Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Februari 2025: 87Ae96 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . KERAGAMAN GULMA DI PERTANAMAN PADI AROMATIK METODE SRI PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN YANG DIAPLIKASI PUPUK NPK DAN KOMPOS JERAMI PADI (Weed Diversity in Aromatic Rice Plantations SRI Method on Rainfed Rice Fields Applied NPK Fertilizer and Rice Straw Compos. MUHAMMAD SAIFUDDIN ANSHARY . RIZA ADRIANOOR SAPUTRA . UNTUNG SANTOSO . JUMAR JUMAR Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Lambung Mangkurat. Jl. Yani Km. Banjarbaru. Kalimantan Selatan, 70714. Indonesia *E-mail: ras@ulm. ABSTRACT Rainfed rice fields are wetlands whose use is still not optimal, so proper management is needed so that they can be utilized for rice cultivation. In efforts to improve land productivity, the concept of a sustainable rice cropping system has been developed which takes into account environmental conditions known as the System of Rice Intensification (SRI). One of the serious limiting factors in the utilization of rainfed lowland rice fields is the problem of weeds. This study aims to determine the diversity of weeds in rainfed paddy fields planted with aromatic rice and fertilized with NPK fertilizer combined with rice straw compost. This study used a 2-factor randomized block design (RBD). The first factor was the dose of NPK fertilizer (A), namely: a0 = 0 kg ha . , a1 = 150 kg ha , and a2 = 300 kg ha , and the second factor is the dose of rice straw compost (K), namely: k1 = 5 t ha , k2 = 5 t ha , k3 = 10 t ha , k4 = 12. 5 t ha , k5 = 15 t ha , and k6 = 20 t ha . The results showed that there were six types of weeds found in the aromatic rice planting area in rainfed lowland rice fields that were applied with NPK fertilizer and rice straw compost, namely Cyperus rotundus. Chloris radiata. Cyperus iria. Echinochloa colona. Ludwigia palustris, and Amaranthus spinosus. The weed that dominated rainfed lowland rice planted with aromatic rice with the application of NPK fertilizer and rice straw compost was Cyperus rotundus, with a summed dominance ratio (SDR) of 58Ae100% found in the a2k6 treatment . kg ha NPK 20 t ha rice straw compos. The highest weed diversity index (H') value was found in the a0k1 treatment . kg ha 5 t ha rice straw compos. at a 45 DAP of Keywords : agricultural waste, compost, suboptimal, weeds, wetlands PENDAHULUAN Lahan sawah tadah hujan adaIah sawah yang sangat bergantung dengan curah hujan sebagai sistem pengairannya hanya ditanami saat musim hujan. Di Indonesia terdapat sekitar empat juta ha Iahan tadah hujan (SuIaiman et aI. Meskipun memiki Iuas yang besar, produksi padi di Iahan sawah tadah hujan masih rendah, berkisar antara 1,8 - 3,5 t ha-1 (Kasno et aI. HaI ini disebabkan karena Iahan tersebut hanya dapat ditanami sekaIi akibat keterbatasan air (SuIaiman et SeIain keterbatasan air, rendahnya produksi padi sawah tadah hujan juga dipengaruhi oIeh rendahnya penerapan teknoIogi, terutama daIam haI pemupukan (Lazuar 2. Padi merupakan bahan makanan utama masyarakat Indonesia yang memiki penduduk sebanyak 255,46 juta jiwa dengan tingkat konsumsi mencapai 124,89 kg kapita -1 tahun-1 (Kementerian Pertanian 2. Budidaya padi di Indonesia diIakukan secara konvensional, tetapi terus mendapat perubahan sejaIan dengan perkembangan teknoIogi budidaya. Namun, pen ggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia meningkat sedangkan pengunaan bahan organik menurun, bahkan sama sekaIi tidak digunakan. HaI ini berdampak buruk terhadap kondisi Iahan dan Iingkungan, menyebabkan penurunan kuaIitas tanah karena kehiIangan bahan organik dan bergantung pada bahan kimia. Tanah yang kandungan bahan organik rendah dapat merusak sifat fisik dan bioIogisnya (Mutakin 2. Guna meningkatkan produktivitas Iahan secara berkeIanjutan, diperkenalkan konsep Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. sistem tanam padi berkelanjutan yang memerhatikan Iingkungan. Konsep ini dikenaI sebagai System of Rice Intensification (SRI). Pemupukan pada SRI diIakukan dengan bahan organik atau pupuk organik untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara dan menjaga kesehatan tanah yang kian menurun (Kuswara & Alik 2. Pemberian bahan organik pada tanaman tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga mempengaruhi pertumbuhan guIma. Bahan organik yang berasaI dari tumbuhan dapat membawa biji guIma, terutama jika bahan organik tersebut masih mentah (Mutakin PeneIitian yang diIakukan oIeh Fitirana et aI. menunjukkan bahwa pemberian bahan organik seperti kompos dapat meningkatkan pertumbuhan guIma karena mengandung unsur hara yang dapat mendukung pertumbuhan biji-biji guIma. Penyebab rendahnya produksi padi saat ini adaIah masaIah guIma yang signifikan. Penurunan produksi padi akibat guIma mencapai tingkat yang tinggi, sekitar 60-87%. Secara nasionaI, penurunan produksi padi sawah akibat gangguan guIma mencapai 15-42% (Pitoyo 2. Penurunan produksi ini terjadi karena adanya guIma yang tumbuh meIimpah di Iahan persawahan. Penggunaan pupuk dapat mempercepat pertumbuhan dan keIimpahan guIma, yang menjadi masaIah serius daIam produksi padi di areaI persawahan (Utami & Puryadiningrum 2012. Suryatini GuIma membutuhkan Iingkungan yang sesuai untuk tumbuh, seperti tumbuhan Iainnya. GuIma akan bersaing dengan tanaman daIam memperoIeh unsur hara, air, cahaya. CO 2, dan ruang tumbuh (Paiman 2. Persaingan ini dapat menurunkan kuaIitas dan kuantitas tanaman, seperti yang ditemukan daIam peneIitian MoeIyaandani dan Setiyono . GuIma perIu dikendaIikan karena dapat mencemari hasiI tanaman, mengeIuarkan senyawa aIeIopati yang menghambat pertumbuhan tanaman, dan menjadi inang bagi hama dan patogen (MauIana & Chozin 2. GuIma tumbuh di pertanaman padi biasanya termasuk guIma daun Iebar, guIma daun sempit, dan tekitekian. Kerugian hasiI padi karena guIma berkisar 6-87% (Mutakin 2. Data Iebih detail menunjukkan bahwa penurunan hasiI secara nasionaI karena guIma adaIah 15-42% untuk padi sawah dan 47-87% untuk padi gogo (Pitoyo 2. GuIma memiki mekanisme reproduksi yang efektif, baik secara generatif dengan menghasiIkan biji maupun dengan vegetatif, sehingga dapat signifikan mengurangi hasiI tanaman budidaya (Booth et aI. PeneIitian ini penting untuk mengidentifikasi jenis guIma yang muncul di Iahan sawah tadah hujan yang ditanami padi aromatik varietas Mentik Susu dengan perIakuan kompos jerami padi dan pupuk NPK. HasiI identifikasi ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang cara mengendaIikan guIma dan meningkatkan produksi tanaman padi aromatik di Iahan sawah tadah Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keragaman guIma yang tumbuh di pertanaman padi aromatik metode SRI pada Iahan sawah tadah hujan yang diapIikasi pupuk NPK dan kompos jerami padi. BAHAN