan dalam perkembangan agrowisata Hal ini sejalan dengan Paramaratri . ] mengatakan bahwa ketika ada tempat wisata di desa agrowisata, masyarakat di sana diberdayakan dalam berbagai bidang, termasuk pengelolaan SDM, ekonomi, budaya, dan sosial. Konsep CBT mengatakan bahwa pembangunan pariwisata dilakukan "dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat" . Peran dari suatu pemangku kepentingan atau stakeholder merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam penerapan CBT. Menurut Sarwoedi . secara umum, pemangku kepentingan dapat diartikan sebagai pihak terkait yang mempunyai kepentingan atau keprihatinan yang mempengaruhi atau terkena dampak langsung dari suatu objek. yang menjelaskan bahwasanya objek yang dimaksud ialah berupa organisasi, kebijakan, masalah, proyek, dan bangunan. Pengaruh dari stakeholder ini memberikan suatu dampak Metode Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada kawasan wisata sapi perah Brau yang berlokasi di Dusun Brau. Desa Gunungsari. Kecamatan Bumiaji. Kota Batu. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan selama bulan FebruariMaret 2024. Populasi dan Sampling Teknik pengambilan sampel responden dengan menggunakan teknik purposive Pada penelitian ini membutuhkan 2 komponen responden yaitu resnponden inti dan resnponden pendukung. Resnponden inti yaitu: stakeholder internal yaitu, pemilik usaha, pekerja, dan manajer, sedangkan resnponden pendukung yaitu: stakeholder eksternal yaitu masyarakat, pelanggan dan pemerintah. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan pada penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu: data primer dan Sumber data utama adalah observasi, yang merupakan faktor penting dalam mendalam, dan dokumentasi. Prosedur Penelitian Penelitian ini akan dilakukan secara purposive . dengan beberapa pertimbangan seperti: . Kawasan desa wisata yang dipilih merupakan pariwisata yang masuk dalam ranah peternakan sapi perah, . kawasan desa wisata memiliki potensi wisata yang besar untuk dikembangkan serta dikenal masyarakat luas, . kawasan desa wisata masih belum banyak dikenal oleh wisatawan, . masih belum optimal, . belum Khafi & Aziza | Seminar Nasional PKP I . : 55 Ae 60 ada penelitian yang dilakukan sebelumnya di kawasan desa wisata sapi perah yang berkaitan dengan penelitian ini. Penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan case study. Moleong . menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang menampilkan data deskriptif dari perilaku dan kata-kata tertulis atau lisan individu. waktu itu pada tahun 2021. Wisata sapi perah Brau ini didirikan secara swadaya dengan bertujuan pada awalnya untuk pemberdayaan peternak disana dimana terkhususkan kepada wisata dan pemberdayaan peternakan, seperti kebersihan kandang, pengolahan hasil limbah peternakan, serta pengolahan hasil ternak yang lain seperti keju dan stik susu, yogurt dan olahan UMKM Tujuan lain yang ditujukan seperti menambah perekonomian warga disana dimana diketahui hampir semua masyarakat di Dusun Brau merupakan peternak sapi perah. Wisata sapi perah Brau ini memiliki beberapa keunikan yang ada di tempat wisata edukasi peternakan lainnya. Keunikan wisata sapi perah Brau ini yaitu dari segi konsep wisata konvensional dan peternakan rakyat, dimana wisatawan akan disajikan konsep wisata lebih dekat dengan peternak rakyat secara langsung dengan bagaimana cara memerah susu yang biasa mereka minum sehari-hari yang dihasilkan oleh susu hasil peternakan dalam negeri itu sendiri dan bisa merasakan bagaimana wisatawan menjadi peternak sapi perah itu tersendiri. Selain dari wisata peternakan rakyat yang disajikan, paket wisata yang dihadirkan oleh wisata sapi perah Brau ini seperti yang dijelaskan oleh Koordinator Wisata disana yaitu dimulai dari harga Rp 25. 