PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. September 2025, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA Kemala Murdiyana. Habibis Saleh Pendidikan Matematika. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Indonesia Informasi Artikel ABSTRAK Riwayat Artikel: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapat atau tidaknya pengaruh penerapan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis ditinjau dari gaya belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan desain factorial experiment. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Pekanbaru tahun ajaran 2024/2025. Sampel penelitian ini dipilih dengan menggunakan cluster random sampling, terpilih kelas VII. 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas VII. 1 sebagai kelas kontrol. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah tes, angket, observasi dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah soal tes kemampuan pemecahan masalah matematis, website tes gaya belajar Aku Pintar, lembar observasi dan foto pelaksanaan kegiatan penelitian. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah uji anova dua arah. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diambil kesimpulan bahwa: . Terdapat pengaruh kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang belajar menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional. Terdapat pengaruh kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang memiliki gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Tidak terdapat pengaruh interaksi antara pendekatan pembelajaran dan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis Dengan demikian, secara umum dapat disimpulkan bahwa pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis ditinjau dari gaya belajar siswa SMP Negeri 2 Pekanbaru. Diterima: 09-06-2025 Direvisi: 30-08-2025 Dipublikasikan: 30-09-2025 Kata-kata kunci: Gaya Belajar. Kemampuan Pemecahan. Masalah Matematis. Realistic Mathematics Education This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: Kemala Murdiyana. Pendidikan Matematika. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. Soebrantas. No. Tampan. Pekanbaru. Indonesia. Email: kemalamurdiyan@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan matematika tidak hanya berperan dalam penguasaan konsep dan keterampilan hitung, tetapi juga dalam membentuk kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif. Kemampuan pemecahan masalah Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 merupakan bagian integral dari tujuan pendidikan matematika sebagaimana ditegaskan oleh National Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 2. yang menyatakan bahwa pemecahan masalah merupakan standar utama dalam pembelajaran matematika. Dalam konteks global, hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi matematika siswa Indonesia masih rendah, dengan skor rata-rata 366, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 489 (OECD, 2. Fakta ini menegaskan perlunya inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan daya nalar dan pemecahan masalah siswa secara bermakna. Kondisi ini diperkuat oleh berbagai penelitian menunjukkan bahwa siswa sering kali mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep matematika dengan dunia nyata. Hal ini disebabkan oleh proses pembelajaran yang masih bersifat abstrak, konvensional, dan berpusat pada guru (Fahrurrozi & Hamdi, 2. Siswa cenderung menghafal rumus tanpa memahami makna dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang mampu menjembatani antara pemahaman konsep dan penerapannya dalam konteks nyata (Amaliyah et al. , 2. Salah satu pendekatan yang dianggap mampu menjawab tantangan tersebut adalah pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) yang dikembangkan oleh Freudenthal Institute di Belanda. Pendekatan ini berangkat dari prinsip bahwa matematika harus bermakna dan dekat dengan kehidupan siswa. Dalam RME, siswa diajak menemukan kembali konsep matematika melalui eksplorasi masalah kontekstual yang realistis (Zubaidah & Risnawati, 2. Proses pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk aktif membangun sendiri pengetahuannya dengan bantuan guru sebagai fasilitator (Hadi, 2. Pembelajaran matematika melalui RME tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, sintesis, dan evaluasi (Amalia & Sulistyorini, 2. Namun, efektivitas suatu pendekatan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh metode yang digunakan, tetapi juga oleh karakteristik individu siswa. Salah satu karakteristik tersebut adalah gaya belajar. Gaya belajar adalah cara khas individu dalam menerima, mengolah, dan menyimpan informasi. Menurut Dunn . alam Halim, 2. , gaya belajar terbagi menjadi tiga kategori utama: visual, auditori dan kinestetik. Siswa visual cenderung menyerap informasi melalui penglihatan, auditori melalui pendengaran, dan kinestetik melalui gerakan dan sentuhan. Dalam pembelajaran matematika, gaya belajar dapat berpengaruh terhadap pemahaman dan keberhasilan siswa dalam menyelesaikan masalah (Ghufron & Risnawati, 2. Oleh karena itu, guru perlu mengenali dan menyesuaikan strategi pembelajaran agar sesuai dengan karakteristik gaya belajar siswa. Beberapa penelitian terdahulu mendukung efektivitas pendekatan RME dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, seperti yang dilakukan oleh Apriani & Maryani . yang menemukan bahwa RME mampu mendorong siswa berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan soal-soal matematis kontekstual. Demikian juga dengan temuan Widana . yang menyimpulkan bahwa pendekatan RME dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar matematika secara signifikan. Namun, penelitianpenelitian tersebut umumnya belum secara khusus mengkaji pengaruh gaya belajar sebagai faktor yang berpotensi mengontrol efektivitas RME. Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan efektivitas pendekatan RME dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika, terdapat gap dalam literatur yang membahas bagaimana karakteristik individu, khususnya gaya belajar siswa, dapat mempengaruhi keberhasilan pendekatan ini. Sebagian besar penelitian yang ada lebih berfokus pada penerapan RME tanpa mempertimbangkan aspek individual siswa secara mendalam. Misalnya, beberapa studi seperti yang dilakukan oleh Apriani & Maryani . dan Widana . telah menemukan dampak positif dari RME terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar matematika siswa, namun tidak meneliti bagaimana perbedaan gaya belajar siswa . isual, auditori, kinesteti. dapat mempengaruhi efektivitas RME dalam konteks pembelajaran matematika. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengisi gap tersebut dengan mengkaji pengaruh gaya belajar sebagai faktor yang berpotensi mengontrol dan memoderasi keberhasilan penerapan pendekatan RME. Selain itu, meskipun pendekatan RME dirancang untuk menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari siswa, implementasi yang efektif sering kali terhambat oleh kurangnya perhatian terhadap bagaimana strategi pembelajaran dapat disesuaikan dengan gaya belajar siswa yang berbeda. Hal ini mengarah pada kemungkinan bahwa siswa dengan gaya belajar tertentu mungkin tidak dapat memaksimalkan potensi mereka dalam pembelajaran matematika meskipun menggunakan pendekatan yang efektif seperti RME. Penelitian yang menggabungkan pendekatan RME dengan analisis terhadap gaya belajar siswa masih terbatas, sehingga hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan baru tentang pentingnya penyesuaian strategi pembelajaran berbasis gaya belajar dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, sekaligus membantu guru untuk lebih adaptif dalam menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji pengaruh pendekatan RME terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ditinjau dari gaya belajar mereka. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pembelajaran matematika yang lebih Murdiyana, dkk. Pengaruh Penerapan Pendekatan . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 efektif dan adaptif, dengan mempertimbangkan perbedaan individu siswa. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini dapat menjadi acuan dalam implementasi strategi pembelajaran kontekstual yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik di lapangan serta mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional dalam membentuk generasi yang cakap, berpikir kritis, dan mampu menghadapi tantangan abad ke-21. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen faktorial, yang memungkinkan untuk mengkaji pengaruh dua variabel bebas pendekatan pembelajaran (RME) dan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Desain faktorial dipilih karena dapat mengidentifikasi pengaruh masing-masing variabel serta interaksi di antara keduanya terhadap variabel terikat, yaitu kemampuan pemecahan masalah. Dengan desain ini, peneliti dapat menganalisis secara mendalam bagaimana kombinasi pendekatan pembelajaran yang berbeda dan gaya belajar siswa dapat mempengaruhi hasil belajar matematika, terutama dalam konteks pemecahan masalah matematis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai efektivitas RME berdasarkan gaya belajar Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Pekanbaru tahun ajaran 2024/2025. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kelompok kelas secara acak. Peneliti memilih kelas VII. 2 sebagai kelas eksperimen yang akan diberikan perlakuan menggunakan pendekatan pembelajaran RME, sedangkan kelas VII. 1 akan menjadi kelas kontrol yang menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional. Dengan metode ini, peneliti dapat membandingkan hasil pembelajaran antara kedua kelas untuk melihat sejauh mana pendekatan pembelajaran RME memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa alat ukur yang relevan. Pertama, soal tes kemampuan pemecahan masalah matematis berbentuk uraian, yang disusun berdasarkan indikator-indikator yang telah ditentukan sebelumnya. Tes ini berfungsi untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematis secara sistematis. Kedua, tes gaya belajar menggunakan instrumen Aku Pintar, yang dirancang untuk mengidentifikasi gaya belajar siswa . isual, auditori, atau kinesteti. Selain