Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 159-167 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Deteksi Kesehatan Mental dengan Gangguan Menstruasi Remaja Gen Z Ecih Winengsih*. Tika Lubis. Khopiati Khopiati. Nazwa Nisrina Rahmah Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Bhakti Kencana. Bandung. Indonesia Article Information : Received 4 December 2024 . Accepted 29 January 2025. Published 31 January 2025 *Corresponding author: ewinengsih20@gmail. ABSTRAK Permasalahan yang terjadi saat ini adalah terkait dengan kesehatan mental remaja dan gangguan siklus menstruasi. Terdapat 90% remaja Gen Z mengalami permasalahan kesehatan mental . angguan kecemasan, stres, depresi dl. yang berdampak pada gangguan siklus menstruasi . ismenore, menorrhagia, metorrargia dl. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan kesehatan mental dengan gangguan siklus menstruasi Remaja Gen Z di SMAN 1 Rancaekek. Studi ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional terhadap 69 remaja putri yang dipilih proporsionat random Identifikasi terhadap kesehatan mental remaja menggunakan instrument SRQ-29. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapah hubungan antara kesehatan mental dengan gangguan menstruasi yang dialami remaja putri dengan nilai p=0,017. maka terdapat hubungan antara mental health remaja Gen Z dengan kejadian gangguan menstruasi Kesimpulan Kesehatan mental yang tidak stabil atau terganggu dapat mempengaruhi kesehatan fisik seperti gangguan menstruasi. Kata Kunci: Deteksi dini. Mental health. Gen Z. Menstruasi ABSTRACT The current problems are related to adolescent mental health and menstrual cycle disorders. There are 90% of Gen Z teenagers experiencing mental health problems . nxiety disorders, stress, depression, etc. ) which have an impact on menstrual cycle disorders . ysmenorrhea, menorrhagia, metorrhagia, etc. The aim of this research is to identify the relationship between mental health and menstrual cycle disorders in Gen Z teenagers at SMAN 1 Rancaekek. This study is a descriptive analytical research with a cross sectional approach on 69 young women selected by proportional random sampling. Identification of adolescent mental health using the SRQ-29 instrument. The results of the research show that there is no relationship between mental health and menstrual disorders experienced by young women with a value of p=0. So there is a relationship between the mental health of Gen Z teenagers and the incidence of menstrual disorders. Conclusion: Unstable or disturbed mental health can affect physical health such as menstrual disorders. Keyword : Early detection. Mental health. Gen Z. Menstruation A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 159-167 PENDAHULUAN Secara global masalah mental health masyarakat yang besar saat ini. Risiko gangguan mental health yang dihadapi dapat terjadi pada Remaja Gen Z yang lahir pada tahun 1997-2012 . -24 tahu. (Addini, 2. Gangguan mental health merupakan kondisi yang terjadi akibat adanya perubahan biologis dan psikologis karena penurunan hormon estrogen Perempuan Gen Z dua kali lipat lebih berisiko mengalami kesehatan mental yang buruk jika dibandingkan dengan laki-laki. Sebagian besar negara menunjukkan bahwa G Z memiliki kesehatan mental yang buruk (Institut Kesehatan McKinsey, 2. Berdasarkan data dunia ada sekitar 970 juta remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Sedangkan di Asia 8% remaja terkena kesehatan mental (World Health Organization, 2. Data di Indonesia menunjukkan sebanyak 13 % penduduk Indonesia berusia 15-19 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental. Sekitar 50 % orang mulai mengalami gejala