DAN METODE Bahan yang digunakan adaIah jerami padi, kotoran sapi, kotoran ayam, guano . otoran keIeIawa. , kapur pertanian . oIomi. , tetes tebu . oIas. , dekomposer Petro GIadiator, benih padi varietas Mentik Susu, dan pupuk NPK mutiara 16-16-16. AIat yang digunakan adaIah garu, parang, nampan, timbangan, gembor, termometer air raksa, terpaI, pIot, meteran, telepon seluler dan buku Weeds of Rice in Asia. Tempat dan Waktu PeneIitian ini diIaksanakan seIama 7 . buIan yakni dari Mei hingga November 2023 bertempat di UD. Subur Makmur Amali, sawah tadah hujan di Gunung Kupang. Kecamatan Cempaka. Kota Banjarbaru. KaIimantan SeIatan dan Laboratorium Produksi Jurusan AgroekoteknoIogi. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru. KaIimantan SeIatan. Metode Penelitian Limbah jerami padi diambiI dari Iahan sawah di Desa Kunyit. PeIaihari. KaIimantan SeIatan, dan diIakukan pengomposan menggunakan formuIa dari Jumar dan Saputra . Jerami padi sebanyak 200 kg dicacah haIus. IaIu dicampur dengan kotoran sapi, kotoran ayam, guano, dedak padi, dan kapur pertanian. Campuran ini diaduk dan ditambahkan dekomposer Petro GIadiator, tetes tebu . oIas. , dan air daIam ember 10 L. Campuran dekomposer, air, dan tetes tebu ini kemudian disiramkan di atas bahan yang dikomposkan. SeIanjutnya, bahan diaduk menggunakan garu dan ditutup dengan terpaI seIama 21 hari. Pengukuran suhu diIakukan setiap hari dan pengadukan diIakukan setiap dua hari sekaIi. Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Februari 2025: 87Ae96 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . Persiapan Iahan diIakukan di Iokasi peneIitian di Iahan sawah tadah hujan di Sawah Gunung Kupang Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. KaIimantan SeIatan. Luas Iahan sawah yang dipergunakan sekitar 900 m . tau sekitar 3,2 boron. Pertama. Iahan sawah dibersihkan dari guIma. IaIu Iahan ditraktor dengan menggunakan hand rotary tractor sebanyak 2 kaIi dan digaru sebanyak 1 kaIi. SeteIah itu dibuat petakan masing-masing seIuas 3 x 3 m. JumIah petakan yang dipersiapkan untuk peneIitian sebanyak 36 petakan, yang dibagi menjadi dua bIok percobaan. Bibit padi varietas Mentik Susu direndam daIam Iarutan garam untuk memperoIeh benih yang berkuaIitas. Benih yang tenggeIam dipih untuk perIakuan seIanjutnya, sementara benih yang terapung disisihkan. Benih padi kemudian dibersihkan dan direndam seIama 12 jam. SeteIah itu, benih disemai pada media semai berupa campuran tanah topsoiI, pupuk kandang ayam, dan sekam padi dengan perbandingan 1:1:1, yang ditempatkan di nampan. SeteIah bibit berumur 10 -12 HSS (Hari SeteIah Sema. , bibit padi siap untuk ditanam di Iahan. Penanaman bibit padi diIakukan di sawah dengan jarak tanam 30 x 30 cm. Setiap Iubang tanam ditanam satu bibit padi . anam tungaI) daIam posisi akar membentuk huruf L. Saat penanaman diIakukan, kondisi air di Iahan persawahan adaIah macak-macak, yaitu air berada sekitar 2-5 cm dari permukaan tanah. PenyuIaman diIakukan apabiIa terdapat tanaman yang gagaI Bibit yang digunakan adaIah bibit yang diambiI dari sisa bibit pesemaian yang ditanam di atas nampan. PenyuIaman diIakukan secepat mungkin, yakni pada 5-7 HST (Hari Setelah Tana. dengan tujuan agar pertumbuhan tanaman merata. Pengairan sawah, dibuat pintu masuk air atau inIet dekat saIuran tersier di pematang depan, dan pada ujung petakan sawah dibuat ceIah pintu atau outIet menggunakan pipa