itu, peneliti juga menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran serta dokumentasi berupa foto kegiatan untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang dinamika kelas. Semua instrumen ini telah divalidasi oleh ahli materi dan diuji coba untuk memastikan validitas dan reliabilitasnya. Setelah instrumen diuji dan data dikumpulkan, tahap selanjutnya adalah uji prasyarat analisis, yang meliputi uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Chi Kuadrat untuk memastikan bahwa data distribusinya normal, sementara uji homogenitas menggunakan uji Bartlett untuk menguji kesamaan variansi antar kelompok. Setelah data memenuhi syarat distribusi normal dan homogen, analisis data dilakukan menggunakan uji ANOVA dua arah. Uji ini digunakan untuk menguji pengaruh masingmasing variabel bebas pendekatan pembelajaran dan gaya belajar serta interaksinya terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan informasi yang berguna tentang pengaruh pendekatan RME yang disesuaikan dengan gaya belajar siswa dalam konteks pembelajaran matematika. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan RME memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji ANOVA dua arah yang menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 24,327 jauh lebih besar dari nilai F tabel 4,006 pada taraf signifikansi 5%. Ini menegaskan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang belajar dengan pendekatan RME dan siswa yang diajar menggunakan pendekatan konvensional. Pendekatan RME yang mengaitkan pembelajaran matematika dengan konteks nyata memungkinkan siswa untuk memahami konsep secara lebih mendalam dan bermakna (Freudenthal Institute, 1. Selain itu, siswa dituntut untuk aktif mengonstruksi pengetahuannya sendiri melalui aktivitas pemodelan dan eksplorasi yang sesuai dengan realitas sehari-hari mereka (Hadi, 2. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah ini dapat diamati dari indikator kemampuan siswa dalam memahami masalah, merencanakan strategi, menyelesaikan, dan mengecek kembali solusi. Dalam praktiknya, pendekatan RME memfasilitasi pembelajaran yang kooperatif, berbasis diskusi, dan berpusat pada siswa. RME juga mengajarkan siswa untuk menghubungkan masalah dengan dunia nyata sehingga mampu menciptakan makna matematis yang kuat (Apriani & Maryani, 2. Hal ini memperkuat transfer pengetahuan dari konteks pembelajaran ke situasi baru (Widana, 2. Aktivitas guru dan siswa selama pelaksanaan pembelajaran juga meningkat secara progresif. Berdasarkan pengamatan observasional, peningkatan tersebut terlihat pada partisipasi, inisiatif bertanya, kemampuan menjelaskan pendapat, serta kolaborasi siswa. Data observasi dirangkum dalam tabel berikut: PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. September 2025: 262 - 267 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Tabel 1. Rata-rata Aktivitas Guru dan Siswa Pertemuan Aktivitas Guru (%) Aktivitas Siswa (%) Kenaikan aktivitas siswa dari 70% pada awal pertemuan hingga mencapai 100% pada pertemuan kelima menandakan keterlibatan kognitif dan afektif siswa yang tinggi. Hal ini sesuai dengan teori belajar konstruktivis oleh Vygotsky yang menyebutkan pentingnya peran sosial dan scaffolding dalam pembelajaran (Dahar, 2. Selain aktivitas siswa, observasi terhadap aktivitas guru juga dilakukan untuk menilai sejauh mana guru melaksanakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) sesuai dengan prosedur yang telah dirancang. Berdasarkan lembar observasi, diperoleh bahwa aktivitas guru mengalami peningkatan dari pertemuan ke pertemuan. Pada pertemuan pertama, persentase keterlaksanaan aktivitas guru mencapai 75%, yang menunjukkan bahwa sebagian besar tahapan RME telah dilaksanakan. Hal ini terus meningkat pada pertemuan kedua . %), ketiga . %), keempat . %), hingga mencapai 100% pada pertemuan kelima. Peningkatan ini mencerminkan kemampuan guru dalam menyesuaikan diri dengan pendekatan RME dan semakin terampil dalam mengelola pembelajaran yang kontekstual dan berpusat pada siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memancing siswa untuk berpikir kritis melalui pertanyaan terbuka, mendorong diskusi kelompok, dan membimbing siswa menyusun model matematika dari situasi yang nyata (Maulyda et al. , 2. Hal ini sejalan dengan prinsip guided reinvention dalam RME, di mana guru mendampingi proses rekonstruksi pengetahuan siswa melalui pemecahan masalah kontekstual (Hadi, 2017. Wahyudi & Haryati, 2. Peningkatan aktivitas guru yang signifikan ini turut mendukung keberhasilan penerapan RME dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dengan keterlibatan aktif guru dalam proses belajar mengajar, siswa menjadi lebih antusias dan terlibat dalam pembelajaran, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap capaian hasil belajar mereka (Irzawati, 2023. Khuzaini & Nasrulloh, 2. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi RME tidak hanya bergantung pada kesiapan siswa, tetapi juga pada kesiapan dan kompetensi guru dalam merancang serta melaksanakan pembelajaran secara kreatif dan adaptif. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar siswa juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah. Berdasarkan uji ANOVA, nilai F hitung sebesar 4,084 lebih besar dari F tabel 3,155, yang berarti bahwa perbedaan gaya belajar . isual, auditori, kinesteti. memberikan variasi yang berarti dalam hasil belajar siswa. Siswa dengan gaya belajar visual cenderung unggul dalam memahami konsep yang disajikan secara diagram atau model, auditori dalam mengikuti penjelasan verbal, dan kinestetik dalam melakukan eksplorasi melalui aktivitas langsung (Ghufron & Risnawati, 2013. Ainiyah et al. , 2. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Amalia & Hadi . yang menyatakan bahwa gaya belajar berperan penting dalam proses dan hasil belajar matematika. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang fleksibel seperti RME dapat menjadi solusi karena memberikan ruang bagi berbagai gaya belajar untuk berkembang (Gede et al. , 2. Ini terlihat dari distribusi hasil belajar siswa berdasarkan gaya belajar yang menunjukkan bahwa seluruh gaya belajar mendapat manfaat positif dari penerapan RME. Sumber Variansi Antar Baris (Pendekata. 682,97 Tabel 2. Hasil Uji ANOVA Dua Arah F tabel . u = F hitung ya, yay. 682,97 24,32 4,00 Kesimpulan Terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang belajar pendekatan Realistic Mathematics Education(RME) dengan siswa yang belajar Murdiyana, dkk. Pengaruh Penerapan Pendekatan . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Antar Kolom (Gaya Belaja. 229,32 114,66 4,08 3,15 Interaksi yaycuyaA (Pendekatan x Gaya Belaja. 68,39 34,19 1,21 3,15 Terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa dengan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik Tidak terdapat pengaruh interaksi pendekatan pembelajaran dan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Namun, hasil analisis juga menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi yang signifikan antara pendekatan pembelajaran dan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah (F hitung = 1,218 < F tabel = 3,. Artinya, pendekatan RME efektif diterapkan secara umum tanpa bergantung pada gaya belajar Ini didukung oleh hasil penelitian Warestriani . , yang menemukan bahwa RME bekerja efektif pada semua tipe gaya belajar dan memberikan peluang merata bagi seluruh siswa untuk berkembang. Hal ini juga sejalan dengan pandangan dari Mulana . bahwa fleksibilitas dan konteks nyata dalam pembelajaran matematika sangat penting untuk menjangkau keberagaman karakter siswa di kelas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan RME terbukti mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa secara signifikan (Zulkha & Setyawan, 2. Peningkatan ini tidak hanya ditunjukkan oleh skor tes, tetapi juga tercermin dalam aktivitas dan partisipasi siswa selama proses pembelajaran (Rohmani, 2. RME juga memfasilitasi gaya belajar yang beragam, meskipun tidak ada interaksi yang signifikan dengan pendekatan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa RME adalah pendekatan inklusif yang efektif diterapkan pada semua karakter siswa dan layak untuk dikembangkan secara luas dalam pendidikan matematika. (Susanti & Nurfitriyanti, 2018. Apriani et al. , 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis konteks nyata dan aktivitas eksploratif yang ditawarkan oleh RME mampu meningkatkan kemapuan pemcahan masalah matematis siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa gaya belajar siswa . isual, auditori, dan kinesteti. berpengaruh secara signifikan terhadap perolehan kemampuan pemecahan masalah matematis. Namun demikian, tidak ditemukan adanya interaksi yang signifikan antara pendekatan pembelajaran dan gaya belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan RME efektif diterapkan secara umum, tanpa harus disesuaikan secara spesifik dengan gaya belajar masing-masing siswa. Dengan kata lain, pendekatan ini inklusif dan fleksibel terhadap karakteristik belajar yang beragam di kelas. Penelitian ini menyarankan agar guru matematika menerapkan pendekatan RME sebagai alternatif pembelajaran yang inovatif dan efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Di samping itu, guru juga disarankan untuk mengenali karakteristik gaya belajar siswa sebagai bahan pertimbangan dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih adaptif. Penelitian lanjutan dapat mengembangkan kajian ini dengan melibatkan variabel lain seperti motivasi belajar atau menggunakan pendekatan pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi. UCAPAN TERIMA KASIH Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT. atas berkat dan rahmat serta karunia-Nya artikel skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik. Ucapan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada orang tua hebat saya yang tak henti-hentinya selalu mendoakan dan memberikan motivasi serta semangat kepada saya selama saya menyusun, kemudian dosen PMT khususnya dosen pembimbing saya yang selalu memberikan bimbingan terbaiknya kepada saya dengan penuh keikhlasan. Juga kepada teman-teman yang selalu mem bersamai setiap proses selama saya menyusun skripsi. DAFTAR PUSTAKA