gangguan mental health pada usia 14 tahun dan gejalanya dapat mencakup perubahan suasana hati, kesulitan berpikir, sikap apatis, dan gejala tidak biasa lainnya (Diati, 2. Sedangkan dikota bandung ada 48,6 % remaja yang mengalami gejala gangguan mental SMAN 1 Rancaekek sendiri belum ada penelitian terkait dengan deteksi Kesehatan Masalah kesehatan mental yang paling banyak dialami generasi Z adalah gangguan kecemasan, depresi, stress, gelisah yang berlebih, hingga masalah fisik yang Permasalahan tersebut kerap disebabkan oleh koping dari generasi Z yang kurang baik (Anjarsari et al. , 2022. Lubis, 2. Gangguan kesehatan mental yang terjadi pada remaja disebabkan karena menangani stressor, dimana apabila stressor yang dipersepsikan akan berakibat buruk maka stress yang dirasakan akan sangat berat begitu juga sebaliknya apabila mengancam dan individu mampu mengatasi maka stress yang dirasakan akan lebih (Nurfadila. Gangguan kesehatan mental diketahui sebagai salah satu penyebab terjadinya gangguan menstruasi (Pramesti, 2. Gangguan mental health memicu pelepasan hormon kortisol dimana hormon kortisol sebagai produk dari glukokortiroid korteks adrenal yang disintesa pada zona fasikulata yang bisa mengganggu siklus menstruasi karena mempengaruhi jumlah hormon progesteron dalam tubuh. Konsep gangguan menstruasi secara umum merupakan terjadinya gangguan dari pola perdarahan menstruasi. , menstruasi yang sering . , dan tidak menstruasi sama sekali . (Kesehatan Lenteral, 2. Gangguan menstruasi ini berdasarkan fungsi dari ovarium yang berhubungan dengan anovulasi dan gangguan fungsi luteal. Disfungsi ovarium tersebut dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi (Kartikasari, 2. Maka dibutuhkan deteksi dini mental health sebagai salah satu upaya pencegahan Sejalan dengan penelitian Yu . menggunakan desain korelasi menggunakan uji chi square dengan tingkat kepercayaan <0,05 diperoleh nilai p=0,002 (Yu, 2. Hasil penelitian Delvia Siska . menunjukkan adanya hubungan tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi pada remaja putri uji chi square didapatkan nilai p=0,002. Selain itu berdasarkan penelitian Restie hasil uji statistik menggunakan uji chi square dengan p-value 0,000 (Restie, 2. Diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress dengan perubahan lama Penelitian perbedaan dengan penelitian-penelitian sebelumnya pada variabel yang diteliti yaitu deteksi kesehatan mental dan gannguan menstruasi pada remaja. Deteksi dini mental health pada generasi Gen-Z saat ini sangat penting karena Gen-Z adalah masa depan bangsa, karena itu penting untuk memahami perilaku dan kebiasaan mereka, khususnya tentang kesejahteraan psikologisnya (Riantiarno. Pentingnya kesehatan mental pada A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 159-167 usia remaja. Sehingga diperlukan adanya upaya peningkatan kesehatan jiwa untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi remaja dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif (Kementrian Kesehatan RI. Karenanya permasalahan diatas, sehingga perlu adanya inisiatif dari tenaga kesehatan untuk melakukan deteksi dini terkait mental health Deteksi Dini Gangguan mental health merupakan upaya penanganan kasus gangguan mental secara dini oleh tenaga Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kesehatan mental dengan gangguan siklus menstruasi Remaja Gen Z di SMAN 1 Rancaekek. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah deskriftif analitik kuantitatif dengan pendekatan Cara pengambilan sample dalam penelitian dengan teknik Proportional random sampling. Jumlah populasi dalam penelitian ini 220 siswi dan Jumlah sample setelah dihitung dengan rumus slovin didapatkan 69 responden. kriteria inklusi pada penelitian ini meliputi Remaja yang berada pada rentang usia 15-19 tahun. Berasal dari SMAN 1 Rancaekek, bersedia menjadi responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakam kuesioner gangguan menstruasi dan Reporting Questionnaire (SRQ) 29. Kuesioner SRQ-29 merupakan kuesioner yang sudah valid dengan r hitung . ,708 Ae 0. > r tabel . dan reliabel nilai Cronbach Alpha sebesar 0,981 > 0,688 untuk melakukan skrining gangguan psikiatri dan keperluan penelitian terkait ganguan psikiatri (Iqbal. Sedangkan gangguan menstruasi untuk validitas memiliki r hitung . > r tabel . dan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,813 > 0,80 (Kartikasari, 2. Analisis data yang dilakukan dengan Analisis ke 1 univariat untuk mengetahui independen . tatus mental health remaj. angguan Ke 2 Analisis Bivariat dengan uji chi squere p <0,05 untuk mengetahui hubungan antara deteksi dini mental health remaja terhadap siklus menstruasi. Hasil nomor uji etik 124/09. KEPK/UBK/VII/2024. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa mental health remaja gen Z SMAN 1 Rancaekek kecemasan sebanyak 60 remaja . %). Tidak menggunakan zat psikoaktif sebanyak 0 remaja . %), memiliki gejala psikotik sebanyak 47 remaja . ,1%) dan memiliki gejala PTSD sebanyak 66 remaja . %). Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa gangguan siklus menstruasi remaja gen Z SMAN 1 Rancaekek memiliki siklus menstruasi tidak normal sebanyak 65 . ,2%). Tidak polymenorrhea sebanyak 45 remaja ,5%), tidak mengalami oligomenorrhea sebanyak 63 remaja . ,3%), tidak mengalami amenorrhea sebanyak 68 ,6%), Tidak hypomenorea sebanyak 44 remaja . ,8%), tidak mengalami menorrhagia sebanyak 39 remaja . ,5%) dan mengalami dismenorea sebanyak 58 orang . ,1%). Berdasarkan tabel 2 bahwa remaja Gen Z yang mengalami mental health dan . ,2%). Nilai p-value berdasarkan tabel adalah 0,17 sehingga hubungan antara mental health remaja Gen Z dengan kejadian gangguan menstruasi. Kesehatan mental . ental healt. adalah keadaan kesejahteraan yang memungkinkan seseorang untuk menyadari potensi dirinya, mengatasi tekanan hidup sehari-hari, bekerja secara produktif, dan berkontribusi kepada masyarakat. Definisi ini menekankan bahwa kesehatan mental bukan hanya ketiadaan gangguan mental, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menjalani kehidupan yang seimbang secara emosional, sosial, dan psikologis. Dengan kata lain, kesehatan mental adalah bagian penting dari kesejahteraan keseluruhan yang berpengaruh pada hubungan sosial, produktivitas kerja, dan kualitas hidup seseorang (WHO, 2. Gangguan kesehatan mental yang terjadi karena gangguan kecemasan, penggunaan zat psikoaktif, gejala psikotik, dan gejala PTSD. Gangguan mental health pada A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 159-167 Tabel 1. Gambaran Mental Health Remaja Gen Z dan Gangguan Siklus Menstruasi Variabel Gangguan Kecemasan Tidak Zat Psikoaktif Tidak Gejala Psikotik Tidak Gejala PTSD Tidak Gangguan Menstruasi Normal Tidak Polymenorrhea Tidak Oligomenorhea Tidak Amenorrhea Tidak Hypomenorea Tidak Menorrhagia Tidak Dismenorea Tidak (%) kecemasan adalah sebanyak 60 remaja . %). Gangguan kecemasan pada remaja sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor yang bisa dideteksi menggunakan kuesioner Self-Reporting Questionnaire-29 (SRQ-. Beberapa penyebab utama kecemasan di kalangan remaja mencakup tekanan akademik, perubahan sosial, dan ekspektasi tinggi dari diri sendiri serta lingkungan Studi menunjukkan bahwa perasaan cemas sering kali muncul karena faktor internal, seperti mengelola stres atau perubahan hormon selama masa remaja, serta