Counseling & Humanities Review Vol. No. 2 2025, pp. p-ISSN: 2798-3188, e-ISSN: 2798-0316 || http://bk. id/index. php/chr DOI: 10. 24036/0001371chr%Y Received (October 12th 2. Accepted (November 15th 2. Published (December 30th 2. Profil Gaya Belajar Siswa dan Implikasinya dalam Bimbingan dan Konseling Yaumil Rizki Syafitri1. Neviyarni S2 Universitas Negeri Padang. Indonesia *Corresponding author, e-mail: yaumilrizkisyafitrivivi3765@gmail. Abstrak Kegiatan belajar merupakan aktivitas utama dalam proses pembelajaran di sekolah. Setiap siswa memiliki cara yang berbeda dalam menyerap, mengolah, dan memahami informasi yang dikenal sebagai gaya belajar. Gaya belajar merupakan cara paling mudah dan nyaman bagi individu dalam menerima serta mengolah informasi selama proses pembelajaran. Perbedaan gaya belajar ini memengaruhi perilaku belajar siswa dan keberhasilan mereka dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil gaya belajar siswa serta implikasinya terhadap layanan bimbingan dan konseling di kelas Vi MTsN 2 Pasaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek pada penelitian ini yaitu 78 siswa kelas Vi yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan prinsip kejenuhan data. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar siswa didominasi oleh gaya belajar visual, diikuti oleh kinestetik dan auditori. Perbedaan gaya belajar tersebut memengaruhi respons siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling. Temuan ini menunjukkan bahwa pemetaan gaya belajar dapat dimanfaatkan sebagai dasar pendukung bagi guru bimbingan dan konseling dalam merancang layanan bimbingan belajar yang lebih individual, adaptif, dan efektif sesuai dengan karakteristik belajar siswa. Keywords: gaya belajar, visual, auditori, kinestetik, bimbingan konseling. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2019 by author. Pendahuluan Perbedaan cara belajar siswa telah lama menjadi perhatian dalam bidang pendidikan dan bimbingan dan konseling. Salah satu konsep yang sering digunakan untuk menjelaskan perbedaan tersebut adalah gaya belajar, khususnya model Visual. Auditori, dan Kinestetik (VAK). Meskipun konsep ini banyak diterapkan dalam praktik pendidikan, penggunaannya belum sepenuhnya didukung oleh landasan teoretis dan bukti empiris yang konsisten dalam kajian pendidikan dan psikologi. Sejumlah kajian kritis menunjukkan bahwa konsep gaya belajar, termasuk model VAK, kerap dipahami sebagai karakteristik tetap yang melekat pada diri siswa. Pandangan tersebut berpotensi mengabaikan kenyataan bahwa proses belajar bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti karakteristik individu, strategi pembelajaran, serta lingkungan belajar. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran yang disesuaikan secara kaku dengan gaya belajar belum didukung oleh temuan empiris yang kuat sehingga konsep gaya belajar masih menjadi perdebatan dalam kajian pendidikan. Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. Bagaimanapun, dalam perspektif bimbingan dan konseling, gaya belajar tidak diposisikan sebagai penentu tunggal keberhasilan belajar, melainkan sebagai informasi diagnostik pendukung yang bersifat Informasi ini dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa mengenali kecenderungan belajarnya, meningkatkan kesadaran cara belajar, serta mendukung pengambilan keputusan akademik yang lebih tepat. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma bimbingan perkembangan yang menekankan pemahaman individu secara komprehensif dan kontekstual. Pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (MT. , siswa berada pada fase remaja awal yang ditandai dengan perubahan kognitif, emosional, dan sosial yang signifikan. Pada tahap ini, siswa sering mengalami kesulitan dalam menyesuaikan strategi belajar dengan tuntutan akademik yang semakin Layanan bimbingan dan konseling memiliki peran strategis dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan belajar yang efektif. Namun, praktik layanan BK di sekolah masih cenderung berfokus pada aspek administratif dan penanganan masalah, sementara pemanfaatan data karakteristik belajar siswa, termasuk gaya belajar, belum dilakukan secara sistematis. Penelitian terdahulu umumnya mengkaji gaya belajar dalam konteks pembelajaran kelas dengan pendekatan kuantitatif dan berorientasi pada pengelompokan tipe gaya belajar. Pendekatan tersebut relatif belum mengeksplorasi bagaimana gaya belajar dimaknai dan dimanfaatkan secara reflektif dalam praktik layanan bimbingan dan konseling, khususnya di lingkungan madrasah. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang tidak hanya memetakan gaya belajar siswa, tetapi juga menelaah implikasinya terhadap perencanaan dan pelaksanaan layanan BK. Adapun fokus dalam penelitian ini yaitu: . Menemukan dan mendeskripsikan profil gaya belajar siswa kelas Vi di MTsN 2 Pasaman. Menemukan dan mengkaji manfaat profil gaya belajar siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling. Mendeskripsikan implikasi profil gaya belajar siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling di MTsN 2 Pasaman. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada penguatan praktik layanan bimbingan dan konseling berbasis karakteristik belajar siswa sekaligus memperkaya diskursus akademik mengenai posisi gaya belajar dalam konteks pendidikan dan konseling secara lebih kritis dan kontekstual. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih untuk menggali informasi secara mendalam tentang profil gaya belajar siswa dan implikasinya dalam layanan bimbingan dan konseling berdasarkan pengalaman, persepsi, dan pemaknaan dari para partisipan (Sugiyono, 2. Penelitian ini dilaksanakan di MTsN 2 Pasaman. Kabupaten Pasaman. Provinsi Sumatera Barat pada tahun pelajaran 2024/2025. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas Vi MTsN 2 Pasaman yang berjumlah 352 siswa. Dari jumlah tersebut, dipilih 78 siswa sebagai subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling dengan pertimbangan kebutuhan belajar siswa yang beragam. Pemilihan subjek dilakukan hingga mencapai kejenuhan data . ata saturatio. berdasarkan kriteria berikut: . Memiliki variasi gaya belajar . isual, auditori dan kinesteti. , . Menunjukkan perbedaan perilaku belajar selama proses pembelajaran, . Direkomendasikan oleh wali kelas atau guru BK sebagai siswa yang dapat memberikan informasi, dan . Bersedia menjadi partisipan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: . Observasi partisipatif untuk mengamati perilaku belajar siswa selama proses pembelajaran, . Wawancara semi-terstruktur dengan siswa, guru BK, dan guru mata pelajaran untuk menggali informasi mendalam tentang gaya belajar dan pelaksanaan layanan BK, dan . Dokumentasi berupa foto, rekaman, dan data administratif Instrumen penelitian meliputi pedoman observasi, pedoman wawancara dan lembar Profil gaya belajar siswa dan implikasinya dalam bimbingan dan konseling Yaumil Rizki Safitri. Neviyarni S 99 Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman (Sugiyono, 2. yang terdiri dari empat tahap: . Pengumpulan data, . Reduksi data dengan merangkum dan memilih hal-hal pokok, . Penyajian data dalam bentuk narasi, tabel, dan diagram, dan . Penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan metode, serta member check untuk memastikan data yang diperoleh sesuai dengan yang diberikan oleh responden penelitian. Hasil dan Pembahasan Profil Gaya Belajar Siswa Kelas Vi MTsN 2 Pasaman Profil gaya belajar siswa kelas Vi MTsN 2 Pasaman diperoleh melalui observasi proses pembelajaran dan wawancara mendalam dengan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki gaya belajar yang beragam, yaitu visual, auditori, dan kinestetik, dengan