PVC untuk pembuangan air. Tinggi ceIah pintu pembuangan adaIah 5 cm dari permukaan tanah/Iumpur, yang dapat disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman padi. SeIama sepuIuh hari seteIah penanaman, diIakukan pengisian air hingga tergenang sedaIam 2-5 cm. SeteIah itu, diIakukan pengaturan macak-macak, yaitu kondisi basah-kering dengan intervaI 7-10 hari seIama fase Pada fase generatif. Iahan kembaIi digenangi hingga ketinggian 2-5 cm di atas permukaan Mendekati waktu panen . -14 hari sebeIum pane. Iahan dikeringkan. Penyiangan diIakukan sebanyak 4 kaIi dengan intervaI waktu 15 hari pada 15 HST, 30 HST, 45 HST dan 60 HST, penyiangan dilakukan guna mengathui tingkat keragaman gulma yang tumbuh. Setiap seIesai meIakukan penyiangan, diberikan Pupuk Organik Cair (POC) plus yang terbuat dari bahan aIami seperti tembakau, jahe. Iengkuas, brotowaIi, dan daun sirih. POC plus ini berguna sebagai pupuk cair dan pestisida aIami. Penyiangan diIakukan pada kondisi air macak-macak. Kompos jerami padi diaplikasikan pada saat pengoIahan tanah terakhir atau pada saat menjeIang tanam. Pupuk tambahan, yakni pupuk NPK Mutiara 16-16-16 dengan dosis 150 kg ha dan 300 kg ha . esuai dengan perIakua. diberikan 1 hari menjeIang tanam. SeIain itu, digunakan juga POC yang terbuat dari bahan aIami, disemprotkan secara periodik 7 hari sekaIi di musim kering dan 3 hari sekaIi di musim hujan. Dosis yang digunakan sebanyak 10 mL L (SafruIIah 2. PeneIitian ini menggunakan Rancangan Acak KeIompok (RAK) faktoriaI. Faktor pertama adaIah dosis pupuk NPK (A) dan faktor kedua adaIah dosis kompos jerami padi (K). Dosis pupuk NPK (A) terdiri atas 3 taraf perIakuan, yaitu a0: 0 kg ha-1 . ontroI). a1: 150 kg ha-1. a2: 300 kg ha-1, sedangkan dosis kompos jerami padi terdiri atas 6 taraf perIakuan, yaitu k1: 5 t ha-1. k2: 7. 5 t ha-1. 10 t ha . k4: 12. 5 t ha . k5: 15 t ha . k6: 20 t ha . Masing-masing perIakuan terdiri atas dua bIok percobaan, sehingga diperoIeh 36 satuan percobaan. AnaIisis vegetasi guIma dilakukan selama 3 kali pengamatan sebelum dilakukan penyiangan, yaitu pada 15, 30, dan 45 Hari Setelah Tanam (HST). Pengambilan gulma dilakukan secara sampling yang mana diambil 1 petakan pada tiap petak percobaan untuk diamati. Metode sampling yang digunakan purposive sampling yaitu penentuan sampel secara acak tetapi dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono 2. Menggunakan metode kuadran dengan dibuat semacam frame petakan berupa kayu bujur sangkar dengan ukuran 50 cm x 50 cm yang diletakkan pada petak penelitian (Sugiarti et al. Selanjutnya gulma dihitung tingkat dominansinya menggunakan metode SDR (Summed Dominance Rati. untuk mengetahui Kerapatan MutIak (KM). Kerapatan Nisbi (KN%). Frekuensi MutIak (FM). Frekuensi Nisbi (FN%). Indeks NiIai Penting (INP) dan niIai SDR (%). Pada anaIisis ini dibantu dengan perhitungan menggunakan program Microsoft ExceI 2019 untuk membantu perhitungan. Menurut Widaryanto . , data pengamatan yang diperoIeh dianaIisis menggunakan anaIisis SDR, parameter-parameter untuk anaIisis vegetasi dapat dihitung dengan rumus-rumus di bawah ini: Menghitung Kerapatan Kerapatan iaIah jumIah dari setiap spesies dan daIam tiap unit area. Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. Kerapatan MutIak (KM) = ( Spesie. /( Petak yang Terdapat Spesie. Kerapatan Nisbi (KN%) = (Kerapatan MutIa. /( Kerapatan MutIak semua spesie. x Menghitung Frekuensi Frekuensi adaIah parameter yang menunjukkan perbandingan dari jumIah kenampakannya dari contoh yang dibuat. Frekuensi MutIak (FM) = ( Petak yang Terdapat Spesie. / Petakan Frekuensi Nisbi (FN%) = (Frekuensi MutIa. /( Frekuensi MutIak semua spesie. x Menghitung Indeks NiIai Penting = (KN FN)/100 Menghitung SDR = INP/ Indeks Keragaman Jenis. Untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis vegetasi ditentukan menggunakan rumus Shannon Whiener Index (Mazidaturohmah et al. Indeks Keragaman Jenis (HA) = . i/N] In . i/N] Keterangan: = Indeks keragaman jenis = Indeks niIai penting dari suatu jenis = TotaI indeks niIai penting Menurut Afrianti et al. , kIasifikasi niIai keanekaragaman sebagai berikut: HA < 1 = rendah 1 < HA < 3 = sedang HA > 3 = tinggi Analisis Data Data yang didapat dari hasiI peneIitian diidentifikasi dan dideskripsikan. Data yang dideskripsikan berupa niIai summed dominance ratio (SDR), dan indeks keragaman guIma (HA). HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai Summed Dominance Ratio (SDR) dan Indeks Keragaman (HA) Hasil penelitian yang disajikan pada Tabel 1 menunjukkan nilai dari Summed Dominance Ratio (SDR) dan nilai indeks keragaman (HA) dari gulma yang tumbuh pada pertanaman padi aromatik di lahan sawah tadah hujan dengan aplikasi pupuk NPK dan kompos jerami padi pada 3 kali Menurutabel tersebut dapat disimpulkan bahwa gulma yang mendominasi pada lahan sawah tadah hujan adalah Cyperus rotundus dengan nilai Summed Dominance Ratio (SDR) 38% dan nilai indeks keragaman (HA) = 1,55 dikategorikan sedang. Perbedaan dari nilai SDR dapat ditentukan oleh bagaimana spesies gulma tersebut berkembangbiak. Cyperus rotundus sangat baik dalam berkembangbiak karena tumbuhan ini mampu berkembang dengan cepat walaupun berada pada kondisi lahan yang ekstrem (Yustiana et al. Keragaman gulma di lahan sawah dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu cahaya, unsur hara, pengolahan tanah, cara budidaya tanaman, jarak tanam atau kerapatan tanaman, dan umur dari tanaman (Tustiyani et al. Tabel 1. Nilai Summed Dominance Ratio (SDR) dan indeks keragaman gulma (HA) pada pertanaman padi aromatik di lahan sawah tadah hujan Nama Ilmiah SDR (%) Cyperus rotundus Chloris radiata Cyperus iria Echinochloa colona Ludwigia palustris Amaranthus spinosus Total Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Februari 2025: 87Ae96 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . Tabel 2. Nilai Summed Dominance Ratio (SDR) dan indeks keragaman gulma (HA) pada pertanaman padi aromatik di lahan sawah tadah hujan dengan aplikasi pupuk NPK yang dikombinasikan dengan kompos jerami padi pada 15, 30, dan 45 HST kg ha NPK 5 t ha kompos jerami pad. 15 HST Nama gulma SDR (%) Total kg ha NPK 7,5 t ha kompos jerami pad. 15 HST Nama gulma SDR (%) Total kg ha NPK 10 t ha kompos jerami pad. 15 HST Nama gulma SDR (%) Total kg ha NPK 12,5 t ha kompos jerami pad. 15 HST Nama gulma SDR (%) Total kg ha NPK 15 t ha kompos jerami pad. 15 HST Nama gulma SDR (%) Total kg ha NPK 20 t ha kompos jerami pad. 15 HST Nama gulma SDR (%) 30 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 30 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 30 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 30 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 30 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 30 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. Total 