faktor eksternal, seperti konflik keluarga dan tekanan dari teman sebaya (Ferdian. , 2. Remaja mengkonsumsi zat psikoaktif karena beberapa faktor penting. Pertama, banyak remaja yang memiliki pemahaman tentang dampak negatif jangka panjang dari penggunaan zat psikoaktif, termasuk risiko ketergantungan, kerusakan organ tubuh, serta efek psikologis yang berbahaya. Selain itu, peran keluarga sangat signifikan, terutama dalam memberi contoh gaya hidup sehat dan mendorong anak untuk menghindari lingkungan yang berisiko. Dukungan emosional dan pengawasan orang tua, serta dorongan untuk terlibat dalam kegiatan positif seperti olahraga atau ketahanan remaja terhadap tekanan teman sebaya atau rasa ingin tahu terhadap Lingkungan mendukung juga menjadi faktor penting. Sekolah dengan program anti-narkoba dan membantu remaja memilih aktivitas positif daripada mencoba zat berbahaya (Rika Sarfika, 2. Gejala psikotik pada remaja dapat muncul akibat beberapa faktor kompleks yang meliputi ketidakseimbangan kimiawi di otak, pengaruh genetika, serta faktor Perubahan hormon selama masa pubertas juga turut mempengaruhi, terutama jika ada serupa, seperti skizofrenia atau gangguan bipolar. Remaja dengan riwayat keluarga seperti ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan psikotik riwayat keluarga yang memiliki gangguan. Penyalahgunaan zat psikoaktif dan stres berat juga menjadi faktor pemicu utama gejala psikotik, yang dapat mengakibatkan perubahan drastis pada kemampuan persepsi dan berpikir remaja (Jonathan R Stevens, 2. Pada masa awal, gejala psikotik sering kali sulit dikenali. Beberapa tanda awal yang akademis, kecenderungan untuk menarik diri dari interaksi sosial, dan munculnya keyakinan atau delusi yang tidak rasional. Jika kondisi ini tidak ditangani, gejala dapat berkembang menjadi halusinasi, delusi, berkaitan dengan intensitas trauma dan apakah dukungan emosional tersedia untuk mengatasi trauma tersebut. Beberapa A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 159-167 Table 2. Hubungan Mental Health Remaja Gen Z dengan Gangguan Siklus Menstruasi Mental Health Tidak Gangguan Siklus Menstruasi Tidak remaja juga rentan mengembangkan PTSD jika mengalami trauma berulang atau Gejala PTSD yang umum pada remaja meliputi kilas balik atau ingatan berulang tentang kejadian traumatis, penghindaran terhadap hal-hal yang mengingatkan mereka akan trauma, serta perubahan dalam perilaku dan emosi. Mereka mungkin terlihat murung, mudah tersinggung, atau mengalami masalah dalam tidur dan konsentrasi. Remaja juga bisa menunjukkan gejala seperti rasa tidak aman yang berlebihan dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Gangguan kecemasan dan depresi sering kali juga muncul bersamaan dengan PTSD. Pendekatan terapi untuk PTSD pada remaja biasanya meliputi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR). CBT membantu remaja memahami pola pikir dan emosi mereka terkait trauma, sementara EMDR efektif dalam mengurangi kepekaan terhadap ingatan traumatis (Nuraly Masum Aprily, 2. Gangguan siklus menstruasi mengacu pada kelainan dalam durasi, keteraturan, dan volume perdarahan selama menstruasi. Gangguan siklus menstruasi dibagi menjadi polimenorea. Polimenorea adalah kondisi di mana siklus menstruasi terjadi lebih sering, biasanya dalam interval kurang dari 21 hari, mengalami haid dua kali atau lebih dalam Kondisi ini umumnya dipicu oleh mengganggu proses ovulasi Penyebab utama polimenorea pada remaja adalah Hormon: Masalah hormonal yang sering dikaitkan adalah sindrom ovarium polikistik (PCOS). Ketidakseimbangan ini dapat mempersingkat siklus menstruasi, stres dan gaya hidup: Stres kronis dan perubahan berat badan yang drastis