kecenderungan dominan pada gaya belajar visual. Hasil observasi memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa lebih fokus ketika pembelajaran disajikan melalui tulisan di papan tulis, gambar, diagram, dan media visual Siswa tampak aktif mencatat, memperhatikan tampilan visual, serta tetap fokus meskipun terdapat gangguan suara di sekitar kelas. Perilaku ini muncul secara konsisten dalam beberapa pertemuan pembelajaran. Temuan observasi tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan siswa menyatakan AuSaya lebih cepat paham kalau ada tulisan atau gambar di papan. Kalau hanya dijelaskan secara lisan, saya sering ketinggalanAy. Temuan observasi dan hasil wawancara dari gaya belajar auditori menyatakan AuKalau guru menjelaskan dengan suara jelas dan pelan, saya bisa langsung mengerti, tapi kalau kelas ribut saya susah fokus mendengarnyaAy. Temuan ini menunjukkan kecenderungan memahami materi melalui penjelasan lisan dan diskusi. Namun, jumlah siswa dengan kecenderungan ini relatif lebih Mereka juga cenderung mengalami penurunan konsentrasi ketika kondisi kelas bising. Sementara itu, siswa dengan gaya belajar kinestetik menyatakan AuSaya lebih semangat belajar kalau ada praktik atau disuruh ke depan, soalnya kalau duduk terus saya cepat bosan. Ay Adapun siswa dengan gaya belajar kinestetik menunjukkan karakteristik sulit duduk diam. Mereka lebih antusias saat pembelajaran melibatkan praktik atau aktivitas fisik. Mereka juga lebih mudah memahami materi ketika terlibat langsung dalam kegiatan. Meskipun demikian, gaya belajar kinestetik tidak muncul sebagai kecenderungan dominan secara keseluruhan. Dengan demikian, profil gaya belajar siswa kelas Vi MTsN 2 Pasaman menunjukkan dominasi gaya belajar visual, disertai keberadaan gaya auditori dan kinestetik dalam proporsi yang lebih kecil. Kecenderungan gaya belajar visual di MTsN 2 Pasaman terjadi karena beberapa faktor. Pertama, penggunaan media visual. Guru lebih sering menggunakan media seperti power point, video pembelajaran, gambar, dan infografis dalam proses pembelajaran. Kebiasaan guru yang mengandalkan media digital dan tayangan infokus membuat lingkungan belajar menjadi sangat visual sehingga memperkuat daya tangkap siswa visual terhadap materi yang disampaikan. Kedua, kesesuaian dengan kemampuan kognitif. Pembelajaran menjadi lebih efektif ketika informasi disajikan dalam kombinasi verbal dan visual. Ketika guru memilih strategi pembelajaran yang menggabungkan teks, penjelasan lisan, dan tampilan visual, guru sebenarnya telah menyesuaikan penyampaian materi dengan cara otak siswa visual bekerja. Ketiga, respons terhadap rangsangan visual. Siswa memiliki kecerdasan dominan yang memengaruhi cara mereka memahami informasi. Ketika guru memberikan stimulus berupa simbol, warna, gambar, serta pola visual, siswa dengan kecerdasan visual menjadi lebih responsif. Penelitian Handayani et al. mendukung temuan ini dengan menunjukkan bahwa siswa visual memiliki fokus tinggi pada tampilan visual dan memahami materi lebih baik ketika guru menggunakan video atau grafik. Penelitian Armaimis et al. juga menemukan bahwa dominasi gaya belajar visual di sekolah dipengaruhi oleh intensitas guru menggunakan media pembelajaran berbasis visual. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. Meskipun gaya belajar visual mendominasi, siswa dengan gaya belajar auditori dan kinestetik tetap memerlukan pendekatan tambahan agar semua gaya belajar terfasilitasi secara optimal. Berdasarkan teori VAK (Visual. Auditory. Kinestheti. dari Fleming (Rohmah, 2. dan teori pembelajaran berdiferensiasi oleh Tomlinson . , ada dua langkah yang perlu dilakukan. Pertama, variasi metode pembelajaran yang dimana guru perlu merancang berbagai pendekatan pembelajaran yang memberi ruang bagi seluruh gaya belajar. untuk siswa visual, dapat disediakan materi berbasis