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) kg ha NPK 5 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 7,5 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 10 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 12,5 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 15 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 20 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Februari 2025: 87Ae96 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . kg ha NPK 5 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 7,5 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 10 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 12,5 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 15 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total kg ha NPK 20 t ha kompos jerami pad. 15 HST 30 HST Nama gulma SDR (%) SDR (%) Total 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) 45 HST SDR (%) Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. Hasil penelitian yang disajikan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa masing-masing perlakuan memiliki gulma dengan tingkat dominansi (SDR) yang berbeda-beda dan indeks keragaman (HA) yang dikategorikan rendah-sedang. Namun ada beberapa petakan yang tidak ditumbuhi gulma sehingga tidak memiliki nilai Summed Dominance Ratio (SDR) dan tidak memiliki keragaman gulma (HA= . Perlakuan a0k1 . kg ha-1 NPK 5 t ha-1 kompos jerami pad. menghasilkan peningkatan indeks keragaman petakannya pada 45 HST (HA=1,. dengan kriteria tingkat keragaman sedang. Hal ini seperti disebutkan oleh Afrianti et al. , apabila nilai dari indeks keragaman <1 memiliki indeks keragaman rendah, 1 < HA < 3 memiliki keanekaragaman sedang, dan >3 memiliki indeks keragaman tinggi. Nilai Summed Dominance Ratio (SDR) pada 15 dan 30 HST pada perlakuan a0k1 memiliki SDR paling tinggi yang didominasi oleh gulma C. Pada 45 HST, gulma yang memiliki nilai SDR paling tinggi yang didominasi oleh Chloris radiata dengan nilai SDR = 39%. Perlakuan a0k2 . kg ha NPK 7,5 t ha kompos jerami pad. gulma hanya terdapat pada 30 dan 45 HST yaitu Chloris radiata dengan nilai Summed Dominance Ratio (SDR) tertinggi sehingga tumbuhan ini mendominasi petakan dan apabila hanya satu gulma yang tumbuh maka nilai indeks keragaman petakannya bernilai HA = 0 atau rendah. Perlakuan a0k3 . kg ha NPK 10 t ha kompos jerami pad. gulma yang tumbuh bervariasi mulai dari 15 Ae 45 HST. Pada 15 HST gulma yang tumbuh yaitu Cyperus rotundus dan Ludwigia palustris dengan masing-masing nilai SDR 68% dan 32% dengan nilai indeks keragaman petakan pada 15 HST adalah HA= 0. 62 seperti menurut Afrianti et al. HA < 1 memiliki tingkat keragaman gulma yang rendah. Pada 30 HST terdapat dua gulma yang tumbuh yaitu Cyperus rotundus dan Chloris radiata dengan nilai SDR masing-masing sebesar 45% dan 55%. Gulma Chloris radiata mendominasi petakan a0k3 pada 30 HST dengan nilai indeks keragaman petakannya HA= Data tersebut tidak berbeda jauh dengan data pada pengamatan 15 HST, sedangkan pada pengamatan 45 HST gulma semakin beragam dengan ditemukannya Chloris radaita dengan nilai SDR 48%. Echinochloa colona dengan nilai SDR 23%, dan Amaranthus spinosus dengan nilai SDR 29% sehingga Chloris radiata mendominasi di petakan a0k3 pada 45 HST dan dengan indeks keragaman petakannya HA=1,05 atau memiliki keragaman yang sedang. Perlakuan a0k4 . kg ha NPK 12,5 t ha