dapat Serta Nilai p value 0, 017 perubahan fisiologis: Pada remaja di masa awal menstruasi (Iryani, 2. (Indarna, 2. (Fahmiah. Huzaimah and Hannan. Oligomenorea pada remaja suatu kondisi di mana siklus menstruasi menjadi lebih jarang dari biasanya . mumnya lebih dari 35 hari antara periode menstruas. dapat disebabkan oleh beberapa faktor Penyebab paling umum termasuk ketidakseimbangan hormon, khususnya terkait hormon estrogen dan progesteron yang mengatur siklus menstruasi. Selain itu, stres, gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia, olahraga berlebihan, serta berat badan yang sangat rendah atau tinggi dapat memengaruhi siklus menstruasi Gangguan hormon pada usia remaja seringkali terjadi karena tubuh masih dalam tahap perkembangan menuju keseimbangan hormonal yang lebih stabil, sehingga gejala seperti oligomenorea lebih mungkin dialami. Faktor-faktor gaya hidup dan lingkungan, seperti pola makan yang kurang gizi atau aktivitas fisik intens, juga ketidakseimbangan siklus menstruasi (Ni Ketut Alit Armini, 2. Amenore adalah kondisi di mana Terdapat beberapa penyebab amenore yang dapat terjadi, baik itu amenore primer . elum pernah mengalami hai. maupun amenore sekunder . idak mengalami haid setelah sebelumnya pernah Penyebab Gangguan Hormonal: Ketidakseimbangan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipotalamus, kelenjar pituitari, atau ovarium dapat menyebabkan amenore. Stres Emosional atau Fisik: Stres yang berlebihan dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Nutrisi dan Berat Badan: Status gizi yang buruk, baik kekurangan gizi atau kelebihan berat Aktivitas Fisik yang Berlebihan: A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 159-167 Atlet atau individu yang melakukan aktivitas fisik yang sangat intens dapat mengalami amenore akibat pengaruh fisik yang tinggi pada tubuh. (Desi Pramita Sari, 2. Hipermenorea adalah kondisi di mana seorang wanita mengalami menstruasi dengan pendarahan yang sangat berat dan berlangsung lebih dari tujuh hari. Pada remaja, beberapa penyebab hipermenorea dapat mencakup Gangguan Hormonal: Ketidakseimbangan menyebabkan perdarahan yang berlebihan. Stres: Tingkat stres yang tinggi dapat mempengaruhi siklus menstruasi dan menyebabkan hipermenorea. Penyakit Menstruasi: Kondisi seperti fibroid rahim atau polip bisa berkontribusi terhadap peningkatan jumlah darah yang keluar saat menstruasi dan Anemia: Kehilangan darah yang banyak bisa menyebabkan anemia, yang kemudian berpotensi memperburuk kondisi (Umi, 2. Metorrhagia pada remaja, yang juga abnormal, dapat disebabkan oleh berbagai Beberapa penyebab yang umum meliputi Ketidakseimbangan Hormonal: Perubahan hormon yang terjadi pada masa remaja, seperti ketidakstabilan kadar menyebabkan perdarahan yang tidak Masalah Anatomi: Kondisi seperti polip, fibroid, atau kelainan struktural pada rahim dapat menyebabkan perdarahan Gangguan Pembekuan Darah: Beberapa remaja mungkin mengalami gangguan pada sistem pembekuan darah, yang dapat menyebabkan perdarahan yang lebih berat dari biasanya. Infeksi pada sistem reproduksi atau saluran kemih juga bisa berkontribusi terhadap metorrhagia (Amalia, 2. Kondisi Medis Lainnya: Penyakit tiroid, diabetes, atau gangguan lain yang mempengaruhi kesehatan secara peningkatan pelepasan hormon kortisol akibat stres, yang dapat menghambat sekresi hormon gonadotropin. Proses ini mempengaruhi ovulasi dan menyebabkan ketidakstabilan siklus menstruasi (Amalia. Penelitian menunjukkan bahwa stres yang dialami oleh remaja, baik karena tekanan akademis, masalah interpersonal, maupun faktor emosional lainnya, dapat keseluruhan dapat berdampak pada siklus menstruasi dan menyebabkan perdarahan