gambar, panduan ilustratif, atau contoh konkret yang dapat diamati. Untuk siswa auditori, dapat disediakan penjelasan lisan, rekaman audio, atau ruang diskusi terstruktur. Sedangkan untuk siswa kinestetik, diperlukan lingkungan belajar yang memungkinkan mereka menyentuh, mencoba, mempraktikkan, atau memanipulasi objek secara langsung. Kedua, kolaborasi antara guru BK, guru mata pelajaran, dan orang tua perlu diperkuat untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang mampu memenuhi ketiga gaya Dukungan menyeluruh ini membantu memperjelas konsep sekaligus memudahkan siswa memahami materi melalui jalur belajar yang paling sesuai dengan diri mereka. Penyesuaian tugas dan kegiatan dengan gaya belajar yang dimana guru dapat memberikan pilihan tugas berupa diagram, peta konsep, atau poster untuk siswa visual, presentasi lisan, podcast mini, atau diskusi akademik untuk siswa auditori, serta proyek praktik, eksperimen, atau simulasi untuk siswa kinestetik. Manfaat Profil Gaya Belajar terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil gaya belajar memberikan manfaat nyata dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling karena membantu guru BK memahami karakteristik siswa secara lebih kontekstual. Dengan menyadari hal ini, siswa mampu menyerap dan mengolah informasi dan menjadikan belajar lebih mudah dengan gaya belajar siswa sendiri (Fitriani et al. , 2. Data wawancara dan observasi menunjukkan bahwa guru BK lebih mudah mengidentifikasi kebutuhan dan hambatan belajar siswa ketika memiliki informasi mengenai kecenderungan gaya belajar mereka. Temuan ini mengonfirmasi pendekatan humanistik Rogers yang menempatkan pemahaman individu sebagai fondasi utama layanan BK yang empatik dan berpusat pada siswa (Hidayat & Santosa, 2. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman tersebut baru dimanfaatkan secara situasional dan belum terintegrasi secara sistematis dalam perencanaan layanan. Secara empiris, pemanfaatan profil gaya belajar memudahkan guru BK dalam menyesuaikan cara penyampaian layanan agar lebih mudah dipahami oleh siswa. Pemahaman terhadap profil gaya belajar tersebut berfungsi sebagai peta karakteristik individu siswa yang membantu guru dan konselor merancang pendekatan layanan yang sesuai dengan cara siswa memproses informasi (Pratama et al. Kesesuaian antara karakteristik belajar siswa dan strategi layanan ini sejalan dengan teori VAK Fleming (Rohmah, 2. serta temuan Armaimis et al. yang menegaskan bahwa pemetaan gaya belajar dapat meningkatkan ketepatan layanan bimbingan dan konseling. Akan tetapi, data di lapangan menunjukkan bahwa efektivitas layanan tidak semata-mata ditentukan oleh kesesuaian dengan satu gaya belajar tertentu. Siswa justru menunjukkan respons yang lebih positif ketika layanan disampaikan secara variatif dan multimodal. Temuan ini memperluas hasil penelitian Sugianto et al. yang lebih menekankan kesesuaian langsung antara gaya belajar dan metode layanan, dengan menunjukkan bahwa fleksibilitas pendekatan memiliki peran yang lebih signifikan. Manfaat lain yang teridentifikasi adalah kemampuan profil gaya belajar dalam membantu guru BK mendeteksi kesulitan belajar siswa. Berdasarkan data wawancara, ditemukan bahwa hambatan belajar sering kali berkaitan dengan ketidaksesuaian antara metode pembelajaran dan cara siswa memproses Temuan ini mengonfirmasi teori bimbingan perkembangan Gybers & Henderson . serta diperkuat oleh penelitian (Saputra, 2. yang menunjukkan bahwa pemahaman karakteristik belajar siswa meningkatkan efektivitas penanganan masalah belajar. Namun demikian, penelitian ini menegaskan bahwa gaya belajar tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator diagnosis, melainkan perlu dikombinasikan dengan data akademik dan observasi perilaku siswa. Profil gaya belajar siswa dan implikasinya dalam bimbingan dan konseling