kompos jerami pad. gulma hanya terdapat pada 30 dan 45 HST dan hanya Chloris radiata yang tumbuh mendominasi petakan tersebut. Begitu pula pada a0k5 . kg ha NPK 15 t ha kompos jerami pad. hanya terdapat gulma pada 15 HST dan yang tumbuh adalah Cyperus rotundus serta pada a0k6 . kg ha NPK 20 t ha kompos jerami pad. gulma yang tumbuh hanya Cyperus rotundus pada pengamatan 15 dan 45 HST. Perbedaan waktu tumbuh gulma ini bisa disebabkan karena adanya proses penyiangan yang dilakukan. Seperti dilaporkan oleh Yarinap . bahwa penyiangan mampu mempengaruhi gulma yang tumbuh setelah penyiangan tersebut dilakukan. Gulma yang tumbuh pada perlakuan a1k1 . kg ha NPK 5 t ha kompos jerami pad. di pengamatan 15 HST hanya gulma Cyperus rotundus yang tumbuh dan pada 45 HST terdapat Cyperus rotundus dan Amaranthus spinosus yang mana kedua gulma tersebut saling berkompetisi dalam mendominasi petakan a1k1 dengan nilai SDR =50%. Perlakuan tersebu hanya ditumbuhi 2 jenis gulma, sehingga nilai keragaman petakan pada 45 HST adalah HA = 0,70 atau memiliki indeks keragaman yang rendah. Gulma yang tumbuh pada perlakuan a1k2 . kg ha NPK 7,5 t ha kompos jerami pad. di pengamatan 15 HST hanya terdapat gulma Cyperus rotundus, pada 30 HST bertambah satu jenis gulma yaitu Chloris radiata yang mana terjadi persaingan dalam mendominasi petakan, sehingga pada 30 HST ini nilai indeks keragaman petakannya HA = 0,70 atau memiliki indeks keragaman yang Namun pada 45 HST, dua jenis gulma yang tumbuh sebelumnya tidak lagi tumbuh dan gulma dengan jenis baru tumbuh yaitu Cyperus iria yang mendominasi petakan. Gulma yang tumbuh pada perlakuan a1k3 . kg ha NPK 7,5 t ha kompos jerami pad. terdapat peningkatan keragaman pada 30 HST. Gulma yang tumbuh pada 15 HST hanya ada satu jenis yaitu Cyperus rotundus, namun pada 30 HST bertambah satu jenis gulma yaitu Chloris radiata yang tumbuh dan mendominasi, akibat dari kehadiran satu jenis gulma ini sehingga nilai indeks keragaman petakan pada 30 HST adalah HA=0,70 yang termasuk ke dalam kriteria sedang. Pada 45 HST, gulma jenis Cyperus rotundus ditemukan tumbuh, namun yang tumbuh adalah Chloris radiata. Gulma yang tumbuh pada perlakuan a1k4 . kg ha NPK 10 t ha kompos jerami pad. di 15 HST seperti beberapa petakan yang lain, gulma yang tumbuh hanya Cyperus rotundus. Pada 30 HST, tumbuh satu jenis gulma baru yaitu Chloris radiata yang mendominasi petakan dengan nilai Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Februari 2025: 87Ae96 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . SDR = 55% sehingga nilai indeks keragaman petakannya pada 30 HST adalah HA = 0,69 dan pada 45 HST tidak ditemukan gulma yang tumbuh. Perlakuan a1k5 . kg ha NPK 15 t ha kompos jerami pad. ditemukan gulma tumbuh pada 15 HST dan gulma yang tumbuh pun hanya satu jenis yaitu Cyperus rotundus. Begitu pula pada a1k6 . kg ha NPK 20 t ha kompos jerami pad. , gulma hanya tumbuh pada 30 HST yaitu Chloris radiata. Perlakuan a2k1 . kg ha NPK 5 t ha kompos jerami pad. ditemukan gulma hanya pada pengamaan 15 dan 30 HST. Pada 15 HST hanya tumbuh satu jenis gulma yaitu Cyperus Pada 30 HST bertambah satu jenis gulma yaitu Chloris radiata yang mendominasi petakan, nilai SDR dari kedua jenis ini sebesar 50% dan indeks keragaman gulma (HA) petakan pada 30 HST sebesar 0,70. Perlakuan a2k2 . kg ha-1 NPK 7,5 t ha-1 kompos jerami pad. ditemukan gulma hanya pada 15 dan 45 HST. Gulma yang mendominasi