abnormal (Ni Ketut Alit Armini, 2. Dismenore, atau nyeri haid, adalah masalah umum yang dihadapi remaja putri. Penyebab dismenore pada remaja dapat bervariasi, dan beberapa faktor yang sering teridentifikasi termasuk Kadar Hormon: Peningkatan prostaglandin, hormon yang terlibat dalam proses menstruasi, dapat menyebabkan kontraksi otot rahim yang lebih kuat, mengakibatkan nyeri yang lebih Faktor Genetik: Riwayat keluarga meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi yang sama. Kondisi Medis Tertentu: Beberapa kondisi seperti endometriosis, fibroid rahim, atau penyakit radang panggul dapat menyebabkan nyeri haid yang lebih parah. Gaya Hidup dan Stres: Pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta stres emosional juga berkontribusi pada tingkat nyeri selama menstruasi. Masa Pubertas: Remaja yang baru memasuki masa menstruasi cenderung mengalami dismenore lebih sering, karena tubuh mereka masih menyesuaikan diri dengan siklus hormonal yang baru. Penelitian juga emosional dan fisik, seperti kecemasan dan depresi, dapat memperburuk persepsi terhadap nyeri haid (Gunawati, 2021. Iryani. Hubungan antara kesehatan mental remaja, khususnya generasi Z, dengan gangguan siklus menstruasi telah menjadi perhatian dalam beberapa penelitian. Remaja yang mengalami tingkat stres yang tinggi cenderung menghadapi masalah dalam siklus menstruasi mereka. Stres psikologis dapat menyebabkan gangguan hormonal yang mempengaruhi regulasi siklus menstruasi, termasuk oligomenore, amenore, dan dismenore. Salah satu terlibat adalah Oleh karena itu, manajemen stres yang baik sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan fisik remaja, yang pada gilirannya dapat membantu Kesimpulannya, terdapat hubungan yang signifikan antara kesehatan mental remaja dan gangguan siklus menstruasi. Remaja dengan keterampilan koping yang baik dan A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 159-167 manajemen stres yang efektif cenderung mengalami siklus menstruasi yang lebih Hubungan antara kesehatan mental dan gangguan menstruasi telah menjadi subjek penelitian yang semakin menarik perhatian, terutama di kalangan remaja. Penelitian menunjukkan bahwa masalah menyebabkan berbagai gangguan, seperti dismenore . yeri hai. , oligomenore . enstruasi tidak teratu. , dan amenore . idak mengalami menstruas. Stres dan Kesehatan Mental: Stres psikologis dapat menyebabkan perubahan hormon yang Peningkatan kadar kortisol, hormon stres, hormonal yang penting untuk siklus menstruasi yang normal Kecemasan dan Depresi: Remaja kecemasan dan depresi lebih rentan terhadap gangguan menstruasi. Penelitian menunjukkan bahwa stres emosional dapat meningkatkan kejadian nyeri haid yang lebih parah dan masalah menstruasi lainnya . Peradangan dan Respons Stres: Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa respons peradangan akibat stres dapat berperan dalam gangguan menstruasi. Misalnya, sitokin pro-inflamasi yang dilepaskan selama stres dapat memengaruhi fungsi ovarium dan menyebabkan gangguan ovulasi dan Pengaruh Gaya Hidup: Gaya hidup remaja, seperti pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan tidur yang buruk, juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan kebiasaan sehat untuk mendukung kedua aspek (Fatmawati, 2023. Amalia, 2. KESIMPULAN Deteksi mental health remaja Gen Z dan Kejadian gangguan menstruasi Sehingga rekomendasi dari penelitian ini adalah mengkoordinasikan kepada pihak keluarga dan sekolah agar ada upaya atau langkah-langkah konkrit dalam mendeteksi lebih dini lagi pada individu yang memiliki ganggunan kecemasan sehingga dapat menimimalisir dampak atau efek yang lebih luas lagi terutama pada pada permasalahan REFERENSI