000/Pax nya, paket wisata itu meliputi tour leader, welcoming drink dan trip edukasi. Trip edukasi tersebut meliputi pemeliharaan sapi perah, jenis-jenis penyimpanan susu yang berada di koperasi unit desa, pengolahan limbah biogas, serta melihat pengolahan produksi keju mozzarella yang ada di sana. Analisis Data Pada penelitian ini digunakan metode keabsahan data yaitu triangulasi. Metode triangulasi bertujuan untuk mengumpulkan data sekaligus untuk menguji validitas data tersebut, dengan meninjau kredibilitas data dengan teknik pengumpulan data yang lain serta sumber data. Sugiyono . menyatakan bahwa triangulasi adalah metode pengumpulan data yang menggabungkan berbagai metode dan sumber data sebelumnya. Analisis data dilakukan dengan langkahlangkah berikut: . mengimpor hasil data, . koding data . Visualisasi Hasil Koding dengan Hierarchy Chart . Visualisasi Hasil Coding dengan Chart, . Visualisasi Hasil Coding dengan Comparison Diagram, . penyajian hasil, dan penarikan kesimpulan. Alisis data menggunakan bantuan aplikasi NVivo 12 Plus . Hasil dan Pembahasan Gambaran Umum Lokasi Penelitian Dusun Brau adalah salah satu dusun dalam Desa Gunungsari yang berada di Kecamatan Bumiaji. Kota Batu. Provinsi Jawa Timur. Dengan ketinggian tempat 1. 034 mdpl dengan rataan suhu hariannya 18 Ae 25A C dengan populasi jiwa sebanyak 500 Jiwa dengan populasi sapi perah jenis Fresh Holland sebanyak 1. 500 ekor. Wisata sapi perah Brau yang terletak pada Desa Gunungsari di Dusun Brau ini berdiri secara otonom dan didirikan secara swadaya oleh koordinator wisata disana dan kelompok peternak yang ada yang sudah direncanakan sejak september 2019 dan disahkan oleh Walikota Kota Batu oleh Dewanti Rumpoko selaku walikota yang menjabat pada saat Keikutsertaan Peternak dan Masyarakat di Wisata Sapi Perah Brau Pengelolaan manajemen di wisata sapi perah Brau dimana fungsinya yang mengatur pengarahan koordinasi pemandu wisata saat kegiatan wisata sedang berlangsung, dan pengawasan terhadap kegiatan wisata yang sebagian besar masih di pegang oleh koordinator desa. Hal ini dilihat melalui observasi lapang masyarakat sangat akan Khafi & Aziza | Seminar Nasional PKP I . : 55 Ae 60 dikarenakan tidak adanya kepengurusan yang jelas di dalam wisata tersebut. Kontribusi masyarakat dalam mengelola administrasi dalam mengatur Standard Operational Procedure (SOP), kebijakan internal wisata sapi perah Brau dan hubungan eksternal kepada Dinas Pariwisata Kota Batu, yang mengatur manajemen operasional wisata sebagian besar masih ditanggung oleh koordinator wisata dan kepala dusun, hal ini disebabkan karena minimnya akses dan pengetahuan terkait pengelolaan wisata di wisata sapi perah Brau dan catatan administrasi terkait perencanaan wisata, pengelolaan sarana prasarana dan perizinan wisata tidak disimpan dan catat dengan baik oleh koordinator wisata sehingga administrasi wisata di wisata sapi perah Brau tergolong Dalam hal pengelolaan perizinan dan kebijakan di Dusun Brau dalam menjadi sektor pendukung dalam pengembangan wisata ini masih kurang adanya atensi dari pemerintah desa dengan ditandai minimnya keikutsertaan Desa Gunungsari pengembangan dari tahap tahap pengadaan organisasi desa atau organisasi wisata dan pengembangan wisata di Dusun Brau kepada pengunjung dan selalu diberikannya akses dalam berpendapat dan mengambil keputusan dalam pengelolaan wisata. Pengembangan Kualitas Hidup Masyarakat DukunganKualitas hidup warga Dusun Brau semejak kehadiran wisata sapi perah Brau mendapatkan edukasi keahlian terkait aktivitas wisata yang diberikan dari pemerintah dengan upaya memberikan pelatihan wisata, selain dari itu networking terkait wisata juga diperoleh oleh masyarakat disana melihat adanya studi banding wisata dan forum group discussion (FGD) dengan pengelola wisata lain. Dusun Brau dengan hadirnya wisata ini pun bisa dikenal secara luas oleh masyarakat luar karena wisata yang hadir yang dikunjungi oleh wisatawan. Keadaan ekonomi masyarakat Dusun Brau meningkat semenjak hadirnya wisata sapi perah Brau, pendapatan bertambah saat pengunjung datang ke dusun mereka untuk menikmati aktivitas wisata. Jasa, makanan serta penginapan tidak resmi disediakan secara langsung oleh masyarakat Dusun Brau kepada pengunjung disana dengan memberikan akses pribadi milik mereka. Saat pembangunan wisata sapi perah Brau ini kebersihan kandang peternak menjadi perhatian khusus adanya, kandang yang akan dikunjungi oleh pengunjung harus bersih demi keselamatan dan kenyamanan aktivitas wisata disana, hal ini merupakan salah satu pemberdayaan peternak agar sadar akan pentingnya kebersihan kandang demi kegiatan beternak dan wisata. Dukungan dan Pengembangan Kepemilikan Komunitas Wisata Dukungan yang diberikan secara langsung dari masyarakat Dusun Brau terlihat dengan mereka menyambut dengan baik atas kehadiran dari wisata sapi perah Brau, peternak yang rela membukakan kandang kepada pengunjung, pembukaan lahan parkir, menjaga kebersihan kandang, membuka toilet umum dan penginapan sementara. Bukti rasa kepemilikan wisata di Dusun Brau ini masih tergolong rendah. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya ide, gagasan, keberanian dalam mengambil keputusan. Namun rasa kepemilikan ini juga didukung dengan sambutan yang sangat baik oleh masyarakat lokal dengan hadirnya wisata sapi perah Brau yang membuka desa wisata ini Peran Stakeholder Peran stakholder dalam pengmabangan wisata sapi perah Brau dapat dilihat pada Gambar 1, dan 2. Gambar 1. Peran stakeholder Khafi & Aziza | Seminar Nasional PKP I . : 55 Ae 60 Gambar 1 menunjukan bahwasanya peran peran dari pemangku kepentingan yang menjadi suatu pondasi penting dalam penerapan community based tourism. Melihat pentingnya keikutsertaan dari para stakeholder dalam tahap pembangunan dan pengembangan suatu desa wisata, maka dari itu perlunya kesadaran dari para stakeholder untuk bersama-sama ikut mengembangkan serta membangun desa wisata sapi perah yang berada di Dusun Brau. Desa Gunungsari. Kecamatan Bumiaji. Kota Batu agar dapat berlanjut sesuai dengan aspek aspek dari community based tourism itu tersendiri secara ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya. dengan keindahan alam pegunungan, kesejukan udara dan kualitas udara nya. Hal ini juga ditunjang oleh sumber daya alam dan sektor ekonomi unggulan yang mencakup peternakan, pertanian dan sektor pariwisata alam yang didukung oleh kondisi geografis dari Kota Batu itu tersendiri, oleh karena itu faktor keindahan alam menjadi faktor penunjang dari wisata sapi perah Brau ini. Wisata sapi perah Brau dalam pelaksanaan nya berjalan dengan menerapkan pariwisata yang berbasis masyarakat, dengan mengandal peternak yang menjadi mata pencaharian utama bagi masyarakat Dusun Brau, secara peranan vital yang ada di dalam peternak itu tersendiri dalam pembangunan serta pengembangan desa wisata ini, namun dalam pelaksanaanya ini pasti memiliki pengembangannya itu. Mulai dari sarana prasarana, kehadiran organisasi desa. Partisipasi stakeholder dan sumber daya manusia, namun melihat yang tidak kalah penting bahwasanya legalitas wisata sapi perah Brau ini masih berjalan secara swadaya yang dipimpin oleh koordinator wisata yang sampai saat ini belum memiliki organisasi/kelompok peternak resmi yang bertugas dalam aktivitas desa wisata ini, yang bisa membuat sewaktuwaktu desa wisata ini tidak stabil dalam aktivitas perjalanannya itu tersendiri karena tidak memiliki hierarki yang digunakan untuk mengatur, membagi wewenang dan tanggung jawab wisata ini tersendiri. Gambar 2. Stakeholder di wisata sapi perah Brau Gambar 2 menjelaskan bahwasanya segmentasi pemangku kepentingan yang berada di wisata sapi perah Brau yang berada di Dusun Brau. Desa Gunungsari. Kecamatan Bumiaji. Kota Batu ini dibagi menjadi dua yaitu stakeholder internal dan eksternal. Dimana stakeholder internal yang berisikan Koordinator wisata, masyarakat dan peternak, dan stakeholder eksternal yang berisikan dinas pariwisata, pemerintah desa dan dusun, serta Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penerapan pariwisata berbasis masyarakat di wisata sapi perah Brau telah memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar, walaupun demikian implementasinya masih menghadapi sejumlah kendala, seperti ketidakhadiran organisasi desa/wisata yang mendukung dan wisata yang masih berjalan secara swadaya. Wisata sapi perah Brau menunjukan bahwa penerapan CBT terkhususnya pelibatan masyarakat setempat di wisata ini sudah diterapkan berdasarkan 3 unsur penting yaitu Faktor yang Mempengaruhi Penerapan Community Based Tourism Partisipasi Stakeholder di Wisata Sapi Perah Brau Wisata sapi perah Brau memiliki keuntungan wisata karena didukung pula oleh keindahan alam nya, karena terletak di Kota Batu yang berada di wilayah pegunungan. Khafi & Aziza | Seminar Nasional PKP I . : 55 Ae 60 manajemen dan pengembangan pariwisata, memberikan pemerataan akses ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat, memberikan pemberdayaan politik . apacity buildin. masyarakat lokal yang bertujuan meletakkan Hutan Payau. Cilacap. Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah. 12, 2 . , 45Ae56. DOI:https://doi. org/10. 47256/kepariwisat Daftar Pustaka