hanya satu jenis yaitu Cyperus rotundus pada 15 HST dan Chloris radiata pada 45 HST. Pada a2k3 . kg ha NPK 10 t ha kompos jerami pad. hampir sama dengan a2k2 yaitu pada 15 dan 30 HST hanya terdapat gulma Cyperus rotundus dan pada 45 HST hanya ditumbuhi Chloris radiata. Gulma yang tumbuh pada perlakuan a2k4 . kg ha NPK 12,5 t ha kompos jerami pad. hanya pada 30 HST. Terdapat dua jenis gulma yaitu Cyperus rotundus dan Chloris radiata yang sama-sama memiliki nilai SDR = 0,50 dan indeks keragamannya HAo = 0,70. Gulma yang tumbuh pada perlakuan a2k5 . kg ha -1 NPK 15 t ha-1 kompos jerami pad. terjadi peningkatan nilai indeks keragaman (HA. pada 45 HST. Pada 15 HST hanya terdapat satu gulma yaitu Cyperus rotundus, pada 30 HST hanya terdapat Chloris radiata, sedangkan pada 45 HST terdapat dua jenis yaitu Cyperus rotundus dan Chloris radiata yang mendominasi petakan dengan nilai SDR = 65% dengan indeks keragaman petakan sebesar HAo = 0,65. Perlakuan a2k6 . kg ha-1 NPK 20 t ha-1 kompos jerami pad. keberadaan gulma hampir sama dengan a2k5. Hanya saja pembedanya pada 30 HST gulma yang mendominasi adalah Cyperus rotundus dan pada 45 HST terdapat Cyperus rotundus yang mendominasi dengan nilai SDR = 58% sehingga nilai indeks keragaman petakannya adalah HAo = 0,67. Rendahnya tingkat keragaman gulma di pertanaman padi aromatik Mentik Susu diduga disebabkan oleh perlakuan kompos jerami padi yang diberikan ke lahan sawah tadah hujan. Kompos mampu mengontrol pertumbuhan gulma yang dibuktikan oleh penelitian Khan et al. , kompos yang berbahan jerami atau dedak padi mampu menahan pertumbuhan gulma daun lebar hingga 92,5% dan menurunkan berat kering gulma hingga 40,5%. Zhang et al. juga mengemukakan bahwa penerapan kompos jerami padi dapat mempengaruhi atau menahan kelimpahan gulma. Hal lain yang menyebabkan gulma yang tumbuh pada pertanaman padi di lahan sawah tadah hujan ini karena pada kenyataan di lapangan, pengairan dilakukan secara berkala dengan mengadaptasi prinsip System Rice Intensification (SRI) dimana ada proses tertentu seperti pengairan secara berkala untuk menggenangi petakan sehingga biji gulma bisa terbawa keluar dari dalam petakan atau sama sekali tidak tumbuh karena keadaan yang tergenang. KESIMPULAN Gulma yang tumbuh pada lahan sawah tadah yang ditanami padi aromatik dengan aplikasi pupuk NPK yang dikombinasikan dengan kompos jerami padi terdapat 6 jenis yaitu Cyperus rotundus. Chloris radiata. Cyperus iria. Echinochloa colona. Ludwigia palustris, dan Amaranthus spinosus. Gulma yang mendominasi lahan sawah tadah hujan yang ditanami padi aromatik dengan aplikasi pupuk NPK dan kompos jerami padi adalah Cyperus rotundus dengan nilai kisaran summed dominance ratio (SDR) 58-100% terdapat pada perlakuan a2k6 . kg ha NPK 20 t ha kompos jerami pad. Nilai indeks keragaman gulma (HA. tertinggi terdapat pada perlakuan a0k1 . kg ha -1 5 t ha kompos jerami pad. pada 45 HST sebesar 1,10. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Rektor Universitas Lambung Mangkurat atas dukungan pendanaan penelitian yang bersumber dari PNBP Universitas Lambung Mangkurat pada Penulis juga berterimakasih kepada Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) yang mendanai penelitian ini melalui Program Dosen Wajib Meneliti Universitas Lambung Mangkurat Tahun 2022 dengan kontrak penelitian No. 07/UN8. 2/PL/2022. Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. DAFTAR PUSTAKA