Yaumil Rizki Safitri. Neviyarni S 101 Dari perspektif motivasi dan keterlibatan siswa, penelitian ini menunjukkan bahwa layanan BK yang mempertimbangkan variasi gaya belajar mendorong siswa menjadi lebih aktif dan terbuka dalam proses bimbingan. Temuan ini sejalan dengan teori konstruktivisme Piaget (Wardani, 2. dan teori motivasi belajar Self-Determination Theory dari Deci dan Ryan (Mandar, 2. yang menekankan pentingnya pengalaman belajar yang bermakna dan sesuai dengan kebutuhan individu. Namun, data penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan motivasi lebih dipengaruhi oleh kualitas interaksi konseling dan keberagaman metode layanan dibandingkan penyesuaian gaya belajar secara kaku. Selain itu, profil gaya belajar berkontribusi dalam memperkuat kolaborasi antara guru BK, guru mata pelajaran, dan orang tua. Temuan ini sejalan dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky (Saksono et al. , 2. dan teori ekologi sosial Bronfenbrenner (Dharma, 2. , yang menekankan peran lingkungan sosial dalam perkembangan siswa. Penelitian (Sugianto et al. , 2. juga mendukung bahwa kolaborasi lintas pihak meningkatkan efektivitas layanan BK. Dalam konteks penelitian ini, informasi gaya belajar berfungsi sebagai bahasa bersama yang memudahkan koordinasi antarpihak dalam mendukung proses belajar siswa. Dengan demikian, penelitian ini menempatkan profil gaya belajar sebagai instrumen diagnostik pendukung dalam layanan BK, bukan sebagai dasar tunggal intervensi. Temuan ini mengonfirmasi sekaligus membatasi teori dan penelitian terdahulu, dengan menegaskan bahwa manfaat profil gaya belajar akan optimal apabila digunakan secara reflektif, multimodal, dan kontekstual. Keterbatasan penelitian pada konteks dan jumlah partisipan menuntut kehati-hatian dalam generalisasi temuan, serta membuka peluang penelitian lanjutan untuk menguji pemanfaatan gaya belajar dalam layanan BK pada jenjang dan setting pendidikan yang berbeda. Implikasi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling Implikasi Teoretis Temuan penelitian ini memberikan implikasi teoretis bahwa profil gaya belajar perlu dipahami sebagai konstruk yang kontekstual dan dinamis, bukan sebagai klasifikasi statis yang melekat secara permanen pada diri siswa. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa kecenderungan gaya belajar siswa berkembang melalui interaksi dengan lingkungan pembelajaran dan pola layanan yang mereka alami. Temuan ini mengonfirmasi konstruktivisme Piaget yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman belajar yang selaras dengan cara siswa memproses informasi (Wardani, 2. , sekaligus memperluas penerapan teori tersebut dalam konteks layanan bimbingan dan konseling. Penelitian ini juga menguatkan model bimbingan perkembangan Gybers & Henderson . yang menempatkan data kebutuhan siswa sebagai dasar layanan BK yang preventif dan pengembangan. Namun, berbeda dengan penelitian terdahulu yang cenderung menempatkan gaya belajar sebagai dasar utama penyesuaian layanan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa profil gaya belajar berfungsi lebih tepat sebagai informasi diagnostik pendukung. Dengan demikian, penelitian ini membatasi penerapan teori VAK Fleming (Rohmah, 2. agar tidak digunakan secara simplistik dan deterministik dalam layanan BK. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian bimbingan dan konseling dengan menegaskan bahwa efektivitas layanan tidak hanya ditentukan oleh kesesuaian gaya belajar, tetapi juga oleh kualitas interaksi konseling, variasi metode layanan, serta konteks lingkungan belajar Temuan ini memperluas hasil penelitian Husna . dan (Saputra, 2. dengan menunjukkan bahwa manfaat gaya belajar bersifat kondisional dan bergantung pada cara guru BK memanfaatkannya http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. Implikasi Praktis Secara praktis, hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling perlu dikembangkan secara multimodal, adaptif, dan berkelanjutan. Profil gaya belajar dapat digunakan guru BK sebagai dasar awal untuk merancang variasi strategi layanan, seperti penggunaan media visual, diskusi lisan, dan aktivitas praktik, sehingga layanan lebih mudah dipahami oleh siswa dengan latar belakang gaya belajar yang berbeda. Pendekatan ini sejalan dengan diferensiasi pembelajaran Tomlinson . yang menekankan pentingnya variasi strategi sesuai kebutuhan peserta Implikasi lainnya adalah penguatan fungsi preventif layanan BK. Berdasarkan data penelitian, ditemukan bahwa kesulitan belajar siswa sering kali berkaitan dengan ketidaksesuaian metode belajar dengan cara siswa memproses informasi. Oleh karena itu, pemetaan gaya belajar dapat dimanfaatkan sebagai alat deteksi dini untuk mencegah munculnya hambatan belajar, sebagaimana ditegaskan dalam model bimbingan perkembangan Gybers & Henderson . Temuan ini memperkuat penelitian Saputra . yang menunjukkan bahwa intervensi BK berbasis pemahaman karakteristik belajar lebih efektif dalam menangani masalah akademik. Selain itu, implikasi penting lainnya adalah perlunya memperkuat kolaborasi antara guru BK, guru mata pelajaran, dan orang tua. Informasi mengenai profil gaya belajar dapat menjadi dasar komunikasi bersama dalam merancang dukungan belajar yang konsisten di sekolah dan di rumah. Implikasi ini sejalan dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky (Saksono et al. , 2. dan teori ekologi sosial Bronfenbrenner (Dharma, 2. yang menekankan peran lingkungan sosial dalam perkembangan Namun demikian, implikasi praktis penelitian ini perlu diterapkan secara hati-hati mengingat keterbatasan konteks dan jumlah partisipan. Profil gaya belajar tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan layanan, melainkan perlu dikombinasikan dengan data akademik, observasi perilaku, dan asesmen perkembangan siswa. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menguji implementasi layanan BK berbasis gaya belajar pada konteks sekolah dan jenjang pendidikan yang lebih beragam. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas Vi MTsN 2 Pasaman memiliki profil gaya belajar yang beragam dengan kecenderungan dominan pada gaya belajar visual, disertai gaya auditori dan Temuan ini menegaskan bahwa perbedaan cara siswa memproses informasi merupakan realitas empiris yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dan pelaksanaan layanan bimbingan dan Profil gaya belajar berfungsi sebagai informasi diagnostik pendukung untuk memahami kebutuhan dan hambatan belajar siswa, namun tidak dapat dijadikan dasar tunggal dalam penentuan strategi layanan. Data penelitian menunjukkan bahwa siswa merespons lebih positif terhadap layanan BK yang disampaikan secara variatif dan multimodal dibandingkan pendekatan yang hanya menyesuaikan satu gaya belajar tertentu. Implikasi penelitian ini mengarah pada pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang adaptif, reflektif, dan kolaboratif. Secara teoretis, temuan ini mengonfirmasi pendekatan humanistik dan konstruktivistik, sekaligus membatasi penerapan teori gaya belajar agar tidak digunakan secara Secara praktis, guru BK perlu memanfaatkan profil gaya belajar sebagai dasar diferensiasi layanan yang fleksibel serta memperkuat kerja sama dengan guru mata pelajaran dan orang tua. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada konteks lokasi dan jumlah partisipan, sehingga hasilnya perlu diterapkan secara kontekstual. Penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas konteks dan mengeksplorasi pemanfaatan gaya belajar dalam layanan BK yang mendorong fleksibilitas belajar siswa secara berkelanjutan. Profil gaya belajar siswa dan implikasinya dalam bimbingan dan konseling Yaumil Rizki Safitri. Neviyarni S 103 Referensi